Anda di halaman 1dari 52

Mini Cex

Ginekologi
Myoma Uteri

Dwika Hermia Putri


(I11112039)

Dosen Pembimbing
dr. Vidia Sari, Sp.OG

Kepanitraan Klinik SMF Ilmu Kesehatan Wanita


RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie
Identitas Pasien

Nama : Ny. Wong Fie Kian


Tanggal Lahir : 12/09/1970
Usia : 47 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Budha
Alamat : Jl. Atot Ahmad, No.12 Pontianak
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT
No.RM : 077764
Tanggal Kunjungan : 27 November 2017
Anamnesis
Keluhan Utama:
-

Riwayat Penyakit Sekarang

• Pasien datang dengan membawa SP dr.Vidia Sari, Sp.OG


dengan rencana operasi mioma uteri. Saat datang pasien
tidak memiliki keluhan. Pasien mengatakan sejak 3 bulan
yang lalu pasien semakin sering mengalami keluhan nyeri
perut terutama paling sering pada bagian bawah. Keluhan
disertai dengan menstruasi yang tidak teratur sejak 3 bulan
terakhir disertai pengeluaran darah menstruasi yang
berlebih dari biasanya (pada hari pertama dan kedua
menstruasi pasien mengganti pembalut 6-7x perhari)
Anamnesis
Riwayat Penyakit Sekarang (lanjutan..)

• Pasien sudah mengetahui penyakit mioma


uterinya sejak 3 tahun yang lalu. Awalnya pasien
secara tidak sengaja mengetahuinya melewati
pemeriksaan medical check up yang dilakukan
pasien di Kuching 3 tahun yang lalu. Sejak saat
itu setiap tahun pasien ke jakarta untuk
mengobati penyakitnya tersebut.
Anamnesis
Riwayat Penyakit Dahulu

• Riwayat DM (+) sejak 4 tahun yang lalu. Pengobatan dengan


insulin sejak 5 hari yang lalu. Sebelumnya pasien tidak pernah
mengobati penyakit DM nya, pasien mengatakan hanya dengan
memperbaiki pola hidupnya.
• Riwayat Hipertensi disangkal
• Riwayat Asma (+) sejak kecil
• Riwayat alergi makanan disangkal
• Riwayat alergi obat disangkal
• Riwayat SC 10 tahun yang lalu
Anamnesis
Riwayat Ginekologi

• Menarche pada usia 13 tahun


• HPHT 6 November 2017 (selama 8 hari)
• Siklus menstruasi tidak teratur
• Penggunaan Kontrasepsi:
• Tahun 1989 (setelah melahirkan anak pertama) menggunakan
IUD selama ±1 tahun
• Tahun 2007 pasien melakukan MOW saat SC anak ke-4
Anamnesis
Riwayat Obstetri
P4A0M0
1. 28 th/perempuan/aterm/RS Antonius/ Spontan/3000/H
2. 25 th/ laki-laki/ aterm/ RS Antonius/ Spontan/ 2900/H
3. 23 th/ laki-laki/ aterm/ Antonius/ Spontan/ 3300/ H
4. 10th/ laki-laki/ preterm (8 bulan 2 minggu)/ RS Antonius/SC/4000/H

Riwayat Pemeriksaan

USG tanggal 19/Oktober/2017 oleh dr. Cahyadi, Sp.OG di Jakarta :


Mioma Uteri Intramural dan seromural
Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : Baik Kesadaran : Compos Mentis
BB : 80 Kg TB : 149 cm IMT: 36 kg/m2 (Obesitas tingkat 2)
Tanda Vital Tekanan Darah : 130/90 mmHg Nadi : 76x/menit
Pernapasan : 20x/menit Suhu : 36,7oC
Kepala : normocepal
Mata : CA(-), SI (-), pupil isokor, refleks cahaya (+/+)
Mulut : Bibir sianosis (-), mukosa bibi kering (-), atrofi papil lidah (-)
Leher : bentuk simetris, ↑JVP (-), hepatojugular refluks (-). pembesaran limfonodi (-), distensi
vena (-)
Dada : bentuk simetris
Paru Inspeksi bentuk simetris
Palpasi Massa (-), nyeri tekan (-), fremitus taktil sama dikedua lapang paru (+/+)

Perkusi Sonor dikedua lapang paru

Auskultasi Suara napas vesikuler (+/+), Wheezing (-/-), Rhonki (-/-)


Pemeriksaan Fisik
Jantung Inspeksi Iktus kordis tidak terlihat
Palpasi Iktus kordis tidak teraba
Perkusi Batas kanan jantung: SIC IV linea parasternal dextra
Pinggang jantung : SIC III linea parasternal sinistra
Batas kiri jantung : SIC V linea axila anterior
Auskultasi S1/ S2 reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen Inspeksi Distensi (-), sikatrik (-)


Auskultasi Bising Usus (+) 6x/menit,
Perkusi Timpani
Palpasi Supel (+), hepar dan lien tidak teraba, nyeri tekan (+), Massa (+) a/r supra pubik
Uk. Diameter ± 6-7 cm, keras, batas tegas, mobile

Ekstremitas Akral hangat, CRT <2”, edema pretibia (-/-)


Genitalia Pengeluaran pervaginam (-)
Pemeriksaan Penunjang

USG (20 November 2017) oleh dr. Vidia Sari, Sp.OG

Uterus membesar berbenjol-benjol pada korpus


depan dan fundus belakang dengan diameter 6,1
cm dan 6,7 cm. Adneksa kanan dan kiri sulit
dinilai
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Darah Rutin
(27 November 2017) – Pre OP

PEMERIKSAAN HASIL NILAI RUJUKAN PEMERIKSAAN HASIL NILAI RUJUKAN

Leukosit 6.940/µL 5 – 10 x 103/µL Golongan Darah O (+) -

Eritrosit 4.890.000/µL 4.00 – 5.50 x 106/µL Waktu Perdarahan 2’ 30” 1’ – 3’

Hemoglobin 10,8 g/dL 12 – 14 g/dL Waktu Pembekuan 10’30” 5’ – 15’


Hematokrit 32,5 % 30 – 40 %
HbsAg Non Reaktif Non Reaktif
Trombosit 351.000/µL 150 – 400 x 103/µL
Anti HIV Non Reaktif Non Reaktif
Diagnosis
Diagnosis Awal Diagnosis Akhir

Mioma Uteri • Post Total Abdominal Histerektomi +


Diabetes Melitus tipe II Salpingo-Oophorectomi Bilateral a/i
Mioma Uteri Bilateral
• Diabetes Melitus tipe II
Tatalaksana
dr. Vidia, Sp.OG dr. Ketut, Sp.PD dr. Sampan, Sp.An

• Cek GDP dan GD2PP


• Puasa jam 23.00 WIB
• Persiapan WBC 3
• IVFD Asering 20 tpm
kantong
• Humalog Mix 2x10 IU • Persiapan WBC 3
• Pro histerektomi,
(SC) kantong
Rencana Operasi
• Cek GDP dan GD2PP • Sebelum OP cek GDP
tanggal 28/11/2017
• ACC tindakan • Rencana OP tanggal
• Konsul Sp.PD dan
28/11/2017 pukul
Sp.An
09.00 WIB
Follow Up
Tanggal 27/11/2017 Pukul 21.00
S -
O KU: Baik TD: 120/70 mmHg RR: 20x/menit
Kesadaran : CM HR: 84x/menit T : 36,4 oC
Pemeriksaan Penunjang GDP: 114 mg/dL
GD2PP : 223 mg/dl
A Mioma Uteri
DM tipe 2
P dr. Vidia, Sp.OG dr. Ketut, Sp.PD dr. Sampan, Sp.An
- Persiapan WBC 3 kantong - Humalog mix 2x12 IU - Puasa
- Cek GDP jam 07.00 pagi - IVFD Asering 20 tpm
sebelum OP - Persiapan WBC 3 kantong
- Pro Histerektomi, Rencana - Cek GDP jam 07.00 pagi
Operasi 28/11/2017 sebelum OP
- Inj. Cefotaxim 1 gr iv (skin - Diazepam 1x5mg
test) pre op
Follow Up
Tanggal 28/11/2017 Pukul 07.00 – Pre OP
S -
O KU: Baik TD: 130/70 mmHg RR: 20x/menit
Kesadaran : CM HR: 84x/menit T : 36,4oC
Pemeriksaan Penunjang GDP : 145 mg/dl
A Mioma Uteri
DM tipe 2
P dr. Vidia, Sp.OG dr. Ketut, Sp.PD dr. Sampan, Sp.An
- Persiapan WBC 3 - Humalog mix 2x12 - Puasa
kantong IU - IVFD Asering 20 tpm
- Inj. Cefotaxim 1 gr (IV) - Cek GDS 1 jam Post - Persiapan WBC 3
+ skin test OP kantong
- Pro Histerektomi
Dokumentasi Operasi
Follow Up
Tanggal 28/11/2017 – Post OP
S Nyeri luka post op (+)
O KU: Baik TD: 130/80mmHg RR: 20x/menit
Kesadaran : CM HR: 88x/menit T : 36,5oC
Pemeriksaan Penunjang GDS : 192 mg/dl
1 jam Post OP
A Post Total Abdominal Histerektomi Bilateral + Bisalphingo-Oophorectomi Bilateral a/i
Mioma Uteri Multiple H-0
DM tipe 2
P dr. Vidia, Sp.OG dr. Ketut, Sp.PD
- IVFD RL:NACL  1:1 30 tpm - Humalog mix 2x12 IU
- Inj. Cefotaxim 3x 1gr iv (6x)
- Drip tramadol 100 mg/500 cc cairan infus (4x)
- Inj. Ranitidin 2x150 mg iv (4x)
- Inj. Ketorolac 3x30 mg/ iv (3x)
- Balence cairan/ 6 jam s/d 24 jam post op
(mulai jam 16.00 WIB)
- Puasa s/d Bising usus (+)
- Cek Hb Post OP
- Raber Sp.PD
Pemeriksaan Penunjang – Post Op
Pemeriksaan Darah Rutin
(28 November 2017-19.00 WIB) – Post OP

PEMERIKSAAN HASIL NILAI RUJUKAN

Leukosit 22.700/µL 5 – 10 x 103/µL

Eritrosit 4.930.000/µL 4.00 – 5.50 x 106/µL

Hemoglobin 11,3 g/dL 12 – 14 g/dL

Hematokrit 33,1 % 30 – 40 %

Trombosit 398.000/µL 150 – 400 x 103/µL


Follow Up
Tanggal 28/11/2017 Pukul 20.00 – Post OP
S Nyeri luka post op (+)
O KU: Baik TD: 130/80mmHg RR: 20x/menit
Kesadaran : CM HR: 80x/menit T : 36,5oC
A Post Total Abdominal Histerektomi Bilateral + Bisalphingo-Oophorectomi Bilateral a/i
Mioma Uteri Multiple H-0
DM tipe 2
P dr. Vidia, Sp.OG dr. Ketut, Sp.PD
- IVFD RL:NACL  1:1 30 tpm - Humalog mix 2x12 IU
- Inj. Cefotaxim 3x 1gr iv
- Drip tramadol 100 mg/5oo cc cairan infus
- Inj. Ranitidin 2x150 mg iv
- Inj. Ketorolac 3x30 mg/ iv
(+) Inf. Metronidazol 3x500 mg
- Balence cairan/ 6 jam s/d 24 jam post op
(mulai jam 16.00 WIB)
(+) Puasa s/d Bising usus (+) Cek Bising Usus
jam 22.00 WIB
- Raber Sp.PD
Follow Up
Tanggal 28/11/2017 Pukul 22.00 – Post OP
S Nyeri luka post op (+)
O KU: Baik TD: 130/80mmHg RR: 20x/menit
Kesadaran : CM HR: 80x/menit T : 36,5oC
BC= +200 cc Urine/6 jam = 16,6 cc/jam Bising Usus : (+) 2x/menit
A Post Total Abdominal Histerektomi Bilateral + Bisalphingo-Oophorectomi Bilateral a/i Mioma Uteri
Multiple H-0
DM tipe 2
P dr. Vidia, Sp.OG dr. Ketut, Sp.PD
- IVFD RL:NACL  1:1 30 tpm - Humalog mix 2x12 IU
- Inj. Cefotaxim 3x 1gr iv
- Drip tramadol 100 mg/500 cc cairan infus
- Inj. Ranitidin 2x150 mg iv
- Inj. Ketorolac 3x30 mg/ iv
- Inf. Metronidazol 3x500 mg
- Balance cairan/ 6 jam s/d 24 jam post op
- Raber Sp.PD
(+) pasien masih puasa  Cek Bising Usus jam 06.00
WIB
Follow Up
Tanggal 29/11/2017 – 06.00 wib
S Nyeri luka post op (+)
O KU: Baik TD: 130/90mmHg RR: 21x/menit
Kesadaran : CM HR: 86menit T : 36,3oC
(04.00 WIB) (04.00 WIB) (06.00 WIB)
BC= +200 cc Urine/6 jam = 16,6 cc/jam Bising Usus : (+) 7-8 x/menit
A Post Total Abdominal Histerektomi Bilateral + Bisalphingo-Oophorectomi Bilateral a/i Mioma Uteri
Multiple H-0
DM tipe 2
P dr. Vidia, Sp.OG dr. Ketut, Sp.PD
- IVFD RL:NACL  1:1 30 tpm - Humalog mix 2x12 IU
- Inj. Cefotaxim 3x 1gr iv
- Drip tramadol 100 mg/500 cc cairan infus
- Inj. Ranitidin 2x150 mg iv
- Inj. Ketorolac 3x30 mg/ iv
- Inj. Metronidazol 3x500 mg
- Balance cairan/ 6 jam s/d 24 jam post op
- Raber Sp.PD
(+) Pasien boleh makan bubur dan minum
Follow Up
Tanggal 29/11/2017 Pukul 10.00 WIB
S Nyeri luka post op (+), perut terasa kembung
O KU: Baik TD: 130/90mmHg RR: 21x/menit
Kesadaran : CM HR: 86x/menit T : 36,3oC
BC= -400 cc Urine/6 jam = 133,33 cc/jam
A Post Total Abdominal Histerektomi Bilateral + Bisalphingo-Oophorectomi Bilateral a/i Mioma Uteri
Multiple H-1
DM tipe 2
P dr. Vidia, Sp.OG dr. Ketut, Sp.PD
- IVFD RL 20 tpm - Humalog mix 2x12 IU
- Inj. Cefotaxim 3x 1gr
- Inj. Ranitidin 2x150 mg iv
- Inj. Ketorolac 3x30 mg/ iv
- Inj. Metronidazol 3x500 mg
- Balence caian/ 6 jam s/d 24 jam post op
- Raber Sp.PD
- Pasien boleh makan bubur dan minum
Follow Up
Tanggal 29/11/2017 Pukul 16.00 WIB
S Nyeri luka post op (+) berkurang
O KU: Baik TD: 150/90mmHg RR: 20x/menit
Kesadaran : CM HR: 80x/menit T : 36,6oC
BC= -150 cc Urine/6 jam = 100 cc/jam BC/24 jam = -150 cc
Urine/24 jam = 66,66 cc/jam
A Post Total Abdominal Histerektomi Bilateral + Bisalphingo-Oophorectomi Bilateral a/i Mioma Uteri
Multiple H-1
DM tipe 2
P dr. Vidia, Sp.OG dr. Ketut, Sp.PD
- IVFD RL 20 tpm - Humalog mix 2x12 IU
- Inj. Cefotaxim 3x 1gr
- Inj. Ranitidin 2x150 mg iv
- Inj. Metronidazol 3x500 mg
- Balance caian/ 6 jam s/d 24 jam post op
- Raber Sp.PD
- Pasien boleh makan bubur dan minum
Follow Up
Tanggal 30/11/2017
S -
O KU: Baik TD: 130/90mmHg RR: 19x/menit
Kesadaran : CM HR: 83x/menit T : 36,7oC
A Post Total Abdominal Histerektomi Bilateral + Bisalphingo-Oophorectomi Bilateral a/i Mioma Uteri
Multiple H-1
DM tipe 2
P dr. Vidia, Sp.OG dr. Ketut, Sp.PD
- Aff infus venflon - Novorapid 3x12 IU (antecoenam)
- Aff DC - Levemir 1x12 IU (malam)
- Cefixim 2x100 mg - Rawat jalan
- Asam mefenamat 3x500 mg
- Obivit 1x1 tab
- Cek GDS pagi

GDS pagi : 157 mg/dl


Follow Up
Tanggal 30/11/2017 Pukul 16.10 – Post OP
S -
O KU: Baik TD: 140/90mmHg RR: 22x/menit
Kesadaran : CM HR: 81x/menit T : 36,6oC
A Post Total Abdominal Histerektomi Bilateral + Bisalphingo-Oophorectomi Bilateral a/i Mioma Uteri
Multiple H-2
DM tipe 2
P dr. Vidia, Sp.OG dr. Ketut, Sp.PD
- venflon - Novorapid 3x12 IU
- Cefixim 2x100 mg - Levemir 1x12 IU
- Asam mefenamat 3x500 mg - Boleh rawat jalan
- Obivit 1x1 tab
- Rawat luka
21.00 WIB
- Pasien puasaCek GDP dan GD2PP besok pagi
Follow Up
Tanggal 01/12/2017
S -
O KU: Baik TD: 120/70mmHg RR: 20x/menit
Kesadaran : CM HR: 88x/menit T : 36,4oC
GDP = 135 mg/dl GD2PP = 245 mg/dl

A Post Total Abdominal Histerektomi Bilateral + Bisalphingo-Oophorectomi Bilateral a/i Mioma Uteri
Multiple H-3
DM tipe 2
P dr. Vidia, Sp.OG dr. Ketut, Sp.PD
- venflon - Novorapid 3x15 IU (Subcutan antecoenam)
- Cefixim 2x100 mg - Levemir 1x15 IU (malam)
- Asam mefenamat 3x500 mg - Boleh rawat jalan
- Obivit 1x1 tab
- Cek GDP dan GD2PP besok pagi
Follow Up
Tanggal 02/12/2017 – Post OP
S -
O KU: Baik TD: 130/80mmHg RR: 20x/menit
Kesadaran : CM HR: 88x/menit T : 36,4oC
GDP = 155 mg/dl GD2PP = 153 mg/dl

A Post Total Abdominal Histerektomi Bilateral + Bisalphingo-Oophorectomi Bilateral a/i Mioma Uteri
Multiple H-4
DM tipe 2
P dr. Vidia, Sp.OG dr. Ketut, Sp.PD
- Cefixim 2x100 mg - Novorapid 3x15 IU (Subcutan antecoenam)
- Asam mefenamat 3x500 mg - Levemir 1x15 IU (malam)
- Obivit 1x1 tab - Boleh Rawat Jalan
- Boleh Rawat Jalan (kontrol hari rabu tanggal
06/12/2017 di poli kandungan)
- Dosis insulin dipertahankan
Kontrol Ulang ke Poli Kandungan

Hasil Patologi Anatomi (dr. Herza Piasiska, M. Ked (PA), Sp.PA) : 10 Desember 2017
Kesimpulan:
Gambaran Histopatologi Sesuai dengan suatu massa Tumor : leiomyoma Uteri
Endocervix, Endometrium, kedua Ovarium dan Tuba tidak dijumpai kelainan
Daftar Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Mioma Uteri?
2. Bagaimana penegakan diagnosis pada mioma uteri?
3. Kapan dilakukan miomektomi dan kapan dilakukan
histerektomi pada mioma uteri?
4. Bagaimana risiko pasien DM tipe 2 yang melakukan
operasi?
Mioma Uteri
Mioma/Leiomyoma adalah neoplasma benigna pada otot halus yang secara tipikal berasal dari
miometrium.
Mioma/fibroid/ leiomyoma adalah tumor sel otot polos dam tumor benigna ginekologi yang
umumnya terjadi pada wanita usia reproduksi.

Epidemiologi:
• 70%-80% pada wanita
usia 50 tahun
• 8,9/1000 pada wanita
kulit putih, 30,9/1000
wanita kulit hitam
• Prevalensi meningkat
seiring dengan
pertambahan usia,
Pasien berusia 47 tahun dan belum mengalami (meningkat pada wanita
menopause usia 40 tahunan)

Hoffman BL, et al. Williams Gynecology. Second Edition. Texas: Mc Graw Hill: 2012
Mamane BC, et al. The Management of Uterine Fibroids in Women With Otherwise Unexplained Infertility. J Obstet Gynaecol Can 2015;37(3):277-285.
Sumber gambar: dokumentasi pribadi
Efek Estrogen dan Progestin
• Leiomyoma merupakan tumor sensitif estrogen dan progesteron
• Peran estrogen pada leiomioma masih belum jelas, dan memang dilaporkan sebagai
stimulator dan inhibitor.
• Leiomyoma itu sendiri membuat lingkungan hiperestrogenik, yang diperlukan untuk
pertumbuhannya. Mekanisme:
1. Dibandingkan dengan miometrium normal, sel leiomyoma mengandung lebih
banyak reseptor estrogen, dimana menghasilkan ikatan estradiol yang lebih besar.
2. Tingginya sitokrom P450 aromatase pada leiomyoma dibandingkan dengan miosit
yang normal. Sitokrom spesifik ini mengkatalisis perubahan androgen menjadi
estrogen di sejumlah jaringan.
• Penelitian terbaru menunjukkan bahwa progesteron adalah mitogen primer terhadap
pertumbuhan tumor dan estrogen sebagai upregulasi pada reseptor progesteron.

Hoffman BL, et al. Williams Gynecology. Second Edition. Texas: Mc Graw Hill: 2012
Faktor Risiko

BMI: 36 kg/m2 (Obesitas tingkat 2)

Hoffman BL, et al. Williams Gynecology. Second Edition. Texas: Mc Graw Hill: 2012
Klasifikasi Mioma Uteri
Subserosal leiomyomas  berasal dari
miosit yeng berdekatan dengan lapisan
serosa uterus dan pertumbuhannya
mengarah keluar.
Ketika mioma melekat pada miometrium
dengan tangkai  pedunculated
leiomyomas.
Parasitic leiomyomas  variasi dari
subserosa yang melekat disekitar pelvis
dan mendapatkan vaskularisasi dari
struktur disekitarnya
Intramural leiomyomas  mioma yang
pertumbuhannya berpusat didalam dinding
uterus.
USG tanggal (19/Oktober/2017) Submucous leiomyomas  mioma yang
Mioma Uteri Intramural dan seromural terletak proksimal dari endometrium dan
USG (20 November 2017) tumbuh menonjol hingga ke rongga
Uterus membesar berbenjol-benjol pada korpus depan dan endometrium
fundus belakang dengan diameter 6,1 cm dan 6,7 cm.
Hoffman BL, et al. Williams Gynecology. Second Edition. Texas: Mc Graw Hill: 2012
Manifestasi Klinis dan Diagnosis

• Bisa asimptomatik
• Perdarahan : Menoragia
• Nyeri pinggang dan disminore
• Sensasi seperti ditekan, sering BAK, inkontinensia dan konstipasi
• Mioma meluas kelateral menekan ureter dan menyebabkan obstruksi dan
hidronefrosis.
• Infertilitas

• Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan pembesaran uterus, bentuk ireguler


ataupun keduanya

• Pada pemeriksaan Penunjang :


• USG : sebagai pilihan penunjang utama dalam pemeriksaan. Gambaran USG
pada leiomyoma bervariasi dari hipoechoic hingga hiperechoic. Kalsifikasi dan
degenerasi kistik merupakan temuan yang bisa ditemukan.
Hoffman BL, et al. Williams Gynecology. Second Edition. Texas: Mc Graw Hill: 2012
Fortner KB, et al. The Jhons Hopkins Manual of Gynecology and Obstetrics. Thrid Edition. Lippincott Williams&Wilkins. 2007. h: 399-401
Tatalaksana
Medical management
• Terapi Hormonal/Oral
kontrasepsi
Surgical management
Expectant management • Nonsteroidal Anti-
• Hysterectomy
Pemeriksaan fisik dan USG harus Inflammatory Drugs
• Myomectomy
dilakukan awal dan diulang 6-8 (NSAIDs)
minggu untuk mengevaluasi ukuran • Myolisis
dan pola pertumbuhan. Jika • Hysteroscopic
pertumbuhan mioma stabil, pasien myomectomy
dapat dievaluasi dengan interval 3-4 Uterine artery embolization • Endometrial ablation
bulan. (UAE) • Laparoscopic myomectomy
Prosedur angiografi
intervensi yang memasukkan
polyvinyl alcohol atau
partikel lainnya ke dalam
arteri uterus.
Hoffman BL, et al. Williams Gynecology. Second Edition. Texas: Mc Graw Hill: 2012
Fortner KB, et al. The Jhons Hopkins Manual of Gynecology and Obstetrics. Thrid Edition. Lippincott Williams&Wilkins. 2007. h: 399-401
Vilos GA, et al. The Management og Uterine Laimyomas. J Obstet Gynaecol Can 2015;37(2):157-178
Mamane BC, et al. The Management of Uterine Fibroids in Women With Otherwise Unexplained Infertility. J Obstet Gynaecol Can 2015;37(3):277-285.
Medical Management

Hoffman BL, et al. Williams Gynecology. Second Edition. Texas: Mc Graw Hill: 2012
Uterine artery embolization (UAE)

Hoffman BL, et al. Williams Gynecology. Second Edition. Texas: Mc Graw Hill: 2012
Vilos GA, et al. The Management og Uterine Laimyomas. J Obstet Gynaecol Can 2015;37(2):157-178
Rekomendasi SOGC

1. In women with infertility, an effort should be made to adequately evaluate and classify
fibroids, particularly those impinging on the endometrial cavity, using transvaginal ultrasound,
hysteroscopy, hysterosonography, or magnetic resonance imaging.(III-A)
2. In women with otherwise unexplained infertility, submucosal fibroids should be removed in
order to improve conception and pregnancy rates.(II-2A)
3. There is fair evidence to recommend against myomectomy in women with intramural fibroids
(hysteroscopically confirmed intact endometrium) and otherwise unexplained infertility,
regardless of their size. (II-2D) If the patient has no other options, the benefits of
myomectomy should be weighed against the risks, and management of intramural fibroids
should be individualized. (III-C)
4. If fibroids are removed abdominally, efforts should be made to use an anterior uterine incision
to minimize the formation of postoperative adhesions.(II-2A)
5. Women, fertile or infertile, seeking future pregnancy should not generally be offered uterine
artery embolization as a treatment option for uterine fibroids. (II-3E)
Histerektomi
Indikasi histerektomi:
• Simptomatikwanita yang
sudah mempunyai cukup
anak
• Asimtomatik  pembesaran
mioma setelah menopause
tanpa terapi hormone
replacement therapy,
menimbulkan kekhawatiran
menjadi keganasan

Vilos GA, et al. The Management og Uterine Laimyomas. J Obstet Gynaecol Can 2015;37(2):157-178
Bilateral Salphingo-Oophorectomi

Bilateral Salphingo-Oophorectomi
Prosedur pembedahan ini sering dilsertai ketika dilakukan
histerektomi.
Pengangkatan ovarium dan tuba bermanfaat potensial terhadap
pencegahan morbiditas dan mortalitas jangka panjang.

ACOG Practice Bulletin. Elective and Risk-Reducing salphingo-oophorectomy. Obst and gynecol 2008: 111(1)
Miomektomi

Miomektomi adalah alternatif


dari histerektomi untuk wanita
yang ingin mempertahankan
rahimnya.
Pengangkatan fibroid harus
dipertimbangkan jika terdapat
gejala perdarahan menstruasi
yang berat, nyeri panggul
(pelvis) dan/atau gejala
penekanan dan beberapa
kasus masalah reproduksi
lainnya.
Uterine incision. Tumor enucleation
Vessel ligationUterine incision closure
15% rekuren dan 10% wanita yang mejalani miomektomi
akan membutuhkan histerektomi dalam 5-10 tahun
Vilos GA, et al. The Management og Uterine Laimyomas. J Obstet Gynaecol Can 2015;37(2):157-178
Respon Metabolik Perioperatif pada pasien DM

• Trauma pada pembedahan  meningkatkan produksi hormon stres (kortisol dan katekolamin)
• Peningkatan kortisol dan katekolamin  mengurangi sensitivitas insulin, aktivitas simpatik meningkat
mengurangi sekresi insulin sekaligus meningkatkan hormon pertumbuhan dan sekresi glukagon
• Perubahan pola metabolisme normal akibat operasi memicu glukoneogenesis, glikogenolisis,
proteolisis, lipolisis dan ketogenesis pada akhirnya berakibat pada hiperglikemia dan ketosis

Sudhakaran S and Surani SR. Guidelines for Perioperative Management of the Diabetic Patient. Surgery Research and Practice 2015
Manajemen Perioperatif pada pasien Diabetes

Sudhakaran S and Surani SR. Guidelines for Perioperative Management of the Diabetic Patient. Surgery Research and Practice 2015
Komplikasi Perioperatif pembedahan ginekologi
pada pasien diabetes dan obesitas
• Komplikasi yang umum meliputi infeksi saluran kencing, Buruknya penyembuhan luka post
op/ infeksi pada luka pembedahan, perdarahan.
• Keadaan hiperglikemia akibat kesimbangan abnormal pada glukosa merupakan faktor risiko
sepsis postoperatif, disfungsi endoelial, iskemik cerebral, dan gangguan penyembuhan luka.
Respon stress dapat juga menyebabkan kelainan diabetik lainnya meliputi ketoasidosis
diabetikum atau sindrom hiperosmolar hiperglikemia selama pembedahan atau postoperatif
• Pasien obesitas dengn sindrom metabolik memiliki tingkat morbiditas dan mortalitas yang
tinggi daripada pada pasein dengan berat yang normal. Efek samping setelah pembedahan
ginekologi seperti infeksi pada luka pembedahan , tromboemboli vena, komplikasi pada luka.

Sudhakaran S and Surani SR. Guidelines for Perioperative Management of the Diabetic Patient. Surgery Research and Practice 2015
Swirska J, et al. Perioperative Complications of Gynecologic Surgery in Diabetic Patients. Ginekol Pol 2016:87: 194-199
American College of Obstetricians and Gynecologists. Gynecologic Surgery in The Obese Woman. Committe Opinion No. 619. Obstet Gynecol 2015; 125:274-8
Kesimpulan
• Mioma/fibroid/ leiomyoma adalah neoplasma benigna pada otot halus yang secara tipikal
berasal dari miometrium yang umumnya terjadi pada wanita usia reproduksi. Faktor risiko
yang meningkatkan kasus mioma diantaranya usia menarche yang dini, peningkatan BMI,
riwayat keluarga, ras, dan
• Keluhan pasien dapat bersifat asimptomatis, atau simptomatis berupa menoragia, nyeri
pinggang dan disminore, sensasi seperti tertekan, sering BAK, inkontinensia dan konstipasi,
hidronefrosis, hingga menyebabkan infertilitas. Pemeriksaan fisik dapat ditemukan
pembesaran uterus, bentuk ireguler ataupun keduanya yang dapat dikonfirmasi dengan
pemeriksaan penunjang USG sebagai pilihan penunjang utama dalam pemeriksaan.
• Tatalaksana pada mioma asimptomatis dapat berupa evaluasi rutin terhadap keluhan dan
pemeriksaan USG sementara pada penderia simptomatis terapi yang dapat dipilih berupa
medikamentosa maupun tindakan pembedahan.
• Miomektomi adalah alternatif dari histerektomi untuk wanita yang ingin
mempertahankan rahimnya. Indikasi histerektomi pada mioma
simptomatik yakni wanita yang sudah mempunyai cukup anak dan pada
asimtomatik berupa pembesaran mioma setelah menopause tanpa terapi
hormone replacement therapy, menimbulkan kekhawatiran menjadi
keganasan
• Perubahan pola metabolisme normal akibat operasi memicu
glukoneogenesis, glikogenolisis, proteolisis, lipolisis dan ketogenesis pada
akhirnya berakibat pada hiperglikemia dan ketosis
• Pada pasien DM yang mengalami operasi, komplikasi meliputi infeksi
saluran kencing, buruknya penyembuhan luka post op/ infeksi pada luka
pembedahan , perdarahan dan pada pasien obesitas dengan sindrom
metabolik memiliki tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi daripada
pada pasein dengan berat bdan yang normal.
-Terima Kasih-