Anda di halaman 1dari 57

Hukum dan Etika Rumah Sakit

Pokok Pembahasan

• Definisi dan hakekat RS


• Etika dan hukum
• Hospital by laws
• UU No. 44 tahun 2009 tentang RS dan
penjelasannya
Definisi Rumah Sakit

 Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan


yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan
perorangan secara paripurna yang menyediakan
pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat
 Pelayanan Kesehatan Paripurna adalah pelayanan
kesehatan yang meliputi promotif, preventif, kuratif,
dan rehabilitatif.
 Sesuai pasal 1 UU no. 44 tahun 2009
 Rumah Sakit adalah suatu badan usaha yang
menyediakan pemondokan yang memberikan jasa
pelayanan medis jangka pendek dan jangka panjang
yang terdiri atas tindakan observasi, diagnostik,
terpeutik dan rehabilitatif untuk orang-orang yang
menderita sakit, terluka, mereka yang mau
melahirkan dan menyediakan pelayanan berobat
jalan (WHO)
 Menurut PerMenKes RI No.
159b/Menkes/Per/II/1988 tentang RS:
Sarana upaya kesehatan yang menyelenggarakan
kegiatan pelayanan kesehatan serta dapat
dimanfaatkan untuk pendidikan tenaga kesehatan
dan penelitian
Etika dan Hukum

 Etik merupakan norma-norma, nilai-nilai atau pola


tingkah laku kelompok profesi tertentu dalam
memberikan pelayanan jasa kepada masyarakat
 Hukum adalah peraturan perundang-undangan yang
dibuat oleh suatu kekuasaan, dalam mengatur
pergaulan hidup masyarakat
Etik dan hukum memiliki tujuan yang sama yaitu
untuk mengatur tertib dan tentramnya pergaulan
hidup dalam masyarakat
Persamaan dan Perbedaan Etik dan
Hukum
Persamaan Perbedaan
1. Sama-sama merupakan 1. Etik berlaku untuk lingkungan profesi . Hukum berlaku
alat untuk mengatur untuk umum.
tertibnya hidup 2. Etik disusun berdasarkan kesepakatan anggota
bermasyarakat. profesi. Hukum disusun oleh badan pemerintah.
2. Sebagai objeknya adalah 3. Etik tidak seluruhnya tertulis. Hukum tercantum
tingkah laku manusia. secara terinci dalam kitab undang-undang dan
lembaran/berita negara.
3. Mengandung hak dan 4. Sanksi terhadap pelanggaran etik berupa tuntunan.
kewajiban anggota- Sanksi terhadap pelanggaran hukum berupa tuntutan.
anggota masyarakat agar
5. Pelanggaran etik diselesaikan oleh Majelis
tidak saling merugikan. Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK), yang dibentuk
4. Menggugah kesadaran oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan kalau perlu
untuk bersikap diteruskan kepada Panitia Pembinaan Etika
manusiawi. Kedokteran (P3EK), yang dibentuk oleh Departemen
Kesehatan (DEPKES). Pelanggaran hukum diselesaikan
5. Sumbernya adalah hasi melalui pengadilan.
pemikiran para pakar dan 6. Penyelesaian pelanggaran etik tidak selalu disertai
pengalaman para anggota bukti fisik. Penyelesaian pelanggaran hukum
senior. memerlukan bukti fisik.
 Etika rumah sakit
o Etika terapan (applied ethics) atau etika praktis
(practical ethics), yaitu moralitas atau etika
umum yang diterapkan pada isu-isu praktis,
seperti perlakuan terhadap etnis minoritas,
keadilan untuk kaum perempuan, penggunaan
hewan untuk bahan makanan atau penelitian,
pelestarian lingkungan hidup, aborsi, euthanasia,
kewajiban bagi yang mampu untuk membantu
yang tidak mampu, dan sebagainya.
o Jadi, etika rumah sakit adalah etika umum yang
diterapkan pada (pengoperasian) rumah sakit.
Etika Institusional RS
 Etika Rumah Sakit
o Suatu etika praktis yang dikembangkan untuk Rumah Sakit
sebagai suatu institusi lahir pada waktu yang hampir
bersamaan dengan kehadiran etika biomedis.
 Etika institusional rumah sakit adalah pengembangan dari
etika biomedika (bioetika).
 Karena masalah-masalah atau dilema etika yang baru sama
sekali sebagai dampak atau akibat dari penerapan kemajuan
pesat ilmu dan teknologi biomedis, justru terjadi di rumah
sakit.
 Sebagai contoh, dapat disebut kegiatan reproduksi dibantu
transplantasi organ.
Komponen Etika RS

 Etika administratif
 Etika biomedis
Penerapan Etika di RS
 Rumah sakit sebagai suatu institusi juga mempunyai
etika yang terhimpun dalam Etika Rumah Sakit
Indonesia (ERSI)  disusun oleh Persatuan Rumah
Sakit seluruh Indonesia (PERSI)
 Memuat tentang kewajiban umum RS, kewajiban RS
terhadap masyarakat, kewajiban RS terhadap pasien,
Kewajiban RS terhadap tenaga staf dll
 Pihak yang bertanggungjawab terhadap pelanggaran
etika RS adalah RS itu sendiri
 Di rumah sakit besar di Indonesia sudah ada badan
yang menangani masalah etika RS yang dibentuk
dengan nama PERS (Panitia Etka Rumah Sakit)
dengan anggota terdiri dari staf medis, perawatan,
administratif dan pihak lain yang berkaitan dengan
tugas RS
Fungsi, Manfaat dan Tugas Panitia Etika Rumah
Sakit (PERS)
Fungsi PERS: Manfaat PERS :
 Memberikan nasihat atau 1. Sebagai sumber informasi
konsultasi melalui diskusi atau yang relevan untuk
berperan dalam menilai menyelesaikan masalah etik
penyelesaian melalui
kebijaksanaan, pendidikan
di rumah sakit.
pada lingkungannya dan 2. Mengidentifikasi masalah
memberikan anjuran-anjuran pelanggaran etik di rumah
pada pelayan kasus-kasus sulit. sakit dan memberikan
Tugas PERS pendapat untuk
 membantu para dokter, penyelesaian.
perawat dan anggota tim 3. Memberikan nasihat kepada
kesehatan di rumah sakit direksi rumah sakit untuk
dalam menghadapi masalah- meneruskan atau tidak,
masalah pelanggaran etik perkara pelanggaran etik ke
maupun pemantapan MKEK.
pengalaman kode etik masing-
masing profesi.
Masalah Etik Rumah Sakit Yang Perlu
Diatur
1. Rekam medis 7. Pelayanan intensif, anestesi
dan euthanasia
2. Keperawatan
8. Pelayanan radiologi
3. Pelayanan
9. Pelayanan kamar operasi
laboratorium
10. Pelayanan rehabilitasi medik
4. Pelayanan pasien 11. Pelayanan gawat darurat
dewasa 12. Pelayanan medikolegal dan
5. Pelayanan kesehatan lain-lain
anak
6. Pelayanan klinik
medik
Hukum Rumah Sakit
 Hukum RS:
semua ketentuan hukum yang berhubungan langsung
dengan pemeliharaan/pelayanan kesehatan dan
penerapannya serta hak dan kewajiban segenap
lapisan masyarakat sebagai penerima pelayanan
kesehatan maupun dari pihak penyelenggara
pelayanan kesehatan (RS) dalam segala aspek
organisasi, sarana, pedoman medik serta sumber-
sumber hukum lainnya
Hak RS
 Membuat peraturan yang berlaku di RS (hospital
bylaws)
 Mensyaratkan bahwa pasien harus menaati segala
peraturan RS
 Mensyaratkan bahwa pasien harus menaati segala
instruksi yang diberikan dokter kepadanya
 Memilih tenaga dokter yang akan bekerja di RS
 Menuntut pihak-pihak yang telah melakukan
wanprestasi (termasuk pasien, pihak ketiga dll)
Kewajiban RS
 Merawat pasien sebaik-baiknya
 Menjaga mutu perawatan
 Memberikan pertolongan pengobatan di UGD
 Menyediakan saran dan peralatan umum yang dibutuhkan
 Menyediakan sarana dan peralatan medik yang dibutuhkan
dalam keadaan siap pakai
 Merujuk pasien kepada rumah sakit lain apabila tidak
mempunyai peralatan medis khusus atau tenaga dokter
khusus yang diperlukan
 Menyediakan daya penangkal kecelakaan (alat pemadam api,
sarana dan alat pertolongan penyelamatan pasien dalam
keadaan darurat
Hak Pasien di RS
 Mendapatkan pelayanan yang manusiawi
 Memperoleh asuhan perawatan yang bermutu baik
 Memilih dokternya
 Meminta dokter yang merawat agar mengadakan
konsultasi dengan dokter lainnya
 Atas kebebasan individu (privacy) dan kerahasiaan
penyakit yang diderita
 Mendapatkan informasi tentang: penyakit yang
diderita, tindakan medis yang hendak dilakukan,
alternatif terapi lainnya, prognosis, perkiraan biaya.
 Meminta untuk tidak diinformasikan tentang
penyakitnya
 Menolak tindakan yang hendak dilakukan terhadap
dirinya
 Mengajukan keluhan-keluhan dan memperoleh
tanggapan
 Didampingi keluarga dalam keadaan kritis
 Mengakhiri pengobatan dan rawat inap atas
tanggungjawab sendiri
 Menjalankan agama dan kepercayaannya di RS (tidak
sampai mengganggu pasien lainnya)
Kewajiban Pasien di RS
 Pasien dan keluarganya berkewajiban untuk menaati segala
peraturan tata tertib RS
 Pasien wajib untuk menceritakan sejujur-jujurnya tentang
segala sesuatu mengenai penyakitnya
 Pasien wajib mematuhi segala instruksi dokter dalam rangka
pengobatannya
 Pasien dan atau penanggungnya berkewajiban untuk melunasi
semua imbalan atas jasa pelayanan RS/dokter
 Pasien dan atau penanggungnya berkewajiban untuk
memenuhi segala perjanjian yang ditandatangainya
Peraturan Internal Rumah Sakit

HOSPITAL BY LAWS
Istilah-istilah
 Hospital By laws
o ‘Hospital’ dan ‘By laws’.
o Kata ‘Hospital’ = rumah sakit
o Kata ‘Bylaw’ terdapat beberapa definisi yang dikemukakan para ahli:
The Oxford Illustrated Dictionary : Bylaw is regulation made by
local authority or corporation.
Bylaws means a set of laws or rules formally adopted internally by
a faculty, organization, or specified group of persons to govern
internal functions or practices within that group, facility, or
organization (Guwandi, 2004).
 Jadi, Bylaws dapat diartikan:
Peraturan dan ketentuan yang dibuat suatu organisasi atau
perkumpulan untuk mengatur para anggota-anggotanya.
 Keberadaan Hospital Bylaw memegang peranan penting sebagai tata
tertib dan menjamin kepastian hukum di rumah sakit.
 HBL adalah ‘rules of the game’ dari dan dalam manajemen rumah sakit.
Ciri dan Sifat HBL
1) Tailor-made
 Isi, substansi, dan rumusan rinci Hospital Bylaw tidaklah
mesti sama. Hal ini disebabkan oleh karena tiap rumah sakit
memiliki latar belakang, maksud, tujuan, kepemilikan,
situasi, dan kondisi yang berbeda.
2. Hospital Bylaw dapat berfungsi sebagai ‘perpanjangan tangan
hukum’.
 Fungsi hukum adalah membuat peraturan-peraturan yang
bersifat umum dan yang berlaku secara umum dalam
berbagai hal. Sedangkan kasus-kasus hukum kedokteran dan
rumah sakit bersifat kasuistis. Dengan demikian, maka
peraturan perundang-undangannya masih harus ditafsirkan
lagi dengan peraturan yang lebih rinci, yaitu Hospital Bylaw.
 Sebagaimana diketahui, hampir tidak ada kasus kedokteran
yang persis sama, karena sangat tergantung kepada situasi dan
kondisi pasien, seperti kegawatannya, tingkat penyakitnya,
umur, daya tahan tubuh, komplikasi penyakitnya, lama
pengobatan yang sudah dilakukan, dan sebagainya.
3. Hospital Bylaw mengatur bidang yang berkaitan dengan
seluruh manajemen rumah sakit meliputi administrasi, medik,
perawatan, pasien, dokter, karyawan, dan lain-lain.
4. Rumusan Hospital Bylaw harus tegas, jelas, dan terperinci
Hospital Bylaw tidak membuka peluang untuk ditafsirkan
lagi secara individual.
5. Hospital Bylaw harus bersifat sistematis dan berjenjang
Hakekat HBL
 Hospital Bylaw merupakan materi muatan
pengaturan dapat meliputi antara lain: tata tertib
rawat inap pasien, identitas pasien, hak dan
kewajiban pasien, dokter dan rumah sakit, informed
consent, rekam medik, visum et repertum, wajib
simpan rahasia kedokteran, komite medik, panitia
etik kedokteran, panitia etika rumah sakit, hak akses
dokter terhadap fasilitas rumah sakit, persyaratan
kerja, jaminan keselamatan dan kesehatan, kontrak
kerja dengan tenaga kesehatan dan rekanan.
 Bentuk HBL dapat merupakan kumpulan dari
Peraturan Rumah Sakit, Standar Operating Procedure
(SOP), Surat Keputusan, Surat Penugasan,
Pengumuman, Pemberitahuan dan Perjanjian (MOU).
o Peraturan internal rumah sakit tidak boleh
bertentangan dengan peraturan diatasnya seperti
Keputusan Menteri, Keputusan Presiden, Peraturan
Pemerintah dan Undang-undang. Dalam bidang
kesehatan pengaturan tersebut harus selaras
dengan Undang-undang nomor 36 Tahun 2009
tentang Kesehatan dan peraturan pelaksanaannya.
Kepentingan HBL
1. Untuk kepentingan peningkatan mutu pelayanan.
o Dalam hal ini Hospital Bylaw dapat menjadi
instrumen akreditasi rumah sakit.
o Rumah sakit perlu membuat standar-standar yang
berlaku baik untuk tingkat rumah sakit maupun
untuk masing-masing pelayanan misalnya
pelayanan medis, pelayananan keperawatan,
administrasi dan manajemen, rekam medis,
pelayanan gawat darurat, dan sebagainya.
o Standar-standar ini terdiri dari elemen struktur,
proses, dan hasil. Adapun elemen struktur meliputi
fasilitas fisik, organisasi, sumber daya manusianya,
sistem keuangan, peralatan medis dan non-medis,
AD/ART, kebijakan, SOP/Protap, dan program.
o Proses adalah semua pelaksanaan operasional dari
staf/unit/bagian rumah sakit kepada
pasien/keluarga/masyarakat pengguna jasa rumah
sakit tersebut.
o Hasil (outcome) adalah perubahan status kesehatan
pasien, perubahan pengetahuan/pemahaman serta
perilaku yang mempengaruhi status kesehatannya di
masa depan, dan kepuasan pasien.
2. Dilihat dari segi hukum
Hospital Bylaw dapat menjadi tolak ukur mengenai ada
tidaknya suatu kelalaian atau kesalahan di dalam suatu
kasus hukum kedokteran.
o Di dalam Hukum Rumah Sakit pembuktian yang lebih
rinci harus terdapat dalam Hospital Bylaw.
3. Dilihat dari segi manajemen risiko
HBL dapat menjadi alat (tool) untuk mencegah timbulnya
atau mencegah terulangnya suatu risiko yang merugikan.
o Pasien akan semakin terlindungi sesuai prinsip patient
safety.
o Hospital Bylaw juga akan memperjelas fungsi dan
kedudukan dokter dalam sebuah rumah sakit .
Fungsi dan Kegunaan HBL
Fungsi Kegunaan
1. Mengatur kewenangan dan tanggung 1. Sebagai pedoman intern rumah sakit.
jawab pemilik, dreksi, manajer, 2. Sebagai pedoman bagi pihak ekstern
profesional serta tenaga kerja yang berinteraksi dengan RS (termasuk
lainnya. pasien).
2. Mengatur hak dan kewajiban semua 3. Sebagai sarana untuk menjamin
pihak yang terinteraksi dengan RS. efektifitas, efesiensi dan mutu bagi
3. Mengatur hubungan interaksi semua pelaksanaan tugas dan kewajiban
pihak. rumah sakit.
4. Mengatur hal-hal yang berkaitan 4. Sebagai syarat bagi kepentingan
dengan kewajiban RS terhadap akreditasi.
pemerintah serta lembaga penegakan 5. Sebagai sarana perlindungan hukum
hukum. bagi semua pihak.
5. Mengatur tata-laksana melaksanakan 6. Sebagai acuan bagi penyelesaian
ke kewenangan, kewajiban dan hak. sengketa atau konflik, baik di dalam
maupun di luar pengadilan.
Hakekat HBL

1. Merupakan regulasi yang hanya berlaku di rumah


sakit yang bersangkutan.
2. Merupakan norma yang lebih dari sekedar legal
restatment.
3. Merupakan prasyarat bagi rumah sakit agar dapat
mewujudkan visi, misi dan tujuan rumah sakit.
4. Pedoman rumah sakit dapat melaksanakan tugas
dan kewajibannya dengan baik.
5. Klausula baku (perjanjian baku) yang akan berlaku
sebagai undang-undang bagi siapa saja yang
berinteraksi dengan rumah sakit.
Hospital By Laws
Kepmenkes No.772/Menkes/SK/VI/2002 tentang Pedoman Peraturan Internal Rumah Sakit
(Hospital byLaws).

Corporate By Laws
•Peraturan RS

Medical Staffs by laws


•Peraturan Staff Medis RS
UU No. 44 Tahun 2009 Tentang RS dan
Penjelasannya
UU No. 44 tahun 2009 tentang RS
terdiri dari:
 XV bab
 66 pasal
Bab I Ketentuan Umum Pasal 1
1. Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara
paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat
jalan, dan gawat darurat.
2. Gawat Darurat adalah keadaan klinis pasien yang
membutuhkan tindakan medis segera guna penyelamatan
nyawa dan pencegahan kecacatan lebih lanjut.
3. Pelayanan Kesehatan Paripurna adalah pelayanan kesehatan
yang meliputi promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
4. Pasien adalah setiap orang yang melakukan konsultasi
masalah kesehatannya untuk memperoleh pelayanan
kesehatan yang diperlukan, baik secara langsung maupun
tidak langsung di Rumah Sakit.
Dan seterusnya...
Bab II Asas dan Tujuan
Pasal 2:
Penjelasan mengenai:
 nilai kemanusiaan
 nilai etika dan profesionalitas
 nilai manfaat
 nilai keadilan
 nilai persamaan hak dan anti diskriminasi, dll
Pasal 3
 Yang dimaksud dengan keselamatan pasien (patient
safety” adalah proses dalam suatu rumah sakit yang
memberikan pelayanan pasien yang lebih aman.
Termasuk di dalamnya asesmen risiko, identifikasi,
dan manajemen risiko terhadap pasien, pelaporan
dan analisis insiden, kemampuan untuk belajar dan
menindaklanjuti insiden, dan menerapkan solusi
untuk mengurangi serta meminimalisir timbulnya
risiko.
 Yang dimaksud dengan sumber daya manusia di
Rumah Sakit adalah semua tenaga yang bekerja di
Rumah Sakit baik tenaga kesehatan dan tenaga non
kesehatan.
Bab III Tujuan dan Fungsi

Pasal 4
 Yang dimaksud dengan Pelayanan kesehatan
perorangan adalah setiap kegiatan pelayanan
kesehatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan
untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan,
mencegah dan menyembuhkan penyakit, dan
memulihkan kesehatan.
Pasal 5
 Yang dimaksud dengan pelayanan kesehatan
paripurna tingkat kedua adalah upaya kesehatan
perorangan tingkat lanjut dengan mendayagunakan
pengetahuan dan teknologi kesehatan spesialistik.
 Yang dimaksud dengan pelayanan kesehatan
paripurna tingkat ketiga adalah upaya kesehatan
perorangan tingkat lanjut dengan mendayagunakan
pengetahuan dan teknologi kesehatan sub
spesialistik.
Bab III Tanggungjawab Pemerintah dan
Pemerintah Daerah
Pasal 6
 Penyediaan Rumah Sakit didasarkan pada
perhitungan rasio tempat tidur dan jumlah penduduk
 Informasi meliputi jumlah dan jenis pelayanan, hasil
pelayanan, ketersediaan tempat tidur, ketenagaan,
serta tarif.
 Yang dimaksud dengan bencana adalah suatu
peristiwa yang terjadi secara mendadak/tidak
terencana atau secara perlahan tetapi berlanjut yang
menimbulkan dampak terhadap pola kehidupan
normal atau kerusakan ekosistem, sehingga
diperlukan tindakan darurat dan luar biasa untuk
menolong dan menyelamatkan korban yaitu manusia
beserta lingkungannya.
 Yang dimaksud dengan Kejadian Luar Biasa adalah
timbulnya atau meningkatnya kejadian
kesakitan/kematian yang bermakna secara
epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu
tertentu dan merupakan keadaan yang dapat
menjurus pada terjadinya wabah.
Bab V Persyaratan (Pasal 7-17)
 Kajian kebutuhan penyelenggaraan Rumah Sakit meliputi kajian
terhadap kebutuhan akan pelayanan Rumah Sakit, kajian terhadap
kebutuhan sarana, prasarana, peralatan, dana dan tenaga yang
dibutuhkan untuk pelayanan yang diberikan, dan kajian terhadap
kemampuan pembiayaan.
 Studi kelayakan Rumah Sakit merupakan suatu kegiatan
perencanaan Rumah Sakit secara fisik dan nonfisik agar Rumah
Sakit berfungsi secara optimal pada kurun waktu tertentu.
 Yang dimaksud dengan standar profesi adalah batasan kemampuan
(capacity) meliputi pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill),
dan sikap profesional (professional attitude) yang minimal harus
dikuasai oleh seorang individu untuk dapat melakukan kegiatan
profesionalnya pada masyarakat secara mandiri yang dibuat oleh
organisasi profesi...dll
Bab VI Jenis dan Klasifikasi (Pasal 18-24)
 Rumah Sakit dapat dibagi berdasarkan jenis pelayanan dan
pengelolaannya (pasal 18)
Pasal 19
1. Berdasarkan jenis pelayanan yang diberikan, Rumah Sakit
dikategorikan dalam Rumah Sakit Umum dan Rumah Sakit
Khusus.
2. Rumah Sakit Umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
memberikan pelayanan kesehatan pada semua bidang dan
jenis penyakit.
3. Rumah Sakit Khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
memberikan pelayanan utama pada satu bidang atau satu
jenis penyakit tertentu berdasarkan disiplin ilmu, golongan
umur, organ, jenis penyakit, atau kekhususan lainnya.
Pasal 24
 Klasifikasi Rumah Sakit umum terdiri atas:
a. Rumah Sakit umum kelas A
b. Rumah Sakit umum kelas B
c. Rumah Sakit umum kelas C
d. Rumah Sakit umum kelas D.
 Klasifikasi Rumah Sakit khusus terdiri atas:
a. Rumah Sakit khusus kelas A
b. Rumah Sakit khusus kelas B
c. Rumah Sakit khusus kelas C.
Bab VII Perizinan (Pasal 25-28)
Pasal 25
1. Setiap penyelenggara Rumah Sakit wajib memiliki izin.
2. Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari izin
mendirikan dan izin operasional.
3. Izin mendirikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
diberikan untuk jangka waktu 2 (dua) tahun dan dapat
diperpanjang untuk 1 (satu) tahun.
4. Izin operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
diberikan untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan dapat
diperpanjang kembali selama memenuhi persyaratan.
5. Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan setelah
memenuhi persyaratan sebagaimana diatur dalam Undang-
Undang
Pasal 26
1. Izin Rumah Sakit kelas A dan Rumah Sakit penanaman modal asing
atau penanaman modal dalam negeri diberikan oleh Menteri
setelah mendapatkan rekomendasi dari pejabat yang berwenang
di bidang kesehatan pada Pemerintah Daerah Provinsi.
2. Izin Rumah Sakit penanaman modal asing atau penanaman modal
dalam negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan
setelah mendapat rekomendasi dari instansi yang melaksanakan
urusan penanaman modal asing atau penanaman modal dalam
negeri.
3. Izin Rumah Sakit kelas B diberikan oleh Pemerintah Daerah
Provinsi setelah mendapatkan rekomendasi dari pejabat yang
berwenang di bidang kesehatan pada Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota.
4. Izin Rumah Sakit kelas C dan kelas D diberikan oleh Pemerintah
Daerah Kabupaten/Kota setelah mendapat rekomendasi dari
pejabat yang berwenang di bidang kesehatan pada Pemerintah
Daerah Kabupaten/Kota
Pasal 27
 Izin Rumah Sakit dapat dicabut jika:
a. habis masa berlakunya
b. tidak lagi memenuhi persyaratan dan standar
c. terbukti melakukan pelanggaran terhadap
peraturan perundang-undangan; dan/atau
d. atas perintah pengadilan dalam rangka penegakan
hukum.
Bab VIII Kewajiban dan Hak (pasal 29-32)

Sudah dijelaskan diatas


Bab IX Penyelenggaraan (Pasal 33-47)

Pasal 33
1. Setiap Rumah Sakit harus memiliki organisasi yang
efektif, efisien, dan akuntabel.
2. Organisasi Rumah Sakit paling sedikit terdiri atas
Kepala Rumah Sakit atau Direktur Rumah Sakit,
unsur pelayanan medis, unsur keperawatan, unsur
penunjang medis, komite medis, satuan
pemeriksaan internal, serta administrasi umum dan
keuangan.
Pasal 37
1. Setiap tindakan kedokteran yang dilakukan di Rumah Sakit
harus mendapat persetujuan pasien atau keluarganya.
2. Ketentuan mengenai persetujuan tindakan kedokteran
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 38
1. Setiap Rumah Sakit harus menyimpan rahasia kedokteran.
2. Rahasia kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
hanya dapat dibuka untuk kepentingan kesehatan pasien,
untuk pemenuhan permintaan aparat penegak hukum dalam
rangka penegakan hukum, atas persetujuan pasien sendiri,
atau berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
3. Ketentuan lebih lanjut mengenai rahasia kedokteran diatur
dengan Peraturan Menteri.
Pasal 43
1. Rumah Sakit wajib menerapkan standar keselamatan pasien.
2. Standar keselamatan pasien sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilaksanakan melalui pelaporan insiden,
menganalisa, dan menetapkan pemecahan masalah dalam
rangka menurunkan angka kejadian yang tidak diharapkan.
3. Rumah Sakit melaporkan kegiatan sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) kepada komite yang membidangi keselamatan
pasien yang ditetapkan oleh Menteri.
4. Pelaporan insiden keselamatan pasien sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dibuat secara anonim dan ditujukan
untuk mengkoreksi sistem dalam rangka meningkatkan
keselamatan pasien.
5. Ketentuan lebih lanjut mengenai standar keselamatan
pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 44
1. Rumah Sakit dapat menolak mengungkapkan segala
informasi kepada publik yang berkaitan dengan
rahasia kedokteran.
2. Pasien dan/atau keluarga yang menuntut Rumah
Sakit dan menginformasikannya melalui media
massa, dianggap telah melepaskan hak rahasia
kedokterannya kepada umum.
3. Penginformasian kepada media massa sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) memberikan kewenangan
kepada Rumah Sakit untuk mengungkapkan rahasia
kedokteran pasien sebagai hak jawab Rumah Sakit.
Bab X Pembiayaan (Pasal 48-51)
Pasal 49
1. Menteri menetapkan pola tarif nasional.
2. Pola tarif nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
ditetapkan berdasarkan komponen biaya satuan
pembiayaan dan dengan memperhatikan kondisi regional.
3. Gubernur menetapkan pagu tarif maksimal berdasarkan
pola tarif nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
yang berlaku untuk rumah sakit di Provinsi yang
bersangkutan.
4. Penetapan besaran tarif rumah sakit harus berdasarkan
pola tarif nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dan pagu tarif maksimal sebagaimana dimaksud pada ayat
(3).
Pasal 50
1. Besaran tarif kelas III Rumah Sakit yang dikelola
Pemerintah ditetapkan oleh Menteri.
2. Besaran tarif kelas III Rumah Sakit yang dikelola
Pemerintah Daerah ditetapkan dengan Peraturan
Daerah.
3. Besaran tarif kelas III Rumah Sakit selain rumah
sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat
(2) ditetapkan oleh Pimpinan Rumah Sakit dengan
memperhatikan besaran tarif sebagaimana
dimaksud pada ayat (2)
Bab XI Pencatatan dan Pelaporan (Pasal 52-53)

Pasal 52
1. Setiap Rumah Sakit wajib melakukan pencatatan
dan pelaporan tentang semua kegiatan
penyelenggaraan Rumah Sakit dalam bentuk Sistem
Informasi Manajemen Rumah Sakit.
2. Pencatatan dan pelaporan terhadap penyakit
wabah atau penyakit tertentu lainnya yang dapat
menimbulkan wabah, dan pasien penderita
ketergantungan narkotika dan/atau psikotropika
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Bab XII Pembinaan dan Pengawasan (Pasal 54-61)
Pasal 54
1. Pemerintah dan Pemerintah Daerah melakukan pembinaan dan
pengawasan terhadap Rumah Sakit dengan melibatkan organisasi
profesi, asosiasi perumahsakitan, dan organisasi kemasyaratan
lainnya sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing.
2. Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diarahkan untuk: a. pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan
yang terjangkau oleh masyarakat; b. peningkatan mutu pelayanan
kesehatan; c. keselamatan pasien; d. pengembangan jangkauan
pelayanan; dan e. peningkatan kemampuan kemandirian Rumah
Sakit.
3. Dalam melaksanakan tugas pengawasan, Pemerintah dan
Pemerintah Daerah mengangkat tenaga pengawas sesuai
kompetensi dan keahliannya.
4. Tenaga pengawas sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
melaksanakan pengawasan yang bersifat teknis medis dan teknis
perumahsakitan
Bab XIII Ketentuan Pidana (Pasal 62-63)

Pasal 62
Setiap orang yang dengan sengaja menyelenggarakan Rumah
Sakit tidak memiliki izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal
25 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2
(dua) tahun dan denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00-
(lima milyar rupiah).

Bab XIV (pasal 64) dan Bab XV (pasal 65-66) merupakan


ketentuan peralihan dan ketentuan penutup
Terima Kasih


57