Anda di halaman 1dari 49

FG-2

Dika Ayu Anggraini


Irma Widyasari
Khafifah Sri Lestari
Siti Khotimah

Aktivitas dan Viesca Ayu Vandi

Latihan
Overview
Aktivitas dan
Latihan
Aktivitas &
Latihan

National Institute of Health (NIH) mendefinisikan latihan dan aktivitas fisik sebaga berikut (1995,
hal. 3)
 Aktivitas fisik  pergerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka yang memerlukan
pengeluaran energy dan menghasilkan manfaat kesehatan yang progesif
 Latihan  tipe aktivitas fisik yang didefinisikan sebagai pergerakan tubuh secara terencana,
terstruktur, dan berulang yang dilakukan untuk memperbaiki atau mempertahankan satu atau
lebih komponen kebugaran fisik.

Berman, A. T., Synder, S., & Frandsen, G. (2016). Kozier & Erb’s
Fundamentals of nursing (10th ed.). United State: Pearson
Education, Inc.
Aktivitas &
Latihan

Pola aktivitas-latihan  rutinitas latihan, aktivitas, waktu luang, dan rekreasi yang dilakukan
seseorang.
Pola tersebut terdiri dari :

 Aktivitas sehari-hari (ADL)


 Olahraga

Berman, A. T., Synder, S., & Frandsen, G. (2016). Kozier & Erb’s Fundamentals of nursing (10th
ed.). United State: Pearson Education, Inc.
Aktivitas adalah suatu energi atau keadaan bergerak dimana
Aktivitas dan
manusia memerlukan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup.
Latian
Latihan merupakan suatu gerakan tubuh secara aktif yang
dibutuhkkan untuk menjaga kinerja otot dan mempertahankan
postur tubuh.

(Kasiati & Rosmalawati, Ni Wayan Dwi, 2016)


(Berman, Synder, & Frandsen, 2016)

1. Latihan isotonic (dinamik)  latihan yang memendekkan otot untuk


menghasilkan kontraksi otot dan pergerakan aktif.

2. Latihan isometric (statis)  latihan yang memerlukan perubahan tegangan


otot tetapi tidak ada perubahan dalam panjang otot dan tidak ada pergerakan
otot/sendi.

Latihan dapat 3. Latihan isokinetic (resistif)  melibatkan kontraksi otot/tegangan otot dalam

diklasifikasikan melawan tahanan, sehingga latihan ini bersifat isotonic atau isometric.

berdasarkan
kontraksi otot :
 Latihan Aerobik  aktivitas yang memerlukan
jumlah oksigen lebih besar di dalam tubuh
dibandingkan yang biasa digunakan untuk melakukan
Latihan dapat
aktivitas.
diklasifikasikan
 Latihan Anaerobik (Berman, Synder, & Frandsen, 2016)
berdasarkan
sumber energi:
1. Denyut jantung target
2. Talk test
Intensitas dari 3. Skala Borg mengenai persepsi
latian dapat pengeluaran energy
diukur dengan 3
Berman, A. T., Synder, S., & Frandsen, G. (2016). Kozier & Erb’s
Fundamentals of nursing (10th ed.). United State: Pearson
cara, yaitu : Education, Inc.
Mekanika Tubuh  suatu usaha mengkoordinasikan sistem
muskuloskeletal dan sistem syaraf dalam mempertahankan
keseimbangan, postur dan kesejajaran tubuh selama
mengangkat, membungkuk, bergerak, dan melakukan
aktivitas sehari-hari.
Mekanika
Tubuh
Berman, A. T., Synder, S., & Frandsen, G. (2016). Kozier & Erb’s
Fundamentals of nursing (10th ed.). United State: Pearson
Education, Inc.
Pergerakan normal  hasil kerja dari system musculoskeletal yang
utuh, system saraf yang utuh, dan struktur telinga bagian dalam yang
utuh yang bertanggungjawab untuk keseimbangan.
Pergerakan normal melibatkan empat elemen, yaitu :
1. kesejajaran tubuh (postur)
2. pergerakan sendi
3. keseimbangan
Pergerakan 4. gerakan terkoordinasi
Normal Berman, A. T., Synder, S., & Frandsen, G. (2016). Kozier & Erb’s
Fundamentals of nursing (10th ed.). United State: Pearson
Education, Inc.
Review Anatomi
dan Fisiologi:
Regulasi
Pergerakkan
 Alat gerak pasif.
Sistem  Merupakan jaringan ikat yang keras dan kaku (jaringan penyokong); banyak

Rangka mengandung mineral, zat perekat dan zat kapur.

 Fungsi Sistem Rangka :


1. Penyangga : berdirinya tubuh, tempat melekatnya ligamen-ligamen,

otot, jaringan lunak & organ


2. Penyimpanan mineral (kalsium & fosfat) dan lipid (yellow marrow )
3. Hematopoiesis : Produksi sel darah (red marrow )
4. Pelindung : membentuk rongga melindungi organ yang halus &
lunak.
5. Penggerak : tulang bersama sendi menjadi tuas bagi perlekatan otot.

6. Pendukung : tulang menjadi rangka dan ikut memberikan bentuk,


kedudukan, serta posisi anggota tubuh
Pembagian
sistem rangka

1. Axial Skeleton
 Terdiri dari 80 tulang yang
membentuk aksis panjang
tubuh dan melindungi organ-
organ pada kepala, leher, dan
torso
Pembagian
sistem rangka

2. Appendicular Skeleton
 Terdiri dari 126 tulang yang membentuk lengan,
tungkai dan tulang pektoral serta tonjolan
pelvis yang menjadi tempat melekatnya lengan
dan tungkai pada rangka aksial

• Berdasarkan jaringan penyusun


1. Tulang Rawan : Kondrosit
2. Tulang Keras : Osteosit
 Berdasarkan bentuk 3. Tulang pipih
1. Tulang panjang - tersusun atas lapisan spons (disebut Diploë) yang diapit
- Memiliki beberapa epifisis oleh dua lapisan tulang padat (disebut cortex)
- Berbentuk melengkung sehingga dapat menyerap - Ex : sternum, rusuk, dan scapula
4. Tulang irregular
tekanan lebih baik
- memiliki bentuk kompleks sesuai fungsi masing-masing
- Ex : femur, tibia, fibula, humerus, ulna, radius, dan
- Ex : tulang belakang, pinggul, dan calcaneus
falanges.
2. Tulang pendek
5. Tulang sesamoid
- Lapisan luar padat - Berkembang di dalam tendon yang mengalami banyak gesekan
- Ada jaringan spons di dalamnya dan tekanan seperti pada telapak tangan dan tumit.
- Ex : tulang karpal dan tarsal (pergelangan tangan 6. Tulang sultural
- Terdapat pada sambungan tulang kranial
dan kaki)

Tortora, G. J and Derrickson, B, 2012. Principles of anatomy and physiology. 13th ed. Biological Science Textbooks, Inc.
cranial
facial
• Berdasarkan letak
1. Tulang Tengkorak klavikula
2. Tulang Badan scapula
3. Tulang Anggota Gerak sternum
Tulang rusuk
Vertebral Vertebral
column humerus column
pelvis pelvis
ulna
radius
karpal

metacarpal falanges
Long bone
Flat bone (strnum) Femur
(humerus) Patella

Irreguler bone (vertebra)


tibia
Short bone fibula
(trapezoid, wrist
bone)
tarsal
metatarsal
Sesamoid bone (patella) falanges
Tortora, G. J and Derrickson, B, 2012. Principles of anatomy and physiology. 13th ed. Biological Science Textbooks, Inc.
Sendi : pertemuan antara dua atau beberapa tulang dari kerangka

Sendi  Jenis-jenis sendi:


 Berdasarkan jaringan pengikatnya:
1. Persendian Fibrosa : Tidak memiliki
• Berdasarkan pergerakan yang dapat dihasilkan : rongga sendi dan diperkokoh dengan
jaringan ikat fibrosa.
1. Sinartrosis: sendi yang tidak dapat
digerakkan. Dapat berupa sendi berfibrosa Contoh : Sutura, sindesmosis,
atau berkartilago. Contoh: Sutura, 2. Persendian Kartilago : Tidak memiliki
sinkondrosis, gomposis.
rongga sendi dan diperkokoh dengan
2. Amfiartrosis: sendi yang dapat jaringan kartilago.
digerakkan dengan limitasi. Dapat berupa
sendi berfibrosa atau berkartilago. Contoh: Contoh : Sinkondrosis, simfisis
simfisis, sindesmosis. 3. Persendian sinovial : memiliki rongga
3. Diartrosis: sendi yang dapat digerakkan sendi dan diperkokoh dengan kapsul
secara bebas. Seluruh sendi diartrosis dan ligamen artikular yang
adalah sendi bersinovial. Memiliki cairan membungkusnya
synovial.
Sendi diartrosis
(synovial) 4. Sendi Putar
Memungkinkan gerakan 4.
Ciri-ciri sendi yang bergerak bebas : memutar (rotasi). Contohnya
 Ujung tulang ditutupi oleh tulang rawan hialin adalah sendi pada pergelangan
tangan
 Terdapat ligamen untuk mengikat tulang-tulangnya
 Membran sinovial menyelaputi rongga persendian dan 5. Sendi Luncur
mengeluarkan cairan sebagai pelumas sendi. Memungkinkan tulang sendi 5.
1. Sendi Peluru meluncur bertumpuk satu
2. Sendi Engsel
sama lain. Contohnya adalah
Memungkinkan gerakan Memungkinkan gerakan
sendi pada pergelangan kaki
kesegala arah. Contoh: dalam satu bidang, seperti
sendi panggul dan engsel pintu. Contoh: sendi
sendi bahu lutut dan siku 1.
3. Sendi Pelana
Merupakan sendi yang memberi timbal balik menerima.
Contoh: sendi antar trapezium dan tulang metakarpal 2.
3.
pertama dari ibu jari yang memberi kebebasan bergerak.
Otot Tandon

Pita A gelap
2. Otot Rangka/Lurik Serat otot
Pita I terang
Serat otot
Pita A Pita I

Bagian dari
miofibril Miofibril

Jaringan
Filamen tebal ikat
Filamen tipis

Jembatan
silang

Miosin Aktin
Filamen tebal Filamen tipis
Tubuh manusia terdiri lebih dari 600 otot lurik/rangka.
Fungsi : memfasilitasi pergerakan dan memberi bentuk dan
kontur pada tubuh.

Tingkat organisasi otot rangka :


Otot  serat otot  myofibril  filament tebal dan tipis  myosin dan
aktin
(organ)(sel)(struktur intrasel khusus)(elemen
sitoskeleton)(molekul protein)
Kelompok otot:
- Otot antagonis Dikoordinasikan oleh sistem saraf dan
- Otot sinergis berperan dalam mempertahankan postur
serta memulai pergerakan
- Otot antigravitasi
frontalis oksipitalis
Orbicularis oculi
masseter
Zygomaticus major
Trapezius
Platysma

Deltoid Pectoralis minor


Pectoralis major
Biceps brachii Trisep brachii

Brachioradialis Transversus Latusimus dorsi


abdomjnis
Flexor carpi radialis Internal abdominal
oblique
Tensor fasciae Eksternal Fleksor carpi ulnaris Gluteus media
latea abdominal oblique
Gluteus maxima

Abduktor magnus

Fibula longus

Tibialis anterior

Fibularis longus
Dendrite
3. Sistem saraf perikaryon
Badan sel
Nukleus
Cabang dendrit telodendria
akson
Nissl body (free
ribosom)
mitokondria
Akson hillock
Akson
Telodendria

nucleus Synaps terminal


nucleolus

dendrit
Berdasarkan Fungsi:
1. Neuron sensorik (Aferen): menerima rangsang
Fungsi sel dari reseptor dan meneruskannya ke tempat
pengolahan (Sistem saraf pusat otak atau
saraf sumsum tulang belakang)
2. Neuron asosiasi (Interneuron):
menghubungkan neuron sensorik dan
neuron motorik; banyak terdapat di sistem
saraf pusat
 Fungsi dasar jaringan saraf adalah untuk melakukan 3. Neuron motorik (Eferen): meneruskan hasil
pengolahan rangsang dari sistem saraf pusat
komunikasi
ke efektor (berupa otot atau kelenjar)
 Kemampuan untuk bereaksi terhadap rangsangan fisik
dan kimiawi (iritabilitas).
Selain itu beberapa sel saraf dapat
 Kemampuan untuk menyebarkan rangsangan tersebut melakukan sekresi. Hasil sekret sel saraf
dari satu tempat ketempat lain (konduktivitas).
tersebut tersebut dilepaskan dari ujung
 Fungsi motorik, sensorik dan integrative suatu sel saraf akson ke dalam ruang perivaskular masuk ke
terutama tergantung pada sifat iritabilitas dan dalam pembuluh darah dan kemudian
konduktivitasnya diangkut dari darah ke organ sasaran.
Struktur sel saraf Fungsi
Dendrite - Menerima rangsangan dari reseptor/neuron lain
- Meneruskan rangsang ke badan sel
Badan sel/ soma Menerima dan mengolah rangsangan dari dendrit lalu
diteruskan ke akson
Akson - Menerima ransgsang dari badan sel
- Menghantarkan rangsang ke efektor/neuron lain
Akson hillock Titik awal terjadinya potensial aksi sepanjang akson
Akson terminal Ujung aksi penghasil neurotransmitter penghatar rangsang
kimiawi ke neuron lain
Selubung myelin Melindungi sel saraf dan mempercepat hantaran saraf
Sel schwan - Menutrisi akson dan mempercepat laju rangsang
Struktur sel - Membentuk selubung myelin

saraf Sinaps
Nodus ranvier
Tempat bertukarnya infromasi
Tempat peloncatan rangang (tidak dilapisis selubung mtelin
Organisasi
sistem saraf
Sistem Saraf Pusat 2. Medula spinalis
Fungsi : mengintegrasi, memproses, dan
mengkoordinasi data sensorik dengan perintah
motorik

Brain component
1. OTAK
Cerebral cortex

Basal nuclei
Thalamus

hypothalamus
fungsi pokok :
cerebellum 1. Konduksi impuls: Menyediakan sarana
komunikasi saraf ke dan dari otak melalui
midbrain Brain stem
Brain stem saluran materi putih
Pons Spinal cord 2. Integrasi gerak refleks : Berfungsi sebagai
medulla
pusat refleks spinal
1. Korteks Serebrum (grisea)

Bagian-bagian Fungsi : Presepsi sensorik, kontrol pergerakan secara


otak sadar, kemampuan mengolah Bahasa, kepribadian
suatu individu, berpikir, memori atau ingatan,
pengambilan keputusan, kreatifitas, dan pusat
kesadaran.
5. Batang Otak 2. Cerebrum (Otak Besar)
- Mesenfalon (Midbrain), Pons, Medula
Oblongata fungsi : mengendalikan kontraksi otot rangka, pusat
6. Basal Nuclei pembelajaran, emosi, ingatan, dan persepsi
Berperan dalam kontrol gerakan yang tidak
3. Diensefalon (Otak Depan)
diperlukan atau diinginkan. Basal nuclei
menerima input dari cerebral cortex dan Thalamus, hypothalamus, epitalamus
memberikan output ke organ motorik di korteks
melalui medial dan ventral nuclei di thalamus. 4. Cerebellum
7. Sistem Limbik fungsi : Mempertahankan keseimbangan dan
Sistem limbik secara umum berperan untuk
koordinasi gerakan, meningkatkan tonus otot,
mengatur perasaan, metabolism, produksi
hormon serta memori jangka panjang. mengoordinasikan dan merencanakan aktivitas otot
sadar terampil, membantu dalam belajar
Sistem saraf
tepi
A. Divisi Aferen 2. Aferen sensori
- Jalur masuk bagi rangsangan/ informasi
 mengirim informasi mengenai lingkungan internal dan eksternal ke SSP dibagi
menjadi aferen visceral stimuli dan sensory stimuli
sensorik (informasi yang berasal dari
reseptor di permukaan tubuh atau otot
 membawa informasi sensorik dari reseptor (somatik & viseral) di jaringan/ organ
atau sendi)
 perifer ke SSP ⇒ neuron sensorik - membawa masukan sadar
- Informasi sensorik dibagi menjadi
1. Aferen Viseral
1. sensasi somatik (sensasi tubuh) dari
permukaan tubuh, termasuk sensasi
- visceral organ dalam rongga tubuh
somestetik dari kulit dan propriosepsi
- stimuli rangsang atau informasi dari otot, sendi, kulit, dan telinga
- aferen visceral suatu jalur masuk untuk informasi yang berasal dari dalam rongga 2. sensasi khusus (indera khusus),
tubuh penglihatan, pendengaran,
- membawa masukan/ informasi bawah sadar pengecapan, dan penciuman.
B. Divisi Eferen
Prinsip
Teknik
Transfer &
Positioning
Penggunaan prinsip transfer klien sangat penting

PRINSIP TEKNIK digunakan saat akan memindahkan klien yang menderita

TRANSFER imobilitas.

Terdapat beberapa prinsip apabila klien tidak dapat turut serta


dalam melakukan pentransferan:
1. Semakin besar dasar dari pendukung, perawat akan semakin
seimbang dan stabil
2. Semakin rendah pusat dari gravitasinya, perawat akan lebih
stabil
3. Apabila garis gravitasi melewati dasar dari pendukung,
maka keseimbangan benda akan dipertahankan
Potter, P. A., Perry, A. G., Hall, A., & Stockert, P. A. (2009). Fundamentals of nursing (4th ed.). United
State: Delmar Cengage Learning.
4. Sebaiknya selalu menghadap kearah pergerakan agar
PRINSIP TEKNIK mencegah terputirnya tulang belakang secara abnormal.
TRANSFER
5. Perawat harus saling bekerja sama dalam menentukan
pembagian aktivitas yang seimbang antara kaki dan tangan
supaya terhindar dari cidera.
6. Mengangkat membutuhkan tenaga yang banyak dibandingkan
dengan sistem tuas, memutar, dan menggulingkan.
7. Semakin sedikit gaya yang dibutuhkan untuk menggerkan
diakibtakan oleh gaya gesek antara benda yang digerakan
dengan permukaan geraknya dikurangi.

Potter, P. A., Perry, A. G., Hall, A., & Stockert, P. A. (2009). Fundamentals of nursing (4th ed.). United
State: Delmar Cengage Learning.
Positioning dilakukan dengan memposisikan klien dalam
POSITIONING kesejajaran tubuh yang baik dan dalam mengubah posisi dilakukan
secara teratur maupun sistemik.

Positioning memiliki bebrapa tujuan diantaranya:


1. Mencegah terjadinya kontraktur
2. Mencegah terjadinya ketidaknyamanan otot
3. Memberi kenyamanyan pada klien
4. Mencegah tekanan yang akan menyebabkan ulkus decubitus
5. Mencegah kerusakan pada pembuluh darah & saraf tepi
6. Menstimulasi refleks postural

Berman, A. T., Synder, S., & Frandsen, G. (2016). Kozier & Erb’s Fundamentals of nursing
(10th ed.). United State: Pearson Education, Inc.
Macam - macam positioning :

POSITIONING 1. Fowler position


Posisi ini seperti posisi tiduran biasa dan
bagian kepala tempat tidur sedikit dinaikan. Posisi ini
guna mempertahankan kenyamanan klien dan
memfasilitasi fungsi pernapasan.

Tujuan : mengurangi kompilasi yang diakibatkan


imobilitas, mengurangi kemungkinan tekana pada
tubuh akibat posisi yang selalu menetap, dan
meningkatkan dorongan pada diafragma agar ekpansi
dada dapt meningkat serta ventilasi paru lancar.
Berman, A. T., Synder, S., & Frandsen, G. (2016). Kozier & Erb’s Fundamentals of nursing (10th ed.).
United State: Pearson Education, Inc.
2. Orthopneic Position

POSITIONING Posisi duduk klien yang menyandarkan kepala kepada


penampang yg sejajar dengan dada, seperti pada meja yang
diletakan diatas kasur.
Posisi ini dikarenakan klien yang mengalami gangguan
pernapasan dan yang tidak dapat tidur dengan telentang.
Tujuan : Memudahkan klien dalam melakukan ekpansi paru

Berman, A. T., Synder, S., & Frandsen, G. (2016). Kozier & Erb’s Fundamentals of
nursing (10th ed.). United State: Pearson Education, Inc.
3. Dorsal Recumbent Position
POSITIONING Posisi ini klien berbaring telentang dengan sedikit
merenggangkan kedua lutut. Posisi ini biasanya digunakan saat
proses persalinan dan saat pemeriksaan genitalia.

Tujuan : untuk membuat klien nyaman terutama bila menderita


ketegangan punggung belakang.

Berman, A. T., Synder, S., & Frandsen, G. (2016).


Kozier & Erb’s Fundamentals of nursing (10th ed.).
United State: Pearson Education, Inc.
4. Lateral Position

POSITIONING Posisi dimana sebagian besar berat tubuh berada pada


pinggul & bahu karena posisi yang miring. Posisi ini
dikarenakan klien yang kelelahan.

Tujuan : mempertahankan body aligement, mengurangi tekanan


pada tubuh akibat posisi yang menetap, dan memberikan
kenyamanan.

Berman, A. T., Synder, S., & Frandsen, G. (2016). Kozier &


Erb’s Fundamentals of nursing (10th ed.). United State:
Pearson Education, Inc.
5. Prone Position
POSITIONING Posisi telungkup atau berbaring dengan wajah
mertumpu pada bantal. Biasanya dikarenakan pemeriksaan
bokong & punggung atau klien yang setelah operasi
mulut & kerongkongan.

Tujuan : mencegah fleksi & kontaktur pada pinggang dan


lutut, memberi ektensi pada sendi lulut dan pinggang.

Berman, A. T., Synder, S., & Frandsen, G. (2016). Kozier


& Erb’s Fundamentals of nursing (10th ed.). United
State: Pearson Education, Inc.
6. Sims’ Position
Posisi miring kearah kanan dan kiri.
POSITIONING Biasanya posisi ini digunakan oleh ibu
hamil, klien paralis, klien tidak sadarkan diri
dan klien yang sedang menjalani pengobatan
perineal.

Tujuan : mencegah aspirasi karena drainase


di mulut lancar, mencegah dekubitus,
mengurangi tekanan pada secrum dan
trochanter mayor otot pinggang

Berman, A. T., Synder, S., & Frandsen, G. (2016). Kozier & Erb’s
Fundamentals of nursing (10th ed.). United State: Pearson
Education, Inc.
Macam – macam alat pendukung :
1. Pillows
POSITIONING
2. Mattresses
3. Abduction pillow  bantal busa
dengan bentuk segitiga unutk
membantu mempertahankan
absuksi panggul supaya dapat
mencegah dislokasi panggul.

Berman, A. T., Synder, S., & Frandsen, G. (2016). Kozier & Erb’s Fundamentals of nursing (10th
ed.). United State: Pearson Education, Inc.
4. Heel Guard (Suspensi/boot peyangga
tumit)
POSITIONING
5. Hand roll  mencegah terjadinya
kontraktur jari dan membuat posisi
tangan yang fungsional.
6. Footboard  Menjaga kaki agar tidak
mengalami fleksi plantar.

Berman, A. T., Synder, S., & Frandsen, G. (2016). Kozier & Erb’s Fundamentals of nursing
(10th ed.). United State: Pearson Education, Inc.
Faktor yang
Mempengaruhi
Aktivitas dan
Latihan
 Perubahan perkembangan (developmental changes),
 Aspek perilaku (behavioral aspects),
 Dukungan keluarga dan sosial (family and social support),
 Budaya dan etnis setempat (cultural and ethnic origin),
 Permasalah lingkungan (and environmental issues).
(Potter, Perry, Stockert, & Hall, 2013)

• Nutrisi,
• Faktor eksternal,
• Keterbatasan yang ditentukan (Prescribed Limitations).
(Berman, Snyder, & Frandsen, 2016)
Proses
Keperawatan Pada
Kebutuhan
Aktivitas dan
Latihan
Menggali data yang akurat selama pemeriksaan fisik yang
Penilaian meliputi :
 Perawat harus menanyakan tingkat aktivitas klien, hal ini untuk
mengidentifikasi mobilisasi dan resiko cedera yang meliputi pola
aktivitas, jenis, frekuensi, dan lamanya.
 Selain itu perawat juga perlu mengkaji kecepatan aktivitas.
 Tanyakan tingkat kelelahan meliputi aktivitas yang membuat
lelah dan gangguan pergerakan meliputi penyebab , gejala dan
efek dari gangguan pergerakan
 Perawat mengkaji tingkat aktivitas klien
 Pemeriksaan fisik yang bertujuan untuk mendapatkan data
adanya indikasi rintangan dan keterbatasan sehingga klien perlu
bantuan perawat
Diagnosa
Keperawatan

Informasi yang dilakukan selama penilaian mendasari identifikasi diagnosis keperawatan.


Perawat, dengan masukan dari pasien, mengidentifikasi dan memprioritaskan diagnosa
keperawatan. Diagnosa yang terkait dengan aktivitas dan latihan:
• Intoleransi aktivitas • Gangguan mobilitas fisik
• Koping tidak efektif • Risiko cedera
• Gangguan pernapasan • Nyeri akut atau kronis
• Nutrisi yang tidak seimbang: lebih dari kebutuhan tubuh
Perencanaan meliputi identifikasi hasil yang diharapkan dan sarana atau
intervensi untuk memastikan hasil tersebut tercapai. Perencanaan
Perencanaan terkait latihan aktivitas memiliki tujuan umum untuk meningkatkan atau
mempertahankan fungsi gerak pasien dan menguji kemandirian pasien.
Berikut ini adalah contoh hasil untuk pasien yang memiliki gangguan
fungsi mental dan fisik dalam aktivitas dan latihan (Ackley dan Ladwig,
2008):
 Berpartisipasi dalam aktivitas fisik yang ditentukan dengan
mempertahankan detak jantung yang tepat, tekanan darah, dan
tingkat pernapasan
 Mengembangkan pemahaman tentang kebutuhan untuk meningkat
secara bertahap aktivitas berdasarkan toleransi dan gejala
 Mengungkapkan pemahaman tentang menyeimbangkan istirahat dan
aktivitas
1. Kaji tingkat kemampuan klien dalam melakukan
gerak.
Intervensi
2. Rencanakan tentang pemberian program
latihan sesuai kemampuan pasien.
3. Berikan diet tinggi kalsium.
4. Ajarkan klien tentang bagaimana melakukan
aktivitas sehari-hari.
5. Libatkan keluarga untuk melatih mobilitas
pasien.
6. Konsultasikan dengan ahli terapi fisik.
• Potter, P., Perry, A. G., Stockert, P., & Hall, A. (2013).
Fundamentals of Nursing. Missouri: Elsevier Inc.
• Berman, A., Snyder, S. J., & Frandsen, G. (2016). Kozier & Erb’s
fundamentals of nursing : concepts, practice, and process - ten
edition. New Jersey: Pearson Education, Inc.
• Potter, P. A., Perry, A. G., Hall, A., & Stockert, P. A. (2009).
Fundamentals of nursing (4th ed.). United State: Delmar Cengage
Learning.
• Sherwood, L. (2012). Fundamentals of Human Physiology 4th
Edition. Canada: Brooks/Cole Cengage Learning.
• Tortora, G & Derrickson, B. (2012). Principles of anatomy &
physiology. Danvers : John Wiley & Sons, Inc.
• Tortora, G.J dan Derrickson, B. (2013). Principle of anatomy &
physiology. New Jersey: Wiley.
• Sherwood, L. (2012). Fisiologi Manusia;dari Sel ke Sistem. Edisi 6.
Jakarta: EGC
REFERENSI • Kasiati & Rosmalawati, Ni Wayan Dwi. (2016). Kebutuhan Dasar
Manusia I. Kemenkes RI