Anda di halaman 1dari 24

PROGRAM DAN

PENGEMBANGAN
PUSKESMAS
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2019
Disusun oleh:

 Annisa Kurnia Sari

 Amanda Nathania

 Muhammad Fahmi

 Bianca Dwinta D
Outline

Pendahuluan

Tinjauan Pustaka

Kesimpulan
PENDAHULUAN
Riset yang dilakukan oleh International Labour Permenaker 05/Men/1996 elemen 2.
Office (ILO) tahun 2009 setiap 15 detik 160
pekerja mengalami kecelakaan kerja, berarti
dalam satu hari hampir satu juta pekerja
menderita akibat kecelakaan kerja.

Selama periode Januari hingga


identifikasi bahaya, penilaian dan
Nopember 2007 telah tercatat 65.474
pengendalian risiko dari kegiatan, produk
kasus kecelakaan kerja di seluruh
barang dan jasa harus dipertimbangkan pada
Indonesia dan 40% merupakan
kecelakaan di tempat kerja dengan 1451
saat merumuskan rencana untuk memenuhi
orang meninggal dunia. Sehingga dapat
kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja
disimpulkan setiap harinya pekerja yang
tewas akibat kecelakaan kerja mencapai
empat
Setiap orang
kejadian kecelakaan kerja Sumber bahaya di tempat kerja dapat
menimbulkan kerugian baik berupa
kerugian yang bersifat ekonomi, dalam berupa faktor fisik, kimia, biologis,
bentuk kerusakan, hilangnya waktu kerja, psikologis, fisiologis, serta mental
biaya perawatan dan pengobatan, psikologis atau tindakan dari manusia
menurunnya jumlah mutu dan produksi, sendiri merupakan penyebab terjadinya
maupun kerugian yang berupa penderitaan
karena cedera, cacat atau bahkan kematian kecelakaan akibat kerja yang harus
ditangani secara dini.

4
TINJAUAN PUSTAKA: IDENTIFIKASI BAHAYA

• Identifikasi bahaya adalah usaha-usaha mengenal dan


mengetahui adanya bahaya pada suatu sistem (peralatan,
unit kerja, prosedur) serta menganalisa bagaimana
terjadinya. Identifikasi bahaya adalah proses untuk
mengetahui adanya bahaya dan menentukan
karakteristiknya (Operasional Procedure No.31519).

• Identifikasi bahaya merupakan suatu proses yang dapat


dilakukan untuk mengenali seluruh situasi atau kejadian
yang berpotensi sebagai penyebab terjadinya kecelakaan
dan penyakit akibat kerja yang mungkin timbul di tempat
kerja.7
TINJAUAN PUSTAKA: IDENTIFIKASI BAHAYA

Identifikasi sumber bahaya dilakukan dengan mempertimbangkan:


• Kondisi dan kejadian yang dapat menimbulkan potensi bahaya
• Jenis kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang mungkin dapat
terjadi
• Kegiatan ini dilaksanakan melalui:
• Konsultasi orang yang mempunyai pengalaman dalam bidang
pekerjaan yang mereka sukai dan menimbulkan kegiatan bahaya.
TINJAUAN PUSTAKA: IDENTIFIKASI BAHAYA

Pemeriksaan-pemeriksaan fisik lingkungan kerja.


• Catatan sakit dan cidera-cidera insiden waktu yang lalu yang
mengakibatkan cedera dan sakit, menjelaskan sumber bahaya yang
potensial.
• Informasi/ nasehat identifikasi bahaya yang memerlukan nasehat,
penelitian, dan informasi dari seseorang ahli
• Analisa tugas dengan membagi kedalam unsur-unsurnya maka
bahaya yang berhubungan dengan tugas dapat didefinisikan
• Sistem formal analisa bahaya misalnya HAZOP/HASAN.8
TINJAUAN PUSTAKA: IDENTIFIKASI BAHAYA

Kegunaan identifikasi bahaya adalah sebagai berikut:


• Mengetahui bahaya-bahaya yang ada
• Untuk mengetahui potensi bahaya tersebut, baik akibat
maupun frekuansi terjadinya
• Untuk mengetahui lokasi bahaya
• Untuk menunjukan bahwa bahaya-bahaya tersebut telah
dapat memberikan perlindungan
• Untuk menunjukkan bawa bahaya tertentu tidak akan
menimbulkan akibat kecelakaan, sehingga tidak diberikan
perlindungan.
• Untuk analisa lebih lanjut
TINJAUAN PUSTAKA: IDENTIFIKASI BAHAYA

Setelah bahaya-bahaya tersebut dianalisa akan memberikan


keuntungan antara lain:
• Dapat ditentukan sumber atau penyebab timbulnya bahaya
• Dapat ditentukan kualifikasi fisik dan mental seseorang yang
diberi tugas
• Dapat ditentukan cara, prosedure, pergerakan, dan posisi-
posisi yang berbahaya kemudian dicari cara untuk
mengatasinya
• Dapat ditentukan lingkup yang harus dianalisa lebih lanjut.
TINJAUAN PUSTAKA: PENILAIAN RISIKO

Penilaian risko adalah proses untuk menentukan


pengendalian terhadap tingkat risiko kecelakaan
kerja/penyakit akibat kerja. Penilaian risko adalah proses
evaluasi risiko-risiko yang diakibatkan adanya bahaya-
bahaya, dengan memperhatikan kecukupan
pengendalian yang dimiliki, dan menentukan apakah
risikonya dapat diterima atau tidak
TINJAUAN PUSTAKA: PENILAIAN RISIKO

• Proses penilaian risiko


•Estimasi tingkat kekerapan
•Estimasi tingkat keparahan
•Penentuan tingkat risiko
•Prioritas risiko
TINJAUAN PUSTAKA: PENILAIAN RISIKO

Tujuan Penilaian Risiko

• Untuk menentukan pengaruh atau akibat pemaparan


potensi bahaya yang digunakan sebagai landasan
dalam melakukan tindakan perbaikan mencegah
terjadinya incident akibat bahaya tersebut.

• Untuk menyusun prioritas pengendalian semua jenis


risiko, akibat yang bias terjadi tingkat keparahan,
frekuansi kejadian dan cara pencegahan.
TINJAUAN PUSTAKA: TEMPAT KERJA

• Menurut UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja


pasal 1 ayat 1, yang dimaksud tempat kerja adalah tiap
ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau
tetap, dimana tenaga kerja bekerja, atau yang sering dimasuki
tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana
terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya.

• Oleh karena pada tiap tempat kerja terdapat sumber bahaya


maka pemerintah mengatur keselamatan kerja baik di darat,
di tanah, di permukaan air, di dalam air, maupun di udara
yang berada di wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia.

• Menurut UU No. 1970 tentang keselamatan kerja pengurus


perusahaan mempunyai kewajiban untuk menyediakan
tenpat kerja yang memenuhi syarat keselamatan dan
kesehatan.
TINJAUAN PUSTAKA: BAHAYA

• Bahaya adalah sumber, situasi atau tindakan yang


berpotensi mencederai manusia atau sakit
penyakit atau kombinasi dari semuanya. Bahaya
adalah aktifitas, kondisi, kejadian, gejala, proses,
material, dan segala sesuatu yang ada di tempat
kerja/berhubungan dengan pekerjaan yang
menjadi/berpotensi menjadi sumber
kecelakaan/cedera/penyakit/dan kematian.

• Bahaya pekerjaan adalah faktor-faktor dalam


hubungan pekerjaan yang dapat mendatangkan
kecelakaan.9 Selain resiko yang berbeda-beda,
setiap bahan mempunyai intensitas atau tingkat
bahaya yang berbeda, misalnya pengaruh dari
suatu bahan kimia ada yang akut dan ada yang
kronis.
TINJAUAN PUSTAKA: BAHAYA

Sumber-sumber bahaya bisa berasal dari:


• Manusia
• Peralatan
• Bahan atau material
• Lingkungan
TINJAUAN PUSTAKA: BAHAYA

• Bahaya kesehatan dapat di bagi dalam empat kategori yaitu:

• Kimia: uap, gas, asap


• Fisika: kebisingan, radiasi, suhu atau kelembaban ekstrim,
gelombang mikro,getaran laser.
• Biologi: serangga, jamur, bakteri, virus, parasit,dll.
• Ergonomi: interaksi manusia dengan manusia lain, mesin
dan lingkungan
TINJAUAN PUSTAKA: KECELAKAAN KERJA

• Kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang jelas tidak


dikehendaki dan sering kali tidak terduga semula yang
dapat menimbulkan kerugian baik waktu, harta benda atau
properti maupun korban jiwa yang terjadi di dalam suatu
proses kerja industri atau yang berkaitan dengannya. 7

• Pada dasarnya kecelakaan disebabkan oleh dua hal yaitu


tindakan manusia yang tidak aman (unsafe act) dan keadaan
lingkungan yang tidak aman (unsafe condition). Dari data
kecelakaan didapatkan bahwa 85% sabab kecelakaan adalah
faktor manusia. Oleh karena itu sumber daya manusia dalam
hal ini memegang peranan penting dalam penciptaan
keselamatan dan kesehatan kerja. Tenaga kerja yang mau
membiasakan dirinya dalam keadaan yang aman akan
sangat membantu dalam memperkecil angka kecelakaan
kerja.9
TINJAUAN PUSTAKA: KECELAKAAN KERJA

 Sebab-sebab Dasar (Basic Causes)


Penyebab dasar membantu menjelaskan mengapa terdapat kondisi
yang kurang standar. Sebab-sebab dasar dibagi menjadi 2
•Faktor manusia (Personal Factor)
•Faktor Pekerjaan (Job Factor)
 Sebab langsung (Immediate Cause)
Penyebab langsung dari kecelakaan adalah suatu yang secaa
langsung menyebabkan kontak. Penyebab langsung tersebut
berupa :
•Tindakan tidak aman (Unsafe Act)
•Kondisi tidak aman (Unsafe Condition)
TINJAUAN PUSTAKA: PENGENDALIAN RISIKO

Pengendalian risiko adalah suatu upaya kontrol terhadap potensi risiko bahaya
yang ada sehingga bahaya itu dapat ditiadakan atau dikurangi sampai batas yang
dapat diterima. Dalam Permenaker RI. No.05/MEN/1996, diteranglan bahwa
perusahaan harus merencanakan manejemen dan pengendalian kegiatan-
kegiatan produk barang dan jasa yang dapat mrnimbulkan risiko kecelakaan kerja
yang tinggi. Hal ini dapat dicapai dengan mendokumentasikan dan menerapkan
kebijaksanaan standar bagi tempat kerja, perencanaan pabrik dan bahan,
prosedur dan intruksi kerja untuk mengatur dan mengendalikan kegiatan produk
barang dan jasa. 10

Hal yang harus diperhatikan dalam memilih atau menetapkan jenis tindakan
pengendalian risiko adalah dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
• Tindakan itu merupakan alat pengendali yang tepat
• Tidak menimbulkan bahaya baru
• Diikuti oleh semua pekerja tanpa adanya ketidaknyamanan dan srtes
TINJAUAN PUSTAKA: PENGENDALIAN RISIKO

Pengendalian resiko dapat mengikuti Pendekatan Hirarki


Pengendalian (Hirarchy of Control). Hirarki pengedalian resiko
adalah suatu urutan-urutan dalam pencegahan dan
pengendalian resiko yang mungkin timbul yang terdiri dari
beberapa tingkatan secara berurutan. 7

Hirarki atau metode yang dilakukan untuk mengendalikan


risiko antara lain:

• Eliminasi (Elimination)

• Substitusi (Substitution)

• Rekayasa (Engineering)

• Administrasi

• Alat Pelindung Diri (APD)


TINJAUAN PUSTAKA: PENGENDALIAN RISIKO
Identifikasi bahaya, penilaian, dan pengendalian risiko yang terkait dengan
aktivitas harus di pastikan sesuai, cukup dan selalu tersedia. Untuk iu sebuah
organisasi harus mengidentifikasi, mengevaluasi dan mengendalikan risiko K3 di
semua aktifitas-aktifitasnya, dan semua tahapan ini menjadi dasar dalam
pengembangan dan penerapan sistem menejemen K3.
Identifikasi bahaya, penilaian dan pengendalian risiko harus dilakukan dalam
perhitungan yang matang, termasuk juga biaya dan waktu pelaksanaannya. Data-
data yang disajikan harus dipastikan akurat. Organisasi harus menentukan
apakah aspek K3 ini terkait dengan aktifitas sekarang atau lampau.
Tinjauan awal terhadap keselamatan dan kesehatan kerja harus mencakup empat
hal berikut ini, yaitu :
•Persyaratan peraturan dan perundang-undangan.
•Identifikasi resiko K3 yang dihadapi organisasi.
•Rekaman-rekaman dari semua proses dan prosedur.
•Evaluasi dan umpan balik dari investigasi insiden sebelumnya, kecelakaan
dan keadaan darurat. (Rudi Suardi, 2005).
TINJAUAN PUSTAKA: BAHAYA FAKTOR FISIK

Faktor fisik adalah faktor di dalam tempat kerja yang bersifat fisika antara lain kebisingan,
penerangan, getaran, iklim kerja, gelombang mikro dan sinar ultra ungu. Faktor-faktor ini
mungkin bagian tertentu yang dihasilkan dari proses produksi atau produk samping yang tidak
diinginkan.10

• Kebisingan

• Penerangan

• Getaran

• Iklim kerja

• Radiasi Tidak Mengion


KESIMPULAN
Identifikasi bahaya, penilaian, dan pengendalian risiko yang terkait dengan aktivitas harus di pastikan sesuai,
cukup dan selalu tersedia. Untuk iu sebuah organisasi harus mengidentifikasi, mengevaluasi dan mengendalikan
risiko K3 di semua aktifitas-aktifitasnya, dan semua tahapan ini menjadi dasar dalam pengembangan dan
penerapan sistem menejemen K3. hal ini sangat penting, karena itu identifikasi bahaya dan pengendalian
bahaya harus secara nyata ditetapkan. Setiap organisasi berbeda dalam bentuk identifikasi, pengukuran dan
pengendalian bahayanya, tergantung pada ukuran, situasi lingkungan kerja organisasi serta ditentukan juga
oleh sifat, kompleksitas dan siknifikasi bahaya yang terjadi. Suatu bahaya kesehatan akan muncul bila seseorang
kontak dengan sesuatu yang dapat menyebabkan gangguan/kerusakan bagi tubuh ketika terjadi pajanan
(“exposure”) yang berlebihan. Bahaya kesehatan dapat menyebabkan penyakit yang disebabkan oleh pajanan
suatu sumber bahaya di tempat kerja. Potensi bahaya kesehatan yang biasa di tempat kerja berasal dari
lingkungan kerja antara lain faktor kimia, faktor fisik, faktor biologi, faktor ergonomis dan faktor psikologi.
Faktor fisik adalah faktor di dalam tempat kerja yang bersifat fisika antara lain kebisingan, penerangan, getaran,
iklim kerja, gelombang mikro dan sinar ultra ungu. Faktor-faktor ini mungkin bagian tertentu yang dihasilkan
dari proses produksi atau produk samping yang tidak diinginkan. Setiap bahaya dengan kondisi risiko
bagaimana pun diharapkan dapat dihilangkan atau diminimalkan sampai pada batas yang dapat diterima, baik
dari kaidah keilmuan maupun tuntunan hukum. Dengan mengetahui faktor-faktor tersebut dan
pengendaliannya, maka resiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja dapat ditekan seminimal mungkin dengan
demikian, diperoleh kondisi tempat kerja yang lebih aman.10