Anda di halaman 1dari 70

STBM STUNTING

Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang


Seksi Kesling Kesjaor
Tahun 2018
STRATEGI NASIONAL
SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT
( STBM )
KEPUTUSAN
MENTERI KESEHATAN R.I.
NOMOR: 852/MENKES/SK/IX/2008
Apa Arti STBM ?

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat yang


selanjutnya disebut sebagai STBM adalah
pendekatan untuk merubah perilaku higiene
dan sanitasi melalui pemberdayaan
masyarakat dengan metode pemicuan.
Riset Kesehatan Dasar 2007

Akses Air Minum & Sanitasi

57,7% RT Akses Air Bersih 63,5% RT Akses Sanitasi

24,8% RT masih BABS (Desa : 34,5% RT, Kota : 9,2% RT)

25,8% RT tidak ada SPAL pada Tahun 2004 menjadi


32,5% RT tidak ada SPAL pada Tahun 2007
22,0% anak > 10 Thn. berperilaku CTPS Tahun 2007, naik
12,0% anak > 10 Thn. berperilaku CTPS Tahun 2005
Mengapa sanitasi penting?
• Masih ada 41,2 % penduduk Indonesia belum mendapatkan akses
sanitasi (riskesdas 2013)
• Indonesia mengalami kerugian ekonomi sebesar 56,7 trilyun
pertahun akibat kondisi sanitasi yang buruk (Studi WSP 2006)
• Kajian Organisasi Kesehatan Dunia (World Health
Organization - WHO) tahun 2005 menyebutkan bahwa setiap
US$1 yang diinvestasikan untuk perbaikan sanitasi memberikan
imbal hasil (return) paling sedikit sebesar US$8.
• Intervensi modifikasi lingkungan dapat menurunkan angka
penyakit diare sebesar 94% (Studi WHO 2007)
• Study EHRA ( Environtmen Health Risk Assesmen ) tahun 2015
menunjukkan keterkaitan antara BABS dan Kejadian Penyakit
Diare Di kabupaten Karawang.

5
Hasil study EHRA ( Environtmen Health Risk Assesmen ) 2015
D.1. Tempat Buang Air Besar Orang Dewasa

80.00 70.19
70.00
60.00
50.00
40.00
30.00
20.00 13.52
10.57
5.87
10.00 2.33 1.45 0.10 2.13 0.29
0.00

H.1. Waktu paling Dekat anggota keluarga terkena diare

Hari ini
80 70.4
70 Kemarin
60 1 minggu terakhir
50 1 bulan terakhir
%

40
3 bulan terakhir
30
6 bulan yang lalu
20
3.9 5.4 6 4.5 6.4 Lebih dari 6 bulan yang lalu
10 1.8 1.6
0 Tidak pernah
RESPONDEN
B.3. Pendidikan Terakhir Responden

Universitas/Akademi 2.10%

SMK 2.20%

SMA 11%

SMP 18.60%

SD 50.40%

Tidak sekolah formal 15.70%

0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 50.00% 60.00%

Penyuluhan / Pelatihan / Pemberdayaan masyarakat


yang paling berdampak
AKSES SANITASI LAYAK INDONESIA

Sumber: Data Monev STBM, Tanggal 18 Juli 2017 Pukul 20:30 WITA
AKSES SANITASI LAYAK JAWA BARAT

Sumber: Data Monev STBM, Tanggal 18 Juli 2017 Pukul 20:30 WITA
PRESENTASE DESA MELAKSANAKAN
STBM INDONESIA BERDASAR PROVINSI

Sumber: Data Monev STBM, Tanggal 18 Juli 2017 Pukul 20:30 WITA
PRESENTASE DESA MELAKSANAKAN STBM
JAWA BARAT

Sumber: Data Monev STBM, Tanggal 18 Juli 2017 Pukul 20:30 WITA
JUMLAH DESA ODF INDONESIA

Sumber: Data Monev STBM, Tanggal 18 Juli 2017 Pukul 20:30 WITA
JUMLAH DESA ODF JAWA BARAT

Sumber: Data Monev STBM, Tanggal 18 Juli 2017 Pukul 20:30 WITA
Potret Sanitasi di Indonesia
efluen industri
di kawasan
MCK yang tidak pemukiman
berfungsi buang air besar
sembarangan

selokan tersumbat

Jamban yang
asal-asalan

pembuangan liar
lumpur tinja

mencuci dan mandi di


sungai tercemar
Intervensi untuk Pencegahan Diare

Pengelolaan Air Minum 39%

CTPS 45%

Perbaikan Sanitasi 32%

Suplai Air Bersih 25%

Intervensi Lingkungan 94%

0% 20% 40% 60% 80% 100%


Permasalahan Strategis
 Rendahnya kesadaran masyarakat mengenai penting-nya
perilaku hidup bersih & sehat (PHBS) dan sanitasi
• Rendahnya kesadaran dan komitmen pemerintah dae-
rah mengenai pentingnya pembangunan sanitasi
• Belum tersedianya pendekatan pembangunan sanitasi
pedesaan yang sistematis
• Terbatasnya pilihan teknologi sanitasi berbasis ma-
syarakat, khususnya di daerah sulit (rawa, cadas, dan
pesisir pantai)
• Terbatasnya akses masy. terhadap supply sanitasi
• Terbatasnya pendanaan pemerintah
STBM
 Pada tahun 2015, mengurangi separuh proporsi
penduduk yang tidak memiliki akses terhadap air
minum dan sanitasi dasar. (MDGs, Goal 7:point 2)

 Akses masyarakat perdesaan terhadap fasilitas sanitasi


berdasarkan Joint Monitoring Program WHO –
UNICEF tidak meningkat, yakni sekitar 38% sejak
1985.
Mengapa STBM ?

 STBM ( Sanitasi Total Berbasis Masyarakat )


merupakan suatu pendekatan yang digunakan
sehingga masyarakat dapat memperbaiki sendiri
kondisi sanitasi lingkungan
 STBM dapat menumbuhkan kesadaran bahwa
sanitasi merupakan kebutuhan alamiah
masyarakat, dengan ‘menggugah’ rasa jijik, malu
dan kesadaran bahwa kontaminasi tinja akibat
open defecation (BAB di sembarang tempat)
berbahaya bagi kesehatan
Mengapa STBM?
Karakteristik:
 Masalah sanitasi merupakan masalah
masyarakat, bukan masalah pihak
luar, sehingga pembangunan sanitasi
dilakukan oleh masyarakat sendiri
dan tanpa subsidi
 Perbaikan kondisi sanitasi hanya bisa
dilakukan bersama secara total, tidak
parsial
Hasil yang Diharapkan :
Demand masyarakat terhadap
pemakaian jamban meningkat
 kebutuhan masyarakat
terhadap pelayanan sanitasi
dapat terpenuhi
Perubahan perilaku dapat
menular secara cepat pada
daerah lain (replikasi)
1. DASAR HUKUM

 Komitmen Global SDG’s


 Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan
 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2014
tentang SanitasiTotal Berbasis Masyarakat (STBM)
 Perda Kab. Karawang No. 11 Tahun2017
 RPJMD Kab. Karawang 2013 – 2018
 Renstra Dinas Kesehatan Kab. Karawang
AKSES UNIVERSAL 2019
RPJPN 2005-2025
• Pembangunan dan penyediaan air minum dan sanitasi
diarahkan untuk mewujudkan terpenuhinya kebutuhan dasar
masyarakat.

RPJMN 2015-2019
• Akses Universal 2019 : 100 – 0 – 100

Nawacita
• Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia
• Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar
internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit
bersama bangsa-bangsa Asia lainnya
UNDANG-UNDANG NO. 36 TAHUN
2009 TENTANG KESEHATAN

Pasal 162 : Upaya kesehatan lingkungan

Pasal 163 (1) : Jaminan ketersediaan lingkungan


yang sehat dan tidak mempunyai
risiko buruk bagi kesehatan.

Pasal 163 (3) : Lingkungan sehat berarti bebas dari


unsur-unsur yang menimbulkan
gangguan kesehatan
PERMENKES NOMOR 71 TAHUN 2016 TENTANG
PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN ALOKASI KHUSUS
NON FISIK BIDANG KESEHATAN TAHUN 2017
Pengalokasian Dana BOK dalam penyelenggaraan STBM
Kegiatannya :
Kegiatan untuk mewujudkan desa STBM di desa oleh
sanitarian/ tenaga kesehatan lingkungan Puskesmas
meliputi :
 Pemicuan

 Identifikasi Masalah dan Analisis Situasi (IMAS)


perilaku kesehatan,
 Monitoring paska pemicuan

 Pembuatan dan update peta sanitasi dan buku

kader
PERMENKES NOMOR 71 TAHUN 2016 TENTANG
PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN ALOKASI KHUSUS
NON FISIK BIDANG KESEHATAN TAHUN 2017

Pengalokasian Dana BOK dalam


penyelenggaraan STBM
Kegiatannya (lanjutan) :
 Kampanye cuci tangan pakai sabun

 Kampanye higiene sanitasi sekolah, dan


surveilans kualitas air (pra dan paska
konstruksi)
 Verifikasi stop buang air besar sembarangan
(SBS).
2. KONSEP STBM
1. STBM : Pendekatan untuk merubah perilaku higiene dan sanitasi
melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan.
2. KOMUNITAS : Kelompok masyarakat yang berinteraksi secara
sosial berdasarkan kesamaan kebutuhan dan nilai-nilai untuk
meraih tujuan.
3. ODF (STOP BABS) : Kondisi ketika setiap individu dalam
komunitas tidak buang air besar sembarangan.
4. CTPS : Perilaku cuci tangan dengan menggunakan sabun dan air
bersih yang mengalir
5. PAM-RT : Proses pengolahan, penyimpanan dan pemanfaatan
air minum dan air yang digunakan untuk produksi makanan dan
keperluan oral lainnya seperti berkumur, sikat gigi, persiapan
makanan/minuman bayi.
2. KONSEP STBM
SANITASI TOTAL (5 PILAR) :
Kondisi ketika suatu komunitas :
1. Tidak buang air besar sembarangan (Stop BABS)
2. Mencuci tangan pakai sabun (CTPS)
3. Mengelola air minum dan makanan yang aman (PAM RT)
4. Mengelola sampah dengan benar
5. Mengelola limbah cair rumah tangga dengan aman

JAMBAN SEHAT : Fasilitas pembuangan tinja yang efektif


untuk memutus mata rantai penularan penyakit, yaitu jamban
bertangki septik dan kedap.
SANITASI DASAR : Sarana sanitasi rumah tangga yang
meliputi sarana buang air besar, sarana pengelolaan
sampah dan limbah rumah tangga
STRATEGI BARU UNTUK SANITASI TOTAL
BERBASIS MASYARAKAT
Meningkatkan kebutuhan (demand
creation) akan peningkatan total
perilaku dan fasilitas higiene dan
sanitasi, tanpa subsidi/pinjaman Meningkatkan
untuk peralatan rumah tangga, menu kebutuhan
teknologi terbuka (termasuk jamban sanitasi
murah), cuci tangan pakai sabun dan
pengolahan air.
Meningkatkan rantai penyediaan
sanitasi (supply creation) dengan
menggunakan pendekatan berbasis Meningkatkan
pasar. Meningkatkan
enabling
penyediaan
Meningkatkan enabling environment barang dan jasa environment
dengan cara mengembangkan
kapasitas pemerintah pusat/ lokal
dalam pengembangan kebijakan
dan implementasi.
KERANGKA PIKIR STBM
Outcome:
Menurunnya kejadian penyakit diare dan penyakit berbasis lingkungan yang
berkaitan dng sanitasi dan perilaku melalui penciptaan kondisi sanitasi total

Output:
Meningkatnya pembangunan sanitasi higiene melalui peningkatan demand
& supply

Pilar 3:
Pilar 1: Pilar 4: Pilar 5:
Pilar 2: PAM-RT
Stop BABS Pengelolaan Pengelolaan
CTPS (Cuci (Pengelolaan
(Buang Air Sampah Limbah Cair
Tangan Pakai Air Minum
Besar Rumah Rumah
Sabun) Rumah
Sembarangan) Tangga Tangga
Tangga)

Komponen Dasar STBM:


1. Perubahan Perilaku
2. Peningkatan akses sanitasi yang berkelanjutan
3. Pengelolaan berbasis masyarakat yang berkelanjutan
4. Dukungan institusi kepada masyarakat (enabling environment)
PERAN DAN TANGGUNG JAWAB INSTITUSI DALAM
PERMENKES NOMOR 3 TAHUN 2014
TENTANG SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT (STBM)
TINGKAT INSTITUSI PERAN DAN TANGGUNG JAWAB

KABUPATEN PEMERINTAH 1. Mempersiapkan rencana kabupaten untuk


/KOTA KABUPATEN/ mempromosikan strategi yang baru
KOTA
2. Mengembangkan dan
mengimplementasikan kampanye
informasi tingkat kabupaten mengenai
pendekatan yang baru
3. Mengkoordinasikan pendanaan untuk
implementasi strategi STBM
4. Mengembangkan rantai suplai sanitasi di
tingkat kabupaten
5. Memberikan dukungan capacity building
yang diperlukan kepada semua institusi di
kabupaten
TNGKAT INSTITUSi PERAN DAN TANGGUNG JAWAB

KECAMATAN/ PUSKESMAS 1. Menetapkan skala prioritas wilayah


KELURAHAN untuk penerapan STBM di
Tk.Kecamatan dan atau Kelurahan
2. Melakukan koordinasi lintas sektor dan
program, jejaring kerja, dan
kemitraan dlm rangka pengembangan
penyelenggaraan STBM Tk.Kecamatan
dan atau Kelurahan
3. Melaksanakan Pelatihan Teknis bagi
petugas dan masyarakat Kecamatan
dan atau kelurahan
4. Melakukan Pemantauan dan Evaluasi
5. Menyediakan Materi media
komunikasi, informasi dan edukasi tk
kecamatan dan atau kelurahan
TARGET JUMLAH KELURAHAN ODF/ STOP BAB SEMBARANGAN
BERDASARKAN RENSTRA DINAS KESEHATAN KAB. KARAWANG

Kondisi Existing Kegiatan STBM Kab. Karawang Th. 2017

• Dari 309 Desa/Kelurahan yang ada di Kab. Karawang, baru 155 2022
Ds./Kel. yang telah melaksanakan STBM 2021
75
• Desa/Kel. yang telah mendeklarasikan ODF sebanyak 75 Ds./Kel. 2020

2019 60 Desa/
KEL
50 KELURAHAN

20 Desa / KELURAHAN
2018

5. Desa / Kelurahan
2017

1. DESA / Kelurahan
UPAYA YANG DILAKUKAN
1. Dinas Kesehatan mengajukan penganggaran melalui BOK Tahun
Anggaran 2018, dengan kegiatan antara lain :
- Pemicuan STBM
- Pelatihan STBM
- Pendekatan CSR
2. Advokasi STBM dengan OPD lain melalui Pokja Sanitasi.
3. Sosialisasi Perda Kesling No. 3 th 2017 dan Perda STBM
No. 11 Th. 2017.
4. Bekerjasama dengan IUWASH PLUS dalam pengembangan
pemberdayaan masyarakat.
KEGIATAN STBM YANG DILAKUKAN DI
PUSKESMAS

1. Advokasi / Sosialisasi / Fasilitasi Tingkat


Desa / Kelurahan
2. Membangun kapasitas institusi dan masy.
3. Melakukan Pemicuan
4. Kemitraan dengan PKK, Tomas, LPM, LSM
5. Sinergi dengan Program Lain.
6. Monitoring dan Evaluasi.
5. PENTINGNYA PEMICUAN
Pengertian Pemicuan
 Adalah suatu kegiatan untuk menimbulkan
suatu “energi baru” dalam diri
seseorang/ kelompok, sehingga terjadi
suatu mata rantai gerakan yang
eksponensial (menggelora, menggelegar
bagai ombak samudra)
5. PENTINGNYA PEMICUAN
 Menggali informasi, pemetaan kondisi, potensi
dan budaya masyarakat.
 Membangun pemahaman dan komitmen
tentang kondisi lingkungan dan secara mandiri
menyusun rencana aksi untuk memperbaiki
kondisi sanitasi dan lingkungan.
 Mengutamakan yang terabaikan, dari
masyarakat untuk masyarakat.
 Memicu kesadaran masyarakat untuk
melakukan sesuatu terhadap kondisi air,
sanitasi dan kebersihan lingkungan mereka.
6. PENGEMBANGAN STBM
Jenis Kegiatan yang perlu disupport
 STBM tidak memberikan Lokakarya
bantuan fisik jamban, tetapi
pemberikan pendampingan di Support/
“Pemicuan”
masyarakat Pendampingan

INVESTASI
 Membutuhkan perhatian
seluruh yang terlibat baik di
segi logistik maupun
Reward Peningkatan
pendanaan untuk mendorong System SDM petugas

perubahan tersebut terutama


pemicuan
HARAPAN dan STRATEGI KEDEPAN
 INTEGRASI DAN SINERGI KEGIATAN STBM DI
KABUPATEN. KARAWANG, DARI TINGKAT
KABUPATEN SAMPAI TINGKAT KECAMATAN DAN
KELURAHAN .
 SINERGI PEMBIAYAAN (ABPD, APBN/ BOK DAN
BLUD)
 SINERGI PROGRAM LINTAS SEKTOR
(POKJA SANITASI, DINAS PERUMAHAN DAN
PEMUKIMAN, KOTA SEHAT, DLL)
 OPTIMALISASI SISTEM MONITORING DAN
EVALUASI STBM (MONEV STBM, SMS GATEWAY,
KONSEP DASAR STBM
STUNTING
Deskripsi Singkat STBM - STUNTING

 Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 mencatat ada sekitar 9 juta anak stunting di Indonesia,
meningkat dari 36,8% tahun 2007 ke 37,2% tahun 2013.

 Indonesia merupakan negara terbesar kelima dengan jumlah anak stunting di dunia.

 Sebuah studi terkini di Indonesia menemukan bahwa sebuah kombinasi sanitasi yang tidak layak dan
kualitas air minum yang tidak aman merupakan faktor risiko stunting yang bermakna (Torlesse, et.al.,
2016).

 Sebuah analisis penilaian risiko komparatif global terbaru dari 137 data negara berkembang
mengidentifikasikan faktor-faktor risiko lingkungan (yaitu, kualitas air yang buruk, kondisi sanitasi yang
buruk, dan penggunaan bahan bakar padat) memiliki dampak terbesar kedua pada kejadian stunting
secara global (Andrews, et.al. 2016).

41
Pendekatan
Pengertian Akibat secara
Penyebab
Stunting Stunting langsung
Stunting
dan Tidak
Langsung
I.Stunting
Stunting
???? adalah kondisi
PENDEK panjang/tinggi badan
anak dibawah standar
usia anak
TB/U < -2 SD

Terlihat normal
tp lebih pendek
dr anak seusia
lainya
stunting

 Anak-anak yang menderita gangguan


pertumbuhan sebagai akibat dari asupan makan
yang buruk atau infeksi berulang cenderung
berisiko lebih besar untuk penyakit dan kematian.

 Stunting adalah hasil dari kekurangan gizi jangka


panjang karena kurang asupan dan infeksi
penyakit berulang yang mengakibatkan hambatan
perkembangan mental, prestasi sekolah rendah,
dan gangguan kecerdasan (WHO, 2005).

 stunting adalah kondisi panjang/tinggi badan anak


di bawah standar usia anak. Dengan kata lain
stunting dapat diketahui bila seorang balita sudah
diukur panjang atau tinggi badannya, lalu
dibandingkan dengan standar tinggi badan
berdasarkan umur, dan hasilnya berada di bawah
normal. Jadi secara fisik balita akan lebih pendek
dibandingkan balita normal lainnya yang seumur.

44
Stunting menghambat perkembangan otak yang
permanen

 Anak Normal Anak Stunting

Sel-sel otak rusak,


percabangan
Sel-sel otak normal dan terbatas. Sel tidak
banyak percabangan normal dan cabang
pendek-pendek

Kecukupan gizi dalam 1000 Hari Pertama


45 Kehidupan sangat penting
• Asupan makanan
Penyebab • Penyakit infeksi
Langsung


Penyebab •
Aksesibilitas pangan
Pola asuh
• Ketersediaan air minum/sanitasi
Tidak • Pelayanan kesehatan

Langsung
Ibu hamil yang
KEK dan
menderita
Anemia

Penyedian air
Bayi tidak
bersih dan
mendapat ASI
sanitasi yang
Eksklusif
tidak layak
Faktor
resiko
Stunting

Makanan
Pendamping
ASI yang tidak
Pertumbuhan
tepat (Waktu,
tidak dipantau
Jenis,
Frekuensi,
Jumlah)
Akibat Stunting
Gangguan pertumbuhan sejak dalam kandungan
akan berakibat secara fisik, mental dan
intelektual pada bayi yang dilahirkan.
Anak perempuan yang stunting kelak berisiko
melahirkan bayi berat badanlahir rendah (BBLR)
dan juga stunting.
Stunting menghambat perkembangan kognitif,
prestasi di sekolah dan keberhasilan pendidikan
anak
Stunting kelak menurunkan produktivitas anak
pada usia dewasa, dengan penghasilan yang
lebih rendah
Stunting pada anak telah terbukti
berkorelasi bermakna dengan kejadian
penyakit tidak menular (PTM) saat
dewasa.
II. PENCEGAHAN STUNTING

1. Pendekatan secara langsung/intervensi gizi spesifik


- Pada ibu hamil : memperbaiki gizi dan kesehatan ibu hamil, memeriksa kehamilan min. 4 kali,
mendapat TTD, menjaga kesehatan

- Pada bayi baru lahir : persalinan ditolong dokter/bidan dan melakukan IMD, bayi diberi ASI saja,
pemantauan pertumbuhan di Posyandu

- Bayi berusia 6 bulan -2 th : mulai usia 6 bln diberi MP-ASI, sampai 2 tahun, bayi dan anak dapat
Vit. A, imunisasi lengkap, Pemantauan pertumbuhan , PHBS setiap rumah tangga
2. Pendekatan secara tidak langsung
 Intervensi melibatkan sektor pembangunan lain

 Ketahanan pangan dan gizi, penyedia lapangan kerja, PAUD, KB, JKN, perbaikan infrastruktur,
penyediaan air bersih, perbaikan perilaku higienis dan saniter

 Diperlukan kolaborasi antara sektor-sektor lain :kesehatan untuk minum dan sanitasi,
pendidikan, infrastruktur yang dpat berkontribusi menciptakan generasi sehat, kuar, dan cerdas

 Memutus rantai penularan penyakit atau alur kontaminasi dan mlakukan perubahan perilaku
hidup bersih dan sehat melalui STBM
51
KESIMPULAN.....
kondisi panjang/tinggi badan anak
1. Pengertian
dibawah standar usia anak
stunting

2. Penyebab stunting 1. Langsung


2. Tidak langsung

1. Gangguan Pertumbuhan
2. Resiko melahirkan bayi BBLR
3. Menghambat perkembangan
3. Akibat stunting
otak
4. Menurunkan produktivitas
5. Kejadian PTM

1. INTERVENSI GIZI SPESIFIK


4. Pencegahanstunting (30%)
2. INTERVENSI GIZISENSITIF
(70 %)
ILUSTRASI
53
INTERVENSI GIZI Penyediaan
BAGI IBU HAMIL Air Bersih

Promosi Pengendalia
Suplementasi AREA AREA n penyakit
Taburia INTERVENSI INTERVENSI HIV dan
SPESIFIK SENSITIF AIDS
Promosi Pembe
Suplementasi Pendidikan dan
rian
vitamin A Konseling Gizi
TTD
Pemberian Promosi
Promosi ASI Imunisasi
Kelambu Eksklusif Pengendali
berinsektisi bagi Bayi
an
da Promosi JAMPE penyakit
MP ASI RSAL Malaria
Kelas Suplementa
Ibu si PMT bagi Promosi dan
Ibu Hamil
Hamil kampanye gizi
KEK Promosi
Makanan seimbang dan
JKN
Pemberian Berfortifik perubahan
Obat Cacing perilaku
asi
Pencegahan stunting

54
DELAPAN PILAR
STBM-STUNTING
64
Terwujud
Lingkungan
Yang Bersih
dan Sehat

Mencegah
Stunting