Anda di halaman 1dari 28

Analisis kualitatif senyawa obat

• Kemampuan dalam mengidentifikasi dan


menganalisis senyawa obat sangat penting dimiliki
oleh seorang farmasis
• sifat-sifat fisis maupun sifat-sifat kimianya zat/bahan
obat bukan efek farmakologi
• Misalnya bentuk cairan menentukan warna, bau,
indeks bias, titik didih, massa jenis serta kelarutan.
Begitu pula bila sampel berupa padatan, dapat
ditentukan warna, bau, warna nyala, titik leleh,
bentuk kristal, serta kelarutannya.
Analisis kualitatif (identifikasi)
• Bahan baku obat (Bulk drug)/zat aktif tunggal
• Sediaan obat (Drug dosage form)/kandungan zat aktif
tunggal dalam sediaan obat misalnya dalam bentuk
salep, larutan, dll.
• Obat dalam cairan badan (Drug in body fluid)
Kemurnian Obat
• Obat dikatakan murni
 memenuhi syarat yang ditetapkan Farmakope
• Sumber ketidakmurnian
 cara pembuatan, proses degradasi, kontaminasi
Kendala analisis
• senyawa-senyawa anorganik merupakan senyawa-
senyawa ionik yang dapat ditentukan dengan suatu
bagan tertentu dalam identifikasinya secara konvensional
(secara kimiawi).
• Senyawa-senyawa organik pada umumnya terikat dalam
ikatan kovalen, dan belum ada suatu skema yang dapat
digunakan untuk melakukan identifikasinya secara
konvensional. Mengingat umumnya senyawa obat adalah
senyawa organik, maka hal ini juga menjadi kendala
dalam analisis senyawa obat tersebut.
• Identifikasi pemastian jenis senyawa dilakukan secara
modern menggunakan instrumen-instrumen seperti
spektrofotometri UV – Vis, spektrofotometri IR,
spektrofotometri Massa, KCKT, KG, dan sebagainya, yang
dapat memberikan hasil yang valid.
Tahapan Metode identifikasi obat secara konvensional

• dapat dilakukan melalui beberapa tahap sebagai berikut :


• Uji Pendahuluan, meliputi :
– Penyandraan (organoleptis), dengan mempergunakan
indera untuk menentukan bentuk, warna, bau, dan rasa
– Penentuan sifat-sifat fisika, seperti : kelarutan,
pengarangan, flurosensi, penentuan titik lebur, dan titik
didih,
– Tes keasaman
– Penentuan unsur-unsur N, S, P
• Penentuan gugusan fungsional yang khas (uji golongan)
• Penentuan jenis zat berdasarkan reaksi-reaksinya dengan
pereaksi tertentu dan pengamatan bentuk Kristal dengan
mikroskop.
• Farmakope, Autherhoff dan Kovar
Zat pembawa
dalam sediaan obat
Pembawa Pembawa organik Dasar salep Larutan pembawa
anorganik
Bolus Fruktosa Salep lemak Aseton

Kalsium karbonat Glukosa Bulu domba Etanol


alkohol
Magnesium Laktosa Benzen
oksida Salep hidrofil
Sakarosa Kloroform
Natrium hidrogen Lanolin
karbonat Sorbitol Eter
Salep
Talk Amilum polietilenglikol Asam asetat

Vaselin Isopropanolol

Adepslanae Metanol
pemisahan zat pembawa anorganik
Sisa pembakaran dibilas dalam air :
Mengendap : Larut :
CaCO3 MgO Bolus/Al-silikat Talk/ Mg-silikat Na2CO3
(alkalis) (alkalis) (netral) (netral) (alkalis)
Dilarutkan dalam HCl encer :
Larut : Mengendap : Uji karbonat :
CaCl2 MgCl2 Bolus Talk
Uji Ca : Uji Mg : Peleburan : Pembentukan
-Warna nyala -Sebagai (CaF2 + H2SO4) CO2 dan
merah bata endapan Sisa dilarutkan dalam H2O pengeruhan
- sebagai Mg(NH4)PO4 larutan Ba(OH2)
Al2(SO4)3 MgSO4
endapan Ca- - dengan
oksalat larutan kuning Uji Al : Uji Mg :
titan (basa) -Sebagai endapan Lihat MgCl2
Al(OH3) berwarna
berwarna ungu setelah
merah terang ditambahkan CaF2
dan fenolftalein
- warna merah
ungu dengan
khinalizarin
Pemisahan zat pembawa organik
• dapat dilakukan dengan teknik ekstraksi dengan menggunakan
pelarut yang sesuai
• zat pembawa pokok (karbohidrat) dipisahkan dengan
menggunakan etanol setelah terlebih dahulu diasamkan dengan
asam tartrat, namun amilum tidak dilakukan dengan cara ini
• Identifikasi karbohidrat (monosakarida) dapat dilakukan dengan
reaksi Molisch , dan beberapa uji karbohidrat lainnya.
identifikasi larutan pembawa
Analisis larutan pembawa dilakukan dengan
destilasi dan pemisahan.
Hasil destilasi ditentukan titik didihnya.

larutan Titik didih identifikasi


Metilen klorida 39 – 42 oC Reaksi positif dengan AgNO3,
Terjadi reduksi Cu2O dengan pereaksi fehling.
Aseton 55 -57 oC Reaksi idioform positif
Pemeriksaan golongan metilen aktif
Kloroform 59 – 62 oC Uji ion klorida positif
Terjadi reduksi Cu2O dengan pereaksi fehling.
Metanol 64 – 65 oC Setelah perlakuan awal kemudian dengan Pereaksi schiff
terbentuk warna merah
Karbontetraklorid 76 -77 oC Tidak terjadi reduksi Cu2O dengan pereaksi fehling.
Reaksi isonitril positif
a
Etanol 78 oC Reaksi idioform positif

Isopropanolol 81 – 83 oC Reaksi idioform positif

Air 100 oC Dengan campuran CuSO4 berwarna biru

Asam asetat 118 – 119 oC Pereaksi FeCl3 berwarna merah


analisis obat dalam salep
1 g salep+ 30 ml eter minyak bumi

sisa
Larutan
+ 30 ml eter minyak bumi Sulfonamid
Asam hidrofil
Senyawa N-kuartener
Fase eter minyak bumi
Fase Air
dikocok dgn 3 x 10 ml air, kemudian dgn 3 x 10 ml
+ 25 ml 3N H2SO4, H2SO4
dikocok dgn 3 x 20 ml
eter dan 1 x 20 ml Fase eter air
CHCl3
+ 25 ml 3N NaOH, dikocok dgn 3 x 20 ml eter dan 1 x
20 ml CHCl3

Berbagai asam
karbonat Berbagai basa
Berbagai fenol
Percobaan pendahuluan
• Identifikasi awal senyawa obat yang telah terekstraksi
yang diperiksa organoleptiknya meliputi bentuk,
warna, bau, rasa, pemijaran, keasaman (pH),
fluoresensi, dan kelarutan dalam asam dan basa,
• analisis unsur N, S, P dan halogen, kemudian diperiksa
gugus fungsinya.
Percobaan pendahuluan … (2)
• Warna
Kuning – jingga : Dantron, menadion, tetrasiklin, riboflavin (fluoresensi
UV), nitrofurantoin.
Hijau – kuning : Rutosida
• Bau
Aromatis : Pelarut organik
Menusuk : Asam organik yang mudah menguap
Pemijaran, karamel : Gula, asam tartrat, amilum
Pemijaran, merkaptan : Senyawa tiourea, sulfatiazol
Pemijaran, amoniak : Ureida, asam amida, barbiturat

• Kelarutan dalam asam dan basa


Larut dalam 3N NaOH (basa) : Asam karbonat, fenol, senyawa nitro,
tiazida, sulfonamid, riboflavin,
teobramin, oksazepam
Larut dalam 3N H2SO4 (asam) : Basa fraksi III, kinin, kinidin.
Hasil Pengarangan dan Pemijaran

A. Warna hitam pada permulaan pengarangan


Zat organik mempunyai unsur C dan berwarna hitam
pada permulaan pengarangan
Jika warna hitam menjadi hilang jika ditambah
HCl/H2SO4/HNO3  (-) unsur karbon dan
(+) oksida-logam
Jika tetap berwarna hitam jika ditambah
HCl/H2SO4/HNO3  (+) unsur karbon
B. Hasil pemijaran berupa bermacam-macam warna
- sisa putih : Na, K, Ca, Ba, Mg, Al, Zn
- sisa coklat : Fe
- sisa kuning : B1, Pb
- sisa hitam : Cu, Mn
- Na, K sebagai garam kabonat
Keasaman
• Uji keasaman dilakukan dengan menggunakan kertas lakmus merah atau biru.
• Larutan senyawa-senyawa golongan asam (misalnya asam benzoat, asam
sitrat, asam askorbat, dan lain-lain) dalam air.
• Hasil uji ini dapat pula membedakan antara alkaloid basa dan alkaloid asam
(garamnya),
• misalnya efedrin mengubah lakmus merah jadi biru, sedangkan efedrin HCl
mengubah lakmus biru menjadi merah (perubahannya sangat jelas).
UJI UNSUR
A. Penyelidikan Unsur/Elemen yang terdapat
dalam sampel
Obat  senyawa organik,
 biasanya memiliki unsur C, H, O, N,
S, dan halogen
1. Uji “positif” untuk unsur karbon (C) :
a. Pada pemanasan/pengarangan  hitam
b. Dengan reaksi Panfield :
Sampel + Pb-kromat  timbul gas
Gas + air barit  keruh
2. Uji “positif’ untuk unsur N, S, P dan Halogen
Dengan reaksi Lassaigne-Castellane
Prosedur analisis :
Sampel + pereaksi [Na2CO3 + MgCO3 ― (2:1)]
dicampur, dipanaskan, dan dipijar dalam
tabung kapiler. Hasil pemijaran , digerus, dan disaring.
1). Filtrat + HCl + FeSO4 padat
Jika timbul warna biru berlin  (+) nitrogen
2). Filtrat + Pb-asetat
Jika timbul warna hitam  (+) sulfur
3). Filtrat + HNO3 + AgNO3, dipanaskan
Jika timbul endapan  (+) halogen
4). Filtrat + HNO3 + Amm molibdat
Jika timbul endapan kuning  (+) fosfor
• Unsur N dan Br, maka pengujian diarahkan kepada senyawa yang
dalam rumus kimianya mengandung ke 2 unsur tersebut, misalnya
bromheksin (C14H20Br2N2), bromisoval (C6H11BrN2O2), skopolamin-N-
butilbromida (C21H30NO4Br), dan lain-lain.
• unsur N dan P, maka pengujian diarahkan kepada senyawa yang
dalam rumus kimianya mengandung ke 2 unsur tersebut, misalnya
kodein fosfat (C18H24NO7P), dan lain-lain.
• Senyawa obat yang mengandung unsur N, halogen, S contoh
hidroklorotiazid (C7H8ClN3O4S2), promazin hidroklorida
(C17H21N2SCl), tiamin hidroklorida (C12H18N4OSCl2), dan lain-lain.
• Senyawa obat tanpa unsur N, halogen, S,P, Misalnya asam askorbat
(C6H8O6), menadion (C11H8O2), golongan karbohidrat (glukosa,
laktosa, dan karbohidrat lainnya), dan lain-lain.
Uji gugus fungsi
• Ikatan rangkap
• Inti benzen
• Gugus hidroksil (OH), alkohol alifatis
• Gugus fenol, alkohol aromatis, aldehid, keton
dan amina
Reaksi golongan
• Alkohol
• golongan fenol
• asam organik
• karbohidrat
• vitamin
• antibiotik
• alkaloid
• anastetik
beberapa golongan senyawa obat
Turunan salisilat Alkaloida Xantin
(Asam salisilat, Na salisilat, Salisilamida, (Kafein, Theobramin, Theofilin, Aminofilin)
Asetosal)
Turunan Pyridin
Turunan anilin (INH, Nikotinamida, Piperazin sitrat)
(Asetanilida, Paracetamol)
Bahan lain
Turunan Pyrazolon (Talk, Bolus alba, ZnO, Bromural, Bismut
(Antipirin, Piramidon, Antalgin) subnitrat, Ca laktat)
Turunan asam barbiturat
(Barbital, Luminal)
Golongan sulfa Alkaloida
(Sulfanilamid, Sulfaguanidin, Sulfathiazol, (Papaverin HCl, Efedrin HCl, Atropin sulfat,
Sulfasetamida) Kodein fosfat)
Lokal anastetik Antihistamin
(Prokain HCl, Benzokain, Lidokain) (CTM, Prometazin)
Antibiotik
Vitamin
(kloramfenikol, Tetrasiklin, Amoksisilin, Ampisilin)
(Vitamin B1, B2, B6, C)
Pemanis dan pengawet
(Na benzoat, Nipagin, Siklamat Na, Sakarin Na)
Reaksi penegasan
• Uji penegasan ini dilakukan untuk membedakan
antara satu senyawa dengan senyawa lainnya
yang segolongan.
1. menggunakan pereaksi tertentu, pereaksi-dapat
dilihat pada masing monografi zat uji yang tertera
dalam Farmakope Indonesia edisi III maupun edisi
IV. Sebagai tambahan untuk uji identifikasi ini dapat
dilihat pada buku identifikasi obat (Auterhoff dan
Kovar). Uji ini dikenal sebagai reaksi warna.
2. Pengamatan Bentuk Kistal (Uji sublimasi mikro)
• bentuk kristal suatu zat/obat adalah khas. Alat yang
digunakan untuk melihat bentuk kristal adalah
mikroskop.
• Sublimasi mikro dasarnya ialah ada zat padat bila
dipanasi, sebelum mencair, bisa langsung berubah
menjadi fasa gas, dan pada pendinginan berubah lagi
menjadi fasa padat dengan bentuk khas.
• Hasil sublimat inilah yang nantinya akan diamati
dibawah mikroskop. Masing-masing senyawa obat akan
menampakkan bentuk kristal yang spesifik.
Reaksi khusus

 Reaksi murexid
 positif untuk senyawa purin
(teofilin, teobromin, kofein)
Cara uji :
zat + 1,5 ml H2O2 + 5 tts H2SO4 pekat
panaskan hingga kering. Sisa + bbrp
tetes amoniak 6N  merah ungu
Reaksi Zwikker

• Positif untuk : barbiturat, glutetimida, hidantoin,


beberapa sulfonamida, purin
Cara uji :
Zat dlm plat tetes + 10 tts pereaksi Zwikker I,
+ 2 tts Zwikker II  ungu
Nb: zwikker I = kobal(II)nitrat 1% dalam metanol
zwikker II= piridin 10% dalam metanol
Reaksi untuk steroid

 Salkowski
zat dalam CHCl3 + 3-5 ml H2SO4 pekat  lapisan
kloroform berwarna merah
 Lieberman-Burchard
Zat dalam kloroform + 10 tetes asam asetat anhidrad
+ 3 tetes as sulfat pekat  warna biru hingga hijau
Pembentukan warna pada reaksi Vitali-Morin
Zat + 0,5ml HNO3 berasap diuapkan di atas tangas air hingga kering, dinginkan. Sisa
yang berwarna kuning + 5 ml aseton tetesi 1 ml KOH-etanol 0,1N  warna

Warna yang timbul Senyawa

Biru – ungu Atropin, Skopolamin-N-butilbromida


Merah – ungu Tetrakain, Strikhnin, Amitriptilin
Merah Niklosamida, Fenprokumon, Desipramin
Merah – coklat Antazolin, Alprenolol, Trimetropim, Warfarin
Merah karmin tua Propifenazon, Tolbutamida
Merah jingga Fisostigmin, Parazin, Promazin
Endapan merah jingga Asam salisilat, Salisilat
Jingga Prometazin, Klorpromazin, Karbokromen
Endapan jingga- coklat Fenoksimetilpenisilin
Hijau Lidokain
Ungu hijau  jingga Propanolol
Soal pendahuluan analisis kualitatif seny obat

1.Jelaskan mengapa identifikasi obat didasarkan pada golongan


obat menurut jenis senyawanya berdasarkan sifat fisika kimia
(bukan berdasarkan efek farmakologinya).
2. Tuliskan tahap-tahap untuk mengidentifikasi obat secara
lengkap.
3. Jelaskan mengapa uji unsur dapat dijadikan sebagai pengarah
dalam identifikasi obat. Berikan contoh obat yang mengandung
unsur N, S, P dan halogen.
4. Berikan masing2 contoh pembawa obat anorganik, organik,
dasar salep, larutan.
5. Jelaskan dengan singkat cara analisis suatu obat dalam
sediaan dengan zat tambahan/pembawa anorganik, organik,
larutan dan dalam sediaan salep.