Anda di halaman 1dari 70

INTERPRETASI DATA KLINIK

KELOMPOK 2
Indah Purnama Sari (1701065)
Kiki Riski Syofia A.A (1401097)
Marwiyah (1401102)
Nonny Agis Setiawati (1401117)
Oktavyana Erna (1701096)
Olintia Martha Lena Rosa (1401112)
Rahima (1401137)
Rahmita Sari (1401116)
Ririn Novita P (1401121)
Siti Oknur Fariza (1401126)
Wiwin Suryani (1401132)

Dosen : Dr.Meiriza Djohari M.Kes.Apt


Kalenjar Tiroid
Terletak dalam leher bagian bawah, melekat pada tulang laring, sebelah
kanan depan trakea, dan melekat pada dinding laring.

Secara mikroskopis, kalenjar tiroid terdiri dari folikel-folikel yang


dikelilingi oleh jaringan kapiler

Folikel-folikel tersebut dilapisi oleh epitel kuboid dan mengandung


material protein yang dinamakan koloid.

Secara kimiawi koloid merupakan glikoprotein, tiroglobulin tempat tiroksin


disintesis dan disimpan
Letak Kelenjar Tiroid
Fungsi Fisiologi Hormon Tiroid

1. Meningkatkan kecepatan reaksi kimia disebagian besar sel sehingga


meningkatkan kecepatan metabolisme tubuh (tiroksin dan
triiodotironin).

2. Menambah deposit kalsium ditulang dan mengurangi konsentrasi ion


kalsium dicairan ekstrasel (kalsitosin).
Hormon yang disekresikan

Pada kalenjar tiroid terdapat sel-sel parafolikuler yang


mensekresikan kalsitosin.
Namun demikian, istilah hormon tiroid dibatasi pada hasil sekresi
folikel tiroid yaitu :

Triiodotironin Tiroksin
(T3) (T4)
Sintesis dan Sekresi Hormon Tiroid

Pembentukan hormon tiroid bergantung pada jumlah


yodium yang masuk kedalam tubuh

Untuk membentuk tiroksin dalam jumlah normal,


setiap tahunnya dibutuhkan kira-kira 50 mg dalam
bentuk iodida atau kira-kira 1 mg/minggu.

Iodida yang ditelan akan diabsorbsi disaluran cerna dan


digunakan untuk sintesis hormon tiroid.
Berikut Tahap Sintesis dan Sekresi Hormon Tiroid

1. Tahap pertama meliputi pengambilan iodida dari darah yang beredar melintasi batas
basal sel epitel tiroid dengan mekanisme transpor aktif.
2. Tahap kedua meliputi biosintesis tiroglobulin oleh aparatus golgi-retikulum
endoplasma epitel dan transfortasi kedalam lumen pada batas apikal.
3. Tahap ketiga meliputi oksidasi iodida menjadi iodium didekat batas apikal dan
transportasinya kebeberapa residu tirosin untuk membentuk MIT dan DIT.
4. Tahap keempat meliputi perangkaian molekul MIT dan DIT menghasilkan T3 serta
T4.
5. Tahap kelima adalah tahap pelepasan T4 dan T3 kedalam sirkulasi darah.
Ket : T3 : Triiodotironin T4 : Tiroksin
MIT : mono iodotirosin DIT : Di iodotirosin
Masing-masing dari lima tahap tersebut difasilitasi
oleh TSH
• Diatur oleh suatu axis hipotalamus-hipofisis tiroid.
• Hipotalmus mensekresikan tyroid release hormon(TRH) yang akan
merangsang hipofis untuk mengeluarkan tyroid stimulating hormon
(TSH).
• TSH akan merangsang kalenjar tiroid untuk menghasilkan hormon tyroid.
• Efek TSH terhadap hormon tyroid :
1.Meningkatkan proteolisis tiroglobulin
2.Meningkatkan aktivitas pompa yodium
3.Meningkatkan iodinasi tirosin
4.Meningkatkan ukuran dan aktivitas sekretorik sel-sel tiroid
5.Meningkatkan jumlah sel-sel tiroid
Biosintesis Hormon Tiroid
Transportasi Tiroksin dan Triiiodotironin ke
jaringan

Ketika tiroksin dan triiodotironin memasuki darah,


tiroksin dan triiodotironin segara berikatan dengan
protein plasma, 99% dengan tiroid binding globulin yang
disintesis oleh hati, dan dalam jumlah sedikit dengan
tiroid binding prealbumin dan tiroid binding albumin.
Efek Hormon Tiroid Pada Pertumbuhan
Gangguan Tiroid
Hipotiroidisme

• Hipotiroidisme adalah suatu sindrom yang ditimbulkan


oleh defisiensi hormon tiroid dan sebagian besar
manifestasinya berupa perlambatan semua fungsi-fungsi
tubuh secara reversibel
Etiologi Dan Patogenesis Hipotiroidisme
Penyebab Patogenesis Goiter Derajat hipotoroidisme

Tiroiditis Hashimoto Destruksi autoimun pada tiroid Permulaan ada, Ringan sampai berat
kemudian tidak
ada
Induksi obat1 Penghambatan pembentukan hormon2 Ada Ringan sampai sedang

Dishormonogenesis Gangguan sintesis T4 akibat defisiensi enzim Ada Ringan sampai berat

Radiasi, I131, sinar-X, Destruksi atau pengangkatan kelenjar Tidak ada Berat
tiroidektomi
Kongenital (kretinisme) Atireosis atau tiroid ektopik, defisiensi iodin. Tidak ada atau ada Berat
Antibodi yang menghambat reseptor TSH

Sekunder (defisit TSH) Penyakit hipofisis atau hipotalamus Tidak ada Ringan
Nilai Tipikal Untuk Uji Fungsi Tiroid
Nama Uji Nilai Normal Hasil Pada Hipotiroidisme Hasil Pada Hipertiroidisme
Tiroksin total dengan RIA (T4[RIA]) 5-12 mcg/dL (64-154 nmol/L) Rendah Tinggi

Triiodotironin total dengan RIA 70-132 ng/dL (1,1-2,0 nmol/L) Normal atau rendah Tinggi
(T3[RIAI])
T4 bebas (FT4) 0,7-1,86 mg/dL (9-24 pmol/L) Rendah Tinggi
T3 bebas (FT3) 0,2-0,42 ng/dL (3-6,5 pmol/L) Rendah Tinggi
Hormon tirotropik (TSH) 0,5-5,0 µIU/mL (0,5-5,0 mIU/L) Tinggi Rendah
Ambilan 123I dalam 24 jam 5-35% Rendah Tinggi
Autoantibodi tiroglobulin (Tg-ab) < 1 IU/mL Sering ada Biasanya ada
Antibodi peroksidase tiroid (TPA) < 1 IU/mL Sering ada Biasanya ada

Pemindaian isotop dengan 123I atau Pola normal Uji tidak diindikasikan Kelenjar membesar secara
99m
TcO4 difus
Biopsi aspirasi jarum halus (FNA) Pola normal Uji tidak diindikasikan Uji tidak diindikasikan
Tiroglobulin serum < 56 ng/mL Uji tidak diindikasikan Uji tidak diindikasikan
Kalsitonin serum Pria : < 8 ng/L (<2,3 pmol/L) Uji tidak diindikasikan Uji tidak diindikasikan
Wanita : < 4 ng/L (< 1,17 pmol/L)
TSH reseptor-stimulating antibody < 125 % Uji tidak diindikasikan Meningkat pada penyakit
(thyroid stimulating immunoglobulin) graves
Gangguan Tiroid
Hipertiroidisme

• Hipertiroidisme (torotoksiosis) adalah sindrome


klinis yang dihasilkan bila jaringan-jaringan
terpapar oleh kadar hormon toroid yang tinggi.
Perbedaan hipotiroidisme dan hipertiroidisme
hipotiroidisme hipertiroidisme

• Perlambatan proses metabolic • Proses metabolic dalam tubuh


didalam tubuh manusia berlngsung lebih cepat
• TSHs meningkat • TSHs menurun
• FT3 dan FT4 menurun • FT3 dan FT4 meningkat
hipotiroidisme
Organ Gejala dan tanda
Otak Lemah, lelah, mengantuk, depresi, kemampuan
berbicara menurun, intelektual menurun, gangguan
ingatan, proses psikis pelan
Mata Sakit kepala, gangguan penglihatan, edema,
periorbital
Telinga, hidung dan tenggorokan Suara serak
kelenjar tiroid Pembesaran tiroid/goiter noduler atau difusa
Jantung dan pembuluh darah Tekanan nadi berkurang (bradikardi, hipertensi
diastolic) kardiak output berkurang
Saluran cerna Sulit buang air besar (konstipasi), berat badan naik
atau gemuk
Ginjal Fungsi ginjal menurun, retensi cairan
Sistem reproduksi Infertilitas, gangguan menstuasi
Otot dan saraf Kaku sendi, kesemutan, nyeri sendi, gerakan otot
lemah (hipofleksia), edema non pitting (miksedema),
ataksia, kram otot
Kulit Tidak tahan dingin, produksi keringat berkurang
hipertiroidisme
Organ Gejala dan tanda
Susunan saraf Labil/emosional, menangis tanpa alasan yang jelas,
psikosis, tremor, nerfositas, sulit tidur, sulit
konsentrasi,
Mata Pandangan ganda, melotot
Kelenjar tiroid Pembesaran tiroid
Jantung dan paru Sesak nafas, hipertensi, aritmia, berdebar-debar, gagal
jantung, tekanan nadi meningkat
Saluran cerna Sulit buang air besar, lapar, banyak makan, haus,
muntah, berat badan turun cepat, toleransi obat
Sistem reproduksi Tingkat kesuburan menurun, menstruasi berkurang,
tidak haid, libido menurun
Darah – limfatik Limfositosis, anemi, pembesaran limfa, pembesaran
kelenjar limfa leher
Tulang Osteoporosis, fpvsis cepat menutup, nyeri tulang
Otot Lemah badan, reflek meningkat, hiperkanesis, capai,
tangan gemetar
kulit Berkeringat tidak wajar (berlebihan) dibeberapa
tempat
UJI FUNGSI TIROID
Uji Singkatan Yang Sering Variabel Yang Diukur Rentang Normal Catatan
Digunakan
Iodium terikat protein PBI Kandungan iodium dalam serum 3,5-8ng/dl Bermanfaat apabila akan dilakukan
pengukuran iodium nonhormonal

Tiroksin yang diukur dengan T4RIA Kandungan tiroksin dalam serum 4-12ng/dl Pengukuran penapisan yang lazim
immunoassay digunakan
Triiodotironin dengan immunoassay T3 Kandungan triiodotironin dalam serum 70-190 ng/dl
Indeks tiroksin bebas FTI Perhitungan, didasarkan pada T4 serum dan kapasitas (bergantung pada Hasil kali konsentrasi T4 dan penyerapan T3
pengikatan TBG metode)
Penyerapan resinT3 RT3U %T3 berlabel yang tidak terikat ke TBG dalam serum 25-35%
pemeriksaan
Rasio penyerapan T3 RT3UR Perbandingan T3 antara serum yang diperiksa dan 0,8-1,35
serum normal
Globulin pengikat tiroid TBG Konsentrasi TBG serum Digunakan dalam penilaian T4 bebas
Hormone perangsang tiroid TSH Kadar hormone hipofisis dalam darah 1-10nIU/ml Rentang normal bervariasi dilaboratorium
yang berbeda
Penyerapan 131I epitiroid RAIU % dosis tracer yang terdapat dikelenjar tiroid 5-30% pada 24 jam Pola pemindaian penting :difus vs
nodular ;nodul panas vs dingin
Reverse triiodothyronine rT3 Kandungan 3,3’5’-T3 dalam serum 38-44ng/dl Tidak aktif secara metabolis;sering
meningkat pada penyakit non tiroid
Antibody tiroid Autoantibodi terhadap tiroglobulin,mikrosom tiroid Tidak ada yang Digunakan untuk menilai tiroidis autoimun
terdeteksi
Immunoglobulin perangsang tiroid atau TSIg Antibody terhadap reseptor TSH dapat merangsang Tidak ada yang Untuk menilai penyakit Graves
tiroid terdeteksi
Simulator tiroid kerja lama LATS
TSH
CT Scan T3
dan MRI

T4
Biopsi Pemeriksaan
Uji Tiroid

TSH
Reseptor FT3
(TSHs) Ambilan
iodium 24 FT4
jam
1 Pemeriksaan TSH
(THYROID STIMULATING HORMONE)

IRMA (Immunoradiometricassay )
ELISA
Implikasi klinik
Meningkat : hipotiroidisme
Menurun : hipertiroidisme

Nilai normal : 0,4 – 5,5 mIU/l

Orang dewasa
21-54 tahun = 0,4-4,2 µIU/mL
55-87 tahun =0,5-8,9µIU/Ml

Kehamilan
Trimester 1 = 0,3-4,5µIU/mL
Trimester kedua = 0,5-4,6µIU/mL
Trimester ke-3 = 0,8-5,2µIU/mL
Pemeriksaan TSH dengan metode IRMA
Metode : IRMA (Immunoradiometricassay)

Prinsip
fasa padat satu step (inclusive assay) menggunakan sepasang
antibodi monoklonal dan poliklonal. Anti- TSH poliklonal
antibodi yang dilabel clengan rl25 raclioaktif bersama anti-TSH
antibodi monoklonal yang dilapis pada dinding bagian dalam
tabung polipropilen, keduanya dalam jumlah berlebih bersama
dengan antigen clalam bercak darah yaitu bercak darah standard
dan bercak sample, bereaksi secara immunologik membentuk
komplek antigen antibodi (AB). Kedua antigen terse but akan
berikatan dcngan antigen yang sama tapi pada epitopl sisi yang
berbeda
Thyroid Stimulating Hormone (Tsh) Enzyme Immunoassay Test Kit
Metode : ELISA

Prinsip
Tes Biomedikal MP TSH ELISA didasarkan pada prinsip uji imunosorbent enzyme-
linked fase padat. Sistem pengujian itu yang menggunakan antibodi monoklonal
diarahkan melawan yang determinan antigenik berbeda pada molekul TSH utuh.
Mouse monoklonal Antibodi anti-TSH digunakan untuk imobilisasi fase padat, dan
antibodi anti-TSH ada dalam enzim antibodi larutan konjugasi. Sampel uji bereaksi
bersamaan dengan dua antibodi,. Setelah inkubasi 60 menit atau semalaman pada
suhu kamar, fasa padat dicuci dengan air untuk dilepas antibodi berlabel tak
terikatnya. Solusi 3,3 ', 5,5'- Tetramethylbenzidine (TMB) ditambahkan dan diinkubasi
selama 20 menit, menghasilkan perkembangan warna biru. Perkembangan warnanya
dihentikan dengan penambahan HCl 1N, dan warna kuning yang dihasilkan adalah
diukur secara spektrofotometri pada 450 nm. Konsentrasi TSH berbanding lurus
dengan intensitas warna sampel uji.
2 Pemeriksaan T3

METODE CLIA (Chemiluminescence Immuno


Assay)
METODE EIA (Enzyme immunoassay)
METODE CLIA (Chemiluminescence Immuno
Assay)

Prinsip pemeriksaan:
• Pada pemeriksaan T3 dengan CLIA, antibodi anti T3 dilapiskan
pada sumuran dengan jumlah tertentu.
• Kemudian ditambahkan serum penderita yang akan diukur T3
dan berlabel enzim peroksida.
• Selama inkubasi, , T3 dalam sampel dan T3 berlabel enzim
berkompetisi untuk mengikat antibodi anti T3 pada fase padat.
• Setelah inkubasi 60 menit/suhu ruangan, sumuran dicuci 5
kalidengan washing solution untuk melepaskan T3 berlabel enzim
yang tidak tekriat.
• Larutan Chemiluminescence ditambahkan dan setelah diinkubasi,
relative light units (RLU) dibaca dengan luminometer.
Implikasi Klinis

- Meningkat : hipertiroidisme, T3 tirotoksikosis, tiroiditis akut,


peningkatan TBG, obat-obatan:T3 dengan dosis 25 mg/hr atau lebih
dan obat T4 300 mg/hr atau lebih,   dextrothyroxine, kontrasepsi
oral
- Menurun :  hipotiroidisme (walaupun dalam beberapa kasus kadar
T3 normal), starvasi, penurunan TBG, obat-obatan: heparin, iodida,
phenylbutazone, propylthiuracil, Lithium,   propanolol, reserpin,
steroid.

Nilai Normal:
Dewasa : 0,8 – 2,0 ng/ml (60-118 ng/dl)
Wanita hamil, pemberian kontrasepsi oral : meningkat
Anak-anak kadarnya lebih tinggi.
METODE EIA (Enzyme immunoassay)

PRINSIP PEMERIKSAAN

Prinsip EIA dan CLIA adalah sama. Perbedaannya hanya


dalam model deteksi dari kompleks imun yang terbentuk,
yakni terbentuknya warna pada EIA dan pengukuran cahaya
yang terbentuk oleh reaksi kimia pada CLIA. Dimana teknik
pengujian enzim reseptor akhir pada EIA digantikan dengan
bekas chemiluminescent diikuti oleh pengukuran dari emisi
cahaya sebagai akibat dari reaksi kimia. EIA dan CLIA
mempunyai solid phase yang berbeda untuk melakukan
imobilisasi terhadap antigen atau antibody.

Nilai Normal : 0,6-1,85 ng/mL


PRINSIP PEMERIKSAAN

• Peningkatan kadar T3 dapat terjadi pada


penderita hipoiroid yang saling mendapatkan
terapi
• Konsentrasi minimal yang dapat terdeteksi :0,2
TAHAP PEMERIKSAAN
3 Pemeriksaan T4

METODE ECLIA
Nilai Normal :
• Dewasa : 50-113 ng/L (4,5mg/dl)
• Wanita hamil, pemberian kontrasepsi oral : meningkat
• Diatas : diatas 16,5 mg/dl
• Anak-anak : diatas 15,0 mg/dl
• Usila : menurun sesuai penurunan kadar protein plasma

Interpretasi :
Meningkat : hipertiroidisme, tiroiditis akut, kahamilan, penyakit hati
kronik, penyakit ginjal, diabetes mellitus, neonatus, obat-obatan:
heroin, methadone, estrogen.
Menurun : hipotiroidisme, hipoproteinemia, obat2an seperti
androgen, kortikosteroid, antikonvulsan, antitiroid (propiltiouracil) dll.
METODE ECLIA

Prinsi Pada pemeriksaan T4 dengan ECLIA, antibodi


anti T4 dilapiskan pada sumuran dengan
p jumlah tertentu. Kemudian ditambahkan serum
penderita yang akan diukur T4 dan berlabel
enzim peroksida. Selama inkubasi, , T4 dalam
sampel dan T4 berlabel enzim berkompetisi
untuk mengikat antibodi anti T4 pada fase
padat. Setelah inkubasi 60 menit/suhu
ruangan, sumuran dicuci 5 kalidengan washing
solution untuk melepaskan T4 berlabel enzim
yang tidak terikat. Larutan Chemiluminescence
ditambahkan dan setelah diinkubasi, relative
4 Pemeriksaan FT3

METODE ELISA
Next ....
ENZYME-LINKED IMMUNOASSAY
(ELISA)

PRINSIP PENGUJIAN

C B I F t 3 A d a l a h K o m p e t i t i f Fa s e Pa d a t E L I S A . S a m p e l , B u ff e r
A s s ay D a n K o n j u g a t E n z i m F t 3 D i t a m b a h k a n K e D a l a m S u m u r
Ya n g D i l a p i s i A n t i b o d i M o n o k l o n a l A n t i - t 3 . F t 3 Pa d a S e r u m
Pa s i e n B e r s a i n g D e n g a n K o n j u g a t E n z i m T 3 U n t u k B e r i k a t a n .
G a b u n g a n E n z i m T 3 D a n T 3 Ya n g T i d a k Te r i k a t D i c u c i D e n g a n
Larutan Penyangga. Setelah Penambahan Substrat,
I n t e n s i t a s Wa r n a B e r b a n d i n g Te r b a l i k D e n g a n K o n s e n t r a s i
F t 3 Pa d a S a m p e l . K u r v a S t a n d a r D i s i a p k a n U n t u k
M e n g h u b u n g k a n I n t e n s i t a s Wa r n a D e n g a n K o n s e n t r a s i F t 3 .
METODE ELISA

PRINSIP REAKSI
Next ....
ENZYME-LINKED IMMUNOASSAY
(ELISA)

LANGKAH PEMERIKSAAN
ALAT TES ELISA
5 Pemeriksaan FT4

- ECLIA (Electro chemiluminescent Assay)


ELISA (Enzim Linked Imunosorbent assay)
EIA (Enzim Imunoassay)
FT4 adalah T4 bebas yg tidak terikat thyroxine binding proteins (TBP).
Hampir semua T4 terikat TBG,±0.03% sebagai T4 yg bebas (fT4)
hormon yang aktif.

Nilai normal : 0,7- 1,86 mg/dL (9-24 pmol/L)

Implikasi klinis
Kadar FT-4 rendah : Hipotiroidisme
Kadar FT-3 tinggi : hiprtiroidisme

Metode pemeriksaan :
- ECLIA (Electro chemiluminescent Assay)
- ELISA (Enzim Linked Imunosorbent assay
- EIA (Enzim Imunoassay)
METODE ECLIA

PRINSIP PENGUJIAN

P a d a p e m e r i k s a a n f t 4 d e n g a n Ec l i a , a n t i b o d i an t i f t 4 d i l a p i s k a n
pada sumuran dengan jumlah tertentu. kemudian ditambahkan serum
p e n d e r i t a y an g a k a n d i u k u r f t 4 d a n b e r l a b e l e n z i m p e ro k s i d a . s e l a m a
inkubasi, ft4 dalam sampel dan ft4 berlabel enzim berkompetisi untuk
m e n g i k at a n t i b o d i a n t i f t 4 . s e t e l a h i n k u b a s i 6 0 m e n i t / s u h u r u a n g a n ,
s u m u r a n d i c u c i 5 k a l i d e n g a n wa s h i n g s o l u t i o n u n t u k m e l e p a s k a n f t 4
b e r l a b e l e n z i m y an g t i d a k t e r i k a t . l a r u t a n c h e m i l u m i n e s c e n c e
d i t a m b a h k a n d an s e t e l ah d i i n k u b a s i , re l a t i v e l i g h t u n i t s ( r l u ) d i b a c a
d e n g a n l u m i n o m e t e r.
Next ....
LANGKAH PEMERIKSAAN
GAMBAR ALAT
METODE ELISA

PRINSIP REAKSI

Antigen dalam sampel (FT4) akan berkompetisi Aktivitas enzim dalam fraksi yang terikat antibodi
dengan antigen yang terkonjugasi dengan enzim berbanding terbalik dengan konsentrasi antigen bebas asli.
untuk berikatan dengan antibodi anti-FT4.
Next ....
ENZYME-LINKED IMMUNOASSAY
(ELISA)

LANGKAH PEMERIKSAAN
ALAT TES ELISA
METODE EIA

A nti ge n d a l a m s a m p e l ( F T 4 ) a ka n b e r ko m p eti s i d e n ga n a nti ge n ya n g


te r ko n j u ga s i d e n ga n e n z im . u nt u k b e r ikata n d e n ga n a nti b o d i a nti - F T 4 .

A kti v i ta s e n z i m d a l a m f ra ks i ya n g te r ikat a nti b o d i b e r b a n d i n g te r b a l i k


d e n ga n ko n s e nt ra s i a nti ge n b e b a s a s l i
LANGKAH PEMERIKSAAN EIA-Competetif
6 Pemeriksaan ambilan 123I dalam 24 jam

ROI
(REGION OF INTEREST)
Ambilan iodium dalam 24 jam menggunakan teknik ROI
(REGION OF INTEREST)

Prinsip :
Radiofarmaka yang digunakan untuk thyroid scan adalah Tc-99m
perteknetat. Radiofarmaka tersebut diinjeksikan ke dalam tubuh pasien
untuk mencapai organ target yaitu kelenjar tiroid. Persentase uptake Tc-
99m perteknetat pada kelenjar tiroid digunakan untuk menentukan jenis
nodul yang diderita oleh pasien, dimana, persentase uptake merupakan
jumlah radiofarmaka yang dapat ditangkap oleh organ target. Radioaktif
akan di injeksikan ke dalam tubuh, dan cacahan radiasi di deteksi menggunakan pencacah
seperti Kamera gamma dual head skylight ADAC merek Philips dan di lihat melalui
Komputer Pegasus Sunblade 150

Nilai normal : 5-35%


Alat dan bahan yang digunakan

1. 99m perteknetat
Tc-99m perteknetat merupakan radiofarmaka yang digunakan untuk
pemeriksaan tiroid,
2. Dose Calibrator
Dose calibrator merupakan alat untuk menghitung aktivitas dosis
suatu radioisotop,
3. Kamera gamma dual head skylight ADAC merek Philips
Kamera gamma dual head merupakan alat pencitraan pada pasien
4. Komputer Pegasus Sunblade 150
Komputer ini digunakan untuk menentukan biodistribusi
radiofarmaka pada kelenjar tiroid serta background (cacah latar)
dengan teknik Region Of Interest (ROI),
Kamera gamma dual head
merupakan alat pencitraan
pada pasien

Komputer ini digunakan untuk


menentukan biodistribusi
radiofarmaka pada kelenjar tiroid
serta background (cacah latar)
dengan teknik Region Of Interest
(ROI)
Tahap pelaksanaan
7 PemeriksaanTSHs

• Penyakit tiroid autoimun


Nilai normal : 0,4 – 5,5 ditandai dengan adanya
mIU/l autoantibodi terhadap berbagai
Batas pengukuran : komponen tiroid, yaitu reseptor
tirotropin (TSHR), tiroid
0,002 – 20 mIU/L peroksidase (TPO), dan
tiroglobulin (Tg), serta oleh
infiltrasi seluler inflamasi
dengan tingkat keparahan
bervariasi di dalam kelenjar.
8 Pemeriksaan Biopsi

Biopsy aspirasi jarum halus


• Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB) atau Biopsi aspirasi jarum halus (BAJAH)
No Nama test Metode Prinsip Angka normal Implikasi klinis

Biopsi aspirasi jarum


10 Pemeriksaan Biopsy Penusukan jarum Dewasa : Kelenjar
halus/Bajah untuk biopsi aspirasi ke jaringan nodul nodul jinak tiroid : nodul
evaluasi sitologi kanker jarum halus tiroid kemudian
5% ganas soliter atau
Anak-anak dominan,
tiroid pada mulanya sel-sel yang dan dewasa curiga akan
digunakan oleh Martin terambil diwarnai muda 1,5%, keganasan,
26% yang limfoma, dan
dengan May
dan Ellis di New York ganas goiter toksik
Gruenwald
Memorial Hospital for Giemsa/DiffQuick
Cancer and Allied Disease dan dilihat
pada tahun 1930 yang dibawah
menggunakan tehnik mikroskop

jarum aspirasi 18G


Gambar beserta penjelasan gambar

1. Jarum: Sebagian besar literatur menggunakan jarum 22-


27 Gauge dengan panjang yang sesuai dengan hub yang
transparan atau bening.
2. Syringe 10 ml. Jarum suntik yang lebih besar belum
terbukti memberikan hisap yang lebih besar.
3. Pistol grip jarum suntik ini sangat dianjurkan dan
memungkinkandayahisap lebih seragam dan manipulasi
jarum lebih mudah
4. Kapas yang mengandung alkohol atau iodium.
5. Kaca slide untuk membuat sediaan.
1. Pertama kelenjar tiroid harus dipalpasi secara hati-hati dan nodul diidentifikasi

Langkah pemeriksaan dengan baik dan benar.


2. Kemudian, pasien ditempatkan pada posisi supinasi dengan leher hiperekstensi,

FNAB pada kelenjar tiroid


untuk mempermudah tempatkan bantal pada bawah bahu.
3. Pasien tidak diperbolehkan menelan, bertanya, dan bergerak selama prosedur.
Perlu diinformasikan juga kepada pasien bahwa prosedur ini tidak memerlukan
anestesi lokal.
4. Setelah mengidentifikasi nodul yang akan diaspirasi, kulit tersebut dibersihkan
dengan alkohol.
5. Semprit 10cc dipasangkan ke syringe holder dan dipegang dengan tangan kanan.
6. Jari pertama dan kedua tangan kiri menekan dan memfiksasi nodul, sehingga
dapat mempertahankan arah tusukan jarum oleh tangan lainnya yang dominan.
Tangan kanan memegang jarum dan semprit tusukkan dengan tenang. Waktu
jarum sudah berada dalam nodul, dibuat tarikan 2-3cc pada semprit agar tercipta
tekanan negatif. Jarum
ditusukkan 10-15 kali tanpa mengubah arah, selama 5-10 detik.
7. Pada saat jarum akan dicabut dari nodul, tekanan negative dihilangkan kembali.
8. Setelah jarum dicabut dari nodul, jarum dilepas dari sempritnya dan sel-sel yang
teraspirasi akan masih berada di dalam lubang jarum. Kemudian isi lubang
ditumpahkan keatas gelas objek.
9. Buat 6 sediaan hapus, 3 sediaan hapus difiksasi basah dan dipulas dengan
Papanicoulau.
10.Sediaan lainnya dikeringkan di udara untuk dipulas dengan May Gruenwald
Giemsa/DiffQuick.
11.Kemudian setelah dilakukan FNAB daerah tusukan harus ditekan kira-kira 5 menit,
apabila tidak ada hal-hal yang dikhawatirkan, daerah leher dibersihkan dan diberi
small bandage.
Teknik FNAB
Keuntung Kekurang
an an
Keuntungan dari FNAB
Kekerungan FNAB yaitu tidak
adalah akurat, cost-effective,
mampu membedakan
sederhana, bila terjadi
neoplasma sel folikuler dan
komplikasi ringan,
sel Hurthle jinak atau ganas,
sensitivitas dan akurasi
karena keduanya mirip.
tinggi. Tetapi hal itu
Keduanya bisa dibedakan
dipengaruhi oleh operator,
dari ada atau tidak invasi
aspirasi yang baik,
kapsul atau invasi vascular
dan dinilai oleh ahli sitologi
pada pemeriksaan
berpengalaman. Biayanya
histopatologis sediaan dari
murah dan tidak
operasi.
menimbulkan bekas.
Ada lima kategori sitologi tiroid
ditunjukkan pada tabel di bawah ini.
Kategori FNAC Sitologi
THY1 Bahan tidak cukup (Insufficient material)
THY2 Jinak (tiroid nodul) (Benign (nodular goitre))
THY3 Curiga suatu tumor/ neoplasma (folikular) (Suspicious
of neoplasm (follicular))
THY4 Curiga keganasan (papilari/ medulari/ limfoma)
(Suspicious of malignancy (papillary/
medullary/ lymphoma))
THY5 Positif ganas
(Definite malignancy)

( Lennard TWJ, 2006 )


9 Pemeriksaan CT Scan dan MRI

CT scan mampu memvisualisasi dengan lebih baik hubungan antara kelenjar


tiroid dengan massa di sekitarnya seperti pembuluh darah, trakea, esophagus,
serta ekstensinya ke retrosternal. CT scan dapat digunakan mengukur volume,
ukuran kelenjar, serta kepadatan jaringan. Terkadang diperlukan gambar CT scan
dengan kontras (yang mengandung yodium) untuk diagnosis dan visualisasi
pembuluh darah (misalnya mendeteksi adanya iskemi serebri, sindrom vena cava
superior karena desakan tiroid retrosternal dsb). Cara ini harus dilakukan hati-
hati sebab mungkin terjadi alergi, atau induksi dan dapat memperburuk
hipertiroidisme. Pencitraan dengan CT scan tidak dapat memprediksi karsinoma
tiroid. MRI dapat melihat kekambuhan karsinoma dan membedakan dengan
fibrosis , namun tidak dapat membedakan lesi ganas atau jinak