Anda di halaman 1dari 10

Kelompok 5

• KARUNIA PUTRI P.
• DERBY CALLISTA P.
• DEA NOPELIA.
• KEVIN MARVELLO B.
C. UPAYA MENGATASI PERMASALAHAN SOSIAL DALAM
MASYARAKAT.
1. Upaya Mengatasi Permasalahan Sosial Berdasarkan Sifatnya
Sesuai sifatnya upaya yang dilakukan untuk mengatasi
permasalahan sosial terbagi menjadi dua, yaitu upaya preventif dan
upaya represif.

a. Upaya Preventif

Upaya preventif merupakan upaya mencegah permasalahan


sosial dengan cara menjauhkan diri dari pola-pola kejahatan
dan mendekatkan diri pada perilaku yang sesuai dengan nilai
dan norma sosial. Permasalahan sosial dalam masyarakat dapat
dilakukan dengan upaya berikut.
1.) Penanaman Pemahaman Agama
Agama menjadi pedoman hidup bagi manusia sehingga segala perilaku yang mencermikan
ketaatan beragama dapat menghindarkan manusia dari kejahatan dan perbuatan merugikan. Adapum
fungsi penanaman nilai-nilai agama untuk mencegah timbulnya permasalahan sosial sebagai
berikut.
a.) Mengajarkan kebaikan dan kebenaran sehingga setiap penganutnya dapat menghindari
perbuatan yang dianggap buruk atau salah.
b.) Memberikan pegangan dalam menjalani kehidupan dan menyelesaikan masalah hidup yang
dialami manusia.
c.) Mengawasi perilaku masyarakat melalui ajaran-ajaran agama dengan sanksi yang bersifat
hakiki.
d.) Menjaga kerukunan hubungan antarumat beragama.

2.) Penerapan Etika Sosial


Etika Sosial merupakan sistem nilai yang berhubungan dengan sesuatu yang dianggap baik atau buruk
dan pantas atau tidak pantas dalam masyarakat. Penerapan etika sosial sama halnya dengan proses
sosialisasi menanamkan nilai dan norma dalam diri seseorang. Penanaman etika sosial, Pertama dan utama
dilakukan oleh keluarga, yaitu anak mulai diajari perbuatan baik oleh keluarga. Kedua, selanjutnya anak
belajar mengenai etika sosial melalui lembaga pendidikan, yaitu sekolah. Sekolah merupakan miniatur
masyarakat sehingga anak mulai belajar bersosialisasi dan menerapkan etika sosial yang dipelajari dari
keluarga.
3. Perencanaan Sosial

Perencanaan sosial merupakan upaya mempersiapkan masa depan kehidupan masyarakat.


Perencanaan sosial lebih bersifat preventif karena kegiatannya memuat pengarahan dan bimbingan
sosial mengenai cara-cara hidup bermasyarakat yang lebih baik. Secara sosiologis, perencanaan
sosial didasarkan pada perincian pekerjaan yang harus dilakukan dalam rangka mempersiapkan
masa depan yang lebih baik.

Perubahan sosial perlu memperhatikan berbagai aspek kehidupan agar dapat mengakomodasi
berbagai kebutuhan dan kepentingan masyarakat. Menurut Ogbum dan Nimkoff, terdapat beberapa
syarat yang harus dipenuhi untuk melakukan perencanaan sosial. Syarat-syarat perencanaan sosial
hendaknya mempertimbangkan aspek-aspek berikut.
a) Perkembangan Modernitas Sosial Masyarakat
Modernitas ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
dalam kedihupan masyarakat. Pengetahuan dan teknologi yang maju mendorong
masyarakat berpikir kritis serta rasional. Kondisi ini menyebabkan munculnya
kesadaran melkukan perubahan dan memperbaiki kualitas hidup.
b) Sistem Pengumpulan dan Analisis Informasi yang Baik
Sistem pengumpulan informasi dan analisis yang baik digunakan untuk
mengetahui kondisi serta menentukan solusi tepat dalam mengatasi permasalahan
sosial.
c) Dukungan Masyarakat
Perencanaan sosial memerlukan dukungan masyarakat. Dukungan dapat
diperoleh melalui upaya-upaya sosialisasi. Dalam memberikan sosialisasi, tingkat
pendidikan dan keluasan berpikir masyarakat sangat dibutuhkan. Sosialisasi dapat
memengaruhi opini dan respons masyarakat.
d) Pemimpin yang regresif
Sebagai orang yang mengemban tugas mengarahkan masyarakat, pemimpin
harus memilki visi dan misi mengarah kepada kemajuan masyarakat.
Menurut kamus sosiologi, represif merupakan usaha yang bertujuan mengembalikan
keserasian dalam masyarakat yang pernah mengalami gangguan. Upaya represif bersifat
memperbaiki permasalahan sosial yang sudah terlanjur terjadi dalam masyarakat. Upaya
memperbaiki permasalahan sosial dapat berupa pelatihan kerja/keterampilan, membangun
kembali sarana prasarana yang rusak, daur ulang, dan rehabilitasi. Penegakan hukum atau
memberikan sanksi terhadap warga masyarakat yang melanggar norma sosial.

Penegakan hukum di Indonesia dilakukan oleh kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan.


Sementara itu, aparatur penegak hukum negara adalah polisi, jaksa, dan hakim. Polisi berperan
memberikan perlindungan hukum, melakukan penyelidikan, dan menangkap tersangka ataupun
pelaku kejahatan jaksa berperan menyelidiki dan menuntut dakwaan; serta hakim berperan
memutuskan perkara.

Hukum memiliki aturan jelas yang ditulis dan dibukukan sehingga masyarakat dapat
mengetahui hukum yang berlaku. Dengan demikian, pengawasan penegakan hukum merupakan
kewajiban bagi setiap orang karena hukum dapat dipelajari dan diketahui oleh setiap orang. Hukum
bersifat tegas dan memaksa. Oleh karena itu, setiap orang wajib menaati hukum yang berlaku. Peran
aparatur negara dalam penegakan hukum di Indonesia sangat penting dalam mewujudkan stabilitas
sosial masyarakat dan penegakan hukum merupakan tanggung jawab setiap warga negara.
c. Pengendalian Sosial Gabungan

Pengendalian sosial gabungan merupakan upaya yang bertujuan mencegah


terjadinya penyimpangan sosial sekaligus mengembalikan kondisi masyarakat
sesuai norma-norma sosial. Pengendalian sosial gabungan memadukan antara
upaya preventif dan represif. Upaya pengendalian sosial gabungan dilakukan
melalui dua tahap yaitu mencegah munculnya permasalahan sosial dalam
masyarakat.

Contoh upaya pengendalian sosial gabungan yaitu pemerintah dan pihak swasta
melakukan sosialisasi tentang bahaya narkoba melalui iklan, poster, dan
penyuluhan (preventif). Meskipun demikian, masih ada anggota masyarakat yang
mengonsumsi narkoba. Untuk mengembalikan ketertiban akibat masalah tersebut
dilakukan rehabilitas bagi pelaku. Sementara itu, pengedar narkoba dijatuhi sanksi
pidana oleh lembaga hukum (represif).
2. Upaya Mengatasi Permasalahan Sosial Berdasarkan Prosesnya

a. Persuasif
Persuasif merupakan pengendalian permasalahan sosial yang
dilakukan tanpa kekerasan. Persuasif dapat dilakukan melalui
saran, ajakan, dan bimbingan individu atau kelompok untuk
mematuhi nilai serta norma yang berlaku dalam masyarakat.

b. Koersif
Koersif merupakan pengendalian permasalahan sosial yang
dilakukan dengan cara kekerasan atau paksaan untuk
membentuk ketertiban sosial. Upaya koersif dapat dilakukan
melalui dua cara berikut.

1) Kompulsi (compulsion) merupakan pemaksaan terhadap seseorang agar taat dan patuh
terhadap norma-norma sosial yang berlaku.
2) Pervasi (pervasion) merupakan penanaman norma-norma yang dilakukan berulang-
ulang agar norma tersebut merasuk dalam kesadaran seseorang.