Anda di halaman 1dari 47

 Dasar Hukum

 Legalitas Praktik
 Lingkup Praktik
 Praktik Kolaboratif
 Implikasi Hukum
 Perlindungan Hukum
Cita-cita bangsa Indonesia dlm Pembukaan UUD 1945 ;
- melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah
darah Indonesia
- memajukan kesejahteraan umum,
- mencerdaskan kehidupan bangsa,
- ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
 Kesehatan sebagai salah satu unsur
kesejahteraan umum, harus diwujudkan
melalaui berbagai upaya kesehatan dalam
rangkaian pembangunan kesehatan secara
menyeluruh dan terpadu, yang didukung oleh
suatu sistem kesehatan nasional.
Dasar Hukum Dlm Pelaksanaan Praktik
Keperawatan:

1. UU No. 36 Thn 2009 Ttg Kesehatan.


2. UU No. 44 Thn 2009 Ttg Rumah Sakit.
3. UU No. 29 Thn 2004 Ttg Praktik Kedokteran.
4. UU No. 18 Thn 2014 Ttg Kesehatan Jiwa.
5. UU No. 36 Thn 2014 Ttg Tenaga Kesehatan.
6. UU No. 38 Thn 2014 Ttg Keperawatan.
7. Peraturan Pemerintah No.32 Thn 1996 Ttg Tenaga Kesehatan.
8. Permenkes No. 148 Thn 2010 Ttg Penyelenggaraan Praktik Perawat.
9. Permenkes No. 17 Thn 2013. Ttg Perubahan Penylg. Izin Praktik Perawat.
10. Permenkes No. 46 Thn 2013 Ttg Registrasi Tenaga Kesehatan.
11. Permenkes No. 2052 Thn 2011 Ttg Izin & Penyelenggaraan Praktik
Dokter.
12. Kepmenkes No. 279 Thn 2006 Ttg Pedoman Penyelenggaraan Upaya
Keperawatan Kesehatan Masyarakat Di Puskesmas.
13. Permenkes No. 1691 Thn 2011 Ttg Keselamatan Pasien.
 Undang-Undang RI Nomor 36 Tahun 2009
Tentang Kesehatan.

Pasal 9 ;
(1) Setiap orang berkewajiban ikut mewujudkan,
mempertahankan, dan meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat yang setinggi- tingginya.

(2) Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1),


pelaksanaannya meliputi upaya kesehatan
perseorangan, upaya kesehatan masyarakat, dan
pembangunan berwawasan kesehatan.
Pasal 23 ;
(1) Tenaga kesehatan berwenang untuk
menyelenggarakan pelayanan kesehatan.
(2) Kewenangan untuk menyelenggarakan
pelayanan kesehatan sebagaimana
dimaksudpada ayat (1) dilakukan sesuai
dengan bidang keahlian yang dimiliki.
(3) Dalam menyelenggarakan pelayanan
kesehatan, tenaga kesehatan wajibmemiliki
izin dari pemerintah.
Undang-Undang Tenaga Kesehatan No.
36 Tahun 2014 ;

Pasal 1 :
Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud
dengan :
1. Tenaga kesehatan adlah setiap orang yang
mengabdikan diri dalam bidang kesehatan
serta memiliki pengetahuan dan / atau
keterampilan melalui pendidikan dibidang
kesehatan yang untuk jenis tertentu
memerlukan kewenangan untuk melakukan
upaya kesehatan.
 Undang-Undang Keperawatan No.38
Tahun 2014 ;
BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:


1. Keperawatan adalah kegiatan pemberian asuhan
kepada individu, keluarga, kelompok, atau
masyarakat, baik dalam keadaan sakit maupun
sehat.

2. Perawat adalah seseorang yang telah lulus


pendidikan tinggi Keperawatan, baik di dalam
maupun di luar negeri yang diakui oleh Pemerintah
sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-
undangan
3. Pelayanan Keperawatan adalah suatu bentuk
pelayanan profesional yang merupakan bagian
integral dari pelayanan kesehatan yang
didasarkan pada ilmu dan kiat Keperawatan
ditujukan kepada individu, keluarga,
kelompok, atau masyarakat, baik sehat maupun
sakit.

4. Praktik Keperawatan adalah pelayanan yang


diselenggarakan oleh Perawat dalam bentuk
Asuhan Keperawatan.

5. Asuhan Keperawatan adalah rangkaian


interaksi Perawat dengan Klien dan
lingkungannya untuk mencapai tujuan pemenuhan
kebutuhan dan kemandirian Klien dalam merawat
dirinya.
10. Surat Tanda Registrasi yang selanjutnya
disingkat STR adalah bukti tertulis yang
diberikan oleh Konsil Keperawatan kepada
Perawat yang telah diregistrasi.

11. Surat Izin Praktik Perawat yang


selanjutnya disingkat SIPP adalah bukti
tertulis yang diberikan oleh Pemerintah
Daerah kabupaten/kota kepada Perawat
sebagai pemberian kewenangan untuk
menjalankan Praktik Keperawatan.
Pasal 2

Praktik Keperawatan berasaskan:


a. perikemanusiaan;
b. nilai ilmiah;
c. etika dan profesionalitas;
d. manfaat;
e. keadilan;
f. pelindungan; dan
g. kesehatan dan keselamatan Klien.
Registrasi
Pasal 18

(1) Perawat yang menjalankan Praktik Keperawatan wajib


memiliki STR.
(2) STR sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan oleh
Konsil Keperawatan setelah memenuhi persyaratan.
(3) Persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
meliputi:
a. memiliki ijazah pendidikan tinggi Keperawatan;
b. memiliki Sertifikat Kompetensi atau Sertifikat
Profesi;
c. memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental;
d. memiliki surat pernyataan telah mengucapkan
sumpah/janji profesi; dan
e. membuat pernyataan mematuhi dan melaksanakan
ketentuan etika profesi.
Izin Praktik
Pasal 19

(1) Perawat yang menjalankan Praktik


Keperawatan wajib memiliki izin.
(2) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diberikan dalam bentuk SIPP.
(3) SIPP sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
diberikan oleh Pemerintah Daerah
kabupaten/kota atas rekomendasi pejabat
kesehatan yang berwenang di
kabupaten/kota tempat Perawat
menjalankan praktiknya.
(4) Untuk mendapatkan SIPP sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dan (2), Perawat
harus melampirkan:
a. salinan STR yang masih berlaku;
b. rekomendasi dari Organisasi Profesi
Perawat; dan
c. surat pernyataan memiliki tempat
praktik atau surat keterangan dari
pimpinan Fasilitas Pelayanan
Kesehatan.
(5) SIPP masih berlaku apabila:
a. STR masih berlaku; dan
b. Perawat berpraktik di tempat
sebagaimana tercantum dalam SIPP.

Pasal 20

(1) SIPP hanya berlaku untuk 1 (satu)


tempat praktik.
(2) SIPP sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diberikan kepada Perawat paling banyak
untuk 2 (dua) tempat.
Pasal 21

Perawat yang menjalankan praktik mandiri


harus memasang papan nama Praktik
Keperawatan.

Pasal 22

SIPP tidak berlaku apabila:


a. dicabut berdasarkan ketentuan
Peraturan Perundang-undangan;
b. habis masa berlakunya;
c. atas permintaan Perawat; atau
d. Perawat meninggal dunia.
Pasal 28
(1) Praktik Keperawatan dilaksanakan di
Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan
tempat lainnya sesuai dengan Klien
sasarannya.

(2) Praktik Keperawatan sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. Praktik Keperawatan mandiri; dan
b. Praktik Keperawatan di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan.

(3) Praktik Keperawatan sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) harus didasarkan
pada kode etik, standar pelayanan,
standar profesi, dan standar prosedur
operasional.
Tugas dan Wewenang
Pasal 29

(1) Dalam menyelenggarakan Praktik


Keperawatan, Perawat bertugas sebagai:
a. pemberi Asuhan Keperawatan;
b. penyuluh dan konselor bagi Klien;
c. pengelola Pelayanan Keperawatan;
d. peneliti Keperawatan;
e. pelaksana tugas berdasarkan
pelimpahan wewenang; dan/atau
f. pelaksana tugas dalam keadaan
keterbatasan tertentu.

(2) Tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


dapat dilaksanakan secara bersama ataupun
sendiri-sendiri.
 Undang-Undang R I Nomor 44 Tahun
2009 Tentang Rumah Sakit.
Pasal 13;
(2) Tenaga kesehatan tertentu yang
bekerja di Rumah Sakit wajib memiliki izin
sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Penjelasan Ayat (2) ;
- Yang dimaksud dengan tenaga kesehatan tertentu adalah
tenaga perawat, bidan, perawat gigi, apoteker, asisten
apoteker, fisioterapis, refraksionis optisien, terapis
wicara, radiografer, dan okupasi terapis.
- Yang dimaksud dengan izin adalah izin kerja atau izin
praktik bagi tenaga kesehatan tersebut.
 Peraturan Pemerintah R I Nomor 32 Tahun
1996 Tenaga Kesehatan.
Pasal 4
(1) Tenaga kesehatan hanya dapat melakukan
upaya kesehatan setelah tenaga kesehatan
yang bersangkutan memiliki ijin dari
Menteri.
Pasal 21 ;
(1) Setiap tenaga kesehatan dalam
melaksanakan tugasnya berkewajiban
untuk mematuhi standard profesi tenaga
kesehatan.
(2) Standar profesi tenaga kesehatan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
ditetapkan oleh menteri.
(3) Ketentuan lebih lanjut
mengenai perijinan
sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) diatur
oleh Menteri.
 Perawat ;
Tenaga kesehatan yg mengabdikan diri dlm bidang
kesehatan khususnya keperawatan serta memiliki
pengetahuan & keterampilan melalui pendidikan
dibidang keperawatan yg mempunyai kewenangan
untuk melakukan upaya kesehatan.
Permenkes No. 49 Thn 2013 Ttg Registrasi Tenaga Kesehatan ;
Pasal 10
(1) Untuk memperoleh STR:
a. Tenaga Kesehatan mengajukan permohonan kepada MTKI melalui
MTKP; atau
b. Tenaga Kesehatan yang baru lulus Uji Kompetensi mengajukan
permohonan secara kolektif oleh Perguruan tinggi yang
ditujukan kepada MTKI melalui MTKP.

(2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilengkapi


dengan:
a. fotokopi Sertifikat Kompetensi yang dilegalisasi; dan
b. pas foto 4x6 dengan latar belakang merah.

(3) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilengkapi


dengan:
a. daftar lulusan Uji Kompetensi dari perguruan tinggi yang
bersangkutan;
b. pas foto 4x6 dengan latar belakang merah; dan
c. surat keterangan dari perguruan tinggi tentang kebenaran seluruh
data yang diusulkan.
(4) Kelengkapan berkas permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
diproses oleh MTKP dan dikirimkan ke MTKI dalam bentuk elektronik
sesuai dengan format yang ditetapkan oleh MTKI.
(5) STR dikirimkan kepada pemohon melalui MTKP
 Permenkes R I Nomor 148 tahun 2010 tentang
Izin dan Penyelenggaraan Praktik Perawat.
Pasal 2 ;
(1) Perawat dapat menjalankan praktik pada
fasilitas kesehatan.
(2) Fasilitas pelayanan kesehatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi fasilitas pelayanan kesehatan diluar
praktik mandiri dan / atau praktik mandiri.
(3) Perawat yang menjalankan praktik mandiri
sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
berpendidikan minimal Diploma III (D III)
Keperawatan.
Pasal 3 ;
(1) Setiap Perawat yang menjalankan
praktik wajib memiliki SIPP.
(2) Kewajiban memiliki SIPP dikecualikan
bagi perawat yang menjalankan
praktik pada fasilitas pelayanan
kesehatan di luar praktik mandiri.
.
Pasal 4 ;
(1) SIPP sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 ayat (1)
dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.
Pasal 5 ;
(1) Untuk memperoleh SIPP sebagaimana
dimaksud pada Pasal 4, perawat harus
mengajukan permohonan kepada
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota
dengan melampirkan ;
a. Fotocopy STR yang masih berlaku dan
dilegalisir;
b. Surat keterangan sehat fisik dari dokter
yang memiliki Surat Izin Praktik;
c. Surat pernyataan memiliki tempat praktik;
d. Pas foto berwarna terbaru ukuran 4x6
sebanyak 3 (tiga) lembar; dan
e. Rekomendasi dari Organisasi Profesi.
Pasal 8 ;
(1) Praktik keperawatan dilaksanakan pada fasilitas
pelayanan kesehatan tingkat pertama,
tingkat kedua, dan tingkat ketiga.
(2) Praktik keperawatan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) ditujukan kepada individu,
keluarga, kelompok, dan masyarakat.
(3) Praktik keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilaksanakan melalui kegiatan :
a. Pelaksanaan asuhan keperawatan ;
b. Pelaksanaan upaya promotif,
preventif, pemulihan, dan pemberdayaan
masyarakat ;
c. Pelaksanaan tindakan keperawatan
komplementer.
(akupresure, akupunture, distraksi/relaksasi,
penerapan konsep psikoneuroimunologi).
Asuhan keperawatan sebagaimana
dimaksud diatas meliputi ;
- Pengkajian,
- Penetapan diagnosa keperawatan,
- Perencanaan,
- Implementasi : penerapan perencanaan
dan pelaksanaan tindakan keperawatan
yang meliputi pelaksanaan prosedur
keperawatan, observasi
keperawatan, pendidikan dan
konseling kesehatan.
- Evaluasi keperawatan.
Pasal 8 ;
(7) Perawat dalam menjalankan asuhan
keperawatan sebagaimana dimaksud pada
ayat (4) dapat memberikan obat bebas
dan/atau obat bebas terbatas.
Pasal 9 ;
Perawat dalam melakukan praktik harus
sesuai dengan kewenangan yang dimiliki.
Pasal 10 ;
(1) Dalam keadaan darurat untuk penyelamatan
nyawa seseorang/pasien dan tidak ada
dokter ditempat kejadian, perawat dapat
melakukan pelayanan kesehatan diluar
kewenangan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 8.
(2) Bagi perawat yang menjalankan praktik didaerah
yang tidak memiliki dokter dalam rangka
melaksanakan tugas pemerintah, dapat
melakukan pelayanan kesehatan diluar
kewenangan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 8.
(3) Dalam melaksanakan pelayanan kesehatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus
mempertimbangkan kompetensi, tingkat
kedaruratan dan kemungkinan untuk dirujuk.
(4) Daerah yang tidak memiliki dokter
sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
adalah kecamatan atau kelurahan/desa yang
ditetapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota.
(5) Dalam hal daerah sebagaimana dimaksud
pada ayat (4) telah terdapat dokter,
kewenangan perawat sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku.
 Home care
Pelayanan kesehatan yang
berkesinambungan dan komprehensif yang
diberikan kepada individu dan keluarga di
tempat tinggal mereka yang bertujuan
untuk meningkatkan, mempertahankan
atau memulihkan kesehatan atau
memaksimalkan tingkat kemandirian dan
meminimalkan akibat dari penyakit.
1) vital sign 14) Latihan dalam rangka
2) memasang nasogastric tube rehabilitasi medis
3) memasang selang susu besar 15) Tranpostasi klien untuk
pelaksanaan pemeriksaan
4) memasang cateter diagnostik
5) penggantian tube pernafasan 16) Penkes
6) merawat luka dekubitus 17) Konseling kasus terminal
18) konsultasi/telepon
7) Suction
19) Fasilitasi ke dokter rujukan
8) memasang peralatan O2 20) Menyiapkan menu makanan
9) penyuntikan (IV,IM, IC,SC) 21) Membersihkan Tempat
10) Pemasangan infus obat tidur pasien
22) Fasilitasi kegiatan sosial
11) Pengambilan preparat pasien
12) Pemberian huknah/laksatif 23) Fasilitasi perbaikan sarana
13) Kebersihan diri klien.
 Undang-Undang R I Nomor 29 Tahun
2004 Tentang Praktik Kedokteran
Pasal 73 ;
(1) Setiap orang dilarang menggunakan
identitas berupa gelar atau bentuk lain
yang menimbulkan kesan bagi
masyarakat seolah-olah yang
bersangkutan adalah dokter atau dokter
gigi yang telah memiliki surat tanda
registrasi dan/atau surat izin praktik.
(2) Setiap orang dilarang menggunakan
alat, metode atau cara lain dalam
memberikan pelayanan kepada
masyarakat yang menimbulkan kesan
seolah-olah yang bersangkutan adalah
dokter atau dokter gigi yang telah
memiliki surat tanda registrasi dan/atau
surat izin praktik.
(3) Ketentuan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dan ayat (2) tidak berlaku
Bagi tenaga kesehatan yang diberi
kewenangan oleh peraturan
perundang-undangan.

Penjelasan Pasal 73 ;
(3) Tenaga kesehatan dimaksud antara lain
bidan dan perawat yang diberi kewenangan
untuk melakukan tindakan medis sesuai
dengan peraturan perundangan-undangan.
Permenkes R I No. 2052 Tahun 2010
Tentang Izin Praktik Dan Pelaksanaan
Praktik Kedokteran.
Pasal 23 ;
(1) Dokter atau dokter gigi dapat memberikan
pelimpahan suatu tindakan kedokteran
atau kedokteran gigi kepada perawat,
bidan atau tenaga kesehatan tertentu
lainnya secara tertulis dalam melaksanakan
tindakan kedokteran atau kedokteran gigi.
(2) Tindakan kedokteran atau kedokteran
gigi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
hanya dapat dilakukan dalam keadaan di
mana terdapat kebutuhan pelayanan
yang melebihi ketersediaan dokter atau
dokter gigi di fasilitas pelayanan tsb.
(3) Pelimpahan tindakan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukan
dengan ketentuan:
a) Tindakan yang dilimpahkan termasuk
dalam kemampuan dan keterampilan
yang telah dimiliki oleh penerima
pelimpahan;
b) Pelaksanaan tindakan yang
dilimpahkan tetap di bawah
pengawasan pemberi pelimpahan;
c) Pemberi pelimpahan tetap bertanggung
jawab atas tindakan yang dilimpahkan
sepanjang pelaksanaan tindakan sesuai
dengan pelimpahan yang diberikan;
d) Tindakan yang dilimpahkan tidak
termasuk mengambil keputusan klinis
sebagai dasar pelaksanaan tindakan; dan
e) Tindakan yang dilimpahkan tidak bersifat
terus menerus.
Terima kasih......