Anda di halaman 1dari 31

KELOMPOK 2 :

REZA ALFIANO (113150034)


FAUZANDIKA AGUNG PRAWIRA (113150036)
IRHAM MAULANA AHMADI (113150041)
WAHYU KUSUMA NUGRAHA (113150042)
OUTLINE
• Dasar Teori
• Definisi
• Screening Criteria
• Mekanisme Insitu Combustion
• Jenis-jenis insitu combustion
• Kelebihan
• Kekurangan
• Studi Kasus
DASAR TEORI

• Reaksi Cracking :
C20H42 → C10H22 + C10H20
• Reaksi pembakaran :
• Sempurna :
• C20H42 + O2 → CO2 + H2O
• Tidak Sempurna :
• C20H42 + O2 → CO2 + CO + H2O
DASAR TEORI
Oxidation cell

1. Core sample disaturasikan dengan oil


dan dipanasi hingga 940oF
2. Injeksikan oksigen secara terus
menerus
3. Dicatat time vs Temperature
4. Didapat hasil berupa terbentuknya
CO2 dan CO pada hasil pembakaran,
hal ini terjadi karena tidak
sempurnanya proses pembakaran.

Gambar 1. pengaruh suhu dan injeksi O2 terhadap pengembangan volume gas pada oxidation cell
DEFINISI IN-SITU COMBUSTION
In-situ combustion adalah proses pembakaran sebagian minyak dalam reservoir
untuk mendapatkan panas , dimana pembakaran dalam reservoir dapat berlangsung bila
terdapat cukup oksigen (O2) yang diinjeksikan dari permukaan.
Pembakaran dimulai dengan memakai minyak pembakar yang dinyalakan
dengan listrik, kemudian pembakaran berlangsung terus dengan minyak reservoir dan
injeksi O2 terus dilakukan, sehingga pembakaran bergerak menuju sumur produksi.
Temperatur pembakaran dapat mencapai 600 – 1200 oF.
Panas yang ditimbulkan memberi efek penurunan viskositas, pengembangan dan
destilasi minyak dengan efek gas drive dan solvent extraction, semua ini akan
menyebabkan minyak terdesak ke sumur produksi.
Gambar 2. OGES Screening Criteria
SCREENING CRITERIA
Kriteria kondisi reservoir yang cocok untuk metoda ini adalah :
• API gravity minyak 25o.
• Viskositas minyak 20 cp.
• Kedalaman reservoir 5000 ft, dan ketebalan lapisan > 10 ft.
• Jenis batuan reservoir batupasir dan sisa minyak > 500 bbl/acre-ft.

Secara teknis, metoda ini dapat dikatakan berhasil bila pembakaran dapat berlanjut sampai sumur produksi, dan ini
dapat tercapai apabila :
• Reservoir dapat menyediakan cukup bahan bakar untuk proses pembakaran.
• Pembakaran tidak padam oleh hilangnya panas dan liquid blocking.
MEKANISME IN-SITU COMBUSTION
• Suatu pembakaran diawali dengan penyalaan dan panas yang dihasilkan akan merambat
secara konduksi.
• Tersedianya oksigen yang cukup, crude oil sekitarnya akan ikut terbakar setelah
temperatur nyalanya tercapai.
• Minyak akan lebih mudah bergerak dengan naiknya temperatur sehingga sebagian
minyak terdesak akan menjauhi zone pembakaran.
• Dalam injeksi pada in-situ combustion dapat dibagi tiga tahapan, yaitu :
a) Tahap Sebelum Penyalaan
b) Tahap Penyalaan
c) Tahap Lanjutan Pembakaran
MEKANISME IN-SITU COMBUSTION

1. Combustion front, tempat dimana terjadi reaksi


pembakaran atau oksigen di supply, memiliki
suhu 600-1200oF
2. Burned Rock, hasil sisa pembakaran yang
menyebabkan batuannya memiliki suhu yang
tinggi.
3. Vapor Zone, akibat dari pemanasan atau efek
thermal cracking yang mengakibatkan terbentuk
fraksi ringan.
4. Condensation zone, tempat dimana fraksi ringan
dari hidrokarbon mengalami kondensasi akibat
penurunan suhu.

Gambar 3. distribursi zona insitu combustion (forward dry combustion)


MEKANISME IN-SITU COMBUSTION

Gambar 4. Diagram Profil Temperatur, Saturasi dan Distribursi zona Insitu Combustion
JENIS-JENIS INSITU COMBUSTION

• Wet Combustion
• Reverse Combustion
WET COMBUSTION
Wet Combustion atau prosesnya dinamakan COFCAW
(Combined of forward combustion and waterflood).
Adalah metode insitu combustion dengan menggunakan
campuran air dan gas oksigen sebagai fluida injeksi.
Metode penginjeksian fluida injeksi ini ada dua (2), yakni
secara concurrent atau alternately.
Seperti yang kita ketahui bahwa air memiliki kapasitas
panas yang jauh lebih besar (high heat capacity and high
heat latent of vaporization) dibandingkan oksigen, maka
Gambar 5. Efek temperature vs distance antara wet combustion dengan dry combustion air digunakan sebagai transferring agent.

Mekanisme wet combustion adalah ketika air memasuki reservoir, air akan dipanaskan oleh burned rock kemudian memasuki
zona front, air akan berubah menjadi steam (gas) akibatnya steam akan bergerak menuju daerah di depan front. Kemudian, steam
akan memanaskan oil yang berada di depan zona front dan akan terkondensasi.
REVERSE COMBUSTION
Reverse Combustion adalah metode insitu combustion dengan
cara membakar zona front dari sumur produksi bersamaan
dengan menginjeksikan oksigen dari sumur injeksi. Akibatnya,
bila dilihat dari gambar 5. zona combustion front akan bergerak
menuju sumur injeksi dan oksigen akan bergerak menuju sumur
produksi. Dari gambar 5. terdapat pembagian zona. Dimana
zona 1 adalah zona kondisi awal, zona ini terpengaruh oleh
proses penyapuan oksigen oleh sumur injeksi. Pada zona 2
adalah zona burned rock, akibatnya terjadi destilasi minyak,
penguapan air dan reaksi cracking dari minyak berat sehingga
terjadi kenaikkan saturasi hidrokarbon. Pada Zona 3 adalah zona
combustion dimana pada zona ini terjadi kenaikan temperatur
hingga maksimum. Pada zona 4 adalah zona residu minyak
akibat hasil pembakaran dari combustion front.
Gambar 6. Reverse Combustion
KELEBIHAN
• Untuk ketebalan, tekanan dan laju injeksi panas yang tertentu, salah satu proses
mungkin dapat lebih murah tergantung pada konsumsi bahan bakar dan
kedalaman reserevoir.
• Endapan coke yang semakin meningkat dapat membuat in-situ combustion lebih
menguntungkan.
• Kehilangan panas di lubang sumur yang bertambah karena bertambahnya
kedalaman akan membuat in-situ combustion lebih menguntungkan.
• Jika jarak yang harus dipanasi dalam reservoir bertambah, pemanasan dengan
menggunakan in-situ combustion lebih menguntungkan.
• Jika ketebalan pasir berkurang dan tekanan bertambah, in-situ combustion lebih
menguntungkan dibandingkan injeksi uap.
KEKURANGAN

• In-situ combustion memiliki kecenderungan hanya menyapu minyak bagian atas daerah
minyak sehingga penyapuan vertikal pada formasi yang sangat tebal biasanya buruk.
• Kebanyakan panas yang dihasilkan dari in-situ combustion tidak digunakan dalam
pemanasan minyak, sebaliknya digunakan untuk memanaskan lapisan oil-bearing,
interbedded shale dan tudung serta dasar batuan.
• Minyak yang kental dan berat cocok untuk in-situ combustion sebab memberikan bahan
bakar yang diperlukan. Tetapi perbandingan udara terhadap minyak yang dibutuhkan
tinggi, sementara harga jual pada umumnya lebih rendah dibandingkan dengan minyak
ringan.
• Instalasi in-situ combustion memerlukan biaya investasi yang besar, tetapi instalasi
permukaan mengkonsumsi bahan bakar lebih sedikit dibandingkan peralatan air panas atau
generator uap.
Beberapa permasalahan serius dalam in-situ combustion antara lain :
• Terbentuknya emulsi air minyak yang memiliki kekentalan seperti susu kental akan dapat
menyebabkan permasalah pada pemompaan dan menurunkan produktivitas sumur.
• Terproduksinya air panas yang memiliki pH rendah (asam), yang kaya akan sulfat dan besi, yang
menyebabkan polusi lingkungan dan permasalahan korosi pada sumur produksi.
• Produksi pasir dan caving meningkat yang dapat menyebabkan penyumbatan pada liner.
• Penyumbatan lubang sumur produksi karena pengendapan karbon dan lilin sebagai hasil
peretakan panas minyak.
• Produksi gas yang membahayakan lingkungan seperti karbon monoksida dan hidrogen sulfida.
• Kerusakan tubing dan liner karena terlalu tingginya temperatur pada sumur-sumur produksi.
STUDI KASUS
EKSPERIMEN DAN STUDI SIMULASI
PROSES IN SITU COMBUSTION PADA
MEDIA BERPORI KARBONAT REKAH
Dikarenakan sulitnya untuk memproduksi reservoir kandungan minyak berat, in situ
combustion (ISC) merupakan salah satu metode yang paling efisien untuk mengurangi viskositas
minyak dengan cara meningkatkan temperature. Dikarenakan jumlah reservoir minyak berat sangat
berlimpah didunia dan banyak eksperimen telah dilakukan khususnya pada sandstone, namun sangat
jarang riset yang dilakukan pada batuan karbonat. Eksperimen kali ini dilakukan dengan
menggunakan minyak dengan 17,5 °API dan 8 °API yang ditambahkan dengan batuan karbonat dari
formasi Asmari dan Sarvak yang telah dihancurkan untuk mengecek apakah in situ combustion dapat
dilakukan
DATA DAN METODE YANG DIGUNAKAN
• Data-Data

• Metode Pengujian

Eksperimen : menggunakan combustion tube yang dipasang secara vertical guna meminimalisir gravity
segregation effect
Simulasi : CMG STARS
HASIL EKSPERIMEN

• CO2 in effluent Gas

Persentase CO2 pada awalnya mendekati


0% keadaan tersebut terjadi saat sebelum
terjadi combustion. Lalu secara drastic
meningkat saat high thermal combustion
(HTC) selesai
CO in effluent Gas

Evaluasi CO merupakan hal yang sangat


penting dikarenakan kualitas dari proses
combustion sangat dipengaruhi oleh
kandungan CO.
%CO pada pengujian ke-2 lebih besar
sehingga dapat disimpulkan bahwa
kualitas combustion pada pengujian ke-1
lebih baik dari saat pengujian ke-2.
Efek Ukuran butir

Semakin kecil ukuran butir


menyebabkan semakin tingginya
combustion temperature.
HASIL SIMULASI

Effect of air injection rate


Salah satu parameter yang penting pada
proses ISC ialah laju injeksi udara, laju
yang efisien harus ditentukan guna
menjaga keberadaan kandungan oksigen
untuk menjaga proses combustion tetap
berlangsung. Sebagai data pembanding
dilakukan juga tes dengan laju 20 ft2/h
dan 11 ft2/h.
Seiring meningkatnya laju injeksi udara,
suhu rata-rata meningkat dan
menyebabkan meningkatnya
ccumulative oil recovery.
Effect of Permeability

Untuk menganalisa pengaruh


permeabilitas, data asli dibandingkan
dengan beberapa data permeabilitas lain
yaitu 50 md dan 500 md dengan
parameter lainnya tetap.
Minyak dengan permeabilitas yang
tinggi akan bergerak dan terkuras ke
sumur produksi lebih cepat ketika suhu
meningkat akibat proses ISC.
• Efect of initial oil saturation

Saat saturasi minyak inisial


meningkat, suhu rata-rata
combustion dan cumulative oil
recovery meningkat.
Dikarenakan nilai viskositas sangat
bergantung dengan suhu, maka saat
combustion nilai viskositasnya
akan menurun drastic.
MATCHING HASIL SIMULASI DENGAN HASIL
EKSPERIMEN

Error range 10,322 % Error range 7,852 %


Error range 11,21 %
KESIMPULAN

• Pada kondisi laboratorium, In situ combustion sangat layak untuk dilakukan di formasi Sarvak dan
Asmari. Walaupun setelah dilakukan penelitian lebih lanjut, sample dari formasi sarvak
menunjukkan nilai recovery factor yang lebih besar dibandingkan dengan asmari.
• Semakin kecil ukuran butir menyebabkan semakin tingginya combustion temperature.
• Laju injeksi merupakan parameter yang dominan pada tes kali ini. Ketika laju diperkecil, seluruh
data output seperti %CO dan temperature juga ikut terpengaruh.
• Meningkatkan partial pressure pada oksigen dapat meningkatkan fire flood temperature,
mempercepat reaksi HTC, reaksi yang terjadi menjadi lebih sempurna serta mempercepat proses
pengapian.
• Simulasi menunjukkan bahwa saat laju injeksi, permeabilitas dan initial oil saturation meningkat,
nilai kumulatif oil recovery juga meningkat.
TERIMA KASIH
MOHON MAAF BILA ADA KESALAHAN
REFERENCES

• Latil, M.,“Enhanced Oil Recovery”, Institut Francais Du Petrole, 1980.


• Carcoana, Aurel, “Applied Enhanced Oil Recovery”, Prentice-Hall, New
Jersey, 1992.
• Shojaiepour, M. Ali, Kharrat, Riyaz, “Experimental and Simulation Study of In-
situ Combustion Process in Carbonate Fractured Porous Media”, Journal of the
Japan Petroleum Institute, 2014.