Anda di halaman 1dari 91

SKENARIO 2

Tutorial 2

Kelompok 3
Learning Objectives

Regulasi hormon Patomekanisme Pemeriksaan


tiroksin hipertiroid penunjang

DD (Hipertiroid, Tiroid
Indeks Wayne dan
Papilo Carsinoma, Penatalaksanaan
New Castle
Grave’s disease, TGA)

Alur rujukan kasus Komplikasi Prognosis

Edukasi
REGULASI HORMON TIROKSIN
Regulasi hormon tiroid
Hormon yang dihasilkan dari Kelenjar Thyroid
beserta fungsinya
No Hormon Fungsi

Berfungsi mengatur katabolisme protein, lemak dan


1 Tiroksin
karbohidrat didalam sel

Mengatur kecepatan metabolisme pada semua sel,


mengatur produksi panas tubuh, mempengaruhi
perkembangan sususnan saraf pusat,
2 Triiodontironin
mempertahankan sekresi saluran cerna,
mempengaruhi kecepatan pernapasan dan
penggunaan oksigen.

Menurunkan kadar kalsium dalam darah dengan


3 Kalsitonin
cara mempercepatabsorpsi kalsium oleh tulang
Kelenjar tiroid
TSH dan TRH (PEPTIDA)
Tiroid hormon bersifat lipofilik
Patofisiologi
Patoflow
Hipotalamus

Thyrotropin-Releasing Hormone

kelenjar hipofisa

Thyroid Stimulating Hormone -


Adanya autoantibodi reseptor pada sel folikel kel. tiroid

hormon tiroid dalam darah meningkat

Kadar TSH rendah


• Hipertiroidisme dapat terjadi akibat disfungsi kelenjar
tiroid, hipofisis, atau hipotalamus.
• Peningkatan TSH akibat malfungsi kelenjar tiroid akan
disertai penurunan TSH dan TRF karena umpan balik
negatif TH terhadap pelepasan keduanya.
• Hipertiroidisme akibat malfungsi hipofisis memberikan
gambaran kadar TH dan TSH yang finggi.
• TRF akan rendah karena uinpan balik negatif dari TH dan
TSH.
• Hipertiroidisme akibat malfungsi hipotalamus akan
memperlihatkan TH yang finggi disertai TSH dan TRH
yang berlebihan
Sitokin yang
Hormone tiroid (T3 terbentuk dari
dan T4) dalam darah limfosit
meningkat

Proses
glikogenesis
meningkat Metabolisme tubuh
meningkat
inflamasi
fibroblast dan
miositis orbita,
Aktivitas GI
menyebabkan
Pembakaran meningkat
Produksi kalor meningkat pembengkakan
lemak
otot-otot,
meningkat
proptosis dan
diplopia.
.
Nafsu makan meningkat
Peningkatan suhu tubuh

Suplai nutrisi
tidak adekuat
Gangguan rasa Perubahan pola
nyaman panas nutrisi

Penurunan
berat badan
Pada hipertiroidisme…
Kelenjar tiroid “dipaksa” mensekresikan hormon hingga
diluar batas  untuk memenuhi pesanan  sel-sel sekretori
kelenjar tiroid membesar.

Gejala klinis pasien yang sering berkeringat dan suka hawa


dingin termasuk akibat dari sifat hormon tiroid yang
kalorigenik, akibat peningkatan laju metabolisme tubuh yang
diatas normal.

Akibat proses metabolisme yang menyimpang  terkadang


kesulitan tidur.
Efek pada kepekaan sinaps saraf yang mengandung tonus
otot  terjadinya tremor otot yang halus dengan frekuensi
10-15 kali perdetik  penderita mengalami gemetar tangan
yang abnormal.

Nadi yang takikardi atau diatas normal juga merupakan


salah satu efek hormon tiroid pada sistem kardiovaskuler.

Eksopthalmus yang terjadi merupakan reaksi inflamasi


autoimun yang mengenai daerah jaringan periorbital dan
otot-otot ekstraokuler, akibatnya bola mata terdesak keluar.
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
TES TIROID
A. Tes untuk mengukur aktivitas/fungsi tiroid

1. Kadar total hormon tiroid dalam sirkulasi


- T4, T3 serum
- Protein Bound Iodine Serum (PBI)
- Thyroid Hormone Binding Test (THBT)
2. Kadar hormon tiroid bebas dalam sirkulasi
- Metode langsung : FT4, FT3
- Metode tdk langsung : FT4
3. Pemeriksaan dinamis fungsi tiroid
- Tes pengambilan iodium radioaktif
- Tes supresi T3
- Tes stimulasi Tirotropin
4. Pemeriksaan fungsi jaringan perifer
- Lamanya refleks tendon pergelangan kaki
- Kadar lemak dalam serum
- Elektrokardiogram
- Respons cAMP terhadap glukagon
5. Pemeriksaan fungsi hipotalamus-hipofisis
- Tes Tirotropin (TSH)
- Tes Thyroid releasing hormone (TRH).
B. Tes penyebab gangguan fungsi tiroid.
1. Antibodi antitiroid
 Antibodi Tiroglobulin (anti Tg)
 Antibodi Mikrosomal (anti TPO)
 Thyroid Stimulating Antibodies (TSAb)
2. Sidik tiroid sesudah pemberian radioisotop
3. Sidik ultrasonik
4. Sinar X daerah tiroid
5. Biopsi tiroid
6. Tes pelepasan perklorat
7. Protein plasma, tes flokulasi, LED
TES FUNGSI TIROID

Tujuan : membantu menentukan status tiroid.

Tes TSHs, tes TSH generasi ke tiga dapat

mendeteksi TSH pada kadar yg sangat rendah 


pemeriksaan tunggal

Tes FT4 bila TSHs abnormal (FT4 > sensitif FT3)

digunakan untuk konfirmasi hipotiroidisme


Tes T4 untuk menentukan hipertiroidisme, maintenance

dose tiroid pd hipotiroidisme & monitor t/ antitiroid pd


hipertiroidisme.

Tes T3 untuk membantu diagnosis hipertiroidisme dgn


kadar T4 normal.

Tes TRH untuk mengukur respons hipofisis terhdp


rangsangan TRH, dengan menentukan kadar TSH serum
sebelum & sesudah pemberian TRH eksogen.
Tes TRH hanya dilakukan pd :

 pasien suspek hipertiroidisme dgn FT4 dan FT3


normal atau
 mengevaluasi kadar TSH rendah (tdk
terdeteksi) dgn/tanpa hiper/hipotiroidisme yang
penyebabnya tidak diketahui.
1. Tes TSH
PRA ANALITIK

Persiapan Pasien
Dianjurkan tidak mengkonsumsi obat-obatan
mengandung Iodium & yang mempengaruhi hasil
tes
Persiapan sampel
Sampel yang digunakan adalah serum/plasma
(sitrat, EDTA, heparin). Sampel dapat disimpan
selama 4 hari (2–8oC), 3 bulan (–20oC)
Prinsip tes
EIA (Enzym Immunoassay) fase padat satu tahap
dengan prinsip sandwich.
Intensitas warna yang dihasilkan reaksi enzimatik
dibaca pada panjang gelombang 450 nm dan
sebanding konsentrasi TSH dalam sampel.
Alat & Bahan : Sesuai kit reagen/alat yg digunakan
[Cobas Core Roche Diagnostic (RSWS)]

ANALITIK

Cara kerja
Sesuai manual alat yg digunakan
Nilai rujukan : 0,4 – 5,5 mIU/l

PASCA ANALITIK

Interpretasi :
 : hipotiroidisme pimer, hipotiroidisme sekunder, tiroiditis
(penyakit autoimun Hashimoto), terapi antitiroid pd
hipertiroidisme, hipertiroidisme sekunder karena hiperaktifitas
kelenjar hipofisis, stress emosional berkepanjangan, obat-
obatan misalnya litium karbonat dan iodium potassium.

 : hipertiroidisme primer, hipofungsi kelenjar hipofisis


anterior, obat-obatan misalnya aspirin, kortikosteroid, heparin
dan dopamin.
2. TES TSHs

PRA ANALITIK

Persiapan pasien
Dianjurkan puasa & tidak konsumsi makanan berlemak
10–12 jam sebelum tes. Tidak konsumsi obat-obat yg
mempengaruhi hasil tes misalnya: glucocorticoide,
dopamine.
Persiapan sampel
serum/plasma (EDTA/Heparin). Hindari hemolisis.
Sampel harus segera disentrifus & diambil
supernatannya, dapat disimpan 2 hari ( 15–250C),
atau, 4 hari (2-80C) atau 3 bulan (200C).
Prinsip reaksi
EIA fase padat satu tahap dgn prinsip sandwich.
Intensitas warna yang dihasilkan oleh reaksi
enzym sesuai konsentrasi TSH sampel.

Alat & Bahan :


Sesuai kit reagen/alat yg digunakan [Cobas
Core Roche Diagnostic (RSWS)]

ANALITIK
Cara kerja : Sesuai manual alat yg digunakan
Nilai rujukan : 0,4 – 5,5 mIU/l
Batas pengukuran : 0,002 – 20 mIU/L
3. TES FT4 (FREE THYROXIN)
PRA ANALITIK
Persiapan pasien: Tdk perlu persiapan khusus.
Persiapan sampel:
serum atau plasma ( sitrat, EDTA, heparin).
sampel simpan > 48 jam (2o– 8o C) / dibekukan.
Prinsip Tes
EIA fase padat dua tahap dgn prinsip titrasi balik.
Intensitas warna dibaca pd pjg gelombang 450 nm
& berbanding terbalik dgn konsentrasi FT4 sampel.
Alat & Bahan : Sesuai kit reagen/alat yg digunakan
[Cobas Core Roche Diagnostic (RSWS)]

ANALITIK
Cara kerja : Sesuai manual alat yg digunakan
Nilai Rujukan 10 - 27 pmol/L 18

PASCA ANALITIK
Interpretasi :
 : hipertiroidisme, T3 tirotoksikosis, Factitious T4.
 : hiportiroidisme primer, hipotiroidisme sekunder,
factitious T3
4. TES T4

PRA ANALITIK

Persiapan Pasien:
Hentikan obat-obatan 24 jam sebelum tes
Persiapan Sampel:
Serum/plasma (heparin). Sitrat/EDTA dpt
mempengaruhi hasil tes. Sampel simpan 48
jam
(20 – 80C).
Prinsip tes
EIA fase padat satu tahap, dengan prinsip
kompetetif.
Alat & Bahan : Sesuai kit reagen/alat yg digunakan
[Cobas Core Roche Diagnostic (RSWS)]

ANALITIK

Cara kerja
Sesuai manual alat yg digunakan
Nilai Rujukan :
Dewasa : 50-113 ng/L (4,5g/dl)
Wanita hamil, kontrasepsi oral : 
Anak-anak : diatas 15,0 g/dl
Usila :  sesuai pean protein plasma
PASCA ANALITIK

Interpretasi
 : hipertiroidisme, tiroiditis akut, kahamilan,
penyakit hati kronik, penyakit ginjal, DM, neonatus,
obat-obatan: heroin, methadone, estrogen.
 : hipotiroidisme, hipoproteinemia, obat-obatan
[androgen, kortiko-steroid, antikonvulsan, antitiroid
(propiltiouracil) dll]
5. TES T3

PRA ANALITIK
Persiapan Pasien:
Tdk konsumsi obat-obat yg mempengaruhi
hasil tes
Persiapan Sampel:
Serum, plasma EDTA / heparin
Sampel simpan 48 jam (2o – 8oC),
3 bulan (–20oC).
Prinsip Reaksi
EIA fase padat satu tahap, prinsip kompetetif
Intensitas warna dibaca pd pjg gel. 450 nm
berbanding terbalik dgn konsentrasi T3 sampel.
Alat & Bahan : Sesuai kit reagen/alat yg digunakan [Cobas
Core Roche Diagnostic (RSWS)]

ANALITIK

Cara kerja :
Sesuai manual alat yg digunakan
Nilai Rujukan :
Dewasa : 0,8 – 2,0 ng/ml (60-118 ng/dl)
Wanita hamil, kontrasepsi oral 
Infan dan anak-anak kadarnya 

PASCA ANALITIK

Interpretasi
 : hipertiroidisme, T3 tirotoksikosis, tiroiditis akut,
TBG , obat-obatan:T3 dosis >25 g/hr & T4 > 300
g/hr, dextrothyroxine, kontrasepsi oral
 : hipotiroidisme, starvasi, TBG , obat-obatan:
heparin, iodida, phenylbutazone, propylthiuracil,
Lithium, propanolol, reserpin, steroid.
6. RAIU
Berdasarkan pada kemampuan kelenjar tiroid
menangkap iodium radioaktif (Na123 atau NaI131).
Dengan mengukur % penangkapan iodium
radioaktif pada waktu-waktu tertentu setelah
pemberiannya,  dinilai kinetik iodium intratiroid
yang secara tidak langsung menggambarkan
fungsi tiroid.
7. TES SUPRESI/ TES WERNER

• Prinsip tes : RAIU tidak dipengaruhi TSH endogen

setelah sekresi TSH ditekan dgn pemberian T3.

• Penangkapan iodium tidak banyak berbeda


sebelum & sesudah pemberian hormon tiroid
eksogen (Tes supresi negatif). Sebaliknya pada
eutiroid angka-angka penangkapan akan menurun
(tes supresi positif)
8. TES STIMULASI TSH

Pemberian TSH pada orang normal meningkatkan


pengambilan radioaktif oleh tiroid dan begitu pula
pada mereka dengan hipotiroidisme sekunder oleh
karena penyakit hipofisis.

Tujuan tes ini adalah untuk membedakan


hipotiroidisme primer dan sekunder, serta
diagnosis nodul tiroid otonom.
9. Tes respons jaringan perifer
Tes pengobatan dengan antitiroid / hormon tiroid.
Tes ini digunakan bila tes fungsi tiroid rutin
terganggu oleh obat, kehamilan atau penyakit
lainnya.

Yang termasuk dalam tes ini adalah toleransi


tirosin, lamanya refleks tendon, kolesterol serum,
Basal Metabolic Rate (BMR), EKG, respons cAMP
terhadap gukagon.
Pemeriksaan Penunjang
• Diagnosis krisis tiroid didasarkan pada gambaran
klinis bukan pada gambaran laboratoris. Jika
gambaran klinis konsisten dengan krisis tiroid, terapi tidak
boleh ditunda karena menunggu konfirmasi hasil
pemeriksaan laboratorium atas tirotoksikosis.
• Pada pemeriksaan status tiroid, biasanya akan ditemukan
konsisten dengan keadaan hipertiroidisme dan
bermanfaat hanya jika pasien belum terdiagnosis
sebelumnya. Hasil pemeriksaan mungkin tidak akan
didapat dengan cepat dan biasanya tidak membantu
untuk penanganan segera.
Temuan Lab pemeriksaan status Tiroid
• peningkatan kadar FT3, FT4
• penurunan kadar TSH
• peningkatan uptake iodium 24 jam
Hormon
• Kadar TSH tidak menurun pada keadaan sekresi TSH berlebihan tetapi hal ini jarang terjadi
tiroid

• kelainan yang tidak spesifik, seperti peningkatan kadar serum untuk SGOT, SGPT, LDH,
kreatinin kinase, alkali fosfatase, dan bilirubin.
Tes Fungsi
Hati

• pengukuran kadar gas darah maupun elektrolit dan urinalisis dilakukan untuk menilai dan
memonitor penanganan jangka pendek
Pem. AGD
INDEKS WAYNE DAN
NEW CASTLE
DIAGNOSIS BANDING
Hipertiroidisme
• Hipertiroidisme : tirotoksikosis sebagai akibat

dari produksi tiroid itu sendiri sehingga


menyebabkan kadar hormon tiroid didalam
darah berlebihan
Etiologi

Biasa Tidak biasa Jarang


• penyakit graves • hipertiroidisme • metastasis kanker
• nodul tiroid toksik neonatal tiroid
• Tiroiditis • hipertiroidisme • koriokarsinoma dan
faktisius mola hidatidosa
• sekresi TSH yang • struma ovaril
tidak tepat oleh • karsinoma testicular
pituitaria embrional
• yodium eksogen • polyostotic fibrous
dysplasia
Hipertiroidisme dengan Penyakit Graves

Suatu penyakit autoimun yang


biasanya ditandai oleh produksi
autoantibodi yang memiliki kerja mirip
TSH pada kelenjar tiroid.

Autoantibodi IgG ini, yang disebut


immunooglobulin perangsang tiroid
(Thyroid-Stimulating Immunoglobulin)
sehingga meningkatkan pembentukan
hormon tiroid,
Grave disease
Goiter

• Hipotiroidisme
• Hipertiroidisme
Etiologi Peny. Graves

• Penderita :

limfosit T mengalami perangsangan terhadap


antigen yang berada didalam kelenjar tiroid yang
selanjutnya akan merangsang limfosit B untuk
mensintesis antibodi terhadap antigen tersebut.
Antibodi yang disintesis akan bereaksi dengan
reseptor TSH didalam membran sel tiroid sehingga
akan merangsang pertumbuhan dan fungsi sel tiroid.
Etiologi Peny. Graves

• Adanya autoantibodi kerja mirip TSH (reseptor TSH)


di membran sel folikel tiroid. Autoantibodi IgG ini,
yang disebut immunooglobulin perangsang tiroid
(Thyroid-Stimulating Immunoglobulin), thyroid
peroksidase antibodies (TPO), dan TSH receptor
antibodies (TRAb) yang menyebabkan perangsangan
produksi hormon tiroid secara terus menerus,
sehingga kadar hormon tiroid menjadi tinggi.
Patofisiologi
Patoflow
Hipotalamus

Thyrotropin-Releasing Hormone

kelenjar hipofisa

Thyroid Stimulating Hormone -


Adanya autoantibodi reseptor pada sel folikel kel. tiroid

hormon tiroid dalam darah meningkat

Kadar TSH rendah


Sitokin yang
Hormone tiroid (T3 terbentuk dari
dan T4) dalam darah limfosit
meningkat

Proses
glikogenesis
meningkat Metabolisme tubuh
meningkat
inflamasi
fibroblast dan
miositis orbita,
Aktivitas GI
menyebabkan
Pembakaran meningkat
Produksi kalor meningkat pembengkakan
lemak
otot-otot,
meningkat
proptosis dan
diplopia.
.
Nafsu makan meningkat
Peningkatan suhu tubuh

Suplai nutrisi
tidak adekuat
Gangguan rasa Perubahan pola
nyaman panas nutrisi

Penurunan
berat badan
Pada hipertiroidisme…
Kelenjar tiroid “dipaksa” mensekresikan hormon hingga
diluar batas  untuk memenuhi pesanan  sel-sel sekretori
kelenjar tiroid membesar.

Gejala klinis pasien yang sering berkeringat dan suka hawa


dingin termasuk akibat dari sifat hormon tiroid yang
kalorigenik, akibat peningkatan laju metabolisme tubuh yang
diatas normal.

Akibat proses metabolisme yang menyimpang  terkadang


kesulitan tidur.
Efek pada kepekaan sinaps saraf yang mengandung tonus
otot  terjadinya tremor otot yang halus dengan frekuensi
10-15 kali perdetik  penderita mengalami gemetar tangan
yang abnormal.

Nadi yang takikardi atau diatas normal juga merupakan


salah satu efek hormon tiroid pada sistem kardiovaskuler.

Eksopthalmus yang terjadi merupakan reaksi inflamasi


autoimun yang mengenai daerah jaringan periorbital dan
otot-otot ekstraokuler, akibatnya bola mata terdesak keluar.
Tanda & Gejala

Dua kelompok gambaran utama yaitu tiroidal dan


ekstratiroidal.

Ciri-ciri Tiroidal : goiter akibat hiperplasia kelenjar tiroid


dan hipertiroidisme akibat sekresi hormon tiroid yang
berlebihan.

Hipertiroidisme : mengeluh lelah, gemetar, tidak tahan


panas, berat badan menurun walaupun nafsu makan
meningkat, palpitasi, takikardi, diare serta atrofi otot.
Cont....

Manifestasi ekstratiroidal : oftalmopati (mata melotot,


fissura palpebra melebar, kedipan berkurang, lid lag
(keterlambatan kelopak mata dalam mengikuti gerakan
mata dan infiltrasi kulit lokal yang biasanya terbatas
pada tungkai bawah.

Gambaran klinik klasik dari penyakit graves antara lain


adalah tri tunggal: hipertitoidisme, goiter difus dan
eksoftalmus
Pemeriksaan Lab
Diagnosa Banding
• Sindrom “ familial dysalbuminemic hyperthyroxinemia “ dapat
ditemukan protein yang menyerupai albumin (albumin-like
protein) didalam serum yang dapat berikatan dengan T4 tetapi
tidak dengan T3. Keadaan ini akan menyebabkan peningkatan
kadar T4 serum dan FT4I, tetapi free T4, T3 dan TSH normal.
• Apathetic hyperthyroidism
• Thyrotoxic periodic paralysis
Komplikasi
• Krisis tiroid (Thyroid storm) merupakan eksaserbasi akut
dari semua gejala tirotoksikosis yang berat sehingga dapat
mengancam kehidupan penderita.
• Demam tinggi, flushing dan hiperhidrosis.

• Takhikardi hebat , atrial fibrilasi sampai payah jantung.

• agitasi, gelisah, delirium sampai koma.

• Gejala-gejala saluran cerna berupa mual, muntah,diare dan


ikterus.
PENATALAKSANAAN
Tujuan Terapi
• menormalkan produksi hormon tiroid;
mengurangi gejala dan konsekuensi jangka
panjang; dan memberikan terapi individual
berdasar tipe dan keparahan penyakit, usia
pasien dan kelamin, adanya kondisi non-tiroid,
dan respon terhadap terapi sebelumnya.
TERAPI

TERAPI NON FARMAKOLOGI


 Diet yang diberikan harus tinnggi kalori, yaitu
memberikan kalori 2600-3000 kalori per hari baik dari
makanan maupun dari suplemen
 Konsumsi protein harus tinggi yaitu 100-125 gr (2,5
gr/kgBB/hari untuk mengatasai proses pemecahan protein
jaringan seperti susu dan telur
 Olahraga secara terartur
 Mengurangi rokok, alcohol, dan kafein yang dapat
meningkatkan kadar metabolisme.
Farmakoterapi
Hipertiro
id

 Obat
antitiroid :
1. Tionamid
2. Iodida
3. Adrenergik
bloker
4. Radioaktif
Iodin (RAI)
 Operasi
Terapi Farmakologi
(Antithyroid Pharmacotherapy/
Hipertiroid)
1. Thioureas (Thionamides)
Propylthiouracil (PTU) dan methimazole (MMI) mem-
block sintesis hormon tiroid dengan inhibisi sistem
enzim peroksidase dari kelenjar tiroid, sehingga
mencegah oksidasi iodida dan selanjutnya bergabung
membentuk iodotirosin dan akhirnya iodotironin
(‘organifikasi’), dan dengan inhibisi penggabungan MIT
dan DIT membentuk T4 dan T3. PTU (tapi bukan MMI)
juga meng-inhibit perubahan perifer dari T4 menjadi T3.
• Dosis awal termasuk PTU 300-600 mg sehari (biasanya
dalam tiga sampai empat dosis terbagi) atau MMI 30-60 mg
sehari dalam tiga dosis terbagi. Terdapat bukti bahwa kedua
obat bisa diberikan dalam dosis harian tunggal.
• Dosis pemeliharaan harian adalah PTU 50-300 mg dan MMI
5-30 mg
• Terapi obat antitiroid sebaiknya dilanjutkan sampai 12-24
bulan untuk memicu remisi jangka panjang.
• Pasien sebaiknya diawasi tiap 6-12 bulan setelah remisi.
Jika terjadi serangan ulang, terapi alternatif dengan
radioactive iodine (RAI) disukai sebagai rangkaian obat
antitiroid kedua, karena terapi lanjutan biasanya jarang
memicu remisi.
2. Iodida
• Iodida menghalangi pelepasan hormon tiroid,
inhibit biosintesis hormon tiroid dengan
menghalangi penggunaan iodida intratiroid,
dan menurunkan ukuran dan vaskularitas
kelenjar.
• Perbaikan simtom terjadi dalam 2-7 hari sejak
memulai terapi, dan konsentrasi serum T3 dan
T4 bisa berkurang selama beberapa minggu.
• Iodida sering digunakan sebagai terapi
tambahan untuk menyiapkan pasien dengan
penyakit Grave sebelum menjalani operasi,
untuk menginhibisi pelepasan hormon tiroid dan
dengan cepat mencapai keadaan euthyroid (=
kelenjar tiroid berfungsi normal)
• Kalium iodida tersedia sebagai larutan jenuh
atau larutan Lugol, mengandung 6,3 mg iodida
per tetes.
• Iodin tidak boleh digunakan untuk terapi
hipertiroidisme jangka panjang karena efek
antitiroidnya akan cenderung menghilang.
• Efek samping : reaksi hipersensitivitas (kulit
kemerahan, drug fever, rhinitis [inflamasi
membran mukosa hidung], pembengkakan
kelenjar ludah, ‘iodisme’ (rasa logam, mulut dan
tenggorokan terbakar, nyeri pada gigi dan gusi,
terkadang gangguan perut dan diare.
3. Adrenergik bloker
β blocker digunakan secara luas untuk mengurangi
gejala tirotoksik seperti palpitasi, cemas, tremor, dan
tidak tahan panas. Agen ini tidak mempunyai efek
pada tirotoksikosis perifer dan metabolisme protein dan
tidak mengurangi TSAb (Thyroid Stimulating Antibody).
Propanolol dan nadolol secara parsial menghalangi
perubahan T4 menjadi T3, tapi kontribusinya kecil
terhadap terapi keseluruhan.
• Β blocker biasanya digunakan sebagai terapi tambahan
dengan obat antitiroid, RAI, atau idodida dalam penanganan
penyakit Grave atau toxic nodule; pada persiapan untuk
operasi kelenjar tiroid. β blocker adalah terapi primer hanya
untuk tiroiditis dan hipertiroid yang diinduksi iodin.
• Dosis propanolol yang dibutuhkan untuk mengurangi gejala
adrenergik bervariasi, tapi dosis awal 20-40 mg 4 x sehari
efektif untuk kebanyakan pasien (denyut jantung <90
denyutan per menit). Pasien lebih muda atau dalam kondisi
lebih toksik bisa membutuhkan sampai 240-480 mg/hari).
• β blocker dikontraindikasikan pada pasien dengan
gagal jantung kongestif, kecuali kelainan itu
disebabkan takikardia. Efek samping lain termasuk
mual, muntah, cemas, insomnia,bradikardi, dan
gangguan hematologi.
• Simpatolitik yang bekerja sentral (seperti, clonidin)
dan antagonis Ca channel blocker (seperti,
diltiazem) bisa berguna untuk mengontrol simtom
ketika dikontraindikasikan untuk β blocker.
4. Radioaktif Iodin (RAI)
Natrium iodida 131 (131I) adalah larutan oral yang
terkonsentrasi di tiroid dan mengganggu sintesis hormon
dengan penggabungan hormon tiroid dan tiroglobulin.
Setelah periode beberapa minggu, folikel yang telah diambil
RAI dan folikel disekitarnya mengalami nekrosis selular dan
fibrosis jaringan interstitial.

RAI adalah senyawa pilihan untuk penyakit Grave, nodul


autonom toksik, dan gondok multinodular toksik. Kehamilan
merupakan kontraindikasi absolut untuk penggunaan RAI.
• Pasien dengan penyakit kardiak dan pasien lansia
biasanya diterapi dengan thionamide sebelum RAI ablation
(ablation = pengangkatan jaringan) karena hormon tiroid
akan meningkat setelah pemberian RAI karena pelepasan
dari hormon tiroid.
• Tujuan terapi : untuk menghancurkan sel –sel tiroid yang
sangat reaktif
• Dosis tunggal 4000 – 8000 rad menghasilkan kondisi
euthyroid pada 60 % pasien selama 6 bulan atau kurang.
• Dosis kedua RAI diberikan selama 6 bulan setelah
penanganan RAI pertama, jika pasien tetap hipertiroid
• Efek samping :
• jangka pendek : disfagia daan tiroidal sedang
• Jangka panjang : resiko karsinoma tiroid,
leukemia atau gangguan kongenital
• Obat-obat antitioid sebaiknya tidak rutin diberikan
setelah RAI, karena penggunaannya dihubungkan
dengan tingginya kejadian serangan hipertiroid
setelah perawatan atau hipertiroid yang menetap.
• Jika iodida diberikan, sebaiknya diberikan 3-7 hari
setelah RAI untuk mencegah interaksi dengan
asupan RAI di kelenjar tiroid.
Pembedahan
 Operasi pengangkatan kelenjar tiroid : untuk nodul, gondok
ukuran besar, kurangnya penanganan obat tiroid dan pasien
yang kontraindikasi terhadap tionamida (alergi atau efek
samping)
 Jika tiroidektomi akan dilakukan, Propylthiouracil (PTU)
atau methimazole (MMI) biasanya diberikan selama 6 – 8
minggu, diikuti dengan pemberian iodida (500mg/hari) selama
10 – 14 hari sebelum operasi, gunanya untuk menurunkan
vaskularitas kelenjar. Levotiroksin dapat ditambahkan untuk
mempertahankan kondisi eutiroid sedangkan tionamida terus
diberikan.
• Propanolol telah digunakan selama beberapa minggu
sebelum operasi dan 7-10 hari setelah operasi untuk
menjaga denyut jantung <90 denyut/menit. Propanolol
dikombinasi dengan Kalium Iodida selama 10-40 hari.
• Komplikasi operasi termasuk serangan ulang hipertiroid
atau hipertiroid yang menetap (0,6-0,8%), hipotiroid
(sampai 49%), hipoparatiroid (sampai 4%), dan gangguan
pita suara (sampai 5%). Frekuensi kemunculan hipotiroid
membutuhkan pemantauan secara periodik untuk
identifikasi dan penanganan.
Terapi Yodium Radioaktif

• Pengobatan dengan yodium radioaktif akan

mengablasi kelenjar tiroid melalui efek ionisasi partikel


beta dengan penetrasi kurang dari 2 mm, menimbulkan
iradiasi local pada sel-sel folikel tiroid tanpa efek yang
berarti pada jaringan lain disekitarnya.
Tiroid Papilo Carsinoma
Toxic Goiter A….
Alur Rujukan

FASYANKES
- Keterbatasan untuk
melakukan pemeriksaan
lab  Nilai klinis dengan
Tabel skor indeks klinis
krisis tiroid (Burch-
Wartosky, 1993)
Tabel skor indeks klinis krisis tiroid (Burch-Wartosky, 1993)
Komplikasi

Krisis Tiroid
• demam tinggi 38-41o C
• Takikardi, Atrial Fibrilasi-payah jantung
• Gejala neurologik (agitasi, kelmahan)

Kehamilan
• Kelahiran premature
• Kematian intra-uterin
• Eklamsia
• BBLR
Prognosis
• Krisis tiroid dapat berakibat fatal jika tidak ditangani.
Angka kematian keseluruhan akibat krisis tiroid
diperkirakan berkisar antara 10-20% tetapi
terdapat laporan penelitian yang menyebutkan hingga
75%, tergantung faktor pencetus atau penyakit yang
mendasari terjadinya krisis tiroid. Dengan diagnosis yang
dini dan penanganan yang adekuat, prognosis biasanya
akan baik.
• Dubia

Anda mungkin juga menyukai