Anda di halaman 1dari 37

Oleh :

Zumala Anissa Fitri


30101407354
WHO telah menetapkan dekade ini (2000-2010) menjadi Dekade
Tulang dan Persendian.

Mayoritas penyebab fraktur adalah kecelakaan lalu lintas, jatuh


dari ketinggian, kecelakaan kerja, dan cedera olah raga.

Trauma yang mengakibatkan fraktur dapat merusak jaringan


lunak di sekitar fraktur mulai dari otot, fascia, kulit, tulang,
sampai struktur neurovaskuler atau organ-organ penting lainnya.

Fraktur pelvis merupakan 3% kasus dari semua kasus fraktur tulang.


Lebih dari 63.000 pasien trauma menunjukkan bahwa fraktur pelvis
berkaitan dengan tingginya angka mortality
Sacroiliac
joint

Ilium

Sacral
Sacrum promontory

Pubic tubercle
Acetabulum

Symphysis Pubis Ischium

Pubis
Sacral canal

Coccyx

Obturator foramen
• Arteri iliaca communis terbagi: a iliaca externa,
yang terdapat pada pelvis anterior.
• Arteri iliaca interna terletak diatas pelvis
mengalir ke anterior dan dekat dengan sendi
sacroliliaca.
• Cabang posterior a iliaca interna: a
iliolumbalis, a glutea superior dan a sacralis
lateralis.
• A glutea superior berjalan ke sekeliling menuju
bentuk panggul lebih besar, yang terletak
secara langsung diatas tulang. Cabang anterior
a iliaca interna : a obturatoria, a umbilicalis, a
vesicalis, a pudenda, a glutea inferior, a rectalis
dan a hemoroidalis.
• A pudenda dan obturatoria berhubungan
dengan rami pubis dan dapat cedera dengan
fraktur atau perlukaan pada struktur ini.
Patah tulang panggul adalah putusnya
kontinuitas tulang, tulang rawan epifisis atau
tulang rawan sendi dan gangguan struktur
tulang dari pelvis.
• Mekanisme injury
• Seberapa besar kekuatan injury dan seperti apa bentuk dari injury
tersebut.
• Low-Energy injuries
• Pasien osteoporosis serangan awal yang diakibatkan karena jatuh pada
posisi terduduk
• High-Energy Injuries
• Kecelakan kendaraan bermotor, kecelakaan sepeda motor, kecelakaan
antara pejalan kaki dengan pengguna sepeda motor, atau jatuh dari
ketinggian. Hal ini merupakan insiden tertinggi yang menyebabkan
perdarahan dan syok hipovlemik.
• Basic mechanisms of pelvic ring injury are:
• Anteroposterior compression (APC)
• Lateral compression (LC)
• Vertical shear (VS)
• Combinations of these
• APC-I : Diastasis simfisis minimal (< 2 cm), tarikan pada
ligamen sakroiliakal, dengan cincin pelvis yang stabil

• APC-II : Diastasis simfisis lebih renggang, ligamen sakroiliakal


putus, dengan pergeseran ringan sendi sakroiliaka, namun cincin
pelvis masih stabil

• APC-III: Ligamen sakroiliaka anterior dan posterior putus,


dengan pemisahan sendi sakroiliaka, satu bagian hemipelvis
terpisah dari hemipelvis yang lain secar anterior dan terpisah
dari sakrum secara posterior. Cincin pelvis tidak stabil
• LC-I : Fraktur transverse rami pubis bagian anterior. Cincin
pelvis stabil

• LC-II : Tambahan fraktur pada iliac wing pada sisi tekanan.


Cincin pelvis masih stabil

• LC-III : Tekanan kompresi lateral pada salah satu sisi iliac wing
mengakibatkan tekanan anteroposterior pada sisi ilium yang
berlawanan, menyebabkan pola fraktur yang sesuai dengan
mekanisme tersebut.
• Lateral
compression -
7%
• Antero posterior
- 20%
• Vetikal shears-
0%
Terjadi fraktur rami pubis akibat tulang bergeser secara vertikal -
 kerusakan pada daerah sakroiliaka pada sisi yang sama.
Seseorang jatuh dari ketinggian dengan bertumpu pada satu
kaki.
Fraktur jenis ini biasanya berat, tidak stabil, dengan kerusakan
jaringan lunak yang luas dan perdarahan retroperitoneal.
• Pembengkakan
• Kontusi/lebam (paha, perineum, scrutom, vulva)
• Pemeriksaan rektum (coccyx, sacrum dan prostat
boleh dirasa dan tender)
• Pendarahan pada external meatus.
• Haematuria
• Tanda-tanda pendarahan (dalam abdomen)
• Prioritas utama
• Prioritas utama adalah sesuai dengan protocol ATLS.
• Bimanual kompresi dan distraksi dari Iliac wings
• Penilaian secara klinikal mengenai instabilitas dari rotasional.
• Manual leg traction
• Manual leg traction dapat menolong dalam menentukan instabilitas vertical
• Rectal examination
• Posisi prostat yang meninggi dapat mengindikasi adanya tetesan uretra.
• Vaginal examination
• Perdarahan atau laserasi mengindikasi adanya fraktur terbuka.
• Perineal skin
• Laserasi mungkin mengindikasi adanya fraktur terbuka; laserasi dapat
disebabkan oleh hiperabduksi kaki.
• AP View of Pelvis
• Dapat mengidentifikasi 90% pelvis injury.
• Pelvic Inlet View
• Pada foto posisi ini menunjukkan pemindahan pada bagian anterior-
posterior.
• Pelvic Outlet View
• Pada foto posisi ini menunjukkan pemindahan superior-inferior dan
melihat gambaran foramen sacrum.
• Computed Tomography (CT)
• Menunjukkan gambaran terbaik dari sendi SakroIliaka.
• Lateral Sacral View
• Pada posisi ini mengidentifikasi transverse sacral fractures.
1. Diagnostic peritoneal lavage
• Lokasi: lokasi yang dipilih untuk dilakukan pembilasan harus pada bagian
supraumbilical untuk menghindari hasil postif palsu pada hematoma
pelvis.
2. CT
• Dilakukan jika kondisi hemodinamika pasien dalam keadaan stabil. Untuk
evaluasi minor abdominal injuries secara berkala.
3. Ultrasound-Focused Abdominal Sonogram for Trauma (FAST)
• Keakuratan dari ultrasound-FAST sama dengan penangan DPL atau CT-
Scan.
• High- Energy Injuries
• Major injuries yang melibatkan susunan saraf pusat, dada dan abdomen.
• Hemorrhage
• Perdarahan terjadi sampai dengan 75% pada pasien  menyebabkan
kematian pada pasien dengan fraktur pelvis dan yang memerlukan banyak
cairan resusitasi.
• Kejadian syok hipovolemik berhubungan dengan tingginya angka kematian
setelah terjadinya fraktur pelvis. Tiga sumber yaitu: osseous, pembuluh darah,
dan visceral.
• Open pelvic fracture
• Angka kematian yang tinggi yaitu 30-50%. Hal ini karena berpotensi
mencederai pembuluh darah besar yang dapat menyebabkan perdarahan
dan meningkatkan kejadian cedera pada gastrointestinal maupun cedera
genitourinary.
 Military antisbock trousers (MAST)
Memberikan kompresi dan imobilisasi sementara terhadap cincin pelvis
dan ekstremitas bawah melalui tekanan berisi udara
• Resuscitation of patients in bypovolemic shock
Intravenous lines: Dua lubang besar jalur intravena (16 g atau lebih)
seharusnya diletakkan pada ekstremitas atas.
Crystalloid solution: 2L cairan kristaloid harus didistribusikan lebih
dari 20 menit dan respon pasien baik.
Blood administration: pada pasien dg tanda anemi
Hypothermia: Cairan hangat, peningkatan temperature
lingkungan, dan pencegahan proses kehilangan
panas. Hipotermia dapat disebabkan oleh gangguan
koagulasi, fibrilasi ventrikel, dan gangguan asam- basa.
Urinary output: 50 ml/jam pada dewasa.
• Indication
• Pada pasien dengan gangguan hemodinamik yang tidak memberikan respon
setelah dilakukan resusitasi cairan.
• Function
• Stabilisasi fiksasi eksternal pada bagian pelvis, pencegahan terjadinya
gangguan pembekuan yang bersifat berulang.
• Inadequate posterior stabilization
• Fiksasi eksternal sendiri tidak adekuat dalam menunjang stabilisasi posterior
jika pelvis bagian posterior mengalami gangguan.
• Incisions
• Insisi pada kulit dilakukan pada sisi yang tepat dari bagian pinggir pelvis untuk
mrnghindarkan terjadinya insisi tambahan
• Orientation of the pelvic brim
• Jarum spinal atau K-wire tipis dapat membantu dalam menentukan dalam
orientasi pinggiran pelvis.
• Bars
• Bars dapat diletakkan cukup jauh dari abdomen untuk memperkenankan pada
kasus distensi abdomen.
DEFINITIVE SURGICAL TREATMENT

• External fixation
• Terapi ini biasanya dilakukan pada kasus cedera tipe ‘open-book’
dimana ligament sakroiliaka intak.
• Fiksasi eksternal sendiri tidak cukup adekuat untuk stabilisasi fraktur pelvis
posterior.
• Internal fixation
• Pada fraktur posterior tidak stabil memerlukan stabilisasi posterior.
• Anterior pubic symphisis plating
• Reduksi dan fiksasi sederhana pada diastasis simfisis pubis yang lebih
dari 2,5cm dapat dilakukan segera sebelum atau sesudah laparotomi
Mengecilkan rongga pelvis : berfungsi sebagai tampon
• Pelvic sling,
• Fiksasi Eksterna
• Fiksasi Interna
• Open-book injuries
• Reduksi dengan tenaculum Weber dilakukan pada kasus open-book
injuries. Clamp diletakkan pada bagian anterior melewati otot rectus.
Pokok dari tenaculum diletakkan pada permukaan yang sejajar dengan
pubis.
• Penempatan utama clamp pada tingkat yang sama dengan badan pubis
sehingga terjadi penutupan, pada setiap rotasi arah sagital dikurangi.
• Posteriorly displaced hemipelvis
• Bagian anteriornya dapat diarahkan secara paksa dengan menggunakan
Jungbluth pelvic reduction clamp. Plat dan murnya dapat diletakkan
dibelakang pubis untuk mencegah clamp keluar
• Pubic rami fractures
• Terapi kebanyakan bersifat non-operatif. Pada fraktur tidak stabil
dilakukan pemasangan plat melewati arah ilioinguinal.
 Stable, nondisplace or minimal displace fractures
 Cedera kompresi lateral dimana fraktur sacrum terjepit biasanya stabil dan
dapat ditangani dengan weightbearing pada sisi yang tidak dipengaruhi.
 Simple open-book fractures
 Cedera pada diastasis pubis kurang dari 2.5cm dapat diterapi nonoperatif.
 Unstable and severely displaced fractures
 Terapi nonoperatif pada dislokasi fraktur berat atau tidak stabil memerlukan
imobilisasi yang lama dan menghasilkan hasil akhir yang buruk.
 Early mobilization
 Mobilisasi awal dilakukan untuk mencegah terjadinya komlikasi pada tirah bari
lama.
 Skeletal traction
 Fraktur vertical tidak stabil pada pasien dimana merupakan kontraindikasi pada
tindakan operatif dapat dilakukan traksi otot.
• Fraktur yang kurang terdiagnosis dan sering
mengakibatkan cedera neurologis pada cincin panggul (30-
45%)
• 25% berkaitan dengan cedera neurologis
• fraktur yang salah dapat menyebabkan defisit ekstremitas
yang lebih rendah
• urinary dysfunction
• rectal dysfunction
• sexual dysfunction
• Nonoperative
• progressive weight bearing +/- orthosis
• indications
• <1 cm displacement and no neurologic deficit
• insufficiency fractures
• Operative
• surgical fixation
• indications
• displaced fractures >1 cm
• soft tissue compromise
• persistent pain after non-operative management
• displacement of fracture after non-operative
management
• Patah tulang acetabulum dapat melibatkan satu atau lebih
dari dua kolom, dua dinding atau atap di dalam panggul
• Terjadinya fraktur:
High energy trauma pada pasien yang lebih muda (mis.,
kecelakaan kendaraan bermotor)
Low energy trauma pada pasien usia lanjut (mis. jatuh dari
ketinggian berdiri
• Nonoperative :
• protected weight bearing for 6-8 weeks
• Indications:
• patient factors
• Adanya resiko jika dioperasi (e.g., elderly patients, presence of
DVT)
• obesitas
• Luka terbuka yang terkontaminasi
• Fraktur > 3 minggu
•ORIF
•indications
•patient factors:
•< 3 weeks from date of injury
•physiologically stable
•adequate soft-tissue

• TOTAL HIP ARTHROPLASTY


•indications
•usually elderly patients with
•significant osteopenia and/or significant comminution
•pre-existing arthritis
•post-traumatic arthritis in all ages
Komplikasi Segera:
• Thrombosis vena ilio-femoral.
• Robekan kandung kemih.
• Robekan urethra.
• Trauma rectum dan vagina.
• Trauma pembuluh darah besar yang akan
menyebabkan perdarahan massif sampai syok.
• Trauma pada saraf.
Komplikasi Lanjut
• Pembentukan tulang heterotropik
• Nekrosis avaskuler
• Gangguan pergerakan sendi serta
osteoarthritis sekunder
• Skoliosis kompensatoar