Anda di halaman 1dari 43

HERNIA SCROTALIS

INKARSERATA
RINI RISNAWATI TARDI
030.13.168
IDENTITAS PASIEN

Nama Lengkap : Tn. Hamdanih Jenis Kelamin : Laki-laki


Umur : 72 tahun Suku Bangsa : Betawi
Status Perkawinan : Menikah Agama : Islam
Pekerjaan : wiraswasta Pendidikan : S1
Alamat : Jl. Swadaya raya Duren sawit Tanggal Masuk RS :28/10/2017
RT/RW 05/05
SUBJEKTIF

Keluhan utama
• Benjolan pada buah zakar sebelah kanan
SMRS disertai rasa nyeri
Keluhan tambahan
• Mual
• Nyeri perut bagian bawah
• Keringat dingin
Riwayat penyakit sekarang
• Os datang ke IGD RSUD Budhi Asih pada tanggal 28
Oktober 2017 pada pukul 01.30 wib. Os mengatakan sejak
9 tahun yang lalu terdapat benjolan pada skrotum kanan,
benjolan hilang saat berbaring dan timbul saat mengejan
atau mengangkat benda berat, nyeri (-), mual (-) muntah
(-), tidak pernah melakukan pengobatan sebelumnya. Os
mengatakan 2 jam SMRS mengeluhkan nyeri pada
daerah skrotum kanan, benjolan tidak dapat masuk
kembali, demam (+), mual (+), muntah (-), nyeri berawal
setelah BAB sampai akhirnya os masuk RS
Riwayat penyakit dahulu
• Os memiliki riwayat hipertensi terkontrol, Diabetes
terkontrol dan riwayat stroke 2 bulan yang lalu

Riwayat penyakit keluarga


• Terdapat riwayat diabetes mellitus, hipertensi pada
keluarga pasien

Riwayat kebiasaan
• Os saat ini sudah tidak bekerja, tidak ada riwayat
mengangkat benda berat dan batuk lama.
OBJEKTIF

Pemeriksaan fisik dilakukan di ruang rawat inap pada


tanggal 29 Oktober 2017.
•Keadaan Umum
•Kesadaran : Compos Mentis, GCS (E4M5V6).
•Tekanan darah : 163 / 70 mmHg
•Nadi : 80x/menit
•Pernafasan : 20x/menit
•Suhu : 37,0⁰C
STATUS GENERALIS

• Kepala: Normocephali, tidak ada jejas atau memar


• Mata : Konjungtiva anemis (-), sklera ikterik(-), sekret (-)/(-),
pupil isokor dengan diameter <2 mm/2 mm, ptosis (-)/(-).
• Telinga:
• Inspeksi
• Preaurikuler : hiperemis (-)/(-)
• Postaurikuler : hiperemis (-)/(-), abses (-)/(-), massa (-)/(-)
• Liang telinga : lapang, serumen (+)/(+), otorhea (-)/(-)
• Palpasi
• Nyeri tekan tragus (-), nyeri tarik aurikula (-)
• Hidung :
•Inspeksi : deformitas (-), sekret (-)/(-)
•Palpasi : nyeri tekan pada sinus maksilaris (-)/(-), etmoidalis(-)/(-),
frontalis(-)/(-)
• Tenggorokan dan rongga mulut:
• Inspeksi :
• Lidah : pergerakan simetris, plak (-)
• Palatum mole dan uvula simetris pada keadaan diam dan
bergerak, arkus faring simetris, penonjolan (-)
• Tonsil : T1/T1, kripta (-)/(-), detritus(-)/(-), hiperemis (-)
• Dinding anterior faring licin, hiperemis (-)
• Karies gigi (-), kandidisasis oral (-)

• Leher
• Tiroid dan KGB tidak teraba membesar
• JVP 5+1 cmH2O
• Trakea teraba di tengah dan tidak ada deviasi
Thoraks
• Paru
Inspeksi :
• penggunaan otot bantuan nafas (-)/(-), retraksi sela iga (-/-),
bentuk dada normal, pergerakan kedua paru simetris statis dan
dinamis, pola pernapasan cepat dan dangkal.
Palpasi :
• ekspansi dada simetris, vocal fremitus simetris, pelebaran sela iga
(-)/(-)
Perkusi :
• Sonor pada seluruh lapang paru kiri dan kanan
• Batas paru hati : pada garis midklavikula kanan sela iga V
• Batas paru lambung : pada garis aksilaris anterior kiri sela iga VIII
• Auskultasi : suara nafas vesikuler (+/+), wheezing (-/-), ronki (-/-)
Jantung
• Inspeksi : pulsasi ictus cordis tidak terlihat
• Palpasi : pulsasi ictus cordis teraba pada ± 4 cm di lateral linea midklavikula
sinistra ICS V
• Perkusi : batas jantung kanan pada ICS IV linea sternalis dekstra, batas jantung
kiri pada ICS V± 3cmlinea midklavikula sinistra.
• Auskultasi : BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen
• Inspeksi : datar , ikterik (-), venektasi (-), smiling umbilicus (-), caput medusae (-),
sikatriks (-).
• Auskultasi : BU (+) 3x/mnt
• Palpasi : supel, nyeri tekan epigastrium (-), massa (-), Hepar tidak teraba. Lien
tidak teraba. Ballotement (-).
• Perkusi : timpani, shifting dullnes (-), nyeri ketok CVA (-)/(-)
Ekstremitas
• Atas : Akral teraba hangat, sianosis (-), CRT < 2 detik,
edema (-)/(-), deformitas (-)/(+).
• Bawah : Akral teraba hangat, sianosis (-), CRT < 2 detik,
edema (-)/(-), deformitas (-)/(+)
STATUS LOKALIS

Regio scrotalis dextra

•Inspeksi : tampak benjolan sebesar telur


ayam, tidak berwarna merah, tegang
•Palpasi : Kenyal, nyeri tekan, berbatas
tegas, tes transiluminasi (-)
•Auskultasi : bising usus 2x/menit
PEMERIKSAAN PENUNJANG
28 Oktober 2017
Hematologi Hasil Satuan Nilai Normal
Leukosit 11,3 Ribu/µl 3,8 – 10,6
Eritrosit 4.0 Juta/ µl 4,4 – 5,9
Hemoglobin 13.1 g/dl 13,2 – 17,3
Hematokrit 39 % 40 – 52
Trombosit 301 Ribu/µl 150 - 440
MCV 97.5 fL 80 – 100
MCH 32.6 pg 26 – 34
MCHC 33.4 g/dL 32 – 36
RDW
Met. Karbohidrat 11.9 Hasil % Satuan < 14
Nilai Normal
GDS 156 Mg/dl <110
Ginjal
Ureum 14 mg/dL 17 – 49
Kreatinin 0.61 mg/dL < 1,2
Elektrolit serum Hasil Satuan Nilai Normal
Natrium 137 mmol/L 135-155
Kalium 3.3 mmol/L 3.6-5.5
Klorida 102 mmol/L 98-109
RESUME

Laki- laki, 72 tahun datang dengan keluhan terdapat benjolan yang


hilang timbul pada daerah inguinal kanan sejak 9 tahun yang lalu.
Sekarang benjolan turun ke scrotum dextra . benjolan tidak dapat
masuk kembali. Benjolan dirasakan nyeri. Nyeri juga dirasakan
diperut bagian bawah serta pasien merasa mual. Pasien sadar dan
tanda-tanda vital stabil. Pemeriksaan fisik generalis dalam batas
normal. Status lokalis pada inguinal dextra, pada inspeksi tampak
benjolan yang turun sampai ke scrotum berwarna sama dengan
kulit berbentuk lonjong dengan batas tidak tegas, pada palpasi
didapatkan perabaan lunak dan licin, nyeri tekan (+), transluminasi (-
). Pemeriksaan penunjang dilakukan untuk persiapan operasi,
laboratorium dan foto toraks dalam batas normal.
ASSESMENT

• Hernia scrotalis inkarserata


• Dm tipe II
• Hipertensi
PLANNINGS

Tanggal 28 Oktober 2017


• IUFD Asering 30 tpm
• Oksigenasi 3 lt/m
• Keterolak 3x30 mg
• Pasang DC
Non medika mentos : elevasi tungkai 30 derajat
PROGNOSIS

• Ad vitam : Bonam.
• Ad fungsionam : Dubia ad bonam.
• Ad Sanationam : Dubia ad malam.
FOLLOW UP
FOLLOW UP 28 OKTOBER – 4 NOVEMBER 2017

Ta Subjektif Objektif Assesment Planning


ng
ga
l
28 Nyeri pada TD : 160/80 mmHg Hernia - pasang DC
/1 skrotum Nadi : 92x/m scrotalis - ketorolac 3x30 mg
0/ kanan, mual Suhu : 36.5 irreponible - rawat inap
17 (+) muntah RR : 20x/m - IUFD Asering 30 tpm
(-) SaO2 ; 93%

29 Nyeri pada TD : 185/90 mmHg Hernia - persiapan OP hari


/1 skrotum Nadi : 89x/m scrotalis selasa
0/ kanan (+), Suhu : 36.5 irreponible
17 mual (-) RR : 20x/m
muntah (-) SaO2: 98%
FOLLOW UP
30 Nyeri pada TD : 150/80 mmHg Hernia Th/ lanjutkan
/1 skrotum Nadi : 88x/m scrotalis
0/ kanan (+), Suhu : 36.5 irreponible
17 demam(-), RR : 20x/m
mual (+) SaO2: 98%
muntah (-)

31 Nyeri pada TD : 160/90 mmHg Post OP – Th/ lanjut


/1 luka operasi Nadi : 83x/m Hernia – Ketorolac
0/ (+) Suhu : 36 scrotalis – Ranitidin
17 RR : 19x/m irreponible – Ceftriaxol
SaO2: 98%. H+1

1/ Os TD : 140/70 mmHg Post op – Th/ lanjut


11 mengatakan Nadi : 88x/m Hernia
/1 nyeri lupa op Suhu : 37 scrotalis
7 (+), mual (-) RR : 20x/m irreponible
muntah (-) SaO2: 98% H+2
FOLLOW UP
2/ Os TD : 145/70 mmHg Post Op – Th/ lanjut
11 mengataka Nadi : 78x/m Hernia – Acc pindah ke
/1 n nyeri lupa Suhu : 36.7 scrotalis ruang bangsal
7 op (+) RR : 20x/m irreponible – Ambroxol
Batuk (+) SaO2: 98% H+3
Demam (-)
sesak (-)
3/ Os TD : 100/70 mmHg Post Op – Th/ lanjut
11 mengatak Nadi : 80x/m Hernia
/1 an nyeri Suhu : 36.6 scrotalis
7 lupa op (+), RR : 24x/m irreponible
sesak (+), SaO2: 98% H+4
mual (+),
batuk (+)
4/ Nyeri luka TD : 140/80 mmHg Post Op – Th/ lanjut
11 Operasi (-) Nadi : 100x/m Hernia
/1 Mual (+), Suhu : 37.1 scrotalis
7 muntah (-) RR : 20x/m irreponible
SaO2: 98% H+5
TINJAUAN PUSTAKA
DEFINISI

Prostusi atau penonjolan isi


suatu rongga melalui defek
atau bagian lemah dari
dinding rongga
bersangkutan.

Hernia terdiri atas cincin,


kantong dan isi hernia
ANATOMI
ETIOLOGI

Kongenital

Aquisial
• Tekanan intra abdomen ↑ → mengejan, batuk
• Distensi abdomen → massa abdomen
• Kelemahan dinding abdomen → usia,
malnutrisi
• Pembedahan abdomen
KLASIFIKASI

• Menurut lokasinya
a) Hernia inguinalis
b) Hernia umbilikalis
c) Hernia femoralis
d) Hernia scrotalis

• Menurut isinya
a) Hernia usus halus
b) Hernia omentum
KLASIFIKASI

Menurut penyebabnya
• Hernia kongenital
• Hernia inisisional
• Hernia traumatik
Menurut sifatnya
• Hernia reponible
• Hernia irreponible

Menurut klinisnya
• Hernia inskarserata → gangguan pasase usus → nyeri, mual, bising usus ↓
• Hernia strangulata → gangguan pasase dan vaskularisasi → nyeri, mual
muntah, bising usus hilang, tanda peritonitis
PADA KASUS

Menurut lokasi terjadinya merupakan


hernia scrotalis

Menurut sifatnya masuk ke dalam hernia


irreponible

Menurut klinisnya termasuk dalam hernia


inkarserata
PATOFISIOLOGI
PATOFISIOLOGI

• ↑ tekanan intra abdominal → kelemahan dinding


abdominal → masuknya isi rongga perut melalui canalis
inguinalis → menonjol keluar dari anulus inguinalis
eksterna → tonjolan akan sampai ke skrotum
PATOFISIOLOGI

• Perlengketan antara isi hernia


dengan dinding kantong hernia
sehingga isi hernia → tidak dapat
dimasukan kembali

• Jika terjadi penekanan terhadap


cincin hernia → isi hernia akan
mencekik → gangguan pasase
usus (obstruksi, ileus) → Hernia
inkarserata → gangguan
vaskularisasi → nekrosis gangren
→ Hernia strangulata
DIAGNOSIS

PEMERIKSAAN FISIK

ISNPEKSI
•Melihat benjolan sesuai dengan letaknya

PALPASI
•Dengan menggunakan tehnik manuver valsava dan melakukan pada beberapa titik:
•Titik tengah antar SIAS dengan tuberkulum pubicum (AIL) →hernia inguinalis medialis
•Titik yang terletak di sebelah lateral tuberkulum pubikum (AIM)→nernia inguinalis lateralis

PERKUSI
•Bila didapatkan perkusi perut kembung maka harus dipikirkan kemungkinan herniastrangulata.
Hipertimpani, terdengar pekak

AUSKULTASI
•Hiperperistaltis didapatkan pada auskultasi abdomen pada hernia yang mengalamiobstruksi usus
(hernia inkarserata)
DIAGNOSIS

Tiga teknik pemeriksaan


sederhana yaitu finger test,
Ziemen test dan Tumb tes.
• Finger test
• Menggunakan jari ke 2 atau jari ke 5
• Dimasukkan lewat skrortum melalui
anulus eksternus ke kanal inguinal
• Penderita disuruh batuk
• Bila impuls diujung jari Hernia
inguinalis laterlis
• Bila impuls disamping jari Hernia
ingunalis medialis
DIAGNOSIS

Ziemen test

• Posisi berbaring, bila ada benjolan


masukkan dulu (biasanya oleh
penderita
• Hernia kanan diperiksa dengan
tangan kanan
• Penderita disuruh batuk bila
rangsangan pada :
• jari ke 2 : Hernia Inguinalis Lateralis
• jari ke 3 : hernia Ingunalis Medialis
• jari ke 4 : Hernia Femoralis.
Tuhmb test

• Anulus internus ditekan


dengan ibu jari dan
penderita disuruh mengejan
• Bila keluar benjolan
• Bila keluar benjolan berarti
Hernia inguinalis medialis
• Bila tidak keluar benjolan
berarti Hernia inguinalis
lateralis
DIAGNOSIS BANDING
PENATALAKSANAAN

Hampir semua hernia harus diterapi dengan operasi

Teknik Operasi
• Berdasarkan pendekatan operasi, banyak teknik herniorraphy
dapat dikelompokkan dalam 4 kategori utama .
• Kelompok 1 : Open Anterior Repair
• Kelompok 2 : Open Posterior Repair
• Kelompok 3 : Tension-free Repair with Mesh
• Kelompok 4 : Laparascopic
KELOMPOK 1 : OPEN ANTERIOR REPAIR

• Teknik Basini
• Bassini repair. Teknik ini
mulai diperkenalkan pada
tahun 1889, merupakan
teknik yang simple dan
cukup efektif. Prinsipnya
adalah approksimasi
fascia tranversalis, otot
tranversus abdominis dan
otot obliqus internus
(ketiganya dinamai the
bassini triple layer)
dengan ligamentum
inguinal
KELOMPOK 2 : OPEN POSTERIOR REPAIR

• Posterior repair (iliopubic tract repair dan teknik Nyhus)


dilakukan denganmembelah lapisan dinding abdomen
superior hingga ke cincin luar danmasuk ke properitoneal
space. Diseksi kemudian diperdalam kesemuabagian
kanalis inguinalis. Perbedaan utama antara teknik ini dan
teknik open anterior adakah rekonrtuksi dilakukan dari
bagian dalam
KELOMPOK 3 : TENSION-FREE REPAIR
WITH MESH
• Kelompok 3 operasi
hernia (teknik Lichtenstein
dan Rutkow )
menggunakan
pendekatan awal yang
sama degan teknik open
anterior. Akan tetapi
tidak menjahit lapisan
fascia untuk memperbaiki
defek , tetapi
menempatkan sebuah
prostesis, mesh yang tidak
diserap
KELOMPOK 4 : LAPARASCOPIC

• Saat ini kebanyakan teknik laparoscopic herniorrhaphies


dilakukan menggunakan salah satu pendekatan
transabdominal preperitoneal (TAPP) atau total
extraperitoneal (TEP). Pendekatan TAPP dilakukan
dengan meletakkan trokar laparoscopic dalam cavum
abdomen dan memperbaiki region inguinal dari dalam
KOMPLIKASI

Komplikasi saat pembedahan antara lain:


• Perdarahan, arteri-vena epigastrika inferior atau arteri vena spermatika.
• Lesi nervus ileohypogastrika,ileoinguinalis.
• Lesi vas defferens, buli buli, usus

Komplikasi segera setelah pembedahan:


• Hematome
• Infeksi
Komplikasi lanjut:
• Atrofi Testis
• Hernia residif
PROGNOSIS

Umumnya sebanyak 1-3% tindakan


operasi yang dilakukan oleh dokter
bedah yang expert dapat terjadi
hernia rekuren dalam waktu 10 tahun
yang mungkin dapat diakibatkan
karena kurangnya jaringan dan tidak
kuatnya hernioplasty yang dilakukan.
TERIMAKASIH