Anda di halaman 1dari 30

Dosen Pembimbing : Dr. Yessy Dessy Arna, M.Kep, Sp.

Kom
KELOMPOK 7 :

• Cherlly Febian Nanda (P27820416015 / 06)

• Lailatul Afifah Hidayati (P27820416025 / 10)

• Citra Ayu Diarti (P27820416047 / 20)

• Retno Ayu Setyorini (P27820416049 / 22)


PERUBAHAN MOTORIK

• Lansia mengalami perubahan pada anatomi dan


fisiologis tubuhnya, yang menyebabkan
penurunan pada fungsi sistem motorik tubuh.
Fungsi mobilisasi manusia dihubungkan pada
tiga hal, yakni tulang, otot dan persendian, yang
didukung oleh sistem syaraf.
Terjadinya Perubahan Pada:

Tulang

Otot

Sendi
Masalah Mobilisasi pada Lansia

• Berkurangnya kekuatan otot


• Keterbatasan rentang gerak persendian
• Menurunnya sistem pendukung lain yang
menambah resiko jatuh dan fraktur pada lansia,
seperti penurunan penglihatan dan sistem
syaraf.
• osteoporosis, jatuh dan fraktur, serta arthritis.
Osteoporosis

• Osteoporosis adalah proses menurunnya massa


tulang secara berangsur-angsur yang dapat
menjadi predisposisi terjadinya fraktur.
Jatuh dan Fraktur
• Fraktur, terutama yang berhubungan dengan
osteoporosis dianggap sebagai penyebab utama
morbiditas dan disabilitas pada usia tua. Faktor resiko
untuk fraktur antara lain adalah penurunan fungsi
penglihatan, kognitif, lingkungan tak kondusif
• Penyebab jatuh pada lanjut usia merupakan gabungan
dari beberapa faktor/multifaktor. Jatuh pada lansia
biasanya menimbulkan komplikasi, antara lain:
rusaknya jaringan lunak yang terasa nyeri/sakit,
robeknya jaringan otot,arteri /vena ,kecacatan.
Artritis
• Artritis dikenal dalam berbagai jenis, diantaranya yang paling
umum yaitu ostoartritis, rheumatoid arthritis dan gout
arthritis (asam urat). Pada osteoarthritis, faktor resikonya
antara lain adalah sebagai berikut:
• Umur
• Faktor genetik
• Terlalu banyak aktivitas

Pada rheumatoid atritis, faktor resikonya antara lain:


• Faktor genetik
• Infeksi, virus Epstein-Barr
Kelumpuhan
• Hilangnya fungsi dari bagian tubuh yang terkena.
• Penyebab Kelumpuhan
1. Trauma : kecelakaan, jatuh tergelincir.
2. Non Trauma: radang,stroke,hipertensi
• Ada 3 jenis:
1. Lumpuh sebelah badan (Hemiplegia)
2. Lumpuh kedua tungkai kaki (Paraplegia)
3. Lumpuh keempat anggota gerak (Quadriplegia)
POSISI TIDUR YANG DIANJURKAN
Perawatan Rehabilitasi Dasar

1. Perawatan saluran pernafasan, dapat dilakukan secara aktif dan pasif.

2. Latihan menggerakan sendi-sendi tiap hari secara penuh dan meletakkan posisi

fungsional yang sempurna.

3. Melatih otot-otot yang lemah sehingga dapat memperkuat otot-otot yang

terganggu
Pengkajian Holistik dan Komprehensif pada Lansia
dengan Gangguan Mobilisasi

• Aktivitas dan pola istirahat (dulu dan sekarang)


• Diet klien (asupan kalsium dan vitamin D)
• Penggunaan obat-obatan baik yang dijual bebas maupun resep dokter
(dulu dan sekarang)
• Cidera pada masa lalu (misal: fraktur, nyeri sendi, dan sebagainya)
• Pertanyaan spesifik tentang praktik keamanan klien
Pengkajian Fisik Muskuloskeletal

Pengkajian Sikap
• Sikap : Dimulai dengan mengkaji postur dari
depan, belakang, dan samping. Mencari
kesimetrisan bahu dan tulang belikat. Mencari
deformitas kelengkungan tulang belakang:
deformitas struktural atau deformitas fungsional.
Mengukur Kekuatan Otot
0 Otot tidak mampu bergerak
1 Otot ditekan masih ada kontraksi atau kekenyalan, ini berarti otot
masih belum atrofi atau belum layu

2 Dapat menggerakkan otot atau bagian yang lemah sesuai perintah


tetapi jika ditahan sedikit saja sudah tidak mampu bergerak

3 Dapat menggerakkan otot dengan tahanan minimal


4 Dapat bergerak dan dapat melawan hambatan ringan
5 Dapat bergerak dan dapat melawan tahanan yang setimpal
Intervensi dalam Pengelolaan Kebutuhan
Mobilisasi Lansia
• Upaya perawat mempertahankan kemampuan dan fungsi
sistem muskuloskeletal pada lansia dilakukan dengan
intervensi latihan fisik.
1. Kompres
2. ROM
KOMPRES
Pada kontraktur, efek panas dari kompres panas akan
mengurangi kontraktur dan meningkatkan rentang pergerakan
sendi dengan lebih memungkinkan terjadinya sintesis otot dan
jaringan penyambung.

Latihan Fisik: Range of Motion


• Tujuan : untuk pemeliharaan kekuatan dan ketahanan sistem
muskuloskeletal.
• Prinsip pemberian latihan fisik lansia yaitu kondisi lansia
sehat, latihan dimulai dari yang sederhana (seperti: ROM),
latihan dapat secara aktif atau pasif, dan latihan dilakukan
secara bertahap untuk mencapai target denyut jantung.
Latihan Fisik: Range of Motion
• Tujuan : untuk pemeliharaan kekuatan dan ketahanan sistem
muskuloskeletal.
• Prinsip pemberian latihan fisik lansia yaitu kondisi lansia
sehat, latihan dimulai dari yang sederhana (seperti: ROM),
latihan dapat secara aktif atau pasif, dan latihan dilakukan
secara bertahap untuk mencapai target denyut jantung.
Tujuan dari latihan RPS :
• mempertahankan fungsi mobilisasi sendi
• memulihkan atau meningkatkan fungsi sendi dan kekuatan
otot yang berkurang karena proses penyakit, kecelakaan, atau
tidak digunakan
• mencegah komplikasi dari immobilisasi seperti atropi otot dan
kontraktur
• mempersiapkan latihan lebih lanjut.
RPS tidak boleh dilakukan
pada :
• lansia yang memiliki gangguan pada sistem kardiovaskuler dan
pernapasan
• lansia yang mengalami pembengkakan dan peradangan sendi
• serta lansia yang mengalami cidera pada sistem
muskuloskeletal di sekitar sendi.
Jenis latihan RPS
• RPS aktif: klien melakukan latihan secara mandiri dengan
atau tanpa supervise dari perawatmeningkatkan penampilan
kognitif.
• RPS aktif asistif: latihan dilakukan oleh klien sesuai dengan
kemampuannya dan sisanya dibantu perawat.
• RPS pasif: latihan diberikan oleh perawat atau anggota tim
kesehatan lain dimana klien menggerakkan rentang sendi
oleh rentang geraknya orang lain.
Penggunaan alat bantu jalan
Walker ( alat bantu jalan ) Canes
Diet pada lansia dengan gangguan
mobilisasi
a. Diet tinggi kalsium
susu, kedelai atau dalam bentuk olahannya seperti tahu, keju,
brokoli, ikan sarden dan ikan salmon
b. Diet tinggi vit D
c. Diet rendah purin
daging, ikan, kerang, kacang-kacangan, kacang buncis, bunga kol,
bayam
Diagnosa keperawatan yang sering muncul:

• 1. Nyeri akut/kronis berhubungan dengan inflamasi.


• 2. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri dan
gangguan musculoskletal.
• 3. Resiko cidera berhubungan dengan penurunan fungsi
tulang.
INTERVENSI DIAGNOSA 1
• Kaji keluhan nyeri, catat lokasi dan intensitas (skala 0 – 10).
• Berikan matras atau kasur keras, bantal kecil. Tinggikan tempat
tidur sesuai kebutuhan
• Biarkan pasien mengambil posisi yang nyaman pada waktu tidur
atau duduk di kursi. Tingkatkan istirahat di tempat tidur sesuai
indikasi
• Dorong untuk sering mengubah posisi. Bantu pasien untuk
bergerak di tempat tidur, sokong sendi yang sakit di atas dan di
bawah, hindari gerakan yang menyentak
• Anjurkan pasien untuk mandi air hangat . Sediakan waslap hangat
untuk mengompres sendi-sendi yang sakit beberapa kali sehari.
INTERVENSI DIAGNOSA 2
 Berikan terapi latihan fisik : ambulasi, keseimbangan, mobilitas
sendi, pengendalian otot
• Bantu dan dorong perawatan diri
INTERVENSI DIAGNOSA 3
• Manejemen lingkungan: pantau lingkungan fisik untuk
memfasilitasi keamanan.
• Berikan bimbingan dan pengalaman belajar tentang kesehatan
individu yang kondusif
• Identifikasi faktor resiko potensial terjadinya cidera
KESIMPULAN
Mobilisasi adalah kebutuhan manusia yang harus
dipenuhi agar kebutuhan dasar lain dapat tercapai dengan
maksimal. Sistem dalam tubuh manusia dapat mempengaruhi
sistem lain.
Penuaan pada setiap individu adalah normal. Proses
penuaan tersebut diiringi dengan perubahan fisik dan psikologis.
Salah satu gangguan yang terjadi pada lansia adalah gangguan
mobilisasi. Mobilitas adalah pergerakan yang memberikan
kebebasan dan kemandirian bagi seseorang. Sistem mobilisasi
erat kaitannya dengan sistem muskuloskeletal karena tulang,
sendi, dan otot merupakan unsur pembentuk sistem mobilisasi.

Anda mungkin juga menyukai