Anda di halaman 1dari 13

FILSAFAT ILMU

METAFISIKA

NURFIAH
G2J1 18 007
PENGERTIAN METAFISIKA

Metafisika berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri atas dua


kata yaitu meta dan pysika. Meta artinya sesudah atau dibalik
sesuatu dan pyisika artinya nyata, kongkrit yang dapat diukur
oleh jangkauan panca indera. Metafisika adalah suatu kajian
tentang haakikat keberadaan zat, hakikat pikiran dan hakikat
zat dengan pemikiran. Ahli metafisika juga berupaya
memperjelas pemikiran-pemikiran manusia mengenai dunia,
terasuk keberadaan, kebendaan,sifat, ruang, waktu,
hubungan sebab akibat, dan kemungkinan.
SEJARAH METAFISIKA

Secara tidak resmi dan sistematis, sejarah metafisika telah dimulai


ketika Adam diciptakan. Nabi pertama ini adalah manusia yang
berpikir, dengan sendirinya, ia juga melakukan praktek
metafisika, yaitu minimal bertanya dan mencari jawabannya.
Namun pada saat itu belum disebut metafisika. Nama metafisika
diduga berasal dari Adronikus, salah seorang yang menerbitkan
karya-karya Aristoteles sekitar tahun 40 S.M. Ia menempatkan
bahasan metafisika setelah bahasan fisika. Sejak itulah orang
berpikir bahwa itulah asal usul nama metafisika. Hal ini ini
diperkuat dengan ungkapan Yunani ta meta ta physica yang
berarti hal-hal sesudah hal-hal fisik. Sementara H.
Reiner berpendapat bahwa nama metafisika telah muncul pada
generasi pertama Aristoteles (wafat tahun 321 S.M.), yaitu sekitar
tahun 300-an S.M.
KLASIFIKASI METAFISIKA

Metaphysica ilmu yang membahas


Generalis mengenai yang ada atau
(Ontologi) pengada

1. Antropologi
Metaphysica 2. Kosmologi
Specialis 3. Teologi
BEBERAPA TAFSIRAN METAFISIKA
Supernaturalisme
manusia terhadap alam ini adalah bahwa terdapat hal-hal dan hal-hal tersebut bersifat
lebih tinggi atau lebih kuasa dibandingkan dengan alam yang nyata, pemikiran seperti ini
disebut pemikiran supernaturalisme.

Naturalisme
gejala-gejala alam tidak disebabkan oleh hal-hal yang bersifat gaib, melainkan karena
kekuatan yang terdapat di alam itu sendiri,yang dapat dipelajari dan dapat diketahui,
dimana standar kebenaran yang mereka gunakan hanyalah logika akal semata

Materialisme
bahwa alam semesta dan manusia berasal dari materi
PEMBUKTIAN DALIL TUHAN
paham mekanistik dan vitalistik
kaum mekanistik melihat gejala alam hanya merupakan gejala kimia fisika semata.
sedangkan bagi kaum vitalistik hidup adalah sesuatu yang unik yang berada secara
substansif dengan hanya sekedar gejala kimia fisika semata.

paham monoistik dan dualistik


aliran monoistik mempunyai pendapat yang tidak membedakan antara pikiran dan zat
keduanya hanya berbeda dalam gejala disebabkan proses yang berlalinan namun
mempunyai subtansi yang sama. penafsiran dualistic membedakan antara zat dan
kesadaran pikiran yang bagi mereka berbeda secara subtansif.
PEMBUKTIAN DALIL TUHAN

Ontologis (Anselmus) berpendapat bahwa segala


sesuatu di dunia tidak ada yang sempurna
melainkan hanya memperlihatkan tingkatan-
tingkatannya (gradasi). Oleh karena itu, tentu ada
satu yang paling sempurna untuk mengatasi semua
ketidak sempurnaan itu yakni the perfect being.
begitu pula dengan pendapat Decrates bahwa
dalam membuktikan keberadaan Tuhan, Descartes
menggunakan tiga argument dasar yang ia sebut
"Cogito“,dimana menurutnya sesuatu yang
sempurna datangnya dari Sesuatu yang Sempurna,
yaitu Tuhan.
METAFISIKA MENURUT AHLI
Menurut Kosmologi Aristoteles
Bahwa alam semesta ditentukan oleh gerak (Motion). Gerak merupakan penyebab
terjadinya perubahan yaitu change di alam semesta. Akhirnya akal manusia tiba pada
suatu titik ultimate yaitu sumber penyebaran dari semua gerak.

Dalil Etis Menurut Imanuel Kant


Pada setiap diri manusia terdapat dua kecenderungan yang bersifat niscaya yaitu
keinginan untuk hidup bahagia dan berbuat baik. Kedua cenderung akan dapat terwujud
dalam kehidupan manusia apabila dijamin oleh 3 postulat, yaitu kebebasan kehendak
(free will) keabadian jiwa (Immortality), dan Tuhan (God) sebagai penjamin hukum moral
(Law giver).
FILOSUF PENENTANG METAFISIKA
David Hume
Metafisika itu cara berfikir yang menyesatkan (sophistry) dan khayalan (Illusion). Sebaiknya karya
metafisika itu dimusnahkan,karena tidak mengandung isi apa-apa. Metafisika bukanlah sesuatu yang
dapat dipersepsi oleh indera manusia, sehingga merupakan sesuatu yang senseless.

Alfred Jules Ayer


Metafisika adalah parasit dalam kehidupan ilmiah yang dapat menghalangi kemajuan ilmu
pengetahuan, metafisika harus dieliminasi dari dunia ilmiah. Problem yang diajukan dalam bidang
metafisika adalah problem semu, artinya permasalahan yang tidak memungkinkan untuk dijawab.

Ludwig Wittgenstain
Metafisika itu bersifat the mystically, hal-hal yang tak dapat diungkapkan ke dalam bahasa yang
bersifat logis. Sesuatu yang tak dapat diungkapkan secara logis sebaiknya di diamkan saja
FILOSUF PEMBELA METAFISIKA
Plotinos
Semua pengada beremanasi dari to Hen (yang satu) melalui proses spontan dan mutlak. To Hen beremanasi pada
Nous (Kesadaran), melimpah Psykhe (jiwa), akhirnya melimpah pada materi sebagai bentuk yang paling rendah,
yaitu meion.

Karl Jaspers
Metafisika merupakan upaya memahami Chiffer ; symbol yang mengantarai eksistensi dan
transendensi. Manusia adalah Chiffer paling unggul, karena banyak dimensi
kenyataan bertemu dalam diri manusia. Manusia merupakan suatu mikrokosmos, pusal kenyataan;
alam, sejarah, kesadaran, dan kebebasan ada dalam diri manusia. Metafisika : berarti membaca
Chiffer, transendensi keilahian, sebagai kehadiran tersembunyi. Chiffer adalah jejak, cermin, gema
atau bayangan transendensi.
OBJEK METAFISIKA

artinya
artinya ilmu
ilmu pengetahuan
pengetahuan mengkaji
mengkaji yang
yang ada
ada itu
itu
dalalm
dalalm bentuk
bentuk semurni-murninya,bahwa
semurni-murninya,bahwa suatu
suatu benda
benda
Ada sebagai itu
itu sungguh-sungguh
sungguh-sungguh adaada dalam
dalam arti
arti kata
kata tidak
tidak
yang ada terkena
terkena perubahan,
perubahan, atau
atau dapat
dapat diserapnya
diserapnya oleh
oleh
panca
panca indra.
indra.

Ada sebagai keberadaan yang mutlak, yang tidak bergantung


Ilahi pada yang lain
METAFISIKA DALAM ILMU PENGETAHUAN

Metafisika bagi pengembangan ilmu dikatakan oleh Thomas Kuhn terletak


pada awal terbentuknya paradigm ilmiah, yakni ketika kumpulan
kepercayaan belum lengkap faktanya, maka ia mesti dipasok dari luar,
antara lain adalah ilmu pengetahuan lain, peristiwa sejarah, pengalaman
personal, dan metafisika. misalnya adalah upaya-upaya untuk memecahkan
masalah yang tak dapat dipecahkan oleh paradigma keilmuan yang lama
dan selama ini dianggap mamppu memecahkan masalah dan membutuhkan
paradigm baru, pemecahan masalah baru, hal ini hanya dapat dipenuhi dari
hasil perenungan metafisik yang dalam banuyak hal memang bersifat
spekulatif dan intuitinf, hingga dengan kedalaman kontemplasi serta imajinasi
akan dapat membuka kemungkinan-kemungkinan atau peluangpeluang
konsepsi teoritis, asumsi, postulat, tesis dan paradigm baru untuk memecahkan
masalah yang ada.
SEKIAN DAN TERIMAKASIH