Anda di halaman 1dari 32

HIDROSEFALUS

NI KADEK WINDA OKTAVIANI


DEFINISI

• Hidrosefalus adalah
keadaan patologis otak
yang mengakibatkan
bertambahnya cairan
serebrospinalis dengan
atau pernah dengan
tekanan intrakranial
yang meninggi Gambaran CT-scan
sehingga terdapat hidrosefalus pada orang
dewasa, tampak pembesaran
pelebaran ventrikel. ventrikel di bagian tengah
HIDROSEFALUS
EPIDEMIOLOGI

• Hidrosefalus infantil, 46% diantaranya adalah akibat


abnormalitas perkembangan otak, 50% karena perdarahan
1 dan meningitis, < 4% akibat tumor fossa posterior.

• Insiden acquired hydrocephalus tidak diketahui secara pasti


karena penyebab penyakit berbeda – beda.
2

• Hidrosefalus dewasa mewakili sekitar 40% dari total kasus


hidrosefalus.
3
ETIOLOGI

• Penyebab penyumbatan aliran CSS yang sering terdapat


pada bayi dan anak ialah :
1. Kelainan bawaan (kongenital)
• Stenosis akuaduktus sylvius
• Spina bifida dan kranium bifida
• Sindrom Dandy-Walker
• Kista arakhnoid, dan
• Anomali pembuluh darah
2. Infeksi
3. Neoplasma
4. Perdarahan
PATHWAY
KLASIFIKASI

• Berdasarkan Anatomi/tempat obstruksi CSS :


1. Hidrosefalus primer, merupakan kelainan akumulusi
CSS yang disertai dengan kenaikan tekanan
intrakranial.
2. Hidrosefalus sekunder, yaitu peningkatan CSS terjadi
setelah hilangnya jaringan otak. Misalnya infark atau
atrofi serebral.
• Berdasarkan usia :
1. Hidrosefalus tipe kongenital/infatil (bayi)
2. Hidrosefalus tipe juvenile/adult (anak – anak/
dewasa)
LANJUTAN...

• Berdasarkan etiologinya :
1. Hidrosefalus obstruktif, yaitu akumulasi berlebihan
CSS di dalam ventrikel, disebabkan oleh obstruksi
terhadap aliran CSS yang melalui sistem ventrikel.
2. Hidrosefalus kongenital, terjadi sekitar 2 per 1000
kelahiran dan kadang – kadang sangat jelas berupa
kepala bayi yang besar sehingga mengganggu
persalinan.
3. Hidrosefalus didapat, bisa disebabkan dari lesi apapun
yang dapat menghambat CSS.
HIDROSEFALUS KONGENITAL

Stenosis akuaduktus Sindrom Dandy-


serebri Walker
LANJUTAN...

Malformasi Arnold- Aneurisma Vena


Chiari Galeni
MANIFESTASI KLINIS

Tengkorak kepala mengalami


pembesaran

Muntah dan nyeri kepala

Kepala terlihat lebih besar dari tubuh

UUB melebar & tdk menutup pada


waktunya, teraba tegang & menonjol

Dahi lebar, kulit kepala tipis, tegang &


mengilat

Pelebaran vena kulit kepala


LANJUTAN...

Terdapat cracked pot sign, bunyi spt pot


bunga retak saat kepala diperkusi

Mata selalu mengarah ke bawah

Pergerakan bola mata

Saluran tengkorak belum menutup &


teraba melebar

Kerusakan saraf, dengan gejala :

Gangguan kesadaran, kejang, gangguan


pusat vital
UKURAN RATA – RATA LINGKAR
KEPALA

Lahir 35 cm

Umur 3 bulan 41 cm

Umur 6 bulan 44 cm

Umur 9 bulan 46 cm

Umur 12 bulan 47 cm

Umur 18 bulan 48,5 cm


PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Rontgen foto kepala


2. Transimulasi
3. Lingkaran kepala
4. Ventrikulografi
5. Ultrasonografi
6. CT-scan kepala
7. MRI
PENATALAKSANAAN

1. Mengurangi produksi CSS


dengan merusak sebagian
pleksus koroidalis, dengan
tindakan reseksi atau
pembedahan, atau dengan
obat azetasolamid (diamox)
yang menghambat
pembentukan CSS.
2. Memperbaiki hubungan
antara tempat produksi CSS
dengan tempat absorpsi
yakni menghubungkan
ventrikel dengan ruang
subarachnoid.
3. Pengeluaran CSS ke dalam
organ ekstrakranial.
KOMPLIKASI

1. Peningkatan TIK
2. Pembesaran Kepala
3. Kerusakan Otak
4. Meningitis, Ventrikularis, abses abdomen
5. Ekstremitas mengalami kelemahan, inkoordinasi,
sensibilitas kulit menurun
6. Kerusakan jaringan saraf
7. Proses aliran darah terganggu
8. Shunt tidak berfungsi dengan baik akibat obstruksi mekanik
9. Infeksi; septicemia, endokarditis, infeksi luka, nefritis,
meningitis, ventrikulitis, abses otak
KASUS
Klien L, usia 2 bulan, masuk melalui IGD dan dirawat di ruang bedah
anak lantai III RSUP Guna Bangsa sejak tanggal 20 Oktober 2016. Klien
di bawa ke RS dengan alasan mengalami pembesaran kepala sejak
lahir. Orangtua klien mengatakan, klien lahir di bidan secara normal.
Pada saat lahir memang kepala klien terlihat agak besar, namun bidan
mengatakan klien normal. Tidak ada kejang. Saat masuk RS, BB 6,7 kg.
TB 58 cm LK 49,8 cm. Klien telah dilakukan operasi pemasangan VP
shunt. Di kepala dan abdomennya tampak balutan luka operasi. Pada
saat pengkajian awal, orang tua klien mengatakan anaknya
mengalami mual muntah sejak 3 hari yang lalu. Kesadaran compos
mentis. TTV klien cukup stabil yaitu : N : 110x/menit, RR : 28x/menit,
S : 36,80C. Klien terlihat berbaring di tempat tidur. Klien terlihat sering
menangis, terutama pada saat dilakukan prosedur invasif seperti
pemasangan infus dan pengambilan sampel darah. Hasil dari
pemeriksaan cairan otak secara makroskopi didapatkan hasil Tes
Nonne (+) dan Tes Pandy (+), protein total 53 mg/d, glukosa 45
mg/dl, dan klorida 667 mg/dl. Sedangkan hasil pemeriksaan
hematologi semuanya dalam batas normal.
PENGKAJIAN

Anmanesa
• Nama : An. L
• Ttl : Sleman, 29 Agustus 2016
• Usia : 2 bulan
• Nama Ayah/Ibu : Ibu S.
• Alamat : Jln. Nusa Indah no. 23,
Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta
• Agama : Islam
• Suku : Jawa
• Keluhan utama : An. L mengalami pembesaran kepala
sejak lahir.
• Riwayat penyakit masa lalu : An. L mempunyai riwayat
batuk, pilek dan demam. Imunisasi BCG & polio, dan
tidak pernah di rawat di RS.
• Riwayat kesehatan saat ini : Diagnosa medis
hidrosefalus, telah dilakukan pemasangan VP shunt,
hasil lab hematologi dlm batas normal. Hasi tes cairan
otak didapatkan tes nonne (+) dan tes pandy (+). Hasil
CT-scan tampak dilatasi ventrikel.
PEMERIKSAAN FISIK

• KU : Baik, compos mentis


• TB/BB : PB 58 cm, BB 6,7 kg
• Mata : Konjungtiva tidak anemis, sclera tidak
ikterik, “sunset eyes”
• Hidung : Jalan nafas tidak ada sumbatan, tidak
terdapat sekresi sputum
• Mulut : Mukosa lembab, berwarna merah muda
• Telinga : Tidak ada sekresi dan tidak ada gangguan
pendengaran
• Kulit : Tugor baik
• TTV : HR 110x/menit, RR 28x/menit, S 36,80C
PEMERIKSAAN TINGKAT
PERKEMBANGAN
1. Kemandirian dan bergaul
• Anak bermain dengan ibunya di tempat tidur, anak
jarang digendong
2. Kognitif (Piaget) dan bahasa
• Anak belum bisa berbicara, hanya menangis
3. Perkembangan psikososial (Erikson)
• Anak hanya bersosialisasi dengan orangtua
4. Perkembangan spiritual
• Belum dapat dikaji
ANALISA DATA
No DATA ETIOLOGI PROBLEM
1 DS: Ibu klien mengatakan kepala klien Gangguan Ketidakefektifa
membesar sejak lahir aliran darah ke n perfusi
DO: Kepala tampak membesar, LK 49,8 cm otak jaringan otak
2 DS: Ibu klien mengatakan klien rewel dan
menangis
DO: Anak tampak meringis dan menangis
F: Menyeringai, mengerutkan dahi (1) Peningkatan Nyeri akut
L: Menendang, kaki tertekuk (2) TIK
A: Menggeliat, tidak bisa diam (1)
C: Merintih dan merengek (1)
C: Dapat ditenangkan dg sentuhan (1)
Total skala nyeri : 6
3 DS: -
DO: Terpasang balutan luka operasi di Luka post Resiko infeksi
kepala dan abdomen operasi
Leukosit : 10.000 uL, S : 36,80C
LANJUTAN...

4 DS: Ibu klien mengatakan anaknya Ketidak


mengalami mual muntah sudah 3 hari Anoreksia, seimbangan
DO: BB 6,7 kg nausea, vomitus nutrisi kurang
Anak tampak menangis saat diberikan dari kebutuhan
ASI tubuh

5 DS: Ibu klien mengatakan klien jarang


melakukan aktiitas bermain
DO: Aktivitas anak terbatas, karena Kelemahan Hambatan
kepala membesar mobilitas fisik
Anak lebih sering bermain di tempat
tidur dan jarang digendong
DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Ketidakefektifan perfusi jaringan otak b/d gangguan


aliran darah ke otak.
2. Nyeri akut b/d peningkatan tekanan intrakranial.
3. Resiko infeksi b/d luka post operasi.
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh b/d anoreksia, nausea, vomitus.
5. Hambatan mobilitas fisik b/d kelemahan
ASUHAN KEPERAWATAN

Dx Tujuan & kriteria hasil Intervensi Implementasi Evaluasi


1 Setelah dilakukan 1. Pertahankan tirah 1. Mempertahankan S: Ibu
tindakan kep. 2x24 baring tirah baring mengatakan
jam, diharapkan 2. Pantau status 2. Memantau status anak tdk demam
ketidak-efektifan neurologis neurologis O: S 36,50C
jaringan otak teratasi 3. Pantau frekuensi, 3. Memantau - Tidak ada
dg kriteria hasil : irama & denyut frekuensi, irama & tanda – tanda
a. Tdk tjd jantung denyut jantung peningkatan TIK
peningkatan TIK 4. Panatau 4. Memantau - LK 49 cm
b. TTV dlm batas pernapasan klien pernapasan klien A: Gangguan
normal 5. Tinggikan kepala 5. Meninggikan perfusi serebral
c. Klien akan 300 kepala 300 tidak terjadi
mempertahankan 6. Ukur LK 1x 6. Mengukur LK 1x P: Intervensi
/ meningkatkan seminggu, seminggu, dihentikan
kesadaran observasi mengobservasi
fontanel dari fontanel dari
cembung & cembung &
palpasi kranial palpasi kranial
LANJUTAN...
Dx Tujuan & kriteria hasil Intervensi Implementasi Evaluasi
2 Setelah dilakukan 1. Kaji tingkat nyeri 1. Mengkaji tingkat S: Ibu
tindakan kep. 2x24 2. Berikan posisi nyeri mengatakan anak
jam, diharapkan nyeri nyaman pd klien 2. Memberikan sdh tdk terlalu
berkurang, dg kriteria 3. Berikan terapi posisi yang rewel & jarang
hasil : non-nutritive nyaman menangis
a. Skala nyeri sucking 3. Memberikan O: Skala nyeri
berkurang 4. Libatkan orangtua terapi non- berkurang
menjadi 3 dalam setiap nutritive sucking menjadi 3
b. Klien tampak tindakan 4. Melibatkan - Anak tampak
tenang & ekspresi 5. Kolaborasi orangtua dalam tenang dan
tdk menyeringai pemberian setiap tindakan ekspresi wajah
c. Klien mampu ketorolac 2x7,5 mg 5. Berkolaborasi menyeringai
berpartisipasi dlm dlm pemberian A: Masalah
aktivitas & ketorolac 2x7,5 teratasi sebagian
istirahat mg P: Lanjutkan
intervensi
LANJUTAN...
Dx Tujuan & kriteria hasil Intervensi Implementasi Evaluasi
3 Setelah dilakukan 1. Monitor TTV 1. Memonitor TTV S: -
tindakan kep. 2x24 2. Observasi tanda 2. Mengobservasi - O: S 36,50C
jam diharapkan infeksi: perubahan tanda infeksi : Luka insisi
infeksi tidak terjadi, suhu, warna, kulit, perubahan suhu, bersih, tidak
dengan kriteria hasil : malas minum, warna, kulit. ada nanah
a. Suhu dan TTV irritability Malas minum - Tidak ada
dlm batas normal 3. Ubah pss kepala 3. Mengubah pss tanda - tanda
b. Luka insisi bersih, setiap 3 jam utk kepala setiap 3 infeksi
tidak ada pus mencegah jam utk mencegah A: Luka infeksi
c. Tidak ada tanda – dekubitus dekubitus tidak terjadi
tanda infeksi pada 4. Observasi tanda- 4. Mengobservasi p: Intervensi
luka post operasi tanda infeksi pd tanda – tanda dihentikan
d. Hasil lab leukosit luka insisi yg infeksi pd luka op
dlm batas normal terpasang shunt shunt
5. Lakukan 5. Melakukan
kolaborasi kolaborasi
pemberian pemberian
ceftriaxone 2x200 ceftriaxone 2x200
mg mg
LANJUTAN...
Dx Tujuan & kriteria Intervensi Implementasi Evaluasi
hasil
4 Setelah dilakukan 1. Monitor adanya 1. Memonitor BB S: Ibu
tindakan kep. 2x24 penurunan BB 2. Mengkaji adanya mengatakan
jam diharapkan 2. Kaji adanya alergi alergi anaknya sudah
nutrisi kembali 3. Kolaborasi dg ahli 3. Berkolaborasi dg tidak
seimbang, dg gizi utk ahli gizi utk mengalami
kriteria hasi : menentukan jml menentukan jml mual muntah lg
a. Adanya nutrisi yg nutrisi yang & lebih sering
peningkatan BB dibutuhkan klien dibutuhkan klien meminum ASI
sesuai dengan 4. Monitor interaksi 4. Memonitor interaksi O: Tidak
tujuan anak /orangtua anak/ orgtua mengalami
b. Mampu selama menyusui selama menyusui penurunan BB
mengidentifikasi 5. Monitor kulit 5. Memonitor kulit - Tugor baik
kebutuhan kering dan kering & perubahan - Intake-
nutrisi perubahan pigmentasi output
c. Tidak ada tanda pigmentasi 6. Memonitor tugor seimbang
– tanda 6. Monitor tugor kulit kulit A: Gangguan
malnutrisi 7. Monitor mual 7. Memonitor mual nutrisi tdk tjd
muntah muntah P: Intervensi
dihentikan
LANJUTAN...
Dx Tujuan & kriteria hasil Intervensi Implementasi Evaluasi
5 Setelah dilakukan 1. Monitor TTV 1. Memonitor TTV S: Ibu
tindakan kep. 2x24 jam sebelum/ sebelum & mengatakan anak
diharapkan klien sesudah bermain sesudah bermain sudah lebih aktif
mampu melakukan 2. Konsultasi dg 2. Mengkonsultasik dlm bermain
aktivitas bermain terapi fisik ttg an dg terapi fisik O: Anak sudah
dengan kriteria hasi : rencana ttg rencana mulai bisa
a. Klien meningkat ambulasi sesuai ambulasi menggerakkan
dlm aktivitas dg kebutuhan 3. Mengajarkan kepalanya
bermain 3. Ajarkan keluarga keluarga klien/ A: Masalah
klien/ tenaga tenaga kesehatan teratasi sebagian
kesehatan lain lain ttg teknik P: Intervensi
tentang teknik ambulasi dilanjutkan
ambulasi 4. Mengkaji
4. Kaji kemampuan kemampuan anak
anak dalam dalam mobilisasi
mobilisasi 5. Membantu anak
5. Bantu anak dalam mobilisasi
dalam mobilisasi
DISCHARGE PLANNING

1. Konsultasikan dengan tenaga medis/ahli gizi tentang


pemberian nutrisi selama di rumah.
2. Kenali gejala-gejala yang dapat membahayakan
penderita.
3. Tingkatkan kebersihan lingkungan dan penderita
sehingga terhindar dari infeksi dan penyakit lain, serta
hindarkan pemaparan asap rokok.
4. Konsultasi dengan dokter atau tenaga medis tentang
cara penanganan dan perawatan selama di rumah.
5. Diharapkan seluruh keluarga memberikan dukungan
atau semangat kepada orangtua dan sipenderia.
TERIMAKASIH
• https://www.slideshare.net/fitriarachmawati/kelom
pok-10-30472163
http://digilib.stikeskusumahusada.ac.id/files/disk1/27/
01-gdl-arthaarwis-1338-1-laporan-i.pdf