Anda di halaman 1dari 36

PSIKIATRI FORENSIK &

ETIKOMEDIKOLEGAL
PSIKIATRI FORENSIK
 Definisi: Penerapan pengetahuan psikiatri dalam masalah-
masalah yang terkait dengan pengadilan dan hukum (buku
ajar psikiatri edisi 2).
 Tugas utama  Penilaian dan penyiapan laporan psikiatri
untuk peradilan bagi pelanggar hukum yang mengalami
kelainan jiwa serta penatalaksanaannya..
Posisi Dokter Dalam Psikiatri Forensik
 1. Posisi Medis

Hubungan dokter
dengan orang yang • Pasien adalah orang bebas, tidak
diperiksa merupakan mempunyai status hukum tertentu dan
hubungan dokter ikatannya dengan dokter berdasarkan
pasien. saling percaya.
• Dokter akan mengemukakan alternatif-
Pemeriksaan dilakukan alternatif tindakan yang akan
untuk menentukan dilaksanakan, sedangkan pasien akan
kondisi kesehatan memilih atau menolak tindakan yang
pasien dan terapinya. ditawarkan oleh dokter.
2. Posisi Legal
 Dokter mendapatkan posisi legal melalui surat dari lembaga hukum
(pengadilan, kejaksaan dan polisi)  meminta dokter untuk
memeriksa seseorang yang telah memiliki status hukum tertentu
(terdakwa, saksi, penggugat)
 Hasil pemeriksaan dokter ini berupa suatu laporan berbentuk
dokumen hukum yang akan dipakai oleh lembaga hukum yang
meminta dalam proses hukum (peradilan).

Posisi dokter dalam hal ini netral dan mempunyai ikatan


kerahasiaan kecuali terhadap lembaga hukum yang
meminta.
Keterangan Ahli
1) Keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan oleh seorang yang memiliki
keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara
pidana guna kepentingan pemeriksaan (KUHAP Ketentuan Umum pasal 1 butir 28)
2) Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan
(KUHAP pasal 186).
3) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau
dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan. (KUHAP
pasal 179 ayat 1)
Lisan,
Disampaikan saksi ahli dalam kesaksiannya di dalam sidang pengadilan
sesuai analisis keilmuannya kepada hakim sebagai bahan untuk
pengambilan keputusan. Kesaksian ahli psikiatri akan dimintakan
 Keterangan
apabila pada salah satuahli
yangdapat disampaikan
berpekara secara;
diduga terdapat gangguan jiwa

Tertulis,
berupa Visum et Repertum yaitu hasil pemeriksaan medis utk
kepentingan peradilan sebagai sarana pembuktian. Visum et Repertum
untuk bidang psikiatri disebut Visum et Repertum Psyciatricum.
Visum et Repertum Psyciatricum
 Terhadap suatu perkara, di dalam sidang pengadilan penghimpunan alat bukti
merupakan bagian penting untuk memberikan keyakinan pada hakim dalam pengambilan
keputusan hukum.
 Alat bukti yang sah, antara lain:
1. Pengakuan terdakwa, keterangan saksi/saksi ahli, alat bukti
2. Petunjuk, alat bukti terdakwa
FUNGSI VeRP
Membantu
menentukan
apakah terperiksa Membantu
mengalami menentukan cakap
gangguan jiwa tidaknya
dengan upaya Membantu terperiksa Membantu
menegakkan menentukan bertindak dalam menentukan
diagnosis kemungkinan lalu lintas hukum. kemampuan
adanya hubungan bertanggung
antara gangguan jawab pada
jiwa pada terperiksa
terperiksa dengan
peristiwa
hukumnya
 Pasal 44 ayat 1 dan 2
“Barang siapa mengerjakan sesuatu perbuatan, yang tidak dapat
dipertanggungkan kepadanya karena kurang sempurna akalnya atau
karena sakit berubah akal tidak boleh dihukum.
Jika nyata perbuatan itu tidak dapat dipertanggungkan kepadanya
karena kurang sempurna akalnya atau karena sakit berubah akal, maka
Hakim boleh memerintahkan menempatkan ia di rumah sakit jiwa
selama-lamaya satu tahun untuk diperiksa.
Yang berhak menjadi pemohon Visum et Repertum Psychiatricum

 Penyidik
 Penuntut Umum
 Hakim Pengadilan
 Tersangka atau terdakwa, melalui pejabat sesuai dengan tingkat
proses pemeriksaan
 Korban, melalui pejabat sesuai dengan tingkat proses pemeriksaan
 Penasehat hukum, melalui pejabat sesuai dengan tingkat proses
pemeriksaan.
Kasus-kasus hukum yang sering dimintakan VeR Psychiatricum:

1.Kasus pidana
a.terperiksa sebagai pelaku
b.terperiksa sebagai korban
2.Kasus perdata
a.pembatalan kontrak
b.pengampuan atau curatelle
c.hibah
d.perceraian
e.adopsi
3.Kasus-kasus lain
a.kompentensi untuk diinterview
b.kelayakan utk diajukan di sidang pengadilan
Tatacara Permintaan VeRP

Surat permintaan tertulis dari penegak hukum (pemohon) yang


ditujukan kepada sarana yankeswa pemerintah, berisi :
 Identitas lengkap pemohon
 Identitas lengkap tersangka
 Alasan permintaan VeRP
 Berita acara pemeriksaan (BAP)
Pemeriksaan Psikiatri Forensik

Secara umum, tahapan pemeriksaan dalam psikiatri forensik terbagi


atas 4 fase. Fase tersebut adalah :

1. Persiapan Kasus
Tahapan persiapan kasus merupakan tahapan yang penting dalam
pemeriksaan psikiatri forensik. Tahapan ini dilakukan sebelum
seorang dokter melakukan pemeriksaan serta menentukan apakah
dokter akan menerima atau tidak kasus tersebut.
Pada tahapan ini dokter akan melakukan:
 a. Identifikasi alasan perujukan untuk pemeriksaan.
Alasan perujukan untuk pemeriksaan harus jelas disebutkan dalam suatu surat
permintaan tertulis. Posisi terperiksa pun harus jelas disebutkan dalam surat
permintaan pemeriksaan karena akan menentukan pemeriksaan psikiatri forensik
jenis apakah yang akan dilakukan terhadap terperiksa.

 b. Klarifikasi peranan dokter dalam kasus.


Surat permintaan pemeriksaan juga harus menyebutkan secara jelas peranan yang
akan dijalani dokter di dalam kasus tersebut, yaitu:
(1) penilai forensik dan saksi ahli,
(2) mediator proses peradilan di antara pihak-pihak yang bersengketa,
(3) konsultan yang tidak menjadi saksi untuk pihak yang berkepentingan (misalnya
untuk pihak pengacara).
 c. Menentukan apakah akan menerima kasus tersebut atau tidak.
Seorang dokter hanya boleh menerima kasus yang Sesuai dengan kompetensinya,
misalnya pemeriksaan psikiatri forensik untuk kasus dengan terperiksa anak hanya
dapat dilakukan oleh seorang psikiater anak. Seorang psikiater umum tidak dapat
melakukan Pemeriksaan untuk kasus Semacam ini karena tidak sesuai dengan
kompetensinya kecuali terdapat peraturan perundangan yang memungkinkan hal
tersebut dapat dilakukan.

 d. Menentukan biaya pemeriksaan.


Biaya pemeriksaan dan biaya-biaya lain yang mungkin timbul kemudian dari proses
Pemeriksaan psikiatri forensik harus dijelaskan sejak awal terhadap pihak yang
berkepentingan dan harus sudah disepakati sebelum pemeriksaan dilakukan.
Umumnya untuk keakuratan hasil pemeriksaan, sering kali dilakukan berbagai
pemeriksaan psikologi atau pemeriksaan kesehatan lainnya.
2. Pengumpulan Data
 Evaluasi psikiatri forensik bersifat komprehensif yang meliputi
pengumpulan informasi klinis yang relevan serta informasi hukum
yang berkaitan dengan terperiksa.
 Informasi ini umumnya diperoleh dari berbagai sumber baik dari
terperiksa sendiri maupun pihak-pihak lainnya. Pengumpulan
informasi umumnya dilakukan dalam beberapa sesi wawancara baik
terhadap terperiksa ataupun pihak-pihak lainnya yang diperlukan
dan tes Psikologis.
 Wawancara psikiatri ditujukan untuk menentukan status mental dan
kesehatan terperiksa saat ini.
 Berbagai informasi terkait yang juga dikumpulkan dalam tahapan pengumpulan
data adalah:

- Riwayat gangguan psikiatri dan perawatan psikiatri sebelumnya


- Data hasil tes psikologis yang pernah dilakukan sebelumnya
- Dokumen rumah sakit, tempat kerja, laboratorium, dan farmasi
- Riwayat akademis
- Evaluasi dari tempat kerja
- Riwayat finansial
- Riwayat militer
- Riwayat hukum
- Catatan harian, jurnal, atau data elektronik yang pernah ditulis oleh
terperiksa
3. Analisis data
 Setelah informasi dan data yang diperlukan terkumpul 
analisis sesuai dengan masalah hukum pada kasus yang
diperiksa, misalnya: diagnosis psikiatri, risiko kekerasan,
penilaian kompetensi, kemampuan bertanggung jawab, dan lain
sebagainya.
 Dokter juga harus menentukan kredibilitas sumber informasi
kolateral yang didapatkan serta menilai hubungan kausalitas
dalam kasus tersebut.
4. Pembuatan laporan dan dokumentasi.
 Hasil pemeriksaan psikiatri untuk berbagai kasus hukum umumnya akan
dituangkan dalam bentuk laporan tertulis yang nantinya dapat menjadi
dokumen hukum.
 Bila mana pihak yang meminta pemeriksaan tidak memintakan laporan
tertulis, misalnya ketika hasil pemeriksaan ternyata memberatkan
terperiksa biasanya pihak pengacara akan meminta dokter untuk
memberikan hasil evaluasinya dalam bentuk lisan.
 Namun demikian, dokumen tertulis masih dapat dimintakan secara
paksa oleh pihak yang berwenang sesuai dengan hukum yang berlaku.
Laporan tertulis yang dihasilkan dapat berbentuk Visum et repertum
Psychiatricum dan Surat Keterangan Kesehatan Jiwa.
Syarat yang harus dipenuhi seorang dokter
untuk membuat VeRP
1. Bekerja pada fasilitas perawatan pasien gangguan jiwa atau
bekerja pada lembaga khusus untuk pemeriksaan
2. Tidak berkepentingan dalam perkara yang bersangkutan
3. Tidak ada hubungan keluarga atau terikat hubungan kerja
dengan tersangka atau korban
4. Tidak ada hubungan sengketa dalam perkara lain.
 Dokter/psikiater akan berusaha menerbitkan VERP dalam
jangka waktu 14 hari kecuali diperlukan waktu yang lebih
panjang dan dengan izin instansi yang meminta.
Pemeriksaan dalam pembuatan Visum et Repertum Psychiatricum
Pemeriksaan psikiatrik merupakan rangkaian pemeriksaan yang terdiri dari pemeriksaan
pada fungsi psikomotor, afektif, dan kognitif.

Pemeriksaan fungsi psikomotor merupakan usaha penelaahan antara lain tentang :


 kesadaran
 sikap
 tingkah laku
 kontak psikis, dll.

Pemeriksaan afektif antara lain :


 alam perasaan dasar
 stabilitas emosi
 ekspresi dan emosional
 empati, dan sebagainya.
Pemeriksaan kognitif antara lain tentang :
 persepsi dan gangguan persepsi
 daya ingat
 dugaan taraf kecerdasan
 kemampuan membatasi dan membedakan fakta, data, dan ide
(discriminative judgement )
 kemampuan menilik diri sendiri (discriminative insight)
 ada tidaknya kelainan pada isi pikiran, dan
 keadaan mutu pikiran.
 pemeriksaan tambahan, seperti evaluasi psikologis, pemeriksaan
laboratories, pemeriksaan radiologi, EEG, CT scan dll,
Pemeriksaan kemampuan betanggung jawab:

a. Diagnosis : adanya gangguan jiwa pada saat pemeriksaan dan pada saat pelanggaran
hokum

b. Dugaan bahwa tindakan pelanggaran hokum merupakan bagian atau gejala dari
gangguan jiwanya

c. Penentuan kemampuan tanggung jawab:

 Tingkat kesadaran pada saat melakukan pelanggaran hokum

 Kamampuan memahami nilai perbuatannya

 Kemampuan memahami nilai resiko perbuatannya

 Kemampuan memilih dan mengarahkan kemampuannya


Mampu
bertanggung
Bertanggung jawab penuh
Jawab
Tidak Sebagian
mampu
bertanggung
jawab
Pemeriksaan Kompetensi (cakap) dalam lalu lintas hukum:

Penilaian tentang kemampuan mengambil keputusan atau tindakan yang benar dan baik

 Tindakan yang mungkin akan dilakukan oleh si terperiksa terutama yang bersangkutan dengan hartanya atau

dalam hubungannya dengan hubungan sosial yang memiliki konsekuensi yuridis.

 Disebut pemeriksaan prognostik dimana tindakan diperkirakan akan segera dilakukan sesudah pemeriksaan

 Pada gangguan jiwa yang dapat sembuh (reversible), penentuan kompetensi tidak begitu berarti. Pada

gangguan jiwa yang menetap (irreversible), maka akan berlanjut pada kasus-kasus pengampuan, hibah atau

pewarisan dan sebagainya.


 Penetuan hubungan sebab-akibat (kausalitas) antara suatu
kondisi dengan timbulnya gangguan jiwa.

Kasus- kasus yang memerlukan pemeriksaan ini adalah


 Kasus yang terperiksa adalah korban
 Kasus ganti rugi pada gangguan jiwa atau cacat jiwa akibat
suatu kondisi kerja.
 Seseorang (terperiksa) akan diajukan ke pengadilan harus memenuhi syarat-
syarat berikut:
 Apakah sidang dapat dilaksanakan (applicable)? Sidang dapat dilaksanakan apabila
terperiksa dapat menaati peraturan ketertiban sidang.

 Apakah sidang tidak berbahaya ( harmful) bagi terperiksa? Sidang tidak dapat
dilaksanakan apabila suasana sidang terlalu menekan sehingga terperiksa dapat
menjadi sakit atau bahkan meninggal

 Apakah sidang bermanfaat ( beneficial)? Diharapkan dalam sidang, terperiksa


mengerti akan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dan dapat mengungkapkan
pendapatnya dan dimengerti orang lain.

 Kompetensi untuk ditanya (competence to be interviewed) dan kelayakan untuk


diajukan di siding pengadilan ( fitness to stand trial).
 Yang dapat disimpulkan pada Vet R Psychiatricum
 Diagnosis, yaitu ada tidaknya gangguan jiwa pada terperiksa
 Kemampuan bertanggung jawab atau kecakapan bertindak
dalam lalu lintas hukum, yg sebenarnya merupakan istilah
hukum, oleh pembuat VER dicoba utk diterjemahkan dan
ditetapkan dlm pemeriksaan klinis.
 Bentuk baku Visum et Repertum Psyciatricum

I. Identitas pemeriksa

II. Identitas peminta

III. Identitas terperiksa

IV. Laporan hasil pemeriksaan

1.anamnesis

2.status internistik

3.status neurologik

4.status psikiatrik

5.pemeriksaan tambahan

6.diagnosis

V. Kesimpulan
contoh
Nama Sarana Pelayanan Kesehatan Jiwa

demi keadilan (pro justitia)

Visum et Repertum Psychiatricum

No :…………………………..

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama :

Pangkat/NIP/NRP :

Jabatan :

Tempat dan alamat observasi :

Atas permintaan tertulis dari :

Nama :

Pangkat/NIP/NRP :

Jabatan :
Instansi :
Alamat :
No surat :
Tanggal :
Perihal :
Telah melakukan pemeriksaan dan observasi kesehatan jiwa
(psikiatri) pada tanggal ( ditulis dengan huruf)s/d tanggal
(ditulis dengan huruf) terhadap….........................................
Nama :
Umur :
Jenis Kelamin :
Agama :
Alamat :
Pendidikan :
Status perkawinan :
Pekerjaan :
Status terperiksa : tersangka/terdakwa/korban/narapidana
Tuduhan :
 Laporan Hasil Pemeriksaan
1. Anamnesis didapat dari :
a. berita acara pemeriksaan dari kepolisian
b. autoanamnesis (terperiksa)
c. alloanamnesis (berbagai sumber)
2. Hasil pemeriksaan dan observasi psikiatrik
3. Hasil pemeriksaan fisik
4. Pemeriksaan penunjang
 Kesimpulan :
 ada/tidaknya gangguan jiwa (diagnosis dan deskripsi)
 Apakah prilaku pelanggaran hukum merupakan gejala/bagian dari
gangguan jiwa.
 Ada tidaknya unsur-unsur kemampuan bertanggung jawab
berdasarkan :
 Apakah terperiksa mampu dan memahami resiko tindakannya?
 Apakah terperiksa mampu memaksudkan suatu tujuan dengan sadar?
 Apa pemeriksa mampu mengarahkan kemauan/ tujuan tindakannya?
6. Saran:
7. Penutup
demikianlah Visum et Repertum Psychiatricum ini dibuat
mengingat sumpah sewaktu menerima jabatan.

Tempat / tanggal (dengan huruf)


Dokter yang memeriksa
NIP/NRP