Anda di halaman 1dari 62

Hernia

Febri Yudha Adhi Kurniawan


Pembimbing : dr. Dini S. Warsodoedi., Sp. B

SMF ILMU BEDAH


RSUD WALED KAB CIREBON
FK UNSWAGATI
2019
Definisi
• Hernia merupakan protrusi atau penonjolan
isi suatu rongga melalui defek atau bagian
lemah dari dinding rongga bersangkutan.
• Terdiri atas cincin, kantong, dan isi hernia
Epidemiologi
• Sekitar 75% dari kasus hernia yang terjadi terjadi
adalah hernia inguinalis.
• 90% dari kasus hernia inguinalis terjadi pada laki-laki
dan 10% pada wanita
• Prevalensi hernia pada laki – laki paling banyak
adalah dibawah usia 1 tahun atau diatas 40 tahun
• Kejadian paling sering terjadi pada hernia inguinalis
adalah hernia inguinalis indirek
Klasifikasi
Waktu Berdasarkan
Sifat Letak
terjadinya
Hernia diberi nama
Kongenital Reponible sesuai lokasi
anatominya
Hernia
akuisita Irreponible
(dapatan)

Strangulata

Inkarserata
Klasifikasi
• Hernia diklasifikasikan menurut berbagai dasar:
– Klasifikasi hernia berdasarkan terjadinya:
• Hernia kongenital, merupakan hernia bawaan yang
terjadi pada saat bayi berada dalam kandungan dan
menetap sampai bayi lahir.

• Hernia akuisita, merupakan hernia dapatan, yang


umumnya terjadi akibat faktor peningkatan tekanan
intra abdomen.
Klasifikasi hernia berdasarkan sifatnya:
• Hernia reponibel, bila isi kantong hernia dapat keluar masuk ke
dalam rongga.
• Hernia irreponibel, bila isi kantong hernia tidak dapat
dikembalikan lagi ke dalam rongga.
• Hernia inkarserata, bila isi kantong hernia terjepit oleh cincin
hernia, sehingga tidak dapat dikembalikan lagi, akibatnya terjadi
gangguan pasase dan tanda-tanda sumbatan usus.(tanda tanda
ileus obstruksi total disertai benjolan pada skrotum)
• Hernia strangulata, bila terjadi gangguan vaskularisasi dari
mulai bendungan sampai nekrosis, pada saat isi hernia terjepit
oleh cincinnya (sangat nyeri pada benjolan dan tanda tanda
infeksi pada benjolan).

6
Gambaran Types of Hernias
NYHUS Classification System
Etiologi
• Kongenital, prosesus vaginalis yang terbuka
• Tekanan intra abdomen meningkat : batuk, mengejan,
mengangkat beban berat, hipertrofi prostat, konstipasi
• Kelemahan otot dinding perut karena usia
Anatomi Regio Inguinalis

• Kanalis inguinalis :
– Kraniolateral : annulus inguinalis internus
– Medial bawah : annulus inguinalis eksternus
– superior : aponeurosis m. oblikus eksternus.
– Inferior : ligamentum inguinale
Trigonum Hasselbach
• Trigonum Hasselbach, daerah yang dibatasi oleh :
Inferior : Ligamentum inguinale
Lateral : Vasa epigastrika inferior
Medial : Tepi lateral M rectus abdominis
Dasar : Fascia transversalis M Transversus
• Dasar segitiga Hasselbach dibentuk oleh fascia
transversa yang diperkuat oleh serat aponeurosis
m. transversus abdominis yang kadang-kadang
tidak sempurna sehingga daerah ini potensial
untuk menjadi lemah.
Trigonum Hasselbach
Hernia Inguinalis
1. Hernia inguinalis lateralis (indirek)
– keluar dari rongga peritonem melalui annulus
inguinalis internus
– Dikenal sebagai indirek karena keluar melalui dua
pintu dan saluran, yaitu annulus dan kanalis inguinalis
2. Hernia inguinalis medialis (direk)
– menonjol langsung ke depan melalui trigonum
Hesselbach
– Jalannya langsung (direct) ke ventral melalui annulus
inguinalis subcutaneous
HERNIA INGUINALIS LATERALIS / INDIREK

• Usus keluar dari rongga Peritoneum Annulus inguinalis internus (lateral


pembuluh darah epigastrik) masuk kanalis inguinalis  annulus inguinalis
eksternus
HERNIA INGUINALIS MEDIALIS / DIREK
 Hernia yang melalui dinding inguinal posteromedial dari vasa epigastrika
inferior di daerah yang dibatasi segitiga Hasselbach.
 Direk : Penonjolan melalu trigonum hesselbach
Gambar:1 Gambar:3
Hernia ing. Lat.

Hernia ing. Med.

Gambar:2 Gambar:4
Anulus internus

Segi tiga
Hasselbach

17
Penegakan Diagnosis
Anamnesis
• Hernia reponibel : adanya benjolan di regio inguinal yang muncul pada
waktu berdiri, batuk, bersin, atau mengejan, dan menghilang setelah
berbaring
• Hernia ireponibel : bila isi kantong / benjolan tidak dapat dikembalikan ke
dalam rongga
• Keluhan nyeri jarang dijumpai, kalau ada biasanya dirasakan didaerah
epigastrium atau para umbilical berupa nyeri visceral karena regangan
pada mesenterium sewaktu satu segmen usus halus masuk kedalam
kantong hernia
• Nyeri yang disertai mual atau muntah baru timbul kalau terjadi inkarserasi
karena ileus atau strangulasi karena nekrosis atau gangren
• Pasien sering mengeluh tidak nyaman dan pegal pada daerah inguinal, dan
dapat dihilangkan dengan reposisi manual kedalam kavitas peritonealis.
Tetapi dengan berdiri atau terutama dengan gerak badan, maka biasanya
hernia muncul lagi
Pemeriksaan Fisik
• Inspeksi :
– hernia inguinalis lateralis  pembengkakan yang timbul
mulai dari regio inguinalis dan mencapai labium majus
atau sampai dasar skrotum
– hernia inguinalis medialis  pembengkakan itu
kelihatannya langsung muncul ke depan  gambaran
hernia berbentuk bulat
– Bila tidak ada pembengkakan(Valsava test)  penderita
diminta berdiri kemudian disuruh batuk/meniup
tangan/mengedan  pembengkakan berada di atas
lipatan inguinal dan berjalan miring dari lateral atas
menuju ke medial bawah  hernia inguinalis lateralis
Pemeriksaan fisik
Zieman’s Test
1. Hernia kanan diperiksa dengan tangan kanan,
hernia kiri diperiksa dengan tangan kiri.
2. Penderita disuruh batuk, bila teraba rangsangan
pada :
• jari ke 2 : Hernia Inguinalis Lateralis.
• jari ke 3 : Hernia Ingunalis Medialis.
• jari ke 4 : Hernia Femoralis.
Thumb Test
1. Anulus internus ditekan dengan ibu jari dan
penderita disuruh mengejan
2. Bila keluar benjolan berarti Hernia Inguinalis
medialis.
3. Bila tidak keluar benjolan berarti Hernia Inguinalis
Lateralis.
Finger tip Test
1.Menggunakan jari ke 2 atau jari ke 5.
2.Dimasukkan lewat skrortum melalui anulus eksternus ke kanal
inguinal.
3. Penderita disuruh batuk:
• Bila impuls diujung jari berarti Hernia Inguinalis Lateralis
• Bila impuls disamping jari berarti Hernia Inguinnalis Medialis
Pemeriksaan fisik
• Auskultasi
– Terdengar suara usus, bila auskultasi negatif maka
kemungkinan isi hernia berupa omentum.
Auskultasi juga bisa untuk mengetahui derajat
obstruksi usus
Penatalaksanaan
• Konservatif
– Reposisi
• Suatu usaha atau tindakan untuk memasukkan atau
mengembalikan isi hernia ke dalam cavum peritoneum atau
abdomen secara hati-hati dan dengan tekanan yang lembut
dan pasti. Reposisi ini dilakukan pada hernia inguinalis yang
reponibel dengan cara memakai kedua tangan
• Reposisi tidak dilakukan pada hernia inguinalis strangulate,
kecuali pada pasien anak-anak
– Sabuk hernia
• diberikan pada pasien dengan pintu hernia yang masih kecil
dan menolak dilakukan operasi
Operatif
• Herniotomi
– Dilakukan pada anak-anak, karena penyebabnya adalah proses
kongenital dimana prosesus vaginalis tidak menutup pada
proses desensus testtikulorum
– Isi kantung dikembalikan  pintu/cincin ditutup
• Hernioplasti
– Dilakukan tindakan memperkecil annulus inguinalis dan
memperkuat dinding belakang canalis inguinalis
• Hernioraphy ( Herniotomi + hernioplasti)
– Dilakukan pada dewasa, karena penyebab hernia karena
kelemahan otot/fascia abdomen
– Isi kantung dikembalikan  pintu/cincin ditutup kemudian
dinding belakang hernia dijahit untuk diperkuat
– Metode Bassini, Ferguson, Halsted, McFay, Sholdice
• Pemasangan fascia sintetis berupa mesh berbahan prolene
 mengurangi rasa sakit akibat regangan jahitan pada otot
1. Open Approch
• Tissue Repair
- Bassini Repair
- McVay Repair
• Prosthetic Repair
- Lichtenstein Tension-Free Repair
- Plug and Patch Technique
2. Laparoscopic Approch
• Intraperitoneal
-Intraperitoneal on-lay mesh procedur (IPOM)
• Ekstraperitoneal
-Trans-abdominal preperitoneal technique (TAPP)
-Total extraperitoneal mesh placement (TEP)
Metode Bassini
Menjahitkan facia transversa m.
rectus abdominis dengan m.
oblikus internus abdominis yang
dikenal dengan nama conjoint
tendon ke ligamentum inguinale
Poupart
Metode Mc Vay
Menjahitkan fascia tranversa, M. tranversus abdominis,
M. oblikus internus abdominis ke ligamentum Cooper
Lichtenstein Tension-Free Herniorrhaphy

• Menempatkan sebuah prostesis, mesh ini


digunakan untuk memperkuat fasia
transversalis yang membentuk dasar
kanalis inguinalis tanpa menjahitkan
otot-otot ke ligamentum inguinale (akan
terbentuknya jaringan fibrotik sehingga
akan memperkuat otot dan mengurangi
angka residif dan angka morbiditas)
Plug and patch technique

Modifikasi dari Lichtenstein,


digunakan untuk menempatkan
prosthetic mesh di atas dasar
inguinal, prostetic 3 dimensi di
tempatkan di tempat yang
sebelumnya ditempati saccus
hernia.
Komplikasi
1-Nyeri

2-Kerusakan Korda Spermatika dan Orchitis Iskemia

3-Terpotongnya vas deferens

4-Infeksi luka

5-Seroma

6-Retensi urin
Prognosis
• Tergantung dari umur penderita, ukuran hernia
serta kondisi dari isi kantong hernia
• Pada hernia inguinalis lateralis penyebab residif
yang paling sering ialah penutupan anulus
inguinalis internus yang tidak memadai, di
antaranya karena diseksi kantong yang kurang
sempurna, adanya lipoma preperitoneal, atau
kantung hernia tidak ditemukan.
• Pada hernia inguinalis medialis penyebab residif
umumnya karena tegangan yang berlebihan pada
jahitan plastik atau kekurangan lain dalam teknik
Hernia Femoralis
• umumnya pada perempuan lanjut usia,
insidensi perempuan 4x lebih berisiko dari
lelaki.
• Patofisiologi: peningkatan tekanan
intraabdomen → mendorong lemak
preperitoneal ke kanalis femoralis→ hernia.
• Faktor resiko: kehamilan multipara, obesiras,
degenerasi jaringan ikat karena usia lanjut.
Gambaran Hernia Femoralis
Gambaran klinis:
• benjolan dilipat paha yang muncul terutama
pada waktu melakukan kegiatan yang
menaikkan tekanan intraabdomen seperti
mengankat barang atau batuk. hilang pada
waktu berbaring.
• Pada pemeriksaan fisik ditemukan benjolan
lunak dilipat paha dibawah ligamentum
inguinale di medial V. femoralis dan lateral
tuberkulum pubikum.
Terapi
• Prinsip operasi :
1. Herniotomi dengan eksisi komplit kantung
hernia
2. Menggunakan benang yang tidak diserap
3. Hernioplasti dengan reparasi defek fasia
transversalis dengan ligamentum Cooper
atau mesh dengan tujuan mempersempit
anulus femoralis
Hernia Lain
1. Hernia Umbilikalis
• Hernia umbilikalis merupakan hernia congenital pada
umbilicus yang hanya ditutup peritoneum dan kulit,
berupa penonjolan yang mengandung isi rongga perut
yang masuk melalui cincin umbilicus.
• Terdapat pada kira – kira 20% bayi dan angka kejadian
hernia ini lebih tinggi pada bayi premature.
• Hernia umbilikalis pada orang dewasa merupakan
lanjutan hernia umbilikalis pada anak.
• Peninggian tekanan karena kehamilan, obesitas atau
asites merupakan faktor predisposisi.
Gambaran Hernia Umbilikalis
Gejala klinik
• Umumnya tidak menimbulkan nyeri dan
sangat jarang terjadi inkarserasi
• Pada orang dewasa inkaserasi lebih sering
terjadi.
Penatalaksanaan
• Bila cincin hernia diameternya <2cm umumnya
regresi spontan akan terjadi sebelum bayi berumur 6
bulan.
• Usaha untuk mempercepat penutupan dapat
dikerjakan dengan mendekatkan tepi kiri dan kanan
kemudian memfiksasinya dengan pita perekat
(plester) untuk 2 – 3 minggu.
• Dapat pula digunakan uang yang diletakkan dan
diplester di atas umbilicus untuk mencegah
penonjolan isi rongga perut.
• Bila sampai usia 1,5 tahun hernia masih menonjol
maka umumnya diperlukan koreksi operasi.
• Pada cincin hernia yang melebihi 2 cm jarang terjadi
regresi spontan dan lebih sukar diperoleh penutupan
dengan tindakan konservatif
Hernia Epigastrika

• Hernia epigastrika atau hernia linea alba


adalah hernia yang keluar melalui defek
dilinea alba antara umbilicus dan prosesus
xifoideus.
• Isi hernia terdari penonjolan jaringan lemak
preperitoneal dengan atau tanpa kantong
peritoneum. Linea alba dibentuk oleh
anyaman serabut aponeurosis lamina anterior
dan posterior sarung M. rektus.
Gambaran Hernia Epigastrika
Gambaran klinik
• Perut kurang enak dan mual.
• Bila hernia kecil dan sukar diraba, biasanya
menimbulkan keluhan yang samar – samar.

Penatalaksanaan
• Terapi bedah merupakan reposisi isi hernia dan
menutup defek di linea alba.
Hernia Ventralis

• Hernia ventralis adalah nama umum untuk


semua hernia didinding perut bagian
anterolateral seperti hernia sikatrik. Hernia
sikatrik merupakan penonjolan peritoneum
melalui bekas luka operasi yang baru maupun
yang lama.
• Faktor predisposisinya adalah infeksi luka
operasi, dehisensi luka, teknik penutupan luka
operasi yang kurang baik, jenis insisi, obesitas,
peninggian tekanan intra abdomen. Keadaan
umum pasien yang kurang baik seperti pada
mal nutrisi dan juga pemakaian obat steroid
yang lama juga merupakan factor predisposisi
Penatalaksanaan

• Pengelolaan konservatif menggunakan alat


penyanggah atau korset elastic khusus dapat
digunakan untuk sementara atau lebih lama bila
ada kontraindikasi pembedahan.
• Terapi operatif berupa herniotomy dan
hernioplasty dengan tujuan menutup defek
dilapisan muskuloaponeurosis. Bila defek besar
diperlukan bahan sintetis seperti marleks.
HERNIA RICTHER

• Hernia yang jarang ditemukan, kebanyakan


ditemukan pada hernia femoralis atau
obturatoria.

• Komplikasi dapat berupa strangulasi sehingga


terjadi perforasi usus yang pada hernia
femoralis tampak seperti abses di daerah
inguinal.
Hernia Ricther
HERNIA LITTRE

• Hernia yang sangat jarang ditemukan ini


merupakan hernia yang mengandung divertikel
Meckel.
• Gambaran klinik: sama dengan hernia Richter;
pada keadaan strangulasi didapatkan nyeri,
demam, dan manifestasi obstruksi usus muncul
belakangan.
• Terapi: herniotomi + hernioplasti + eksisi
diverticulum Meckel.
Hernia Littre
HERNIA SPIEGHEL

• Merupakan hernia ventralis dengan atau tanpa


isinya melalui facia spieghel.
• Jarang dijumpai, biasanya pada usia 40-70 tahun.
• Gejala: nyeri di lokasi hernia dan bertambah
dengan pergerakan yang meningkatkan tekanan
intraabdomen
• Diagnosis ditegakkan dengan ditemukan benjolan
di sebelah atas titik Mc Burney kanan atau kiri
pada tepi lateral M. rectus abdominis.
Hernia Spieghel
• Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan USG
dan CT scan .
• Pengelolaan terdiri dari herniotomy dan
hernioplasty dengan menutup defek pada M.
Transversus abdominis dan M. Abdominia
internus.
HERNIA OBTURATORIA

• Merupakan hernia yang melalui foramen


obturatorium.
• Hernia ini dapat berlangsung dalam 4 tahap, pertama
tonjolan lemak retroperitoneal masuk kedalam
kanalis obturatorius, kedua disusul oleh tonjolan
peritoneum parietal, ketiga kantong hernia ini
mungkin di isi oleh lekuk khusus, ke empat yang
dapat mengalami inkarserasi parsial seiring secara
Richter atau total.
Hernia Obturatoria
• Diagnosis dapat ditegakkan atas dasar adanya
keluhan nyeri seperti ditusuk-tusuk dan
parestesi didaerah panggul, lutut, dan bagian
medial paha akibat penekanan pada N.
obtiratorius ( tanda Howship-Romberg ) yang
patognomonik
HERNIA PERINEALIS
• Merupakan tonjolan hernia pada perineum
melalui defek dasar panggul.
• Pada diagnosis tampak dan teraba banjolan di
perineum yang mudah keluar masuk dan
jarang inkarserasi.
• Pengelolaan operatif dianjurkan dengan
peningkatan transperitoneal, perineal, atau
kombinasi abdomen dan perineal.
Hernia Perinealis
HERNIA PANTALON
• Merupakan kombinasi hernia inguinalis
lateralis dan hernia inguinalis medialis pada
satu sisi.
• Diagnosis umunya sukar ditegakkan dengan
pemeriksaan klinis, biasanya baru ditemukan
sewaktu operasi.
• Pengelolaan seperti biasanya pada hernia
inguinalis yaitu herniotomy dan hernioplasty
dengan mesh.
Hernia Pantalon
TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai