Anda di halaman 1dari 19

Tatalaksana Patah Tulang Hidung

Çiğdem Firat Koca and Ahmet Kizilay

Jurnal HSOA (Herald Scholarly Open Access) tentang Kegawatdaruratan


Trauma dan Perawatan Operatif 2015, 2:007

Disadur Oleh :
Cynthia Damayanti
112011101062
1
Pendahuluan
• Patah tulang hidung adalah patah tulang
yang paling sering terjadi pada dewasa
• 50% berasal dari semua jenis trauma
wajah
• Tulang hidung penting untuk estetika
wajah dan untuk inspirasi udara
ANATOMI
• Paling sering terjadi dibagian distal
dimana tulang hidung menjadi lebih tipis
dan lebar
• Sering menyebakan perdarahan
(epistaksis)
Epistaksis
• Gejala paling sering pada patah tulang
hidung
• Berasal dari plexus Kisselbach
• Perdarahan posterior berasal dari arteri
sfenopalatina dan atau etmoidalis
anterior
Riwayat dan Pemeriksaan Fisik
Riwayat :
• Identitas pasien
• Keluhan yang dirasakan (nyeri, anosmia,
perdarahan)
• Bagaimana terjadi trauma
• Waktu sejak terjadi trauma
Pemeriksaan fisik:
• Inspeksi : defek hidung yang jelas,
malposisi
• Palpasi : krepitasi, perlunakan,
penurunan, penekanan, pemendekan
hidung, atau pelebaran dasar hidung
Klasifikasi Patah Tulang (Murray):
• Tipe I: Cidera terbatas pada jaringan
lunak
• Tipe IIa: Simpel, patah tulang tanpa
pergeseran (non-displaced) unilateral
• Tipe IIb: Simpel, patah tulang tanpa
pergeseran (non-displaced) bilateral
• Tipe III: Simpel, patah tulang bergeser
(displaced)
• Tipe IV: Patah tulang kominutif tertutup
• Tipe V: Patah tulang kominutif terbuka
atau komplikata
Pencitraan
• Untuk mengevaluasi patah tulang hidung
• CT-Scan atau menggunakan USRT ( USG
Resolusi Tinggi)
Klasifikasi Patah Tulang CT-Scan:
• Tipe I: Simpel tanpa pergeseran
• Tipe II: Simpel dengan pergeseran/tanpa
menerobos
• IIA: Unilateral
• IIAs: Unilateral dengan patah tulang septal
• IIB: Bilateral
• IIBs: Bilateral dengan patah tulang septal
• Tipe III: Kominutif dengan penerobosan
Gambar 5. Klasifikasi Patah Tulang Hidung
Tatalaksana
• Pre operatif:
- bergantung pada beberapa faktor
- pada orang tua : konservatif
- pada anak usia 13-14 tahun:
operatif
• Waktu Reduksi
– 5-10 hari setelah cidera, tulang hidung
dapat menempel dan sulit digerakan
– Fiksasi diobservasi 2-3 minggu
– Disarankan reduksi tertutup:
• Anak-anak: 3-7 hari
• Dewasa : 5-10 hari
Reduksi Tertutup
• Untuk patah tulang hidung simpel non
kominutif
• Prinsip: menjaga gaya yang berlawanan
dari arah trauma
• Dapat menggunakan elevator goldman
(mereposisi manual)
Reduksi Terbuka
• Untuk patah tulang kominutif dengan
hilangnya penyongkong hidung, cidera
sekat yang parah
• Insiden deformitas muncul setelah
reduksi tertutup membutuhkan
rinoplasti
Pembidaian dan Tampon
• Diperlukan setelah tindakan setelah
operatif
• Bidai sebaiknya secara internal dan
eksternal
• Pembidaian dilakukan 2-3 minggu setelah
operatif
• Evaluasi 6-12 minggu setelah tindakan
operatif
Kesimpulan
• Tujuan : mengembalikan kondisinya
seperti sebelum cidera
• Evaluasi klinis berdasarkan tipe dan
keparahannya
• Penilaian yang tepat menghasilkan
kesembuhan yang tepat, pernafasan dan
penghidu
TERIMAKASIH