Anda di halaman 1dari 42

DEFINISI

 Gizi buruk adalah status/keadaan gizi berdasarkan


Berat Badan menurut Tinggi Badan/Panjang Badan
(BB/TB- PB) <-3 SD (Z-score) dan atau dengan
tanda-tanda klinis marasmus, kwashiorkor dan
marasmik-kwashiorkor.
 Kwashiorkor adalah sindrom klinis yang diakibatkan
dari defisiensi protein berat dan asupan kalori yang
tidak adekuat.
KLASIFIKASI

 Bentuk Klinis
 Marasmus
 Kwashiorkor
 Marasmus-Kwashiorkor
 Beratnya penyakit
 Malnutrisi Ringan
 Malnutrisi Sedang
 Malnutrisi Berat
ETIOLOGI

 Kekurangan intake protein yang berlangsung kronis


 Gangguan penyerapan protein pada diare kronik
 Kehilangan protein secara berlebihan seperti pada
proteinuria dan infeksi kronik
 Gangguan sintesis protein seperti pada penyakit hati
kronis.
PATOFISIOLOGI
DIAGNOSIS

• Diagnosis dari penilaian status Gizi: WHO Growth


Chart, perhitungan Waterlow, CDC Growth Chart dll
• Untuk membedakan Tipe klinis Gizi Buruk dapat
digunakan Klasifikasi McLarren
Gejala klinis/laboratoris Angka
Edema 3
Dermatosis 2
Edema disertai dermatosis 6
Perubahan pada rambut 1
Hepatomegali 1

Albumin serum atau prot total serum


Keterangan:
<1.00 <3.25 7
0-3 = marasmus
1-1.49 3.25-3.99 6
4-8 = marasmik
1.50-1.99 4.00-4.75 5 kwashiorkor
2.00-2.49 4.75-5.49 4 9-15 = kwashiorkor
2.50-2.99 5.50-6.24 3
3.00-3.49 6.25-6.99 2
3.50-3.99 7.00-7.74 1
>4.00 >7.75 0
TATALAKSANA
HIPOGLIKEMIA
• LEMAS, LETARGI, HIPOTERMIA
• GULA DARAH < 54 MG/DL

Tidak bisa miunum Kesadaran menurun, kejang


BB (Kg) Infus D10%
Infus D 10% 5 cc/Kg/jam (Tetes/menit
Maks 2 jam )
• 50 cc D10% per NGT atau 5 6
• F 75 per NGT 10 12
50 cc D10% per NGT
15 18
20 25
F 75 per NGT setelah sadar
25 30

HIPOTERMIA
• TEMP AKSILA < 35o C atau
• TEMP REKTAL < 35,5o C

• Kenakan baju, topi, selimut


• Beri lampu hangat
•Suhu ruangan 25 – 30o C
•Monitor temp rektal setiap 30 menit
DEHIDRASI
• NYATA :
Diare, haus, Hipotermia, Nadi lemah, Mata Cowong,
Akral Dingin, Kencing Berkuran
• TDK NYATA :
Perubahan Mental, Penurunan Kesadaran, Tdk keluar ir mata
Mulut dan Ludah Kering

ReSoMal 5cc/Kg/30 menit


dlm 2 jam

Bila ReSoMal tdk ada :


Berikan 1 saset oralit dng
ReSoMal 5 – 10 cc/Kg/Jam pengenceran 2 kali, tambahkan
dlm 10 jam 5 gr sukrosa dan 40 ml
mineral mix

ReSoMal setia BAB :


50 – 100 cc (umur < 2 thn),
100 – 200 cc (umur ≥ 2 thn)
Infus D5%NaCl 0,45%
15cc?kg dlm 1 jam
BB (Kg) Infus D10%
+
(Tetes/menit)
ReSoMal per NGT 10cc/Kg/jam
5 18
10 38
15 56
Infus D5%NaCl 0,45 20 74
15 cc?Kg dlm 1 jam 25 94

ReSoMal per NGT atau po


10cc?Kg/jam, selama 10 jam
Komposisi
Bahan F 75 F 100
Susu skim 25 g 80 g
Fase awal 1 – 7 hari
F 75 tiap 2 jam Gula 70 g 50 g
Tepung 35 g -
gandung 27 g 60 g
F 75 tiap 3 jam Minyak sayur 20 cc 20 cc
Mineral miks 140 mg 140 mg
Vitamin miks 1.000 cc 1.000 cc
F 75 tiap 4 jam
Air

F 100 Berikan lewat NGT bila :


pd fase rehabilitasi - Nafsu makan ↓
- Stomatis
-Lemah
NGT dicabut lagi bila :
Dpt per oral ¾ porsi diet
DEVISIENSI VITAMIN
Buta malam, Bercak bitot, Serosis,
Ulkus kornea

• Vitamin A po :
Hari I : < 6 bln : 50.000 U
6 – 12 bln : 100.000 U
> 12 bln : 200.000 U
Hari II: 200.000 U
2 minggu lagi : 200.000 U
Bila infeksi/ulkus okuli  beri tetes saline 0,9%,
tetrasiklin tetes 4 x/hari, atropin tetes, bebat mata
• Asam folat po : 5 mg
• Vitamin B, C, D, E, dan K po
• Mulai tambahkan besi po pd fase rehabilitasi
Tanda infeksi tdk jelas,
Tanda infeksi tdk jelas, Komplikasi (-)
Komplikasi (-)

⇩ Ampicilin 50 mg/Kg/6jam im/iv
Cotrimoxazol Selama 2 hari → lalu Amoxicilin
Po 2 x/hari selama 5 hari Po 15 mg/Kg/8 jam
Dosis Selama 5 hari
Trimetoprim +
5 mg/Kg/hari Gentamycin 3,75 mg/Kg/12 jam
iv selama 7 hari
Terapi spesifik thd disentri, malaria, Tbc, cacing,
infeksi telinga, kulit, saluran kemih, dll
INFEKSI TERAPI
Diare persisten Metronidazole, Susu bebas laktosa
Disentri Cotrimoxazole, Asam nalidiksik
Otitis Media Cotrimoxazole, Ampicilin
Pneumonia Cotrimoxazole, Ampicilin/Amoxicilin
Saluran kemih Cotrimoxazole, Ampicilin/Amoxicilin
Kulit Bilas PZ, Polivodine iodine zalf, Benzatin, Penicilin
Kandidiasis Naistatin Zalf, Ketokonazole
Skabies Lidane Lotion, Benzil benzoat lotion
Cacing Mebendazole, Pirantel/Piperazine
TBC OAT
Malaria Klorokuin, Kinin, Pirimetamin sulfadoxin
KURANG ENERGI PROTEIN BERAT ALGORITME PENANGANAN KEP BERAT
Sumber : Penilaian, Pengobatan, dan Rehabilitasi
Penilaian Z skore tinggi thd BB < -3 SD Anak dng KEP Berat (DR.Dr.Hananto Wiryo, Sp.A

HIPOGLIKEMIA HIPOTERMI DEHIDRASI/ DIET 75 INFEKSI


SYOK SEPTIK
-Lemas, letargi, hipotermi -Temp aksila < 35o C Tiap DEFISIENSI ANEMIA
- Gula darah -atau -Haus, hipotermia, nadi 2 jam VITAMIN BERAT
< 54 mg/dl -Temp rektal < 35,5o C lemah, Mata cowong,
akral dingin, Tanda infeksi Tanda infeksi Hb<4mg/dl
Kecing berkurang Tdk jelas, Tdk jelas, atau
-Vitmain A po :
Komplikasi (-) Komplikasi (+) Hari Pertama : PCV < 12%
-Tdk bisa -Kesadaran ↓
-Kenakan baju, < 6 bln : 50.000 U
minum -kejang Kolaps Kolaps
topi, selimut, 6-12 bln : 100.000 U
Vaskular (-) Vaskular (+) 12 bln 200.000 U
- Beri lampu hangat, Cotrimox po Ampicilin
- suhu ruangan Hari Kedua :
2x sehari 50mg/Kg/6jam
- 50 cc D10% - infus D10% 25-30o C 200.000 U
slama 5 hr im/iv selama
1 – 2 hari

per /NGT -5 cc/Kg/jam -Monitor temp rektal ReSoMal 2 minggu lagi :


Dosis 2 hari, lalu
atau Maks 2 jam setiap 30 menit 5cc/Kg/ Infus D5%NaCl 200.000 U
Trimetroprim Amox po
F 75 per NGT 30 menit 10,45 15 cc/Kg Bila inf/Ulkus Okuli
5 mg/Kg/hari 15mg/Kg/8jam
dlm 2 jam Dlm 1 jam Tetes saline 0,9%
Selama 5 hari
+ Tetrasiklin tetes
50 cc D10% + Transfusi
ReSoMal/NGT Tiap 4x/hari
Per NGT Gentamycin PRC
ReSoMal 10 cc/Kg/jam 3 jam Atropin tetes
3,75mg/Kg/12 10cc/Kg
5-10cc/Kg/jam Bebat mata
jam iv dalm
dlm 10 jam -Asama folat po :
selama 7 hr 3 jam
F 75/NGT 5mg hari I
ReSoMal
stlh sadar 1 mg hari berikut
Per NGT
ReSoMal setiap BAB atau Po 10cc/ Terapi spes thd disentri,
50-100cc (umur < 2 thn) Kg/jam Malaria, Tbc, cacing,
100-200 cc (umur > 2 thn) Selama 10 jam Infeksi telinga, kulit,
sal kemih, dll
Tiap
4 jam

Fase Rehabilitasi DIET F 100 Mulai ditambahkan


2 – 6 minggu Besi po
Persiapan keluar RS Untuk Catch Up Growth

Fase Follow Up
7 - 24 minggu
IDENTITAS

 Nama Lengkap : An.Reva Usmaini


 Umur : 9 bulan
 Jenis kelamin : Perempuan
 Alamat : Repuk – Sintung Barat
 Status dalam keluarga : Anak kandung

Ibu Ayah
Nama Ny. ida Tn. Saifudin
Umur 35 tahun 42 tahun
Pendidikan SD SMP
Pekerjaan Ibu Rumah Tangga Tukang Bangunan
MRS

 Masuk RS tanggal : 21 Februari 2013


 Diagnosis Masuk : obs. Dispneu ec. Susp.
PJB
 Sekarang masih dirawat
ANAMNESIS

26 Februari 2013, alloanamnesis pada bapak dan ibu


pasien
Keluhan Utama : Bengkak pada kedua kaki
Riwayat Penyakit Sekarang :
 rujukan dari Puskesmas Teratak, dengan diagnosis
obs. Dispneu ec. Susp. PJB,
 datang ke RSUD Praya dikeluhkan bengkak pada
kedua kaki dialami sejak ± 1 minggu sebelum
masuk RS. Awalnya berupa bengkak minimal pada
kedua kaki, namun beberapa hari kemuadian kedua
kaki pasien dirasakan semakin bengkak, ditambah
bengkak pada wajah dan kelopak mata serta badan.
 Keluhan batuk (+) yaitu sejak beberapa hari sebelum
keluhan bengkak muncul, namun batuk yang dialami
jarang, dengan dahak (+), namun sulit dikeluarkan.
 Keluhan muntah (+) sebanyak ± 3 kali berupa cairan
putih seperti susu, dan terkadang muntahan
bercampur lendir putih kental. Sisa makanan ( -),
darah (-).
 Riwayat sesak (-), demam (-).
 Keluhan mencret (+), timbul tidak lama setelah
keluhan mencreat timbul. Ibu pasien mengaku BAB
encer, disertai ampas (+), darah ( -), warna BAB
kuning, dengan frekuensi BAB 3-4 kali/hari.
Riwayat Penyakit Dahulu :
 Tidak ada riwayat bengkak sebelumnya, riwayat
batuk-pilek (+), riwayat panas (+), namun pasien
biasanya sembuh dalam 2-3 hari dengan pengobatan
dari dokter praktek atau Puskesmas.
Riwayat Penyakit Keluarga :
 Tidak ada anggota keluarga yang menderita keluhan
serupa.
Riwayat pengobatan
 Sebelumnya ibu pasien membawa pasien ke
Puskesmas teratak, dan akhirnya pasien dirujuk ke
RSUD Praya pada tanggal 21 Februari 2013
Riwayat Kehamilan dan Persalinan
 Selama kehamilan ibu pasien tidak pernah
mengalami sakit berat/ rawat inap di RS. Riwayat
muntah berlebih, tekanan darah tinggi, kejang,
asma, kencing manis, infeksi, perdarahan, dan
trauma selama kehamilan disangkal. Ibu pasien juga
rutin memeriksakan diri (ANC > 4 kali) di Posyandu.
Pasien lahir di Puskesmas dengan pertolongan
bidan, BBL 3900 gram, pasien lahir cukup bulan, dan
langsung menangis. Riwayat kejang, biru dan kuning
setelah lahir disangkal.
Riwayat Nutrisi
 Pasien mendapatkan ASI sejak lahir, hingga saat ini,
namun pasien tidak diberikan MPASI sejak usia 6
bulan. Sebelumnya ibu pasien sudah mencoba
memberikan MPASI berupa bubur, namum pasien
tidak menyukainya sehingga ibu pasien tidak pernah
lagi mencoba memberikan MPASI hingga usia pasien
9 bulan saat ini.
Riwayat Imunisasi
 Pasien sudah mendapatkan imunisasi dasar sesuai
jadwal, dan tinggal menungggu imunisasi campak.
Riwayat Perkembangan dan Kepandaian
 Ketika melakukan pemeriksaan di Posyandu,
orang tua pasien mengatakan berat badan
anaknya jarang mengalami peningkatan,
terkadang berat badan tetap seperti BB
sebelumnya dan juga terkadang BB turun. Pasien
sudah bisa merangkak, duduk, dan tengkurap
sendiri. Pasien sudah bisa memegang benda,
menggapai mainan/benda kecil dan tepuk
tangan. Pasien telah bisa tersenyum spontan tapi
belum bisa menyebut kata-kata.
Riwayat Sosioekonomi dan Lingkungan
 Pasien berasal dari keluarga ekonomi menengah
kebawah, ayah pasien bekerja sebagai seorang
buruh bangunan. pasien hanya tinggal bersama
kedua orang tuanya. Terkadang pasien diasuh oleh
neneknya yang tinggal tidak jauh dari rumah
pasien.
 Di rumah pasien memiliki jamban sendri. Sumber
air berasal dari air sumur. Untuk keperluan minum,
air berasal dari air sumur yang dimasak terlebih
dahulu, dan untuk mencuci baju dan piring ibu
pasien menggunakan air sumur
PEMERIKSAAN FISIK

 Kesan umum : Sedang


 Kesadaran : Compos Mentis
 GCS : E 4V 5M 6
 Fungsi Vital :
 HR : 128 kali/menit, isi dan tegangan
kuat, irama teratur
 Pernapasan : 43 kali/menit, teratur, tipe
abdominotorakal
 T ax : 36 oC
 CRT : < 2 detik
 Status Gizi
 Berat Badan : 7,6 Kg dengan edema anasarka
 Berat badan sesungguhnya = 7,6kg – (20%x7,6kg)
= 7,6kg – 1 ,52kg = 6,08kg
 Panjang Badan: 65 cm
 Lingkar kepala: 41 cm
 Lila : 11 cm
 Status Gizi berdasarkan kurva WHO
 BB/TB = [-2]-[-3] SD : Malnutrisi sedang
 TB/U = [-2]-[-3] SD: pendek
 BB/U = [-2]-[-3] SD: kurus
 Lingkar kepala berdasarkan usia menurut Nellhous
 LK/U = < [-2] SD: Microcephali
STATUS GENERALIS

Kepala dan Leher :


 Bentuk : Bulat lonjong, rambut tipis, warna hitam
kecoklatan
 Ukuran : Mikrocephali
 Wajah tampakan moon face
 Mata : Konjungtiva anemis (+/+), Sklera ikterus (-
/-). Refleks pupil (+/+), isokor, Edema palpebra (+/+), Mata
cowong (-/-).
 THT :
 Telinga : struktur dan ukuran telinga normal, otorhea (-)
 Hidung : napas cuping hidung (-), rinorhea (-)
 Tenggorok : faring hiperemis (-), T 1 – T 1
 Mulut : Bibir sianosis (-)
 Leher : Pembesaran KGB (-)

Thorax :
 Inspeksi : Retraksi (-), pergerakan dinding dada
simetris
 Palpasi : Pergerakan dinding dada simetris, vocal
fremitus simetris
 Perkusi : Pulmo : sonor pada kedua lapang paru
 Auskultasi:
 Pulmo : vesikuler (+/+) , Ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
 Cor : S1S2 tunggal reguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen :
 Inspeksi : distensi (-)
 Auskultasi : BU (+) meningkat
 Perkusi : timpani (+)
 Palpasi : massa (-), H/R/L tidak teraba,
turgor kulit normal
Ekstremitas
Tungkai Atas Tungkai Bawah

Kanan Kiri Kanan Kiri


Akral hangat + + + +

Edema + + + +

Pucat + + + +

Kelainan bentuk - - - -

Pembesaran KGB
Axilla - - - -
Inguinal - - - -
DIAGNOSIS

Gizi Buruk tipe Kwasiorkor dengan:


 ISPA Atas
 Anemia sedang Hipokromik Mikrositer e.c Deffisiensi
Fe
 Dermatosis Kwashiorkor
 Oedema anasarka
 GEA non Dehidrasi
TATALAKSANA

 Antibiotik
 Ampisilin IV 150mg/6jam
 Gentamisin IV 45mg/24jam
 Mulai pemberian makanan
 F75 diberikan sebanyak 608 kkal/hari diencerkan
dalam cairan 608cc/hari, dibagi dalam 12 kali
pemberian/24jam
 Berikan F75 50 kkal dalam 50cc air/2jam/NGT
 Vitamin A 100.000 SI dosis tunggal
 Terapi dermatosis pada leher:
 Kompres bagian kulit yang terkena dengan larutan
KmnO (kalium-permanganat) 1% selama 10 menit
 Usahakan agar daerah perineum tetap kering
 Beri preparat Zn 1x1tablet peroral
 Terapi GEA non dehidrasi:
 Berikan Cairan Resomal 100ml tiap kali BAB
PEMBAHASAN
 Pasien didiagnosis dengan Gizi Buruk tipe
Kwashiorkor.
 perhitungan BB/TB, BB/U dan TB/U berdasarkan
kurva pertumbuhan WHO: [-2] SD.
 klinis gizi buruk yang ditemukan pada pasien antara
lain adanya edema bilateral yang penyebab lainnya
telah disingkirkan, tampakan moon face (wajah
terlihat bulat dan sembab), tampak pucat, dan
rambut berubah warna menjadi kecoklatan.
 perhitungan berdasarkan klasifikasi McLarren klinis
pasien mendapat nilai 12.
 Kondisi penyerta ISPA Atas, Anemia sedang
Hipokromik Mikrositer e.c Deffisiensi Fe, dermatosis,
GEA non dehidrasi dan oedema anasarka.
 Tatalaksana pada pasien ini dapat meliputi
pemberian makanan untuk perbaikan gizi dan
mengatasi masalah penyerta yang ada.
 Pada tahap awal biasanya faali hemostasis pasien
gizi buruk kurang sehingga pemberian makan perlu
hati-hati. Dianjurkan diberikan dalam porsi kecil dan
sering serta rendah laktosa. Regimen yang diberikan
pada tahap stabilisasi berupa f75 dan dilanjutkan
dengan F100 untuk tumbuh kejar setelah minggu
pertama.
 Penanganan kondisi penyerta meliputi penanganan
infeksi dengan pemberian antibiotik Ampisilin IV selama
2 hari, dilanjutkan dengan oral sampai 7 hari, ditambah
dengan gentamisin IM selama 7 hari.
 Untuk kondisi anemia dapat diberikan supplement Fe
yang dapat mulai diberikan setelah minggu kedua
pengobatan.
 Dermatosis pada kulit ditatalaksana dengan kompres
bagian kulit yang terkena dengan larutan KmnO (kalium -
permanganat) 1% selama 10 menit, beri salep atau krim
(Zn dengan minyak katsor), usahakan agar daerah
perineum tetap kering, dan dapat pula ditambah dengan
pemberian preparat Zn peroral untuk mengatasi
defisiensi Zn yang umumnya terjadi.
 GEA non dehidrasi ditatalaksana dengan pemberian cairan
resomal tiap kali BAB encer sebanyak 100ml, dan pemberian
preparat Zink sebanyak 1 tablet/hari.
 Pada pasien juga ditemukan adanya edema anasarka dimana
dari pemeriksaan penunjang ditemukan adanya
hipoalbuminemia yang dapat merupakan salah satu
kemungkinan penyebab munculnya edema. Meski ditemukan
adanya edema ansarka dan hipoalbuminemia, pemberian
diuretic atau transfuse albumin untuk mengatasi edema pada
Gizi buruk tidak diperlukan.
 Pada keadaan malnutrisi energi protein, jantung menjadi
lebih kecil, tipis dan memiliki stroke volume yang lebih kecil.
Ginjal juga dipengaruhi sehingga mempersulit ekskresi
natrium dan cairan yang berlebihan. Hal ini menyebabkan
sirkulasi yang berlebihan dibandingkan normal. Pada tingkat
sel, membran menjadi lebih permeabel oleh karena
kerusakan oksidatif. Juga, oleh untuk menghemat energi
jumlah pmpa NA -K pada membran sel dikurangi dan pompa
yang tersisa lebih lambat bekerja. Hal ini menyebabkan
natrium terakumulasi di dalam sel dan kalium ke luar yang
mengakibatkan ketidakseimbangan elektrolit.
Ketidakseimbangan elektrolit menyebabkan gagal jantung,
sehingga natrium harus dibatasi dan magnesium dan kalium
harus ditambah. Diuretik menyebabkan kekurangan kalium
yang lebih parah dan tidak boleh diberikan pada pasien.
 Edema yang terjadi pada pasien dengan malnuntrisi energi
protein merupakan suatu keadaan yang multifaktorial.
Umumnya keadaan ini disebabkan oleh ketidakseimbangan
elektrolit (retensi natrium dan defisiensi kalium). Namun teori
klasik juga yang mengatakan bahwa intake protein yang tidak
adekuat yang menyebabkan kadar albumin plasma yang
berkurang. Golden et al melakukan penelitian tentang
hubungan albumin plasma dan edema nutrisional, dengan
mengobservasi perubahan pada kadar albumin pada pasien
dengan pemulihan edema akibat diet yang direstriksi. Oleh
karena tidak adanya perbedaan konsentrasi albumin sebelum
dan sesudah pemulihan edema, maka disimpulkan bahwa
pengurangan edema tidak berhubungan dengan kadar
albumin pada pasien dengan MEP.