Anda di halaman 1dari 117

ZAKAT

Bahan Ajar Universitas


Baiturrahmah

Jemkhairil
Makna Zakat
 Menurut Bahasa (lughat), zakat berarti:
tumbuh; berkembang; kesuburan atau
bertambah (nama’a) (HR. At-Tirmidzi) atau
dapat pula berarti membersihkan atau
mensucikan Zakaya/thahirah (QS. At-Taubah
: 10)
 Menurut Hukum Islam (istilah syara'), zakat
adalah nama bagi suatu pengambilan tertentu
dari harta yang tertentu, menurut sifat-sifat
yang tertentu dan untuk diberikan kepada
golongan tertentu (al-Mawardi)
Makna…
 Diantara dasar hukum zakat; "Pungutlah zakat
dari sebagian kekayaan mereka dengan zakat itu
kamu membersihkan dan mensucikan mereka.".
(QS : At-Taubah : 103).
 Selain itu, ada istilah shadaqah dan infaq,
sebagian ulama fiqh, mengatakan bahwa sadaqah
wajib dinamakan zakat, sedang sadaqah sunnah
dinamakan infaq. Sebagian yang lain mengatakan
infaq wajib dinamakan zakat, sedangkan infaq
sunnah dinamakan shadaqah.
Landasan Kewajiban Zakat
 Zakat hukumnya wajib bagi setiap muslim yang memiliki harta sampai
pada nishabnya.
 Landasan hukum diwajibkannya zakat adalah:
 Seperti terdapat dalam Al Quran, surat at-taubah ayat 103
Landasan Kewajiban Zakat
 Sunnah: Rasulullah SAW bersabda “Islam
dibangun atas lima rukun; syahadat tiada tuhan
selain Allah dan Muhammad saw utusan Allah,
menegakkan shalat, membayar zakat,
menunaikan haji dan shaum ramadhan”.
 Ijma, Para ulama salaf (terdahulu, klasik)
ataupun khalaf (kontemporer) telah sepakat akan
wajibnya zakat.
Hukum Mengingkari & Menolak Zakat
 Seorang muslim yang tahu akan kewajiban zakat,
kemudian mengingkarinya maka dia telah jatuh pada
kekafiran, dan hukumnya hukum orang yang
murtad.
 Adapun muslim yang menolak tidak mau membayar
zakat:
 Di akhirat dia akan mendapat balasannya
 Di dunia, Imam berhak untuk memeranginya sehingga
dia mau membayar zakat, atau Imam berwenang untuk
menyita sebagian hartanya sebagai hukuman
Istilah yang beriringan dengan Zakat
1. Infaq
 Asal kata infaq dari bahasa arab, yaitu ( )‫أنفق – ينفق – إنفاقا‬
yang bermakna mengeluarkan atau membelanjakan harta;
a. Membelanjakan Harta; Walaupun kamu membelanjakan
semua yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat
mempersatukan hati mereka. (QS. Al-Anfal : 63
b. Memberi Nafkah; Kata infaq ini juga berlaku ketika
seorang suami membiayai belanja keluarga atau rumah
tangganya (nafkah). Kaum laki-laki itu adalah pemimpin
bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan
sebahagian mereka atas sebahagian yang lain , dan
karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta
mereka. (QS. An-Nisa`: 34)
c. Mengeluarkan Zakat; Hai orang-orang yang beriman,
keluarkanlah zakat sebagian dari hasil usahamu yang
baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan
dari bumi untuk kamu. (QS. Al-Baqarah : 267)
2. Sedekah; Istilah sedekah dalam teks Arab tertulis ( ,)‫صدقة‬
punya kemiripan dengan istilah infaq di atas, tetapi lebih
spesifik. Sedekah adalah membelanjakan harta atau
mengeluarkan dana dengan tujuan mendekatkan diri
kepada Allah.
Beda antara infaq dan sedekah dalam niat dan tujuan, dimana
sedekah itu sudah lebih jelas dan spesifik bahwa harta itu
dikeluarkan dalam rangka ibadah. Sedangkan infaq, ada
yang sifatnya ibadah (mendekatkan diri kepada Allah) dan
juga termasuk yang bukan ibadah.
3. Waqaf; Waqaf dan qurban termasuk ke dalam infaq dan
shodaqoh dengan tingkatan dan anjuran yang lebih khusus.
Keduanya bukan termasuk zakat. Waqof berasal dari
makna kata yang berarti, menahan, diam, atau berhenti.
Harta yang berhenti, ditahan dan sudah tidak di gunakan
lagi oleh pemiliknya (diam) untuk tujuan kebaikan dan
manfaat, maka ia disebut dengan waqaf. Waqaf hanya
dapat berupa harta yang memiliki nilai uang, seperti uang,
emas, perak, tanah, binatang, dll
4. Qurban
Qurban merupakan salah satu rukun dalam pelaksanaan haji, ia berasal
dari makna kata mendekat atau menghampiri. Berqurban adalah bentuk
mendekatkan diri kepada Allah SWT. Qurban adalah jenis shodaqoh dan
infaq yang khusus dan memiliki aturannya sendiri yang disandarkan pada
Al Quran dan hadits.
5. Hibah
1. Pengertian dan Hukumnya
Secara bahasa berarti pemberian. Secara istilah; pemberian sesuatu kepada
seseorang secara cuma-cuma, tanpa mengharapkan apa-apa. Rasulullah
Saw bersabda:
Artinya : "Dari Khalid bin Adi sesungguhnya Nabi SA W telah bersabda
"siapa yang diberi kebaikan oleh saudaranya dengan tidak berlebih-
Iebihan dan tidak karena diminta maka hendaklah diterima jangan ditolak.
Karena sesungguhnya yang demikian itu merupakan rizki yang diberikan
oleh Allah kepadanya". (HR. Ahmad)
6. Hadiah;
Hadiah; pemberian kepada seseorang dengan maksud memnuliakan atau
memberikan penghargaan. Rasulullah SAW menganjurkan kepada
umatnya agar saling memberikan hadiah. Karena yang demikian itu dapat
menumbuhkan kecintaan dan saling menghormati antara sesama.
Rasulullah SAW bersabda : Artinya : "Hendaklah kalian saling
memberikan hadiah, niscaya kalian akan saling menyayangi " ( HR Abu
Ya'la )
Perbedaan Zakat dan Sedekah
Perbedaan Zakat Sedekah
Hukum Wajib; rukun Islam, berdosa Sunnah; tidak ada paksaan untuk
meninggalkan dijalankan
Waktu Tertentu; zakat fitrah dibayarkan Tidak terbatas oleh waktu
sebelum shalat id. Zakat mal ada
waktunya
Kriteria Tidak semua harta yang Tidak terlarang bagi seseorang
Harta merupakan kekayaan wajib untuk bersedekah dari apappun
dizakatkan. Spt rumah (non kekayaannya, bahkan berpahala
produktif)
Mustahiq) fakir, miskin, amil, mu`allaf, boleh diberikan kepada siapa saja,
budak, orang berhutang, untuk asalkan memang bermanfaat dan
jalan Allah dan untuk mereka tepat guna.
yang sedang dalam perjalanan,
(QS. At-Taubah : 60)
Prosentase Ketentuan harta yang wajib tidak ditetapkan berapa besarnya
Dikeluarkan dikeluarkan dalam zakat itu pasti,
spt; 2,5%, 10 %, 5%
Penyebutan Zakat dan Infaq dalam
Al Qur-an dan As Sunnah
 a. Zakat (QS. Al Baqarah : 43)
b. Shadaqah (QS. At Taubah : 104)
c. Haq (QS. Al An'am : 141)
d. Nafaqah (QS. At Taubah : 35)
e. Al 'Afuw (QS. Al A'raf : 199)
Syarat Harta yang Wajib Dikeluarkan
Zakatnya

 Milik Penuh
 Produktif (an-nama)
 Sampai nishab
 Surplus dari kebutuhan primer
 Bebas dari hutang
 Berlalu satu tahun
Syarat-syarat Wajib Zakat
Beragama Islam (Muslim)

 Islam; Zakat
hanya
diwajibkan bagi
orang Islam
saja.
Merdeka (Bukan
Hamba/Budak)
 Merdeka; Hamba sahaya tidak
wajib mengeluarkan zakat
kecuali zakat fitrah, sedangkan
tuannya wajib
mengeluarkannya. Di masa
sekarang persoalan hamba
sahaya tidak ada lagi.
Bagaimanapun syarat
merdeka tetap harus
dicantumkan sebagai salah satu
syarat wajib mengeluarkan
zakat karena persoalan hamba
sahaya ini merupakan salah
satu syarat yang tetap ada.
Milik Sepenuhnya
 Milik Sepenuhnya; Harta yang akan
dizakati hendaknya milik sepenuhnya
seorang yang beragama Islam dan harus
merdeka. Bagi harta yang bekerjasama
antara orang Islam dengan orang bukan
Islam, maka hanya harta orang Islam
saja yang dikeluarkan zakatnya.
Tidak termasuk harta penuh, bila;
a. Uang yang dipinjam dan tidak jelas
statusnya, akan kembali atau tidak
b. Harta yang telah diwaqafkan untuk
umat
c. Harta untuk pihak tertentu secara
massal
d. Harta milik negara
e. Harta pinjaman
Cukup Haul
 Cukup Haul;
cukup haul
maksudnya harta
tersebut dimiliki
genap setahun,
selama 354 hari
menurut
tanggalan hijrah
atau 365 hari
menurut
tanggalan
mashehi.
Memiliki Potensi untuk
Berkembang
Harta yang tumbuh atau
bisa ditumbuhkan, harta
itu tidak mati atau tidak
diam. Dalam bahasa kita
sekarang ini, harta itu
dimiliki pokoknya
namun bersama dengan
itu, harta itu bisa
memberikan pemasukan
atau keuntungan bagi
pemiliknya
Cukup Nisab
 cukup Nisab; Nisab adalah
nilai minimal sesuatu harta
yang wajib dikeluarkan
zakatnya. Kebanyakan
standar zakat harta (mal)
menggunakan nilai harga
emas saat ini, jumlahnya
sebanyak 85 gram. Nilai
emas dijadikan ukuran
nisab untuk menghitung
zakat uang simpanan,
emas, saham, perniagaan,
pendapatan dan uang dana
pensiun.
Mustahiq Zakat (QS. at-Taubah: 60)
Haram Menerima Zakat
 Orang kaya, yaitu orang yang berkecukupan
atau mempunyai harta yang sampai senisab.
 Orang yang kuat yang mampu berusaha untuk
mencukupi kebutuhannya dan jika
penghasilannya tidak mencukupi, maka boleh
mengambil zakat.
 Orang kafir di bawah perlindungan negara
Islam kecuali jika diharapkan untuk masuk
Islam.
 Rasulullah Saw dan keluarga
Fiqh Zakat Kontemporer
 Dengan semakin berkembangnya pola
kegiatan ekonomi maka pemahaman tentang
kewajiban zakatpun perlu diperdalam
sehingga ruh syariat yang terkandung
didalamnya dapat dirasakan tidak
bertentangan dengan kemajuan tersebut.
Maka pemahaman fiqh zakat kontemporer
dengan mengemukakan ijtihad-ijtihad para
ulama kontemporer mengenai zakat tersebut
perlu difahami oleh para pengelola zakat dan
orang-orang yang memiliki kepedulian
terhadap masalah zakat ini
Fiqh Zakat Kontemporer
 Ketika kita berbicara mengenai fiqh zakat
kontemporer bukan berarti kita
meninggalkan peninggalan ulama-ulama kita
terdahulu (Salaf). Justru buah ijtihad mereka
harus menjadi inspirasi bagi pemecahan
masalah kontemporer yang kita hadapi,
pada dasarnya fiqh kontemporer adalah
merupakan untaian mata rantai yang tidak
dapat dipisahkan dari kesaatuan buah ijtihad
para ulama baik salaf maupun yang datang
setelahnya.
Fiqh Zakat Kontemporer
 Dr Yusuf Qardhawi dengan karya
monumentalnya mengenai fiqh zakat
menyatakan untuk mensikapi perkembangan
perekonomian yang sangat pesatnya
diharapkan adanya beberapa syarat yang
harus dipenuhi oleh para pengelola zakat
khususnya lembaga-lembaganya, yaitu
berpedoman pada kaidah perluasan cakupan
terhadap harta yang wajib dizakati, ‫توسيع‬
‫ وعاء الزكاة‬sekalipun tidak ada nash Qoti’ dari
syariah. Akan tetapi berpedoman pada dalil
yang umum. (Qardhawi, 1994, 15)
Fiqh Zakat Kontemporer
 Pada umumnya ulama-ulama klasik sesuai
dengan nash yang ada, mengkatagorikan
bahwa harta yang kena zakat adalah :
binatang ternak, emas dan perak, barang
dagangan, harta galian dan yang terakhir
adalah hasil pertanian. Tetapi dalam ijtihad
kontenporer yang saat ini salah satunya
diwakili oleh bukunya Dr Yusuf Qardhawi,
beliau merinci banyak sekali model-model
harta kekayaan yang kena zakat, sebanyak
model dan bentuk kekayaan yang lahir dari
semakin kompleknya kegiatan perekonomian
Fiqh Zakat Kontemporer
Dr Qardhawi yang mewakili ijtihad kontemporer
–misalnya- membagi katagori zakat kedalam
sembilan katagori; zakat binatang ternak, zakat
emas dan perak yang juga meliputi uang, zakat
kekayaan dagang, zakat hasil pertanian meliputi
tanah pertaanian, zakat madu dan produksi
hewani, zakat barang tambang dan hasil laut,
zakat investasi pabrik, gedung dan lain-lain,
zakat pencarian, jasa dan profesi dan zakat
saham serta obligasi.
Harta/Kekayaan
Yang Wajib Dikeluarkan Zakatnya
 Zakat emas & perak, Zakat Perhiasan
 Zakat uang
 Zakat pertanian dan zakat hasil bumi
 Zakat binatang ternak
 Zakat harta galian (Rikaz & Maadin)
 Zakat Hasil Manfaat (Al Maal Al Mustafad)
 Zakat perdagangan dan perusahaan
 Zakat profesi
Macam-macam Zakat
a. Zakat Nafs (jiwa), juga disebut zakat fitrah.
b. Zakat Maal (harta)
c. Zakat Profesi
Zakat Fitrah
Zakat Nafs (jiwa), disebut juga Zakat Fitrah à Zakat pribadi
yang harus dikeluarkan pada bulan Ramadhan sebelum
shalat ied.
Besarnya zakat fitrah menurut ukuran sekarang adalah 2,176 kg.
Sedangkan makanan yang wajib dikeluarkan yang disebut nash
hadits yaitu tepung, terigu, kurma, gandum, zahib (anggur)
dan aqith (semacam keju).
Untuk daerah/negara yang makanan pokoknya selain 5 makanan
di atas, mazhab Maliki dan Syafi'i membolehkan membayar
zakat dengan makanan pokok yang lain.
Menurut mazhab Hanafi pembayaran zakat fitrah dapat
dilakukan dengan membayarkan harganya dari makanan
pokok yang di makan.
Waktu Pembayaran Zakat Fitrah/Fidyah
 Pembayaran zakat menurut jumhur 'ulama
1. Waktu wajib membayar zakat fitrah yaitu
ditandai dengan tenggelamnya matahari di
akhir bulan Ramadhan
2. Membolehkan mendahulukan pembayaran
zakat fitrah di awal.
Keterangan: Bagi yang tidak berpuasa
Ramadhan karena udzur tertentu yang
dibolehkan oleh syaria't dan mempunyai
kewajiban membayar fidyah, maka
pembayaran fidyah sesuai dengan lamanya
seseorang tidak berpuasa.
Hukum Zakat Fitrah
Zakat Fitrah adalah hukumnya wajib.
Berdasarkan Sabda Rasulullah s.a.w.
sebagai berikut :
 ‫ن‬ ْ ‫س ْو ُل هللا صلى هللا عليه وسلم زَ َكاة َ ال ِف‬
ْ ‫ ِم‬- ‫ط ِر‬ ُ ‫ض َر‬ َ ‫فَ َر‬
ِ َّ‫علَى الن‬
‫اس‬ َ ‫ان‬ َ ‫ض‬
َ ‫َر َم‬
 Artinya : Rasulullah telah mewajibkan
mengeluarkan Zakat Fitrah (pada bulan
Ramadhan kepda setiap manusia) (HR.
Bukhari – Muslim).
Orang-orang Yang Wajib Zakat Fitrah
Zakat Fitrah adalah wajib bagi setiap orang Islam,
untuk dirinya sendiri dan untuk orang-orang
yang berada dalam tanggungannya, yaitu dari :
1) Laki-laki
2) Perempuan
3) Anak-anak
4) Janin
5) Orang dewasa
6) Budak
7) Orang tua
8) Dan setiap orang yang merdeka (bukan
budak).
Pembayaran Zakat Fitrah
Zakat Fitrah pada intinya adalah menggunakan makanan atau
kebutuhan pokok dari suatu wilayah terkait. Berikut ini
adalah hal-hal yang diperbolehkan digunakan untuk Zakat
Fitrah :
1) Gandum
2) Kurma
3) Susu
4) Anggur kering
5) Beras
6) Dll.
Ukuran Zakat Fitrah
Menurut pendapat mayoritas ulama, bahwa Zakat Fitrah di
keluarkan dengan kadar ukuran 1 sha’. Yaitu sekitar 2,5
sampai 3,0 kilogram.
Membagikan Zakat Fitrah

 Zakat Fitrah itu harus dibagikan kepada


kelompok berikut ini :
1) Fakir
2) Miskin
3) Petugas zakat
4) Muallaf
5) Memerdekakan budak
6) Orang yang terlilit hutang
7) Orang yang sedang dalam jalan Allah
8) Dan orang yang sedang dalam perjalanan
jauh yang bukan maksiat.
Waktu menunaikan Zakat Fitrah
 Zakat Fitrah ditunaikan pada :
1) Sebelun ditunaikannya shalat Ied
2) Boleh dikeluarkan pada awal bulan
Ramadhan
Maka jika Zakat Fitrah dikeluarkan setelah
shalat Ied, maka dihitung sebagai shadaqah
biasa, dan belum menggugurkan kewajiban
zakat fitrah.
Lafadz Niat Zakat Fitrah
 Lafadz niat zakat fitrah yang dikeluarkan
untuk diri sendiri.
َ ‫ع ْن نَ ْف ِِ ْْ فَ ْر‬
 ‫ض هلِ ََََالَى‬ ْ ‫ع ْن ا ُ ْخ ِر َج زَ َكاة َ ْال ِف‬
َ ‫ط ِر‬ ُ ‫ن ََوي‬
َ ‫ْت‬
 Artinya : Aku niat mengeluarkan zakat fitrah
untuk diriku fardhu karena Allah.

Lafadz niat zakat fitrah yang dikeluarkan


untuk orang lain.
‫ض هلِ ََََالَى‬
َ ‫ع ْن …… فَ ْر‬ ْ ‫ع ْن ا ُ ْخ ِر َج زَ َكاة َ ْال ِف‬
َ ‫ط ِر‬ ُ ‫ن ََوي‬
َ ‫ْت‬
 Artinya : Aku niat mengeluarkan zakat fitrah
untuk ……. fardhu karena Allah.
Doa mengeluarkan/menerima zakat fitrah
 Doa bagi orang yang mengeluarkan zakar
fitrah
‫اجََ ْل َها َم ْغنَ ًما َو ََل َ َ ْجََ ْل َها َم ْغ َر ًما‬
ْ ‫اَللَّ ُه َّم‬
 Artinya : Ya Allah jadikan ia sebagai simpanan
yang menguntungkan dan jangan jadikan ia
pemberian yang merugikan.
Doa bagi orang yang menerima zakat fitrah
َ ََ َ‫اجََ ْلهُ ل‬
‫َ ُه ْو ًرا‬ َ ‫ار َك فِ ْي َما ا َ ْبََي‬
ْ ‫ْت َو‬ َ َ‫ْت َوب‬ َ ‫ا َ َج َر َك هللاُ فِ ْي َما ا َ ْع‬
َ ‫طي‬
 Artinya : semoga Allah memberikan pahala
atas apa yang engkau berikan, dan semoga
Allah memberikan barakah atas harta
simpananmu dan menjadikannya sebagai
pembersih bagimu.
NO JENIS YANG DIZAKATI NISHAB WAKTU MEMBAYAR BESAR
ZAKAT ZAKAT
1 FITHRAH Setiap jiwa/kepala semua muslim besar - malam 1 syawal, boleh 2-3 hari 1 sha` = 2,159
kecil, pria wanita, tua muda se sebelumnya atau sejak awal kg beras
Ramadhan
2 EMAS & Yang disimpan bukan yang sering 85 gram emas 1 haul (setelah dimiliki slama 2,5 %
PERAK dikenakan (sebagian ulama memasukan 595 gram perak satu tahun hijriah meski di
yang dipakai) tengahnya pernah berkurang
3 PERDAGAN Uang/modal yang berputar, bukan asset seharga 85 gr 1 haul (setelah dimiliki selama 1 2,5 %
GAN (bangunan, perabot dll tidak termasuk) emas / 595 gr tahun qamariyah, meski
perak ditengahnya pernah berkurang)
4 TABUNGAN Semua bentuk tabungan baik tunai, seharga 85 gr 1 haul (setelah dimiliki selama 1 2,5 %
rekening, piutang, chek, giro dll) emas / 595 gr tahun qamariyah, meski
perak ditengahnya pernah berkurang)
5 PERTANIAN Hasil panen dikurangi biaya perawatan 5 wasaq = 653 kg setiap panen 5 % jika diairi
(pupuk, irigasi, obat dll) gabah = 520 kg atau 10 % jika
beras dgn air hujan
6 INVESTASI Hasil dari harta yang investasikan 5 wasaq = 653 kg setiap mendapat hasil/setoran 5 % dari hasil
(sewa mobil, kontrakan rumah, saham gabah = 520 kg bersih 10 %
dll), nilai investasinya tidak termasuk beras dari hasil kotor
7 PERTAMBA Hasil tambang darat (minyak, emas, - saat mendapat 20 %
NGAN batubara) & laut (mutiara dll)
8 HADIAH hadiah, sayembara, kuis - saat mendapat 20 %
9 PROFESI 1. Penghasilan Kotor (gaji, honor, jumlah Tiap menerima penghasilan 2,5 %
komisi, bonus, THR dll) penghasilan
2. Penghasilan Bersih (setelah dipotong setahun seharga 5
dengan kebutuhan pokok, hutang dll) wasaq = 520 kg
beras
Zakat Emas & Perak
Landasan Hukumnya
 Hadits yang diriwayatkan dari Ali r a, Dia berkata,
telah Bersabda Rasulullah saw: “Jika kamu
mempunyai 200 dirham dan sudah cukup setahun
maka zakatnya adalah 5 dirham, dan emas hanya
dikenakan zakat bila sudah mencapai 20 dinar dan
sudah cukup setahun, maka zakatnya adalah ½
dinar setiap bertambah maka dengan hitungan
tersebut. Tidak wajib zakat kecuali sampai cukup
masa setahun” (H.R Abu Daud)
Zakat Emas & Perak
Nilai Nishab Emas & Perak

 Nishab emas 20 dinar, 1 dinar = 4,25 gram,


maka nishab emas adalah :
20 X 4,25 gram = 85 gram
 Nishab Perak adalah 200 dirham,
1 dirham = 2,975 gram, maka nishab perak
adalah 200 X 2,975 gram = 595 gram.
Zakat Emas & Perak
 Syarat
 Sampai nishab
 Berlalu satu tahun
 Bebas dari hutang yang menyebabkan kurang
dari nishab
 Surplus dari kebutuhannya
Zakat Emas & Perak Perhiasan
 Jika perhiasan tersebut sebagai simpanan
investasi, wajib dikeluarkan zakatnya 2.5%
dengan syarat nishab dan haul
 Perhiasan yang haram digunakan dan terbuat dari
emas & perak, wajib dikeluarkan zakatnya
 Jika perhiasan tersebut untuk dipakai dan dalam
batas yang wajar, tidak dikenakan zakat, jika
berlebihan termasuk kategori pertama
 Penentuan nishabnya adalah senilai dengan
nishab emas 85 gram
Zakat Uang
 Karena uang adalah merupakan barang berharga,
dan menjadi alat mengukur nilai segala sesuatu,
juga merupakan alat tukar yang kekuatannya
seperti emas & perak, maka uang dikenai zakat
sebagaimana emas & perak dikenai zakat.
 Syaratnya:
 Sampai nishab 85 gram emas
 Berlalu satu tahun
 Bebas dari hutang
 Surplus dari kebutuhannya
Zakat Pertanian Landasan Hukumnya
 Firman Allah : “Dan Dialah yang menjadikan kebun-
kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung,
pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam
buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan
warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari
buahnya (yang bermacam-macam itu) bila berbuah.
Dan tunaikanlah haknya (zakatnya) di hari
memetiknya”. (QS. 6 : 141)
 As Sunnah, Dari Jabir, Nabi SAW bersabda: “Yang
diairi oleh sungai dan hujan 10% sedangkan yang
diairi dengan pengairan 5 %”
 Hasil ijmak ulama
Zakat Pertanian
Nishab Dan Tarifnya
 Dari Jabir, dari Rasulullah saw “… Tidak wajib bayar zakat pada
kurma yang kurang dari 5 ausuq” (HR Muslim)
Dari hadist ini dijelaskan bahwa nishab zakat pertanian adalah 5
ausuq
 Ausuq jamak dari wasaq, 1 wasaq = 60 sha’, sedangkan 1 sha’
= 2,176 kg, maka 5 wasaq adalah 5 x 60 x 2,176 = 652,8 kg
 Hitungan tersebut adalah untuk makanan pokok atau gabah,
maka jika diberaskan nishab tersebut menjadi 520 kg
 Sedangkan kadar zakat yang harus dikeluarkan berdasarkan
hadits dari Jabir (yang pertama) jika diairi oleh hujan atau sungai
10 %, dan apabila diairi oleh pengairan 5 %
Hasil Bumi
Yang Harus Dikeluarkan Zakatnya

 Pendapat Malikiyah dan Syafiiyyah; adalah


pada hasil bumi yang dapat ditakar dan
disimpan, berlaku pada makanan pokok,
dikeluarkan pada waktu panen dan dalam
keadaan kering.
 Pendapat Madzhab Imam Ahmad juga Abu
Yusuf dan Muhammad Hasan (dari Madzhab
Hanafi) adalah pada hasil bumi yang dapat
ditakar dan disimpan, sekalipun bukan
makanan pokok, dikeluarkan zakatnya ketika
sudah kering.
Hasli Bumi
Yang Harus Dikeluarkan Zakatnya
 Pendapat Imam Abu Hanifah; semua yang keluar dari
bumi, jika maksudnya untuk dikembangkan wajib
dikeluarkan zakatnya. Hal tersebut berlandaskan pada
keumuman ayat “Hai orang-orang yang beriman!
Nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil
usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang
Kami keluarkan dari bumi untukmu”
 Salah satu pendapat Imam Ahmad; Zakat hanya
diwajibkan pada empat jenis, dua jenis gandum (hinthah
dan syair) dua jenis buah-buahan (kurma dan anggur)
Hasil Bumi
Yang Harus Dikeluarkan Zakatnya

 Pendapat yang paling kuat (sebagai mana


yang disimpulkan oleh Dr Yusuf
Qardhawi) adalah pendapat Imam Abu
Hanifah
 Alasannya adalah; didukung oleh
keumuman cakupan pengertian nash-nash
Al quran dan Hadits, dan sesuai dengan
hikmah suatu syariat diturunkan.
Nishab Hasil Bumi Yang
Tidak Diliter

 Nishab 5ausuq adalah bagi hasil bumi yang


dapat diukur dengan takaran tersebut,
adapun bagi hasil bumi yang tidak dapat
diliter maka nishabnya yaitu sama dengan
nilai 653 kg hasil bumi yang berharga,
seperti padi untuk negeri kita atau gandum,
demikan pendapat Dr Yusuf Qardhawi.
Zakat Binatang Ternak
 Syarat Umum
 Sampai Nishab
 Berlalu satu tahun
 Tenaganya tidak dipergunakan untuk
produksi
 Digembalakan
Nishab & Kadar Zakat
Binatang Ternak Unta
 1 – 4 tidak ada zakat
 5 – 9 seekor kambing
 10 – 14 dua ekor kambing
 15 – 19 tiga ekor kambing
 20 – 24 empat ekor kambing
 25 – 35 unta betina 1 tahun
 36 – 45 unta betina 2 tahun
Setiap tambahan 50 unta,
 46 – 60 unta betina 3 tahun seekor unta 3 tahun dan
 61 – 75 unta betina 4 tahun 40 unta seekor unta 2
 76 – 90 2 unta betina 2 tahun tahun

 91 – 120 2 unta betina 3 tahun


Nishab & Kadar Zakat
Binatang Ternak Sapi
 1 - 29 Tidak ada zakat
 30 – 39 anak sapi
 40 – 59 sapi satu tahun
 60 – 69 sapi usia 2 tahun
 70 – 79 2 ekor anak sapi
 80 – 89 anak sapi & sapi 2 thn
 90 – 99 2 sapi 2 tahun
 100 – 109 3 anak sapi
 110 – 119 2 anak sapi & sapi usia 2 tahun
 Kemudian setiap pertambahan 30 ekor seekor
anak sapi dan 40 ekor seekor sapi usia 2 tahun
Nishab & Kadar Zakat
Binatang Ternak Kambing
 1 - 39 Tidak ada zakat
 40 – 120 seekor kambing
 121 – 200 2 ekor kambing
 201 – 299 3 ekor kambing
 300 – 399 4 ekor kambing
 Selanjutnya setiap pertambahan 100 ekor seekor kambing
Nishab & Kadar Zakat
Binatang Ternak Kuda
 Kuda tunggangan, dan yang dipergunakan tidak
dikenakan zakat
 Kuda yang diperjual belikan, dianggap sebagai asset
perdagangan, maka termasuk pada zakat perdagangan
2.5%
 Kuda yang diternak dengan maksud investasi;
Kebanyakan ulama mengatakan tidak dikenai zakat.
Imam Abu Hanifah berpendapat dikenai zakat
sebesar 1 dinar (4.25 gram emas) dengan nishab 5
ekor jika kuda Arab, selain kuda Arab 2.5 % dari
nilai kuda tersebut, Dr Yusuf Qordhowi berpendapat
2.5 % dari nilai kuda-kuda tersebut dengan nishab 5
ekor tanpa membedakan kuda Arab dan lainnya
Zakat Binatang Ternak Lainnya

 Binatang ternak lainnya (selain yang telah disebutkan


dan ada nashnya) menurut sebahagian ulama
dikenakan zakat dengan alasan dalil yang umum
 Mengenai nishab dan kadarnya ulama berbeda
pendapat
 Pertama nishabnya adalah senilai dengan emas 85
gram dan besarnya zakat 2.5 % dikiaskan pada
harta kekayaan
 Dr Qardhawi berpendapat, nishabnya adalah di-
analogikan pada nilai 5 ekor unta atau 40 ekor
kambing. Kadarnya 2.5 %
Zakat Harta Galian & Barang
Tambang

 Landasan Hukum Dan Kadarnya


 Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW
pernah bersabda: “ Pada “rikaz” harta galian,
zakatnya seperlima )20%)”
(Bukhori Muslim)
Pengertian Rikaz
 Jumhur ulama berpendapat bahwa rikaz
adalah harta yang terpendam dalam perut
bumi dari kekayaan masyarakat jahiliyyah
 Jumhur ulama membedakan antara barang
tambang dengan rikaz.
 Abu Hanifah mendefinisikan bahwa rikaz
mencakup semua kekayaan dalam perut
bumi termasuk barang tambang.
Syarat-Syarat Zakat Rikaz
 Madzhab Syafii’ mensyaratkan bahwa rikaz
adalah kekayaan pada tanah yang tidak bertuan,
sementara jumhur mensyaratkan peninggalan
jahiliyyah
 Madzhab Syafii’ mengkhususkan rikaz pada emas
dan perak saja, sementara madzhab yang lain
tidak mensyaratkan demikian
 Madzhab Syafii’ mensyaratkan nishab, sementara
madzhab lainnya tidak.
Barang Tambang
 Madzhab Abu Hanifah tidak membedakan antara rikaz
dengan barang tambang, maka besarnya zakat adalah 20
%
 Sedangkan jumhur tidak membedakan antara keduanya,
secara umum zakat barang tambang sebesar 2,5 % karena
ekplorasinya membutuhkan biaya yang besar
 Madzhab Maliki dan Syafii’ menyatakan jika penggalian
barang tambang tersebut tidak mengeluarkan cost, maka
besar zakatnya adalah 20 %
Kesimpulan Pendapat
Pada Rikaz & Barang Tambang

 Zakat Rikaz berbeda dengan Zakat Barang


Tambang
 Zakat Barang Tambang mencakup semua jenis,
baik padat maupun cair
 Zakat Rikaz dan Barang Tambang tidak
mensyaratkan nishab dan haul
 Tarif Zakat Rikaz 20% dan Zakat Barang
Tambang 2,5 % kecuali ada kemiripan
 Mustahik Zakat Rikaz dan Barang Tambang sama
dengan mustahikkin zakat lainnya.
Zakat Hasil Laut dan Galian
 Harta galian adalah yang didapatkan dari
perut bumi baik cair seperti minyak, atau
padat, atau berupa gas, atau berupa besi
sulgur, dan sebagainya. Sedangkan ikan,
mutiara, marjan dan sebangsanya adalah
merupakan harta yang didapat dari lautan
dan dasar zakat bagi harta tersebut adalah
termasuk kategori harta yang tidak
bergerak. Maka tarifnya adalah 20%
Zakat Hasil Laut dan Galian
 Kaidah yang harus diperhatikan
 Harta tersebut termasuk dalam katagori harta yang
tidak disyaratkan haul, juga tidak disyaratkan nishab
 Jika harta tersebut didapat tidak melalui jerih payah
maka tarifnya adalah 20%, akan tetapi jika
dicapainya melalu jerih payah maka tarifnya adalah
10% (Dr. Yusuf Qordhowi, Fiqh Zakat)
 Sedangkan Perusahaan tambang yang mendapat izin
ekplorasi hasil tambang tarif zakatnya adalah 2,5 %
seperti zakat perdagangan yang dikenakan dari modal
dan hasil. (Pendapat Jumhur Ulama)
Zakat Hasil Manfaat
 Sesuatu yang kita pergunakan tidak wajib dikenai
zakat sesuai dengan apa yang pernah
diungkapkan Rasulullah SAW. Adapun harta
yang tidak kita gunakan, tetapi harta tersebut
mendatangkan pemasukan seperti rumah yang
disewakan, atau tanah, atau barang lainnya, maka
hal tersebut dapat dikenai zakat, dan disebut
sebagai harta yang diambil manfaatnya.
Keputusan tersebut telah diambil oleh para ulama
dalam pertemuan pambahasan zakat di Kuwait
tahun
Zakat Hasil Manfaat
 Maka yang termasuk dalam katagori ini adalah:
 Pemasukan dari hasil kontrak rumah, atau bangunan
 Pemasukan dari hasil menyewakan sarana
transportasi
 Pemasukan dari hasil ternak ayam telur dan yang
semisalnya
 Pemasukan dari hasil ternak yang dipekerjakan atau
diambil hasilnya
 Pemasukan dari hasil produk peternakan seperti wool
dan susu
 Pemasukan dari ternak lebah
 Pemasukan dari proyek tender bangunan dst
Zakat Hasil Manfaat
 Untuk menghitungnya hendaknya memperhitungkan
hal-hal berikut ini:
 Tarif zakat bagi harta yang diambil manfaatnya
adalah 2,5 %
 Nishab yang ditentukannya adalah dianalogikan pada
nilai emas 85 gram
 Mengikuti haul dengan mengakumulasikan hasil yang
didapat selama setahun, jika sampai nishab, maka
wajib dikeluarkan zakatnya sesuai tarif diatas
 Biaya produksi langsung dan tidak langsung
dikurangkan atas hasil tersebut dengan selalu
berpedoman pada prinsip tidak berlebih-lebihan
dalam cost
 Jika ada hutang yang berkaitan dengan produksi maka
hal tersebut dikurangkan atas hasil yang didapat.
Zakat Perdagangan
 Landasan Hukum
 Firman Allah : “Wahai orang-orang yang beriman,
keluarkanlah sebagian dari harta halal yang kamu
peroleh dari usahamu dan dari harta yang kami
keluarkan untukmu dari perut bumi” )Q S 2 : 267)
 Dari Samurah bin Jundub mengatakan : “Rasulullah
saw memerintahkan kami agar mengeluarkan zakat
dari semua yang kami persiapkan untuk
diperdagangkan”
Ketentuan Zakat Perdagangan
 Dikenakan atas modal yang diputar, keuntungan dan
piutang lancar dikurangi hutang dan kerugian. Asset
tetap yang tidak untuk diperdagangkan tidak
termasuk harta perdagangan.
 Berlalu satu tahun
 Mencapai nishab yaitu senilai dengan 85 gram emas
 Tarip zakatnya 2,5%
 Dapat dibayar dengan uang atau barang
 Dikenakan pada perdagangan sendiri maupun
perseroan
 Aktiva berjalan – Kewajiban Lancar
Zakat Investasi
 Zakat Investasi dalam istilah fiqh biasa disebut
Zakat “Almustaghillat” atau Al maal almustafaad
 Zakat tersebut dikenakan terhadap harta yang
diperoleh dari hasil investasi
 Diantara bentuk usaha yang termasuk investasi
adalah; bangunan atau kantor yang disewakan,
saham, rental mobil, rumah kontrakan, dll
Analogi Zakat Investasi
 Sebagian ulama Hanbali menganalogikan kedalam
zakat perdagangan, dengan tarif 2,5 % dan nishab
85 gram serta sampai haul
 Sebagian ulama Maliki dan salaf seperti Ibnu
Masu’d, Ibnu Abbas dll menganalogikannya
kedalam zakat uang tapi diambil dari hasilnya saja,
tanpa mensyaratkan haul dikeluarkan ketika
menerimanya
 Abu Zahrah, Abdul Wahab Kholaf & Yusuf
Qordhowi menganalogikannya kedalam zakat
pertanian yaitu dikeluarkan saat menghasilkan dari
hasilnya, tanpa memasukkan unsur modal dengan
tarif 5 % untuk penghasilan kotor dan 10 % untuk
penghasilan bersih
Zakat Investasi
 Kebanyakan ulama kontemporer
mengambil pendapat yang kedua yaitu
dizakati dari hasil bersih, dengan nishab
senilai 85 gram emas dan tarif 2,5%
mengikuti kaidah haul
Zakat Perusahaan
 Dalam fiqh Islam perusahaan dikenal dengan syirkah.
Pada era modern sekarang ini, perusahaan adalah
merupakan lambang kekuatan perekonomian, oleh
sebab itu tidak pantas membiarkan perusahaan terlepas
dari kewajiban zakat.
 Pada dasarnya zakat adalah merupakan kewajiban
individu, sedangkan perusahaan adalah merupakan
badan hukum yuridicial personality (Syakhsiyyah
I’tibariyyah), tapi beberapa nash mendukung adanya
zakat perusahaan ini
Landasan Hukumnya
 Hadist riwayat Buchori dalam pembahasan
zakat binatang ternak : “… janganlah
menggabungkan yang terpisah dan jangan
memisahkan sesuatu yang sudah
bergabung (berserikat) dan sesuatu yang
bercampur dari dua pihak maka keduanya
memeriksa (jumlah hartanya) untuk
dibayarkaan dengan ketentuan yang sama
(sesuai besarnya harta)”
Ketentuan Zakat Perusahaan
 Dianalogkan pada zakat perniagaan, sesuai
dengan pendapat Muktamar Zakat
Internasional, dan berdasarkan pada
pendapat ulama. Diantaranya adalah Abu
Ishaq Asy Syatibi, “Hukumnya adalah seperti
hukum zakat perdagangan, karena dia
memproduksi dan kemudian menjualnya, atau
menjadikan apa yang diproduksinya sebagai
komoditas perdagangannya, maka dia harus
mengeluarkan zakatnya tiap tahun dari apa yang
dia miliki baik berupa stok barang yang ada
ditambah nilai dari hasil penjualan yang ada,
apabila telah mencapai nishabnya.”
Cara penghitungannya
 Sama dengan pola penghitungan zakat
perdagangan
 Aktiva lancar dikurangi kewajiban lancar
 Nishab senilai 85 gram emas
 Tarif 2,5%
Zakat Profesi
 Zakat profesi adalah zakat atas penghasilan yang
diperoleh dari pengembangan potensi diri yang dimiliki
seseorang dengan cara yang sesuai syariat, seperti: upah
kerja rutin, profesi dokter, pengacara, arsitek, dll.
 Dari berbagai pendapat dinyatakan bahwa landasan zakat
profesi dianalogikan kepada zakat hasil pertanian yaitu
dibayarkan ketika mendapatkan hasilnya, demikian juga
dengan nishobnya yaitu sebesar 652,8 kg makanan pokok
(gabah) atau senilai 520 kg beras, dan dibayarkan dari
pendapatan kotor. Sedangkan tarifnya adalah
dianalogikan kepada zakat emas dan perak yaitu sebesar
2,5 %, atas dasar kaidah “Qias Asysyabah”.
Cara Penghitungannya
 Zakat penghasilan ialah yang dikeluarkan dari
penghasilan kita atau pendapatan yang didapatkan dari
hasil kerja kita, hal tersebut dapat dilakukan:
 Dengan cara mengakumulasikan pendapatan tiap bulan yang
mencapai nishab, kemudian ditunaikan zakatnya pada akhir
tahun
 Atau ditunaikan pada tiap bulan ketika kita mendapatkannya
 Tarifnya adalah 2,5%, Sedangkan nishabnya adalah 520 kg
beras dengan asumsi pendapataan kotor.
 Utang jangka panjang yang dicicil tiap bulan dapat menjadi
pengurang penghasilan.
Landasan Zakat Profesi
 Ada beberapa pendapat yang muncul mengenai
nishab dan kadar zakat profesi, yaitu:
 1. Menganalogikan secara mutlak kedua kategori
di atas dengan hasil pertanian, baik nishab maupun
kadar zakatnya. Dengan demikian, nishab-nya
adalah senilai dengan hasil pertanian yaitu 653 kg
gabah, tarifnya 5%, dan dikeluarkan setiap
menerima hasil tersebut.
 2. Menganalogikan secara mutlak kedua kategori
di atas dengan zakat perdagangan atau emas.
Nishab-nya 85 gram emas. Kadar zakatnya 2,5%
dan dikeluarkan setiap menerima. Kemudian,
penghitungannya diakumulasikan atau dibayar di
akhir tahun.
Landasannya
1. Menganalogikan nishab zakat upah kerja/gaji
dengan nishab zakat hasil pertanian. Nishab-
nya senilai 653 kg gabah dan dikonversi ke
dalam makanan pokok, yaitu beras dengan
penyusutan 20% dari gabah. Dari
penyusutan ini diperkirakan hasilnya menjadi
520 kg beras. Sedangkan, kadar zakatnya
dianalogikan dengan emas yakni 2,5%. Hal
tersebut berdasarkan qiyas atas kemiripan
(syabbah) terhadap karakteristik harta zakat
yang telah ada, yakni :
Model memperoleh harta penghasilan
(profesi) mirip dengan panen (hasil
pertanian). Dalam hal ini, maka harta ini
dapat di-qiyas-kan ke dalam zakat
pertanian berdasarkan nishab (653 kg
gabah kering giling atau setara dengan
520 kg beras) dan waktu pengeluaran
zakatnya (setiap kali panen).
Model bentuk harta yang diterima sebagai penghasilan berupa
uang. Oleh sebab itu, bentuk harta ini dapat di-qiyas-kan
dalam zakat harta (simpanan/kekayaan) berdasarkan kadar
zakat yang harus dibayarkan (2,5 %). Dengan demikian, hasil
profesi seseorang apabila telah memenuhi ketentuan wajib
zakat, maka wajib baginya untuk menunaikan zakat. Model
penganalogian tersebut tidak asing di kalangan ulama salaf,
seperti saat para ulama menganalogikan hamba sahaya. Di
satu sisi, hamba sahaya dianalogikan dengan hewan untuk
menetapkan boleh/tidaknya mereka diperjualbelikan. Namun
di sisi lain, hamba sahaya dianalogikan dengan manusia
mukallaf ketika mereka harus malaksanakan beberapa taklif,
seperti shalat dan puasa. (Al Amidi 423)
Zakat Profesi
 Zakat yang dikeluarkan dari hasil usaha /penghasilan
yang diperoleh dari profesi tertentu
 Dasar Hukum
Firman Allah SWT:
dan pada harta-harta mereka ada hak untuk oramng
miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak dapat
bagian
(QS. Adz Dzariyat:19)
 Firman Allah SWT:
Wahai orang-orang yang beriman, infaqkanlah (zakat)
sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik.
(QS Al Baqarah 267)
 Hadist Nabi SAW:
Bila zakat bercampur dengan harta lainnya maka ia akan
merusak harta itu
(HR. AL Bazar dan Baehaqi)
 Hasil Profesi
Hasil profesi (pegawai negeri/swasta, konsultan,
dokter, notaris, dll) merupakan sumber
pendapatan (kasab) yang tidak banyak dikenal di
masa salaf(generasi terdahulu), oleh karenanya
bentuk kasab ini tidak banyak dibahas, khusunya
yang berkaitan dengan "zakat".
 Zakat profesi memang tidak dikenal dalam
khasanah keilmuan Islam, sedangkan hasil
profesi yang berupa harta dapat dikategorikan ke
dalam zakat harta (simpanan/kekayaan). Dengan
demikian hasil profesi seseorang apabila telah
memenuhi ketentuan wajib zakat maka wajib
baginya untuk menunaikan zakat.
Cara Menghitung
 Pertama: penentuan nisab dan kadar zakat
profesi. Mohammad Taufik Ridho di dalam
bukunya Zakat Profesi dan Perusahaan yang
diterbitkan oleh Institut Manajemen Zakat
bekerja sama dengan BAMUIS BNI
mengemukakan bahwa ada 4 pendapat dalam
mengqiyaskan hukum untuk menentukan
*nisab* dan tarif zakat profesi sebagaimana
table berikut.
 Contoh:
Akbar adalah seorang karyawan swasta yang berdomisili di
kota Bogor, memiliki seorang istri dan 2 orang anak.
Penghasilan bersih perbulan Rp. 10.500.000,-.
Bila kebutuhan pokok keluarga tersebut kurang lebih
Rp.7.250.000 per bulan maka kelebihan dari
penghasilannya = (10.500.000 – 7.000.000) = Rp.
3.500.000 perbulan.
Apabila saldo rata-rata perbulan 3.500.000 maka jumlah
kekayaan yang dapat dikumpulkan dalam kurun waktu satu
tahun adalah Rp. 42.000.00 (lebih dari nishab). Jika harga
emas per gram 400.000, maka dikalikan 85 = 34.000.000,-
(ini adalah ukuran nisab dengan berpatokan pada 85 gram
mas sebagai wajib zakat)
Dengan demikian Akbar berkewajiban membayar zakat
sebesar 2.5% pendapatan awalnya, sebab pendapatannya
telah melebihi kebutuhan pokok, serta akumulasi dari
kelebihan pemakaian/kebutuhan juga telah melebihi
 Dalam hal ini zakat dapat dibayarkan setiap bulan sebesar
2.5% dari saldo bulanan atau 2.5 % dari saldo tahunan.
 Kedua: cara menghitung zakat profesi apakah dari penghasilan
netto atau bruto. Untuk cara yang pertama, untuk menentukan
besarnya zakat profesi yang dikeluarkan pemilik harta terlebih
dahulu mengurangi penghasilan yang mereka terima dengan
kebutuhan pokok minimum pemilik harta tersebut. Ada beberapa
versi dalam menentukan standar hidup minimal. Sekedar contoh,
menurut Bank Dunia standar hidup minimal adalah $2 per jiwa
perhari. Jika menggunakan cara yang kedua, begitu menerima
penghasilan pemilik harta tersebut segera menentukan zakatnya
tanpa menguranginya dengan kebutuhan pokok minimum.
 Mengacu pada dua permasalahan di atas, jika seseorang
professional muda (belum menikah) memiliki total penghasilan Rp.
10.000.000,- per bulan dengan metode penghitungan pertama yakni
penghasilan netto dengan asumsi kebutuhan pokok minimum
professional muda tersebut adalah Rp. 5.500.000 per bulan, maka
zakat yang harus dikeluarkan ditunjukkan penjelasan berikut:
 Penghasilan netto = (Rp. 10.000.000 – Rp.
5.500.000) = Rp. 4.500.000,-
 (wajib zakat karena telah melampaui nisab
baik zakat pertanian maupun zakat emas
(uang)

Zakat Profesi = Rp. 10.000.00 x 2,5 % =


*Rp. 250.000,00*
Hikmah Zakat
1. Menolong, membantu, membina dan membangun kaum
dhuafa yang lemah papa dengan materi sekedar untuk
memenuhi kebutuhan pokok hidupnya.
2. Memberantas penyakit iri hati, rasa benci dan dengki dari diri
orang-orang di sekitarnya berkehidupan cukup, apalagi
mewah.
3. Dapat mensucikan diri (pribadi) dari kotoran dosa,
memurnikan jiwa (menumbuhkan akhlaq mulia menjadi
murah hati, peka terhadap rasa kemanusiaan) dan mengikis
sifat bakhil (kikir) serta serakah.
4. Dapat menunjang terwujudnya sistem kemasyarakatan Islam
yang berdiri atas prinsip-prinsip: Ummatn Wahidan (umat
yang satu), Musawah (persamaan derajat, dan dan
kewajiban), Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) dan
Takaful Ijti'ma (tanggung jawab bersama)
Hikmah …
1. Menjadi unsur penting dalam mewujudakan
keseimbanagn dalam distribusi harta (sosial
distribution), dan keseimbangan tanggungjawab
individu dalam masyarakat
2. Zakat adalah ibadah maaliyah yang mempunyai
dimensi dan fungsi sosial ekonomi atau pemerataan
karunia Allah SWT dan juga merupakan perwujudan
solidaritas sosial
3. Mewujudkan tatanan masyarakat yang sejahtera
dimana hubungan seseorang dengan yang lainnya
menjadi rukun, damai dan harmonis yang akhirnya
dapat menciptakan situasi yang tentram, aman lahir
bathin.
Konsep Kepemilikan dalam
Islam
Konsep Kepemilikan dalam
Islam
Pengertian
Hubungan antara manusia dengan harta yang
ditentukan oleh syara dalam bentuk perlakuan
secara khusus thdp. harta tersebut yang
memungkinkan untuk mempergunakannya secara
umum sampai ada larangan untuk
menggunakannya.
 Bahasa: Penguasaan manusia atas harta dan
penggunaannya secara pribadi
 Definisi Istilah: Pengkhususan hak atas sesuatu tanpa
orang lain, dan dia berhak untuk menggunakannya
sejak awal kecuali ada larangan syariy.
 Larangan syariy seperti: Keadaan gila,
keterbelakangan akal (idiot), belum cukup umur
ataupun cacat mental, dll.
Keadaan/Pembagian Harta, dapat
dimiliki ataupun tidaknya:
Harta yang tidak dapat dimiliki
dan dihakmilikkan orang lain

 Setiap harta milik umum seperti


jalanan, jembatan, sungai dll. dimana
harta/barang tersebut untuk
keperluan umum.
Harta yang tidak bisa dimiliki kecuali
dengan ketentuan syariah

 Seperti harta wakaf, harta baitul mal dll.


Maka harta wakaf tidak bisa dijual atau
dihibahkan kecuali dalam kondisi
tertentu seperti mudah rusak ataupun
biaya pengurusannya lebih besar nilai
hartanya.
Harta yang bisa dimiliki dan
dihakmilikkan kpd. lainnya

 Selain dari dua jenis harta dalam


kategori tsb. diatas.
Karakteristik Hak manfaat atau
pemanfaatan atas sesuatu harta
Habisnya Hak Manfaat
Macam-macam Pemilikan yang
tidak sempurna
Pemilikan atas barang saja

 Hak kepemilikan milik sendiri, namun


hak pakai milik yang lain
 Hak Pakai tidak bisa diwariskan menurut
Hanafiyah
Pemilikan manfaat perorangan
atau hak pakai saja
 Lima hal yang menyebabkan hak pakai/pemilikan manfaat:
 1. Peminjaman, menurut jumhur hanafiyah dan
malikiyah,barang yang dipinjam dapat dipinjamkan kepada
yang lainnya. Adapun menurut syafiiyah dan Hanbali,
barang tersebut tidak dapat di pinjamkan kepada orang lain
(selain peminjam)
 Pemindahan hak pakai tanpa membayar ganti
 2. Sewa (Ijarah), yaitu pemindahan hak pakai dengan
membayar ganti
 3. Wakaf, yaitu penahanan kepemilikan atas barang pada
seseorang dan memindahkan hak manfaatnya kepada yang
diberikan wakaf
 4. Wasiyat
 5. Ibahah, izin untuk menggunakan sesuatu atau
memakainya
 Perbedaan antara ibahah dan pemilikan ....lihat di buku
Jenis-jenis pemilikan
Taam: Sempurna

 Jenis Kepemilikian atas sesuatu yang


sekaligus dapat memanfaatkannya,
atau si pemilik berhak atas seluruh
hak-hak syariy
 Tidak terbatas pada waktu
 Tidak dapat di batalkan pemilikannya
Naqis: Tidak Sempurna

 Bisa hanya memiliki ataupun punya


hak pakai
 Hak Pakai pada barang tidak bergerak
seperti rumah atau tanah
1. Dimana tempat membayar zakat
2. Hikmah zakat
3. Membayar zakat kepada saudara kandung?
Pajak dan Zakat
Banyak orang berusaha
menyamakan antara zakat dan
pajak, sehingga konsekwensinya
ketika seseorang sudah
membayar pajak maka gugurlah
pembayaran zakatnya. Sementara
sebagian yang lain menolak
bahwa zakat sama dengan
pajak.
Persamaan Zakat dan Pajak
 Bersifat wajib dan mengikat atas harta penduduk
suatu negeri, apabila melalaikannya terkena
sanksi.
 Zakat dan pajak harus disetorkan kepada lembaga
resmi agar tercapai efisiensi penarikan keduanya
dan alokasi penyalurannya. Dalam pemerintahan
Islam zakat dan pajak dikelola oleh negara.
 Tidak ada ketentuan memperoleh imbalan materi
tertentu di dunia.
 Dari sisi tujuan ada kesamaan keduanya yaitu
untuk menyelesaikan problem ekonomi dan
mengentaskan kemiskinan yang terdapat di
masyarakat.
Perbedaan Zakat dan Pajak
 Dari segi Nama. Zakat berarti bersih,
bertambah, dan berkembang. Sedangkan Pajak
berarti Utang/Pajak/Upeti; “Jizyah”.
 Dari segi Dasar Hukum. Zakat berdasar Al-
quran dan Sunnah. Sedangkan Pajak berdasar
Undang-Undang.
 Dari segi Nishab dan Tarif. Zakat ditentukan
oleh Allah (bersifat mutlak). Sedangkan Pajak
ditentukan negara (bersifat relatif).
 Dari segi Sifat. Zakat adalah kewajiban
bersifat tetap dan terus menerus. Sedangkan
Pajak adalah kewajiban sesuai dengan kebutuhan
dan dapat dihapuskan.
 Dari segi Subjek. Zakat subjeknya muslim.
Sedangkan Pajak adalah warga negara
 Dari segi Objek Alokasi Penerima. Zakat adalah
tetap yaitu 8 golongan. Sedangkan Pajak adalah
untuk dana pembangunan dan anggaran rutin.
 Dari segi Harta yang Dikenakan. Zakat adalah
harta produktif. Sedangkan Pajak adalah semua
jenis harta.
 Dari segi Syarat Ijab Kabul. Zakat adalah
disyaratkan. Sedangkan Pajak tidak disyaratkan.
 Dari segi Imbalan. Zakat adalah pahala/surga
dan keberkahan harta. Sedangkan Pajak adalah
tersedianya barang dan jasa publik.
 Dari segi Sanksi. Zakat adalah Allah dan
pemerintah Islam. Sedangkan Pajak dari
negara.
 Dari segi Motivasi Membayar. Zakat
adalah keimanan dan ketakwaan kepada
Allah. Sedangkan Pajak adalah kepatuhan
dan ketakutan pada negara dan sanksinya.
KAITAN ZAKAT DAN
PAJAK
 UU No. 38 Tahun 1999 Tentang
Pengelolaan Zakat (pasal 14 ayat (3)),
Dikatakan: “Zakat yang telah dibayarkan
kepada BAZ atau LAZ dikurangkan dari
laba/pendapatan sisa kena pajak dari
wajib pajak yang bersangkutan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku”
 UU No. 17 Tahun 2000 Tentang Pajak
Penghasilan (Pasal 9 ayat (1) poin g),
dikatakan: “Zakat atau penghasilan
yang nyata-nyata dibayarkan oleh
wajib pajak pribadi muslim dan atau
wajib pajak badan dalam negeri milik
muslim kepada BAZ atau LAZ yang
dibentuk atau disahkan oleh
pemerintah”
Pengertian Pajak UU 29 Tahun 2007
 Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara
yang terutang oleh pribadi atau badan yang
bersifat memaksa berdasarkan Undang-undang
dengan tidak mendapatkan imbalan secara
langsung dan digunakan untuk keprluan
negara bagi sebesar-besarnya untuk
kemakmuran rakyat.
 Makna pajak dari aspek ekonomi dan hukum
Fungsi Pajak
1. Pendapatan negara; biaya operasional
negara dan belanja pembangunan
2. Pengaturan ekonomi masyarakat;
 Perangilah orang-orang yang tidak beriman
kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari
Kemudian, dan mereka tidak mengharamkan
apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya
dan tidak beragama dengan agama yang benar
(agama Allah), (yaitu orang-orang) yang
diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai
mereka membayar Jizyah (Pajak) dengan patuh
sedang mereka dalam keadaan tunduk
(QS.[9]:29).