Anda di halaman 1dari 35

PLANT-BASED DIET, CHOLESTEROL, AND RISK OF GALLSTONE

DISEASE: A PROSPECTIVE STUDYD DESIGN


EVA RATNASARI / 406172004
ELITA SYARAVINA/ 406172076
SURGERY DEPARTMENT, RSUD SOEWONDO,PATI– FEB 2019
1. PENDAHULUAN
 Prevalensi penyakit batu empedu (Gallstone disease (GSD)) lebih tinggi di negara Barat (>10%) daripada di Asa
(3%–10%)
 Wanita, usia tua, BMI yang tinggi, hyperlipidemia, konsumsi alkohol, dan DM  faktor resiko dari batu empedu
 Di negara barat batu empedu yang sering dijumpai tersusun dari kolesterol  75%–80% dari total kasus
 Hubungan antara batu empedu dan makanan yang berasal dari tanaman telah diteliti di literature sebelumnya
hasilnya kontroversial
 Beberapa studi  menyarankan konsumsi buah dan sayuran akan menurunkan resiko kolesistektomi pada perempuan
 European EPIC-Oxford memperlihatkan diet vegetarian adalah factor resiko untuk batu empedu simptomatik
 Faktor patologis dari batu empedu kolesterol termasuk  latar belakang genetic, supersaturated bile  ↑
pengendapan kristal kolesterol
 Hubungan antara kadar kolesterol darah dan pembentukan batu empedu  multifaktorial dan kompleks
 Peran kadar kolesterol darah dalam perkembangan batu empedu simptomatik belum diketahui.
 Studi sistematik review dan meta analisis  memberikan bukti dimana diet vegetarian secara efektif menurunkan
konsentrasi total kolesterol dalam darah (TCH), low-density lipoprotein (LDL) cholesterol, and high-density
lipoprotein (HDL) cholesterol
 Diet vegetarian berhubungan dengan ↓resiko dari beberapa penyakit seperti HT , Sindrom metabolic, DM , IHD
diverticulitis
 Ca recti  diet vegetarian berguna sebagai terapi nonfarmakologi
HIPOTESIS

• diet vegetarian menurunkan insidens batu empedu simptomatik dengan menurunkan


kolesterol dalam darah

TUJUAN PENELITIAN

• Untuk menilai efek dari diet vegetarian vs non vegetarian terhadap insidens dari batu empedu
simptomatik dengan prospective cohort study di Taiwan dan untuk mengetahui adakah
hubungan dengan konsentrasi kolesterol
2. METODE PENELITIAN

 2.1. Desain Studi dan Populasi


 6002 responden (usia 18- 87 tahun) dari 2007- 2009 di Buddhist Dalin Tzu Chi Hospital.
 77% adalah sukarelawan  didorong meski tidak wajib menjadi vegetarian
2.2. PENILAIAN DIET, KOLESTEROL, DAN KOVARIAT LAINNYA

 Responden menerima pemeriksaan kesehatan yang komperhensif


 Dilakukan wawancara dengan kuesioner untuk demografi (jenis kelamin, pendidikan) riwayat kesehatan, kebiasaan
gaya hidup (merokok, alcohol, aktivitas fisik) dan diet (kuesioner tentang praktek diet vegetarian [tipe dan durasi]
dan kuesioner frekuensi makanan [FFQ])
 Responden diwawancarai  64 item kuantitaif yang telah divalidasi  untuk menunjukan reliabilitas dan validitas
dalam populasi penelitian
 Diet vegetarian  penghindaran daging dan ikan yang dinilai oleh konfirmasi tatap muka oleh pewawancara
 Pengambilan sampel darah  setelah puasa semalam  mengukur total kolesterol, LDL, HDL dinilai menggunakan
Integra 800 System (Roche Diagnostics, Indianapolis, IN)
 Dikategorikan :
 Hiperkolesterolemia (=200mg/dL)
 Normal ( < 200 mg/dL)

 Tinggi dan berat badan diukur menggunakan skala elektronik  untuk menghitung BMI
 Kategori > 24kg/m2  kelebihan berat badan dan obesitas
2.3.FOLLOW UP KOHORT DAN PENENTUAN KASUS

 Data dasar diambil dari National Health Insurance Research Database (NHIRD) of Taiwan.
 Usia < 20 tahun atau informasi dasar yang hilang dan responden dengan CA atau imunodefisiensi Syndrome 
dikeluarkan
 Yang termasuk insidens  yang terdiagnosis sebanyak 3x dalam catatan rawat jalan atau 1 kali dalam rawat inap
 Komorbid yang diidentifikasi  hipertensi, DM,penyakit ginjal, dan penyakit hepar, pemakaian statin
2.4. PERNYATAAN ETIK

 Responden memberikan persetujuan tertulis  teregistrasi di ClinicalTrials.gov


2.5. ANALISIS STATISTIK
 SAS 9.4 (SAS Institute,Cary,NC,USA)  analisis data
 P< 0.05  signifikan secara statistic
 Karena seks adalah prediktor penting dari batu empedu  semua analisis berdasarkan jenis kelamin.
 Karakteristik dasar antara vegetarian dan nonvegetarian dibandingkan menggunakan  independent sample t-test
(variabel kontinu) dan uji chi-square (variabel kategori).
 Diet asupan vegetarian dan nonvegetarian dibandingkan menggunakan uji peringkat Wilcoxon.
 Regresi Coxproportional hazard digunakan untuk menghitung risiko batu empedu dengan penyesuaian untuk usia,
pendidikan, minum alkohol, merokok, diabetes dan penyakit ginjal, obat penurun lipid, TCH dan BMI.
 Melakukan analisis subkelompok dengan konsentrasi kolesterol.
 Tes sensitivitas dilakukan dengan menghilangkan kasus batu empedu simptomatik yang didiagnosis di dalam satu tahun
terakhir
3. HASIL PENELITIAN

3.1 Karakteristik Dasar


 4839 responden dilibatkan dalam penelitian ini.
 1403  vegetarian, dan 3436  nonvegetarian.
 Vegetarian berusia sedikit lebih tua, dengan persentase yang lebih tinggi dari perempuan, tidak pernah merokok,
dan kebiasaan peminum alkohol.
 Vegetarian  prevalensi diabetes dan penyakit ginjal yang lebih rendah.
 Vegetarian  konsentrasi kolesterol dan BMI yang lebih rendah.
3.2. ASUPAN MAKANAN VEGETARIAN DAN NONVEGETARIAN

 Asupan makanan vegetarian dan nonvegetarian, seperti yang dinilai oleh FFQ,
 Sepenuhnya menghindari daging dan ikan, vegetarian  asupan kedelai dan sayuran yang lebih tinggi.
 Asupan susu (median = 0,2 porsi / hari) dan telur (median = 0,3 porsi / hari)  rendah baik nonvegetarian dan
vegetarian.
 Vegetarian mengkonsumsi lebih banyak karbohidrat dan serat tetapi lebih sedikit lemak dan protein
dibandingkan dengan nonvegetarian.

3.3. POLA MAKAN VEGETARIAN DAN PENYAKIT BATU EMPEDU

 Dalam 29.295 orang-tahun (rata-rata diikuti selama 6,05 tahun)  104 orang menderita batu empedu  22
adalah vegetarian, dan 82 adalah nonvegetarian.
 Batu empedu simtomatik memiliki insidens yang lebih tinggi pada nonvegetarian daripada pada vegetarian (2,3%
berbanding 1,5%).
 Dengan regresi cox proportional hazard yaitu penyesuaian usia, pendidikan, merokok, minum alkohol, aktivitas fisik,
diabetes, penyakit ginjal, IMT, hiperkolesterolemia, obat penurun lipid, dan menopause (hanya pada wanita),
 diet vegetarian  hampir 50% penurunan risiko batu empedu simptomatik dibandingkan dengan diet nonvegetarian (rasio
hazard [SDM], 0,52; 95% Interval kepercayaan [CI], 0,28-0,96)
 Di seluruh populasi, usia dan hiperkolesterolemia adalah dua faktor risiko untuk GSD simtomatik (SDM, 1,03; 95% CI,
1,01-1,06; dan SDM, 1.69; 95% CI, 1,12-2,55, masing-masing). Pada pria, usia (HR, 1,04; 95% CI, 1,01-1,08),
hiperkolesterolemia (HR, 1,89; 95% CI, 1,00-3,59), dan diabetes (HR, 2,25; 95% CI, 1,01-5,03) secara signifikan terkait dengan
penyakit batu empedu.
 Bahwa wanita nonvegetarian dengan TCH = 200 mg / dL memiliki 3,8 kali risiko terjadinya batu empedu
simptomatik dibandingkan dengan vegetarian wanita dengan TCH normal (HR, 3,81; 95% CI, 1,61-9,01).
4. DISKUSI

 Diet vegetarian memiliki hubungan yang berkebalikan dengan batu empedu simptomatik pada wanita tetapi tidak
pada pria.
 Hubungan protektif pada wanita bertahan setelah pengaturan berat badan yang berlebih/ obesitas dan
hiperolesterolemia
 Efek protektif potensial dari diet vegetarian paling signifikan di antara mereka yang memiliki konsentrasi
kolesterol normal.
 Diet nonvegetarian dan hiperkolesterolemia mungkin memiliki efek tambahan dalam ↑ insidens batu empedu
 4.1. Pola Makan Vegetarian dan Penyakit Batu Empedu berkaitan dengan Kolesterol dan Faktor Risiko Metabolik
 Salah satu alasan potensial bahwa diet vegetarian dapat berkontribusi pada penurunan risiko batu empedu 
melalui penurunan kolesterol.
 Baik diet vegetarian dan protein nabati telah terbukti mengurangi kadar kolesterol dalam meta-analisis
 Dalam penelitian kami,  konsentrasi kolesterol total tinggi (TCH> 200 mg / dL) adalah faktor risiko untuk
penyakit batu empedu simptomatik. Kolesterol, lesitin, dan asam empedu adalah komponen utama dalam empedu
 Supersaturasi kolesterol di kandung empedu adalah penyebab penting untuk pembentukan batu empedu
Superaturasi nonfisiologis, umumnya dari hipersekresi kolesterol,  pembentukan batu empedu kolesterol
 Studi sebelumnya telah menemukan korelasi positif antara TCH darah, kolesterol empedu dan pembentukan batu
kolesterol
 profil lipid serum abnormal  ditemukan pasien dengan batu empedu kolesterol
 Dari penelitian ini  wanita vegetarian dengan TCH <200 mg / dL memiliki faktor protektif yang kuat terhadap
gejala batu empedu.
 konsentrasi TCH normal, dan mengadopsi diet vegetarian yang sehat dapat memberikan perlindungan tambahan terhadap
batu empedu .
 Kolesterol tinggi dapat melemahkan manfaat kesehatan yang biasanya diharapkan dari diet vegetarian.
 Selain kolesterol, batu empedu juga dikaitkan dengan faktor risiko metabolisme lainnya, termasuk fisik yang tidak aktif,
resistensi insulin, diabetes mellitus, dan obesitas
 Diet vegetarian  mengurangi resistensi insulin, ↓ berat badan dan menurunkan risiko diabetes .
 Ini menunjukkan bahwa diet vegetarian dapat memberikan efek proteksi selain pada tingkat kolesterol dalam
darah dan faktor-faktor risiko metabolik di kalangan wanita.
4.2. DIET VEGETARIAN DAN PENYAKIT BATU EMPEDU YANG
BERHUBUNGAN DENGAN JENIS KELAMIN

 Studi epidemiologis dan klinis telah menemukan bahwa batu empedu lebih umum pada wanita daripada pria
 Kadar estrogen yang lebih tinggi meningkatkan risiko batu empedu
 Telah diusulkan bahwa estrogen meningkatkan risiko pengembangan batu empedu kolesterol dengan meningkatkan
sekresi kolesterol empedu hati, yang mengarah pada peningkatan saturasi kolesterol empedu [32].
 Wanita premenopause, diet rendah lemak dan diet rendah daging dapat mengurangi kadar estrogen serum.
 Pada wanita pascamenopause dan vegetarian telah terbukti memiliki konsentrasi globulin yang lebih tinggi sebagai
pengikat hormon seks (SHBG, yang menghambat ]dan mengurangi bioavailabilitas) dan tingkat estradiol bebas yang
lebih rendah
 Studi kami juga menunjukkan bahwa menopause adalah faktor protektif untuk GSD, dan temuan ini konsisten
dengan pemahaman bahwa estrogen adalah faktor risiko untuk GSD.
 Sebaliknya, studi EPIC-Oxford menemukan hubungan positif antara diet vegetarian dan batu empedu setelah penyesuaian
BMI.
 Dalam studi mereka, populasi vegetarian jauh lebih muda daripada kelompok nonvegetarian: 42 vs 50 tahun pada pria dan 38 vs 46
tahun pada wanita.
 Kesenjangan usia yang signifikan mungkin berpotensi memicu bias melalui perbedaan kadar estrogen pada wanita karena status
menopause tidak disesuaikan.
 Telah dilaporkan bahwa pasien batu empedu telah menunda waktu transit usus dan ↑ pertumbuhan berlebih bakteri usus
 Penelitian telah menunjukkan bahwa transit usus wanita lebih lambat dari pada laki-laki
 Transit kolon yang lambat, dapat meningkatkan risiko batu empedu dengan meningkatkan penyerapan kolesterol usus
 Diet vegetarian kaya akan serat makanan, yang dapat mempersingkat waktu transit usus [47] dan sebagian mungkin
berkontribusi pada risiko batu empedu yang lebih rendah.
4.3. KEKUATAN DAN KETERBATASAN

 Kekuatan penelitian ini adalah ketersediaan biomarker peserta saat perekrutan.


 Memungkinkan untuk memeriksa hubungan dengan mediator potensial, seperti konsentrasi kolesterol darah. Selain itu,
diagnosis batu empedu dalam studi kohort ini didasarkan pada catatan NHIRD, yang didasarkan pada diagnosis klinis dokter
daripada riwayat medis atau hasil sonografi yang dilaporkan sendiri
KETERBATASAN

 Pertama, diagnosis batu empedu simptomatik dan identifikasi komorbiditas sepenuhnya tergantung pada kode ICD,
 Penggunaan tiga catatan diagnosis rawat jalan untuk penentuan kasus (kriteria ketat) untuk menghindari ketidakpastian dan
kesalahan diagnosis seperti kolik bilier atau gastritis akut untuk mengurangi angka positif palsu mungkin telah menyebabkan
kurangnya kasus yang teridentifikasi
 Kedua, periode tindak lanjut hanya dari lima hingga tujuh tahun untuk para peserta;
 Ketiga, mungkin adanya perubahan dalam pola makan dari waktu ke waktu tetapi yang ditanyakan disini hanya pola
makan awal
 kesalahan klasifikasi  cenderung melemahkan hasil terhadap hipotesis nol.
 Keempat, lamanya waktu sebagai vegetarian sebelum perekrutan tidak pasti.
 Namun, konsumsi daging dalam jumlah kecil pada orang orang nonvegetarian di Asia akan menimbulkan efek yang
tidak terlalu signifikan dibandingkan dengan diet daging tinggi khas populasi Barat.
5. KESIMPULAN

 Studi kohort prospektif ini menunjukkan bahwa diet vegetarian dikaitkan dengan insiden gejala batu empedu yang
lebih rendah pada wanita Taiwan tetapi tidak pada pria.
 Diet vegetarian mungkin sangat memiliki factor protektif terhadap insidens batu empedu pada wanita dengan
konsentrasi kolesterol normal.
P • 6002 responden (usia 18- 87 tahun) dari 2007- 2009 di Buddhist Dalin Tzu
Chi Hospital. 77% adalah sukarelawan  didorong meski tidak wajib menjadi
Population vegetarian

• Pasien terbagi 2 grup:


I • Vegetarian
• Non - Vegetarian
Intervention • Dilakukan pemantauan dengan pemeriksaan darah dan wawancara

C • Menilai efek dari diet vegetarian vs non vegetarian terhadap insidens dari
batu empedu simptomatik & untuk mengetahui adakah hubungan dengan
Comparison konsentrasi kolesterol dalam darah

O • Diet vegetarian dikaitkan dengan insiden gejala batu empedu yang


lebih rendah pada wanita di Taiwan
Outcome
ABSTRAK

Kriteria Ya (+) atau tidak (-)


Abstrak 1 paragraf +
Mencakup komponen IMRD
+
(Introduction, Method, Result, Discussion)
Secara keseluruhan informatif +
Tanpa singkatan selain yg baku +
< 250 kata + (220 kata)
JUDUL & PENGARANG

Kriteria Ya (+) atau Tidak (-)

Jumlah kata dalam judul < 12 kata - (18 kata)

Menggambarkan isi utama penelitian &


Deskripsi judul
tanpa singkatan

Daftar penulis sesuai aturan jurnal +


Korespondensi penulis -
Tempat & waktu penelitian dalam judul -
INTRODUCTION

Kriteria +/-

Terdiri dari dua bagian atau dua paragraf -

Paragraf utama mengemukakan alasan dilakukan penelitian +

Paragraf kedua menyatakan hipotesis atau tujuan penelitian +

Didukung oleh pustaka yg relevan +

Kurang dari satu halaman -


METODE PENELITIAN
Kriteria+ Ya (+) atau Tidak (-)
Jenis & rancangan penelitian +
Waktu & tempat penelitian +
Populasi sumber +
Teknik sampling +
Kriteria inklusi +
Kriteria eksklusi +
Perkiraan & perhitungan besar sampel -
Perincian cara penelitian +
Blind -
Uji statistik +
Program komputer +
HASIL PENELITIAN

Kriteria Ya (+) atau Tidak (-)

Jumlah subjek +

Tabel karakteristik subjek +


Tabel hasil penelitian +

Komentar & pendapat penulis tentang hasil +

Tabel analisis dengan data uji +


PEMBAHASAN, KESIMPULAN, DAFTAR PUSTAKA

Kriteria Ya (+) atau Tidak (-)


Pembahasan & kesimpulan dipaparkan terpisah +
Pembahasan & kesimpulan dipaparkan dengan jelas +

Pembahasan mengacu dari penelitian sebelumnya +


Pembahasan sesuai landasan teori +
Keterbatasan penelitian +
Simpulan utama +
Simpulan berdasarkan hasil penelitian +
Saran penelitian -
Penulisan daftar pustaka sesuai aturan +
BUKTI VALID
Pertanyaan
Apakah alokasi pasien pada penelitian ini dilakukan secara acak? Tidak

Apakah pengamatan pasien dilakukan secara cukup panjang dan lengkap? Ya

Apakah semua pasien dalam kelompok yang diacak, dianalisis? Ya

Apakah pasien dan dokter tetap blind dalam melakukan terapi, selain dari terapi yang Tidak
diuji?
Apakah kelompok terapi dan kontrol sama? Ya

Apakah pada pasien kita terdapat perbedaan bila dibandingkan dengan yang terdapat Ya
pada penelitian sebelumnya?
Apakah hal tersebut mungkin dapat diterapkan pada pasien kita? Ya

Apakah pasien memiliki potensi yang menguntungan atau merugikan bila terapi tersebut Menguntungkan
diterapkan?