Anda di halaman 1dari 19

KEBIJAKAN PEMERINTAH

DI BIDANG KESELAMATAN DAN


KESEHATAN KERJA
PASCA UU NOMOR 23 TAHUN 2014
TENTANG PEMERINTAH DAERAH

Oleh:
Untung Budi Sasangka
SATWASKER Wilayah Semarang
1. Latar Belakang
Tiap tiap warga Negara berhak mendapatkan
pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi
kemanusiaan (UUD 1945 pasal 27 ayat 2)

Setiap pekerja / buruh sesuai pasal 86 Undang-


Undang Nomor 13 / 2003 berhak untuk
mendapatkan perlindungan antara lain :
– Keselamatan dan Kesehatan Kerja
– Moral dan kesusilaan
– Perlakuan yang sesuai harkat dan martabat dan
nilai nilai agama.
2. Maksud dan tujuan diadakannya K3
Maksud
– Tenaga Kerja dan orang lain yang berada di tempat
kerja berhak mendapatkan perlindungan atas
keselamatan dan kesehatan kerja.
– Sumber produksi dapat dipakai secara aman dan
efisien.
– Tercapainya produktivitas di perusahaan.
 Tujuan
– Mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit
akibat kerja.
– Mencegah agar kecelakaan serupa tidak terulang
kembali
3. Definisi
Pengawasan Ketenagakerjaan

Kegiatan mengawasi dan menegakkan pelaksanaan


peraturan perundang undangan di bidang
ketenagakerjaan

Pegawai Pengawas
Pegawai tehnis berkeahlian khusus dari Kementerian
Ketenagakerjaan yang ditunjuk oleh Menteri
Ketenagakerjaan
3. Definisi
Keselamatan kerja
Merupakan keselamatan yang bertalian dengan mesin, pesawat,
alat kerja, bahan dan pengolahannya, landasan tempat kerja dan
lingkungannya serta cara cara melakukan pekerjaan.

Kesehatan kerja
Spesialisasi dalam ilmu kesehatan / kedokteran beserta
prakteknya yang bertujuan agar pekerja / masyarakat pekerja
memperoleh derajat kesehatan setinggi tingginya baik fisik
maupun mental maupun social dengan usaha usaha
preventif dan kuratif.
4. Tugas Pegawai Pengawas (UU 3 / 1951)
Tugas Pegawai Pengawas antara lain:
- Mengawasi berlakunya undang undang dan
peraturan perburuhan / ketenagakerjaan
- Mengumpulkan bahan bahan keterangan soal soal
hubungan kerja dan keadaan perburuhan dalam arti
yang seluas luasnya guna membuat undang undang
dan peraturan perburuhan.
- Menjalankan pekerjaan lain lainnya yang
diserahkan kepadanya dengan undang undang dan
peraturan perburuhan lainnya.
5. Pelaksanaan Pengawasan

Sebelum UU Nomor 23 Tahun 2014

– Dilaksanakan di Dinas Tenaga Kerja Kabupaten /


Kota.
– Tidak adanya pemerataan petugas
– Keterlambatan dalam berkoordinasi
– Adanya intervensi dari pimpinan Daerah
– Menghindari terjadinya KKN
5. Pelaksanaan Pengawasan

Sesudah UU Nomor 23 Tahun 2014

– Semua Pengawas ditarik di Propinsi


– Di Kabupaten / Kota tidak ada lagi pengawasan
– Koordinasi lebih mudah
– Semua perijinan yang dulu ditangani pengawasan
Kabupaten / Kota beralih di Dinas Provinsi dan
Pusat
KEBIJAKAN PENGAWASAN PASCA
UNDANG UNDANG 23 TAHUN 2014

Mengingat pengawasan, pengujian dan


penilaian yang melakukan pegawai
pengawas, sedangkan Pegawai Pengawas
keberadaannya di Dinas Tenaga dan
Transmigrasi Provinsi maka kegiatan yang
semula dilaksanakan di Kabupaten / Kota
maka dialihkan di Dinas Nakertrans
Provinsi, hal ini berkait karena
kewenangan.
Adapun kegiatan kegiatan yang
dialihkan pada Kebijakan Pengawasan
Pasca Undang Undang 23 Tahun 2014
antara lain :
– Wajib lapor ketenagakerjaan
– Kegiatan pemeriksaan / pengawasan baik norma
kerja maupun norma K3
– Kegiatan pemeriksaan dan pengujian terhadap
mesin produksi, peralatan, instalasi dan
lingkungan kerja
– Sertifikasi / Rekomendasi
– Pembentukan kelembagaan dan petugas K3
Kegiatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
yang dialihkan antara lain :
1. Pengesahan Panitia Pembina Keselamatan
dan Kesehatan Kerja (P2K3) diatur dalam
Permenaker 04/1987 tentang P2K3 dan
Penunjukan Ahli K3
• Kelembagaan yang beranggotakan unsur
pengusaha dan pekerja / buruh.
• Kelembagaan yang mengurusi K3 di perusahaan
masing masing
• Harus ada ahli K3
• Membuat rekomendasi kepada pimpinan
perusahaan
• Membuat laporan ke bidang Pengawasan Prop.
Jateng Up. Satwasker
2. Pengesahan Penyelenggara pelayanan
kesehatan kerja (Klinik perusahaan) diatur
dalam Permenaker No 03 / 1982 tentang
pelayanan kesehatan
– Lembaga di perusahaan yang bertujuan untuk
pelayanan kesehatan pekerja / buruh tingkat
pertama.
– Dipersyaratkan ada dokter / paramedic yang
mempunyai sertifikat hiperkes.
– Pelayanan berupa promotif, preventif, kuratif
dan rehabilitative
– Membuat laporan ke bidang Pengawasan
Prop. Jateng Up. Satwasker
3.Rekomendasi Catering (SE Menakertrans
01/1979 dan SE Dirjen Binawas 86 / 1979)
– Fasilitas yang diberikan pengusaha untuk
memberikan makanan dan minuman kepada
pekerja
– Bahan makanan harus segar
– Air harus tidak boleh berbau, berasa dan
berwarna (Dinas Kesehatan)
– Harus ada ahli jasa boga (Gizi)
4. Rekomendasi lingkungan kerja
(Permenaker7/1964 tentang Syarat kesehatan,
kebersihan, serta penerangan dalam tempat
kerja )
– Fasilitas yang berada di perusahaan untuk
kenyamanan pekerja / buruh
– Cara kerja yang ergonomis, tempat kerja
memenuhi standart, kamar mandi / WC yang
mencukupi jumlahnya
– Perlu adanya pengujian dari factor fisik, kimia,
biologis, fisiologis dan psikologis
– Menjaga kesusilaan
5. Dokter dan paramedic ( Permenaker No. 1
Tahun 1976 tentang Wajib latihan hiperkes
bagi dokter perusahaan dan Permenaker
01/1979 tentang Kewajiban latihan hiperkes
bagi paramedis perusahaan )
-Harus bersertifikat hiperkes
-Menjaga kesehatan pekerja / buruh
-Mencegah timbulnya penyakit akibat kerja.
-Membuat pelaporan adanya penyakit akibat kerja
6. Petugas P3K ( Permenaker 15 / 2008 tentang
P3K di tempat kerja dan Keputusan Dirjen
Binawas 53/1009 tentang Pedoman pelatihan
dan pemberian lesensi petugas P3K di tempat
kerja.
– Memberikan pertolongan dengan cepat dan tepat
– Petugas adalah pekerja yang ditunjuk perusahaan
– Mendapat pelatihan dengan sertifikasi
– Menyiapkan ruang kerja, kotak P3K dan isinya,
alat evakuasi dan transportasi serta alat tambahan
berupa alat pelindung diri.
– Harus punya lesensi dan buku kegiatan P3K
Menaker
7. Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan
Kesegatan Kerja (Permen 05/1996 tentang SMK-3
Jo. PP 50 / 2012-tentang Penerapan SMK-3)
Perusahaan harus membuat langkah langkah
kongkrit cara kerja dan penggunaan alat maupun
proses produksi mulai dari peremcanaan, persiapan,
pelaksanaan dan akhir proses.
– Perusahaan juga harus mencatat setiap kecelakaan
kerja dan penyakit akibat kerja yang terjadi dari yang
kecil sampai yang besar.
– Dalam SMK-3 ada audit untuk penilaian oleh
lembaga independen
8. Sertifikasi dan Rekomendasi dibidang K3

– Pemberian sertifikasi dan rekomendasi di bidang


K3 diberikan setelah melalui tahap pemeriksaan
dan pengujian terhadap peralatan, mesin, instalasi
dan lingkungan kerja dan dinyatakan layak oleh
Pengawas Spesialis K3 yang terdiri dari : Boiler
dan bejana tekan, instalasi listrik, pesawat angkat
angkut dan lingkungan kerja.
SEKIAN DAN TERIMA KASIH