Anda di halaman 1dari 22

REFERAT STROKE KARDIOEMBOLI

Disusun oleh :
Nama : Karel Respati
NIM : 2011730144
Pembimbing: dr. Fuad Hanif, Sp.S

KEPANITERAAN KLINIK DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT


SARAF
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BANJAR
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2019
DEFINISI STROKE

Stroke adalah menurut World Health Organization (WHO) adalah


tanda-tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi
otak fokal (atau global), dengan gejala-gejala yang berlangsung
selama 24 jam atau lebih, dapat menyebabkan kematian, tanpa
adanya penyebab lain selain vaskuler.
2 Kategori Kerusakan Otak
Infark Perdarahan
• Kurangnya aliran darah dan • Pelepasan darah ke otak dan
oksigen yang dibutuhkan ke ke dalam ruang
jaringan otak. extravaskular dalam kranium.
Perdarahan menyebabkan
kerusakan otak karena
menyebabkan cedera atau
tekanan umum lokal pada
jaringan otak; zat biokimia
yang dikeluarkan selama dan
setelah perdarahan juga
dapat mempengaruhi
pembuluh darah di dekatnya
dan jaringan otak..
Definisi Stroke Kardioemboli

Stroke kardioemboli merupakan salah satu


subtipe stroke Infark yang terjadi karena
oklusi arteri serebral oleh emboli yang
bersumber dari jantung atau melalui jantung.
EPIDEMIOLOGI

Di negara Amerika Serikat (2008)


diperkirakan sekitar 20% stroke iskemik
diakibatkan kardioemboli. Laporan insiden
tahunan diperkirakan terdapat sebanyak
146.000 kasus.
Faktor Risiko

Dapat dimodifikasi Tidak dapat


dimodifikasi
• Tekanan Darah Tinggi • Usia lanjut
• Perokok • Riwayat keluarga
• Inaktifitas fisik • Jenis kelamin laki-laki
• Obesitas
• Makanan tidak sehat
• Diabetes Mellitus
• Pengguna Alkohol
Patogenesis

Pembentukan emboli yang menoklusi arteri di


otak bisa bersumber dari jantung sendiri atau
berasal dari luar jantung, tetapi pada
perjalanannya melalui jantung, misalnya sel
tumor, udara dan lemak pada trauma,
parasit dan telurnya. Yang sering terjadi
adalah emboli dari bekuan darah (clots)
karena penyakit jantungnya sendiri
Manifestasi Klinis

Gejala Utama Gejala Tambahan


• Awitannya yang tiba-tiba • Infark berdarah pada CT Scan
dengan defisit maksimal • Tidak ditemukannya penyakit
• Adanya penyebab emboli atherosklerotik pada
yang potensial dari jantung angiografi
• Infark otak multipel pada • Bukti oklusi yang menghilang
korteks atau serebelum pada pada angiografi ulang
teritorial pembuluh darah yang • Terdapatnya emboli pada
multipel organ lain
• Trombus jantung yang terbukti
dengan ekhokardiografi,
katerisaasi, CT jantung atau
MRI
DIAGNOSA
Anamnesis
• Hemiparese, monoparese atau quadriparese, tidak ada
penurunan kesadaran, tidak ada nyeri kepala dan mual
muntah.
DIAGNOSA
Pemeriksaan Fisik
 Temuan adanya disritmia jantung (ex; fibrilasi atrium, sick
sinus syndrome)
 Temuan adanya bising jantung (ex; stenosis mitral,aorta

stenosiskalsifikasi)
 Temuan gagal jantung kongestif (ex ; setelah infark miokard
akut)
 Penyakit penyerta (ex ; SLE, endokarditis)

 Temuan tanda emboli sistemik


DIAGNOSA
Pemeriksaan Lab : Dilakukan pemeriksaan Darah
Perifer Lengkap (DPL), Gula Darah Sewaktu (GDS),
Fungsi Ginjal (Ureum, Kreatinin dan Asam Urat), Fungsi
Hati (SGOT dan SGPT), Protein darah (Albumin,
Globulin), Hemostasis, Profil Lipid (Kolesterol,
Trigliserida, HDL, LDL), Homosistein, Analisa Gas Darah
dan Elektrolit.
DIAGNOSA
Pemeriksaan EKG : Elektrokardiogram dilakukan untuk mendeteksi infark miokard atau
aritmia jantung, misalnya atrial fibrilasi, yang merupakan factor predisposisi untuk resiko
emboli.

 Pemeriksaan Radiologi : Pemeriksaan Rontgen dada untuk melihat ada tidaknya


infeksi maupun kelainan jantung
 Brain CT-Scan (Golden Standard)Berguna untuk menentukan :
 Jenis patologi
 Lokasi lesi
 Ukuran lesi
 Menyingkirkan lesi non-vakuler

 Pemeriksaan MRI : jauh lebih detail jika dibandingkan dengan CT-Scan, tetapi ini
bukanlah golden standart untuk stroke. Jika CT-Scan dapat selesai dalam beberapa
menit, MRI perlu waktu lebih dari satu jam untuk hasil
DIAGNOSA
Faktor Penilaian Skoring
1. Sumber utama jantung
• Fibrilasi Atrium 3
• Sindroma Sick Sinus 3
• Stenosis Mitral 4
• Katup Protesis 4
• Trombus Ventrikel Kiri 4
• Infark Miokard Akut 4
• Aneurisma Ventrikel kiri tanpa trombus 3

2. Saat kejadian defisit neurologis maksimal 1


dan mendadak (kurang 5 menit pada pasien
sedang aktif)
3. Tidak ada/sangat sedikit ateroskeloris pada
pemeriksaan :
• USG (di karotis) 1
• Angiografi karotis 2

4. Infark kortikal atau subkortikal luas (klinis 1


atau dengan CT-Scan/MRI kepala)
Penilaian :
5. Infark kortikal sebelumnya pada suatu area 1
vaskular lain (klinis atau dengan CT-Scan/MRI
4-5  Tersangka
kepala) 6-7  Lebih mungkin
6. Tidak didapatkan aterosklerosis pada 3 >8  Sangat mungkin
arteriogram
7. Infark berdarah pada CT-Scan 1
8. Tidak didapatkan HT kronis 1
DIAGNOSA
Task Force of Cerebral Embolic
Kriteria:
• Defisit neurologi tiba-tiba dan maksimal
• Sumber emboli jantung
• Infark multipel
• Infark hemoragik pada ct-scan
• Tidak ditemukan arteriosklerosis pada ct-scan
• Emboli sistemik
• Trombus jantung
• Vanishing occlusion pada angiografi
PENATALAKSANAAN
Terapi dibedakan pada fase akut dan pasca fase akut.
1.Fase Akut (hari ke 0-14 sesudah onset penyakit)
Penggunaan obat untuk memulihkan aliran darah dan
metabolisme otak yang menderita di daerah iskemik (ischemic
penumbra), antara lain:
a. Anti-edema otak:
a.Gliserol 10% perinfus, 1gr/kg BB/hari dalam 6 jam
b.Kortikosteroid, yang banyak digunakan deksametason
dengan bolus 10-20mg i.v., diikuti 4-5 mg/6jam selama
beberapa hari, lalu tapering off, dan dihentikan setelah fase
akut berlalu.
PENATALAKSANAAN
b Anti-Agregasi trombosit
Asam asetil salisilat (ASA) seperti aspirin, aspilet dengan
dosis rendah 80-300 mg/hari
c. Antikoagulansia, misalnya heparin
d. Lain-lain:
a.Trombolisis (trombokinase) masih dalam uji coba
b. Obat-obat baru dan Neuro Protectif: Citicoline, piracetam,
nimodipine
PENATALAKSANAAN
2. Fase Pasca Akut
Setelah fase akut berlalu, sasaran pengobatan dititik beratkan
tindakan rehabilitasi penderita, dan pencegahan terulangnya
stroke
PENATALAKSANAAN
Rehabilitasi
Stroke merupakan penyebab utama kecacatan pada usia di atas
45 tahun, maka yang paling penting pada masa ini ialah upaya
membatasi sejauh mungkin kecacatan penderita, fisik dan mental,
dengan fisioterapi, “terapi wicara”, dan psikoterapi.
Terapi Preventif
Tujuannya, untuk mencegah terulangnya atau timbulnya serangan baru stroke,
dengan jalan antara lain mengobati dan menghindari faktor-faktor resiko
stroke:
 Pengobatan hipertensi

 Mengobati diabetes melitus

 Menghindari rokok, obesitas, stres

 Berolahraga teratur
Komplikasi
Komplikasi neurologik:
• Edema otak
• Infark berdarah

Komplikasi non-neurologik:
• Tekanan darah meninggi
• Hiperglikemi
• Kelainan jantung
• Retensi cairan tubuh
Komplikasi

Komplikasi non-neurologik akibat imobilisasi:


• Bronkopneumonia

• Tromboplebitis

• Dekubitus

• Atrofi otot
DAFTAR PUSTAKA

 Basuki, Andi & Dian, Sofiati, dkk. 2012. Kegawatdaruratan Neurologi. Bandung:
Departemen/UPF Ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran UNPAD / RS. Hasan Sadikin
 Caplan RL. Stroke a clinical approach. 4th ed. Boston: Butterworth, 2009: 349-68
 Dian, Sofiati, & Amalia, Lisda, dkk. 2013. Pemeriksaan Fisik Dasar Neurologi Berbasis
Ilustrasi Kasus. Bandung: Departemen/UPF Ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran
UNPAD / RS. Hasan Sadikin
 Guideline Stroke Tahun 2011. Pokdi Stroke Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf
Indonesia (PERDOSSI). Bagian Ilmu Penyakit Saraf Rsud Arifin Achmad Pekanbaru
Fakultas Kedokteran UR
 Harold P Adam et al. Guideline for the Early Management of Paients with Ischemic
Stroke. Stroke 2003;34:1056.
 Japardi, Iskandar. 2002. Patogenesa Stroke Kardioemboli. Fakultas Kedokteran Bagian
Bedah Universitas Sumatera Utara
 Nurimaba, Nurdjaman. 2011. Diagnosis dan Pengobatan Stroke Kardioemboli. Bagian
Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung