Anda di halaman 1dari 65

 Kontrasepsi adalah usaha-usaha untuk mencegah

kehamilan.
 Wanita subur yang aktif secara seksual yang tidak
menggunakan kontrasepsitingkat kehamilan
mendekati 90 persen dalam 1 tahun.
 Menurut World Health Organization (WHO) (2014) peningkatan
kontrasepsi telah meningkat di dunia terutama di asia.
 Secara global, pengguna kontrasepsi modern telah meningkat dari
54% pada tahun 1990 menjadi 57,4% pada tahun 2014.
 Secara regional, pasangan usia subur 15-49 tahun melaporkan
penggunaan kontrasepsi meningkat dalam 6 tahun terakhir ini.
 Cakupan peserta KB di Indonesia pada tahun 2014 menunjukan
penggunaan kontrasepsi pada pasangan usia subur mencakup
49,67% menggunakan KB suntik, pil KB 25,15%, kondom sebanyak
5,68%, implant sebanyak 10,65%, IUD sebanyak 7,15%, MOW
sebanyak 1,5% dan MOP sebanyak 0,2%.
 Kontrasepsi ialah usaha-usaha untuk mencegah terjadinya
kehamilan.
 Usaha –usaha itu dapat bersifat sementara, dapat juga bersifat
permanen.
 Kontrasepsi ideal itu harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
 Dapat dipercaya,
 Tidak menimbulkan efek yang mengganggu kesehatan,
 Daya kerjanya diatur menurut kebutuhan,
 Tidak menimbulkan gangguan sewaktu melakukan koitus,
 Tidak memerlukan motivasi terus-menerus,
 Mudah pelaksanaannya,
 Murah harganya sehingga dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat,
 Dapat diterima penggunaanya oleh pasangan yang bersangkutan.
 Kontrasepsi tanpa menggunakan alat atau obat-obatan
metode amenorea laktasi (MAL), metode kalender, metode
senggama terputus
 Kontrasepsi secara mekanis  kondom pria dan wanita,
diafragma, cervical cap
 Kontrasepsi hormonal
 Kontrasepsi dalam rahim (AKDR)
 Kontrasepsi mantap  tubektomi dan vasektomi.
 Kontrasepsi MAL mengandalkan pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif untuk
menekan ovulasi.
 Bagi ibu yang menyusui secara eksklusif, ovulasi selama 10 minggu pertama
setelah persalinan tidak mungkin terjadi.
 Menyusui secara eksklusif merupakan suatu metode kontrasepsi sementara yang
cukup efektif, selama ibu belum mendapat haid, dan waktunya kurang dari 6
bulan pascapersalinan.
 Efektivitasnya dapat mencapai 98 %. Hal ini dapat efektif bila ibu menyusui lebih
dari 8 kali sehari dan bayi mendapat cukup asupan per laktasi; ibu belum
mendapat haid, dan atau dalam 6 bulan pasca persalinan.
 Metode Amenorea Laktasi memiliki tiga syarat yang harus dipenuhi:
 Ibu belum mengalami haid lagi
 Bayi disusui secara eksklusif dan sering, sepanjang siang dan malam
 Bayi berusia kurang dari 6 bulan
 Cara ini sering juga disebut cara Ogino-Knaus.
 Prinsip metode kalender ini yaitu menghindari senggama pada saat subur
atau sekitar ovulasi.
 Perkiraan masa subur yaitu 14 hari sebelum haid ± 2 hari.
 Kesulitan cara ini ialah bahwa waktu yang tepat dari ovulasi sulit untuk
ditentukan.
 Pada wanita dengan haid yang tidak teratur memiliki variasi yang tidak jauh
berbeda, dapat diterapkan masa subur dengan perhitungan daur haid
terpendek dikurangi 18 hari dan daur haid terpanjang dikurangi 11 hari.
 Masa aman ialah sebelum daur haid terpendek yang telah dikurangi.
 Senggama terputus ialah penarikan penis dari vagina sebelum terjadi ejakulasi.
 Keuntungancara ini tidak membutuhkan biaya, alat-alat maupun persiapan
 Kekuranganbahwa untuk mensukseskan cara ini dibutuhkan pengendalian
diri yang besar dari pihak pria dan bisa mengurangi kenikmatan/kepuasan
dalam berhubungan seksual.
 Efektivitas bergantung pada kesediaan pasangan untuk melakukan senggama
terputus setiap melaksanakannya (angka kegagalan 4-18 kehamilan per 100
perempuan per tahun).
 Efektivitasnya akan jauh menurun jika sperma dalam 24 jam sejak ejakulasi
masih melekat pada penis.
 Kegagalan dengan cara ini dapat disebabkan oleh:
 Adanya pengeluaran air mani sebelum ejakulasi (praejeculatory fluid) yang dapat
mengandung sperma, apalagi pada koitus yang berulang (repeated coitus)
 Terlambatnya pengeluaran penis dari vagina
 Pengeluaran semen dekat pada vulva dapat menyebabkan kehamilan.
 Produk yang telah lama tersedia ini memberikan kontrasepsi yang efektif, dengan tingkat
kegagalan serendah 3 atau 4 per 100 orang selama beberapa tahun.
 Efektivitas kontrasepsi kondom pria telah ditingkatkan dengan menggunakan spermisida.
 Langkah-langkah kunci berikut untuk memastikan efektivitas kondom maksimal:
 Kondom harus digunakan setiap berhubungan seksual
 Harus di gunakan sebelum kontak penis dengan vagina
 Penarikan dilakukan dengan kondisi penis yang masih tegak
 Dasar kondom harus dipegang saat penarikan
 Kondom harus dilumasi dengan spermisida

 Bila digunakan dengan benar, kondom memberikan perlindungan yang cukup besar
namun tidak mutlak terhadap berbagai penyakit menular seksual seperti HIV, gonore,
sifilis, herpes, chlamydia, dan trikomoniasis.
 Kondom juga dapat mencegah dan memperbaiki perubahan serviks premaligna, dengan
menghalangi transmisi human papillomavirus.
 Kondom nonallergenic telah dikembangkan dan terdiri dari poliuretan atau elastomer
sintetis.
 Kondom ini memiliki bahan poliuretan dengan satu cincin poliuretan
fleksibel di setiap ujungnya.
 Cincin terbuka berada di luar vagina, dan cincin internal tertutup dipasang
di bawah simfisis seperti diafragma.
 Kondom wanita dapat digunakan dengan pelumas berbahan dasar air dan
minyak.
 Kondom laki-laki tidak boleh digunakan bersamaan karena penggunaan
simultan karena dapat menyebabkan gesekan yang menyebabkan kondom
tergelincir, robek, dan bergeser.
 Setelah digunakan, cincin luar kondom wanita harus dipelintir untuk
menutup kondom sehingga tidak ada tumpahan air mani.
 Tes in vitro telah menunjukkan
kondom wanita dapat mencegah
penularan virus HIV,
cytomegalovirus, dan hepatitis B.
 Diafragma vaginal terdiri atas kantong karet yang berbentuk mangkuk
dengan per elastis pada pinggirnya.
 Per ini ada yang terbuat dari logam tipis yang tidak dapat berkarat, ada pula
yang dari kawat halus yang tergulung sebagai spiral dan mempunyai sifat
seperti per.
 Diafragma dimasukkan ke dalam vagina sebelum koitus untuk menjaga
jangan sampai sperma masuk ke dalam uterus.
 Untuk memperkuat khasiat diafragma, obat spermatisida dimasukkan ke
dalam mangkuk dan dioleskan pada pinggirnya.
 Diafragma vaginal sering
dianjurkan pemakaiannya dalam
hal-hal seperti :
 Keadaan dimana tidak tersedia cara
yang lebih baik.
 Jika frekuensi koitus tidak seberapa
tinggi, sehingga tidak dibutuhkan
perlindungan yang terus-menerus.
 Jika pemakaian pil, AKDR, atau
cara lain harus dihentikan untuk
sementara waktu oleh karena
sesuatu sebab.
 Pada keadaan-keadaan tertentu  Kekurangan diafragma vaginal ialah :
pemakaian diafragma tidak dapat  Diperlukan motivasi yang cukup kuat;
dibenarkan, misalnya pada umumnya hanya cocok untuk wanita yang
 sistokel yang berat; terpelajar dan tidak untuk dipergunakan
secara massal;
 prolapsus uteri;
 Pemakaian yang tidak teratur dapat
 fistula vagina; menimbulkan kegagalan; tingkat kegagalan
 hiperantefleksio atau hiperretrofleksio lebih tinggi daripada pil atau AKDR.
uterus.
 Keuntungan cara ini ialah :
 Efektivitas nya sedang (bila digunakan  hampir tidak ada efek samping;
dengan spermasida angka kegagalan 6-  dengan motivasi yang baik dan pemakaian
18 kehamilan per 100 perempuan per yang betul, hasilnya cukup memuaskan;
tahun pertama).
 dapat dipakai sebagai pengganti pil atau
AKDR pada wanita-wanita yang tidak boleh
mempergunakan pil atau AKDR oleh
karena suatu sebab.
 Cervical cap dibuat dari karet atau plastik, dan mempunyai bentuk mangkuk
yang dalam dengan pinggirnya terbuat dari karet yang tebal.
 Ukurannya ialah dari diameter 22 mm sampai 33 mm; jadi lebih kecil
daripada diafragma vaginal.
 Cap ini dipasang pada porsio servisis uteri seperti memasang topi.
 Dewasa ini alat ini jarang dipakai untuk kontrasepsi.
 Obat spermatisida yang dipakai untuk kontrasepsi terdiri atas 2 komponen,
yaitu zat kimiawi yang mampu mematikan spermatosoon, dan vehikulum
yang nonaktif yang dipergunakan untuk membuat tablet atau cream/jelly.
 Cara kontrasepsi dengan obat spermatisida umumnya digunakan bersama-
sama dengan cara lain (diafragma vaginal), atau apabila ada kontraindikasi
terhadap cara lain.
 Efek sampingan jarang terjadi dan umumnya berupa reaksi alergi.
 suppositorium : dimasukkan sejauh mungkin ke dalam vagina sebelum koitus. Obat ini baru
mulai aktif setelah 5 menit. Lama kerjanya kurang lebih 20 menit sampai 1 jam.
 jelly atau cream : Obat ini disemprotkan ke dalam vagina dengan menggunakan suatu alat.
Lama kerjanya kurang lebih 20 menit sampai 1 jam.
 tablet busa : Sebelum digunakan, tablet terlebih dahulu dicelupkan ke dalam air, kemudian
dimasukkan ke dalam vagina sejauh mungkin. Lama kerjanya 30-60 menit.
 C-film : benda yang tipis, dapat dilipat, dan larut dalam air. Dalam vagina obat ini merupakan
gel dengan tingkat dispersi yang tinggi dan menyebar pada porsio uteri dan vagina. Obat mulai
efektif setelah 30 menit.
 Saat diperkenalkan pada tahun 1960, kontrasepsi hormonal menjadi sebuah
perubahan drastis dari metode-metode tradisional sebelumnya.
 Kontrasepsi ini tersedia dalam berbagai bentuk, oral, injeksi, dan implant.
 Kontrasepsi oral kombinasi estrogen dan progestin atau hanya progestin –
mini pil.
 Kontrasepsi injeksi atau implant hanya mengandung progestin atau
kombinasi estrogen dan progestin.
 Kontrasepsi kombinasi estrogen-progesteron dapat diberikan per oral,
suntikan IM, atau dalam bentuk koyo.
 Kontrasepsi oral paling sering digunakan dan sering terdiri dari kombinasi
suatu zat estrogen dan bahan prosgestasional yang diminum tiap hari
selama 3 minggu dan berhenti selama 1 minggu, agar terjadi perdarahan
lucut (with drawal bleeding) dari uterus
 Efektivitasnya tinggi (hampir menyerupai efektivitas tubektomi), bila
digunakan setiap hari (1 kehamilan per 1000 perempuan dalam tahun
pertama penggunaan).
 Menekan gonadotropin releasing factors dari hypothalamus. Yang mana
hal ini dapat menghambat sekresi follicle stimulating hormone dan lutenizing
hormone dari hipofisis.
 Estrogen saja dalam dosis yang memadai akan menghambat ovulasi dengan
menekan gonadotropin. Estrogen ini juga mungkin akan menghambat
implantasi dengan mengubah pematangan endometrium. Estrogen
mempercepat transportasi ovum.
 Progestin menyebabkan terbentuknya mucus servik yang kental dan
menghambat jalannya sperma. Kapasitasi sperma juga mungkin
terhambat. Seperti estrogen, progestin menyebabkan endometrium menjadi
kurang memungkin kan untuk implantasi blastokista.
 Efek gabungan dari estrogen dan progestin dalam kaitannya dengan
kontrasepsi adalah supresi ovulasi yang sangat efektif, blockade penetrasi
sperma oleh mucus serviks, dan penghambatan implantasi di endometrium
apabila dua mekanisme pertama gagal.
 Kontrasepsi oral kombonasi estrogen plus progestin, apabila diminum setiap
hari selama 3 dari 4 minggu, menghasilkan proteksi terhadap kehamilan
yang hampir absolute.
 Monofasikestrogen dan progesterone dalam dosis yang sama
 Bifasikestrogen dan progesterone dalam 2 dosis berbeda
 Trifasikestrogen dan progesterone dalam 3 dosis berbeda
Obat yang berinteraksi Efek merugikan
Asetaminofen dan aspirin Mengurangi efek analgetik
Obat penenang golongan Menurunkan atau meningkatkan
benzodiazepin efektivitas obat penenang dan fungsi
psikomotor

Metildopa Menurunkan efek hipotensif


Antikoagulan oral Menurunkan efek antikoagulan
Hipoglikemik oral Mungkin mengurangi efek
hipoglikemik
Obat yang berinteraksi Efek yang merugikan
Alkohol Efek mungkin meningkat
Aminlfilin Efek meningkat
Antidepresan Efek mungkin meningkat
Benzodiazepine Efektifitas zat penenang dan fungsi
psikomotor mungkin meningkat atau
menurun
Beta bloker Efek penghambat mungkin meningkat
Kafein Efek meningkat
Kortikosteroid Toksisitas mungkin meningkat
Teofilin Efek meningkat
 Disebut juga mini pil adalah pil yang hanya mengandung progestin 350 μg
yang diminum setiap hari.
 Pil ini tidak terlalu populer oleh karena insiden perdarahan ireguler dan
angka kehamilannya jauh lebih tinggi.
 Pilihan yang baik bagi ibu yang menyusui, mulai diminum pada minggu ke
6 setelah melahirkan.
 Pil ini mengganggu kesuburan tapi tidak selalu menghambat penetrasi
ovulasipembentukan mukus serviks yang menghambat penetrasi sperma
dan perubahan pematangan endometrium sehingga dapat menghambat
implantasi blastokista.
Keuntungan
 Resiko peningkatan penyakit kardiovaskular dan keganasan belum terbukti,
lebih kecil kemungkinannya menyebabkan peninggian tekanan darah atau
nyeri kepala, tidak berefek pada metabolisme karbohidrat dan diperkirakan
lebih jarang menyebabkan depresi, dismenorea, dan gejala premenstruasi.
Kekurangan
 Kegagalan kontrasepsi dan meningkatnya insiden kehamilan ektopik apabila
kontrasepsi gagal, perdarahan uterus yang tidak jelas, kista ovarium
fungsional menjadi sering, dan pil ini harus diminum pada waktu yang sama
atau hampir sama tiap harinya.
Kontraindikasi
 Terutama pada wanita berumur, dengan perdarahan uterus yang tidak jelas,
riwayat kehamilan ektopik atau kista ovarium fungsional.
 Keunggulan suntikan progestin adalah efektivitas kontrasepsi yang setara
dengan atau lebih baik daripada kontrasepsi oral kombinasi, efek bertahan
lama dengan hanya 4 – 6 kali penyuntikan setahun, dan gangguan
laktasi yang minimal.
 Depo medroksiprogesteron asetat (Depo provera) dan Noretindron etantat
(Norgest) telah banyak dipakai secara luas diseluruh dunia, mekanisme kerja
kedua obat tampaknya multipel, termasuk inhibisi ovulasi, peningkatan
kekentalan mukus serviks, dan pembentukan dapat menghambat
implantasi ovum
 Kelebihan dan kekurangannya serupa dengan progestin oral.
 Kekurangannya mencakup amenorea berkepanjangan, perdarahan uterus
selama dan setelah pemakaian, dan anovulasi yang lama setalah
penghentian kontrasepsi.
 Pemulihan kesuburan akan lambat namun tidak terhambat, pada
pemakaian jangka panjang trigliserida dan kolesterol HDL menurun tetapi
kolesterol LDL tidak meningkat, hanya terjadi sedikit modifikasi metabolisme
glukosa, insiden anemia defisiensi besi menurun.
 Disamping itu terjadi juga peningkatan berat badan yang nyata.
 Pada pemakaian Depo medroksiprogesteron jangka panjang terdapat
kemungkinan penurunan kepadatan mineral tulang, namun akan pulih
setelah terapi dihentikan.
 Depo medroksiprogesteron disuntikan dalam-dalam di kuadran luar atas
bokong tanpa dipijat untuk memastikan agar obat dilepaskan secara
perlahan-lahan. Dosis lazim adalah 150 mg setiap 90 hari.
 Noetindron etantat disuntikan dengan cara yang sama dalam dosis 200mg,
tetapi penyuntikan obat ini harus diulang setiap 60 hari.
 Sistem norplant menyalurkan levonorgestrel dalam wadah silastik yang
diimplantasikan dijaringan subdermal.
 Setiap wadah memiliki panjang 34mm, garis tengah 2,4mm, dan
mengandung 36 mg levonorgestrel.
 Dosis kombinasi sebesar 216 mg menghasilkan pembebasan ke dalam
plasma sekitar 85 μg/hari untuk 6 sampai 8 hari pertama dan menghasilkan
kontrasepsi yang efektif.
 Penghentian pemakaian fertilitas akan segera pulih dengan segera
 Keunggulan dan kekurangan
hampir identik dengan progestin
oral, kecuali efek pada
metabolisme karbohidrat.
 Dilaporkan bahwa setelah
pemakaian 6 bulan, kadar glukosa
dan insulin mengalami perubahan
bahkan pada wanita nondiebetik.
 Pada wanita normal perubahan ini
tidak bermakna, tetapi akan
sangat mengkhawtirkan pada
orang yang berpotensi untuk
diabetik
 Pada pemakaian sistem Norplant tidak terjadi pengurangan kepadatan
tulang.
 Karena memerlukan tindakan bedah ringanmasalah yang berkaitan
dengan infeksi lokal.
 Obat kontrasepsi baru yang disuntikan setiap bulan.
 Obat ini mengandung 25mg Medroksiprogesteron asetat plus 5 mg estradiol
sipionat yang dipasarkan dengan nama Lunelle atau Cyclo-Provera.
 Mekanisme kerja obat ini dengan menghambat ovulasi dan menekan
proliferasi endometrium.
 Kadar estrasdiol mencapai puncak pada 3 sampai 4 hari pascainjeksi dengan
nilai yang setara dengan lonjakan praovulasi dalam siklus menstruasi
ovulatorik normal.
 Kadar estradiol menetap selama sekitar 10-14 hari, dan penurunannya
menyebabkan perdarahan 10 sampai 20 hari pasca penyuntikan
 Timbulnya perdarahan yang tidak teratur, namun setelah 3 bulan
pemakaian, ketidakteraturan perdarahan menjadi lebih jarang terjadi
 Pulihnya kesuburan setelah penghentian berlangsung cepat, dengan hampir
83% wanita menjadi hamil dalam 12 bulan setelah penghentian.
 Angka pemulihan kesuburan jauh lebih cepat daripada penghentian dengan
suntikan Depomedroksiprogesteron asetat.
 Gangguan tromboflebitis atau tromboembolus
 Riwayat tromboflebitis vena dalam atau gangguan tromboembolus
 Penyakit sereborvaskular atau arteria koroner
 Diketahui atau dicurigai mempunyai karsinoma payudara
 Karsinoma endometrium atau diketahui atau dicurigai mempunyai
neoplasma dependen estrogen
 Perdarahan genital abnormal yang tidak diketahui penyebabnya
 Ikterus kolestatik pada kehamilan atau riwayat ikterus setelah menggunakan
pil
 Adenoma atau karsinoma hati
 Diketahi atau dicurigai hamil
 Mekanisme kerja dari AKDR sampai saat ini belum diketahui dengan pasti,
tetapi pendapat yang terbanyak mengatakan bahwa dengan adanya AKDR
dalam kavum uteri menimbulkan reaksi peradangan endometrium yang
disertai dengan sebukan leukosit yang dapat menghancurkan blastokista
dan sperma.
 Efektifitasnya tinggi dapat mencapai 0.6 – 0.8 kehamilan/100 perempuan
dalam 1 tahun pertama (1 kegagalan dalam 125 – 170 kehamilan).
 Sampai sekarang telah banyak ditemukan jenis-jenis AKDR, tapi yang paling
banyak digunakan dalam program KB di Indonesia ialah AKDR jenis copper
T dan spiral (Lippes loop).
 Bentuk yang beredar dipasaran adalah spiral (Lippes loop), huruf T
(Tcu380A, Tcu200C, dan NovaT), tulang ikan (MLCu350 dan 375), dan
batang (Gynefix).
 Unsur tambahan adalah tembaga (cuprum), atau hormon (Levonorgestrel).
 Umumnya hanya memerlukan satu kali pemasangan
 Tidak menimbulkan efek sistemik
 ekonomis dan cocok untuk penggunaan secara massal
 Efektivitas cukup tinggi
 Reversibel
 Tidak ada pengaruh terhadap ASI
 Perdarahan
 Masa haid dapat menjadi lebih panjang dan banyak, terutama pada bulan-
bulan pertama pemakaian
 Rasa nyeri dan kejang di perut
 Gangguan pada suami
 Ekspulsi (pengeluaran sendiri)

• Infeksi
• Perforasisegera di keluarkan
• Kehamilan abortus
Kontraindikasi relatif :
 Mioma uteri dengan adanya perubahan bentuk rongga uterus
 Insufisiensi serviks uteri
 Uterus dengan parut pada dindingnya, seperti pada bekas SC, enukleasi mioma,
dsb.
 Kelainan jinak serviks uteri, seperti erosio porsiones uteri
Kontraindikasi mutlak :
 Kehamilan
 Adanya infeksi yang aktif pada traktus genitalis (Penyakit Menular Seksual)
 Adanya tumor ganas pada traktus genitalis
 Adanya metrorhagia yang belum disembuhkan
 Pasangan yang tidak lestari/harmonis
 Sewaktu haid sedang berlangsung
 Post Partum
 Post abortum
 Beberapa hari setelah haid terakhir
1. Setelah kandung kencing dikosongkan, pasien dibaringkan diatas meja ginekologi dalam
posisi litotomi.
2. Bersihkan daerah vulva dan vagina secara asepsis dan antisepsis dengan betadine
3. Lakukan pemeriksaan bimanual untuk mengetahui letak, bentuk, dan besar uterus
4. Spekulum dimasukkan ke dalam vagina, dan serviks uteri dibersihkan dengan larutan
antiseptik. Lalu dengan tenakulum dijepit bibir depan porsio uteri, dan dimasukkan
sonde ke dalam uterus untuk menentukan arah dan panjangnya kanalis servikalis serta
kavum uteri.
5. AKDR dimasukkan ke dalam uterus dengan tehnik tanpa sentuh, lalu dorong ke dalam
kavum uteri hingga mencapai uterus.
6. Tahan pendorong (plunger) dan tarik selubung (inserter) ke bawah sehingga AKDR
bebas.
7. Setelah selubung keluar dari uterus, pendorong juga dikeluarkan, dan tenakulum juga
dilepaskan, benang AKDR digunting sehingga 2½ - 3 cm keluar dari ostium uteri, dan
akhirnya spekulum diangkat.
 Pemeriksaan setelah pemasangan AKDR dilakukan 1 minggu sesudahnya;
pemeriksaan kedua 3 bulan kemudian, dan selanjutnya tiap 6 bulan.
 Cooper T-380A perlu dilepas setelah 10 tahun pemasangan, tetapi dapat
dilepaskan lebih awal apabila diinginkan.
 Mengeluarkan AKDR biasanya dilakukan dengan cara menarik benang AKDR
yang keluar dari ostium uteri eksternum dengan dua jari, dengan pinset,
atau dengan cunam.
 Kadang-kadang benang tidak tampak dari ostium uteri eksternum.
 Tidak terlihatnya benang oleh karena :
 Pasien hamil
 Perforasi usus
 Ekspulsi
 Perubahan letak AKDR sehingga benang tertarik ke dalam rongga uterus, seperti
adanya mioma uterus.
 Tubektomi ialah tindakan yang dilakukan pada kedua tuba falopii wanita
sedangkan vasektomi ialah pada kedua vas deferens pria,yang
mengakibatkan yang bersangkutan tidak dapat hamil atau tidak
menyebabkan kehamilan lagi.
 Metoda dengan cara operasi tersebut diatas telah dikenal sejak zaman
dahulu. Hippocrates menyebut bahwa tindakan itu dilakukan terhadap
orang dengan penyakit jiwa.
 Dahulu vasektomi dilakukan sebagai hukuman misalnya pada mereka yang
melakukan perkosaan. Sekarang tindakan tubektomi dan vasektomi
dilakukan secara sukarela dalam rangka keluarga berencana.
 Tubektomi adalah suatu tindakan oklusi/ pengambilan sebagian saluran
telur wanita untuk mencegah proses fertilisasi.
 Tindakan tersebut dapat dilakukan setelah persalina.
 Setelah dilakukan tubektomi, fertilitas dari pasangan tersebut akan terhenti
secara permanen.
 Waktu yang terbaik untuk melakukan tubektomi pascapersalinan ialah tidak
lebih dari 48 jam sesudah melahirkan karena posisi tuba mudah dicapai dari
subumbilikus dan rendahnya resiko infeksi.
 Bila masa 48 jam pascapersalinan telah terlampaui maka pilihan untuk
tetap memilih tubektomi, dilakukan 6-8 minggu persalinan.
Keuntungan tubektomi ialah :
 Motivasi hanya satu kali saja, tidak diperlukan motivasi yang berulang-ulang
 Efektivitas hampir 100%
 Tidak mempengaruhi libido seksualis
 Kegagalan dari pihak pasien tidak ada

Kerugiannya ialah bahwa tindakan ini dapat dianggap tidak reversibel,


walaupun ada kemungkinan untuk membuka tuba kembali pada mereka yang
masih menginginkan anak lagi dengan operasi Rekanalisasi
Indikasi dilakukannya tubektomi :
 Penghentian fertilitas atas indikasi medik
 Kontrasepsi permanen
 Usia >26 tahun
 Anak >2

Syarat-syarat tubektomi :
 Syarat sukarela
 Syarat bahagia
 Syarat medik
Cara Madlener
 Bagian tengah tuba diangkat dengan cunam pen, sehingga
terbentuk suatu lipatan terbuka. Kemudian, dasar dari
lipatan tersebut dijepit dengan cunam kuat-kuat dan
selanjutnya dasar itu diikat dengan benang yang tidak
diserap. Tidak dilakukan pemotongan tuba.
Cara Pomeroy
 Cara ini paling banyak dilakukan. Dilakukan dengan mengangkat bagian
tengah dari tuba sehingga membentuk suatu lipatan terbuka, kemudian
dasarnya diikat dengan benang yang dapat diserap, tuba diatas dasar itu
dipotong. Setelah benang pengikat diserap, maka ujung- ujung tuba
akhirnya terpisah satu dengan yang lain.
Cara Irving
 Pada cara ini tuba dipotong antara dua ikatan benang yang dapat diserap,
ujung proksimal dari tuba ditanamkan kedalam miometrium, sedangkan
ujung distal ditanamkan ke dalam ligamentum latum.
Cara Aldridge
 Peritoneum dari ligamentum latum dibuka dan kemudian tuba bagian
distal bersama-sama dengan fimbria ditanam ke dalam ligamentum
latum.
Cara Uchida
 Tuba ditarik ke luar abdomen melalui
suatu insisi kecil (mini laparotomi) di atas
simfisis pubis. Kemudian di daerah
ampula tuba dilakukan suntikan dengan
larutan Adrenalin dalam air garam
dibawah serosa tuba. Akibatnya,
mesosalping di daerah tersebut
menggembung lalu dibuat sayatan kecil di
daerah yang kembung tersebut.
 Serosa dibebaskan dari tuba sepanjang
kira-kira 4-5 cm; tuba dicari dan setelah
ditemukan dijepit, diikat, lalu digunting.
Ujung tuba yang proksimal akan
tertanam dengan sendirinya dibawah
serosa, sedangkan ujung tuba yang
distal dibiarkan berada diluar serosa.
Luka sayatan dijahit dengan kantong
tembakau.
Cara Kroener
 Bagian fimbria dari tuba dikeluarkan dari lubang operasi. Suatu ikatan
dengan benang dibuat melalui bagian mesosalping dibawah fimbria. Jahitan
ini diikat 2x, satu mengelilingi tuba dan yang lain mengelilingi tuba sebelah
proksimal dari jahitan sebelumnya. Seluruh fimbria dipotong.
 Teknik ini banyak digunakan. Keuntungan cara ini antara lain sangat kecil
kemungkinan kesalahan mengikat ligamentum rotundum. Angka kegagalan
0,19%.
 Indikasi vasektomi ialah bahwa pasangan suami isteri tidak menghendaki
kehamilan lagi dan pihak suami bersedia bahwa tindakan kontrasepsi
dilakukan pada dirinya.
 Kontraindikasi, sebenarnya tidak ada, kecuali bila ada kelainan lokal yang
dapat mengganggu sembuhnya luka operasi, jadi sebaiknya harus
disembuhkan dahulu.
 Keuntungan vasektomi:
 Tidak menimbulkan kelainan fisik maupun mental
 Tidak mengganggu libido seksualitas
 Operasinya hanya berlangsung sebentar sekitar 10 - 15 menit
1. Cunningham F G, et al. Williams Obstetrics. 23 Edition. USA. McGraw-Hill
Companies. 2010.
2. Kementrian Kesehatan RI. Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan
Dasar dan Rujukan. Edisi 1. Jakarta. 2013.
3. Affandi B, Albar E. Kontrasepsi dalam Ilmu Kandunga. Edisi 3. Jakarta.
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2011.
4. Saifuddin A B. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Edisi 1.
Jakarta. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2003.
5. Departemen Kementrian Kesehatan RI. Data dan Informasi: Profil
Kesehatan 2014. Jakarta. 2014.