Anda di halaman 1dari 40

IB telah menjadikan “Genetic Progress”

menyebar relative cepat dengan penggunaan frozen


semen (semen beku).

sumbangan genetic (genetic progress) terutama dari


pejantan

teknik transfer embrio, dimana betina dapat


memberikan banyak keturunan sehingga menghasilkan
hasil genetik yang cepat sebagai komplementer
terhadap program IB.
Keberhasilan teknik TE :
1. Donor, sebagai produksi embrio transferable
2. Resipien, dengan laju kebuntingan tinggi dan
konsisten
3. Prosedur, jadwal, teknik dan peralatan
4. Sumber daya manusia, harus terampil

1890 : teknik TE pada Kelinci yang dilakukan oleh Heape


1951 Willet (USA) :TE pada Sapi dengan memanfaatkan
embrio dari Rumah Potong Hewan.
1960 : koleksi embrio dan TE dengan teknik Abdominal
surgery.
1965 Prof. Sugie (Jepang) : teknik By Pass Method :
merupakan teknik non surgery method.

1970 : teknik TE mulai dikomersialkan di USA


akhir tahun 1970 : teknik TE dengan non surgery
method dengan recovery 6 transfer
diterapkan di lapangan.
Awal tahun 1980 Bilton : freezing embrio
1989 telah lahir lebih dari 10000 Calf (anak sapi) di
USA dan teknik TE dimulai di negara-negara
berkembang.
1984 telah dilaksanakan program TE di Indonesia atas
prakarsa MenKop/Ka Bulog saat itu (Bustanil
Arifin), di peternakan sapi Cicurug Sukabumi.
PRODUKSI EMBRIO IN VIVO

3.1 Managemen Donor


 Seleksi Donor

Nilai genetic sangat diutamakan yang merupakan


kemampuan memindahkan atau menurunkan
nilai atau karakter yang baik

Harus berdasarkan kepada :


 Superioritas genetik
 Kemampuan reproduksi
 Nilai pasar atau ekonomi dari keturunannya
 Kondisi kesehatan
Seleksi untuk superioritas genetik

• Maternal breeding value


• Yearling breeding valua
• Weaning breeding value
• Untuk sapi perah ditunjukkan dengan produksi susu
tinggi
• Klasifikasi score yaitu berupa konformasi
 Kesehatan ternak donor
 Kriteria calon betina donor sehat
• Test darah
• Vaksinasi
• Kondisi reproduksi normal (palpasi Rektal)
 Makanan/Pakan
 korelasi positif antara kondisi tubuh dengan
pakan yang baik

tingkat fertilitas

 Siklus berahi donor

o kunci utama keberhasilan TE adalah deteksi estrus,


o siklus estrus harus setepat mungkin

o lamanya siklus estrus harus normal dan teratur


deteksi estrus 2 siklus estrus berturut-turut :
pada pagi hari (jam 06.00 am) dan sore hari (jam 06.00
pm)

menghindari abnormalitas siklus estrus misalnya


silent heat

3.2 Managemen Resipien


 Seleksi Resipien
 Bebas penyakit
 Fertilitas teruji
 Kemampuan memelihara anak
 Tidak ada gejala distokia
Intensitas pengamatan
satu hari sebelum dan sesudah estrus, Setiap
hari dilakukan 5 kali pengamatan yaitu pada jam
06.00; 10.00; 14.00; 18.00 dan jam 22.00.

      Hari        

  0 1 2 3 4 5    

Donor FSH FSH FSH FSH   IB ----- KOLEKSI EMBRIO

      PG          

  FSH FSH FSH FSH IB      

      PG          

Resipien   PG PG - 1 0 + 1 ---- TRANSFER EMBRIO


Deteksi Estrus
 Estrus Sinkronisasi
Estrus sinkronisasi dilakukan dengan
menggunakan PGF2 (Prostaglandin).

adanya Corpus luteum (CL).

PGF2 ini adalah melisiskan CL

estrus akan timbul 48 – 96 jam post injeksi.


Alternatif lain :
tanpa dilakukan pemeriksaan palpasi rectal,
dengan catatan dilakukan 2 kali penyuntikan
PGF2

hari 0 hari 11

PGF2, PGF2,
Estrus Estrus
(Mid-cycle of (5 days of Estrus)
estrus)
Pemberian PGF2, pada resipien satu hari lebih
cepat dari pada donor, = disebabkan pada
donor estrus akan timbul 36 – 60 jam setelah
penyuntikan PGF2, sedangkan pada resipien estrus
timbul 48 – 96 jam setelah penyuntikan PGF2,

 Superovulasi pada donor

sapi potong, SO 9 hari post estrus (9 – 14 hari


post estrus)
Preparat FSH
H-9: Pagi 5 mg FSH i.m.
Sore 5 mg FSH i.m.
H-10: Pagi 4 mg FSH i.m.
Palpasi rectal, bila CL pos suntik
15 mg PGF2, i.m.
Sore 4 mg FSH i.m.
H-11 : Pagi 3 mg FSH i.m.
15 mg PGF2, i.m.
Sore 3 mg FSH i.m.
H-12 : Pagi 2 mg FSH i.m.
Sore 2 mg FSH i.m.
H-13 : Estrus pada donor dan resipien

selanjutnya
IB donor pada 12 – 24 jam setelah standing
heat, interval 2 kali IB

IB ke 1: 12 jam post estrus IB ke 2 :


24 jam post estrus.

sapi perah secara prosedural = sapi potong,hanya


dosis FSH yang berbeda yaitu :

I dosis pagi dan sore 6 – 6 mg


II dengan dosis 5 – 5 mg
III dengan dosis 4 – 4 mg
IV dengan dosis 3 – 3 mg
 Inseminasi Buatan (IB)
• pada donor 12 – 24 jam post standing heat
• IB dilakukan 2 kali

0 12 h 24 h

standing IB ke 1 IB ke 2
estrus dosis semen dosis semen
1 x atau 2 x 2 x
 Koleksi Embrio
(Embryo collection/Recovery)
2 cara atau metode :

1. Non surgery/non operatif Transcervical


2. Surgery/operatif Fossa Para Lumbal (kiri/kanan)

Metode Non surgery :


di Eropa, Jepang, Asia (Indonesia) dan Brazil,
Metode surgery : di USA.
Tahap Pelaksanaan
1. Tahap persiapan hewan donor
2. Tahap persiapan peralatan dan bahan
3. Tahap pelaksanaan koleksi embrio
1. Tahap persiapan hewan donor
donor : pada 7 – 8 hari post estrus

 Ditempatkan dalam kandang pemaksa


 Rambut pada pangkal ekor yang panjang digunting
• Lakukan pencucian dengan sabun antiseptik
• Lakukan pembilasan denganalcohol 70%
 Lakukan anestise Epidural (2 – 5 ml Lidocain Chloride
2 %)
Anesthesi : ruang antar vertebra :
 tulang sacrum terakhir
 tulang coccygea pertama

2. Tahap persiapan alat/bahan


 Faeces dikeluarkan dari dalam rectum hingga kosong
 Dalam rectum ada udara, dikeluarkan dengan pompa
isap
 Vulva dan vagina :
o Dicuci bersih dan dikeringkan
o Sterilisasi atau desinfeksi dengan alkohol 70 %
Alat yang diperlukan :
• Cervical expander (pembuka canalis cervicalis)
• Mucus remover, (membersihkan canalis cervicalis dari lendir)
• Foley catheter (two way) ukuran 16–20 G terdiri dari 3
saluran yaitu :
 Saluran – masuk media – flushing
 Saluran – keluar media – hasil flushing
 Saluran – penggembung balon kecil

• Tabung media
• Tabung penampung hasil flushing embrio
• Injeksi spuit :
o Pengisap media hasil flushing
o Penekan/pengisap balon pada foley catheter
Bahan-bahan yang diperlukan :
Modified Dulbecco’s Phosphat buffered Saline (M-
PBS) : komposisi:
• PBS (-) 9,8 g
• Metal salt (NaCl2 dan CaCl2 1,0 ml (PBS+)
• Glucose/Dextrose 1,0 g
• Sodium Pyruvate 0,036 g
• Penicilline 100.000 IU
• Streptomycin 100 mg Larutan ini dibuat dalam
• Bovine Serum Albumin 3,0 mg volume 1 Liter.
3. Tahap koleksi embrio
 Teknik Transcervical

Bahan Ajar TRT (Rasad, SD, 2004)


Penanganan Embrio
Tahapan penanganan yaitu :
 Isolasi embrio atau unfertilized ova (UFO)
 Identifikasi embrio atau UFO
 Manipulasi embrio atau UFO
 Klasifikasi embrio atau UFO

 penanganan embrio hasil koleksi atau flushing

dikerjakan oleh 2 orang teknisi


teruatama dalam hal penentuan
identifikasi dan klasifikasi embrio
Adapun prosedur pencarian embrio adalah :
• Embrio harus berada dalam “fresh storage
medium” (M-PBS + 20 % Calf serum), buang sel-
sel runtuhan dari uterus
• Aspirasi embrio dengan pipet pasteur ( 200–
250µm)

Petridish berskala
Evaluasi embrio
mikroskop dengan pembesaran 100–200 x

• Cell stage development


• Morphologi
• Kualitas embrio

Perkembangan embrio :

3 hari post estrus : 4 – 8 sel


4 hari post estrus : 8 – 16 sel
5/6 hari : Morula
7 hari : Blastocyst
Ciri-ciri :
• Morula merupakan embrio
dengan jumlah sel 32 sel, dengan blastomer
individual dan sulit dibedakan satu dengan lainnya.
Kondisi Blastomer seperti massa dari sel- sel.

• Compact Morula, ditandai :


Blastomer individual menggumpal (agglutinated)
membentuk massa padat dari sel-sel. Massa embrio
mengisi 60 – 70 % ruangan perivitelline, dimana ruang
perivitelline lebih besar dari tahapan morula

• Blastocyst dini (Early blastocyst) :


Memiliki ruangan berisi cairan Blastocoele. Pada
tahapan ini dapat membedakan Trophoblast dan
Inner Cell Mass (ICM). Ruang perivitelline sempit
tetapi ada
• Blastocyst :
Differensiasi jelas bagian luar Trophoblast. Inner
cell mass mengisi sebagian besar ruang perivitelline

• Expanded Blastocyst :
Diameter keseluruhan meningkat 1,2–1,5 kali). Zona
Pellucida menipis (1/2 kali), dan terkadang collapsed
Inner cell mass jelas dan kompak

• Hatched Blastocyst: merupakan embrio yang telah


terlepas dari Zona Pellucida. Bentuknya spheris dan
lebih besar. Identifikasi pada saat ini lebih sulit

Kategori Kualitas Embrio


1. Bentuk
2. Warna
3. Jumlah sel kompak
4. Jumlah sel degenerasi dan erlepas (extruded)
5. Jumlah dan ukuran vesicle
Kriteria dari kualitas embrio
A – Excellent (Istimewa)
Embrio ideal, morphologi sempurna dalam
perkembangannya pada setiap tahapan (normal typical)

A’ – Good (Bagus)
Terdapat kelainan pada beberapa sel blastomer
(extruded), bentuk tidak seragam, terdapat beberapa
vesicle (10 – 20 % tidak seragam dan tidak beraturan)
B – Poor (Kurang)
Terdapat sejumlah besar blastomer extruded,
degenerasi, ukuran berbeda dan vesicle Banyak.
Tampak masih hidup (50 % tidak seragam dan tidak
beraturan)

C – Non Transferable Embryo


Sel degenerasi total, sel terlalu muda (2 – 32 sel)
atau unfertilized ova (UFO)
PRODUKSI EMBRIO IN VITRO
Teknik :
1) Koleksi oocyte dari donor atau ovarium asal RPH
2) Maturasi oocyte
3) In vitro fertilisasi (IVF)
4) Kultur embryo di bawah kondisi laboratorium
(Inkobator CO2)

Teknik ini merupakan potensi yang baik untuk


meningkatkan mutu genetik sapi dalam interval waktu
1. Koleksi Oocyte [Recovery of Oocytes]

Sumber Oocyte :
1. Ternak donor [Sapi hidup]
2. Ovarium Sapi betina yang dipotong di RPH

Dari Sapi donor hidup == oocyte immature


(belum masak) dikoleksi melalui 2 cara :
1.Ovum pick-up melalui transvaginal (transvaginal

ovum pick-up)
2. Aspirasi laparoskop (laparoscopic aspiration)
1.Ovum pick-up melalui transvaginal
 Dapat dengan bantuan USG atau tanpa USG tetapi
yang umum adalah dengan bantuan USG
 Hasil : 4-5 Oocyte/koleksi (tanpa treatment
hormonal [FSH] pada ovary)
8-10 oocyte/koleksi (dengan treatment
hormonal FSH)
 Dapat dilakukan 1 – 2 kali per minggu

2. Aspirasi Laparoskopis
 3-9 oocyte/koleksi [induk] dan 22-32 oocyte
[betina muda]
Sumber oocyte untuk produksi embrio skala
besar = ovarium induk sapi betina yang
diptong di RPH
Oocyte dikoleksi melalui 2 cara :
1. Aspirasi
Folikel
2. Slicing ovarium

Hasil = lebih banyak diperoleh oocyte dari pada asal donor hidup

Kelemahan : mutu genetik induk sumber ovarium tidak diketahui


2. In Vitro Maturation (IVM)
• Setelah koleksi, oocyte immatue = medium maturasi
• Inkubasi 22-24 Jam dalam Inkubator CO2
• Co cultur dengan sel somatic = kualitas embryo baik
• Cultur group : 10 – 40 koloni

3. In Vitro Fertilization (IVF)


• Semen beku sebagai sumber spermatozoa
• Sperma motil dipisahkan dari pengencer dengan
metode pencucian, Swimm-up atau percol gradient
centrifugasi
• Sperma == mikrodrops dalam medium kapasitasi
mengandung heparin
• Oocyte mature diinkubasi pada sperma kapasitas
6-24 jam
• Normalnya 30 oocyte + 200.000 sperma inkubasi
dalam mikrodrops agar fertilisasi berjalan baik

4. Culture of Embryos
• Oocyte yang telah difertilisasi kultur 5-7 hari == embryo
• Perkembangan embryo = divisi sel 40-42 Jam pos IB
Tiga sistem kultur embryo :
1. Kultur embryo di dalam oviduct resipen
sementara (domba dan kambing)
2. In vitro cultur zygote dengan somatic sel
(oviduct eoithel sel, granulosa sel dll) di dalam
medium tertentu
3. In vitro cultur zygote dalam medium sederhana
seperti cairan oviduct sintesis tanpa tambahan
somatik sel

Semua sistem  embryo dikultur dalam mikrodrops dan


diberi pelindung mineral oil
Angka kebuntingan dengan sistem tsb : 40 – 56 %
Cultur embryo == meningkatkan jumlah embryo yang
dihasilkan, daya tahan dan kualitas embryo
Table 1: In vitro embryo production following
transvaginal OPU. Source: Bousquet.1997. Proc. Soc.
Theriogenology. pp16-21.

Duration No. of Oocyte Transferabl


of No. of
oocytes cleavage e embryos
transport collections
(avg) (%) (%)
(h)*
0 177 1771 (10) 1310 (74) 837 (47)

3 to 6 260 1944 (7.5) 1326 (68) 840 (43)

24  34   155 (6.5) 110 (71)  66 (43) 

*Time for transporting eggs from farm to laboratory.


Tahapan pelaksanaan TE pada Sapi
1. Jelaskan tahapan proses transfer embrio
2. Faktor-faktor apa yang penting diperhatikan
dalam teknik TE pada sapi ?

Tugas mandiri
Daftar Pustaka :
• Hafez, E.S.E. 2000. Reproduction In Farm Animals. 7th Ed.
Lippincott Williams & Wilkins
• Toelihere, M. R. 1985. Inseminasi Buatan. Penerbit Angkasa
Bandung
• Partodihardjo, S. 1987. Ilmu Reproduksi Hewan. Mutiara
Sumber Widya. Jakarta
• Peters, A.R., And Ball, P.J. 2004. Reproduction In Cattle.
3nd Ed. Blackwell Science, Inc.