Anda di halaman 1dari 23

Referat

Abortus
Pembimbing : dr. Nilakusuma, Sp.OG

Oleh :
Cahya Alfaliza (2012730120)

KEPANITERAAN ILMU KEBIDANAN DAN PENYAKIT KANDUNGAN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
RSUD SEKARWANGI TAHUN 2017
Abortus

Ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi


sebelum janin dapat hidup diluar kandungan

Sebagai batasan  kehamilan kurang dari 20


minggu atau berat janin kurang dari 500 gram
Epidemiologi

Dalam laporan Riset Kesehatan Dasar


(Riskesdas) 2012, presentase abortus dalam lima
tahun terakhir adalah sebesar 4%.
Terdapat 4 provinsi yang memiliki angka
kejadian lebih dari 6% dengan urutan teratas
yaitu Papua Barat, Kalimantan Tengah dan
Kalimantan Selatan
Etiologi

Faktor Fetus Faktor Ibu Faktor Paternal

 Anembriogenik  Infeksi
 Embriogenik  Penyakit tertentu
 Kadar progesteron
rendah
 Pemakaian obat
dan Faktor
lingkungan
 Defek uterus
Klasifikasi Abortus

Abortus Spontan Abortus Provokasi


 Abortus Iminens
 Abortus Provokatus
 Abortus Insipiens
Medisinalis
 Abortus Kompletus
 Abortus Provokatus
 Abortus Inkompletus
Kriminalis
 Missed Abortion
 Abortus Habitualis
 Abortus Infeksious, Abortus
Septik
Abortus Iminens

Tingkat permulaan dan merupakan ancaman terjadinya abortus

ditandai Terapi

 Perdarahan pervaginam  Tirah baring


 OUE tertutup  Spasmoliti  uterus tidak
 hasil konsepsi masih baik berkontraksi
dalam kandungan  Hormon progesteron
 Sedikit mules/tidak ada  Hindari aktifitas berat dan
keluhan sama sekali berhubungan seksual ±2
 Besar uterus sesuai masa minggu.
kehamilan
 Tes kehamilan +
Abortus Insipiens

Abortus yang sedang berlangsung

 Perdarahan pervaginam  sedang/banyak


diagnosis  Mules
 Besar uterus sesuai masa kehamilan
 OUE terbuka
 Hasil konsepsi masih didalam kavum uteri
 Tes kehamilan +

Pemeriksaan USG : gerak janin dan denyut jantung


janin masih jelas walaupun mungkin sudah mulai tidak
normal.
Penatalaksanaan
 Perhatikan keadaan umum dan perubahan
hemodinamik
 Uterotonika
 Tindakan kuretase
 Pascatindakan : uterotonika , antibiotik profilaksis
Abortus kompletus

Seluruh hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri

Diagnosis • Perdarahan sedikit


• OUE tertutup
• Hasil konsepsi telah keluar
• Uterus mengecil
• Tes kehamilan + (7-10 hari setelah abortus)
Pada abortus kompletus pemeriksaan USG tidak
diperlukan jika pemeriksaan klinis sudah
memadai.

Terapi • Antibiotik 3 hari


• uterotonika
Abortus Inkompletus

Sebagian hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri


dan masih ada yang tertinggal
Diagnosis  Perdarahan pervaginam  banyak  anemia/syok
hemoragik
 OUE terbuka dan teraba jaringan dalam kavum
uteri
 Mules
Pemeriksaan USG (dilakukan jika ragu) : uterus lebih
kecil dari usia kehamilan, kantong gestasi sulit untuk
dikenali, tampak massa hiperekoik yang bentuknya
tidak beraturan.
Terapi

 Jika syok  perbaiki Keadaan umum


 Tranfusi jika Hb <8 gr%
 Tindakan kuretase
 Uterotonika (metilergometrin 3x0,125 mg)
 Antibiotik 3 hari
Miss Abortion

Embrio atau fetus telah meninggal, dan hasil konsepsi seluruhnya


masih tertahan dalam kandungan.
 Tidak merasakan keluhan apapun
Diagnosis  Pertumbuhan kehamilan tidak seperti yang
diharapkan
 UK> 14-20 mgg, Penderita merasakan rahimnya
mengecil dan
 Tanda kehamilan sekunder mulai menghilang
 Diawali abortus iminens  sembuh, ttpi
pertumbuhan janin terhenti.
 Tes kehamilan -

Pemeriksaan USG akan didapatkan uterus yang


mengecil, kantong gestasi yang tidak ada tanda tanda
kehidupan.
Penatalaksanaan :
 UK < 12 mgg  evakuasi dgn dilatasi dan kuretase
 UK > 12 mgg/ < 20 mgg dgn keadaan servik uterus masih kaku 
induksi
IVFD cairan oksitoksinn 10 UI dalam 500 cc dextrose 5% 20 tpm
Dapat diulang 50 UI

Jika tidak berhasil

Istirahat 1 hari  induksi diulagi (maksimal 3x)


Abortus Habitualis

Abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturut-


turut.
Penyebab  Inkompetensia serviks
 Ostium serviks akan membuka (inkompeten) tanpa disertai
mules/kontraksi rahim dan akhirnya terjadi pengeluaran janin.
 Kelainan ini sering disebabkan oleh trauma serviks pada kehamilan
sebelumnya, misalnya pada tindakan usaha pembukaan serviks
yang berlebihan, robekan serviks yang luas sehingga diameter
kanalis servikalis sudah melebar.
Abortus Infeksiosus
Abortus Septik

Abortus infeksious adalah abortus yang disertai infeksi


pada alat genitalia.

Abortus septik ialah abortus yang disertai penyebaran


infeksi pada peredaran darah tubuh atau peritoneum.

salah satu komplikasi tindakan abortus yang paling sering terjadi

Segera mendapat pengelolaan adekuat  Infeksi luas


 rongga peritoneum
 Riwayat abortus tidak menggunakan peralatan
Diagnosis yang asepsis
 Panas tinggi
 Tampak sakit dan lelah
 Takikardi
 Perdarahan pervaginam yang berbau
 Uterus membesar dan lembut
 Nyeri tekan
 OUE terbuka dan teraba jaringan
 Pem Lab : Leukositosis

Jika Syok  Tampak lelah


dan sepsis  Panas tinggi
 Menggigil
 Dan TD menurun
Penatalaksanaan
 Perbaiki keadaan umum
 Antibiotik spektrum luas
 Tindakan kuretase  jika keadaan tubuh sudah membaik, minimal
6 jam setelah pemberian antibiotik
 Uterotonika (metil ergometrin 0,2 mg IM)
 Antibiotik dilanjutkan sampai 2 hari bebas demam

Jenis antibiotik Cara pemberian dosis

Sulbenisili 3 x 1 gram

Gentamisin IV 2 x 80 mg

Metronidazol 2 x 1 gram

Seftriaksin IV 1 x 2 gram

Amoksini + asam kalvulanat 3 x 500 mg


IV
Klindamisin 3 x 600 mg
Abortus Provokatus Medisinalis

abortus yang dilakukan dengan disertai indikasi medik.


Di Indonesia yang dimaksud dengan indikasi medik adalah
demi menyelamatkan nyawa ibu.
Abortus Provokatus Kriminalis

Aborsi yang sengaja dilakukan tanpa adanya indikasi


medik (ilegal). Biasanya pengguguran dilakukan dengan
menggunakan alat-alat atau obat-obat.
Komplikasi

Emboli
Perdarahan Udara

Syok

Keracunan Infeksi
Obat/zat atau sespis
abortivum
Prognosis

Dubia ad bonam
THANK YOU