Anda di halaman 1dari 17

Kelompok 6

Alfonsus Andries Kurniawan 062116061


Cindy A. S. 062116021
Aqsha Tasyriefan 062116019
Iqbal Sulton Budiman 062116011
Apa itu Amperometri?

Amperometri adalah salah satu metoda voltametri dengan


memberikan potensial konstan pada elektroda kerja, serta arus
diukur sebagai fungsi waktu. Secara harafiah, amperometri
merupakan pengukuran arus.

Dalam kimia elektroanalisis, konsentrasi analit menentukan nilai


arusnya. Metode ini dilakukan berdasarkan elektrolisis sempurna
dari analit. Pada metode ini analit dioksidasi dan direduksi secara
sempurna pada permukaan elektroda kerja atau bereaksi
sempurna dengan pereaksi yang dihasilkan oleh elektroda kerja.
Suatu metode analisis yang Titrasi Amperometri = suatu
didasarkan pada pengukuran titrasi dimana titik akhirnya
besarnya arus difusi yang dicari dengan mengamati efek
perubahannya sangat tergantung penambahan titran terhadap
pada titran. arus yang diukur.

Prinsipnya sama dengan potensiometri. Hanya saja jika pada potensiometri yang
diukur adalah beda potensialnya, sedangkan padan amperometri larutan yang
dititrasi diberi potensial dan yang diukur adalah perubahan arus listriknya yang
dipantau dengan alat amperometer
Ketika potensial diberikan pada elektroda kerja, analit yang terdapat dalam larutan mengalami reaksi
reduksi sehingga konsentrasi analit yang dekat dengan elektroda kerja akan menurun. Sedangkan analit
lain secara perlahan akan berdifusi kedalam larutan mendekati elektroda kerja, sehingga konsentrasi
tetap. Jika potensial yang diberikan cukup tinggi, konsentrasi analit yang berada dekat dengan
elektroda kerja akan bergantung pada laju rata-rata difusi. Arus yang dihasilkan disebut batas difusi.
Pada saat analit tereduksi pada elektroda kerja, konsentrasi analit pada seluruh larutan akan perlahan-
lahan menurun, bergantung pada ukuran elektroda kerja berbanding volum larutan.
INSTRUMENTASI
VOLTAMETRI

1. Elektroda kerja

2. Elektroda pembanding

3. Elektroda pendukung
ELEKTRODA
Voltametri sama halnya dengan potensiometer,
mempunyai elektroda kerja dan elektroda
pembanding, bedanya pada voltametri
ditambah dengan sebuah elektroda yaitu
elektroda pembantu (auxillary electrode)
sehingga voltameter mempunyai 3 buah
elektroda.
ELEKTRODA KERJA Dropping Mercury
Electrode
• Elektroda kerja pada voltametri tidak
bereaksi, akan tetapi merespon
elektroda aktif apa saja yang ada dalam
sampel. Pemilihan elektroda
bergantung pada besarnya range
potensial yang diinginkan untuk
menguji sampel.

• Contohnya adalah elektroda Hg, Pt, Au,


Ag, C dan lain-lain.
ELEKTRODA
PEMBANDING
Elektroda pembanding mempunyai potensial yang sudah tertentu,
diketahui dengan pasti dan tidak mempengaruhi larutan sampel
Syarat elektroda pembanding :
1.Mengikuti persamaan Nerst, bersifat reversible Elektroda Kalomel Jenuh
2.Memiliki potensial elektroda yang konstan oleh waktu
3.Segera kembali keharga potensial semula apabila dialiri
arus yang kecil
4.Merupakan elektroda yang bersifat nonpolarisasi secara
ideal
Contoh elektroda pembanding adalah elektroda kalomel
jenuh (SCE) atau Ag/AgCl
ELEKTRODA PEMBANTU
• Elektroda pembantu berfungsi untuk
menangkap kelebihan arus.

• Contohnya : platinum wire auxiliary electrode


Kurva Titrasi
Amperometri
Kurva Titrasi
Amperometri
Keterangan Gambar
Kelebihan dan Kekurangan
Amperometri
Kelebihan analisis menggunakan metode ini antara lain:

• Sensitifitas pada saat titrasi amperometri sangat tinggi.


• Pengukuran arus dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi
analit secara langsung.
• Tidak diperlukan indikator pada titrasi amperometri.

Kelemahan analisis menggunakan metode ini antara lain:

• Sulit untuk mengukur arus dari beberapa analit.


• Perubahan arus sensitif terhadap penambahan analit.
PENGEMBANGAN BIOSENSOR KONDUKTOMETRI UNTUK PENENTUAN
KADAR ASAM URAT DALAM SERUM DARAH MENGGUNAKAN SCREEN
PRINTED CARBON ELECTRODE (SPCE)-NATA DE COCO
PRINSIP PERCOBAAN
Kontrol kadar asam urat penting dilakukan. Kadar asam
urat yang tinggi menyebabkan penyakit gout, Oleh karena
itu diperlukan suatu metode yang sederhana, cepat dan
akurat untuk menentukan kadar asam urat. Pada penelitian
ini telah dikembangkan biosensor konduktometri
menggunakan SPCE-Nata de coco untuk menentukan kadar
asam urat.

VARIABEL PERCOBAA
Biosensor dioptimasi agar didapatkan biosensor dengan
kinerja yang baik dan dapat diaplikasikan pada serum
darah.Variabel optimasi yaitu pengaruh konsentrasi
enzim, ketebalan membran dan pH larutan.
Berdasarkan hasil penelitian, enzim berpengaruh
terhadap kepekaan biosensor. Konsentrasi enzim
optimum dicapai pada konsentrasi 18 µg/mL dengan
kepekaan sebesar 3,04 μS/ppm. Hasil tersebut diperoleh
dengan kondisi pengukuran pada ketebalan membran
5 μm dan pH larutan sebesar 7,5.

HASIL PERCOBAAN
Kepekaan biosensor pada
berbagai ketebalan membran
Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa ketebalan
membran mempengaruhi kinerja biosensor. Kepekaan
biosensor menurun seiring dengan meningkatnya ketebalan
membran. Ketebalan membran optimum dicapai pada
ketebalan paling kecil yaitu 5 μm dengan kondisi pengukuran
konsentrasi enzim 18 μg/mL dan pH
larutan sebesar 7,5.
HASIL PERCOBAAN KeSimpulan

Biosensor asam urat SPCE – Nata de coco


memiliki kinerja optimum pada konsentrasi
enzim 18 μg/mL, ketebalan membran nata de
coco 5 μm dan pH pengukuran pada pH 8.
Kisaran konsentrasi yang dapat dideteksi 0 – 1,2
ppm dengan kepekaan 7,74 μS/ppm dan batas
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH deteksi sebesar 0 ppm. Biosensor dapat
mempengaruhi kepekaan biosensor. Salah satu digunakan untuk mengukur kadar asam urat
komponen penting dalam biosensor yaitu enzim yang dalam serum darah dengan akurasi mencapai
hanya bekerja pada pH tertentu. Enzim tidak dapat 95 %.
bekerja optimal pada kondisi pH yang tidak sesuai
dengan pH kerja enzim
Pada penelitian ini pH optimum dicapai pada pH 8
dengan kepekaan sebesar 4,41 μS/ppm sedangkan
kondisi pengukurannya pada konsentrasi enzim 18
μg/mL dan ketebalan membran 5 μm.