Anda di halaman 1dari 18

SIROSIS HATI

Pembimbing: dr. Adhi Permana, Sp. PD


DEFINISI
 Sirosis adalah suatu keadaan patologis yang
menggambarkan stadium akhir fibrosis hepatik yang
berlangsung progresif yang ditandai dengan distorsi dari
arsitektur hepar dan pembentukan nodulus regeneratif,
gambaran ini terjadi akibat nekrosis hepatoselular. Jaringan
retikulin kolaps disertai deposit jaringan ikat, distorsi
jaringan vaskular, dan regenerasi nodularis parenkim hati.2
EPIDEMIOLOGI
 Lebih dari 40% pasien sirosis asimtomatis. Pada keadaan
ini sirosis ditemukan waktu pemeriksaan rutin kesehatan
atau pada waktu autopsy
 Keseluruhan insidensi sirosis di Amerika diperkirakan 360
per 100.000 penduduk. Penyebabnya sebagian besar akibat
penyakit hati alkoholik maupun infeksi virus kronik.
 Hasil penelitian nonalkoholik dan alkoholik berakhir
dengan sirosis hati dengan prevalensi 0,3%.
ETIOLOGI
 Faktor keturunan dan malnutrisi  kekurangan protein
 << asam amino (metionin)  mencegah perlemakan
hati <<
 Hepatitis virus  virus hepatitis B  hepatitis aktif
kronik  sirosis
 Zat hepatotoksik alkohol pemakaian berulang kali dan
terus menerus penimbunan lemak dalam hati 
kerusakan hati akut : nekrosis / degenarasi lemak , kronis :
sirosis
Tabel 1. Sebab-sebab sirosis dan/ atau penyakit hati
kronik2
Penyakit infeksi Obat dan Toksin
- Bruselosis - Alkoholik
- Ekinokokus
- Skistosomiasis
- Amiodaron
- Toksoplasmosis - Arsenic
- Hepatitis virus ( hepatitis B , hepatitis C, - Obstruksi bilier
hepatitis D, sitomegalovirus) - Penyakit perlemakan hati non
alkoholik
Penyakit keturunan dan metabolic - Sirosis bilier primer
- Difisiensi alfa1- antitrypsin - Kolangitis sclerosis primer
- Sindrom fanconi Penyebab lain atau tidak terbukti
- Galaktosemia
- Penyakit gaucher
- Penyakit usus inflamasi kronik
- Penyakit simpanan glikogen - Fibrosis kistik
- Hemokromatosis - Pintas juejunoileal
- Intoleransi fluktosa glikogen - Sarkoidosis
- Tirosinemia herediter
- Penyakit Wilson
KLASIFIKASI

Sirosis secara
Klasifikasi Sirosis
konvensional di
berdasarkan
Mikronodular,
penyebabnya : Sirosis
Makronodular,
Alkoholik, Sirosis
Campuran (yang
Biliaris, Sirosis pasca
memperlihatkan
nekrotik, Cardiac
gambaran mikro-dan
Cirrhosis
makronodular)

Sirosis fungsional: Sirosis hati


kompensata, Sirosis hati
dekompensata
PATOGENESIS
Alkohol  akumulasi lemak
Peningkatan tekanan vena cava
Sirosis berlebih  menurunkan oksidasi
inferior dan vena hepatica 
asam lemak  nekrosis sel
akumulasi abnormal di hati  Laenec
hati menciut, keras & tidak
udem hati
memiliki parenkim normal.

Sirosis
Sirosis
pasca
cardiac
Necrotik

Terjadi setelah nekrosis


Stasis empedu  penumpukan
berbercak pada jaringan hati 
empedu didalam hati Sirosis hepatosit terpisah oleh jaringan
Kerusakan sel hati dimulai Biliaris parut >> kehilangan sel hati
dari sekitar duktus biliaris 
ikterik, hati membesar , keras,
bergranula halus dan bewarna
kehijauan.
MANIFESTASI KLINIS

asites
Produksi protein yang rendah,
gangguan hormon

diafragma

menyempit

nafas
DIAGNOSIS
 kriteria Soedjono dan Soebandiri tahun 1973, yaitu bila
ditemukan 5 dari 7 keadaan berikut:
1. eritema palmaris,
2. spider nevi,
3. vena kolateral eritema palmaris
4. asites dengan atau tanpa edema,
5. splenomegali,
6. hematemesis dan melena,
7.rasio albumin dan globulin terbalik spider nevi

Vena kolateral
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Tes fungsi hati meliputi aminotransferase (AST), alkali
fosfatase, gamma glutamil transpeptisida, bilirubin,
albumin, dan waktu protombin
2. Pemeriksaan urin
3. Pemeriksaan Darah
4. Pemeriksaan radiologis
5. Biopsy hati
PENATALAKSANAAN
 diet yang mengandung protein 1 g/kgBB dan kalori 2000-
3000 kkal/hari
 Asites : tirah baring dan diawali diet rendah garam
konsumsi garam sebanyak 5,2 gram atau 90 mmol/hari
spinorolakton dengan dosis 100-200 mg sekali dan
terjadinya penurunan berat badan 0,5 kg/hari).tanpa
dengan adanya edema kaki 1 kg/hari Terapi spinorolakton
dapat dikombinasikan dngan furosemide dengan dosis 20-
40 mg/hari apabila terapi spinorolakon tidak adekuat.
 Peritonitis Bakterial Spontan : Terapi diberikan 10-14 hari,
norfloksasin (400mg/hari) dapat mencegah rekurensi atau
relaps.4
 Sindrom hepatorenal dilakukannya transplantasi hati hal
ini dikarenakan terapi obat-obatan yang digunakan seperti
dopamin dan analog prostaglandin
 Ensefalopati Hepatika : Sirup laktulosa dapat diberikan
dengan dosis 30-50 mL setiap jam. Pemberian neomisin
dengan dosis 0,5 – 1 g s
KOMPLIKASI
Komplikasi yang sering dijumpai antara lain peritonitis bacterial spontan

Pada sindrom hepatorenal terjadi gangguan penurunan perfusi ginjal


yang berakibat pada penurunan filtrasi glomerulus

Hipertensi portal adalah varises esophagus mengakibatkan


pendarahan.

Ensefalopati hepatic, merupakan kelainan neuro psikiatrik akibat


disfungsi hati. selanjutnya dapat timbul gangguan kesadaran yang
berlanjut sampai koma.

Pada sindrom hepatopulmonal terdapat hidrotoraks dan hipertensi


portipulmonal.2
PROGNOSIS

CHILD A CHILD B CHILD C


100 % 80 % 45 %

Tabel 2. Klasifikasi Child Pasien Sirosis Hati dalam Terminologi


Cadangan Fungsi Hati.2
Derjat kerusakan Minimal Sedang Berat
Bil. Serum <35 35-50 >50
(mu.mol/dl) >35 30-35 <30
Alb. Serum (gr/dl) Nihil Mudah dikontrol Sukar
Asites Nihil Minimal Berat/koma
PSE/ensefalopati Sempurna Baik Kurang / kurus
Nutrisi
DAFTAR PUSTAKA
1. Teguh Karjadi, Felix Firyanto Widjaja. Pencegahan Perdarahan
Berulang pada Pasien Sirosis Hati. J Indon Med Assoc,Volum:
61, Nomor: 10, Oktober 2011
2. Nurdjanah S. Sirosis hati diambil dari Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam Jilid I Edisi 5. Aru W sudoyo dkk.2009. Jakarta : FK
UI.Halaman 668-673
3. Price Sylvia A, Wilson Lorraine M, Sirosis Hati diambil dari
buku Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit,Volume 1,
Edisi 6,2006,Halaman 493-501
4. Bacon Bruce R.Cirrhosis and its Complication diambil dari buku
Harrison’s Principle of Internal Medicine 18th Edition. Lewis
dkk.2011.USA : McGraw Hill.Halaman 2592-2602
5. Amie Vidyani, Denny Vianto, dkk. Faktor Resiko Terkait
Pendarahan Varises Esofagus Berulang Pada Penderita Sirosis
Hati. J Peny Dalam, Volume 12 Nomor 3 September 2011