Anda di halaman 1dari 69

DEMENSIA PADA PENYAKIT ALZHEIMER

ONSET LAMBAT (F00.1)

Retza Prawira Putra 712016046


Pembimbing:
dr. Meidian Sari, Sp.KJ

DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN JIWA RUMAH SAKIT DR. ERNALDI BAHAR


PROVINSI SUMATERA SELATAN FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG 2018
BAB I
Status Pasien
Dermatitis numularis pada orang dewasa
terjadi lebih sering pada pria daripada wanita.
Usia puncak awitan pada kedua jenis kelamin
antara 55 dan 65 tahun. Umumnya kejadian
meningkat seiring dengan meningkatnya usia.

Dermatitis numularis umumnya menimbulkan


rasa yang sangat gatal, cenderung hilang timbul,
dan ada pula yang terus menerus.
Dermatitis adalah peradangan kulit sebagai
respon terhadap pengaruh faktor eksogen dan
atau faktor endogen, menimbulkan kelainan klinis
berupa efloresensi polimorfik dan keluhan gatal.

Dermatitis numularis adalah dermatitis


berupa lesi berbentuk mata uang (coin) atau agak
lonjong, berbatas tegas dengan efloresensi berupa
papulovesikel, biasanya mudah pecah sehingga
basah (oozing).
Dermatitis numularis pada orang dewasa
terjadi lebih sering pada pria daripada wanita.
Usia puncak awitan pada kedua jenis kelamin
antara 55 dan 65 tahun.
BAB II
Tijauan Pustaka
IDENTIFIKASI PASIEN

• Nama : Tn. S
• Jenis Kelamin : Laki-laki
• Tanggal Lahir : Tapanuli, 05 Januari 1947
• Umur : 71 tahun
• Pekerjaan : Pensiunan PNS
• Alamat : Jl. Sultan Syahrir RT. 09
Palembang
Tn. S • Status pernikahan : Menikah
No RM: 07.50.15 • Suku/bangsa : Tapanuli/Indonesia
• Agama : Kristen Protestan
• Tanggal berobat : 15 Desember 2018
KELUARGA PASIEN

• Nama : Ny. M
• Usia : 65 tahun
• Jenis Kelamin : Perempuan
• Pendidikan : SD
• Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
• Agama : Islam
• Alamat : Jl. Sutan Syahrir RT. 09
Palembang
• Hubungan pasien : Istri
Anamnesis

Sebab Utama :
Pasien sering marah-marah (emosi tinggi)
sejak 2 bulan yang lalu.

Keluhan Utama :
Pasien sering lupa sejak 1 tahun yang lalu.
RIWAYAT PERJALANAN PENYAKIT

Pasien datang ke IGD RS Dr. Ernaldi Bahar Palembang pada hari


Sabtu, 15 Desember 2018, diantar istri dan anak pasien dengan
menggunakan mobil, karena pasien sering marah-marah sejak 2
bulan yang lalu.

Perilaku sering marah-marah tampak lebih jelas dirasakan oleh


keluarga pasien terutama jika kemauannya tidak dituruti,
kemarahan biasanya ditujukan kepada istri pasien.

Sikap sering marah pasien tidak diikuti dengan menyakiti orang lain
dan tidak merusak barang-barang.
RIWAYAT PERJALANAN PENYAKIT

Pasien sering marah-marah kepada istrinya semenjak dia merasa


istrinya sering menolak berhubungan suami istri, pasien
menganggap bahwa istri pasien selingkuh.

Pasien juga merasa pernah melihat istrinya berjalan bergandengan


dengan 2 orang laki-laki di depan rumahnya, pasien mengejar laki-
laki tersebut namun tidak dapat, pasien tidak mengenali wajah laki-
laki yang dilihatnya, namun hal ini dibantah oleh istri dan tetangga
pasien.
RIWAYAT PERJALANAN PENYAKIT

Pasien mengeluh sulit untuk tidur terutama pada malam hari


semenjak keluhan sering marah-marah yang dirasakan baik oleh
pasien maupun keluarga pasien, namun setelah tidur pasien tidak
terbangun lagi sampai pagi hari.

Pada malam hari pasien sering mengganggu istrinya, bila istri pasien
pindah ke kamar lain pasien marah dan menggedor-gedor kamar
tersebut.
RIWAYAT PERJALANAN PENYAKIT

Pasien mengaku tidak ada suara bisikan-bisikan yang berbicara atau


mengomentari kehidupan pasien. Pasien masih bersosialisasi di luar
rumah, aktivitas sehari-hari pasien biasanya bertugas menjaga toko
kelontong dirumahnya.
RIWAYAT PERJALANAN PENYAKIT

Pasien juga mengeluh sering lupa yang dirasakan sejak 1 tahun yang
lalu dan hal ini dibenarkan oleh keluarga pasien. Pada awalnya
keluhan lupa hanya minimal, terbatas pada lupa seperti lupa
menaruh kacamata, jam, kunci dan benda-benda lainnya.
RIWAYAT PERJALANAN PENYAKIT

Namun lama kelamaan lupa yang dirasakan semakin memberat.


Sejak 2 bulan yang lalu, bila pasien keluar rumah pasien terkadang
tidak tau jalan pulang serta tidak tau apa yang sudah dilakukannya.

Pasien juga sering lupa dengan tempat dan tahun bila dintanya.
Sejak 1 minggu yang lalu, pasien mulai salah jika memanggil nama
anaknya. Aktivitas makan, mandi, dan berpakaian masih bisa
sendiri.
RIWAYAT PERJALANAN PENYAKIT

Keluhan pasien dirasakan keluarganya semakin memberat pada 1


bulan yang lalu, sehingga pasien dibawa berobat ke salah satu dokter
spesialis jiwa. Pasien diberi 2 macam obat dalam kapsul tanpa merek
(racikan). Pasien mengkonsumsi obat dengan teratur, namun
keluhan tidak berkurang bahkan semakin berat.

Setelah mengkonsumsi obat tersebut keluarga mengatakan timbul


gejala berupa jalan pasien tampak tidak seimbang dan bicara pelo.
Pasien kemudian dibawa ke Rumah Sakit Dr. Ernaldi Bahar
Palembang.
Riwayat Penyakit Dahulu : Riwayat Keluarga :

• Riwayat kencing manis • Keluarga tidak ada yang


disangkal memiliki keluhan yang
• Riwayat sariawan yang lama sama dengan pasien.
disangkal
• Riwayat kencing manis
• Riwayat trauma dan iritasi
kulit disangkal disangkal
• Riwayat bersin di pagi hari • Riwayat bersin di pagi
disangkal hari disangkal
• Riwayat sesak nafas disertai • Riwayat sesak nafas
mengi disangkal disertai mengi disangkal
• Riwayat alergi terhadap obat • Riwayat alergi terhadap
dan makanan disangkal
obat dan makanan
• Riwayat keluhan yang sama disangkal
disangkal
PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum : Tampak sakit
ringan
Kesadaran : Compos
mentis
Nadi : 82 x/menit
Pernapasan : 20 x/menit
Suhu : 36,5°C
Berat badan : 56 kg
PEMERIKSAAN FISIK

STATUS DERMATIKUS
Pada regio cruris sinistra
anterior, didapati plak
hiperpigmentasi, soliter, reguler,
ukuran 1,7cm x 1,6cm x 0,1cm,
batas tegas, dengan likenifikasi.
DIAGNOSIS BANDING Diagnosis
Kerja
Dermatitis Numularis 1

Pitiriasis Rosea 2

Tinea Korporis 3
Tatalaksana
Non Medikamentosa
Berupa memberikan edukasi kepada pasien:
• Menjelaskan kepada pasien bahwa penyakitnya
belum diketahui penyebab pastinya namun bukan
penyakit yang menular.
• Menjelaskan kepada pasien bahwa penyakitnya
dapat kambuh kembali, sehingga pasien
dianjurkan berobat teratur.
• Menjelaskan kepada pasien agar tidak menggaruk
bercak tersebut.
• Menjelaskan kepada pasien agar menjaga kulit
tidak kering.
Non Medikamentosa
• Menjelaskan kepada pasien agar tidak menggaruk
bercak tersebut.
• Menjelaskan kepada pasien agar menjaga kulit
tidak kering.
Medikamentosa
Sistemik
• Tablet klorfeniramin maleat 2 x 4 mg sehari per oral
(pagi dan malam hari) untuk 2 minggu.

Topikal
• Emolien 2 x sehari dioleskan pada bagian lesi untuk
2 minggu.
• Hydrocortisone butyrate 0,1% salep 2 x sehari
dioleskan pada bagian lesi untuk 2 minggu.
Prognosis

Quo ad vitam : bonam

Quo ad functionam : bonam

Quo ad sanationam : dubia ad bonam

Quo ad cosmetica : dubia ad bonam


BAB IV
Analisis Masalah
Teori
• Dermatitis numularis pada orang dewasa terjadi
sering pada pria daripada wanita. Usia puncak
awitan pada kedua jenis kelamin antara 55 dan 65
tahun. Pada wanita usia puncak terjadi juga pada
usia 15 sampai 25 tahun.
• Umumnya kejadian meningkat seiring dengan
meningkatnya usia.
Anamnesis

Ny. H, Perempuan, berusia 46 tahun


bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga dan
beragama Islam.
Lahir di Palembang, 03 Maret 1972
Teori
• Penderita dermatitis numularis umumnya mengeluh
sangat gatal.
Anamnesis
Pasien mengeluh gatal yang hilang
timbul pada lesi. Bila muncul gatal,
pasien menggaruk bercak tersebut
terus-menerus hingga terkadang kulit
tungkai bawah kiri lecet.
Teori
• Lesi akut berupa vesikel dan papulovesikel (0.3-1.0
cm), kemudian membesar dengan cara
berkonfluensi membentuk satu lesi karakteristik
seperti uang logam (coin), eritematosa, sedikit
edematosa, dan berbatas tegas.
• Lambat laun vesikel pecah terjadi eksudasi,
kemudian megering menjadi krusta kekuningan.
Anamnesis
Perjalanan klinis pasien:
• lesi awalnya bintil kemerahan kecil tunggal
yang kemudian disusul munculnya bintil-
bintil kemerahan lainnya.
• Bintil kemudian menjadi satu dan
membentuk lesi seperti uang logam dan
berbatas tegas.
• Pada kasus, lesi sudah lama sehingga
terdapat likenifikasi.
Dermatitis Numularis

Pitiriasis Rosea
Teori
Tinea Korporis

• Biasanya mengenai orang dewasa dengan usia


puncak 55 dan 65 tahun, mengenai remaja sampai
usia muda 10 sampai 35 tahun. pada semua usia.
• Pencetus diduga akibat kulit kering, stres, dan
adanya infeksi stafilokokus, kemungkinan oleh virus,
akibat jamur golongan dermatofita paling sering T.
rubrum.
Dermatitis Numularis

Pitiriasis Rosea
Teori
Tinea Korporis

• Gatal sedang sampai berat. gatal yang dirasakan


ringan.
• Tempat predileksi di tungkai bawah, badan, lengan
termasuk punggung tangan. Predileksi pitiriasis
rosea di badan, leher, dan ekstremitas proksimal.
badan, lengan, leher, dan tungkai.1 Pada kasus lesi
yang dikeluhkan berada pada tungkai kiri bawah.
Anamnesis
• Pada kasus, didapatkan kejadian pada
usia dewasa yaitu 46 tahun. Pada kasus,
berdasarkan anamnesis keluhan timbul
dipengaruhi oleh faktor kulit kering dan
status emosional.
• Pada kasus gatal yang dirasakan berat
dan tidak dapat menahan untuk tidak
menggaruk.
• Pada kasus lesi yang dikeluhkan berada
pada tungkai kiri bawah.
Anamnesis
• Pada kasus gatal yang dirasakan berat
dan tidak dapat menahan untuk tidak
menggaruk.
• Pada kasus lesi yang dikeluhkan berada
pada tungkai kiri bawah.
PERBANDINGAN
DIAGNOSIS BANDING

Kasus Dermatitis Pitiriasis Rosea Tinea


Numular Korporis
Epidemio Pasien Pada orang Pada semua Pada semua
logi perempuan, 46 dewasa terjadi umur, terutama umur, wanita
tahun, sering pada pria antara 15-40 dan pria sama
berkebangsaan daripada wanita. tahun. Wanita banyak.
Indonesia. Usia puncak dan pria sama
antara 55 dan 65 banyak.
tahun.
Etiologi Bekas garukan Belum diketahui Terdapat hipotes Jamur golonga
akibat gatal.
sepenuhnya, did is bahwa diseba n dermatofita,
uga stafilokokus bkan oleh virus. paling banyak
dan mikrokokus Trichopyton ru
ikut berperan brum.
Tempat Tungkai Tempat Pada badan, Pada badan, tu
Predeleksi kiri bawah predileksi lengan atas ngkai, lengan,
ditungkai bagian dan leher.

bawah, badan, proksimal dan


lengan paha atas.
termasuk
punggung
tangan.
Teori
• Lesi akut berupa vesikel dan papulovesikel (0.3-1.0
cm), kemudian membesar dengan cara
berkonfluensi membentuk satu lesi karakteristik
seperti uang logam (coin), eritematosa, sedikit
edematosa, dan berbatas tegas.
• Lambat laun vesikel pecah terjadi eksudasi,
kemudian megering menjadi krusta kekuningan.
Anamnesis
Perjalanan klinis pasien:
• lesi awalnya bintil kemerahan kecil tunggal
yang kemudian disusul munculnya bintil-
bintil kemerahan lainnya.
• Bintil kemudian menjadi satu dan
membentuk lesi seperti uang logam dan
berbatas tegas.
• Pada kasus, lesi sudah lama sehingga
terdapat likenifikasi.
Teori

Secara umum, penatalaksanaan berupa


edukasi, terapi sistemik, dan terapi
topikal.

Pengobatan ditujukan untuk


mengidentifikasi dan menangani faktor
penyebab gatal.
Kasus
• Edukasi pada pasien berupa bahwa garukan akan
memperburuk keadaan penyakitnya.
• Pasien dijelaskan bahwa penyakit yang diderita
tidak menular.
• Pasien dijelaskan agar selalu menjaga kulit agar
tetap lembab.
Kasus
• Kortikosteroid topikal (KT) poten sedang sampai
tinggi. Dapat disertai dengan pemberian
pelembab berupa emolien.
Teori

Efektivitas KT:
• Potensi/ kekuatan
• Vehikulum
• Frekuensi pengolesan
• jumlah/banyaknya
• Lama pemakaian
• Stadium penyakit
• Lokasi anatomi
• Faktor usia
Teori
Potensi/kekuatan  jumlah obat 
menghasilkan efek terapi diinginkan.

KT potensi rendah  penggunaan jangka


panjang, pada area permukaan besar, pada
wajah, atau pada daerah dengan kulit tipis
dan untuk anak-anak.

KT yang lebih kuat  untuk penyakit yang


parah dan untuk kulit yang lebih tebal di
telapak kaki dan telapak tangan.
Teori

Salep  meningkat kan potensi karena salep bersifat lebih


oklusif  tidak dianjurkan pada daerah intertriginosa dan
pada daerah berambut.

Krim lebih nyaman, terutama jika digunakan pada bagian


tubuh yang terbuka, tidak iritatif, juga dapat digunakan pada
lesi sedikit basah atau lembap dan di daerah intertriginosa.

Konsistensi lotion lebih ringan, mudah diaplikasikan dan


nyaman dipakai di daerah berambut, misalnya kulit kepala.
Kasus
• Kortikosteroid sedang. Pemilihan kortikosteroid
sedang.
• Bentuk sediaan yang dipilih adalah berupa salep

Pemilihan kortikosteroid dengan kekuatan sedang


dan bentuk salep pada penyakit dermatitis numular
dapat dilihat berdasarkan tabel di bawah ini.
Topical steroid Topical steroid Common representative topical
class American class brithis steroids
classification classification
V III Moderate 0,05% flurandrenolide cream
Lower mid-
strength
corticosteroids
0,05% fluticasone propionate cream
0,1% prednicarbate cream
0,05% betamethasone dipropionate
lotion
0,1% triamcinolone acetonide lotion
0,1% hydrocortisone butyrate ointment

0,025% flucinolone acetonide cream


0,05% desonide ointment
0,1% betamethasone valerate cream
Berdasarkan jenis kortikosteroid salep dengan kekuatan sedang,

didapatkan 2 jenis kortikosteroid di bawah ini:

Perbandingan 0,1% hydrocortisone 0,05% desonide


butyrate
Efek samping Dapat menyebabkan Dapat menyebabkan iritasi
iritasi kulit kulit, rasa terbakar, kering,
kemerahan, erupsi,
hipopigmentasi, folikulitis,
dermatitis kontak.

Ketersediaan Mudah ditemukan Mudah ditemukan tersedia


tersedia dalam banyak dalam banyak nama dagang
nama dagang
Harga Lebih mahal Lebih murah

Waktu paruh 8-12 jam 8-12 jam


• Kortikosteroid yang dipilih pada kasus ini adalah
Hydrocortisone butyrate 0,1% salep.

• Hydrocortisone butyrate 0,1% salep diberikan


sebanyak 2 x sehari berdasarkan waktu paruh nya.
• Untuk menghitung jumlah KT yang dipakai,
sebaiknya menggunakan ukuran “fingertip unit”
yang dibuat oleh Long dan Finley.

• Satu “fingertip unit” setara dengan 0,5 gram krim


atau salep.

• Satu FTU cukup untuk untuk mengobati kulit dua kali


area telapak tangan dewasa beserta jari-jarinya
Anatomic area FTU required Amount needed for
twice daily regimen in g
Face and neck 2.5 2.5
Anterior and 7 7
posterior trunk
Arm 3 3
Hand (both sides) 1 1
Leg 6 6
Foot 2 2
• Berdasarkan FTU, lesi kulit pada kasus berada di
tungkai bawah dan berukuran 1,7cm x 1,6cm x
0,1cm sehingga diperlukan sekitar seperempat FTU.
• Pada pemberian kortikosteroid golongan II dan VI
dianjurkan lama pemberian 2-4 minggu, waspadai
adanya tanda takifilaksis dan atropi.
• Pada kasus dikarenakan memakai obat KT
golongan V dan sifat dermatitis numularis yang
kronis maka obat kortikosteroid topikal diberikan
selama 2 minggu untuk mencegah rekurensi.
• Jadi kortikesteroid yang diberikan pada kasus ini
adalah Hydrocortisone butyrate 0,1% salep 2 x
sehari selama 2 minggu.
• Pemakaian KT dianjurkan bersama-sama dengan
emolien atau pelembap dengan interval beberapa
menit di antara pengolesan kedua obat tersebut.
• Beberapa contoh emolien seperti urea 10% lotion
dan gliserin 2% lotion.
• Jadi pemberian emolien pada kasus ini 2 x sehari
mengiringi pemberian kortikosteroid.
• Untuk mengurangi rasa gatal, dapat diberikan
antipruritus berupa antihistamin golongan sedatif
(hidroksin, prometazin, dan difenhidramin).
Antihistamin Generasi 1 Antihistamin Generasi 2

Antihistamin generasi pertama ini Antihistamin generasi kedua ini


mudah didapat jarang didapat

Memiliki sifat lipofilik yang dapat Memiliki sifat lipofilik yang lebih
menembus sawar darah otak rendah sulit menembus sawar darah
sehingga dapat menempel pada otak.
reseptor H1 di sel-sel otak.
• Diberikan golongan sedatif agar pasien dapat
beristirahat terutama saat malam hari.
• Pemberian antihistamin golongan H1 juga
diperlukan pada kasus dikarenakan gatal yang
timbul dipengaruhi oleh stres dan emosi yang
berkaitan dengan sistem pusat (otak) yang dapat
ditembus oleh antihistamin generasi 1.
• Antihistamin generasi 1 juga digunakan karena
mudah didapat.
Golongan obat dan contohnya Masa kerja (jam) Dosis tunggal dewasa

Etanolamin
 Difenhidramin HCl 4-6 50 mg
 Dimenhidrinat 4-6 50 mg
 Kabinoksamin maleat 3-4 4 mg
Etilendiamin
 Tripelennamin sitrat 4-6 75 mg
 Pirilamin maleat 4-6 25-50 mg
Alkilamin
 Bromfeniramin maleat 4-6 4 mg
 Klorfeniramin maleat 4-6 2-4 mg
 Deksbromfeniramin maleat 4-6 2-4 mg
Piperazin
 Klorsiklizin HCl 8-12 50 mg
 Siklizin HCl 4-6 50 mg
 Siklizin laktat 4-6 50 mg
 Meklizin HCl 12-24 25-50 mg
 Hidroksizin HCl 6-24 25 mg
Fenotiazin
 Prometazin HCl 4-6 25-50 mg
 Metdilazin HCl 4-6 4-8 mg
Lain-lain
 Azatadin 12 1 mg
 Siproheptadin 6 4 mg
• Pada pasien diberikan obat antihistamin berupa
klorfeniramin maleat 2 x 4 mg sehari per oral (pagi
dan malam hari) untuk 2 minggu.

• Dipilih menggunakan kelompok alkilamin berupa


klorfeniramin maleat karena memiliki efek samping
dan toksisitas paling rendah, dan dengan dosis
yang minimal memiliki masa kerja obat sedang.
Selain itu mudah tersedia dan didapatkan.
R/ Klorfeniramin maleat 4 mg tab no. XIV
∫ 2 dd tab 1

R/ Hydrocortisone butyrate 0,1% oint tube I


∫ u.e. 2 dd applic part dol m.et.v

R/ Urea 10% cream tube I


∫ u.e. 2 dd applic part dol m.et.v
Bila dilihat dari keseluruhan mulai dari anamnesis dan
pemeriksaan fisik, prognosis pasien ini adalah :
• Quo ad vitam adalah bonam
• Quo ad Functionam adalah bonam
• Quo ad Sanationam adalah dubia ad bonam
• Quo ad cosmetica adalah dubia ad bonam
Kesimpulan
Kesimpulan
Pada kasus memiliki tiga diagnosis banding yaitu
Dermatitis numularis, pitiriasis rosea, dan tinea
korporis.

Diagnosis kerja pada kasus ini yaitu Dermatitis


numularis, dengan gejala timbul bintil merah yang
kemudian menjadi kehitaman disertai penebalan disertai
gatal pada lesi, Pada regio cruris sinistra anterior,
didapati plak hiperpigmentasi, soliter, reguler, ukuran
1,7cm x 1,6cm x 0,1cm, batas tegas, dengan likenifikasi.
Tatalaksana Dermatitis numularis yaitu dengan cara edukasi
agar pasien tidak menggaruk lesi dan mejaga kelembaban
kulit. Pemberian obat sistemik berupa antihistamin Tablet
klorfeniramin maleat 2 x 4 mg sehari per oral (pagi dan malam
hari) untuk 2 minggu, dan topikal berupa kortikosteroid
kekuatan sedang Hydrocortisone butyrate 0,1% salep 2 x sehari
dioleskan pada bagian lesi untuk 2 minggu disertai emolien 2 x
sehari.
DAFTAR PUSTAKA

1. Adi, S., Djuanda., S. Dermatitis. Dalam: Djuanda, Adhi. 2010. Ilmu Penyakit
Kulit dan Kelamin Edisi Ke 6. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Hal. 129-150.
2. Siregar, R., S. 2015. Dermatitis Numularis, dalam Atlas Berwarna Saripati
Penyakit Kulit, Edisi Kedua. Jakarta: Balai Penerbit EGC. Hal. 120-121.
3. Wolff, K., Allen, R. 2009. Fitzpatrick’s Color Atlas and Synopsis of Clinical
Dermatology 8th ed. New York: Mc.Graw Hill. Inc. Hal: 46-47.
4. PERDOSKI. 2017. Pitiriasis Rosea: Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter Spesialis
Kulit dan Kelamin di Indonesia. Hal. 33.
5. PERDOSKI. 2017. Dermatofitosis: Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter Spesialis
Kulit dan Kelamin di Indonesia. Hal. 50-51.
6. Johan, R. 2015. Penggunaan Kortikosteroid Topikal yang Tepat. RS Dustira,
Cimahi. Jawa Barat. CDK-227/vol. 42. no.4.
7. MIMS Indonesia. 2008. Essential Tool for Optimal Prescribing. Edisi 109. IIMS.
8. Ganiswara, SG. 1995. Dalam: Gunawijaya, FA. Manfaat Penggunaan
Antihistamin Generasi Ketiga. Bagian Histologi Fakultas Kedokteran
Universitas Trisakti. Hal. 124-126.
1. bagaimana prognosis kosmetik pada kasus dan
tatalaksana?
2. Mengapa diberikan kortikosteroid potensi sedang?
Apabila pasien tidak respon dengan kortikosteroid
potensi sedang apakah dapat dinaikkan menjadi
potensi tinggi? Apakah ada batasan?
3. Apa alasan bertanya kepada pasien memiliki hewan
peliharaan di rumah atau tidak?
Terima
4. Apa alasan menanyakan riwayat kencing manis pada
keluarga?
Kasih
5. Kapan terapi UVB dilakukan pada kasus?
6. Kenapa tidak didiagnosis dengan neurodermatitis? Dan
kenapa tidak dijadikan diagnosis banding?
7. Kenapa diberikan terapi emolien? Kapan diberikan?
8. Kenapa pada anamnesis ditanyakan riwayat keluarga?
apa hubungannya dengan kasus?
• Apakah emolien boleh diberikan lebih sering?
• Kenapa diberikan emolien jenis urea?
• Kenapa diberikan 10% bukan 20%?
• Kortikosteroid diberikan 2x1 selama 2 minggu,
apakah pemberian kortikosteroid dihentikan setiap
2 minggu dan diganti dengan golongan lain jika lesi
masih ada?