Anda di halaman 1dari 21

Nama : Ami Rahmawati

NIM : P07134115004
Pendahuluan
 Nyamuk Aedes merupakan sejenis nyamuk yang
biasanya ditemui di kawasan tropis. Namanya
diperoleh dari perkataan Yunani aēdēs, yang berarti
"tidak menyenangkan", nyamuk ini menyebarkan
beberapa penyakit berbahaya seperti demam
berdarah dan demam kuning. Aedes berkembang biak
dalam air jernih yang ditampung, baik di dalam atau di
luar rumah. Nyamuk aedes biasa dikenal dengan
belang hitam putih pada badan dan kakinya dan
biasanya menggigit pada awal pagi dan waktu senja. 2
jenis di antaranya adalah “Aedes aegypti & Aedes
albopictus”.
Pengertian
 Aedes aegypti merupakan jenis nyamuk yang dapat
membawa virus dengue penyebab penyakit demam
berdarah. Selain dengue, Aedes aegypti juga
merupakan pembawa virus demam kuning (yellow
fever) dan chikungunya. Penyebaran jenis ini sangat
luas, meliputi hampir semua daerah tropis di seluruh
dunia. Sebagai pembawa virus dengue, Aedes aegypti
merupakan pembawa utama (primary vector) dan
bersama Aedes albopictus menciptakan siklus
persebaran dengue di desa dan kota.
Bagian-bagian Tubuh Nyamuk
Morfologi
1) Aedes aegypti
Nyamuk Aedes aegypti memiliki ukuran sedang dengan
tubuh berwarna hitam kecoklatan. Tubuh dan tungkainya
ditutupi sisik dengan gari-garis putih keperakan. Di bagian
punggung (dorsal) tubuhnya tampak dua garis
melengkung vertikal di bagian kiri dan kanan yang
menjadi ciri dari spesies ini. Ukuran dan warna nyamuk
jenis ini kerap berbeda antar populasi. Nyamuk jantan dan
betina tidak memiliki perbedaan dalam hal ukuran,
nyamuk jantan yang umumnya lebih kecil dari betina dan
terdapatnya rambut-rambut tebal pada antena nyamuk
jantan.
Aedes Aegypti
2) Aedes albopictus
Nyamuk Aedes albopictus memiliki tubuh berwarna
hitam dengan bercak/garis-garis putih pada notum
dan abdomen, antena berbulu/plumose, pada yang
jantan palpus sama panjang dengan proboscis sedang
yang betina palpus hanya 1/4 panjang proboscis,
mesonotum dengan garis putih horizontal, femur kaki
depan sama panjang dengan proboscis, femur kaki
belakang putih memanjang di bagian posterior, tibia
gelap/ tidak bergelang pucat dan sisik putih pada
pleura tidak teratur
Aedes Albopictus
Karakteristik
1) Aedes aegypti
Aedes aegypti bersifat diurnal atau aktif pada pagi
hingga siang hari. Penularan penyakit dilakukan oleh
nyamuk betina karena hanya nyamuk betina yang
mengisap darah. Hal itu dilakukannya untuk
memperoleh asupan protein yang diperlukannya
untuk memproduksi telur. Nyamuk jantan tidak
membutuhkan darah, dan memperoleh energi dari
nektar bunga ataupun tumbuhan. Jenis ini
menyenangi area yang gelap dan benda-benda
berwarna hitam atau merah.
2) Aedes albopictus
Aedes albopictus merupakan nyamuk yang selalu
menyenangi darah manusia dengan puncak aktifitas
pada saat matahari terbit dan sebelum matahari
terbenam.3 Sifat mengigit nyamuk Aedes albopictus
adalah secara multiple/mengigit beberapa kali pada
beberapa individu. Nyamuk betina sesudah
kenyang/penuh menghisap darah tidak akan
menghisap darah lagi sampai kepada sesudah
perletakkan telurnya.
Siklus Hidup
1) Aedes aegypti
Setelah kawin, nyamuk betina memerlukan darah
untuk bertelur Nyamuk betina menghisap darah
manusia setiap 2-3 hari sekali Menghisap darah pada
pagi hari sampai sore hari dan lebih suka pada jam
08:00-12:00 dan jam 15:00-17:00 Untuk mendapatkan
darah yang cukup nyamuk betina sering menggigit
lebih dari satu orang. Jarak terbang nyamuk sekitar 100
meter. Umur nyamuk betina dapat mencapai sekitar 1
bulan.
Lanjutan...
Nyamuk Aedes Aegypti meletakkan telur pada
permukaan air bersih secara individual. Telur
berbentuk elips berwarna hitam dan terpisah satu
dengan yang lain. Telur menetas dalam 1 sampai 2 hari
menjadi larva. Terdapat empat tahapan dalam
perkembangan larva yang disebut instar.
Perkembangan dari instar 1 ke instar 4 memerlukan
waktu sekitar 5 hari. Setelah mencapai instar ke-4,
larva berubah menjadi pupa di mana larva memasuki
masa dorman. Pupa bertahan selama 2 hari sebelum
akhirnya nyamuk dewasa keluar dari pupa.
Perkembangan dari telur hingga nyamuk dewasa
membutuhkan waktu 7 hingga 8 hari.
2) Aedes albopictus
Nyamuk Aedes albopictus yang membutuhkan darah
dalam hidupnya adalah nyamuk betina sebelum
maupun sesudah kawin. Kebiasaan mencari darah
nyamuk aedes albopictus terjadi hampir sepanjang
hari sejak pagi kira-kira pukul 07.30 sampai sore
antara pukul 17.30 dan 18.30, dengan aktifitas mengigit
pada sore hari 2-4 kali lebih tinggi daripada pagi hari.
Nyamuk Aedes albopictus dewasa yang betina
berumur antara 12-40 hari dan yang jantan antara 10-
22 hari.
Lanjutan...
Nyamuk betina Aedes Albopictus dapat terbang
maksimal pada jarak 434 meter. Perletakan telur aedes
albopictus sama seperti aedes aegypti yaitu pada
wadah berair dengan permukaan yang kasar dan
warna yang gelap, diletakkan satu-persatu di dinding
dekat permukaan air. Telur nyamuk aedes albopictus
berwarna hitam, yang akan menjadi lebih hitam
warnanya ketika menjelang menetas, bentuk lonjong
dengan satu ujungnya lebih tumpul.
Telur akan menetas dalam waktu satu sampai 2 hari
menjadi larva. Terdapat empat tahapan dalam
perkembangan larva yang disebut instar.
Perkembangan dari instar 1 ke instar 4 memerlukan
waktu sekitar 5 hari, dan setelah mencapai instar ke-4
sampai menjadi pupa rata-rata selama 3 hari. Pupa
biasanya mempunyai masa hidup sampai menjadi
dewasa antara 1 sampai 2 hari sebelum akhirnya
nyamuk dewasa keluar dari pupa.
Habitat
Nyamuk Aedes aegypti umumnya memiliki habitat di
lingkungan perumahan, di mana terdapat banyak
genangan air bersih dalam bak mandi ataupun
tempayan. Oleh karena itu, jenis ini bersifat urban,
bertolak belakang dengan Aedes albopictus yang
cenderung berada di daerah hutan berpohon rimbun
dan di tempat teduh/terlindung seperti kebun.
Peranan Dalam Penularan Penyakit
Infeksi virus dalam tubuh nyamuk dapat
mengakibatkan perubahan perilaku yang mengarah
pada peningkatan kompetensi vektor, yaitu
kemampuan nyamuk menyebarkan virus. Infeksi virus
dapat mengakibatkan nyamuk kurang handal dalam
mengisap darah, berulang kali
menusukkan proboscis nya, namun tidak berhasil
mengisap darah sehingga nyamuk berpindah dari satu
orang ke orang lain.
Lanjutan...
Akibatnya, risiko penularan virus menjadi semakin
besar. Pada kejadian wabah demam berdarah dengue
(DBD), Aedes Albopictus sering dianggap sebagai
vektor sekunder sesudah Aedes aegypti. Tetapi pada
beberapa kasus ledakan DBD, Aedes Albopictus dapat
berperan sebagai vektor utama.
“Sekian dan Terimakasih”