Anda di halaman 1dari 41

Uji Parameter

Mutu Ekstrak
Purgiyanti,S.Si,M.Farm,Apt
Rizki Febriyanti, M.Farm.,
Apt
EKSTRAKSI
 Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan
kimia yang dapat larut sehingga terpisah dari
bahan yang tidak larut dalam pelarut cair.
 Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh
dengan mengekstraksi zat aktif dari simplisia
nabati atau simplisia hewani menggunakan
pelarut yang sesuai kemudian semua atau
hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau
serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian
rupa hingga memenuhi baku yang telah
ditetapkan.
 Senyawa aktif yang terdapat dalam
berbagai simplisia dapat dimasukkan
dalam golongan minyak atsiri, saponin,
flavonoid, alkaloid dan lain-lain.
 Struktur kimia yang berbeda akan
mempengaruhi kelarutan dan stabilitas
senyawa-senyawa yang terkandung
terhadap pemanasan, udara, cahaya,
logam berat dan derajat keasaman.
METODE EKSTRAKSI DENGAN
PELARUT
Cara dingin
 Maserasi

Maserasi adalah proses ekstraksi simplisia dengan


pelarut dan disertai beberapa kali pengadukan dilakukan
pada suhu kamar. Secara prinsip merupakan ekstraksi
dengan prinsip pencapaian konsentrasi pada
keseimbangan.
 Perkolasi

Perkolasi secara prisip merupakan ekstraksi dengan


pelarut yang selalu baru sehingga zat aktif dapat disari
sampai habis (exhaustive extraction) yang umumnya
dilakukan pada suhu ruangan.
Cara Panas
 Refluks

Merupakan ekstraksi dengan pelarut yang


dilakukan pada titik didihnya, selama waktu
tertentu dengan jumlah pelarut terbatas yang
relative konstan dengan adanya pendinginan
yang baik dari kondensor. Biasanya dilakukan
pengulangan proses pada sisa ampas pertama
3-5 kali sehingga proses ekstraksi sempurna.
 Soxhletasi
Soxletasi adalah prosese ekstraksi menggunakan
pelarut yang selalu baru yang umumnya dilakukan
alat khusus sehingga terjadi ekstraksi
berkesinambungan dengan jumlah pelarut relative
konstan dengan adanya kondensor balik.
 Digesti

Digesti adalah proses maserasi dengan pengadukan


terus menerus dan dilakukan pada suhu lebih tinggi
dari suhu kamar, umumnya dilakukan pada suhu 40-
500 C.
 Infus

Ekstraksi dengan pelarut air pada suhu


penangas air (bejana infuse tercelup dalam
penangas air mendidih, suhu terukur 96-98 0C
selama waktu tertentu 15-20 menit).
 Dekok

Dekok adalah infuse pada waktu yang lebih


lama (≥ 30 menit) dengan suhu 1000 C
Pengujian mutu simplisia:

SERBUK SIMPLISIA
Sebelum dilakukan pembuatan serbuk, simplisia
diidentifikasi berdasarkan makroskopik dan
mikroskopik :

 Pemeriksaan Makroskopik
Pemeriksaan ini bertujuan untuk menemukan ciri khas
simplisia dengan melihat bentuk permukaan luar dan
organoleptik seperti bau, rasa, warna, tekstur dan
ukuran simplisia. Ukuran simplisia hanya ditetapkan
pada simplisia utuh seperti buah dan tidak digunakan
untuk simplisia bentuk serbuk atau sari simplisia.
Pemeriksaan Mikroskopik
 Pemeriksaan ini bertujuan untuk
menemukan fragmen pengenal spesifik
dari simplisia yang diuji. Dari
pemeriksaan mikroskopik ini dicari
fragmen jaringan anatomi yang khas
dari serbuk simplisia (epidermis,
parenkim, stomata, dan lain-lain).
Simplisia dibuat serbuk dengan peralatan
tertentu sampai derajat kehalusan yang
diinginkan, dimana hal ini dapat
berpengaruh terhadap mutu ekstrak
berdasarkan :
 Makin halus serbuk simplisia, proses
ekstraksi makin efektif dan efisien,
namun akan semakin susah di filtrasi
sehingga memerlukan teknologi filtrasi.
 Selama penggunaan peralatan
penyerbukan dimana ada gerakan dan
interaksi dengan benda keras (logam)
akan timbul panas (kalori) yang dapat
berpengaruh pada senyawa
kandungannya, tetapi hal ini dapat
diatasi dengan penambahan hidrogen
cair.
CAIRAN PENYARI
Dalam memilih pelarut yang akan dipakai
harus diperhatikan sifat kandungan kimia
(metabolit sekunder) yang akan diekstraksi.

Sifat yang penting adalah sifat kepolaran,


dapat dilihat dari gugus polar senyawa
tersebut yaitu gugus OH, COOH. Senyawa
polar lebih mudah larut dalam pelarut polar,
dan senyawa non polar akan lebih mudah larut
dalam pelarut non polar.
Syarat-syarat pelarut adalah sebagai berikut :
 Kapasitas besar
 Selektif, yaitu hanya menarik zat
berkhasiat yang dikehendaki
 Volabilitas cukup rendah (kemudahan
menguap/titik didihnya cukup rendah) Cara
memperoleh penguapannya adalah dengan
cara penguapan diatas penangas air dengan
wadah lebar pada temperature 600C,
destilasi, dan penyulingan vakum..
 Harus dapat diregenerasi
 Relative tidak mahal
 Non toksik, non korosif, tidak
memberikan kontaminasi serius dalam
keadaan uap
 Viskositas cukup rendah dan
berdasarkan bahan organik dan non
organiknya.
 Tidak mempengaruhi zat berkhasiat
 Diperbolehkan oleh peraturan
Karakterisasi Bahan alam/simplisia :
(dalam MMI & FI)

1. Pemeriksaan makroskopik
2. Pemeriksaan mikroskopik
3. Penetapan kadar abu
4. Penetapan kadar abu yang larut dalam air
5. Penetapan kadar abu yang tidak larut dalam asam
6. Penetapan kadar sari yang larut dalam air
7. Penetapan kadar sari yang larut dalam etanol
8. Penetapan susut pengeringan
9. Penetapan kadar air
10. Pemeriksaan unsur Anorganik dalam abu
11. Penetapan bahan organik asing
KONTROL KUALITAS BAHAN ALAM

Meningkatnya penggunaan bahan alam untuk


pengobatan untuk pelayanan kesehatan, kualitas
dari obat bahan alam menyangkut bahan baku,
formula dan bentuk sediaan yang diperoleh dari
sumber yang benar dengan cara pengolahan
serta pembuatan yang benar pula

A. Uji Identitas/identifikasi farmakognosi dan kimiawi


- Determinasi
Untuk menentukan jenis dalam klasifikasi
botani sumber bahan obat
- Karakterisasi simplisia

Untuk mengetahui spesifikasi atau mutu simplisia


yang dipriksa kandungan kimianya, selain penentuan
jenis tumbuhan, karakterisasi simplisia mencakup:

* Penentuan beberapa parameter farmakognostik


simplisia
seperti :
- Sifat makroskopik
- Sifat mikroskopik
- kadar air
- Susut pengeringan
- kadar abu
- kadar abu yang tidak larut dalam asam
- kadar abu yang larut dalam air
- kadar sari yang larut dalam etanol
- kadar sari yang larut dalam air
- Identifikasi kimiawi
* Identifikasi dengan pereaksi warna dan
pengendapan dan data KLT
* Skrining/penapisan golongan kimia
merupakan senyawa bioaktif umumnya
metabolit sekunder antara lain:
- alkaloid - saponin
- polifenol - asam fenolat
- tanin - steroid/triterpenoid
- kuinon - minyak atsiri
- flavonoid - kumarin
B. Uji Kemurnian (menghindari pemalsuan /
pencampuran)
- Bahan simplisia harus memenuhi
persyaratan yang tercantum dalam MMI
maupun Farmakope Indonesia
- Penetapan kadar kandungan bahan aktif
(dalam monografi FI)
- Memenuhu syarat reaksi identifikasi data
Kromatografi Lapis Tipis, KK
- Memenuhi syarat parameter farmakognosi
- Khusus untuk minyak atsiri dapat dilakukan
dengan :
* penentuan Index bias
* Kromatografi Gas
* KLT
* dsb
Parameter Standar mutu simplisia, ekstrak dan bentuk sediaan obat bahan alam
Uji mutu:
-Biologi sumber simplisia
Tumbuhan -Kemurnian:
*kadar abu
*zat tereksitasi
Proses *Bahan organik asing
produksi *cemaran mikroba
*aflatoxin
Simplisia *logam berat
-susut pengeringan
Proses -kadar air Uji mutu:
Ekstraksi -zat identitas (zat aktif) -Organoleptis
-Penyimpanan -Kelarutan
Ekstrak -Keasaman(pH)
Formulasi -Bobot jenis
-Viskositas
Bentuk sediaan -Bahan padat total
Uji mutu: -Zat identitas&
-simpangan bobot/volume Profil kromatografi
-Kadar air -Analisis kualitatif&
-Derajat halus Kuantitatif
-waktu hancur -Kemantapan fisika
-Kandungan mikroba &kimia
-Angka kapang/khamir
-kandungan aflatoxin
-Kadar etanol (max 10%/g)
-Zat identitas
-Kestabilan
-Daluarsa
C. Penetapan Kadar
Prinsip-prinsip: Untuk kadar zat utama
dan komponen aktif
1. Gravimetri setelah ekstraksi dan isolasi
isolat ditimbang
2. Titrasi Asam-Basa:
*secara langsung
*secara tidak langsung
3. Penetapan potensi: untuk simplisia
Digitalis Sp
4. Spektrofotometri UV-VIS
5. Kromatografi Gas
Secara Umum
Parameter & metode uji ekstrak

1. Parameter non spesifik


a) Susut pengeringan dan bobot jenis
b) Kadar air
c) Kadar abu
d) sisa pelarut
e) Residu pestisida
f) Cemaran logam berat
g) Cemaran mikroba
2. Parameter spesifik
a) Identitas ekstrak
b) Organoleptik
c) Senyawa terlarut dalam pelarut tertentu
3. Uji Kandungan kimia ekstrak
a) Pola Kromatogram
b) Kadar total golongan kandungan
c) Kadar kandungan kimia tertentu
ad 1. Parameter Nonspesifik Ekstrak
a)* Susut pengeringan
Pengukuran sisa zat setelah pengeringan
pada temperatur 105ºC selama 30’ atau
sampai berat konstant
* Bobot jenis
adalah massa/satuan volume pada suhu
kamar tertentu (25ºC) dengan alat
piknometer atau alat lainnya
b) Kadar air
Pengukuran kandungan air yang berada
didalam bahan ekstrak, dlakukan dengan
cara:
- titrasi dengan pereaksi Karl Fischer
- Destilasi
- Gravimetri
g)Cemaran mikroba: menentukan
(identifikasi) adanya
mikroba yang patogen
secara analisis mikro
biologis, termasuk :
* Uji cemaran kapang,
Khamir
* Uji Cemaran
Aflatoksin
Prinsip:
Pemisahan isolat
aflatoksin secara
Kromatografi Lapis Tipis
(KLT)
c) Kadar abu :
* kadar abu
*Kadar abu yang tidak larut dalam asam
d) Sisa Pelarut, dengan metode kromatografi
Gas-cair
e) Residu pestisida: sesuai dengan metode
analisis multi residu pestisida (dalam hasil
pertanian dari komisi Pestisida dep. Pertanian)
f) Cemaran logam berat: menggunakan metode
spektroskopi serapan atom (AAS) atau
lainnya yang lebih valid
PARAMETER MUTU
EKSTRAK
Parameter Nonspesifik
 Parameter susut pengeringan

Adalah pengukuran sisa zat setelah pengeringan


pada temperature 1050C selama 30 menit atau
sampai berat konstan, yang dinyatakan sebagai
nilai prosen. Tujuannya adalah untuk memberikan
batasan maksimal (rentang) tentang besarnya
senyawa yang hilang pada proses pengeringan.
Nilai atau rentang yang diperbolehkan terkait
dengan kemurnian dan kontaminasi.
Contoh
 Parameter bobot jenis
Adalah masa per satuan volume pada suhu
kamar tertenru (250C) yang ditentukan dengan
alat khusus piknometer atau alat lainnya.
Tujuannya untuk memberikan batasan tentang
besarnya masa persatuan volume yang
merupakan parameter khusus ekstrak cair
sampai ekstrak pekat (kental) yang masih dapat
dituang. Nilai atau rentang yang diperbolehkan
terkait dengan kemurnian dan kontaminasi.
 Kadar air
Pengukuran kandungan air yang berada
didalam bahan, dilakukan dengan cara yang
tepat diantara cara titrasi, destilasi atau
gravimetric. Tujuannya untuk memberikan
batasan minimal atau rentang tentang
besarnya kandungan air didalam bahan.
Nilai atau rentang yang diperbolehkan
terkait dengan kemurnian dan kontaminasi.
 Kadar abu
Bahan dipanaskan pada temperature dimana
senyawa organik dan turunannya terdestruksi
dan menguap, sehingga menyisakan unsure
mineral dan anorganik. Tujuannya adalah
untuk memberikan gambaran kandungan
mineral internal dan eksternal yang berasal
dari proses awal sampai terbentuk ekstrak.
Nilai atau rentang yang diperbolehkan terkait
dengan kemurnian dan kontaminasi.
 Sisa pelarut
Menentukan kandungan sisa pelarut tertentu (yang
memang ditambahkan) yang secara umum dengan
kromatografi gas. Untuk ekstrak cair berarti
kandungan pelarutnya, misalnya kadar alcohol.
Tujuannya adalah memberikan jaminan bahwa selama
proses tidak meninggalkan sisa pelarut yang memang
seharusnya tidak boleh ada. Sedangkan untuk ekstrak
cair menunjukkan jumlah pelarut (alcohol) sesuai
denngan yang ditetapkan. Nilai atau rentang yang
diperbolehkan terkait dengan kemurnian dan
kontaminasi.
 Residu pestisida
Menentukan kandungan sisa pestisida yang
mungkin saja pernah ditambahkan atau
mengkontaminasi pada bahan simplisia
pembuat ekstrak. Tujuannya untuk
memberikan jaminan bahwa ekstrak tidak
mengandung pestisida melebihi nilai yang
ditetapkan karena berbahaya bagi kesehatan.
Nilai atau rentang yang diperbolehkan terkait
dengan kemurnian dan kontaminasi.
 Cemaran logam berat
Menentukan kandungan logam berat secara
spektroskopi serapan atom atau lainnya yang
lebih valid. Tujuannya untuk memberikan
jaminan bahwa ekstrak tidak mengandung
logam berat tertentu (Hg, Pb, Cd, dll) melebihi
nilai yang ditetapkan karena berbahaya bagi
kesehatan. Nilai atau rentang yang
diperbolehkan terkait dengan kemurnian dan
kontaminasi.
 Cemaran mikroba
Menentukan adanya mikroba yang pathogen
secara analisis mikrobiologis. Tujuannya untuk
memberikan jaminan bahwa ektrak tidak boleh
mengandung mikroba pathogen dan tidak
mengandung mikroba non pathogen melabihi
batas yang ditetapkan karena berpengaruh pada
stabilitas ekstrak dan berbahaya bagi kesehatan.
Nilai atau rentang yang diperbolehkan terkait
dengan kemurnian dan kontaminasi.
Parameter Spesifik
 Identitas

Meliputi deskripsi tata nama (nama


ekstrak, nama latin tumbuhan, bagian
tumbuhan yang digunakan, nama
tumbuhan indonesia) dan dapat
mempunyai senyawa identitas. Tujuannya
untuk memberikan identitas objektif dari
nama dan spesifik dari senyawa identitas.
 Organoleptik

Meliputi penggunaan panca indra untuk


mendeskripsikan bentuk (padat, serbuk-
kering, kental, cair, dll), warna (kuning,
coklat, dll), bau (aromatic, tidak berbau,
dan lain-lain), rasa (pahit, manis, kelat,
dan lain-lain). Dengan tujuan untuk
pengenalan awal yang sederhana.
 Senyawa terlarut dalam pelarut tertentu
Melarutkan pelarut ekstrak dengan pelarut
(alcohol atau air) untuk ditetapkan jumlah
solute yang identik dengan jumlah senyawa
kandungan secara gravimetric. Dalam hal
tertentu dapat diukur senyawa terlarut dalam
pelarut lain misalnya heksana, diklormetan,
metanol. Tujuannya untuk memberikan
gambaran awal jumlah senyawa kandungan.
Uji kandungan ekstrak
 Uji kandungan kimia
Dilakukan untuk mengetahui kandungan
metabolit sekunder dari ekstrak yang
diuji. Komposisi kimia yang belum
diketahui dari suatu tumbuhan dapat
diidentifikasi secara analisa kualitatif
yaitu pada serbuk dan ekstrak untuk
mengetahui senyawa-senyawa yang
terdapat didalamnya.
 Kromatografi Lapis Tipis
 Kromatografi Lapis Tipis adalah metode pemisahan
secara fitokimia. Lapisan pemisah terdiri dari bahan
berbutir-butir (fase diam), ditempatkan pada penyangga
berupa plat gelas, plat logam, atau plat plastik yang
cocok. Campuran yang dipisahkan berupa larutan
ditotolkan berupa bercak atau pita (awal). Setelah
lempeng atau lapisan diletakkan di dalam bejana
tertutup rapat yang berisi larutan pengembang yang
cocok (cairan eluasi), pemisahan terjadi selama
perambahan kapiler (pengembangan), selanjutnya
senyawa yang tidak berwarna harus ditampakkan
(dideteksi).
TERIMA KASIH