Anda di halaman 1dari 15

Wildan Satrio Wemindra

G99181065

LEUKOPLAKIA
Vita Nirmala Ardanari, drg., Sp.Pros.,
Sp.KG
Definisi
• Leukoplakia adalah gangguan yang berpotensi paling
umum terjadi pada mukosa mulut, dapat diartikan
sebagai salah satu kelainan yang terjadi di mukosa rongga
mulut berupa penebalan putih yang tidak dapat digosok
sampai hilang dan sering berpotensi menjadi suatu
keganasan (Kayalvizhi, 2016).
• WHO diartikan sebagai sebuah plak putih dengan risiko
peningkatan kanker mulut dipertanyakan setelah
menyingkirkan penyakit atau kelainan yang tidak
meningkatkan risiko (Brouns et al, 2013).
Epidemiologi
Perkiraan Prevalensi Leukoplakia
(Martorell-Calatayud et al)

Global
Amerika
0,4%-
2,9% dari
0,7%
23.616

India 3,28%
Etiopatogenesis
• Predisposisi leukoplakia terdiri dari beberapa faktor yaitu faktor
lokal, faktor sistemik dan malnutrisi vitamin.
• Faktor lokal yang diperkirakan menjadi penyebab leukoplakia
meliputi trauma yang menyebabkan iritasi kronis
• Faktor lain yang menjadi penyebab terjadinya leukoplakia adalah
tembakau, alkohol dan bakteri. Menurut Schepman et al., perokok
mempunyai risiko 6 kali lebih tinggi terkena leukoplakia. Pada waktu
merokok, terjadi iritasi pada jaringan mukosa mulut yang
disebabkan oleh asap rokok, panas ketika merokok dan zat-zat yang
terkandung dalam tembakau yang ikut terkunyah. Hal ini dibuktikan
dengan insidensi leukoplakia tertinggi ditemukan pada perokok
(Brzak, 2012).
• Pada penderita kandidiasis kronis dapat ditemukan
gambaran yang menyerupai leukoplakia. Infeksi
Candida juga berperan dalam perubahan menjadi
keganasan dan faktor risiko tertinggi perubahan
menjadi kanker (Roed-Petersen, 1972; Banoczy,
1977; Krogh, 1987). Untuk mengetahui diagnosis
pasti perlu dilakukan pemeriksaan klinis,
histopatologi dan latar belakang etiologi terjadinya
lesi.
Patofisiologis
• Pasien dengan leukoplakia idiopatik memiliki risiko
tinggi berkembang menjadi kanker. Menurut Downer,
pada sejumlah pasien leukoplakia, 4%-17% lesi
berubah menjadi tumor maligna dalam waktu 20
tahun.
• Perubahan patologis primer yang terdapat pada
leukoplakia adalah diferensiasi abnormal dari epitel
mukosa dengan ditandai peningkatan aktivitas
keratinisasi pada permukaan selnya yang
memproduksi penampakan klinis yang mukosa yang
berwarna putih. Proses ini juga dibersamai dengan
perubahan ketebalan dari jaringan epitelial (Reibel J,
2003).
• Dasar molekuler pada perubahan tersebut belum
diketahui secara pasti. Namun, beberapa data
penelitian menyebutkan adanya perubahan ekspresi
onkogen/TSG, ekspresi gen keratin, perubahan siklus
sel, akumulasi stres oksidatif dan displasia epitel
berperan dalam perubahan yang terjadi pada
leukoplakia (Kawanishi S & Murata M, 2006)
Leukoplakia

Homogen Non Homogen

Proliferative Oral
verrucous erythroleukopla
leukoplakia (PVL) kia (OEL)

Oral hairy
Sublingual Candidal
keratosis
leukoplakia
leukoplakia (CL)
(OHL)
Homogen
Non Homogen

Proliferative Oral
Sublingual Candidal Oral hairy
verrucous erythroleukoplakia
keratosis leukoplakia (CL) leukoplakia (OHL)
leukoplakia (PVL) (OEL)
Diagnosis
• Penegakkan diagnosis leukoplakia masih menjadi kendala karena etiologi
yang belum jelas dan perkembangan agresif dari leukoplakia menjadi
suatu keganasan. Diagnosis definitif leukoplakia dari penemuan lesi putih
di area mukosa oral pada saat pemeriksaan fisik tanpa ditemukannya
etiologi seperti riwayat merokok, infeksi, riwayat keganasan pada
anamnesis atau pemeriksaan fisik. Pemeriksaan penunjang seperti biopsi
sangat direkomendasikan untuk melihat perubahan histologis yang terjadi.
Biopsi dilakukan pada area yang paling tampak perubahannya. Pada pasien
dengan leukoplakia multifokal, biopsi dapat dilakukan pada beberapa
tempat (field mapping). Pemeriksaan histopatologis ini masih merupakan
baku emas dalam penegakan diagnosis leukoplakia (Thomson PJ &
Hamadah O, 2007; Torres-Rendon A et al., 2009).
Terapi
• Pada leukoplakia multipel atau berukuran besar, pembedahan menjadi tidak
praktis karena akan mengakibatkan deformitas yang tidak dapat diterima atau
disabilitas fungsional. Terapi dapat berupa pembedahan cryo (cryosurgery),
pembedahan laser (laser surgery) atau menggunakan bloemycin topikal. Akan
tetapi, pada 30% kasus yang ditangani, leukoplakia dapat terjadi kembali dan
terapi tidak dapat menghentikan beberapa leukoplakia berubah menjadi
squamous cell carcinoma (Holmstrup et al., 2006; Bagan et al., 2003).
• Leukoplakia idiopatik, leukoplakia non-homogen, leukoplakia pada daerah
risiko tinggi mulut dan leukoplakia yang menunjukkan displasia epitelial tingkat
moderat atau berat, serta leukoplakia yang mempunyai faktor risiko berubah
menjadi keganasan harus diterapi secara agresif. Perubahan warna, tekstur
atau ukuran dan penampakan leukoplakia harus diperhatikan sebagai
kemungkinan perubahan keganasan (Lodi dan Porter, 2008).
Terapi
Menurut (Longshore dan Camisa, 2002)
Hilangkan semua faktor penyebabnya

Tidak ada displasia atau ada displasia ringan  bedah eksisi / operasi laser pada
lesi pada ventral / lateral lidah, lantai mulut, langit-langit lunak dan orofaring

Adanya displasia sedang atau berat  bedah eksisi atau terapi laser adalah
perawatan pilihan

Lesi merah (erythroplakia atau leukoerythroplakia)  bedah adalah yang terbaik

Proliferative verrucous leukoplakia  bedah lengkap eksisi / operasi laser jika


memungkinkan

Evaluasi tindak lanjut untuk semua lesi


TERIMA KASIH