Anda di halaman 1dari 41

LAPORAN KASUS

DIABETES MELITUS

Pembimbing:
dr. H. Sukiman Rusli, Sp.PD
Disusun Oleh :
Taufiq Zulyasman 2014730089

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Rumah Sakit Islam Jakarta Sukapura
Universitas Muhammadiyah Jakarta
2019
I. Indentitas Pasien

 Nama : Tn. I
 Usia : 27 Tahun
 Jenis Kelamin : Laki-Laki
 Agama : Islam
 Alamat : Cilincing
 Pekerjaan : Pegawai Swasta
 No. RM : 0021****
 Tgl. masuk : 07 Maret 2019
II. Anamnesis

KELUHAN UTAMA

Badan lemas sejak 4 hari Sebelum Masuk Rumah Sakit (SMRS)

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


Tn. I datang ke RSIJ Sukapura dengan keluhan Lemas. Badan lemas dirasakan
kira-kira 4 hari SMRS. Awal mula lemas dirasakan pada seluruh badan setelah
melakukan aktivitas, pasien merasakan lemas terus menerus semakin hari semakin
berat sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Keluhan lemas tidak berkurang
ketika istirahat dan setelah makan. Pasien juga mengaku sebelumnya sering haus,
sering lapar makan hingga 6-7 kali sehari, sering BAK pada malam hari dan pusing.
Saat ini pasien juga mengeluhkan mual dan muntah sebanyak 1 kali sejak 1 hari SMRS,
nafsu makan menurun (+), nyeri uluhati (+), demam (-), BAB cair (-), batuk (-). Pasien
juga mengeluhkan merasa berat badannya turun dan kedua kaki sering kesemutan.
Pasien mengaku mempunyai riwayat DM sejak 3 tahun dan biasa mengkonsumsi obat
metformin 3 x 500 mg dan suntik insulin 20 IU (pasien lupa nama obatnya) tetapi saat
ini pasien tidak menggunakan insulin lagi dikarenakan sudah habis.
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Riwayat DM (+) sejak 3 tahun
Riwayat Hipertensi(-)
Riwayat Asma, TB (-)
Riwayat Penyakit Jantung (-)

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA

Riwayat DM , Hipertensi, Jantung disangkal

RIWAYAT PENGOBATAN
Pengobatan metformin 3x500mg & injeksi insulin 20IU (pasien lupa nama
obatnya)
RIWAYAT ALERGI

Pasien menyangkal memiliki alergi terhadap makanan, minuman,


udara, cuaca maupun obat obatan.

RIWAYAT PSIKOSOSIAL

Pasien tidak mengkonsumsi alkohol, obat obatan terlarang,


merokok. Pasien mengaku suka makan pedas-pedas dan tidak
suka sayur-sayuran. Pasien juga jarang olahraga.
III. PEMERIKSAAN FISIK
KEADAAN UMUM

Tampak sakit sedang

KESADARAN

Composmentis

TANDA VITAL
Tekanan Darah : 120/80 mmHg
Nadi : 72 x/menit, regular
Laju Pernapasan : 22 x/menit
Suhu : 37,2⁰C

Antropometri
Berat badan : 55 kg ; Tinggi badan : 176 cm ; IMT : 17,7 (BB Kurang)
STATUS GENERALIS

Pemeriksaan Kepala

Kepala : Normocephal
Mata : Conjungtiva anemis (-/-), Sklera ikterik (-/-), pupil isokor,
reflek cahaya (+/+)
Telinga : Normal, Sekret (-), tidak ada perdarahan.
Hidung : Napas cuping hidung (-), epistaksis (-), Sekret (-)
Mulut : Bibir sianosis (-), Faring hiperemis (-)
Leher : Pembesaran KGB dan tiroid (-)
Pemeriksaan Thorax

Paru Paru
Inspeksi : Simetris, hemithorax kanan-kiri, retraksi (-)
Palpasi : Vokal fremitus simetris, krepitasi (-),nyeri tekan(-)
Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi : Bunyi nafas vesikular +/+, wheezing -/-, rhonki -/-
Jantung
Inspeksi : Ictus Cordis tidak terlihat
Palpasi : Ictus Cordis teraba di linea midclavicularis kiri ICS VI
Perkusi : Batas-batas jantung normal
Auskultasi : Bunyi jantung S1,S2 regular, Gallop (-),Murmur (-)
Pemeriksaan Abdomen

Inspeksi : Datar, lesi (-), distensi (-)


Auskultasi : Bising usus (+) normal
Palpasi : Supel, nyeri tekan epigastrium (+),
pembesaran hepar (-)
Perkusi : Timpani di seluruh kuadran abdomen

Pemeriksaan Ekstremitas
Atas : Akral hangat +/+, edema -/-, CRT < 2 detik
Bawah : Akral hangat +/+, edema -/-, CRT < 2 detik
IV. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal
Hematologi
Hemoglobin 16.1 g/dL 13.7 – 17.5
Leukosit 7.81 103/uL 4.23 – 9.07
Hematokrit 50.7 % 40.1 – 51
Trombosit 274 103/uL 163 – 337
Karbohidrat
Gula Darah Sewaktu( GDS) 552 mg/dL < 200

Faal Ginjal
Creatinin 1 mg/dL 0.9 – 1.3
Enzim
SGPT 15 U/L < 41
V. RESUME

Pasien Tn. I usia 27 tahun datang dengan keluhan malaise sejak 4


hari SMRS. Keluhan disertai dengan polidipsi, polyuria, polifagi dan
penurunan berat badan (+). Pasien juga mengeluhkan cephalgia, nyeri
epigastrium, nausea dan vomitus sejak 1 hari SMRS. Terdapat Riwayat
DM (+) sejak 3 tahun lalu dan sedang mengkonsumsi obat metformin 3 x
500mg dan injeksi insulin. Pada pemeriksaan fisik didapat keadaan
umum tampak sakit sedang, Tanda-tanda vital dalam batas normal,
status IMT BB kurang, Pada pemeriksaan status generalis didapat nyeri
tekan epigastrium(+), Pada pemeriksaan lab didapatkan hasil GDS 552
mg/dl.
VI. Daftar Masalah

- Hiperglikemia
- Dispepsia
VII. Assessment

I. Hiperglikemia
• Dasar =
- Anamnesis : Polidipsi (+), Polifagi (+), Poliuria(+), Penurunan BB(+), Malaise (+) ,
Riwayat konsumsi obat hiperglikemi oral dan Insulin Suntik (+)
- Pemeriksaan Fisik : IMT BB kurang
- Pemeriksaan Penunjang : GDS 552 mg/dl
- Diagnosis Kerja = Diabetes Melitus tipe I
- DD = Diabetes melitus tipe II
II. Dispepsia
• Dasar =
- Anamnesis : Nyeri uluhati(+), nausea (+), vomitus (+), nafsu makan kurang (+)
- Pemeriksaan Fisik : Nyeri tekan epigastrium (+)
- Diagnosis Kerja = Susp Gastritis akut
- DD = GERD
VIII. Planning
I. Hiperglikemia ec DM
- Rencana Pemeriksaan lanjut: Cek Gula darah sewaktu(GDS) setiap
jam dalam 3 jam pertama , Gula darah puasa, HbA1c cek setiap 3
bulan sekali
- Rencana terapi: Insulin harian total(IHT): 0,5 x BB(55kg) = 28 UI
(insulin basal 40% & insulin prandial 60% dibagi 3)-> Insulin
Prandial 3 x 6 UI diberikan sebelum makan besar, dan insulin Basal
10 UI /hari(diberikan malam hari sebelum tidur), Metformin 3 x
500mg
- Diet DM(terapi nutrisi medis) : Komposisi makanan Karbohidrat 45- II. Dispepsia ec susp Gastritis akut
65%, lemak 25%, protein 10-20% kebutuhan kalori, natrium dan • Rencana Pemeriksaan lanjut : Endoskopi
serat • Rencana terapi : IVFD Nacl 0.9% 2200cc/24 jam, Inj
Kebutuhan kalori basal = (176-100)-10%BBI= 68,4 Ranitidin 25mg 2 x 1 amp, Inj Ondancentron 2 x 8mg
Laki-laki = 68,4 x 30 = 2052 • Diet Lambung, kurangi makanan dan minuman
Faktor aktivitas 2052 + 25% = 2565 kkal/hari (3 porsi besar pedas, asam, dingin dan bergas, Hindari stress
untuk makan pagi (20%), siang (30%), dan sore (25%), serta
2-3 porsi makanan ringan (10-15%)
- Olahraga aerobik dengan intensitas ringan/sedang (target nadi 220
– usia = 193) seperti jalan santai, bersepeda santai dan jogging.
Dilakukan 3-5 kali per minggu selama sekitar 30-45 menit dengan
total 150 menit per minggu
- Kurangi makanan dan minuman yang mengandung banyak gula,
melakukan perawatan kaki secara berkala, melakukan
pemantauan glukosa darah mandiri
IX. Monitoring
Tanggal Subjective Objective Assesment Planning
08-03-2019 Lemas (+), Mual TD: 100/70 mmHg Hiperglikemi ec • IVFD Nacl 0.9% 2200/24 jam
(+), muntah (-), DM
N : 83 x/menit • Inj Ranitidin 25mg 2x1
nyeri ulu hati(+)
R : 19 x/menit • Inj Ondancentron 2 x 8mg
S : 36,7 ̊C • Metformin 3 x 500mg
GDS : • Insulin Basal 10 UI
- 129 mg/dl (jam 06.00) • Insulin Prandial 3 x 6 UI
- 359 mg/dl ( jam 12.00) • Diet DM & lambung
- 354 mg/dl (jam 18.00) • Cek GDS
09-03-2019 Lemas (-), Mual TD: 110/70 DM terkontrol • IVFD Nacl 0.9% 2200/24 jam
(+), Muntah(-),
N : 75 x/menit • Inj Ranitidin 25mg 2x1
nyeri uluhati (-)
R : 20 x/menit • Inj Ondancentron 2 x 8mg
S : 36,9 C • Metformin 3 x 500mg
GDS : • Insulin Basal 10 UI
- 69 mg/dl (jam 06.00) • Insulin Prandial 3 x 6 UI
- 105 mg/dl (jam 11.00) • Diet DM & lambung
• Cek GDS
X. Kesimpulan

• Diagnosis Klinis : Hiperglikemia ec Diabetes melitus tipe I


Dispepsia ec susp Gastritis akut
• Edukasi :
- Pemantauan glukosa darah
- Mengikuti pola makan sehat (diet DM dan diet lambung)
- Hindari stress
- Rutin meggunakan obat DM secara teratur
- Latihan jasmani yang teratur
- Melakukan perawatan kaki

• Prognosis : Ad vitam : dubia ad bonam


Ad sanationam : dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi

 Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu


kelompok penyakit metabolik dengan
PERKENI 2015 karakteristik hiperglikemia yang terjadi
karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin
atau kedua-duanya.

 Diabetes melitus merupakan suatu penyakit


American kronis kompleks yang membutuhkan
Diabetes perawatan medis yang lama atau terus-
Association menerus dengan cara mengendalikan kadar
(ADA) 2014 gula darah untuk mengurangi risiko
multifaktorial
Epidemiologi

Prevalensi orang dengan diabetes di Indonesia menunjukkan kecenderungan meningkat


yaitu dari pemeriksaan kadar glukosa darah Riskesdas 2007 yang dilakukan pada
penduduk perkotaan 5,7% menderita diabetes melitus dan hanya 26,3% yang telah
terdiagnosis sebelumnya dan 73,7% tidak terdiagnosis. Sedangkan pada Riskesdas
2013, dari 6,9% menderita diabetes melitus, 30,4% telah terdiagnosis dan 69,9% tidak
terdiagnosis sebelumnya.
Klasifikasi
Destruksi sel beta, umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolut
Tipe 1
 Autoimun

 Idiopatik

Tipe 2 Bervariasi, mulai yang dominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif sampai yang dominan defek sekresi insulin disertai
resistensi insulin

Karena hilangnya sekresi insulin secara progresif yang sering terjadi oleh karena resistensi insulin.

Tipe lain  Defek genetik fungsi sel beta

 Defek genetik kerja insulin

 Penyakit eksokrin pankreas (seperti cystic fibrosis)

 Endokrinopati

 Karena obat atau zat kimia (seperti penggunaan glukokortikoid, dalam pengobatan HIV/AIDS, atau setelah transplantasi organ)

 Infeksi

 Sebab imunologi yang jarang

 Sindrom genetik lain yang berkaitan dengan DM

Diabetes Diabetes Mellitus Gestasional adalah keadaan diabetes atau intoleransi glukosa yang timbul selama masa kehamilan, dan biasanya
berlangsung hanya sementara.
mellitus
Diabetes ini didiagnosis pada trimester kedua atau ketiga yang tidak jelas diabetesnya sesaat sebelum kehamilan.
gestasional
Faktor Risiko

Faktor risiko yang dapat


dimodifikasi :
Faktor risiko yang tidak dapat
- Perilaku hidup yang kurang
dimodifikasi:
sehat, yaitu berat badan
- Ras dan etnik
lebih, obesitas
- Umur
abdominal/sentral, kurangnya
- Jenis kelamin
aktivitas fisik
- Riwayat keluarga dengan
- Hipertensi
diabetes mellitus
- Dyslipidemia
- Riwayat melahirkan bayi
- Diet tidak sehat/tidak
dengan berat badan lebih
seimbang
dari 4000 gram
- Riwayat Toleransi Glukosa
- Riwayat lahir dengan berat
Terganggu (TGT) atau Gula
badan lahir rendah (kurang
Darah Puasa terganggu (GDP
dari 2500 gram).
terganggu)
- Merokok
Patomekanisme DM tipe 1
Beberapa ciri karakteristik diabetes melitus
tipe I sebagai penyakit autoimun:
- Kehadiran sel-sel imuno-kompeten dan
aksesori di pulau pankreas yang disusupi;
- Berhubungan dengan kerentanan
terhadap penyakit dengan gen kelas II
(respon imun) kompleks
histokompatibilitas utama (MHC; antigen
Diabetes Tipe I ditandai dengan leukosit manusia HLA);
- Kehadiran autoantibodi sel pulau
penghancuran sel penghasil insulin
tertentu;
di pankreas secara autoimun oleh - Perubahan pada sel T dimediasi
sel CD4 + dan CD8 + T dan makrofag imunoregulasi, khususnya di
yang menginfiltrasi pulau pankreas kompartemen sel CD4 +;
- Keterlibatan sel monokin dan TH1 yang
memproduksi interleukin dalam proses
penyakit;
- Respon terhadap imunoterapi dan;
- Sering terjadi penyakit autoimun spesifik
organ lain pada individu yang terkena
atau pada anggota keluarga mereka.
Patomekanisme DM tipe 2

Pada diabetes tipe 2, mekanismenya


rusak, dengan konsekuensi bahwa dua
defek patologis utama pada diabetes tipe 2
adalah gangguan sekresi insulin melalui
disfungsi sel β pankreas, dan tindakan
insulin yang terganggu melalui resistensi
insulin
Manifestasi Klinik

- Poliuria
- Polidipsia
- Polifagia
Gejala Klasik 4P - Penurunan berat badan yang
tidak dapat dijelaskan
sebabnya

- Lemah badan
- Kesemutan
- Gatal
Keluhan - Mata kabur
Tambahan - Disfungsi ereksi pada laki-
laki, serta pruritus vulva
pada perempuan.
Kriteria Diagnosis
Pemeriksaan glukosa plasma puasa ≥126 mg/dl (7,0 mmol/l). Puasa didefinisikan sebagai
kondisi tidak ada asupan kalori minimal 8 jam.

Atau
Pemeriksaan glukosa plasma ≥200 mg/dl 2 jam setelah Tes Toleransi Glukosa Oral
(TTGO). Tes ini sudah dideskripsikan oleh WHO, dengan menggunakan beban yang
kandungannya setara dengan 75 gram glukosa anhidrat yang dilarutkan dalam air.

Atau
Pemeriksaan HbA1c ≥6,5% (48 mmol/mol). Tes ini dilakukan di laboratorium dengan
menggunakan metode yang terstandarisasi oleh National Glycohaemoglobin
Standarization Program (NGSP) untuk pengujian DCCT.

Atau
Pada pasien dengan gejala klasik hiperglikemia atau krisis hiperglikemia, glukosa plasma
acak atau sewaktu ≥200 mg/dl (11,1 mmol/l).
Kadar Tes Laboratorium Darah untuk Diagnosis
Diabetes dan Prediabetes

Glukosa Plasma 2
Glukosa Darah
jam Setelah TTGO HbA1c (%)
Puasa (mg/dl)
(mg/dl)
Normal <100 <140 <5,7
Prediabetes 100-125 140-199 5,7-6,4

(5,6-6,9 mmol/l) (7,8-11,0 mmoll/l) (39-47


mmol/mol)

Diabetes ≥126 ≥200 ≥6,5


Pemeriksaan Penyaring

Pemeriksaan Penyaring (Screening) untuk diabetes melitus tipe II dan prediabetes


pada kelompok risiko tinggi pada orang dewasa yang asimptomatik

Kadar Glukosa Darah Sewaktu dan Puasa Bukan DM Belum pasti DM DM


untuk Patokan Penyaring dan Diagnosis
DM (mg/dl) (mg/dl) (mg/dl)

Kadar glukosa Plasma vena <100 100-199 ≥200


darah sewaktu Darah kapiler <90 90-199 ≥200
(mg/dl)
Kadar glukosa Plasma vena <100 100-125 ≥126
darah puasa Darah kapiler <90 90-99 ≥100
(mg/dl)
Penatalaksanaan
Perlu dilakukan pengendalian glukosa darah, tekanan darah, berat
badan, dan profil lipid, melalui pengelolaan pasien secara holistik
dengan mengajarkan perawatan mandiri dan perubahan perilaku.

Pilar Penatalaksanaan DM

Edukasi

Terapi Gizi
Medis

Latihan
Jasmani
Intervensi
Farmakologis
Intervensi Farmakologis

Obat Anti Hiperglikemik Oral


- Pemacu Sekresi Insulin (Insulin Secretagogue): Sulfonilurea dan Glinid
- Peningkat Sensitivitas terhadap Insulin: Metformin dan Tiazolidindion (TZD)
- Penghambat Absorpsi Glukosa : Penghambat Glukosidase Alfa (Acarbose)
- Penghambat DPP-IV (Dipeptidyl Peptidase-IV) : Sitagliptin dan Linagliptin
- Penghambat SGLT-2 (Sodium Glucose Co-transporter 2) : Canagliflozin dan
Empagliflozin
Obat Antihiperglikemia Suntik
- Insulin
- Agonis GLP-1/Incretin Mimetic (Liraglutide, Exenatide)
Terapi Kombinasi -> OHO & Insulin
Insulin
Berdasar lama kerja, insulin terbagi menjadi 5 jenis, yakni:
 Insulin kerja cepat (rapid acting insulin)
 Insulin kerja pendek (short acting insulin)
 Insulin kerja menengah (intermediate actinginsulin)
 Insulin kerja panjang (long acting insulin)
 Insulin kerja ultra panjang (ultra long acting insulin)
 Insulin campuran tetap, kerja pendek dan menengah (premixed insulin)

Efek samping terapi insulin


- Efek samping utama terapi insulin adalah terjadinyahipoglikemia.
- Efek samping yang lain berupa reaksi imunologi terhadap insulin yang dapat
menimbulkan alergi insulinatau resistensi insulin.
Sediaan Insulin
Sediaan Insulin lanjutan
Strategi Praktis Terapi Insulin

Sebagai regimen awal dapat digunakan insulin basal dengan dosis 0,1-0,2 unit/kg BB, yang
waktu pemberiannya disesuaikan dengan rutinitas pasien dan jenis insulin yang digunakan

Peningkatan dosis dapat dilakukan sesuai dengan Tabel


Prosedur Pemantauan
Sasaran Pengendalian DM
Daftar Pustaka

 Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. Konsensus Pengelolaan Dan Pencegahan


Diabetes Melitus Tipe 2 Di Indonesia 2015. Jakarta: PB PERKENI, 2015
 Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. Penggunaan Insulin.
 Suyono, Slamet. 2015. Diabetes Melitus di Indonesia dalam Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam.Jakarta: InternaPublishing
 Kementerian Kesehatan. Riset Kesehatan Dasar 2013. Jakarta: Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementeriaan Kesehatan, Republik
Indonesia, 2013
TERIMA KASIH
WASSALAMUALAIKUM WR. WB.