Anda di halaman 1dari 49

STRATEGI GENERASI SEHAT DAN CERDAS

DALAM PENANGANAN STUNTING UNTUK


PEMENUHAN HAK DASAR MASYARAKAT
Disampaikan pada Rapat Koordinasi Provinsi Kalimantan Barat
Bandung, 21 Desember 2017
Oleh Direktorat Pelayanan Sosial Dasar, Ditjen PPMD, Kementerian Desa, PDTT
10 INSTRUKSI PRESIDEN KEPADA KESEHATAN

GIZI INVESTASI BANGSA


Jangan sampai ada lagi yang namanya gizi buruk. Tidak ada anak
yang sepantasnya kekurangan gizi di negara berpendapatan
menengah seperti sekarang ini 2
MASALAH STUNTING DI INDONESIA

BALITA STUNTING (TB/U)

Masih menjadi masalah


gizi masyarakat karena
di atas batasan WHO
(>20%)

RISKESDAS 2013  37,2


PSG 2016  27,5

3
Dampak KURANG GIZI pada awal kehidupan

Menurunkan
Produktivitas
pada usia dewasa

Risiko PTM
(Diabetes type II,
Stroke, Penyakit
Jantung, dll) pada
Gagal tumbuh; Berat Lahir Hambatan perkembangan usia dewasa
Rendah, kecil, pendek, kurus, kognitif, nilai sekolah dan
daya tahan rendah. keberhasilan pendidikan

4
PENGERTIAN
• Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita
akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu
pendek untuk usianya.
• Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan
pada masa awal setelah anak lahir, tetapi stunting baru
nampak setelah anak berusia 2 tahun.
• Balita pendek (stunted) dan sangat pendek (severely
stunted) adalah balita dengan panjang badan (PB/U)
atau tinggi badan (TB/U) menurut umurnya dibandingkan
dengan standar baku WHO-MGRS (Multicentre Growth
Reference Study) 2006 nilai z-scorenya kurang dari -2SD
(stunted) dan kurang dari – 3SD (severely stunted)
(Kepmenkes 1995/MENKES/SK/XII/2010).
5 2
6
Kerangka Kerja Intervensi Terintegrasi Penanggulangan Stunting

Sumber : Bappenas 7
KEMITRAAN STRATEGIS
LEMBAGA SOSIAL KEMASYARAKATAN/CSOs
Advokasi untuk penyempurnaan inisiasi, kajian
MEDIA MASSA strategis dan pelaporan situasi pelaksanaan di DUNIA USAHA
Mempublikasikan informasi yang lapangan/ masyarakat, pemberdayaan Pengembangan produk dan program
mendukung pembangunan kesehatan masyarakat yang mendukung (Berbagi informasi
secara terus menerus distribusi sumber daya, penerapan CSR
sesuai dasar hukum)

MITRA PEMBANGUNAN PARLEMEN


Memperkuat Inisiasi, Kolaborasi, dan Menjalankan fungsi legislatif
Monev
PERCEPATAN
PERBAIKAN GIZI

ORGANISASI PROFESI DAN UN BODIES


AKADEMISI Memperluas dan mengembangkan kegiatan
serta fasilitasi pemerintah untuk keberhasilan
Think Tank program
PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH
Inisiator, Fasilitator, dan Motivator

8
KETETAPAN PIMPINAN NASIONAL
5 PILAR PENANGANAN STUNTING
PILAR 1 PILAR 2 PILAR 3 PILAR 4 PILAR 5
Kampanye Nasional Berfokus
Komitmen dan pada pemahaman, perubahan Konvergensi, Koordinasi, dan
Visi Pimpinan Tertinggi Negara perilaku, komitmen politik dan Konsolidasi Program Nasional, Mendorong Kebijakan
akuntabilitas Daerah, dan Masyarakat “Nutritional Pemantauan dan Evaluasi
Food Security”

INTERVENSI GIZI SPESIFIK INTERVENSI GIZI SENSITIF

TUMBUH KEMBANG ANAK YANG MAKSIMAL


(dengan kemampuan emosional, sosial dan fisik siap untuk belajar, berinovasi dan berkompetisi)

MENINGKATKAN DAYA SAING MENGURANGI KESENJANGAN/INEQUALITY


PEMBELAJARAN PEMERINTAH DAERAH
KOTA BANDUNG, JAWA BARAT
OMABA (OJEK MAKANAN BALITA)
Kasus Gizi Buruk DAN COOKING CENTER
“Strategi pendistribusian pemberian PMT-pemulihan bagi balita
di Kecamatan Gedebage Th. penderita gizi buruk agar sampai pada sasaran dan memastikan
2013 makanan dikonsumsi oleh Balita, yang merupakan bagian dari
program cooking center Komite Kesehatan Kelurahan Cisaranten
Kidul, Kecamatan Gedebage” Pelatihan Warung
SEHATI
OMABA dimulai pada tahun 2013 dengan motto
SEHATI (Sehat Ibu dan Anak Tercinta)
K
E
G
Pelatihan Konseling Gizi
I
Pelaksanaan OMABA dan Cooking Center A
T
SASARAN A
Balita gizi buruk dan bumil KEK yang diberikan N
setiap hari selama 12 bulan berturut-turut
Kegiatan Dapur
Keliling
Tahun 2013 Tahun 2015
Gizi Buruk Gizi Buruk
29 Anak 4 Anak
10
DESAIN PELAKSANAAN
GENERASI SEHAT DAN CERDAS
Merupakan salah satu program pemerintah yang dilaksanakan dalam
rangka penanggulangan kemiskinan yang secara spesifik berupaya
mengintervensi khusus pada bidang kesehatan dan pendidikan;
Menerapkan strategi pembangunan secara partisipatif yang
mengedepankan dasar-dasar pemberdayaan masyarakat (dari, oleh
dan untuk masyarakat - DOUM), dan Penyadaran serta Peningkatan
Kapasitas Masyarakat;
Menekankan pada keterlibatan masyarakat, peningkatan kapasitas
masyarakat dan kemampuan pemerintah daerah untuk memfasilitasi
masyarakat dalam proses pembangunan;
Menitikberatkan pada fasilitasi masyarakat dalam proses perencanaan
dan pelaksanaan kegiatan untuk meningkatkan derajat kesehatan ibu
dan anak serta pendidikan dasar dan menengah;
Tujuan Program
Mendorong partisipasi seluruh masyarakat, khususnya masyarakat miskin
dan atau kelompok perempuan, dalam pengambilan keputusan
perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan pelestarian pembangunan
serta mendorong kemandirian masyarakat dalam mengakses layanan
kesehatan dan pendidikan.
Mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan layanan
kesehatan ibu dan anak terutama untuk intervensi periode 1000 hari
pertama kehidupan khususnya kepada kelompok masyarakat miskin
dan terpinggirkan.

Mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan layanan


pendidikan dasar termasuk bagi Anak Berkebutuhan Khusus dan
mendorong anak-anak putus sekolah serta yang belum sekolah untuk
kembali sekolah minimal menyelesaikan pendidikan SMP atau yang
sederajat, serta mengakomodir juga untuk pendidikan anak usia dini.
CAKUPAN ISU
Akses layanan kesehatan ibu dan anak untuk intervensi 100o Hari Pertama
Kehidupan (Stunting)

Reduce Stunting (Penanganan anak karena kekurangan asupan gizi)

Peningkatan pendidikan dasar dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

Peningkatan kesehatan ibu/pengurangan angka kematian ibu


melahirkan

Pengurangan angkat kematian bayi dan balita

Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)


SASARAN GSC

Sasaran:
Anggota masyarakat yang tidak mendapatkan pelayanan harus mendapat prioritas pertama

Bayi/balita
Ibu Hamil
Ibu Hamil yang berat Anak Anak usia
dengan Bayi/Balita
yang jarang Bayi/balita badannya Berkebutuhan SD/SMP
kondisi Ibu Hamil yang Tidak Anak
periksa yang jarang masih di Khusus yang yang
Kekurangan Resiko Pernah Usia
kehamilannya dibawa ke bawah garis tidak/belum/ terancam
Energi Tinggi; mendapat Dini
ke bidan atau Posyandu; merah (gizi putus putus
Kronik Imunisasi;
dokter; buruk/gizi bersekolah ; sekolah
(KEK);
kurang);
PELAKSANAAN GSC: Kerangka instrumen 12 INDIKATOR KEBERHASILAN DESA GSC
Fasilitasi, Koordinasi dan Intervensi Indikator Ibu Hamil (Kesehatan)
Pelayanan Sosial Dasar melalui GSC 1. Periksa kehamilan 4 kali
2. Minum 90 Pil Fe (Zat Besi) selama kehamilan
3. Melahirkan dibantu bidan atau dokter
Penguatan pemberdayaan
4. Perawatan nifas dibantu bidan atau dokter
masyarakat melalui Generasi
Indikator Anak balita (Kesehatan)
Sehat dan Cerdas (Demand 5. Imunisasi standar secara lengkap
Side) 6. Berat badan bayi harus naik
7. Timbang anak balita secara rutin
8. Vitamin A diberikan 2 (dua) kali setahun
1. Pendampingan masyarakat Indikator Konseling dan Pemenuhan Gizi (Kesehatan)
dalam proses perencanaan dan 9. Setiap ibu hamil dan/atau pasangannya mengikuti kegiatan
pelaksanaan konseling gizi minimal satu bulan sekali.
2. Pendekatan Perencanaan 10. Setiap orang tua/pengasuh yang memiliki bayi usia 0-2 tahun
mengikuti kegiatan konseling gizi minimal satu bulan sekali.
Partisipatif
3. Pelatihan bagi pelaku program Indikator Pendidikan Dasar (Pendidikan)
GSC di desa dan kecamatan 11. Setiap anak usia SD/MI dan SMP/MTS termasuk anak yang
berkebutuhan khusus (ABK) yang belum sekolah dan putus sekolah
4. Pemberian Block Grant (BLM)
kembali bersekolah.
pada Masyarakat 12. Setiap anak lulus SD/MI termasuk anak yang berkebutuhan khusus
(ABK) melanjutkan sekolah di tingkat SMP/MTS.
Perkembangan Lokasi GSC
JUMLAH JUMLAH JUMLAH
T.A. LOKASI PROVINSI
PROVINSI KABUPATEN KECAMATAN
2007 5 20 129
2008 5 1). Jabar, 2). Jatim, 3). NTT, 4). Sulut, dan 5). Gorontalo 22 176
2009 5 21 164
1). Jabar, 2). Jatim, 3). NTT, 4). Sulut, dan 5). Gorontalo
2010 6 27 212
ditambah 6). NTB
1). Jabar, 2). Jatim, 3). NTT, 4). Sulut, 5). Gorontalo, 6). NTB,
2011 8 39 290
ditambah 7). SulBar, 8). Maluku

2012 8 1). Jabar, 2). Jatim, 3). NTT, 4). Sulut, 5). Gorontalo, 6). NTB, 7). SulBar, 8). Maluku 42 369

2013 8 1). Jabar, 2). Jatim, 3). NTT, 4). Sulut, 5). Gorontalo, 6). NTB, 7). SulBar, 8). Maluku 42 369
1). Jabar, 2). Jatim, 3). NTT, 4). Sulut, 5). Gorontalo, 6). NTB, 7). SulBar, 8). Maluku 499
2014 11 64
ditambah 9). Sumsel, 10). Kalbar, 11). Kalteng (5.744 Desa)
1). Jabar, 2). Jatim, 3). NTT, 4). Sulut, 5). Gorontalo, 6). NTB, 7). SulBar, 8). Maluku 66 499
2015 11
9). Sumsel, 10). Kalbar, 11). Kalteng Pemekaran 2 Kab (5.744 Desa)
1). Jabar, 2). Jatim, 3). NTT, 4). Sulut, 5). Gorontalo, 6). NTB, 7). SulBar, 8). Maluku 499
2016 11 66
9). Sumsel, 10). Kalbar, 11). Kalteng (5.753 Desa)
499
1). Jabar, 2). Jatim, 3). NTT, 4). Sulut, 5). Gorontalo, 6). NTB, 7). SulBar, 8). Maluku
2017 11 66 (Terupdate menjadi
9). Sumsel, 10). Kalbar, 11). Kalteng
5.789 Desa)
1). Jabar, 2). Jatim, 3). NTT, 4). Sulut, 5). Gorontalo, 6). NTB, 7). SulBar, 8). Maluku 499
2018 11 66
9). Sumsel, 10). Kalbar, 11). Kalteng 5.789 Desa
Pelaksanaan Penanganan STUNTING melalui GSC
Melalui kolaborasi dengan Kementerian Kesehatan (PKGBM) dan
Lembaga Swadaya Masyarakat
1. Pendampingan masyarakat dalam proses perencanaan dan
Pemberdayaan Masyarakat
pelaksanaan kegiatan
melalui GSC “Kemendes, PDT
2. Pendekatan perencanaan secara partisipatif
& Transmigrasi”
3. Alokasi dana kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat
(Demand Side Activity)
4. Pelatihan bagi pelaku program tingkat desa dan kecamatan
1. Pelatihan bagi Tenaga Kesehatan (Bidan desa dan kader
Penguatan Penyedia posyandu)
Pelayanan 2. Penyediaan dan Pemberian Multiple Micro Nutrient bagi Ibu
di KemenKes Hamil dan Anak 6 – 24 bulan
(Supply Side Activity) 3. Penyediaan Alat Ukur dan Pengukuran Panjang Badan
4. Pemicuan Sanitasi
5. Pemberian Insentif bagi Tenaga Kesehatan
Kampanye Perubahan
Perilaku, dengan melibatkan
Lembaga Swadaya 1. Kampanye Perubahan Perilaku (Kampanye Gizi Nasional)
Masyarakat
Pengembangan PAUD di GSC
Berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan dalam mengembangkan Pilot PAUD di 25
Kabupaten (252 Kecamatan 2.681 Desa) untuk Pelatihan
Dasar bagi Guru PAUD (2016-2017). Pelatihan juga
melibatkan Lembaga Profesi (Himpaudi, IGTKI, dll).
Di setiap lokasi GSC, prosentase alokasi dana Bantuan
Langsung Masyarakat untuk kegiatan PAUD dapat
ditetapkan sebesar 10% dari total alokasi dana BLM di
setiap kecamatan
Memfasilitasi rumah tangga yang memiliki bayi usia 0-2
tahun mengikuti kegiatan konseling gizi minimal satu bulan
sekali

Pengembangan Diklat Lanjutan di Gorontalo dan


Kerjasama APBD
Kegiatan GSC untuk mendukung Gerakan Perbaikan Gizi (1000 Hari
Pertama Kehidupan/HPK)
INTERVENSI GIZI SPESIFIK INTERVENSI GIZI SENSITIF
 Memastikan terjadinya layanan dasar  Mendorong kepedulian desa dalam
kepada seluruh sasaran yang menangani masalah kesehatan ibu dan
meliputi: imunisasi, Pemberian anak melalui penganggaran APBDes.
Makanan Tambahan/PMT ibu hamil  Kegiatannya a.l. Kebun Gizi (bekerjasama
KEK dan balita BGM, Inisiasi dengan Dinas Ketahanan Pangan dan
Menyusui Dini, pemberian Vitamin A, Peternakan), Penyuluhan kesehatan Ibu
monitoring pertumbuhan balita dan Anak (termasuk PHBS), Pelatihan
 Memastikan terlaksananya konseling pengelolaan pangan lokal, Kelas Ibu Hamil,
gizi dalam kelas Ibu Hamil dan Orang peningkatan kapasitas kader posyandu,
tua yang memiliki bayi 0-23 bulan. pelatihan guru PAUD, penyediaan fasilitas
 Sasaran : khusus kelompok 1.000 Posyandu dan PAUD,
HPK (Ibu Hamil, Ibu Menyusui, dan  Melakukan monitoring bulanan pencapaian
Anak usia 0-23 bulan). layanan dasar kesehatan ibu dan anak
 Sasaran: keluarga dan masyarakat
Jenis-Jenis Kegiatan GSC Dalam Mendukung Stunting (1/4)
KETERKAITAN
INDIKATOR KEBERHASILAN GSC JENIS KEGIATAN DENGAN STUNTING
Ya Tidak
Indikator Ibu Hamil (Kesehatan)
1.Periksa kehamilan 4 kali Pelayanan pemeriksaan / perawatan kesehatan ibu
1 √
2.Minum 90 Pil Fe (Zat Besi) selama hamil dan menyusui
kehamilan 2 Pelayanan persalinan / melahirkan bagi ibu hamil √
3.Melahirkan dibantu bidan atau Transportasi ibu hamil yang mau melahirkan menuju
3 √
dokter tempat layanan
4.Perawatan nifas dibantu bidan Transportasi ibu hamil atau yang punya bayi, balita,
4 √
atau dokter menuju tempat layanan untuk pemeriksaan
5 PMT Ibu Hamil (KEK, Resti, dll) √
6 Transportasi bidan untuk pemeriksaan kesehatan ibu √
Transportasi bidan khusus untuk pelayanan
7 √
persalinan
8 Pelayanan dan pemeriksaan kesehatan lainnya √
9 Pengadaan obat-obatan √
Jenis-Jenis Kegiatan GSC Dalam Mendukung Stunting (2/4)
KETERKAITAN
INDIKATOR KEBERHASILAN GSC JENIS KEGIATAN DENGAN STUNTING
Ya Tidak
Indikator Anak balita (Kesehatan)
5.Imunisasi standar secara lengkap 1 Transportasi ibu yang punya bayi, balita, menuju tempat layanan
√ untuk pemeriksaan
6.Berat badan bayi harus naik 2 PMT Pemulihan (Gizi Buruk/Gizi Kurang) √
7.Timbang anak balita secara rutin 3 Pemeriksaan / perawatan kesehatan bayi dan balita √
8.Vitamin A diberikan 2 (dua) kali Transportasi bidan untuk pemeriksaan kesehatan
4 √
setahun anak
5 PMT Posyandu √
Indikator Konseling dan Pemenuhan Gizi (Kesehatan)
9.Setiap ibu hamil dan/atau 1 Tenaga penyuluhan / pelatihan kesehatan √
pasangannya mengikuti kegiatan
2 Bulanan balita dan ibu hamil/menyusui (Penyuluhan) √
konseling gizi minimal satu bulan
sekali. 3 Penyuluhan tentang kesehatan √
10.Setiap orang tua/pengasuh yang 4 Pelatihan bidang kesehatan √
memiliki bayi usia 0-2 tahun 5 Kegiatan Kelas Ibu Hamil √
mengikuti kegiatan konseling gizi 6 Kegiatan Pengasuhan Bersama √
minimal satu bulan sekali. 7 Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) √
8 Kegiatan penyuluhan dan pelatihan lainnya √
Jenis-Jenis Kegiatan GSC Dalam Mendukung Stunting (3/4)
KETERKAITAN
INDIKATOR KEBERHASILAN GSC JENIS KEGIATAN DENGAN STUNTING
Ya Tidak
Indikator Pendidikan Dasar (Pendidikan)
11.Setiap anak usia SD/MI dan 1 Bulanan anak sekolah (PMT AS) √
SMP/MTS termasuk anak yang 2 Sewa pemondokan siswa
berkebutuhan khusus (ABK) yang 3 Bantuan keuangan lainnya
belum sekolah dan putus sekolah 4 Guru honorer
kembali bersekolah. 5 Tenaga pengajar/guru lainnya
12.Setiap anak lulus SD/MI termasuk 6 Tenaga pendidikan lainnya
anak yang berkebutuhan khusus 7 Penyuluhan tentang pendidikan
(ABK) melanjutkan sekolah di tingkat 8 Pelatihan bidang pendidikan
SMP/MTS. 9 Penyuluhan dan pelatihan lainnya
# Les Tambahan
# Beasiswa
# Seragam sekolah siswa
# Alat tulis menulis siswa
# Buku-buku pelajaran
# Transportasi siswa
# Asrama siswa
Jenis-Jenis Kegiatan GSC Dalam Mendukung Stunting (4/4)
KETERKAITAN
INDIKATOR KEBERHASILAN GSC JENIS KEGIATAN
Ya Tidak
Dukungan pencapaian Indikator
Kegiatan GSC dalam mendukung 1 Rehap gedung pelayanan kesehatan √
peningkatan layanan Pendidikan 2 Bangun gedung pelayanan kesehatan √
dan Kesehatan 3 Air bersih dan MCK di tempat pelayanan kesehatan √
4 Prasarana menuju tempat pelayanan kesehatan √
5 Rehap gedung pelayanan kesehatan (Posyandu) √
6 Prasarana kesehatan lainnya √
7 Meubel pada tempat pelayanan kesehatan √
8 Perlengkapan tempat pelayanan kesehatan √
9 Transportasi guru honorer
Perlengkapan tempat pelayanan kesehatan posyandu
#
(APE, dll)
# Sarana dan Perlengkapan lainnya
# Pengadaan Perpustakaan
# Sarana sekolah / pendidikan lainnya
# Rehab gedung / ruang kelas
# Air bersih dan MCK √
# Transportasi dokter / mantri kesehatan √
# Transportasi kader kesehatan √
# Sewa rumah untuk pelayanan kesehatan √
# Prasarana akses ke sekolah
# Prasarana pendidikan lainnya
# Meubel Sekolah
# Alat-alat pendukung proses belajar/mengajar
Peran GSC dalam Peningkatan Belanja APBDes
Bidang Pelayanan Sosial Dasar
• Memperkuat Data Permasalahan kesehatan Ibu dan anak serta layanan
PAUD di tingkat Desa
• Meningkatkan komitmen aparat Desa dalam menangani masalah
kesehatan ibu dan anak serta PAUD (dalam bentuk PerDes)
• Mendorong pemanfaatan APB Desa untuk kegiatan kesehatan ibu
anak dan PAUD

• Koordinasi lintas sektor dalam proses perencanaan dan pelaksanaan


kegiatan kesehatan dan pendidikan
• Pelatihan pengarusutamaan kegiatan pelayanan sosial dasar
• Penyelenggaraan Festival Desa Inovatif untuk layanan sosial dasar

• Advokasi kebijakan Pemerintah Daerah dalam mendorong penggunaan


APB Desa untuk kegiatan kesehatan ibu anak dan PAUD (Perbup,
Perda)
• Fasilitasi Rencana Aksi Daerah (RAD) dalam peningkatan layanan sosial
dasar termasuk kesehatan ibu anak dan PAUD
Kolaborasi Konvergensi GSC dgn program lain di tingkat implementasi

PKH: Sinkronikasi Posyandu: Penguatan


data sasaran penerima kegiatan layanan, pelatihan
bantuan program kader, insentif kader

PAUD: Pelatihan Generasi


STBM: Pelatihan
guru PAUD, APE Sehat kesehatan
Cerdas Lingkungan dan air
bersih
Pendamping
Desa/Pendamping
Lokal Desa Pertanian/Peternakan:
(Kementerian Desa): Pencatatan Sipil: Kebun gizi keluarga,
Perencanaan desa fasilitasi pencatatan peternakan dan
terintegrasi akte kelahiran perikanan
Strategi GSC dalam Mendukung Percepatan Penurunan Stunting
di 100 Kabupaten Prioritas Tahun 2018
Integrasi Pendampingan
untuk Layanan Sosial Dasar
1. Penyedian Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat
2. Sinergi dan kolaborasi dengan program dan sektor –sector
kesehatan Ibu Anak dan PAUD
Optimalisasi implementasi 3. Fasilitasi RAD (Rencana Aksi Daerah)
GSC di 31 Kabupaten prioritas 4. Fasilitasi optimalisasi APBDes
5. DOK Peningkatan Kapasitas untuk apparat desa dan lembaga
desa untuk isu stunting
6. Pilot penguatan kapasitas posyandu dan PAUD

1. Pelatihan Pendamping Desa dan Pendamping Lokal Desa


Replikasi fasilitasi GSC di 69 tentang: 1) pengarusutamaan kegiatan Pelayanan Sosial Dasar,
Kabupaten Prioritas 2) Koordinasi layanan lintas sektor, 3) Fasilitasi penggunaan
APBDes
2. Knowledge sharing praktek baik GSC melalui kegiatan inovasi
desa
LATAR BELAKANG PERPANJANGAN GSC T.A. 2018
1. Terdapat sisa penggunaan dana hibah GSC + Rp. 62,640 M
2. Telah ada dukungan RM TA 2018 sebesar Rp. 35,324 M
3. Pendekatan pemberdayaan masyarakat melalui GSC terbukti efektif dalam meningkatkan akses
serta kualitas layanan kesehatan dan pendidikan di desa
4. Terdapat target nasional penurunan prevalensi stunting yang harus didukung melalui partisipasi
masyarakat sebagai Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM), dikarenakan
INDIKATOR KEBERHASILAN GSC SEJALAN DENGAN STRATEGI INTERVENSI PENCEGAHAN
DAN PENANGANAN STUNTING
1. Setiap ibu hamil diperiksa oleh bidan, minimal 4 6. Setiap bayi usia 12 bulan ke bawah
kali pemeriksaan selama masa kehamilan sesuai mendapatkan imunisasi standar secara
tri-semester kehamilan; lengkap;
2. Setiap ibu hamil mendapatkan minimal 90 butir 7. Setiap bayi usia 12 bulan ke bawah berat
pil Fe (penambah darah); badannya harus ditimbang dan selalu naik
3. Setiap proses kelahiran ditangani oleh tenaga setiap bulannya mengikuti grafik
bidan atau dokter; pertumbuhan;
4. Setiap ibu yang melahirkan (termasuk bayinya) 8. Setiap anak Balita ditimbang sebulan sekali
mendapatkan perawatan nifas dari bidan atau secara rutin;
dokter, minimal 3 kali setelah proses persalinan; 9. Setiap anak usia 6 bulan sampai 59 bulan wajib
5. Setiap ibu hamil dan/atau pasangannya mendapatkan Vitamin A, 2 kali dalam setahun;
mengikuti kegiatan konseling gizi minimal satu 10. Setiap orang tua/pengasuh yang memiliki bayi
bulan sekali ; usia 0-2 tahun mengikuti kegiatan konseling
gizi minimal satu bulan sekali;
Annual Work Plan and Budgeting GSC T.A. 2018
RENCANA DUKUNGAN ANGGARAN GSC T.A. 2018

 Isu pelaksanaan GSC T.A. 2018 terdiri dari: Integrasi Perencanaan Pembangunan Desa dengan pembiayaan Dana
Desa/APBDesa untuk pengarusutamaan pelayanan sosial dasar; turut berkontribusi untuk menurunkan Stunting;
dan Persiapan Pertanggungjawaban dan Serah Terima Hasil Kegiatan GSC;
 Skema pelaksanaan 2018 direncanakan dengan membagi 3 kategori Lokasi, yaitu:
1. Kategori Pertama, pada 3 Provinsi (Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Sumatera Selatan) mencakup 22
Kabupaten, 130 Kecamatan: Akan disediakan DOK Peningkatan Kapasitas dengan menyediakan Pendamping
terdiri dari: 1 orang Faskab/Kab, 1 orang Fasilitator Kecamatan mendampingi 2 Kecamatan, dan 1 orang
Operator Komputer Kabupaten;
2. Kategori Kedua, mencakup 29 Kabupaten, 262 Kecamatan yang beririsan dengan 100 Kabupaten Prioritas
Menurunkan Stunting (Terdapat 31 Kabupaten yang beririsan dengan 100 Kabupaten Prioritas Menurunkan
Stunting, namun 2 Kabupaten diantaranya terdapat di Provinsi Kalimantan Barat dan Provinsi Sumatera Selatan):
Akan disediakan DOK Peningkatan Kapasitas yang lebih kecil dari Kategori Pertama dengan menyediakan
Pendamping terdiri dari: 1 orang Faskab/Kab, 1 orang Fasilitator Kecamatan mendampingi 2 Kecamatan, dan 1
orang Operator Komputer Kabupaten; dan
3. Kategori Ketiga, mencakup 15 Kabupaten, 107 Kecamatan: Akan disediakan DOK Peningkatan Kapasitas yang
lebih kecil dari Kategori Kedua dengan menyediakan Pendamping terdiri dari: 1 orang Faskab/Kab, 1 orang
Fasilitator Kecamatan mendampingi 2 Kecamatan, dan 1 orang Operator Komputer Kabupaten.
 Penyediaan Dana Operasional Kegiatan (DOK) Peningkatan Kapasitas Masyarakat dan Desa untuk: (1). Pelatihan
Aparat dan Kepala Desa, BPD, tokoh masyarakat dalam hal pengarusutamaan kegiatan pendidikan dasar dan
kesehatan ibu-anak dalam APBDes; (2). Fasilitasi proses Pengkajian Keadaan Desa (PKD); dan (3). Pelatihan
penguatan Posyandu, dan Poskesdes/Polindes;
 Penyediaan Konsultan (Sekretariat, KM-Nasional, dan KM-Provinsi) menyesuaikan kebutuhan dan anggaran.
ANCAR-ANCAR LOKASI GSC T.A. 2018
Strategi Pelaksanaan GSC
Dalam Penanganan dan Penurunan Stunting
1. Menggunakan pendekatan pemberdayaan masyarakat melalui: Contoh Peta Sosial (Social Mapping)
• Pendampingan Perencanaan Partisipatif
• Optimalisasi peta sosial (social Mapping) dan diagnosa
masalah kesehatan ibu dan anak.
2. Pemberian Dana Operasional untuk meningkatkan kapasitas
dan kepedulian masyarakat terhadap masalah stunting.
3. Kolaborasi dengan penyedia layanan kesehatan dan sektor
terkait lainnya, terutama dalam Pelatihan bagi Tenaga
Kesehatan/Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA) kepada
Bidan Desa dan Kader Posyandu, Pemicuan Sanitasi.
4. Kampanye Perubahan Perilaku dengan melibatkan Lembaga
Swadaya Masyarakat.
5. Menyediakan indikator untuk pemantauan layanan Kesehatan
Ibu dan Anak
6. Peningkatan peran kader desa sebagai kader pembangunan
manusia (Human Development Workers/HDW) untuk
penanggulangan stunting
Rencana Perubahan
Indikator Keberhasilan GSC T.A. 2018

INDIKATOR IBU HAMIL INDIKATOR ANAK INDIKATOR KONSELING INDIKATOR PENDIDIKAN


(KESEHATAN) BALITA (KESEHATAN) & PEMULIHAN GIZI DASAR (PENDIDIKAN)
 Periksa kehamilan  Berikan imunisasi (KESEHATAN)  Partisipasi PAUD
4 kali. dasar lengkap  Partisipasi dalam untuk anak usia 0-3
 Minum Pil Fe (Zat kepada bayi. Konsultasi Gizi tahun
Besi) selama  Monitoring  Konsultasi
kehamilan. Pertumbuhan Terintegrasi
 3 kali Perawatan Balita melalui Kunjungan
nifas dibantu Rumah pada
bidan atau dokter. Keluarga Miskin
 Peningkatan Akses
Air Minum
 Peningkatan Akses
Sistem Sanitasi
Kegiatan GSC Untuk Mendukung
Gerakan Perbaikan Gizi (1000 HPK)

INTERVENSI INTERVENSI
GIZI GIZI
SPESIFIK SENSITIF

 Memastikan terjadinya layanan dasar kepada  Mendorong kepedulian desa dalam menangani
seluruh sasaran yang meliputi: imunisasi, masalah kesehatan ibu dan anak melalui
PMT ibu hamil KEK dan balita BGM, IMD, penganggaran APBDes.
pemberian Vitamin A, Monitoring  Kegiatannya a.l. Kebun Gizi (bekerjasama dengan
Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan),
pertumbuhan balita
Penyuluhan kesehatan Ibu dan Anak (termasuk
 Memastikan terlaksananya konseling gizi PHBS), Pelatihan pengelolaan pangan lokal,
dalam kelas Ibu Hamil dan Orang tua yang peningkatan kapasitas kader posyandu, pelatihan
guru PAUD, penyediaan fasilitas Posyandu dan
memiliki bayi 0-23 bln.
PAUD,
 Sasaran: Khusus kelompok 1.000 HPK (Ibu  Melakukan monitoring bulanan pencapaian layanan
Hamil, Ibu Menyusui, dan Anak usia 0-23 dasar kesehatan ibu dan anak
Peran GSC dalam Peningkatan Belanja APBDes
Bidang Pelayanan Sosial Dasar

DESA
 Memperkuat data KECAMATAN KABUPATEN
permasalahan kesehatan  Koordinasi lintas sektor  Advokasi kebijakan
ibu dan anak dan layanan
dalam proses pemerintah daerah
PAUD di tingkat desa
perencanaan dan dalam mendorong
 Fasilitasi diagnosa masalah pelaksanaan kegiatan
kesehatan ibu anak melalui penggunaan APBDes
optimalisasi peta sosial
kesehatan dan pendidikan untuk kegiatan
 Pelatihan kesehatan ibu anak
 Meningkatkan komitmen
aparat desa dalam pengarusutamaan dan PAUD (PerBup,
menangani masalah kegiatan pelayanan sosial Perda)
kesehatan ibu anak dan dasar terutama bidang  Fasilitasi RAD dalam
PAUD (Perdes) kesehatan ibu anak peningkatan kegiatan
 Mendorong pemanfaatan kepada apart desa dan layanan sosial dasar
APBDes untuk kegiatan masyarakat termasuk kesehatan
kesehatan Ibu anak & PAUD
ibu anak dan PAUD
Peran Desa Dalam Penanganan Stunting
“Kewenangan Desa dan Implikasinya”
Kewenangan Desa
 Desa berwenang untuk Mengatur dan Mengurus kegiatan berdasarkan hak asal usul dan kegiatan yang
berskala lokal Desa.
 Desa berwenang untuk Mengurus kegiatan yang ditugaskan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah.

Implikasi:
 Prioritas kegiatan yang ditangani sektoral (Kesehatan, Pendidikan), seyogyannya bukan yang skala
lokal desa tetapi lebih pada tingkat antar Desa atau kawasan Perdesaan.
 Desa bisa menyelenggarakan pelayanan publik (Kesehatan, Pendidikan) yang berskala Desa melalui
sinergitas dengan sektor penyedia layanan. Namun sektor tetap bertanggungjawab terhadap kualitas
layanan termasuk dalam peningkatan kapasitas penyelenggaraan layanan.
 Jika sektor (Kesehatan, Pendidikan) menilai ada hal yang strategis dan/atau adanya kejadian luar biasa
untuk dilakukan kegiatan desa, maka kegiatan itu harus dikoordinasikan dan diurus oleh Desa.
Pengertian strategis: kegiatan yang terkait dengan prioritas program nasional atau program daerah,
kegiatan yang terkait dengan pengembangan kawasan.
3
Sumber Pendapatan Desa

1. Pendapatan Asli Desa.


2. Dana Desa dari APBN ( total nasional tahun 2015: Rp20,7
trilyun; 2016: Rp46,9 trilyun; 2017: Rp 60trilyun).
3. Alokasi Dana Desa yang merupakan bagian dari dana
perimbangan yang diterima daerah.
4. Bagi Hasil Pajak dan Retribusi Daerah Kabupaten/ Kota.
5. Bantuan keuangan dari APBD Provinsi atau Kabupaten.
6. Hibah atau sumbangan dari pihak ketiga yang tidak mengikat.
7. Dari sumber lainnya yang tidak mengikat.
Apa Yang Akan Dilakukan Pada 100 Kabupaten
Prioritas Penanganan Stunting?
Optimalisasi pelaksanaan program GSC tahun 2017 dan perpanjangan tahun 2018 dalam rangka
penanganan stunting paling tidak di 31kabupaten dari 100 kabupaten lokasi prioritas intervensi
stunting. Catatan: Dalam 100 Kabupaten prioritas intervensi stunting, 31 Kabupaten beririsan
dengan lokasi Program GSC yang mana tujuan program ini adalah untuk memberdayakan
masyarakat terutama dari kelompok miskin di perdesaan dalam rangka meningkatkan
penggunaan pelayanan Pendidikan Dasar dan Kesehatan Ibu-Anak

Penguatan Pendamping Desa (PD) dan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) di 100 Kabupaten
prioritas dalam memfasilitasi proses perencanaan desa terutama untuk penyusunan APBDes yang pro
penanganan stunting

Desain penguatan PD, TAPM dan PID dengan menggunakan pembelajaran dan pengalaman pelaksanaan
program GSC dalam pengintegrasian dengan pelaksanaan UU tentang Desa.

Secara umum menyediakan kebijakan dan/atau peraturan penggunaan Dana Desa yang pro
dengan penanganan stunting
PENGGUNAAN DANA DESA

PENANGANAN STUNTING DAN DANA DESA

RAPAT TERBATAS TINGKAT MENTERI TENTANG STUNTING


JAKARTA, 22 NOVEMBER 2017 44
PRIORITAS Penggunaan DANA DESA 2018
Berdasarkan Permendes Nomor 19 Tahun 2017

Pembangunan Desa Pemberdayaan Masyarakat

digunakan untuk membiayai digunakan untuk membiayai program dan


pembangunan Desa yang kegiatan bidang Pemberdayaan
ditujukan untuk meningkatkan Masyarakat Desa yang ditujukan untuk
meningkatkan kapasitas dan kapabilitas
kesejahteraan masyarakat Desa, masyarakat Desa dengan mendayagunakan
peningkatan kualitas hidup potensi dan sumberdayanya sendiri
manusia serta penanggulangan sehingga Desa dapat menghidupi dirinya
kemiskinan secara mandiri

45
KEGIATAN PRIORITAS Penggunaan DANA DESA

PEMBANGUNAN DESA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT


 penyediaan air bersih;
 air bersih berskala Desa;
 pelayanan kesehatan lingkungan;
 sanitasi lingkungan;
 penyediaan makanan sehat untuk
 jambanisasi;
peningkatan gizi bagi balita dan anak
 mandi, cuci, kakus (MCK);
sekolah;
 mobil/kapal motor untuk
 pengelolaan balai pengobatan Desa;
ambulance Desa;
 perawatan kesehatan untuk ibu hamil dan
 alat bantu penyandang disabilitas;
menyusui;
 panti rehabilitasi penyandang
 pengobatan untuk lansia;
disabilitas;
 fasilitasi keluarga berencana;
 balai pengobatan;
 pengelolaan kegiatan rehabilitasi bagi
 posyandu; dan
penyandang disabilitas;
 sarana prasarana kesehatan
 kegiatan pengelolaan pelayanan kesehatan
lainnya yang sesuai dengan
masyarakat Desa lainnya yang sesuai
analisis kebutuhan dan kondisi
dengan analisis kebutuhan dan kondisi
Desa yang diputuskan dalam
Desa yang diputuskan dalam musyawarah 46
musyawarah Desa
Desa
PEMANFAATAN DANA DESA DALAM PENGURANGAN STUNTING
DAN PENINGKATAN KUALITAS LAYANAN KESEHATAN

“DANA DESA DAPAT DIGUNAKAN UNTUK


KEGIATAN PENANGANAN STUNTING
SESUAI MUSYAWARAH DESA”

CONTOH KEGIATAN: 7. Insentif kader kesehatan masyarakat;


1. Pembangunan/rehabilitasi poskesdes, 8. Pembangunan rumah singgah;
polindes dan Posyandu; 9. Pengelolaan Balai Pengobatan Desa;
2. Penyediaan makanan sehat untuk 10. Pengadaan alat-alat kesehatan;
peningkatan gizi balita dan anak; 11. Pengadaan kebutuhan medis (makanan,
3. Perawatan kesehatan untuk ibu hamil dan obat-obatan, vitamin, dan lain-lain);
menyusui; 12. Sosialisasi dan edukasi gerakan hidup bersih
4. Pembangunan sanitasi dan air bersih; dan sehat;
5. Pembangunan MCK; 13. Ambulance desa (Mobil/Kapal Motor).

Sumber: : Kemendes PDT :


Permendesa 22/2016; Permendesa 4/2017 dan Permendesa 19/2017 tentang Prioritas Penggunaan DD Tahun 2018 47
Direktorat Pelayanan Sosial Dasar
Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
Jl. TMP Kalibata No. 17, Jakarta
email: dirpsd2015@gmail.com
TERIMA KASIH

dirpsd2015@gmail.com
gsc.sekret@ymail.com

dirpsd2015@gmail.com