Anda di halaman 1dari 16

Pemeriksaan Penunjang

BBDM 6
1. Tuberculosis Paru
• Pemeriksaan bakteriologi
• Pemeriksaan bakteriologi dari spesimen dahak
dan bahan lain (cairan pleura, liquor
cerebrospinal, bilasan bronkus, bilasan
lambung, kurasan bronkoalveolar /BAL, urin,
faeces dan jaringan biopsi, termasuk BJH)
dapat dilakukan dengan cara:
- Mikroskopik
- Biakan
• Pemeriksaan mikroskopik:
• Mikroskopik biasa : pewarnaan Ziehl-
Nielsen
• Mikroskopik fluoresens: pewarnaan
auramin-rhodamin (khususnya untuk
screening)
lnterpretasi hasil pemeriksaan dahak dari 3 kali
pemeriksaan ialah bila :3 kali positif atau 2 kali
positif, 1 kali negatif ® BTA positif1 kali positif, 2
kali negatif ® ulang BTA 3 kali, kemudianbila 1
kali positif, 2 kali negatif ® BTA positifbila 3 kali
negatif ® BTA negatif
• Skala IUATLD (International Union Against
Tuberculosis and Lung Disease) :
- Tidak ditemukan BTA dalam 100 lapang
pandang, disebut negatif
- Ditemukan 1-9 BTA dalam 100 lapang
pandang, ditulis jumlah kuman yang ditemukan
- Ditemukan 10-99 BTA dalam 100 lapang
pandang disebut + (1+)
- Ditemukan 1-10 BTA dalam 1 lapang pandang,
disebut ++ (2+)
- Ditemukan >10 BTA dalam 1 lapang pandang,
disebut +++ (3+)
• Pemeriksaan biakan kuman:
Pemeriksaan biakan M.tuberculosis dengan
metode konvensional ialah dengan cara:
- Egg base media: Lowenstein-Jensen
(dianjurkan), Ogawa, Kudoh
- Agar base media : Middle brook
Melakukan biakan dimaksudkan untuk
mendapatkan diagnosis pasti, dan dapat
mendeteksi Mycobacterium tuberculosis dan
juga Mycobacterium other than
tuberculosis(MOTT).

Untuk mendeteksi MOTT dapat digunakan


beberapa cara, baik dengan melihat cepatnya
pertumbuhan, menggunakan uji nikotinamid, uji
niasin maupun pencampuran dengan cyanogen
bromide serta melihat pigmen yang timbul
• Pemeriksaan darah
Hasil pemeriksaan darah rutin kurang
menunjukkan indikator yang spesifik untuk
tuberkulosis. Laju endap darah ( LED) jam
pertama dan kedua dapat digunakan sebagai
indikator penyembuhan pasien. LED sering
meningkat pada proses aktif, tetapi laju endap
darah yang normal tidak menyingkirkan
tuberkulosis. Limfositpun kurang spesifik.
2. Bronkopneumonia

• 1. Gambaran darah menunjukkan leukositosis,


biasanya 15.000 – 40.000/ mm3 dengan
pergeseran ke kiri. Jumlah leukosit yang tidak
meningkat berhubungan dengan infeksi virus
atau mycoplasma.
• 2. Nilai Hb biasanya tetap normal atau sedikit
menurun.
• 3. Peningkatan LED (tidak spesifik).
• 4. Kultur dahak dapat positif pada 20 – 50%
penderita yang tidak diobati. Selain kultur
dahak, biakan juga dapat diambil dengan cara
hapusan tenggorok (throat swab). Namun
pada anak kurang berguna.
• 5. Analisa gas darah (AGDA) menunjukkan
hipoksemia dan hiperkarbia. Pada stadium
lanjut dapat terjadi asidosis metabolik.
3. Ca Paru
• 1. Bronkoskopi
• Pemeriksaan ada tidaknya masa intrabronkus
atau perubahan mukosa saluran napas,
seperti terlihat kelainan mukosa tumor
misalnya, berbenjol-benjol, hiperemis, atau
stinosis infiltratif, mudah berdarah. Tampakan
yang abnormal sebaiknya di ikuti dengan
tindakan biopsi tumor/dinding bronkus,
bilasan, sikatan atau kerokan bronkus.
• 2. Biopsi aspirasi jarum
• Apabila biopsi tumor intrabronkial tidak dapat
dilakukan, misalnya karena amat mudah
berdarah, atau apabila mukosa licin berbenjol,
maka sebaiknya dilakukan biopsi aspirasi
jarum, karena bilasan dan biopsi bronkus saja
sering memberikan hasil negatif.
• 3. Sitologi sputum
• Sitologi sputum adalah tindakan diagnostik
yang paling mudah dan murah. Kekurangan
pemeriksaan ini terjadi bila tumor ada di
perifer, penderita batuk kering dan tehnik
pengumpulan dan pengambilan sputum yang
tidak memenuhi syarat. Dengan bantuan
inhalasi NaCl 3% untuk merangsang
pengeluaran sputum dapat ditingkatkan.
• 4. Petanda Tumor
• CEA, Cyfra 21-1, NSE dan lainya tidak dapat
digunakan untuk mendiagnosis tetapi masih
digunakan evaluasi hasil pengobatan.
4. Abses Paru
• 1. Pemeriksaan darah
• Biasanya terdapat leukositosis neutrofil
dengan LED yang meningkat dan protein C
reaktif
(PCR).
• Jika abses kronik, anemia akan munculKetika
abses terjadi berhubungan dengan
pneumonia atau akibat infeksi melalui darah,
organisme yang bertanggung jawab sering
bisa diisolasi dari darah. Pemeriksaan
serologis mungkin memberikan diagnosis
penyakit hidatisoda dan amobiasis.
• 2. Bronkoskopi
• Peranan bronkoskopi dalam menginvestigasi
abses paru adalah untuk mendapatkan
spresimen mikrobiologi dan untuk membantu
menyingkirkan tumor, benda asing dan dd
yang lainnya. Kebanyakan pasien dengan
abses paru menjalani bronkoskopi kecuali
mereka dengan abses blood borne yang
multipel dari bakteri yang tidak diketahui.
Penggunaan bronkoskopi dalam penanganan
abses paru dipertimbangkan kemudian.