Anda di halaman 1dari 23

“STRES”

Aisyah Afnani // 101611133104

Mata Kuliah Lintas Minat Psikologi Kesehatan


FKM UNAIR
2019
Pengertian Stres

Sarafino (1994)
Kondisi yang disebabkan oleh interaksi antara
individu dengan lingkungan, menimbulkan
persepsi jarak antara tuntutan-tuntutan yang
berasal dari situasi yang bersumber pada sistem
biologis, psikologis, dan sosial dari seseorang.
Pengertian Stres

Goliszek (2005)
Suatu respon adaptif individu pada berbagai
tekanan atau tuntutan eksternal dan
menghasilkan berbagai gangguan, meliputi
gangguan fisik, emosional, dan perilaku.
Pengertian Stres

Suatu keadaan hasil proses transaksi antara


manusia dan lingkungan yang bersifat saling
mempengaruhi yang di dalamnya terdapat
kesenjangan antara tuntutan dari luar dan
sumber-sumber yang dimiliki manusia
Pengertian Stres

Ada tiga pendekatan yang digunakan untuk memaknai


istilah stres, yaitu:
– Pendekatan Rekayasa (Engineering Apprroach)

– Pendekatan Medikofisiologis
(Medicophysiological Approach)

– Pendekatan Psikologis (Psycological Approach)


Pendekatan Rekayasa
(Engineering Apprroach)

Karakteristik
lingkungan yang
tidak kondusif

Reaksi
menegangkan
(a strain reaction)
Pendekatan Medikofisiologis
(Medicophysiological Approach)

perubahan
biologis yang
tidak spesifik

kondisi
fisiologi
spesifik
Pendekatan Psikologis
(Psycological Approach)

Hasil interaksi dinamis antara individu dengan


lingkungannya, yang melibatkan kognisi dan
emosi
Sumber Stres (Stresor)
Karakteristik kejadian yang berpotensi untuk dinilai
menciptakan stres (Taylor, 2003)

‐ Kejadian negatif lebih banyak menimbulkan stres


daripada kejadian positif.
‐ Kejadian yang tidak terkontrol dan tidak terprediksi
lebih membuat stres daripada kejadian yang terkontrol dan
terprediksi.
‐ Kejadian "ambigu" sering kali dipandang lebih
mengakibatkan stress daripada kejadian yang jelas.
‐ Manusia yang tugasnya melebihi kapasitas (overload)
lebih mudah mengalami stres daripada individu yang
memiliki tugas sedikit.
Sumber Stres (Stresor)

1. Faktor Internal
2. Faktor Eksternal
Sumber Stres (Stresor)

Yusuf dan Nurihsan, 2006


• Stresor fisikobiologis, misalnya penyakit yang sulit
disembuhkan, cacat fisik atau kurang berfungsinya salah
satu anggota tubuh, dan postur tubuh yang dipersepsi tidak
ideal.
• Stresor psikologis, misalnya berburuk sangka, frustasi
karena gagal memperoleh sesuatu yang diinginkan, hasud,
sikap permusuhan, perasaan cemburu, konflik pribadi, dan
keinginan di luar kemampuan.
• Stresor sosial, misalnya hubungan antar anggota keluarga
yang tidak harmonis, perceraian, pengangguran, kematian,
pemutusan hubungan kerja, kriminalitas, dan lain-lain
Manajemen Stres

Cotton, Smith (dalam Riskha 2012)


Suatu keterampilan yang memungkinkan
seseorang untuk mengantisipasi, mencegah,
mengelola dan memulihkan diri dari stres yang
dirasakan karena adanya ancaman.
Manajemen Stres

Teknik dalam manajemen stres menurut Munandar


• Kerekayasaan Organisasi
• Kerekayasaan Kepribadian
• Teknik Penenangan pikiran
– Meditasi
– Pelatihan Relaksasi Autogenik
– Pelatihan Relaksasi Neuromuscular
• Teknik Penenangan Melalui Aktivitas Fisik
Manajemen Stres

Robbins (2002)

• Pendekatan Individual
• Pendekatan Organisasional
Tahapan Stres

Stres Tahap I
Tahapan paling ringan
– Semangat bekerja besar, berlebihan (over acting)
– Penglihatan “tajam” tidak sebagaimana biasanya
– Merasa mampu menyelesaikan pekerjaan lebih dari
biasanya, namun tanpa disadari cadangan energi
semakin menipis.
Tahapan Stres

Stres Tahap II
– Merasa letih sewaktu bangun pagi yang seharusnya
merasa segar
– Merasa mudah lelah sesudah makan siang
– Lekas merasa lelah menjelang sore hari
– Sering mengeluh lambung/perut tidak nyaman (bowel
discomfort)
– Detakan jantung lebih keras dari biasanya (berdebar-
debar)
– Otot-otot punggung dan tengkuk terasa tegang
– Tidak bisa santai.
Tahapan Stres

Stres Tahap III


– Gangguan lambung dan usus semakin nyata; misalnya
keluhan maag, buang air besar tidak teratur (diare)
– Ketegangan otot-otot semakin terasa
– Perasaan ketidaktenangan dan ketegangan emosional
semakin meningkat
– Gangguan pola tidur (insomnia)
– Koordinasi tubuh terganggu (badan terasa akan jatuh dan
serasa mau pingsan).
Tahapan Stres
Stres Tahap IV
– Untuk bertahan sepanjang hari saja sudah terasa amat sulit
– Aktivitas pekerjaan menjadi membosankan dan terasa lebih
sulit
– Kehilangan kemampuan untuk merespons secara memadai
(adequate)
– Ketidakmampuan melaksanakan kegiatan rutin sehari-hari
– Gangguan pola tidur disertai dengan mimpi-mimpi yang
menegangkan. Seringkali menolak ajakan (negativism)
karena tiada semangat dan kegairahan
– Daya konsentrasi dan daya ingat menurun
– Timbul perasaan ketakutan dan kecemasan yang tidak dapat
dijelaskan apa penyebabnya.
Tahapan Stres

Stres Tahap V
– Kelelahan fisik dan mental yang semakin mendalam
(physical dan psychological exhaustion)
– Ketidakmampuan untuk menyelesaikan pekerjaan
sehari-hari yang ringan dan sederhana
– Gangguan sistem pencernaan semakin berat
(gastrointestinal disorder)
– Timbul perasaan ketakutan, kecemasan yang
semakin meningkat, mudah bingung dan panik.
Tahapan Stres

Stres Tahap VI
– Debaran jantung teramat keras
– Susah bernapas (sesak napas)
– Sekujur badan terasa gemetar, dingin dan keringat
bercucuran
– Ketiadaan tenaga untuk hal-hal yang ringan
– Pingsan atau kolaps (collapse).
TERIMAKASIH
Daftar Pustaka
Ader, R., & Kelley, K. W. 2007. A Global View of Twenty Years of Brain, Behavior, and
Immunity. Brain, Behavior, and Immunity, Vol. 21 hal 1-8.
Ardani, Tristiadi Ardi, dkk. 2007. Psikologi Klinis. Yogyakarta: Graha Ilmu
Arum, Diah, dkk. 2006. Stres dan Koping Perawat Kepribadian Tipe A dan Kepribadian
Tipe B di Ruang Rawat Inap di RS Pringadi Medan. Jurnal Keperawatan Rufaidah
Sumatera Utara.Vol 2 No 1.
Cannon, W. B. 1932. The Wisdom of The Body. New York, NY, US: W W Norton & Co.
Chaplin,J.P. 2008. Kamus Lengkap Psikologi (Revisi ed.). Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.
Evanjeli, A. L. 2012. Hubungan Antara Stres, Somatisasi Dan Kebahagiaan. Laporan
Peneltian (hal. 1-26). Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.
Goliszek, Andrew. 2005. 60 Second Manajemen Stres. Jakarta: PT Buana Ilmu Populer.
Hawari, Dadang. 1997. Al-Qur’an Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa.
Yogyakarta: Dhana Bhakti Prisma Yasa.
Intan, Astari Dian. 2012. Occupational Stress Management with Group Intervention for
Parenting Division in Campus Diakonea Modern (KDM). Tesis
Margiati, L. 1999. Stres Kerja:Latarbetakang Penyebab dan Alternatif Pemecahannya.
Jurnal Masyarakat, Kebudayaan dan Politik.
Daftar Pustaka
Munandar, Ashar Sunyoto. 2001. Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta: Penerbit
Universitas Indonesia (UI-pres).
Nail, Niven. 2000. Editor Monica Ester. Psikologi kesehatan : pengantar untuk
perawat dan profesi kesehatan lain. Edisi 2. Jakarta : EGC.
Preece, K. K. 2011. Relations Among Classroom Support, Academic Self-Efficacy, and
Perceived Stress During Early Adolescence. Department of Psychological and
Social Foundation s (hal. 1-185). Florida: University of South Florida.
Richard, G. (2010). Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Baca.
Riskha, Ariane. 2012. Manajemen Stres Kerja Pada Beberapa Karyawan dan Buruh
Pada PT Monier Tanggerang. Tesis Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
Robbins, Stephen P. 2002. Organizational Behaviour. New Jersey: Prentice Hall, Inc.
Santrock, John W. 2003. Life-Span Development Edisi 5- Jilid II. Jakarta: Erlangga.
Sarafino, E. P. 1994. Health psychology : biopsychosocial interactions (second
edition). New York: John Wiley & Sons.
Sunaryo. 2004. Psikologi Untuk Keperawatan. Jakarta: EGC
Taylor, Shelley E. 2003. Health Psychology (5th Ed.). New York: McGraw Hill.
Yusuf, LN. Syamsu. 2006. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung:
Rosda.