Anda di halaman 1dari 34

FARMAKOEKONOMI

Analisa Keputusan

Kelompok III
• Ade Magdalena (1301001)
• Ayu Apriana Azmilda (1301010)
• Eka Saputri (1301029)
• Elza Miaqsa (1301030)
• Era Fazira (1301031)
• Erenda Yuneistya (1301032)
• Kurnia Ulfa Hardiyanti (1301044)
• Merry (1601076)
• Analisis keputusan  pendekatan sistematik
untuk membuat keputusan dalam keadaan yang
tidak pasti

• Untuk membantu pengambil keputusan


untuk mengidentifikasi beberapa pilihan yang
mungkin
• Memperkirakan konsekuensi dan outcome dari
masing-masing pilihan

• Menilai probabilitas dari outcome yang mungkin


terjadi

• Menetapkan nilai untuk masing-masing


outcome

• Menentukan pilihan keputusan terbaik


 Suatu diagram yang secara sistematis dan
komprehensif menggambarkan hubungan
antara alternatif keputusan/tindakan dengan
kejadian-kejadian tak pasti yang melingkupi
setiap alternatif dan hasil alternatif keputusan
yang dipilih.
 Bertujuan untuk mempermudah penggambaran
keputusan yang dilakukan secara bertahap.
Harus ada di dalam keputusan
Notasi atau Simbol
Menetapkan nilai dari masing-
Identifikasi keputusan,
masing outcome (misalnya
meliputi seleksi pilihan
dalam rupiah, quality-adjusted
keputusan yang akan dikaji
life years atau utility).

Menyusun keputusan dan


konsekuensi dari masing- Menentukan pilihan dengan
masing pilihan keputusan dari perkiraan outcome paling
waktu ke waktu secara tinggi
berurutan

Menilai probabilitas dari


masing-masing konsekuensi Dilakukan analisis sensitivitas
yang akan terjadi
Contoh kasus
• Alphazorin dan omegazorin  antibiotika baru yang efektif untuk bakteri
gram negative yang resisten terhadap beberapa antibiotika.
• Dari uji klinik diketahui 95% kasus septicemia gram negative rentan
terhadap alphazorin dan 88% rentan terhadap omegazorin.
• Meskipun insidensi toksisitas terkait penggunaan omegazorin tinggi,
kadar kedua antibiotika tersebut harus dijaga dalam rentang terapi yang
sempit.
• Efek samping kedua antibiotika tersebut meliputi diare, mual (toksisitas
gastrointestinal), perubahan enzim hepatic (hepatotoksisitas), dan
penghambatan platelet (hematoksisitas).
• Biaya untuk pemberian Alphazorin intravena, yang diberikan setia 8 jam
selama 10 hari sebesar Rp 1.650.000, meliputi biaya langsung terkait
dengan biaya obat dan penyimpanannya, biaya penyiapan Rp 540.000,
dan biaya pemberian Rp 18.000/dosis.
• Omegazorin diberikan setiap 6 jam, dengan besarnya masing-masing
biaya Rp 1.050.000, Rp 720.000, Rp18.000/dosis.
• Meskipun biaya alphazorin lebih tinggi, tetapi efektivitasnya juga lebih
tinggi, dan insidensi toksisitasnya lebih rendah.
a. Identifikasi Keputusan

Tentukan siapa yang


akan mengambil
keputusan dan dari
perspektif mana
keputusan akan
diambil

Keputusan apa
yang akan diambil
dan pilihan apa
saja yang akan
dipertimbangkan

Jangka waktu /
lama konsekuensi
akan dianalisis
b. Siapa yang akan
mengambil keputusan

Untuk menentukan dari perspektif mana


analisis dilakukan.

Analisis keputusan mempertimbangkan biaya


terkait dengan obat, seluruh biaya dari semua
produk dan pelayanan selama periode
perawatan di rumah sakit.

Pada contoh kasus (alphazorin/omegazorin),


dibuat struktur analisis dari perspektif rumah
sakit (komite farmasi dan terapi). Karena
outcome dari kedua antibiotika sebanding,
maka komite farmasi dan terapi harus
menentukan pilihan yang biayanya minimal
bagi rumah sakit
c. Keputusan, Pilihan Keputusan,
dan Kriteria Keputusan

Jika akan
mempertimbangkan
penggunaan obat baru,
maka sebagai pembanding
adalah standar terapi.

Kriteria keputusan yang


ditetapkan terkait dengan
tipe analisis yang akan
dilakukan.
• Pada contoh kasus (alphazorin/omgazorin), proses
analisis keputusan hanya mempertimbangkan biaya.
• Diasumsikan bahwa meskipun efikasi dari kedua
antibiotika berbeda tetapi nilai episode terapi
sebanding.
• Jika organisme resisten terhadap alphazorin
maupun omegazorin, maka terapi diganti
antibiotika betasporin.
• Karena KFT mengasumsikan efektivitas kedua
antibiotika sama, maka tipe analisis yang digunakan
adalah cost minimization analysis, dan hanya biaya
saja yang dipertimbangkan dalam pengukuran
outcome.
• Maka dibuat pohon keputusan dimulai dengan alternative
pilihan.
• Dalam notasi ilmiah dari analisis keputusan, choice node
(simbol kotak) menunjukkan titik waktu dimana pembuat
keputusan memilih satu diantara beberapa pilihan.
• Choice node awal, disebut juga root node, diletakkan di
sebelah kiri dan menunjukkan awal dari pohon keputusan
untuk menentukan pilihan yang mungkin (alphazorin dan
omegazorin), selanjutnya sebagai pangkal dari cabang ke
kanan disebut choice node (Gambar 1).
c. Jangka waktu analisis

Analisis dilakukan selama periode yang terbatas (mislanya


satu minggu, satu bulan, atau satu tahun), namun demikian
jika kondisi pasien bervariasi periode waktunya, maka
dilakukan pendekatan dengan menggunakan lama waktu
terapi.

Pada contoh kasus  analisis keputusan dimulai pada saat


membrikan antibiotika untuk mengatasi septicemia bakteri
gram negative sampai infeksi dinyatakan sembuh.
e. Membuat Pohon Keputusan

1. Membuat struktur keputusan dan konsekuensinya


dari waktu ke waktu

• Pohon keputusan dibuat untuk


mengidentifikasi hubungan antara
pilihan keputusan dan konsekuensi
dari masing-masing pilihan
f. Menilai Probabilitas

• Pada masing-masing chance node, nilai


probabilitasnya sebesar 1.
• Data probabilitas dapat diperoleh dari uji
klinik fase III dari industri farmasi atau dari
sumber lain.
• Jumlah probabilitas semua konsekuensi
dari chance node harus 1, sehingga
konsekuensi harus diidentifikasi untuk
masing-masing chance node
probabilitas pada kasus
g. Menilai Outcome

• Perhitungan outcome ekonomi , nilai moneter


dari obat dan biaya yang terkait dengan obat.
• Biaya obat termasuk harga obat dan biaya penyimpanan
untuk 10 hari pemberian sebesar Rp.1.650.000 untuk
alphrazolin dan Rp.1.050.000 untuk omegazorin.

• Biaya Pemberian obat sebesar Rp.18.000 untuk setiap kali


pemberian Alphazorin diberikan setiap 8 jam selama 10 hari
sehingga total biaya pemberian sebesar Rp.540.000, dan
omegazorin diberikan setiap 6 jam dengan durasi yang sama,
sehingga biaya total pemberian sebesar Rp.720.000.
Lanjutan..
• Jika dilakukan perubahan terapi karena kemungkinan terjadi
resistensi, maka diberikan betasporin secara intravena selam 10
hari, dengan biaya obat Rp.1.800.000 dan biaya terkait dengan
pemberian obat Rp.360.000.

• Biaya yang disebabkan karena pengobatan merupakan biaya


karena respon yang tidak optimal dari pemberian alphazorin dan
omegazorin. Biaya tambahan tersebut sebesar Rp.1.000.000 tiap
tambahan hari rawat inap, biaya test laboratorium
(Rp.75.000/pemeriksaan kadar obat dalam serum, Rp.65.000/test
fungsi hepar, Rp.60.000/jumlah platelet), terapi tambahan
(Rp.360.000/tranfusi Red Blood Cell dan platelet conentrate),
Rp.115.000 tiap kali konsultasi farmakokinetika, dan
Rp.400.000/konsultasi infeksi dan hematologi.
h. Menghitung Biaya Pada Masing-Masing Outcome
Keputusan

• Menggabungkan beberapa pilihan keputusan,


nilai probabilitas, dan nilai outcome untuk
memilih yang paling sesuai.
• Langkah pertama  dengan memotong pohon
keputusan dalam bagian yang lebih kecil.
• Perhitungan dilakukan dari kanan kearah kiri
atau chance node awal.
• Untuk masing-masing chance node nilai
outcome dikalikan probabilitas untuk masing-
masing cabang.
• Pasien dengan gejala gastrointestinal dengan kadar obat
dalam serum diatas COL 80% mengalami toksisitas, dengan
biaya rata-rata sebesar Rp.3.674.000, namun demikian 20%
pasien dengan kadar obat yang tinggi tidak memiliki toksisitas
dan dosisnya akan dikurangi, menghasilkan biaya rata-rata
sebesar Rp.5.083.000 untuk cabang ketiga.
• Untuk menghitung perkiraan biaya pasien dengan gejala
gastrointetinal dan kadar alphazorin diatas COL (node E),
biaya untuk masing-masing outcome dikalikan dengan
probabilitas terjadinya outcome, kemudian hasilnya
ditambahkan, selanjutnya dilakukan perhitungan perkiraan
biaya untuk masing-masing cabang.

(80% x Rp.3.674.000) + (20% x Rp.5.083.000) = Rp.3.956.000


• Pada pasien dengan gejala gastrointestinal dan kadar obat <
COL, 90% gejala tidak terkait dengan obat dan biayanya
sebesar Rp.2.265.000,
• Namun, 10% pasien pada kadar tersebut mengalami
toksisitas terkait obat.
• Dosis pemberian obat tetap diteruskan sehingga akan
meningkatkan toksisitasnya dan memperpanjang hari rawat
inap, dengan rata-rata biaya sebesar Rp.5.158.000.
• Perkiraan biaya pasien dengan gejala gastrointestinal
dimana kadar obatnya dibawah COL (node F) adalah
sebesar:
(10% x Rp.5.158.000) + (90% x Rp.2.265.000) = Rp. 2.554.000
• Selanjutnya, kembali keawal atau kearah kiri dari pohon
keputusan pada cabang  semua pasien mengalami gejala
gastrointestinal.
• Pada simpul cabang berikutnya perkiraan biaya pasien
dengan kadar obat dalam serum diatas dan dibawah COL
dikalikan dengan masing-masing probabilitasnya.
• Probabilitas kadar obat diatas COL adalah sebesar 62%
dengan perkiraan biaya sebesar Rp.3.956.000,
• Sedangkan probabilitas kadar obat dibawah COL sebesar
38% dengan perkiraan biaya sebesar Rp.2.554.000,
sehingga perkiraan biaya seluruh pasien dengan gejala
gastrointestinal (node D) adalah:
(62% x Rp.3.956.000) + (38% x Rp.2.554.000) = Rp.3.423.000
• Proses perhitungan dilanjutkan sampai diperoleh nilai
perkiraan biaya pada dua cabang diawal pohon keputusan
Pada Markov model outcome yang terjadi pada
masing-masing keputusan merupakan kombinasi yang
kompleks dari beberapa kejadian.

Pada beberapa penyakit dan keadaan, dibutuhkan


suatu model dengan outcome yang lebih kompleks
dengan periode follow up yang lebih lama.

Pada analisis ini pasien dapat berpindah bolak-balik


atau mengalami transisi diantara keadaan kesehatan
selama periode waktu tertentu.
Lanjutan..
• Makrov analisis memberikan gambaran
lebih akurat dari skenario yang kompleks
yang terjadi dalam beberapa siklus atau
interval.
Langkah-langkah dalam Membuat Makrov Model

Menentukan status kesehatan yang


menggambarkan outcome yang mungkin dari
masing-masing intervensi

Menentukan transisi yang mungkin diantara


keadaan kesehatan

Menentukan berapa lama untuk masing-


masing siklus dan beberapa siklus yang akan
dianalisis

Memperkirakan probabilitas transisi antara


keadaan kesehatan

Menilai biaya dan outcome untuk masing-


masing pilihan