Anda di halaman 1dari 16

EFEK FOTOGRAFIK DAN MEKANISME

FLUORESENSI
KELOMPOK 2
1. Dwikki Daffa Setiabudi (P1337430117049)
2. Erly Indriani (P1337430117053)
3. Tirta Della Veria (P1337430117055)
4. Galih Tama Ramadhani (P1337430117063)
5. Ayu Budi Warsiti (P1337430117064)
6. Aulia Rosa Fibrianta (P1337430117066)
7. Valerian Setyo Adi Nugroho (P1337430117071)
8. Galang Primadacosta (P1337430117083)
9. Eko Suryono (P1337430117084)
10. Desi Sagita (P1337430117085)
11. Faris Afif (P1337430117088)
1. Definisi Fotografi

Fotografi berasal dari kata “photos” yang berarti cahaya dan “grapho” yang berarti
menulis, mencatat, dan gambar. Bila didefinisikan, fotografi adalah proses pencatatan
bayangan yang menggunakan cahaya pada bahan yang peka cahaya.

Prinsip fotografi adalah memfokuskan cahaya dengan bantuan pembiasan sehingga


mampu membakar medium penangkap cahaya. Medium yang telah dibakar dengan ukuran
luminitas cahaya yang tepat akan menghasilkan bayangan identik dengan cahaya yang
memasuki medium pembiasan (selanjutnya disebut lensa).

Fotografi dalam proses pembentukan gambarnya sangat bergantung kepada cahaya


tampak. Kualitas gambaran yang dihasilkan ditentukan oleh kualitas cahaya yang
dimanfaatkan untuk proses terjadinya gambar. Untuk memperlihatkan semua jenis warna
dan bentuk dari sebuah obyek dengan jelas, maka dibutuhkan pencahayaan yang cukup
terang. Jika tidak, warna yang dihasilkan tidak terlalu muncul dan obyek yang diinginkan
juga tidak terlihat jelas.
2. Komponen Dalam Fotografi

1. Kamera, sebuah alat yg digunakan untuk menangkap bayangan dari sebuah obyek yag
dikenai cahaya. Terdiri dari:
a) Lensa, sebuah alat yg terbuat dari gelas yg berbentuk cembung yang berfungsi
menangkap gambar yg telah dikenai cahaya.
b) Diafragma, berada di belakang lensa mata yang berfungsi menyaring cahaya yg masuk ke
film. Semakin kecil angka diafragma, semakin banyak cahaya yg diloloskanmenuju film.
c) Tempat meletakkan film, berada dibelakang kamera dan harus kedap cahaya.
2. Film Fotografi, terbuat dari AgBr (perak bromida) yg sangat sensitif cahaya tampak, OKI
film hanya boleh mendapatkan cahaya yg masuk dari lensa stlh sebelumnya melalui
diafragma sbg pengatur besar kecilnya cahaya yg diloloskan.
3. Cahaya Tambahan (Blitz), diperlukan apabila obyek yg akan diambil gambarnya memiliki
sedikit cahaya.
4. Prosessing
3. Proses Pembentukan Fotografi

Dalam proses pembentukan bayangan positif ada beberapa cara yaitu:


a) Prosessing dari gambaran negatif ke positif dengan menggunakan sinar lagi.
b) Disertai positif material yaitu langsung menggunakan film positif (film khusus) dengan
prosessing secara biasa dari gambaran positif dapat di buat lagi gambaran yang sama
dengan duplicating film.
c) Reversal development yaitu gambaran di buat dengan negatif dan prosessingnya secara
khusus sehingga dapat menghasilkan gambaran positif.Dalam sinematografi selain
menggunakan cara 2 dapat juga menggunakan cara 3.
d) Image transfer system yaitu mentransfer gambaran negatif dengan sistem difusi(diffution
transfer reversal system.
4. Efek Fotografik Pada Sinar-X

1. Sinar-X dapat menghitamkan emulsi film (Emulsi perak bromida) setelah diproses
secara kimiawi (dibangkitkan di kamar gelap).
2. Fungsi proses pembangkitan adalah membangkitkan bayangan laten menjadi
bayangan nyata dengan cara mereduksi AgBr yang terkena Sinar-X menjadi perak
metalik.
5. Proses Pembentukan Bayangan Laten

a. Ion Bromine menyerap foton sinar-x atau cahaya, dan mengeluarkan sebuah elektron.
Elektron yang terlempar ditangkap oleh bintik kepekaan. Sehingga bintik kepekaan
bermuatan negative. Sensitivity speck (yang bermuatan negatif) menarik ion bebas Ag.
Ion Ag akan menetralisir bintik kepekaan sehingga terbentuk atom perak Ag. Proses
yang berulang-ulang akan terkumpul banyak atom perak pada bintik kepekaan.

b. Pembentukan bayangan laten terjadi didalam lattice, selanjutnya dengan mobilitas


yang tinggi akan menuju atau ditangkap oleh elektron trap (bintik kepekaan).
Fluorosensi
1. Luminensi

Luminisensi adalah peristiwa keluarnya cahaya oleh suatu bahan tertentu yang
disebabkan atom bahan tersebut mengalami eksitasi. Peristiwa terjadinya pancaran
cahaya dari suatu bahan apabila bahan tersebut terkena radiasi.

Efek Luminisensi terbagi menjadi 2 jenis, yaitu:


1. Efek Fluoresensi
2. Efek Fosforesensi

Berikut urutan skema Luminisensi:


1. Luminisensi mengenai elektron kulit terluar
2. Ketika bahan material luminisensi distimulasi elektron kulit terluar akan
tereksitasi pada level energi tertentu sehingga ada beberapa yang berpindah dari
nucleus
3. Karena elektron tereksitasi hal ini menyebabkan hole (lubang) dikulit elektron terluar
(Kondisi tidak stabil untuk atom)
4. Hole akan terisi ketika elektron tereksitasi kembali ke keadaan normal
5. Transisi ini disertai dengan emisi energi Elektromagnetik dalam bentuk foton cahaya
6. Energi yang diperlukan untuk mencapai pada keadaan tereksitasi = keadaan ketika
elektron kembali ke keadaan normal
7. Rentang Energi tereksitasi dari elektron kulit terluar sempit
8. Keadaan ini tergantung pada struktur bahan luminisensi
9. Panjang gelombang bergantung: tingkat eksitasi yang elektron capai dan karakteristik dari
bahan luminisensi tertentu (karakteristik warna)
2. Pengertian Fluorosensi

Fluorosensi adalah pendaran cahaya yang dihasilkan dari penyerapan energi radiasi
yang mempunyai panjang gelombang lebih pendek. Pendaraan cahaya akan berhenti
setelah 10-8 detik setelah sumber energinya berhenti. Namun karena sangat singkat
waktunya, mata manusia akan melihat seolah-olah pendarannya terjadi selama energi
radiasi diberikan dan pendarannya akan berhenti jika energi radiasi dihentikan. Pendaran
jenis ini sangat diperlukan untuk membuat gambaran, karena gambaran yang akan dibuat
bisa diprediksikan tingkat kehitamannya seperti apa. Pendaran jenis ini yang digunakan
sebagai syarat untuk intensifying screen.

Fluoresensi dapat didefinisikan juga sebagai proses pemancaran radiasi cahaya oleh
suatu materi setelah tereksitasi oleh berkas cahaya berenergi tinggi. Emisi cahaya terjadi
karena proses absorbsi cahaya oleh atom yang mengakibatkan keadaan atom tereksitasi
a. Eksitasi filter
Foton dengan energi hƲEX ditembakkan dari sumber energi eksternal seperti lampu
pijar atau laser yang kemudian diserap oleh fluorophore sehingga elektronnya
tereksitasi ke tingkat energi eksitasi (S1).
b. Dikromatik mirror
Molekul yang telah tereksitasi secara cepat rileks ke level energi vibrasi yang paling
rendah dari S1’ yaitu S1 akibat disisipasi energi. Proses ini disebut konversi internal,
secara umum terjadi selama kurang dari 10-12 Untuk elektron yang tereksitasi ke
S2’ dan seterusnya, elektron juga akan segera dengan cepat rileks ke keadaan S1’,
dan emisi tetap terjadi pada keadaan energi vibrasi terendah S1.s Emisi fluoresensi
merupakan akibat dari keseimbangan termal tingkat eksitasi, yaitupada level
energi vibrasi yang paling rendah . Tetapi tidak semua molekul yang tereksitasi
kembali ke groundstate dengan memancarkan fluoresensi, seperti collisional
quenching yang tidak memiliki tahap konversi internal.
c. Emisi
Ketika fluorophore kembali ke groundstate (S0), ia akan memancarkan foton
berenergi hƲEM yaitu sesuai dengan berbedaan energi antara S1 dan S0. Karena
adanya pengurangan energi pada tahap 2 maka foton yang diemisikan hƲEM
memiliki energi yang lebih kecil dan panjang gelombang yang lebih besar daripada
foton yang diserap hƲEX , sehingga spektrum emisi fluoresensi tidak tergantung
panjang gelombang eksitasi. Perbedaan energi eksitasi dan emisi (hƲEX – hƲEM
Intensitas emisi fluoresensi sebanding dengan amplitudo spektrum eksitasi, tetapi
panjang gelombang emisi tidak bergantung pada panjang gelombang eksitasi.
3. Mekanisme Fluorosensi

Fenomena fluorosensi terjadi manakala sebuah molekul menyerap suatu cahaya yang
memiliki energy tinggi, sehingga akibatnya elektron dari molekul itu tereksitasi ke tingkat
energi yang lebih tinggi dibandingkan tingkat ground (ground state). Elektron yang
tereksitasi ke tingkat energy yang tinggi itu kemudian akan melepaskan sebagian energy yang
tadi diperolehnya dan akan berada dalam keadaan relaksasi. Setelah itu, electron akan
kembali ke ground state sambil memancarkan cahaya. Nah, cahaya yang dipancarkan oleh
electron yang kembali ke ground state itu memiliki energy yang lebih rendah dibandingkan
dengan cahaya yang diabsorbsi. Selisih energi itu, yaitu energy yang diserap dan energy yang
dipancarkan, disebut dengan Stokes shift. Oleh karena itu, jika cahaya yang diserap
berwarna hijau, maka tidak mungkin suatu molekul berfluoresensi dengan memancarkan
cahaya biru atau ungu, karena warna biru atau ungu memiliki energy yang lebih tinggi
ketimbang warna hijau.
Salah satu penerapan prinsip fluoresensi dalam kehidupan sehari-hari adalah saat
memeriksa keaslian lembaran uang. Pada umumnya, di berbagai kasir terdapat alat
pendeteksi uang palsu yang menggunakan prinsip fluoresensi. Alat tersebut dilengkapi
oleh lampu UV ( lectr tinggi) yang akan digunakan untuk menyinari uang yang
diperiksa. Jika uang itu asli, maka akan tampak tanda (watermark) pada uang itu yang
berfluoresensi memberikan sinar berwarna biru (energinya lebih rendah dibandingkan
sinar ultraviolet).

4. Prinsip Fluorosensi

1. Proses absorpsi
2. Waktu relaksi
3. Pengaruh saringan dalam
4. Pemadaman
5. Kepekaan
5. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Fluorosensi

a. Suhu
1. EF berkurang pada suhu yang dinaikkan
2. Kenaikan suhu menyebabkan tabrakan antar mol atau dengan mol pelarut
3. Energi akan dipancarkan sebagai sinar fluoresensi diubah menjadi bentuk lain
misal : EC
b. Pelarut
1. Dalam pelarut polar intensitas fluoresensi bertambah,
2. Jika pelarut yang digunakan mengandung atom-atom yang berat (CBr4, C2H5I)
maka intensitas fluoresensi berkurang, sebab ada interaksi gerakan spin
dengan gerakan orbital lectron ikatan  mempercepat LAS maka intensitas
menjadi berkurang.
c. Ph mempengaruhi keseimbangan bentuk molekul dan ionic
d. Adanya oksigen terlarut dalam larutan cuplikan menyebabkan intensitas fluoresensi
berkurang sebab oksigen terlarut oleh pengaruh cahaya dapat mengoksidasi
senyawa yang diperiksa dan oksigen mempermudah LAS
e. Kekakuan struktur (structural rigidity) Struktur yang rigid (kaku) mempunyai
intensitas yang tinggi
TERIMAKASIH