Anda di halaman 1dari 26

Teknik-teknik Radiografi

Prinsip Dasar Shadow Casting


1. Focal spot (sumber radiasi) harus sekecil
mungkin
2. Jarak focal spot-objek harus sejauh mungkin
3. Jarang objek-film harus sedekat mungkin
4. Axis panjang dari objek dan dataran film harus
paralel
5. Sinar x-ray harus mengenai objek dan dataran
film pada sudut yang benar
6. Tidak boleh ada pergerakan dari tube, film, atau
pasien selama exposure
Radiografi Intraoral
• Periapikal
• Bite wing
• Oklusal
Periapikal
• Indikasi
– Deteksi infeksi/inflamasi apikal
– Penilaian kondisi periodontal
– Setelah adanya trauma untuk memeriksa gigi dan tulang
alveolar
– Pemeriksaan keberadaan dan posisi gigi yang belum erupsi
– Penilaian morfologi akar gigi sebelum ekstraksi
– Saat terapi endodontik
– Penilaian pre-operatif dan post-operatif dari operasi apikal
– Evaluasi mendetail dari kista apikal dan lesi lain dalam
tulang alveolar
– Penilaian posisi dan prognosis implan
• Terdapat dua teknik dalam radiografi
periapikal :
– Teknik Paralleling atau Right Angle atau Long Cone
(memenuhi prinsip dasar shadow casting nomor
1,2,4,5 dan 6)
– Teknik Bisecting Angle atau Short Cone
(memenuhi prinsi nomor 1,3, dan 6)
Teknik Paralleling
• Film x-ray dijaga agar paralel terhadap sumbu
panjang gigi dan sinar utama x-ray diarahkan
pada sudut yang tepat terhadap gigi dan film.
• Untuk mendapatkan paralelisme antara film dan gigi, film
harus diletakkan menjauhi gigi dan menuju daerah tengah
rongga mulut
• Namun karena hal ini, gambar bisa menjadi lebih besar dan
detail menjadi berkurang
• Untuk kompensasi pembesaran gamber, jarak film target
juga harus ditingkatkan untuk memastikan bahwa hanya
sinar yang paling paralel yang akan diarahkan terhadap gigi
dan film
• Karenanya, jarak film target yang panjang (16 inci) harus
digunakan dengan teknik ini. Sehingga teknik ini juga
disebut teknik Long Cone.
• Teknik ini juga membutuhkan film holder
Peletakan Film
• Bagian putih film selalu menghadap gigi
• Film ketika digunakna untuk gigi anterior selalu diletakkan secara vertikal
• Film ketika digunakan untuk gigi posterior selalu diletakkan secara
horizontal
• Dot identifikasi pada film selalu diletakkan pada slot di film holder, atau
terhadap ujung oklusal film
• Ketika meletakkan film dalam mulut selalu dimulai dengan ujung apikal
film dan rotasi film holder
• Ketika meletakkan film holder, selalu letakkan film menjauhi gigi dan ke
arah tengah rongga mulut
• Ketika memposisikan film holder, selalu menengahkan film ke area atau
gigi yang akan diperiksa
• Ketika memposisikan film holder, instruksikan pasien untuk “perlahan
menutup” pada bite block, dan pastikan bahwa bite block distabilisasi oleh
gigi dna bukan bibir
Posisi pasien
• Jelaskan pada pasien mengenai prosedur sebelum memulai
• Atur tempat duduk sehingga pasien diposisikan tegak.
Tinggi kursi harus diatur agar berada pada ketinggian kerja
yang nyaman bagi operator
• Kepala pasien harus diposisikan sehingga oklusal plane
rahang atas paralel terhadap lantai dan midline plane
perpendikular terhadap lantai
• Pasang apron dan thyroid collar timbal pada pasien
• Ambil semua objek dari dalam mulut (contohnya dentures,
retainer, permen karet, dst), yang dapat mengganggu
exposure film. Kaca mata harus diambil juga
Keuntungan dan kerugian
Keuntungan Kerugian
• Akurat • Sulitnya meletakkan film
• Simpel • Pasien merasa tidak nyaman
• Mudah distandarisasi dan
diduplikasi
Teknik Bisecting
• Berdasarkan prinsip geometri yang dikenal
dengan nama ‘the rule of isometry’, yang
menyatakan bahwa dua segitiga sama jika
memiliki dua sudut yang sama dan satu sisi yang
sama.
• Film diletakkan sepanjang permukaan lingual gigi
dan di poin di mana film menyentuh gigi, dataran
film dan sumbu panjang gigi membentuk sudut.
• Dalam teknik ini dapat digunakan film holder,
atau jari pasien untuk memposisikan dan
stabilisasi film
Peletakan film
• Bagian putih film selalu menghadap gigi
• Film anterior diletakkan secara vertikal
• Film posterior diletakkan secara horizontal
• Ujung insisal atau oklusal film harus melewati sekitar
seperdelapan inci dari permukaan insisal atau oklusal
gigi
• Ketika memposisikan gigi, film berada di tengah area
atau gigi yang akan diperiksa
• Ketika memposisikan jari pasien untuk menstabilisasi
film, intruksikan pasien untuk menekan ‘pelan’
terhadap permukaan lingual/palatal gigi
Posisi pasien
• Sama seperti teknik paralleling
Keuntungan dan kerugian
Keuntungan Kerugian
• Dapat digunakan tanpa film • Distorsi gamabr
• Masalah angulasi
holder • Terjadi overlapping mahkota dan akar
• Posisi cukup nyaman, simpel • Membutuhkan skills untuk menentukan
dan cepat sudut horizontal dna vertikal bagi tiap pasien
• Pasien dapat menggerakkan film dengan
• Waktu exposure berkurang jarinya sehingga film menjadi tak akurat

• Jika semua angulasi benar, Ketika pasien memegang filmnya, tangan
pasien terekspos pada sinar x-ray
gambar yang dihasilkan akan • Ketinggian tulang periodontal tidak terlihat
sama dengan gigi asli dan baik
cukup bagi kebanyakan tujuan • Bayangan tulang zygomatic seringkali
menutupi akar molar atas
diagnostik • Akar bukal premolar dan molar tampak
• Tidak butuh sterilisasi holder pendek
• Mahkota gigi seringkali terdistorsi
karena tidak digunakan • Sulit mendapatkan gambar yang serupa jika
diulang
Bite wing
• Digunakan untuk memeriksa permukaan interproksimal gigi

• Prinsip
– Film diletakkan dalam mulut paralel terhadap mahkota baik gigi rahang atas
maupun rahang bawah
– Film distabilisasi ketika pasien menggigit bite wing tab dari film holder bite
wing
– Sinar utama x-ray diarahkan melalui kontak gigi dengan angulasi vertikal +10°

• Indikasi
– Deteksi karies interproksimal
– Monitoring perkembangan karies dental
– Evaluasi kondisi periodontal
– Berguna untuk mengevaluasi alveolar bone crest dan perubahan dalam
ketinggian tulang berdasarkan gigi sebelahnya
– Untuk mendeteksi kalkulus di area interproksimal
Posisi Indicating Device dan angulasi
Oklusal
• Teknik digunakan untuk memeriksa area luas
pada rahang atas dan bawah. Palatum dan
dasar mulut juga dapat diperiksa.
• Biasa digunakan sebagai teknik tambahan
terhadap periapikal atau bite wing
Indikasi
• Menentukan akar yang tertinggal dari gigi yang diekstraksi
• Menentukan gigi supernumerari, tidak erupsi, atau impaksi
• Menemukan benda asing di maksila dan mandibula
• Menemukan batu saliva pada saluran kelenjar submandibular
• Menemukan dan mengevaluasi luasnya lesi pada maksila dna
mandibula
• Mengevaluasi batas sinus maksilaris
• Mengevaluasi fraktur maksila dna mandibuka
• Membantu pemeirksaan pasien yang tidak dapat membuka mulut
atau pasien yang tak mampu mentoleransi film periapikal
• Memeriksa cleft palate
• Mengukur perubahan ukuran dan bentuk maksila dna mandibula
• Sebagai midline view, ketika menggunakan metode parallel untuk
emnentukan posisi buko/palatal kaninus belum erupsi