Anda di halaman 1dari 31

PSIKOSIS AKUT LIR-SKIZOFRENIA

Oleh:
AMELIA MAHMUDAH
(712016059)

Pembimbing:
dr. Abdullah Shahab, Sp. KJ, MARS

DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN JIWA


RUMAH SAKIT DR. ERNALDI BAHAR
PROVINSI SUMATERA SELATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG
2018
IDENTIFIKASI PENDERITA
Nama : Tn. S
Usia : 24 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Status Perkawinan : Belum menikah
Suku / Bangsa : Melayu / Indonesia
Pendidikan : Tidak Tamat SD
Pekerjaan : Tidak Bekerja
Agama : Islam
Alamat :13 Ulu, Sebrang Ulu II, Palembang
Datang ke RS : Rabu, 19 Desember 2018, Pukul 15:10 WIB
Cara ke RS : Diantar keluarga menggunakan mobil
Tempat Pemeriksaan : Instalasi Gawat Darurat RS. Dr. Ernaldi
Bahar Palembang.
RIWAYAT PSIKIATRI
 Sebab Utama

Pasien mengamuk

Riwayat Perjalanan Penyakit

Alloanamnesis

Pasien datang ke Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Ernaldi Bahar


dibawa keluarga karena mengamuk dan mengancam mengambil senjata
tajam serta melempar barang. Keluarga mengatakan pasien mulai mudah
marah apabila kehendaknya tidak dituruti. Pasien sering mengira ada
orang yang menjelekkan dirinya. Keluarga juga mengatakan pasien
sering berbicara sendiri, pasien sering keluyuran dan mandi di sungai.
Keluarga mengatakan pasien terkadang melakukan gerakan seperti
superhero. Pasien tidur tidak teratur, sekitar 1-2 jam. Pasien mandi, BAB
dan BAK masih di kamar mandi. Pasien tidak ada niat untuk bunuh diri.
±3 hari sebelum masuk rumah sakit (SMRS) pasien
mengamuk dan mengancam mengambil senjata tajam
karena terganggu dengan orang yang tidak bisa dilihat
oleh orang lain. Pasien juga tidak bisa diam, pasien sering
mondar mandir dan kadang sampai keluar rumah tetapi
pasien tetap pulang kerumah. Pasien juga terlihat semakin
gelisah. Pasien melempar barang yang ada didekatnya jika
sedang marah. Pasien juga mudah marah tanpa sebab
yang jelas. Pasien terkadang melakukan gerakan seperti
seorang superhero. Pasien hanya tidur 1-2 jam.
± 1 minggu yang lalu keluarga mengatakan pasien terlihat
sangat gelisah dan sering mondar mandir serta terkadang
pergi keluar rumah. Pasien juga sering berbicara sendiri.
Keluarga mengatakan bahwa pasien masih sering mandi
kesungai. Pasien juga sering marah kepada orang tua
karena sering melarang pasien keluar rumah. Pasien
melempar barang, piring atau gelas jika pasien sedang
marah. Pasien tidur hanya 1-2 jam dan sering bangun
pada malam hari dan tidak tidur lagi, terkadang pasien
tidak tidur sama sekali.
± 2 minggu yang lalu pasien mulai terlihat gelisah dan
berbicara sendiri. Keluarga mengatakan pasien sering marah-
marah kepada orang lain yang tidak terlihat oleh keluarganya.
Pasien menjadi mudah marah jika kehendaknya tidak dituruti
dan mudah tersinggung dengan orang lain. Pasien berkata pada
ibunya jika ada orang yang menjelekkan dan membencinya.
Pasien terlihat mondar mandir, pergi keluar rumah dan mandi
kesungai. Pasien bisa tidur tetapi sering bangun pada malam
hari dan tidak tidur lagi. Keluarga mengatakan bahwa pasien
bekerja sebagai buruh di pasar 16, tetapi dalam 1 bulan ini
pasien tidak mau bekerja dan tidak mau keluar rumah. Pasien
hanya bermain games mobile legent di hp. Pasien menjadi lebih
pendiam dan mengurangi interaksi dengan orang lain.
Autoanamnesis

Pasien mengatakan bahwa ada orang yang membencinya dan


menjelekkannya. Pasien mengatakan sering mendengar bisikan
yang mengomentari apa yang dilakukannya, bisikan tersebut
sering mengomentari permainan yang dilakukan pasien
sehingga membuat pasien kesal dan marah. Pasien mengatakan
bahwa bisikan tersebut terkadang membuatnya kesal dan
melempar barang yang ada didekatnya karena merasa emosi.
Pasien juga merasa akhir-akhir ini mudah emosi. Pasien juga
mengatakan sering mandi kesungai karena pasien adalah
pemimpin dari buaya dan binatang lainnya dan pasien
mengatakan bahwa binatang itu tunduk kepadanya. Pasien
merasa dirinya adalah superhero.
RIWAYAT PENYAKIT SEBELUMNYA

Riwayat Gangguan Psikiatrik Sebelumnya


Tidak ada

Riwayat Kondisi Medis Umum


1. Riwayat trauma kapitis tidak ada
2. Riwayat kejang tidak ada
3. Riwayat demam tinggi tidak ada
4. Riwayat asma tidak ada
5. Riwayat diabetes mellitus tidak ada
6. Riwayat stroke tidak ada
7. Riwayat alergi tidak ada
8. Riwayat hiper/hipotiroid tidak ada
Penggunaan Zat Psikoaktif

Pasien tidak pernah menggunakan zat psikoaktif

Pasien tidak pernah mengkonsumsi minuman beralkohol.


Timeline Perjalanan Penyakit Pasien
RIWAYAT KEHIDUPAN PRIBADI
Riwayat Premorbid
1. Bayi : Pasien lahir normal spontan, cukup bulan, ditolong
oleh bidan.
2. Anak : Menurut keluarga, pasien tidak pernah mengalami
kejang demam tinggi. Pasien termasuk anak yang
pendiam
3. Remaja : Menurut keluarga, pasien pendiam, pemalu, jarang
bermain keluar rumah, pasien tidak memiliki teman
dekat
4. Dewasa : Menurut keluarga, pasien pendiam, pemalu, pasien
juga tidak memiliki teman dekat, pasien sering
menghabiskan waktu dengan bermain games
Situasi Hidup Sekarang
Pasien pernah bekerja sebagai buruh di pasar 16, tetapi 1 bulan terakhir pasien
tidak bekerja, tidak keluar rumah dan banyak menghabiskan waktu dengan
bermain games. Pasien tinggal dengan ayah, ibu dan 4 orang adik kandungnya,
kehidupan ekonomi pasien menengah kebawah
Riwayat Keluarga

Riwayat keluarga dengan gejala penyakit yang sama


disangkal.
Riwayat Pendidikan
Keluarga pasien mengatakan, pasien hanya sekolah sampai SD kelas 4 dan
setelah itu pasien tidak sekolah lagi.
Riwayat Pekerjaan
Pasien pernah bekerja sebagai buruh tetapi beberapa bulan terakhir pasien tidak
bekerja lagi.
Riwayat Pernikahan
Pasien belum pernah menikah
Agama
Pasien beragama Islam
Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien tinggal dengan ayah, ibu dan 4 adik kandungnya. Dengan status ekonomi
menegah kebawah. Penghasilan berasal dari ayah dan ibu sebagai pedagang
keliling.
Riwayat Pelanggaran Hukum
Pasien belum pernah berurusan dengan pihak berwajib.
PEMERIKSAAN STATUS MENTAL
Deskripsi Umum
Penampilan
Pasien berjenis kelamin laki-laki, berusia 24 tahun,
pada saat datang ke IGD pasien menggunakan baju kaos
pendek berwarna hitam dan kuning, celana panjang berwarna
biru, serta menggunakan topi berwarna abu-abu. Perawatan
diri bersih, penampilan sesuai.
Perilaku dan aktivitas psikomotor
Pasien gelisah, perhatian baik
Sikap terhadap pemeriksa
Kontak dengan pemeriksa ada, pasien awal
pemeriksaan pasien kurang kooperatif terhadap pemeriksa
tetapi selanjutnya pasien kooperatif
Mood dan Afek
Mood : Distimik
Afek : Serasi
Pembicaraan
Spontanitas : Spontan
Kualitas : Baik
Kuantitas : Kurang
Gangguan Persepsi
Halusinasi dan ilusi :
- Halusinasi auditorik ada → suara yang mengomentari tentang
permainan bola yang dilakukan pasien, dan suara buaya dan
binatang disungai yang takut kepadanya.
- Halusinasi visual ada  saat pasien disungai, pasien melihat
buaya
- Depersonalisasi dan derealisasi tidak ada.
 Pikiran

 Proses dan bentuk pikiran : asosiasi longgar


 Kontinuitas : kontinu
 Hendaya berbahasa : tidak ada

 Isi Pikiran
 Bentuk fikir : Koheren
 Gangguan isi pikiran :
 Waham kebesaran (delusion of Grandiosty): pasien merasa dirinya
superhero dan merasa dirinya adalah pemimpin dari bintang yang
ada di sungai
 Waham rujukan ada : Pasien mengatakan pada ibunya jika ada
orang yang menjelekkan dan membencinya
 Kesadaran dan Kognisi
 Tingkat kesadaran : Compos Mentis
 Orientasi :
 Waktu : Baik
 Tempat : Baik
 Orang : Baik
 Daya Ingat : Baik
 Konsentrasi dan Perhatian : Baik
 Kemampuan membaca dan menulis : Pasien dapat membaca
 Kemampuan visuospasial : Pasien dapat
menjelaskan
perjalanan dari rumah ke
IGD.
 Kemampuan menolong diri sendiri : Baik. Pasien bisa makan,
minum dan mandi
dengan mandiri
 Pengendalian Impuls
Pada saat dilakukan tanya jawab pasien tampak
gelisah dan tidak terdapat gerakan involunter

 Daya Nilai
1. Penilaian realita : RTA terganggu
2. Tilikan : Derajat 1, pasien
menyangkal ataupun sama
sekali tidak merasa sakit
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH
LANJUT
 Status Internus

 Kesadaran : Compos Mentis Terganggu

 Tanda Vital : TD: 145/80 mmHg, N: 111 x/menit, RR: 20 x/menit,

 T: 36,9 oC

 Kepala : Normocephali, Konjungtiva palpebra anemis (-),

 Sklera ikterik (-), mulut kering (-), mata cekung (-).

 Thorax : tampak hipertrofi scar di thorax anterior, multiple, dengan

 ukuran 1-3 cm x 2-3,5 cm dengan tinggi 0,2-0.3 cm

 BJ I dan II Normal, Gallop (-), Murmur (-), Vesikuler

 normal (+), Wheezing (-), Ronkhi (-).

 Abdomen : datar, lemas, nyeri tekan epigastrium (-), BU (+) normal

 Pembesaran hepar dan lien (-).

 Ekstremitas : hangat, edema (-), sianosis (-), CRT < 2 detik.


 Status Neurologikus

 GCS : 15

 E : membuka mata spontan (4)

 V : bicara spontan (5)

 M : gerakan sesuai perintah (6)

 Fungsi sensorik tidak terganggu.

 Fungsi Motorik tidak terganggu.

 Refleks fisiologis normal.

 Refleks patologis tidak ditemukan.

 Tidak ditemukan gejala Ekstrapiramidal sindrom.


DIAGNOSIS MULTIAKSIAL
Aksis I : F23.3 Psikosis Lir Skizofrenia

Aksis II : Ciri Kepribadian Skizoid

Aksis III : Tidak ada diagnosis

Aksis IV : Masalah dengan lingkungan sosial

Aksis V : GAF 50
PROGNOSIS
 Quo ad Vitam : dubia ad bonam

 Quo ad Functionam : dubia ad bonam

 Quo ad Sanationam : dubia ad bonam


RENCANA PENATALAKSANAAN

Psikofarmaka
- Resperidon 2 x 2mg
Psikoterapi
 Terhadap Penderita
 Memberikan psikoterapi edukatif, yaitu memberikan informasi
dan edukasi tentang penyakit yang diderita, faktor risiko, gejala,
faktor penyebab (stressor), cara pengobatan, prognosis dan
risiko kekambuhan agar pasien tetap taat minum obat dan
segera datang ke dokter bila gejala serupa muncul dikemudian
hari serta danya efek samping obat.
 Memberikan psikoterapi suportif, yaitu memberikan intervensi
langsung dan dukungan untuk meningkatkan rasa percaya diri
individu, perbaikan fungsi sosial.
 Terhadap Keluarga
 Informasi dan edukasi mengenai penyakit yang diderita pasien.
 Meminta keluarga untuk mendukung pasien, mengajak pasien
berinteraksi dan beraktivitas serta membantu hubungan sosial
pasien ketika pasien sudah kembali ke rumah.
BAB II
DISKUSI
Pada kasus ini, pasien berinisal Tn.S, seorang laki-
laki berusia 24 tahun. Dari hasil autoanamnesis dan
alloanamnesis di dapati bahwa pasien mengalami
perubahan perilaku yang dimulai sejak ± 2 minggu yang
lalu (sekitar tanggal & desember 2018) dengan stressor
yang tidak dapat ditentukan. Pasien dibawa ke IGD RS
Ernaldi Bahar karena mengamuk. Dari hasil anamnesis
dan pemeriksaan pada pasien, pasien didiagnosis psikotik
akut lir-Skizofrenia.
Psikosis merupakan ketidakmampuan untuk
membedakan kenyataan dan khayalan, ujian realitas terganggu
disertasi pembentukan realitas baru. Waham dan halusinasi
termasuk kedalam gejala psikotik.1 Urutan prioritas yang
dipakai dalam mennetukan psikotikk akut yang dipakai ialah
onset yang akut (2 minggu) sebagai ciri khas yang menentukan
seluruh kelompok, adanya sindrom yang khas, atau adanya
stress akut yang terkait. Onset akut didefinisikan sebagai suatu
perubahan dari tanpa gejala psikotik ke keadaan psikotik yang
jelas yang terjadi dalam kurun waktu 2 mingu atau
kurang.sindrom yang khas dapat disebut juga polimorfik
yaituadanya keadaan yang beraneka ragam dan berubah cepat.
Stress akut yang terkait tersebut berarti bahwa gejala psikotik
yang pertama terjadi dalam waktu 2 minggu sesudah satu
kejadian atau lebih yang dianggap menekan bagi kebanyakan
orang.
Pada pedoman diagnostic tidak ada gangguan pada
kelompok ini yang memenuhi kriteria untuk episode manik
(F30) dan depresif (F32), walapun perubahan emosional dan
gejala afektif dapat menonjol. Gangguan ini juga harus
dipastikan bukan karena penyebab organuk seperti trauma
kapitis, delirium atau dimensia. Demikian juga tidak boleh
terdapat intoksikasi yang jelas karena obat-obatan dan alcohol.
Penting untuk dinilai bahwa kriteria 2 minggu tidak diajukan
sebagai jangka waktu terjadinya kepaahan dan gangguan yang
maksimal, tetapi sebagai jangka waktu gejala psikotik menjadi
nyata dan mengganggu sedeikitnya beberapa aspek kehidupan
dan pekerjaan. Periode prodromal berupa anxietas, depresi,
penarikan diri secara social tidak memenuhhi untuk
dimasukkan kedalam kurun waktu tersebut.2
Gangguan psikotik akut lir-skizofrenia adalah suatu gangguan psikotik akut yang
secara komparatif bersifat cukup stabil dan memenuhi kriteria untuk skizofrenia
(F20) tetapi hanya berlangsung kurang dari satu bulan. Suatu derajat variasi dan
istabilitas emosional mungkin ada tetapi tidak separah pada polimorfik (F23.0).
Pedoman diagnosis berdasarkan PPDGJ III (Pedoman Penggolongan Diagnostik
Gangguan Jiwa III) adalah:

 Onset gejala psikotik harus akut (dua minggu atau kurang, dari suatu
keadaan nonpsikotik menjadi keadaan psikotik yang jelas)

 Fejala-gejala yang memenuhi kriterio skizofrenia (F20) harus sudah ada


untuk sebagian besar waktu sejak berkembangnya gambaran klinis psikotik
yang jelas

 Kriteria untuk psikosis polimorfik akut tidak terpenuhi.

 Apabila gejala-gejala skizofrenia menetap untuk waktu lebih dari satu bulan
lamanya, maka diagnosis harus diubah menjadi skizofrenia (F20).
Pada pasien ini ditemukan gejala-gejala berupa
halusinasi auditorik dan waham kebesaran yang
menonjol, yang merupakan gejala pada skizofrenia dan
memenuhi kriteria untuk skizofrenia. Gejala psikotik yang
dialami pasien terjadi dalam kurun waktu sekitar 2
minggu yang mendukung diagsosis psikotik akut.
Halusinasi dan waham yang terjadi pada pasien ini tidak
berubah dalam jenis dan intensitasnya dari hari kehari
atau dalam hari yang sama dan tidak terdapat keadaan
emosional yang beraneka ragam2 hal ini mejadikan
diagnosis psikotik polimorfik dapat disingkirkan. Oleh
karena itu pasien ini termasuk dalam diagnosis psikotik
akut lir-skizofenia.
Pengobatan dengan gangguan psikosis diobati dengan antipsikotik. Obat
antipsikotik dibagi dalam dua kelompok, berdasarkan mekanisme kerjanya, yaitu
dopamine receptor antagonist atau antipsikotika generasi I (tipikal) dan serotonin-dopamine
antagonist atau antipsikotika generai II (atipikal). Pada terapi psikofarmaka pasien
diberikan terapi antipsikotik golongan atipikal berupa Risperidone 2 x 2 mg. Pemilihan
risperidon sebagai terapi psikofarmaka pada pasien ini karena risperidon merupakan
golongan antipsikotik atipikal dimana obat ini merupakan antagonis serotonin
(terutama 5 HT 2 reseptor) dan dopamin (D2) yang memiliki efek untuk menurunkan
gejala negative dan positif pada sindrom psikosis. Selain itu, obat anti psikotik
golongan atipikal memiliki efek samping EPS yang ringan bahkan tidak ada. Efek
samping EPS diantaranya parkinsonisme (rigiditas, bradikinesia, tremor) dalam bentuk
ringan dapat terlihat seperti penurunan gerakan spontan, ekspresi wajah topeng,
pembicaraan tidak spontan dan kesulitan dalam memulai aktivitas atau disebut dengan
akinesia, selain itu Distonia Akut yaitu spasme otot yang menetap atau intermiten,
otot yang sering menetap spasme yaitu otot badan, leher dan kepala, serta
menyebabkan involunter. Efek samping EPS yang lain adalah Akatisia, ini yang paling
membuat penderitaan.4 Pemberian antipsikosis dimulai dengan dosis awal yang sesuai
dengan dosis anjuran, dinaikkan setiap 2 – 3 hari sampai mencapai dosis efektif
kemudian dievaluasi setiap 2 minggu dan bila perlu dinaikkan sampai dosis optimal.
Risperidon tersedia dalam bentuk sediaan tablet dan cairan. Dosis awal yang
dianjurkan adalah 2mg/hari dan besoknya dapat dinaikkan menjadi 4mg/hari.
Selain terapi psikofarmaka, pasien juga diberikan terapi berupa
psikoterapi baik terhadap pasien maupun keluarga pasien. Terapi terhadap pasien
meliputi terapi edukatif berupa pemberian informasi dan edukasi mengenai
penyakit termasuk faktor risiko, gejala, faktor penyebab, cara pengobatan dan
prognosis pasien.5 Pasien juga diberikan terapi suportif berupa intervensi secara
langsung yang bertujuan untuk meningkatkan hubungan sosial pasien dengan
cara meningkatkan rasa percaya diri dalam komunikasi dan interaksi serta
pembelajaran agar tercapai kualitas hidup yang baik. Pasien juga diajarkan
bagaimana cara merespon halusinasi yang dialami pasien yang bertujuan untuk
memperbaiki persepsi dan proses berpikir pasien. Tujuan dari psikoterapi suportif
adalah memperkuat mekanisme defense yang ada, memperluas mekanisme
pengendalian dan perbaikan ke suatu keadaan yang lebih adaptif.4
Terapi lain yang diberikan adalah terapi psikoedukasi terhadap keluarga, dimana
keluarga berperan penting dalam kehidupan sehari-hari pasien meliputi terapi
informasi dan edukasi mengenai penyakit yang dialami pasien, gejala gejala yang
ada pada pasien, kemungkinan penyebab, dampak, serta faktor pemicu
kekambuhan penyakit sehingga keluarga dapat lebih waspada dan disiplin dalam
pemantauan dan penatalaksanaan terhadap pasien dan lebih waspada jika suatu
waktu terdapat gejala kekambuhan, serta keluarga dapat memberikan dukungan
secara psikis terhadap pasien dengan interaksi dan aktivitas serta membantu
memperbaiki hubungan sosial pasien jika pasien sudah kembali kerumah. Selain
itu keluarga juga diberikan informasi bahwa penyakit yang dialami pasien bersifat
jangka panjang, sehingga dibutuhkan kesabaran, dan perhatian serta selalu
mengingatkan pasien untuk kontrol rutin ke dokter. Keluarga juga diharapkan
menjadi pengawas minum obat bagi pasien.
DAFTAR PUSTAKA
 Kaplan, B.J., Sadock, V.A. 2012. Kaplan & Sadock’s Buju Ajar
Psikiatri Klinis edisi ke-2. ECG.

 Dapartemen Kesehatan RI. 1993. Pedoman Penggolongan dan


Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III. Jakarta: Direktorat
Jendral Pelayanan Medik.

 Maslim, R. 2013. Buku saku diagnosis gangguan jiwa rujukan


ringkas dari PPDGJ-III dan DSM-V. Jakarta: Bagian Ilmu
Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya.

 Elvira, S.D., Hadisukanto, G. 2014. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta:


Badan Penerbit FKUI.

 Yani, Fitri. 2015. Kelainan mental gangguan psikotik. Lampung.


Jurnal Unila.