Anda di halaman 1dari 12

Dosen Pengajar :

Daddy Fahmanadie,SH,LLM

Tugas Hukum Lingkungan


Instrumen Pencegahan Pencemaran atau Kerusakan
Lingkungan Hidup yang berjudul Perizinan

Disusun oleh :
Amelia Santi : ( 1610211620028 )
Kelas : Reg B (Genap)

Fakultas Hukum
Universitas Lambung Mangkurat
BanjarMasin
2018
Instrumen pencegahan pencemaran atau
kerusakan lingkungan hidup
Instrumen yang saya ambil yang berjudul perizinan
 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Pelindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup membawa perubahan yang salah satunya ialah bahwa izin
lingkungan yang dahulu tidak dikenal sekarang menjadi prasyarat izin usaha
atau kegiatan. Untuk memperoleh izin lingkungan didahului dengan adanya
keputusan kelayakan lingkungan dengan terlebih dahulu memenuhi Amdal
(Analisis mengenai dampak lingkungan), UKLUPL (Upaya pengelolaan
lingkungan-Upaya pemantauan lingkungan). Jika ada pejabat publik
memberikan izin usaha kepada pemohon yang tidak memiliki izin lingkungan,
maka pejabat publik itu bisa dugugat di Peradilan Tata Usaha Negara atau
dipidana. Akan tetapi izin lingkungan bukan satu-satunya syarat bagi kegiatan
usaha, masih ada sejumlah izin yang lain yang mesti dipenuhi sebelum
kegiatan usaha dijalankan. Untuk itu mesti diperlukan jalan keluar yang dimiliki
oleh pemerintah daerah sehingga tidak menghambat dunia usaha sekaligus
tidak mengancam kelestarian lingkungan. Dengan kajian ini diharapkan dapat
diketemukan mengenai sistem perizinan lingkungan yang baik, mencakup
persyaratan, mekanisme penanganan permohonan izin, pertimbangan di dalam
memutuskan permohonan izin dan sistem perizinan. Hasil penelitian ini
diharapkan dapat membantu pemerintah daerah dalam memberikan layanan
kepada masyarakat dalam bidang perizinan, khususnya perizinan di bidang
lingkungan hidup.
Latar Belakang Masalah
 Pencemaran, perusakan dan kerusakan lingkungan adalah masalah yang
sangat serius bagi lingkungan hidup. Salah satu upaya pencegahan
pencemaran, perusakan dan kerusakan lingkungan itu adalah melalui
kebijakan sistem perizinan lingkungan. Persoalan penting yang terkait
dengan ini ada pada perizinan dan sistemnya, seperti tidak ketatnya
persyaratan perizinan, penyalahgunaan dan pelanggaran izin, tidak adanya
izin bagi kegiatan dan atau usaha serta tidak sinkronnya kebijakan
perizinan dengan masalah lingkungan hidup di daerah yang bersangkutan.
 Rusaknya lingkungan hidup sebagai akibat dari kegiatan perusakan
lingkungan hidup yang dilakukan dalam upaya ekploitasi sumber daya alam
dalam pelaksanaan proses pembangunan yang tidak terkendali telah
membuat terjadi menurunya kualitas lingkungan seiring dengan
berkurangnya cadangan sumber daya alam yang pada akhirnya
menyisakan persoalan-persoalan lingkungan yang tak habis untuk
dibincangkan dalam mencari solusi untuk mengatasi persoalan lingkungan
yang ditimbulkan tersebut.
 Demikian pula diandaikan, bahwa bila sistem perizinan ditetapkan
berdasarkan peraturan (Hukum positif) ditambah kebijakan pemda yang
berpihak kepada kepentingan lingkungan hidup (proekosistem) melalui
sistem perizinan nya, maka masalahan pencemaran, perusakan dan
kerusakan lingkungan hidup tidak akan terjadi, minimal berkurang.
 Hukum lingkungan merupakan salah satu
instrumen yuridis yang memuat tentang kaidah-
kaidah perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup. Adapun makna yang dapat terkandung
dan diamanatkan dalam Undang-Undang
Lingkungan Hidup Nomor 32 Tahun 2009 Tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan hidup
(UUPPLH) adalah upaya penegakan hukum yang
terdiri dari :
 Penegakan hukum secara administrasi
 Penegakan hukum secara perdata
 Penegakan hukum secara pidana
Pembahasan
-Izin Lingkungan-
 Izin Lingkungan merupakan instrument hukum admnistrasi yang diberikan oleh
pejabat berwenang. Izin lingkungan berfungsi untuk mengendalikan perbuatan
konkret individu dan dunia usaha agar tidak merusak atau mencemar lingkungan.
Sebagai bentuk pengaturan langsung, izin lingkungan mempunyai fungsi untuk
membina, mengarahkan, dan menertibkan kegiatan individu atau badan hukum agar
tidak mencamari serta merusak lingkungan. Fungsi utama dari izin lingkungan
adalah bersifat prefentif yakni pencegahan pencemaran yang tercermin dari
kewajiban-kewajiban dicantumkan dalam perizinan lingkungan. Sedangkan fungsi
represifnya untuk menanggulangi pencemaran dan perusakan yang diwujudkan
dalam bentuk pencabutan izin.
 Secara yuridis formal defenisi izin lingkungan ada dalam Pasal 1 angka 35 UUPPLH
2009 bahw : “izin yang diberikan kepada setiap orang yang melakukan usaha
dan/atau kegiatan yang wajib amdal atau UKL-UPL dalam rangka perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup sebagai prasyarat untuk memperoleh izin usaha
dan/atau kegiatan”
 Dari pengertian tersebut maka izin lingkungan tidak diperlukan untuk semua jenis
usaha dan/atau kegiatan, melainkan hanya diwajibkan kepada usaha dan/atau
kegiatan yang wajib Amdal atau UKL-UPL (Upaya Pemantauan Lingkungan dan
Upaya Pengelolaan Lingkungan). Hal ini selerasa dengan fungsi izin lingkungan
untuk mengendalikan usaha dan/atau kegiatan yang memiliki dampak terhadap
lingkungan hidup. Ketentuan ini merupakan hal baru yang jauh lebih progresif dari
dua undang-undang lingkungan hidup terdahulu.
 Selain Izin Lingkungan, dikenal juga dengan Izin perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup (PPLH): diterbitkan sebagai persyaratan izin lingkungan dalam
rangka perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Jadi sebelum
diterbitkan Izin Lingkungan maka diterbitkan terlebih dahulu PPLH.
 Izin PPLH diterbitkan pada tahap operasional, Izin PPLH, antara lain:
 pembuangan air limbah ke air atau sumber air;
 pemanfaatan air limbah untuk aplikasi ke tanah
 penyimpanan sementara limbah B3;
 pengumpulan limbah B3;
 pemanfaatan limbah B3;
 pengolahan limbah B3;
 penimbunan limbah B3;
 pembuangan air limbah ke laut;
 dumping ke media lingkungan;
 pembuangan air limbah dengan cara reinjeksi; dan
 emisi; dan/atau
 pengintroduksian organisme hasil rekayasa genetika ke lingkungan.
 Pengertian izin lingkungan ialah bahwa izin lingkungan sendiri merupakan
syarat pemberian izin usaha. Dengan demikian izin lingkungan bukan izin
terakhir, melainkan “izin syarat” bagi izin usaha. Usaha yang diberikan izinnya
diasumsikan sebagai usaha legal dan terutama tidak mencemari atau merusak
lingkungan, karena didahului dengan kajian AMDALatau UKL-UPL.
 Selain izin lingkungan ada pula izin-izin lain seperti HO, IMB, Izin Usaha
Industri, Izin Lokasi, Izin Usaha Pertambangan, Izin Pemanfaatan Hasil Hutan,
Izin Pembuangan Limbah, termasuk Bahan Beracun dan Berbahaya (B3) dan
lain-lain. Pada masa berlakunya UU No. 23 Tahun 1997 (UUPLH semua izin ini
termasuk dalam kategori “perizinan lingkungan.” Ketika itu tidak ada izin
lingkungan sebagai nama dari izin tersendiri. Kini dalam UUPPLH ada “Izin
Lingkungan” yang berbeda dari izin-izin yang disebutkan itu. Meskipun
demikian, semua izin tersebut –meskipun tidak disebut sebagai “Izin
lingkungan” berhubungan erat dengan izin lingkungan.
 Menurut Spelt dan Ten Berge izin merupakan suatu persetujuan dari penguasa
berdasarkan UU atau Peraturan Pemerintah, untuk dalam keadaan tertentu
menyimpang dari ketentuan larangan perundang-undangan (izin dalam arti
sempit). Kemungkinan seseorang atau suatu pihak untuk melakukan suatu
kegiatan tertentu tertutup kecuali diizinkan oleh pemerintah. Pemerintah
dengan keputusan izinnya memperkenankan sesuatu yang sebetulnya tidak
boleh dilakukan. Izin memperoleh kekuatan normatifnya hanya dari pemerintah
dan karenanya juga diawasi oleh Pemerintah sebagai pemberi izin. Suatu
perbuatan atau kegiatan yang diizinkan sering dianggap sebagai perbuatan atau
tindakan yang dilarang oleh aturan. Izin yang dikeluarkan untuk ini
diinterpretasikan sebagai “pembolehan” terhadap perbuatan yang sebenarnya
dilarang. Konotasi izin lalu menjadi negatif. Yang dimaksud adalah dilarang
manakala tidak ada izinnya.
 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup (UUPPLH) secara eksplisit menyebut perizinan sebagai bagian
dari instrumen pencegahan pencemaran, perusakan dan kerusakan lingkungan
hidup.
Terdapat dalam pasal 36-37 paragraf 7
tentang perizinan
 Pasal 36
 (1) Setiap usaha dan/atau kegiatan yang wajib memiliki amdal atau UKL-UPL wajib
memiliki izin lingkungan.
 (2) Izin lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan berdasarkan
keputusan kelayakan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 atau
rekomendasi UKL-UPL.
 (3) Izin lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mencantumkan
persyaratan yang dimuat dalam keputusan kelayakan lingkungan hidup atau
rekomendasi UKL-UPL.
 (4) Izin lingkungan diterbitkan oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai
dengan kewenangannya.
 Pasal 37
 (1) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota Sesuai dengan kewenangannya wajib
menolak permohonan izin lingkungan apabila permohonan izin tidak dilengkapi
dengan amdal atau UKL-UPL.
 (2) Izin lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (4) dapat dibatalkan
apabila:
 A.persyaratan yang diajukan dalam permohonan izin mengandung cacat hukum,
kekeliruan, penyalahgunaan, serta ketidakbenaran dan/atau pemalsuan data,
dokumen, dan/atau informasi;
 B.penerbitannya tanpa memenuhi syarat sebagaimana tercantum dalam keputusan
komisi tentang kelayakan lingkungan hidup atau rekomendasi UKL-UPL; atau
 C. kewajiban yangditetapkan dalam dokumen amdal atau UKL-UPL tidak dilaksanakan
oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan
Pasal 38-41 paragraf 7 tentang perizinan
 Pasal 38
 Selain ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (2), izin
lingkungan dapat Dibatalkan Melalui Keputusan pengadilan tata usaha
negara.
 Pasal 39
 (1) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya wajib mengumumkan setiap permohonan dan
keputusan izin lingkungan.
 (2) Pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
dengan cara yang mudah diketahui oleh masyarakat.
 Pasal 40
 (1) Izin lingkungan merupakan persyaratan untuk memperoleh izin
usaha dan/atau kegiatan.
 (2) Dalam hal izin lingkungan dicabut, izin usaha dan/atau kegiatan
dibatalkan.
 (3) Dalam hal usaha dan/atau kegiatan mengalami perubahan,
penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib memperbarui izin
lingkungan.
 Pasal 41
 Ketentuan lebih lanjut mengenai izin sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 36 sampai dengan Pasal 40 diatur dalam Peraturan Pemerintah.
 Penerbitan Izin Lingkungan

 Izin lingkungan hidup sebagai instrumen bagi pemerintah


untuk mengendalikan aktivitas pengelolaan lingkungan
hidup. Tujuannya agar lingkungan hidup tidak rusak, untuk
kepentingan generasi sekarang dan generasi yang akan
datang. Bahkan dalam UUD 1945 dinyatakan bahwa, warga
negara berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.
Perizinan memberikan pengendalian terhadap kelestarian
lingkungan hidup, meskipun tidak tertutup kemungkinan
dalam pelaksanaannya bersinggungan dengan hak-hak
masyarakat dalam berusaha maupun dalam mendapatkan
haknya atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.
Kesimpulan
 Salah satu instrumen untuk mencegah permasalahan adanya
tekanan atau ancaman terhadap kelestarian fungsi lingkungan
hidup berupa pencemaran, perusakan dan kerusakan lingkungan
hidup adalah perizinan lingkungan.
 Agar daya tampung dan daya dukung tetap terjaga
keseimbanganya maka diperlukanya upaya pengendalian
pelestarian lingkungan hidup sehingga persoalan pertumbuhan
penduduk dan aktifasnya yang ada dipermukaan bumi tetap
terkendali agar kerusakan lingkungan dapat diminimalisir dalam
upaya pengelolaan fungsi lingkungan hidup itu sendiri.
 Pemerintah di masing-masing daerah tersebut pertama-tama
berpedoman pada peraturan perundang-undangan, khususnya
Perda, Perbup, dan Perwal dalam menetapkan perizinan
lingkungan. Kebijakan yang diambil memang Sesuai dengan
aturan, namun daerah-daerah menetapkan sendiri kebijakan
perizinan seperti Izin Lingkungan dikaitkan dengan HO dan IMB,
muatan lokal dan pertimbangan harmoni kepentingan
pelestarianfungsi lingkungan hidup dan dunia usaha.
 Rusaknya lingkungan hidup sebagai akibat
dari kegiatan perusakan lingkungan hidup
yang dilakukan dalam upaya ekploitasi
sumber daya alam dalam pelaksanaan proses
pembangunan yang tidak terkendali telah
membuat terjadi menurunya kualitas
lingkungan seiring dengan berkurangnya
cadangan sumber daya alam yang pada
akhirnya menyisakan persoalan-persoalan
lingkungan yang tak habis untuk
dibincangkan dalam mencari solusi untuk
mengatasi persoalan lingkungan yang
ditimbulkan tersebut.