Anda di halaman 1dari 9

Tutorial klinik

HIPERTENSI
pembimbing: dr. B. Susanto Permadi, Sp. PD
Subtitle
Peningkatan tekanan darah
arterial abnormal yang
• umur (laki – laki > 55 tahun,
berlangsung terus menerus
wanita > 65tahun),
• jenis kelamin,
Penyebab • riwayat
bentuk keluarga,
• genetik (faktor risiko yang
tidak dapat diubah/dikontrol),
Primer (esensial) Sekunder (non esensial) hipertensi hipertensi riset menurut NHLBI
Hipertensi sistolik (
DEFINISI
• kebiasaan merokok,
(National Heart, Lung, and
diastolik {diastolic campuran Blood
(sistolInstitute)
isolated systolic
• konsumsi garam, 1 dari 3
hypertension} dan diastol yang
pasien hypertension)
menderita hipertensi.
• konsumsi lemak jenuh atau
TATALAKSANA EPIDEMIOLOGI
meninggi),hipertensi jg merupakan
dislipidemia (kolesterol HDL : laki-
Idiopatik, walaupun sekitar 5-10% penderita faktor risiko infark miokard
laki < 40 mg/dl; wanita < 46mg/dl),
stroke gagal ginjal akut dan
dikaitkan dengan hipertensi, penyebabnya HIPERTENSI
• kadar gula puasa (102-125mg/dl)
jg kematian.1
kombinasi faktor gaya adalah penyakit ginjal. Pada • kebiasaan konsumsi
Kesehatan minum-
Dasar/ISKSDS
hidup seperti kurang sekitar 1-2%, penyebabnya
JNC VIII KLASIFIKASI minuman beralkohol,
tahun 2013 menunukkan
bergerak (inaktivasi) dan adalah kelainan hormonal • Obesitasbahwa prevalensi hipertensi
pola makan. Hipertensi atau pemakaian obat FAKTOR • kurangdiaktifitas
Indonesiafisik
adalah sebesar
primer ini JNC
terjadi pada tertentu (misalnya pil KB)
8 mengklsifikasikan RISIKO
• Stres 265.2
sekitar 90%hipertensi
penderitauntuk usia ≥ • penggunaan estrogen
hipertensi
18 tahun, klasifikasi hipertensi • riwayat keluarga dengan penyakit
tersebut dapat kita lihat pada jantung.
table berikut:
Tabel jnc 8

Menurut Joint National Commission (JNC) 8, rekomendasi target tekanan darah yang
harus dicapai adalah < 140/90 mmHg dan target tekanan darah untuk pasien penyakit ginjal
kronik dan diabetes adalah ≤ 130/80 mmHg.
TATALAKSANA
ESH-2007
merekomendasikan 5
golongan obat anti hipertensi
yaitu;

• Diuretic thiazide,
• Calcium antagonists,
• ACE-inhibitor,
• Angiotensin II receptor
blockers,
• Beta blockers

setara kedudukannya sebagai


terapi inisial atau kombinasi
dalam penatalaksanaan
hipertensi.
Terapi non medikamentosa
memodifikasi gaya hidup, seperti berikut, yaitu:
• penurunan berat badan
• Olahraga (latihan aerobik teratur untuk mencapai kebugaran fisik
sedang)
• Diet rendah garam (sasaran <6gr garam per hari);
• tingkatkan asupan kalium, kalsium, dan magnesium.
• Kurangi asupan alkohol (tidak lebih dari 2 gelas bir, 10 ons anggur, atau 2
ons whiskey per hari untuk pria; jumlah separuhnya untuk wanita).
• Berhenti merokok
• Tekanan darah pada fase akut diturunkan perlahan-lahan sebab
hipertensi tersebut timbulnya secara reaktif dan sebagian besar akan
turun sendiri pada hari ke 3 hingga 7 (Iskandar, 2003)
• Penurunan tekanan darah pada stroke skemik dapat dipertimbangkan
bila tekanan darah sistolk >220 mmHg atau distolik >120 mmHg,
penurunan tekanan darah sebaiknya sekitar 10-15% dengan monitoring
tekanan darah tersebut (Adams et al, 2003),
• sedangkan pada stroke perdarahan boleh diturunkan apabila tekanan
darah sistolik pasien ≥180mmHg dan atau tekanan darah diastolik
>130mmHg (Broderick et al, 2007).
Komplikasi
Komplikasi hipertensi dapat mengenai berbagai organ target seperti:
• jantung :penyakit jantung iskemik, hipertrofi ventrikel kiri, gagal jantung

• Otak: stroke

• Ginjal: gagal ginjal

• Mata: retinopati

• arteri perifer: klaudikasio intermiten.