Anda di halaman 1dari 83

SKENARIO

STEP 1 Clarifying Unfamiliar Terms


• Alloy : campuran unsur dua/ lebih menghasilkan karakteristik logam yang baru. Untuk
menutupi kekurangan dari logam-logam tersebut dalam keadaan cair. Didapat dari campuran
unsur logam dengan non logam maupun logam didapatkan dari fusi diatas titik cairnya.
Banyak digunakan untuk bidang KG, contohnya campuran Cr yang dicampur dengan C dan Fe
menghasilkan bahan yang anti korosi (baja).

• Casting : pengecoran / pendorongan logam cair kedalam mould, menghasilkan bentuykan


logam padat. Penaruhan materi cair ke dalam cetakan sehingga didapatkan materi yang baru.

• CoCr: terdiri dari Kobalt dan Cromium untuk pembuatan bahan untuk implan gigi. Untuk
menggantikan Ni-Cr karena sifat toksisitas dari Ni-Cr. Memiliki kekuatan tinggi dan tahan
panas, tahan abrasi dan korosi.
STEP 1 Clarifying Unfamiliar Terms
• Logam Ag: Perak. Di tabel periodik masuk dalam golongan transisi.

• Porous: terdapatnya gelembung udara di dalam alloy karena manipulasi yang tidak baik.

• Logam: ada yang murni dan campuran. Murni terdiri dari atom-atom yang sama. Bereaksi
dengan mendonasikan elektron ke atom yang lain. Sifatnya yg dipakai di KG keras (mampu
mempertahankan bentuknya) dan liat (mamopu dibentuk). Pada atom terakhir membentuk
ion positif  tidak stabil dan berikatan dengan logam lain.
1) Apa saja komposisi alloy dalam KG?

2) Apa saja sifat dan syarat alloy dalam kedokteran gigi?

3) Apa saja klasifikasi alloy dalam KG ?

4) Bagaimana cara manipulasi alloy dalam kedokteran gigi ?

5) Apa saja kesalahan yang dapat terjadi saat manipulasi alloy?

6) Apa perbedaan dari kelompok bahan alloy Co-Cr , Ag-Cu, dan Ag ?

7) Mengapa tiap kelompok bahan alloy memiliki suhu pembakaran yang berbeda?

8) Apa saja aplikasi alloy dalam kedokteran gigi?


Nikel, berbentuk kristal FCC (kubik). Campuran logam
mulia dan logam dasar. Dicampur karena logam mulia
tahan korosi pada kondisi yang ekstrem dan logam dasar

1. Apa saja komposisi alloy dalam


tidak. Logam mulia lebih mahal dari logam dasar.

KG? Penggunaan logam di KG tergantung logam yang


digunakan, komposisi berupa kristal tiga dimensi yang
bervariasi; kubik,body center cubic, face center cubic,
Rhombic center cubic
Terdiri dari bebrapa jenis logam:

A. Logam mulia :
• Au, resitensi terhadap terjadinya korosi dan mampu diebntuk secara mekanis

• Dapat digunakan silver, paladium atau Ni-Cr (Ni 75% Cr 25%), atau Ni-Cr dapat diganti dengan Co-Cr

• Pd, tahan korosi dalam RM, lebih keras dari Au

• Platinum, lebih keras dari paladium, jarang diguanakan dari logam mulia yang lain karena lebih susah dicampur dengan
emas.

• Cromium, sebagai retensi terhadapa tarnish dan korosi

• Ag: kekuatan dan kekerasan yang tinggi dan menyerap O2, sehingga tahap manipulasi dapat menimbulkan porous
B. Logam dasar :
• Cobalt, meningkatkan Modulus Elastisitas, kekuatan dan kekerasan

• Aluminium, memberikan tensilestrength thd alloy

• Berilium, ductilitas thd alloy

• Silicon dan Mangan, meningkatkan fluiditas alloy sehingga mudah dituang kedalam cetakan

• Co-Cr, komponen utama kobalt 60% dan cromium 25%, nikel 1%,Moliybdenum 5% (untuk meningkatkan kekuatan alloy)
dan Carbon 0,3%, Nikel untuk menegraskan, Mb untuk menegraskan dan menguatkan alloy. Cr menyerap oksigen yang
cukup baik sehingga mengurangi angka korosi

• Nitrogen, lebih dari 0,1% menghasilkan hasil tuangan kehilangan ductility


A. SIFAT :
 Toughness: dapat dibengkokkan tanpa mengalami keretakan
 Strength: menahan deformasi
2. Apa saja  Konduktor yang baik, akibat satu unsur logam cenderung melepas elektron
sifat dan syarat positif, sehingga mengikat logam lain dan disebuat ikatan logam,
meningkatkan energi pada logam sehingga apabila ada panas dan listrik
alloy dalam mpenyebarannya merata
 Dapat diregangkan dan ditempa
kedokteran
 Taham impact(beban yang datang tiba-tiba)
gigi?  Tahan abrasi
 Tahan korosi: komponen dari logam yang keluar ke jarinagn RM menyebabkan
perubahan warna gigi, timbulnya rasa yang tidak nyaman dari pasien sehingga
pasien meminta bahan restorasi dilepas kembali
 Mudah dicairkan
 Mudah di cor
 Elektropositif: memiliki ion positif, melepas ion positif saat berikatan,
2. Apa saja merupakan kekurangan dari alloy, dapat menimbulkan galvanic shock karena
perbedaan muatan dan mengahsilkan listrik
sifat dan syarat
 Weldability: mudah dilas
alloy dalam  Machinibility: mudah dikerjakan dengan mesin
kedokteran  Pemadatan alloy setelah casting
 Titik didih dan Titik leleh yang tinggi. Melting range menentukan derajat
gigi? lelehnya alloy tersebut. Solidus: temperatur dimana alloy membeku saat
didinginkan, liquidus: alloy meleleh saat dipanaskan
 Mudah dicairkan
 Mudah di cor
 Elektropositif: memiliki ion positif, melepas ion positif saat berikatan,
2. Apa saja merupakan kekurangan dari alloy, dapat menimbulkan galvanic shock karena
perbedaan muatan dan mengahsilkan listrik
sifat dan syarat
 Weldability: mudah dilas
alloy dalam  Machinibility: mudah dikerjakan dengan mesin
kedokteran  Pemadatan alloy setelah casting
 Titik didih dan Titik leleh yang tinggi. Melting range menentukan derajat
gigi? lelehnya alloy tersebut. Solidus: temperatur dimana alloy membeku saat
didinginkan, liquidus: alloy meleleh saat dipanaskan
B. SYARAT: • Mudah didapat
• Syarat kerja: mudah dicasting
• Tidak mudah korosi • Syarat biologis: tidak menimbulkan alergi, tidak mutagen
• Tidak larut dalam cairan RM dan tidak karsinogen, tidak merusak jaringan penyangga
gigi lainnya.
• Tidan toksik untuk pasien
• Mengalir dengan baik sehingga dapat menduplikat
• Kekuatan tinggi
modelnya saat casting
• Harga tidak begitu mahal
• Minimal shrinkage saat setelah pengecoran
• Biokompatibel : jaringn RM harus dapat
• Mekanis: mampu menerima beban yang tinggi
mentolerir bahan
• Estetis: punya warna yang senatural mungkin dengan gigi
• Tidak membahayakan pulpa
asli
• Tahan pada suhu panas dan dingin
• Mudah disolder dan dipoles
Berdasarkan fungsi (kekerasan) :
 Tipe 1: soft, digunakan untuk inlay dengan tekanan yang kecil. Titik cair yang tinggi
9400 derajat Celcius namun Ductility kurang baik
 Tipe 2 : medium, inlay dan onlay dengan tekanan oklusal moderate (crown, pontic, full
crown) . Titik cair 9000 derajat Celcius dan ductility baik
 Tipe 3: hard, sebagian besar menggantikan tipe di bawahnya, untuk crown dan bridge,
3. Apa saja
gigi tiruan sebagian cekatan pendek. Titik Cair 8700-9000 derajat celcius
klasifikasi alloy
 Tipe 4: ekxtra hard, gigi tiruan sebagian cekatan panjang, cengkeram prosto. Titik cair
dalam KG ? 8700 derajat celcius
 Alloy untuk crown dan bridge dan
 Alloy untuk GTSL (Removable partial denture), memerlukn framework yang ringan tapi
kuat, muncul sebagai pengganti alloy tipe ke empat
 Metal cerramic alloy, memiliki kekrasan yang hard dan extra gard, untuk copping,
veneer dental porcelain, dan crown yang berdinding tipis
VHN merupakan uji yang didapatkan dari beban uji logam dibagi luas
permukaan logam
• Tipe 1(soft) 50-90
• Tipe 2 90-120
3. Apa saja
klasifikasi alloy • Tipe 3 120-150
dalam KG ? • Tipe 4 > 150
C. Berdasarkan komposisi:
• High noble, logam mulia >60%, Au >40%, cth : AuPt untuk fullcasting,
paling mahal, paling biokompatibel dan kepadatan paling tinggi. Tingkat
korosi yang rendah di RM. Au-Cu-Ag untuk full casting. Dulu paling
banyak digunakan
3. Apa saja
• Noble, logam mulia>25%, cth: PdCu untuk castring. Tanpa kandungan Au
klasifikasi alloy
sehingga harganya lebih murah. Masih mengandung emas tapi kadarnya
dalam KG ?
kurang dari high noble
• Base metal, logam mulia <25%, sisanya logam dasar, kegunaan untuk
implan
• Dental amalgam, Hg, Ag, Sn,Cu
Alat :
Casting ring, casting machine , dan furnice oven
Tahapan:
• Pattern form, membuat pola malam dengan inlay wax diharapkan saat burn out
didapatkan mould space yang diinginkan.
4. Bagaimana • Sprue former, digunakan sebagai jalan masuk logam menuju mould space
cara manipulasi • Memilih diameter sprue sesuai ketebalan model yang paling besar, kalau sprue lebih
alloy dalam besar bentukan tidak sesuai. Kalau sprue lebih kecil logam akan memadat lebih cepat
kedokteran gigi ? sebelum amsuk kedalam model.
• Standar ukuran diameter sprue: inlay kecil kurang lebih 1,3 mm, inlay besar 1,5 mm,
full crown 1,6 mm.
• Tekhnik pemasangan sprue, dipasang pada cusp yang paling tebal dan jauh dari pola
malam, dan posisi pada pola malam tegak 90 derajat (ketika sprue ditempatkan pada
daerah yang ketebalannya cukup) atau miring 45 derajat (ketebalan yang kurang)
cont-
Tahapan:
• Ventilator former, sebagai jalan keluar udara dari investment material saat logam
dimasukkan ke investment material. Sebagai pencegah back pressure untuk mencegah
bahan keluar.
4. Bagaimana • Dirakit pattern, sprue dan ventilator, diberi asbestos lining yang menyelimuti casting
cara manipulasi ring, untuk space saat terjadinya ekspansi investment material.
alloy dalam • Sebelum penanaman malam harus dibersihkan dari kotoran dan minyak agar bahan
dapat menempel dengan sempurna, biasanya dengan air detergen. Penanaman, bahan
kedokteran gigi ? malam dan model tanam dimasukkan casting ring
• Jika pattern form tidak sesuai maka mould space tidak sesuai
• Sprue tersumbat, model tidak terisi dengan penuh sehingga permukaan
tidak rata
• Ventilator former tertutup menimbulkan terjebaknya udara dalam mould
5. Apa saja
space sehingga porous dan dapat menimbulkan ledakan.
kesalahan yang
dapat terjadi • Casting diambil dalam keadaan panas, saat logam dingin dapat
saat manipulasi menegrut dan menyebabkan distorsi.
alloy? • Gelembung udara di dalam investment menjadikan permukaan kasar
• Permukaan kasar disebatkan pemanasan yang terlalu cepat dengan
suhu tinggi, perbandingan water dan powder tidak sesuai, pemansan
terlalu lama, casting pressure yang kurang baik dan bahan investment
yang sudah lama menyebabkan permukaan kasar
 Co-Cr tersusun dari kobalt dan kromium, untuk pembuatan implan gigi,
wire orthodontic dan structural prostodonsi. Ion Cl yang tinggi
menyebabkan turnish dan diskolorasi dan menyebabkan pitting korosi
 Ag-Cu dari Argentum/perak dan Cuprum, amalgam modern, untuk
6. Apa tumpatan, Cu meningkatkan kekuatan dan kekarsan alloy
perbedaan dari
 Ag, cenderung memutihkan alloy, tidak tahan korosi. Tergantung kadar
kelompok bahan
ag, jika sedikit berwarna pucat, jika banyak maka menimbulkan warna
alloy Co-Cr , Ag-
lain 30% hijau, 50% putih.
Cu, dan Ag ?
Karena masing – masing logam penyusun alloy memiliki melting range yang
berbeda. Melting range menentukan derajat lelehnya alloy tersebut.
Solidus: temperatur dimana alloy membeku saat didinginkan, liquidus: alloy
7. Mengapa tiap
kelompok bahan meleleh saat dipanaskan.
alloy memiliki
suhu
pembakaran
yang berbeda?
• CoCr: untuk GTSL kerangka Logam
• NiCr untuk GTL lepasan logam dan restorasi logam porcelain dan mahkota
GTJ
• Ti, untuk mahkota dan jembatan, implan, dan GTSL. Bisa juga menggunakan
8. Apa saja stainless steel atau emas
aplikasi alloy • Penggunaan AgPd untuk klamer, NiCu dan Au, digunakan untuk pembuatan
inlay, onlay, crown dan GTJ
dalam kedokteran
Berdaskan tipe:
gigi? 1. Tipe 1: inlay satu permukaan
2. Tipe 2: inlay lebih dari satu permukaan
3. Tipe 3: semua mahkota dan GTJ
4. Tipe 4: kerangka gigi tiruan sebagian
• CoCr: untuk GTSL kerangka Logam
• NiCr untuk GTL lepasan logam dan restorasi logam porcelain dan mahkota
GTJ
• Ti, untuk mahkota dan jembatan, implan, dan GTSL. Bisa juga menggunakan
8. Apa saja stainless steel atau emas
aplikasi alloy • Penggunaan AgPd untuk klamer, NiCu dan Au, digunakan untuk pembuatan
inlay, onlay, crown dan GTJ
dalam kedokteran
Berdaskan tipe:
gigi? 1. Tipe 1: inlay satu permukaan
2. Tipe 2: inlay lebih dari satu permukaan
3. Tipe 3: semua mahkota dan GTJ
4. Tipe 4: kerangka gigi tiruan sebagian
step 4 mapping
Logam dan Syarat alloy
Alloy di KG

Klasifikasi

Sifat

Manipulasi Tahapan

Instrumentasi
Uji
Biokompatibilitas Faktor yg
mempengaruhi

Aplikasi alloy
di KG
STEP 5 LEARNING OBJECTIVES

1. Mahasiswa mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan definisi dan struktur padatan
logam dan alloy.
2. Mahasiswa mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan sifat-sifat dan syarat dari
alloy
3. Mahasiswa mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan klasifikasi alloy
4. Mahasiswa mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan instrument, tahapan-tahapan
dan faktor-faktor yang mempengaruhi manipulasi alloy
5. Mahasiswa mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan tentang aplikasi alloy pada
bidang Kedokteran Gigi
6. Mahasiswa mampu memahami biokompatibilitas logam dan alloy
STEP 7 REPORTING
1. Mahasiswa mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan definisi dan struktur padatan
logam dan alloy.

REFLEKTOR CAHAYA
SUBSTANSI KIMIA
KONDUKTOR YANG BAIK
OPAK MENGKILAP
SETELAH DIPOLES

Logam adalah segolongan unsur – unsur yang


berasal dari galian tambang. Logam dan logam
campur yang digunakan dalam kedokteran gigi
adalah bahan padat seperti kristal, kecuali gallium
dan merkuri yang berwujud cairan pada
temperatur tubuh.
STEP 7 REPORTING
1. Mahasiswa mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan definisi dan struktur padatan
logam dan alloy.

PENGERTIAN ALLOY
Kegunaan unsur logam murni dalam KG jarang digunakan karena logam murni
cenderung lunak dan mudah terkorosi. Untuk mengoptimalkan sifat, kebanyakan
dari logam dicampur dari 2 atau lebih unsur logam atau pada beberapa keadaan,
logam dengan non – logam. Campuran tersebut disebut alloy. Umumnya
dihasilkan dari fusi unsur – unsur diatas titik cairnya. (Annusavice, 2003).
STEP 7 REPORTING
1. Mahasiswa mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan definisi dan struktur padatan
logam dan alloy.

STRUKTUR PADATAN ALLOY DAN LOGAM


• Penentuan struktur kristal secara kualitatif sudah sejak lama dilakukan orang
dengan cara difraksi sinar-X
• Sudut difraksi inilah yang digunakan untuk menentukan struktur kristal
dengan ketelitian tinggi
• Kekerasan, kerapatan, titik leleh, panas pembentukan, penguapan dan sifat –
sifat lainnya dari logam berhubungan dengan kisi – kisi kristal logam
STEP 7 REPORTING
1. Mahasiswa mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan definisi dan struktur padatan
logam dan alloy.

Body Centered Cubic (BCC)


 Unit struktur BCC sesuai namanya berbentuk bentuk kubus dimana terdapat atom-
atom disetiap pojoknya dan satu berada ditengah.
 Logam lain yang mempunyai struktur seperti ini, yaitu : chromium, colombium,
barium, vanadium, molybdenum dan tungsten
STEP 7 REPORTING
1. Mahasiswa mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan definisi dan struktur padatan
logam dan alloy.

Face Centered Cubic (FCC)


 Atom-atom kalsium, aluminium, tembaga, timbal, nickel, emas dan platina
membentuk suatu struktur kristal dengan sebuah atom ditiap-tiap pojok kubus dan
satu ditengah disetiap sisi kubus.
STEP 7 REPORTING
1. Mahasiswa mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan definisi dan struktur padatan
logam dan alloy.

Hexagonal Closed Packed (HCP)


 Struktur HCP banyak ditemukan pada kebanyakan logam seperti berilium, seng,
kobalt, titanium, magnesium, dan cadmium. Karena jarak dari struktur lattice, baris-
baris atom tidak dapat bergerak dengan mudah, sehingga logam ini memiliki
plastisitas dan keuletan yang lebih rendah dari struktur kubik.
STEP 7 REPORTING
Pengaruh-pengaruh Elemen yang Membangun Alloy
Copper (kuprum)
• Emas dan kuprum membentuk campuran padatan pada segala perbandingan.
• Bila kumprum dialiase dengan emas maka titik cair alloy yang diperoleh lebih rendah dari titik cair
emas.
• Memberikan warna yang kemerah-merahan bila terdapat dalam jumlah yang cukup.
• Bersifat mengurangi kekerasan/ densitas alloy.

Silver
• Sedikit meningkatkan kekerasan dan kekuatan dengan adanya solution hardening.
• Dapat terjadi precipitasion hardening jika dalam alloy terdapat kuprum pada kondisi yang sesuai.
• Memungkinkan terjadinya tarnish.
• Silver (perak) cair dapat menyerap gas seperti oksigen sehingga cenderung sebagai penyebab
terjadinya porositas sewaktu penuangan.
• Cenderung memperputih warna alloy serta mengatasi pengaruh warna kemerh-merahan yang
ditimbulkan kuprum.
STEP 7 REPORTING
Pengaruh-pengaruh Elemen yang Membangun Alloy
Platinum
Meningkatkan titik cair alloy.
Memperbaiki daya tahan alloy terhadap korosi.

Palladium
Pengaruhnya terhadap alloy emas untuk KG sama dengan platinum tetapi harganya lebih murah.

Zinc
Zinc sebagai scavenger

Nickel dan iridium


Logam iridium bersifat membantu memperhalus struktur serbuk alloy.
STEP 7 REPORTING
2. Mahasiswa mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan sifat-sifat dan syarat dari
alloy

SYARAT LOGAM / ALLOY


• Sifat kimia • Syarat Mekanis
Tahan terhadap korosi, tidak larut dalam cairan Berkekuatan tinggi dan tahan terhadap tekanan.
rongga mulut atau dalam segala macam cairan • Syarat Estetik
yang dikonsumsi dan tidak luntur, memberikan penampilan natural pada gigi.
• Sifat Biologi • Secara Fisik
Tidak beracun terhadap pasien, dokter gigi, memiliki konduktivitas thermal dan kuat
perawat maupun tekniker • Bahan bahannya tersedia dalam jumlah besar dan
• Biokompatibel mudah didapat,
Tidak membahayakan pulpa dan jaringan lunak, • Biaya tidak mahal baik biaya harga bahan
bebas dari bahan yang berpotensi dalam maupun laborat.
menimbulkan sensitifitas atau respon alergi dan • Titik cairnya tinggi, tahan terhadap korosi.
tidak memiliki potensi karsinogen. • Sebagai klamer atau cengkram.
• Pertahanan terhadap abrasi baik. • Modulus elastis yang tinggi.
• Mudah disolder dan dipoles.
STEP 7 REPORTING
SIFAT LOGAM / ALLOY

• Daya hantar listrik


Elektron yang terdelokalisasi bebas bergerak di seluruh bagian struktur tiga dimensi. Elektron-elektron
tersebut dapat melintasi batas butiran kristal.
• Daya hantar panas
Logam adalah konduktor panas yang baik. Energi panas diteruskan oleh elektron sebagai akibat dari
penambahan energi kinetik.
• Titik didih dan titik leleh
Logam-logam cenderung memiliki titik leleh dan titik didih yang tinggi karena kekuatan ikatan logam.
• Dapat ditempa dan diregangkan (Malleability dan Ductility)
Logam mempunyai sifat yang mampu dibentuk dengan suatu gaya, baik dalam keadaan dingin
maupun panas tanpa terjadi retak pada permukaannya
• Toughness
Logam dapat dibengkokan beberapa kali tanpa mengalami retak.
• Logam merupakan elektropositif
yakni memberi ion positif dalam larutan
STEP 7 REPORTING
3. Mahasiswa Mampu Memahami klasifikasi logam dan alloy yang digunakan dalam KG

Revised Classification System for Alloys for Fixed Prosthodontics

Classification Requirement

Noble Metal Content ≥ 60% (gold+ platinum


High Noble Alloys
group*) and gold ≥ 40%

Titanium and Titanium Alloys Titanium ≥ 85%

Noble Metal Content ≥ 25% (gold + platinum


Noble Alloys
group*)

Noble Metal Content < 25% (gold + platinum


Predominantly Base Alloys
group*)
Klasifikasi Alloy
• Diklasifikasikan menurut:
1. Penggunaannya
2. Unsur utamanya
3. Kandungan logam mulia
4. Tiga unsur utama
5. Sistem fase yang dominan
(Anusavice, 2003)
1. Penggunaannya
• Inlay
• Mahkota
• Jembatan
• Restorasi logam keramik
• Gigi tiruan sebagian lepasan
• Implan
(Anusavice, 2003)
2. Unsur Utamanya
• Emas
• Paladium
• Perak
• Nikel
• Cobalt
• Titanium
(Anusavice, 2003)
3. Kandungan Logam Mulia
• Sangat mulia
• Mulia
• Dominan logam dasar
(Anusavice, 2003)
4. Tiga Unsur Utama
• Emas-palladium-perak
• Paladium-perak-timah
• Nikel-kromium-berilium
• Kobalt-kromium-molybdenum
• Titanium-alumunium-vanadium
• Besi-nikel-kromium
(Anusavice, 2003)
5. Sistem fase yang dominan
• Fase tunggal/isomorfus
• Eutetik = unsur-unsur yang memiliki komposisi kimia tunggal yang
membeku pada suhu yang lebih rendah daripada komposisi lain
yang dibuat dari bahan yang sama.
• Peritetik
• Antarlogam
(Anusavice, 2003)
Berdasarkan jumlah unsur penyusun
• Binary system, jika ada dua unsur logam yang membentuk.
• Ternary system, jika ada tiga unsur logam yang membentuk.
• Quartemary system, jika ada empat unsur logam yang
membentuk seperti amalgam.
(Anusavice, 2003)
Klasifikasi Dental Casting Alloy
Klasifikasi logam berdasarkan tingkat kekerasan (1932).

• Tipe I (lunak) angka kekerasan Vickers (VHN) 50-90


• Tipe II (sedang) angka kekerasan Vickers (VHN) 90-120
• Tipe II (keras) angka kekerasan Vickers (VHN) 120-150
• Tipe IV (ekstra keras) angka kekerasan Vickers (VHN) >150
• Pada saat itu tes karat menunjukkan bahwa alloy yang mengandung
emas lebih rendah 65%-75% terlalu cepat berkarat saat sebagai
tambalan gigi.
• (Anusavice, 2003)
Klasifikasi Alloy menurut ADA no 5
Berdasarkan dental function:
• Type I alloy (soft):
untuk restorasi yang hanya terkena tekanan kecil. Contoh: inlay
• Type II alloy (medium):
untuk restorasi gigi dengan mendapat tekanan moderat atau sedang.
• Type III alloy (hard):
untuk situasi gigi yang mendapat tekanan oklusal yang besar. Misalnya onlay, mahkota, mahkota vinir
yang tebal, gigi tiruan sebagian cekat dengan span pendek.
• Type IV alloy (extra hard):
untuk keadaan tekanan sangat besar. Misalnya endodontic, mahkota dengan vinir tipis, gigi tiruan
sebagian cekat dengan span panjang, gigi tiruan sebagian lepasan.
Sisanya adalah alloy yang dirancang untuk restorasi logam keramik dan gigi tiruan sebagian lepasan rangka
logam.
• (Anusavice, 2003)
STEP 7 REPORTING
4. Mahasiswa mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan instrument, tahapan-tahapan
dan faktor-faktor yang mempengaruhi manipulasi alloy

INSTRUMEN
Pisau model
Pisau malam
Glass plate
Mangkok karet dan spatula Sikat kecil
Furnace Diamond disc
Kuas kecil Bumbung tuang/casting ring
Casting machine
Vibrator
Macam macam mata bur
Pisau model

Pisau model digunakan untuk


mengukir/merapihkan wax dan
mengeluarkan bahan tanam
dari bumbung tuang
Pisau malam

Fungsi pisau malam adalah untuk


memotong &mengukir wax sesuai
bentuk yang diinginkan
Glass plate

Fungsi glass plate adalah bagian dari alat untuk mengaduk


Mangkok karet dan spatula

Mangkok karet dan spatula adalah alat yang


digunakan untuk mencampur powder dan
liquid bahan tanam.
Furnace oven

Merupakan alat di bidang kedokteran


gigi yang digunakan untuk mencairkan
malam dalam model
Kuas kecil

Untuk mengulas bahan tanam ke


seluruh model
Sikat kecil

Untuk membersihkan model dari


sisa sisa bahan tanam yang
menempel di permukaan
Diamond disc

Digunakan untuk
memotong sprue
Bumbung tuang/casting ring

Merupakan tabung kecil yang terbuat dari


logam yang digunakan dalam casting logam
Casting machine

Merupakan alat di bidang kedokteran gigi


yang digunakan untuk mencairkan logam
Vibrator

Merupakan alat kedokteran gigi


yang digunakan untuk
menghilangkan udara yang
terjebak pada suatu bahan
tanam agar tidak terjadi porous.
Macam macam mata bur
Semua macam mata bur digunakan sesuai kebutuhan untuk menghaluskan model. Yang biasa di
gunakan adalah : arkansas stone sampai permukaan halus,kemudian dilanjutkan dengan rubber
warna merah dan yang terakhir dengan rubber warna hijau
Tahapan Manipulasi Casting Alloy
1. Waxing
2. Spruing
3. Investing
4. Pre heating, wax elimination, dan heating
5. Melting dan Casting
6. Pickling
7. Finishing dan Polishing
WAXING

Waxing adalah cara pembuatan pola malam (wax pattern)


Cara pembuatan pola malam ada 3 cara :
- Cara langsung (direct)
Cara langsung ini dibuat seluruhnya di dalam mulut pasien, sehingga tidak memerlukan die.
- Cara tidak langsung
Cara tidak langsung ini pola malam dibuat seluruhnya pada die, sehingga pembuatannya
diluar mulut pasien.
- Cara langsung tidak langsung
Pada cara ini mula-mula sebagian pola malam dibuat di mulut pasien untuk mendapatkan
oklusi yang baik, kemudian ditransfer ke die, dan dibuat pola malam sampai selesai,
sehingga cara ini dibutuhkan die
SPRUING
Spruing adalah cara pembuatan sprue pin. Kegunaan sprue pin untuk :
• Pembentukan Sprue di dalam invesmen.
• Pegangan pola malam pada waktu investing.
Pembuatan sprue pin dapat dibuat dari bahan :
• Logam
• Inlay casting wax seluruhnya
• Plastik/resin
Pemasangan sprue pin
Hendaknya pada daerah yang tebal dan jauh dan pinggiran pola malam. Posisinya
pada pola malam dapat tegak atau miring (450) terhadap permukaan pola
malam. Penempatan sprue pin pada pola malam dengan posisi tegak lurus
apabila daerah yang ditempati cukup ketebalannya. Penempatan sprue pin pada
pola malam dengan posisi miring, apabila daerah yang ditempati sprue pin pada
pola malam tipis.
INVESTING
Gypsum bonded invesmen materials
Invesmen ini digunakan pada proses casting untuk pengecoran
logam yang titik cairnya kurang dan 1000 °C, sebab apabila
logam yang dicor itu Iebih besar dan 1000° C, maka
invesmen akan retak-retak.
Phospate / sulfate bonded invesment materials
Invesmen ini digunakan pada proses casting untuk
pengecoran logam yang titik cairnya lebih besar dari
10000C.
Silicate bonded invesment materials
Invesment ini digunakan pada proses casting untuk
pengecoran logam yang titik cairnya lebih besar dari1000 0C.
PRE HEATING, WAX ELIMINATION, DAN HEATING
Preheating pada temperatur kamar sampai 150oC dalam waktu 15 menit di
furnace. Tujuan: agar adonan invesmen betul-betul kering.
Wax elimination dari 150 oC dinaikkan sampai 350 oC dengan perlahan-
lahan dalam waktu 30 menit. Pada temperature 350 oC diperkirakan seluruh
malam yang ada di dalam adonan invesmen sudah hilang tak bersisa >> mold
space
Heating yaitu temperatur dinaikkan dan 350 °C sampai 700 °C. Dalam waktu
30 menit. Tujuan: agar terjadi baik pemuaian invesmen maupun pemuaian mould
space dapat maksimal. Pemanasan hanya sampai 700° C, karena stabilitas
bahan invesmen jenis gypsum bonded invesmen materials diperkirakan dalam
keadaan stabil. Selanjutnya pada temperatur 700 oC didiamkan selama 30 menit,
kemudian casting ring diambil dari casting machine
MELTING DAN CASTING
Macam – macam casting machine
A. Centrifugal casting machine
• Horizontal centrifugal casting machine
Casting machine ini gerakan memutarnya secara horizontal / mendatar.
• Vertical centrifugal casting machine.
Casting machine ini gerakan memutarnya secara vertical / tegak lurus (Anusavice,
2003).

B. Air pressure casting machine


Alat casting yang menggunakan tekanan udara. Bekerjanya alat ini prinsipnya
sama dengan bekerjanya alat casting vertikal (vertical centri fugal casting
machine) hanya bedanya vertical casting machine menggunakan gaya sentritugal,
tetapi air pressure casting machine menggunakan tenaga / tekanan udara
Pada melting (pelelehan) terhadap logam yang akan dicor, dilakukan dengan
alat penyemprot api yang disebut blow pipe atau blow torch.
Hasil casting yang terjadi ada 2 bentuk:

• Bentuknya bersih seperti warna logam sebelum dicor. Hal ini terjadi
apabila logam yang dicor non precius, artinya logam tersebut tidak
mengandung logam mulia sebagai dasar dan logam campur / aloy.
Pada bentuk ini tidak perlu dilakukan pickling

• Bentuknya berubah menjadi warna hitam dan tidak sama dengan


warna sebelum dicor. Hal ini terjadi apabila logam campur / aloy
yang dicor mengandung bahan dasar logam mulia, misalnya emas
atau perak. Keadaan ini terjadi karena adanya peristiwa oksidasi
pada permukaan logam cor tersebut. Untuk mengembalikan warna
seperti warna semula dilakukan pickling
PICKLING
Pickling adalah suatu cara penghilangan / pembersihan oksidasi yang terjadi pada
permukaan logam cor yang mengandung logam mulia dengan larutan pickling.
Larutan pickling ada 2 jenis:
• Larutan asam hidro chlorida (HCl)
• Larutan asam sulfat (H2SO4)

Cara pickling:
Hasil casting logam aloy yang mengandung dasar logam mulia warnanya hitam diikat
dengan benang dan dipanasi dahulu. Sebelumnya sudah dipersiapkan dahulu salah satu
larutan pickling yang sudah diencerkan. Sesudah panas, hasil cor dimasukkan ke dalam
larutan pickling sebentar sarnpai warna hilang dan warna semula muncul. Oleh karena
larutan pickling ini sangat toksis, maka untuk menetralisir, hasil cor dimasukkan ke dalam
larutan sodium bicarbonate.
FINISHING DAN POLISHING
Finishing
Finishing adalah suatu cara untuk membentuk hasil casting menjadi
suatu bangunan yang diinginkan dengan jalan menghilangkan /
membuang ekses-ekses pada permukaan hasil casting dan logam
yang tidak berguna. Setelah dilakukan finishing maka bentuk,
misalnya yang berbentuk inlay, full crown atau bridge work,
menjadi baik tetapi masih kasar. Kemudian dilakukan polishing.

Polishing
Polishing adalah suatu cara untuk membuat suatu bentuk, setelah
dilakukan finishing, menjadi rata, halus dan mengkilap.
• video
Faktor yang Mempengaruhi Manipulasi
• Distorsion (distorsi atau pengoletan)
Dapat terjadi pada waktu pembuatan pola malam atau pada
waktu pengambilan hasil casting dan dalam invesmen
Penyebab terjadinya distorsi sebagai berikut :
1) Terjadinya perubahan temperatur yang besar.
2) Manipulasi bahan tidak benar.
3) Teknik pembuatan malam tidak benar.
Faktor yang Mempengaruhi Manipulasi
Surface Roughness (permukaan kasar)
• karena gelembung - gelembung udara).
• Too rapid heating (pemasanan yang terlalu cepat)
• W / p ratio (perbandingan antara air dan bahan invesmen yang terlalu kecil atau terlalu
besar)
• Prolonged healing (pemanasan yang terlalu lama)
• Casting pressure (tekanan pada waktu casting yang kurang benar)
• Composition of the invesment (komposisi bahan invesmen)
• Foreign body (benda-benda asing)
• Adanya benda- benda asing yang masuk ke dalam mould space
Faktor yang Mempengaruhi Manipulasi
Porosity (porus)
Ada 3 macam porositas, yaitu :
o Localized shrinkage porosity
Porositas ini akibat adanya pengerutan setempat / lokal.
o Sub surface porosity
Porositas yang terjadi pada permukaan dalam dari hasil casting.
o Micro-porosity. Penyebabnya antara lain :
1. Besar kecilnya sprue
2. Panjang pendeknya sprue
3. Temperature melting yang terlalu besar
Faktor yang Mempengaruhi Manipulasi
Incomplete Casting (hasil casting yang tidak lengkap)
Penyebabnya antara lain :
• Wax elimination yang tidak sempurna sehingga masih terdapat sisa malam di dalam
mould space.
• Benda asing yang menyumbat sprue
• Pemutaran casting machine yang lambat, sehingga gaya centri fugal kecil, lelehan
logam tidak dapat memasuki seluruh permukaan mould space.
STEP 7 REPORTING
5. Mahasiswa mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan tentang aplikasi alloy pada
bidang Kedokteran Gigi

Alloy emas
Inlay dan onlay
Mahkota
Gigi tiruan sebagian permanen

Alloy kobalt-kromium
Kerangka gigi tiruan sebagian
Restorasi porselen-logam
STEP 7 REPORTING
5. Mahasiswa mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan tentang aplikasi alloy pada
bidang Kedokteran Gigi

Alloy nikel-kromium
Kerangka gigi tiruan sebagian,
Mahkota,
Jembatan,
Restorasi porselen-logam

Alloy titanium dan titanium


Mahkota,
Jembatan,
Gigi tiruan sebagian,
Implan
STEP 7 REPORTING
5. Mahasiswa mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan tentang aplikasi alloy pada
bidang Kedokteran Gigi

Alloy stainless steel


Instrumen endodontik,
Wire
Bracket ortodontik

Alloy kobalt-kromium-nikel
dan alloy nikel-titanium
Wire ortodontik
File endodontik
STEP 7 REPORTING
5. Mahasiswa mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan tentang aplikasi alloy pada
bidang Kedokteran Gigi

Kerangka Logam Gigi Tiruan


Dalam bidang kedokteran gigi, logam
dapat digunakan sebagai kerangka
logam gigi tiruan (frame metal
denture). Jenis logam yang biasa
digunakan untuk kerangka logam gigi
tiruan adalah alloy emas, Alloy Ni - Cr,
alloy Co – Cr, alloy Ag – Pd, palladium
dan titanium.
STEP 7 REPORTING
5. Mahasiswa mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan tentang aplikasi alloy pada
bidang Kedokteran Gigi

Mahkota
Dalam bidang kedokteran gigi, logam
dapat juga digunakan sebagaimahkota
tiruan. Dan logam yang sering
digunakan adalah logam jenis baja
atau stainless steel. Namun selain itu
alloy emas, alloy Ag – Pd, dan alloy Ni
– Cu juga digunakan untuk pembuatan
mahkota
STEP 7 REPORTING
5. Mahasiswa mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan tentang aplikasi alloy pada
bidang Kedokteran Gigi

Restorasi Mahkota Inlay dan


Onlay
Logam juga dipergunakan sebagai
inlay dan onlay, yang dipergunakan
antara lain alloy emas, alloy Ag – Pd,
dan alloy Ni – Cu
STEP 7 REPORTING
5. Mahasiswa mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan tentang aplikasi alloy pada
bidang Kedokteran Gigi
Klamer
Klamer merupakan kawat yang
digunakan di kedokteran gigi dalam
berbagai bidang (prosthodonsia,
orthodonsia dan periodonsia) yang
secara umum berfungsi membantu
proses perawatan. Alloy yang
dipergunakan untuk klamer yaitu Alloy
Ag – Pd, yang berkomposisi :
Ag 45 %
Pd 24 %
Au 15 %
Cu 15 %
Zn 1 %
STEP 7 REPORTING
6. Mahasiswa Mampu Memahami biokompatibilitas logam dan alloy

Biokompatibilitas dapat diartikan sebagai kehidupan harmonis antara bahan dan


lingkungan yang tidak mempunyai pengaruh toksik atau jejas terhadap fungsi biologis
Suatu bahan dikatakan biokompatibel apabila bahan tersebut tidak merusak lingkungan
biologis di sekitarnya.
STEP 7 REPORTING
6. Mahasiswa Mampu Memahami biokompatibilitas logam dan alloy

ALERGI ALLOY PADA PASIEN


Beberapa logam yang dapat menimbulkan alergi:
• Nikel (paling alergenik)
• Paladium (34-65% pasien yang alergi terhadap nikel juga alergi terhadap paladium)
• Kromium
• Kobalt
• Emas
• Tembaga
• Titanium
• Berilium
STEP 7 REPORTING
6. Mahasiswa Mampu Memahami biokompatibilitas logam dan alloy

 Reaksi alergi pada alloy KG adalah Tipe IV: Hipersensitivitas tipe lambat
(delayed-type hypersensitivity reaction) terjadi 24-72 jam sesudah kontak
dengan alergen
 Banyak terjadi alergi terhadap kawat orto, amalgam, dan kerangka gigi tiruan
 Disebabkan oleh pelepasan ion alloy yang dipengaruhi oleh: korosi, pH mulut
yang rendah, temperatur tingi, dan abrasi akibat pengunyahan
 Manifestasi intraoral: blister, papula, eritematous, pendarahan gingiva, ulcer
 Manifestasi ekstraoral: dermatitis, eczema, vertigo, urtikaria kronis, chronic
fatigue syndrome, sakit kepala
STEP 7 REPORTING
6. Mahasiswa Mampu Memahami biokompatibilitas logam dan alloy