Anda di halaman 1dari 30

Kebijakan Pertanahan 2

by Dr. H. LALU ANGKASAH,SH, MH.

Powerpoint Templates
Refleksi
Seorang anak bersama ayahnya sedang berjalan menyusuri pengunungan.
Tiba-tiba, anaknya terjatuh, terluka dan berteriak: “AAAhhhhhhhhhh!!!”
Seketika itu juga dia terkejut karena mendengar sebuah suara berulang-ulang yang bergaung di sepanjang
pengunungan: “AAAhhhhhhhhh!!!”
Karena penasaran, anak kecil itu berteriak kembali: “Siapa engkau?”
Dia menerima jawabannya: “Siapa engkau?”
Kemudian anak kecil itu berteriak kepada gunung: “Engkau bodoh.”
Sebuah suara menjawab: “Engkau bodoh.”
Frustasi karena jawabannya, anak kecil itu berteriak kembali: “Aku membencimu”
Sebuah suara menjawab: “Aku membencimu.”
Dia melihat ayahnya dan bertanya: “Apa yang terjadi ayah?”
Sembari senyum ayahnya berkata: “Anakku, dengarkan baik-baik.”
Ayahnya berterik: “Engkau seorang juara!”
Sebuah suara menjawab: “Engkau seorang juara!”
Anaknya terkejut, tetapi tetap tidak mengerti. Ayahnya menjelaskan: “Orang menyebut suara ini sebagai
GEMA, tetapi KEHIDUPAN juga seperti ini. Ia memberikan kembali apa yang engkau katakan atau lakukan.
Hidup kita adalah refleksi dari tindakan-tindakan kita.
Jika engkau menginginkan cinta di dunia ini, ciptakan cinta di dalam hatimu. Jika engkau menginginkan orang
lain menghormatimu, maka hormatilah mereka. Hubungan ini berlaku pada apapun, di dalam seluruh
aspek kehidupan. Kehidupan akan memberimu kembali apa yang telah engkau berikan kepadanya.
Hidupmu bukanlah sebuah kebetulan. Ia adalah Refleksi dari Dirimu!
Sejarah Kebijakan Pertanahan
KEBIJAKAN PERTANAHAN ZAMAN KOLONISL
BELANDA
Ciri kebijakan pertanahan era Kolonial :
1. Disusun berdasarkan tujuan dan sendi
pemerintahan jajahan.
2. Bersifat dualisme
3. Tidak menjamin kepastian hukum
Periodisasi Kebijakan Agraria
Kolonial
I. Masa VOC (1602 – 1799)
Kebijakan pertanian yg menindas pada periode ini :
a. Contingenten, pajak hasil pertanian
b. Verplichte leveranten, keputusan VOC dan Raja
pribumi ttg kewajiban menyerahkan seluruh
hasil panen dengan pembayaran yg sdh
ditetapkan secara sepihak.
c. Roerendiensten, kerja rodi bagi yg tidak punya
tanah pertanian.
II. Masa HW Daendles ( 1800-1811)

Daendles menjual tanah-2 rakyat indonesia kepada


orang cina, Arab dan Belanda, yang dikenal dengan
tanah partikelir dengan hak eigendom bercorak
istimewa – yakni adanya hak pada pemiliknya yg
bersifat kenegaraan yang disebut landheerlijke rechten
(hak pertuanan). Contohnya hak mengangkat kepala
desa, hak menuntut kerja rodi, hak memungut pajak,
bikin pasar, bea jalan dan penyeberangan,
mengharuskan penduduk 3 hari sekali memotong
rumput, dan sehari dlm seminggu menjaga rumah dan
gudang dsb.
III. MASA RAFFLES (1811-1816)
Menetapkan kebijakan pajak tanah atau land rent.
Bahwa tanah seluruhnya adl milik raja Inggris dan
rakyat wajib memberikan pajak kepada raja Inggris.
Diantara keetentuan yg dibuat adl : pajak tanah tdk
langsung dibebankan kpd para petani tp kpd Kades, dan
Kades boleh mengubah status kepemilikan tanah demi
kelancaran pemasukan pajak, sehingga bukan luas
tanah yg menentukan besarnya sewa, tp berapa
kesanggupan membayar yg menentukan luas tanah yg
dikuasai seseorang.
Kebijakan Raffles
• Kebijakan yang ditetapkan oleh Gubernur
Thomas stamford raffles adalah Landrent atau pajak
tanah yaitu sebagai berikut :
a. Kekuasaan tanah telah berpindah dari tanah
milik raja ( daerah swapraja di Jawa) kepada
pemerintah Inggris
b. Akibat hukumnya adalah hak pemilikan atas
tanah tersebut beralih kepada raja Inggris
c. Tanah yang dikuasai bukan miliknya, melainkan
milik raja Inggris
d. Rakyat wajib membayar pajak tanah kepada raja Inggris.
e. Landrent tidak langsung dibebankan kepada para petani
pemilik tanah tetapi ditugaskan kepada kepala desa. Para
kepala desa diberi kekuasaan untuk menetapkan jumlah
sewa yang wajib dibayar oleh tiap petani
f. Kepala desa diberi kekuasaan penuh untuk mengadakan
perubahan pada pemilikantanah oleh para petani
g. Praktek landrent menjukirbalikkan hukum yang mengatur
pemilikan tanah rakyat sebagai akibat besarnya kekuasaan
kepala desa.
IV. Masa van den Bosch (1830)
Ditetapkan sistem tanam paksa (cultuurstelsel)
yi petani dipaksa menanam satu jenis tanaman
tt yg dibutuhkan di pasar internasional. Hasil
dierahkan kpd pemerintah kolonial tanpa
imbalan apapun. Bagi petani yg tidak punya
lahan, diwajibkan kerja rodi 66 hari dlm satu
tahun.
V. Masa Agrarische wet Stb 1870 No. 55

Agrarische wet menghapus politik monopli


dihapuskan. Dengan wet ini pengussaha besar
swasta Belanda dpt memperluas usaahanya ddi
bidangg perkebunan dgn hak erfpacht
berjangka 75 tahun. Wet ini memberi
keuntungan kpd pengusaha Belanda, justru
menimbulkan kemiskinan dan kesengsaraan bagi
rakyat Indonesia.
VI. Masa Agrarische Besluiten
Diberlakukannya domein verklaring (pernyataan
kepemilikan), yi semua tanah yg pihak lain tdk
dapat membuktikan sebagai haknya, adalah
milik pemerintah kolonial. Disamping juga
pernyataan domein yang berlaku khusus
(speciale domein verklaring) yg berisi “Semua
tanah kosong adalah domein negara”
• Pernyataan Speciale Domein Verklaring ini
terdapat di dalam pasal 1 dari beberapa
Ordonansi Erfpacht dan berlaku diberbagai
daerah, sebagai berikut:
untuk Sumatra (Stb tahun 1874 no 94f)
untuk kresidenan menado (Stb.tahun 1877 no
55), untuk keresidenan Kalimantan Selatan
dan Timur (Stb tahun 1888 no 58)
Domein Verklaring mempunyai
beberapa fungsi:
• sebagai landasan negara untuk memberi hak-hak
barat seperti:hak eigondom,hak opstal, hak erfpacht
dan lain-lain. Menurut pemerintah Hindia Belanda
hanya satu eigenaar (pemilik) saja yang dapat
memberikan tanah dengan hak barat,oleh sebab itu
perlu negara yang menyatakan dirinya sebagai
eigenar untuk keperluan pembuktian sehingga
negara tidak perlu membuktikan hak eigondomnya
dalam suatu perkara. Pihak lainlah yang harus
membuktikan haknya itu
• Jadi domein verklaring lebih ditujukan kepada
tanah yang tunduk kepada Hukum adat, yang
tidak mengenal pembuktian kepemilikan
secara tertulis, seperti Hukum Barat.
Akibatnya tanah adat dianggap menjadi milik
negara, dan pemerintah kolonial mempunyai
kewenangan untuk memberikan tanah
tersebut dengan hak erfach kepada para
investor yang berasal dari LN. Hal ini
menimbulkan kontriversi.
Kontroversi Domein Verklaring
• Pada pihak kolonial dengan mendasar pada peraturan
domein, menganggap secara hukum mempunyai kewenangan
untuk memberikan hak erfacht kepada investor, karenanya
pula pihak investor merasa sah atas penguasaan tanah tsb.
Namun dilain fihak, masyarakat bumi putra meyakini bahwa
tanah tsb tetap menjadi miliknya mengingat ia tidak pernah
merasa melepaskan haknya. Kontroversi ini terus berlanjut,
karena itu dalam dunia perkebunan tidak pernah terjadi
harmonisasi kehidupan antara investor atau penguasa dengan
penduduk asli yang ada di area perkebunan dan sekitarnya.
Peraturan Agraria di Daerah
Swapraja
Dalam tahun 1918 dikeluarkan ordonansi yang
mula-mula diberi nama Grondhur
Reglementvoor de Residentie Soerakarta en
Yogyakarta yang diundangkan dalam
Staatsblad Tahun 1918 No. 20 dan pada tahu
1928 diubah namanya menjadi Vorstenlands
Grondhur Reglement (V.G.R).
• Dengan peraturan ini pengusaha asing dapat
memperoleh hak atas tanah dengan cara
Konversi. Maksudnya ialah
pergantian/perubahan hak atas tanah,yaitu
memperkenankan kepada pengusaha asing
untuk memakai dan mengusahakan tanah
tertentu melalui Beschikking dari Raja
•hak atas tanah
1. Pengertian
• “Hak” adalah “claim” atau tuntutan, dan suatu
kepentingan yang dilindungi oleh hukum.
• Kepentingan pd hakekatnya mengandung kekuasaan
yg dijamin dan dilindungi oleh hukum.
• Dengan perlindungan hukum tersebut maka subjek
hak dapat menuntut haknya terhadap setiap
gangguan pihak lain termasuk negara.
• Hak untuk memiliki tanah atau dlm bahasa UUPA
disebut “hak atas tanah”, pd hakekatnya
mengandung kekuasaan atau kewenangan bagi
pemegangnya, secara bersamaan dibebani
kewajiban.

20
• Tanah adalah permukaan bumi (the surface of
earth)  ps.4 ayat (1) UUPA
• Jadi, Hak Atas Tanah (HAT) adalah hak atas
permukaan bumi.
• Selanjutnya, ps.4 ayat (2) menyatakan bahwa
hak-hak atas tanah tsb memberi wewenang
untuk mempergunakan tanah yang
bersangkutan, demikian pula tubuh, bumi dan
air serta ruang yang ada di atasnya sekedar
diperlukan untuk kepentingan yang langsung
berhubungan dengan penggunaan tanah dgn
batas UUPA dan per-UU lainnya.

21
Jadi definisi HAT :
• Hak atas tanah adalah hak yang memberi
wewenang kepada pemegang hak untuk
mempergunakan dan/atau memperoleh
manfaat dari tanah yang dihakinya.

22
2. HAT secara Historis

Hak Atas

* Akan menjadi titik poin pembahasan


Tanah

Sebelum UUPA Setelah UUPA


1. Tanah-tanah Yaitu HAT yang
Hak Barat diatur di dalam
2. Tanah-tanah UUPA*
Hak
Indonesia

23
HAT sebelum UUPA
1. Tanah-tanah Hak Barat
a. Hak Eigendom (HE)
b. Hak Erfacht (HErf)
c. Hak Opstal (HO)
2. Tanah-tanah Hak Indonesia
a. Tanah-tanah dengan Hak Adat
b. Tanah-tanah dengan Hak ciptaan
Pemerintah HB

24
Hak Eigendom (HE)
Adalah hak untuk dengan leluasa:
• menikmati kegunaan suatu benda, dan
• untuk berbuat bebas terhadap benda yang
bersangkutan dengan kekuasaan yang sepenuhnya
• asal tidak bertentangan dengan UU dan Per-UUan
lainnya yang ditetapkan oleh Penguasa yang
berwenang dan tidak mengganggu hak-hak pihak
lain; semuanya itu terkecuali pencabutan hak untuk
kepentingan umum, dgn pemberian ganti kerugian
yang layak menurut ketentuan per-UUan yg berlaku.
(ps.570 BW)

25
….Eigendom (HE)
HE dibagi menjadi 2 (dua), yaitu:
1. HE menurut ps.570 BW, (luasnya ≤10 bau) ( 1 bahu=bau =
500 ubin = 7.031,25 meter persegi (≈ 0,7 ha)
2. HE dengan hak-hak penguasa (luasnya >10 bau) yang
disebut dengan tanah partikelir* (particulaire landerijn),
Tuan tanah mempunyai:
a. Hak dan kewajiban untuk mengangkat kepala desa
b. Hak memperkerjakan pddk laki-laki (rodi) untuk sehari
dalam seminggu dgn hanya diberi makan
c. Hak untuk memungut cukai (sebagian dari dari hasil
panen)
d. Hak atas sewa kebun, sewa tanah dan pajak atas
pemeliharaan ikan
* Telah dihapus dengan UU No.1 tahun 1958 ttg Penghapusan Tanah-tanah Pertikelir

26
Hak Erfacht (HErf)
• Hak kebendaan (zakelijk Recht) untuk
mendapatkan kenikmatan sepenuhnya (volle
genot hebben) dari benda tetap orang lain
dengan syarat membayar pacht-sejumlah
uang tunai atau hasil bumi-setiap tahun
sebagai pengakuan terhadap milik orang
lain. Ps.720 BW

27
Hak Opstal (HO)
• Hak kebendaan untuk mempunyai gedung-
gedung, usaha atau tanaman di atas tanah
orang lain.  Ps.711 BW
• Bila berakhir, dan di atas tanah tersebut masih
ada tanah dan bangunan, maka opstaler
mendapat penggantian sesuai dengan nilainya
sedangkan erfpachter tidak.

28
Tanah-tanah hak Indonesia
Hak-hak atas Hak-hak atas tanah Hak-hak atas
tanah Adat ciptaan Pemerintah tanah ciptaan
Hindia Belanda Pemerintah
Swapraja

1. Grant
Hak menguasai Hak-hak individual Sultan
dari desa 2. Grant
atas tanah (terkuat
atas tanah Hak Control
dan turun Landerijen eur
(beschikking menurun): Agrarisch
Bezitrecht 3. Grant
srecht) Perseorangan dan Eigendom
(LB) Deli
komunal (AE) Maatsc
happij
4. Hak
konsesi
29
hup