Anda di halaman 1dari 38

KESEHATAN LINGKUNGAN

AGROINDUSTRI I
Dr. dr. Taufik Ashar, MKM
Definisi Agroindustri
• Kegiatan industri yang memanfaatkan hasil
pertanian sebagai bahan baku, merancang dan
menyediakan peralatan serta jasa untuk kegiatan
tersebut.
• Kegiatan agroindustri meliputi:
– industri pengolahan hasil pertanian,
– industri yang memproduksi peralatan dan mesin
pertanian, industri input pertanian (pupuk,pestisida,
herbisida dan lain-lain) dan
– industri jasa sektor pertanian
Tujuan Kesmas Agroindustri

• Umum
– Menjelaskan perilaku sakit pelaku agroindustri. Maksudnya
adalah memberikan edukasi pada masyarakat pekerja
agroindustri dari segi fisik sosial dan biologis yang dapat
menyebabkan sakit.
– Menentukan faktor yang bertanggung jawab terhadap variasi
penerimaan gejala penyakit yang mengikuti gejala-gejala ini
dengan sakitnya dan reaksi terhadap penyakit para pelaku
agroindustri.
• Khusus
– Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang bekerja di
bidang agroindustri.
– Melindungi masyarakat sekitar agar terlindung dari
pencemaran perusahaan agroindustri.
Masalah Utama Kesling Agroindustri

Limbah dan Vektor


Pestisida Makanan
Sampah Penyakit
LIMBAH DAN
SAMPAH
Masalah Limbah
• Definisi
– Limbah adalah sisa suatu usaha dan atau kegiatan
yang mengandung bahan berbahaya dan beracun
yang karena sifat dan atau konsentrasi serta
jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak
langsung dapat mencemarkan lingkungan hidup
dan dapat membahayakan lingkungan hidup,
kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta
makhluk lain.
Limbah Agroindustri
• Limbah agroindustri terdiri dari cairan dan padatan
(sludge).
• Sludge dari limbah agroindustri mempunyai tekstur yang
halus dan mengandung kadar air yang cukup tinggi, yaitu
sekitar 50 – 60% serta baunya menyengat.
• Berdasarkan sumbernya, limbah agroindustri mempunyai
komposisi kimia yang bervariasi.
• Komposisi tergantung pada bahan baku yang digunakan
oleh masing-masing industri dan proses yang dialaminya.
• Secara kimia limbah-limbah mengandung beberapa unsur
hara makro dan mikro ataupun unsur logam berat. Limbah
agroindustri yang dapat digunakan adalah daun singkong,
dedak, kulit kopi, onggok.
Masalah Limbah Agroindustri
Adanya logam mikro atau logam
berat (misal Zn, Cu, Ni, Cd, Cr,dan Pb)

Kemungkinan adanya senyawa


organik racun

Kemungkinan adanya bibit penyakit


(patogen),

Adanya kelebihan N lepas ke


lingkungan
• Jenis Limbah
– Limbah cair
– Limbah padat
– Limbah gas dan partikel
• Diantara ketiga macam limbah tersebut ada yang bersifat beracun
atau berbahaya yang dikenal sebagai limbah B3 (Bahan Berbahaya
dan Beracun).
• Limbah B3 adalah setiap bahan sisa (limbah) suatu kegiatan proses
produksi yang mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3)
karena bersifat (toxicity, flammability, reactivity, dan corrosivity)
serta konsentrasi atau jumlahnya yang baik secara langsung
maupun tidak langsung dapat merusak, mencemarkan lingkungan,
atau membahayakan kesehatan manusia
Dampak
• Efek akut :
– kerusakan system saluran pernapasan,
– saluran pencernaan,
– sistem kardiovaskuler, dll.
• Efek kronis :
– karsinogenik / pendorong terjadinya kanker,
– mutasi sel tubuh,
– kerusakan sistem reproduksi, dll.
Penyakit yang Ditimbulkan

• Insect bone disease (penyakit akibat serangga)


; lalat = diare, kolera, ; nyamuk = DBD
• Roden bone disease (disebabkan oleh
rodentia) ; penyakit pess
• Vector jamur ; penyakit kulit
• Vector cacing ; dll.
Pengelolaan Limbah
• Pengolahan secara fisika
• Pengolahan secara kimia
• Pengolahan secara biologi

• Tujuan Pegolahan:
– Untuk mengurai kandungan bahan pencemar di dalam
air terutama senyawa organic, padatan tersuspensi,
mikroba pathogen, dan senyawa organic yang tidak
dapat diuraikan oleh mikroorganisme yang terdapat di
alam
Pengolahan Fisika
• Definisi: pengolahan lanjutan terhadap air buangan agar
bahan-bahan tersuspensi berukuran besar dan yang mudah
mengendap atau bahan-bahan yang terapung disisihkan
terlebih dahulu
• Pemisahan:
– Penapisan
– Presipitasi : peristiwa jatuhnya cairan
– Flotasi : pengapungan
– Filtrasi : penyaringan
– Teknik membrane (reverse osmosis) untuk unit-unit pengolahan
kecil yang bertujuan untuk menggunakan kembali air yang
diolah. Teknik ini memerlukan biaya yang besar.
Pengolahan Kimia
• Definisi: Pengolahan limbah yang menerapkan prinsip
koloid untuk menghilangkan partikel-partikel yang tidak
mudah mengendap (koloid) logam-logam berat, senyawa
fosfor dan zat organic dengan menambahkan bahan kimia
• Pemisahan:
– Membubuhkan elektrolit yang mempunyai muatan yang
berlawanan dengan muatan koloidnya agar terjadi netralisasi
sehingga dapat diendapkan. Misalnya untuk mengandapkan
logam berat atau senyawa fosfor dilakukan dengan
menambahkan alkali (air kapur).
– Menggunakan sifat koloid dengan elektroforesis (Freedrick
Cottrell). Cerobong asap pabrik bagian dalam dilengkapi dengan
pengendap elektrostatika berupa lempengan logam yang diberi
muatan listrik yang akan menarik dan menggumpalkan debu
halus dalam asap buangan.
Pengolahan Biologi
• Definisi: Menggunakan peranan
mikroorganisme, seperti bakteri, protozoa,
algae, dll
• Cara:
– Aerob : mutlak perlu oksigen
– Anaerob : tidak memerlukan oksigen
VEKTOR
VEKTOR
Definisi

• Vektor: Organisme(hewan biasanya serangga) yang berperan dalam


penyebaran organisme pathogen dengan manusia
• Reservoar (penjamu) penyakit adalah binatang yang didalam
tubuhnya terdapat kuman penyakit yang dapat ditularkan kepada
manusia (misalnya tikus).
• Pengendalian vektor penyakit adalah segala upaya untuk
mencegah dan memberantas vektor.
• Unit pengendali Vektor: unit yang mengendalikan vektor dengan
tugas adalah mengenali, mengevaluasi, dan mengendalikan vektor
• Ekologi Vektor: ilmu yang mempelajari hubungan antara vektor
dengan sejenisnya, makhluk lain yang tidak sejenis, dan dengan
alam lingkungannya yang non biologis
Tujuan Pengendalian Vektor
• Menurunkan kepadatan populasi vector pada
tingkat yang tidak membahayakan bagi
kesehatan masyarakat
Hewan Pembawa
• Nyamuk
• Lalat
• Tikus & mencit
• Serangga terbang
• Medium perantara nya --- bisa air
Pemberantasan Vektor
• Dengan bioremediasi ; digunakan untuk
meningkatkan kualitas air dengan mengubah
kualitas sehingga daur nyamuk dapat keluar dari
ekosistem. Bioremediasi : pemulihan secara
biologis.
• Kontrol kimia ; melalui aplikasi insektisida dan
obat-obatan, manajemen sampah, pembersihan
dan desinfektan kandang, ventilasi
• Penempatan perangkap, pemberantasan secara
kimiawi dengan umpan beracun
Pengelolaan Lingkungan untuk
Pengendalian Vektor
• Usaha perencanaan = identifikasi masalah,
studi kelayakan, percobaan lapangan, analisa
dampak lingkungan, usulan program
• Organisasi
• Pelaksanaan = modifikasi dan manipulasi
• Monitoring
Pengelolaan Lingkungan untuk
Pengendalian Vektor
• Modifikasi lingkungan : transformasi fisik yang permanen
atau berjangka panjang terhadap tanah, air, dan tumbuh-
tumbuhan.
– Tujuannya ; mencegah, menghilangkan, atau menurunkan
habitat larva tanpa menyebabkan pengaruh yang merugikan
manusia.
– Contoh : drainage perpipaan = untuk mengurangi stadium air
dari perkembangan vektor, pengisian rawa dengan bahan
buangan padat, pengaturan kemiringan tanah, dll.
• Manipulasi : kegiatan berulang yang terencana yang
bertujuan untuk menghasilkan kondisi sementara yang
tidak cocok untuk perkembangbiakan vektor pada
habitatnya. Contoh : perubahan kadar garam dalam air, dll.
Peranan Vektor Penyakit
• Peran:
– Pengganggu
– Penular penyakit
• Vektor yang berperan sebagai pengganggu yaitu
nyamuk, kecoa/lipas, lalat, semut, lipan,
kumbang, kutu kepala, kutu busuk, pinjal, dll.
• Penularan penyakit pada manusia melalui vektor
penyakit berupa serangga dikenal
sebagai arthropod - borne diseases atau sering
juga disebut sebagai vector – borne diseases
Park & Park, membagi klasifikasi arthropods borne diseases yang sering
menyebabkan terjadinya penyakit pada manusia sebagai berikut :

No Arthropoda Penyakit Bawaan


1. Nyamuk Merupakan vektor dari penyakit Malaria, Filaria, Demam
kuning Demam berdarah, Penyakit otak, demam haemorhagic
2. Lalat Merupakan vektor dari penyakit tipus dan demam paratipus, diare,
disentri, kolera, gastro-enteritis, amoebiasis, penyakit lumpuh,
conjunctivitis, anthrax
3. Lalat Pasir Merupakan vektor penyakit leishmaniasis, demam papataci dan
bartonellosisi, Leishmania donovani,
4. Lalat Hitam Merupakan vektor penyakit Oncheocerciasis
5. Lalat tse2 Merupakan vektor dari penyakit tidur
6. Kutu Merupakan vektor dari penyakit tipus mewabah, relapsing demam,
parit
7. Pinjal penyakit sampar, endemic typhus
8. Sengkenit Penyakit Rickettsia (Rickettsia Rickettsii)
9. Tungau penyakit tsutsugamushi atau scrub typhus yang disebabkan oleh
Rickettsia tsutsugamushi,
Transmisi Arthropoda Borne Diseases
• Masuknya agen penyakit kedalam tubuh
manusia sampai terjadi atau timbulnya gejala
penyakit disebut masa inkubasi atau
incubation period, khusus pada arthropods
borne diseases ada dua periode masa inkubasi
yaitu pada tubuh vektor dan pada manusia
1. Inokulasi (Inoculation)
• Masuknya agen penyakit atau bibit yang berasal dari arthropoda
kedalam tubuh manusia melalui gigitan pada kulit atau deposit
pada membran mukosa disebut sebagai inokulasi.
2. Infestasi (Infestation)
• Masuknya arthropoda pada permukaan tubuh manusia kemudian
berkembang biak disebut sebagai infestasi, sebagai contoh scabies.
3. Extrinsic Incubation Period dan Intrinsic Incubation Period
• Waktu yang diperlukan untuk perkembangan agen penyakit dalam
tubuh vektor disebut sebagai masa inkubasi ektrinsik, sebagai
contoh parasit malaria dalam tubuh nyamuk anopheles berkisar
antara 10 – 14 hari tergantung dengan temperatur lingkungan dan
• masa inkubasi intrinsik dalam tubuh manusia berkisar antara 12 –
30 hari tergantung dengan jenis plasmodium malaria.
4. Definitive Host dan Intermediate Host
• Disebut sebagai host definitif atau intermediate tergantung dari apakah
dalam tubuh vektor atau manusia terjadi perkembangan siklus seksual
atau siklus aseksual pada tubuh vektor atau manusia, apabila terjadi siklus
sexual maka disebut sebagai host definitif, sebagai contoh parasit malaria
mengalami siklus seksual dalam tubuh nyamuk, maka nyamuk anopheles
adalah host definitive dan manusia adalah host intermediate.
5. Propagative, Cyclo – Propagative dan Cyclo - Developmental
• Pada transmisi biologik dikenal ada 3 tipe perubahan agen penyakit dalam
tubuh vektor yaitu
– bila agen penyakit atau parasit tidak mengalami perubahan siklus dan hanya
multifikasi dalam tubuh vektor disebut propagative seperti plague bacilli pada
kutu tikus,
– dengue (DBD) bila agen penyakit mengalami perubahan siklus dan multifikasi
dalam tubuh vektor disebut cyclo – propagative seperti parasit malaria dalam
tubuh nyamuk anopheles
– agen penyakit mengalami perubahan siklus tetapi tidak mengalami proses
multifikasi dalam tubuh vektor seperti parasit filarial dalam tubuh nyamuk
culex.
Pengendalian Vektor Terpadu (PVT)
• Peraturan Menteri No.374 tahun 2010 mendefinisikan bahwa
pengendalian vektor merupakan kegiatan atau tindakan yang ditujukan
untuk menurunkan populasi vektor serendah mungkin sehingga
keberadaannya tidak lagi beresiko untuk terjadinya penularan penyakit di
suatu wilayah atau menghindari kontak masyarakat dengan vektor
sehingga penularan penyakit yang dibawa oleh vektor dapat dicegah
• Mengingat keberadaan vektor dipengaruhi oleh lingkungan fisik, biologis
dan social budaya, maka pengendaliannya tidak hanya menjadi tanggung
jawab sektor kesehatan saja tetapi memerlukan kerjasama lintas sector
dan program.
• Pengendalian vektor dilakukan dengan memakai metode pengendalian
vektor terpadu yang merupakan suatu pendekatan yang menggunakan
kombinasi beberapa metoda pengendalian vektor yang dilakukan
berdasarkan pertimbangan keamanan, rasionalitas, efektifitas
pelaksanaannya serta dengan mempertimbangkan kesinambungannya
Keunggulan PVT
1. Dapat meningkatkan keefektifan dan efisiensi
sebagai metode atau cara pengendalian
2. Dapat meningkatkan program pengendalian
terhadap lebih dari satu penyakit tular vektor
3. Melalui kerjasama lintas sector hasil yang
dicapai lebih optimal dan saling
menguntungkan.
Prinsip-Prinsip PVT
1. Pengendalian vektor harus berdasarkan data tentang
bioekologi vektor setempat, dinamika penularan penyakit,
ekosistem dan prilaku masyarakat yang bersifat spesifik
local (evidence based)
2. Pengendalian vektor dilakukan dengan partisipasi aktif
berbagai sector dan program terkait, LSM, Organisasi
profesi, dunia usaha /swasta serta masyarakat.
3. Pengendalian vektor dilakukan dengan meningkatkan
penggunaan metoda non kimia dan menggunakan
pestisida secara rasional serta bijaksana
4. Pertimbangan vektor harus mempertimbangkan kaidah
ekologi dan prinsip ekonomi yang berwawasan lingkungan
dan berkelanjutan.
Pengendalian Vektor
• Pengendalian secara Fisika
• Pengendalian secara Kimia
• Pengendalian secara Biologi
Pengendalian Fisika
• Metode pengendalian fisik dan mekanik adalah upaya-
upaya untuk mencegah, mengurangi, menghilangkan
habitat perkembangbiakan dan populasi vektor secara
fisik dan mekanik
• Contohnya:
– modifikasi dan manipulasi lingkungan tempat perindukan
(3M, pembersihan lumut, penanaman bakau, pengeringan,
pengalihan/ drainase, dll)
– Pemasangan kelambu
– Memakai baju lengan panjang
– Penggunaan hewan sebagai umpan nyamuk (cattle barrier)
– Pemasangan kawat
Pengendalian Fisika
• Konstruksi bangunan tidak memungkinkan masuk
dan berkembang biaknya vektor dan reservoar
penyakit kedalam ruang kerja dengan memasang
alat yang dapat mencegah masuknya serangga
dan tikus.
• Menjaga kebersihan lingkungan, sehingga tidak
terjadi penumpukan sampah dan sisa makanan.
• Meniadakan tempat perindukan serangga dan
tikus.
Pengendalian Kimia
• Dengan melakukan penyemprotan, pengasapan, memasang umpan,
membubuhkan abate pada tempat penampungan air bersih
• Menggunakan insektisida dengan syarat:
– sangat toksik terhadap vektor sasaran
– kurang bahaya untuk manusia, binatang dan tanaman yang berguna
– menarik bagi vektor
– tidak mahal, mudah diproduksi, mudah disediakan
– secara kimia stabil residu
– tidak stabil pada aplikasi udara = agar tidak mencemari lingkungan
– tidak mudah terbakar
– tidak korosif
– tidak meninggalkan warna
– mudah disiapkan menjadi formulasi yang diinginkan
Pengendalian secara Biologi
• Menggunakan ikan pemakan larva
– menggunakan ikan guppi (paecilia reticulate) dan ikan kepala
timah.
– dosis yang disarankan oleh WHO, adalah 3-7 ekor / m2.
• Menggunakan bakteri bacillus thuringiensis
– dapat mematikan larva
– aman terhadap vertebrata, flora & fauna bukan sasaran
• Menggunakan IGR (insect growth regulator) sintetik
– IGR adalah hormone yang dapat mematikan larva.
– aman digunakan di sekitar manusia.
– berbagai penelitian mengatakan bahwa IGR efektif terhadap
larva aedes aegepty.
• Manipulasi gen (penggunaan jantan mandul)
Pengendalian Lalat
• Pengendalian dengan listrik frekwensi tinggi.
• Cara mekanik dengan memasang perangkap

• Pengelolaan di lapangan
– Manajemen kebersihan ; pembersihan dan
desinfektan kandang, terutama setelah panen,
– Manajemen sampah pembuangan ; kotoran dan
bangkai ayam,
– Manajemen kandang ; ventilasi, pengendalian
kelembapan dan kebocoran air
– Kontrol kimia melalui insektisida dan obat-obatan.
Pemberantasan tikus & mencit

• Penempatan perangkap
• Secara kimiawi dengan umpan beracun
Terima Kasih