Anda di halaman 1dari 42

Pembimbing : dr.Isrun Masari,Sp.

An

ANESTESI REGIONAL PADA SECTIO CAESAREA


Oleh: Tommy Akasia Laksana Putra
Pendahuluan
• Anestesi regional (RA) dan anestesi umum (GA) adalah
teknik anestesi yang umumnya digunakan untuk operasi
Sesar (Sectio Caesarea), keduanya memiliki kelebihan
dan kekurangan. Operasi caesar dilakukan ketika
seorang bayi dilahirkan melalui sayatan di perut ibu dan
dinding rahim. Dengan anestesi regional (anestesi
epidural), anestesi dimasukkan ke dalam ruang di sekitar
tulang belakang pasien, sementara dengan anestesi
spinal, obat ini disuntikkan ke dalam kolom tulang
belakang pasien.
LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN
• Nama : Ny.R
• Jenis kelamin : Perempuan
• Usia : 24 tahun
• Agama : Islam
• Status marital : Menikah
• Status paritas : G1P0A0
• Tanggal masuk RS : 8 Maret 2019
ANAMNESIS

Keluhan utama
• Os mengeluh keluar air-air dari jalan lahir sejak
± 12 jam SMRS.
Riwayat penyakit sekarang:
• Os datang dengan keluhan keluar air-air sejak ±
12 jam SMRS, nyeri perut yang menjalar ke
pinggang, keluar darah bercampur lendir (+).
• Pasien sudah menikah selama 12 tahun.
Riwayat penggunaan KB (-).
• Riwayat penyakit dahulu: -
• Riwayat penyakit keluarga: -
• Riwayat obat-obatan: -
• Riwayat gaya hidup dan kebiasaan:
PEMERIKSAAN FISIK

Status Generalis:
• Keadaan umum: Tampak Sakit Sedang
• Kesadaran: Compos Mentis GCS E4V5M6 = 15
• Tanda-tanda vital:
 Tekanan darah : 110/80 mmHg
 Suhu : afebris
 Nadi : 82 x/menit
 RR : 22 x/menit
• Kepala : Normocephal
• Mata : SI -/-, CA -/-, RC +/+, isokor +/+
• THT : DBN
• Leher : Pembesaran KGB (-)
Thoraks
• Ins : Simetris, jejas (-)
• Pal : Vokal Fremitus +/+, krepitasi (-), nyeri tekan (-)
• Per : Sonor (+)
• A : Cor : Reg. BJ I, II, Gallop (-), Murmur (-)
Pulmo : Vesikuler +/+, Wheezing -/-, Rhonki -/-.
Abdomen
• Ins : Cembung sesuai kehamilan, linea (+) striae (+),
• Pal : TFU 31 cm, letak punggung janin kiri, presentasi kepala,
taksiran berat janin 3100 gr, nyeri tekan (-)
• Per : Timpani (+)
• Aus : DJJ 151 x/menit, bising usus (+) normal
Genitalia: dalam batas normal
Ekstremitas: akral hangat, capillary refill <2 detik
Pemeriksaan Penunjang
• Darah Rutin (tanggal 08 Maret 2019)
• WBC : 7.98x 103/L
• RBC : 3.37 x 1012/L
• HGB : 9.5 gr/dL
• HCT : 27.9%
• PLT : 199x 109/L
• Masa Pendarahan : 2(1 – 3 menit )
• Masa Pembekuan : 3(2 – 6 menit)
• STATUS ASA: 1/2/3/4/5/E
• PERSIAPAN PRA ANESTESI
• Pasien telah diberikan informed consent
• Puasa sebelum tindakan operasi
DIAGNOSA
• G1P0A0 H 37 minggu inpartu + KPD.

PERSIAPAN PRA ANESTESI
• Pasien telah diberikan informed consent
• Puasa sebelum tindakan operasi
PERI-OPERATIF

a. Tindakan Anestesi :
• Metode : Anestesi Regional
• Premedikasi : Ranitidin 50 mg
Ondansetron 4 mg
Dexamethasone 50 mg
b. Anestesi Regional :
• Teknik : Spinal anestesi
• Lokasi Tusukan :L3–4
• Obat Anestesi Lokal : Buvipacaine 15 mg
• Adjuvant :-
• Pemeliharaan : O2
Keadaan Selama Operasi

• Letak Penderita : Supine


• Penyulit Waktu Anestesi : Tidak Ada
• Lama Anestesi : ± 1 jam
• Jumlah Perdarahan : ± 250 cc
• Jumlah Urin = 100cc
• Jumlah cairan
• Input : RL 4 kolf
Total : 2000 ml
• Output : Perdarahan (±250cc), Urine (±100 cc)
Kebutuhan Cairan

• BB = 75 Kg
Maintenance (M)
• M = 2 cc/kgBB
• M = 2 cc x 75
• M = 150 cc
Pengganti Puasa (P)
• P=6xM
• P = 6 x 150
• P = 900 cc
Stress Operasi (O)
• O = BB x 6 cc (operasi sedang)
• O = 75 x 6 cc
• O = 450cc
Kebutuhan Cairan Selama Op
• Jam I = ½ (P) + M + O
• = ½ (900) + 150 + 450
• = 1050 cc
• Jam II = ¼ (P) + M + O
• = ¼ (900) + 150 + 450
• = 825 cc
• EBV = 65 x BB
• = 65 x 75
• = 4875 cc
• ABL = Δ Ht x EBV x 3
• 100
• = (37-28) x 4875 x 3
• 100
• = 1316.25 cc
Monitoring Anestesi
Jam Tindakan Nadi Saturasi TD RR
(x/menit) O2 (%) (mmHg) (x/menit)

08.15  Pasien masuk ke kamar operasi, dan


08.20 dipindahkan ke meja operasi 90 98 115/75 18
08.30  Pemasangan monitoring tekanan darah, 86 99 108/68 20
08.45 nadi, saturasi O2 dan urin bag 85 99 105/65 18
08.47 dikosongkan. 88 98 108/60 20
08.50  Diberikan cairan RL 1 kolf dan obat 70 99 109/62 22
09.00 premedikasi 105 97 90/63 20
09.15  Obat spinal dimasukkan setinggi L3-L4 75 98 90/60 18
09.30 (Bupivacaine 15 mg) 84 98 98/68 18
09.45  Pasien diposisikan telentang
10.00  Operasi dimulai
10.15  Kondisi terkontrol
 Operasi selesai
 Pelepasan alat monitoring
 Pasien dipindahkan ke RR
Ruang Pemulihan
• Masuk Jam : 10.12 WIB
• Keadaan Umum
• Kesadaran : Compos mentis
• GCS : 15
• Tanda vital
• TD : 110/70 mmHg
• Nadi : 98 x/menit
• RR : 20 x/menit
• Pernafasan : Baik
Scoring Aldrete:
• Aktivitas :1
• Pernafasan : 2
• Warna Kulit : 2
• Sirkulasi :2
• Kesadaran :2
• Jumlah :9
Instruksi Anestesi Post Operasi

• Monitoring tanda vital dan perdarahan tiap


15 menit
• Tirah baring menggunakan bantal
• Boleh minum bertahap
• Instruksi lain sesuai dr. Hanif M. Noor,
Sp.OG
Anatomi Medula Spinalis
Anestesi Spinal
Indikasi

• Bedah ekstremitas bawah


• Bedah panggul
• Tindakan sekitar rectum-perineum
• Bedah obsetri-genekologi
• Bedah urologi
• Bedah abdomen bawah
Kontraindikasi

• Kontraindikasi Absolut Kontraindikasi relative


– Pasien menolak • Infeksi sistemik (sepsis,
– Infeksi pada tempat suntikan bakteremi)
• Infeksi sekitar tempat suntikan
– Hipovolemia berat, syok • Kelainan neurologis
– Koagulopati • Kelainan psikis
– Tekanan intracranial meninggi • Bedah lama
– Fasilitas resusitasi minim • Penyakit jantung
– Kurang pengalaman atau tanpa • Hipovolemia ringan
didampingi konsultan anesthesia • Nyeri pinggang kronis
Derajat blok motorik anestesi spinal

Derajat blok Kriteria Bomage Persentase


motorik skor

Tidak ada blok Menekuk sempurna lutut dan kaki 0


Blok parsial Hanya mampu menekuk lutut 33
peregrakan kaki sempurna

Hampir lengkap Tidak dapat menekuk lutut, fleksi 66


parsial kaki

Lengkap Tidak mampu menggerakan 100


tungkai atau kaki
Penilaian dan Persiapan Pra Anestesia

• Anamnesis
• Pemeriksaan fisik
• Premedikasi
• Induksi anestesi
• Peralatan Anestesi Spinal
Anestetik lokal yang paling sering digunakan

• Lidokaine (xylobain, lignokain) 2%: sifat isobarik, dosis


20-100mg (2-5ml)
• Lidokaine (xylobain, lignokaine) 5% dalam dextrose
7.5%: sifat hyperbarik, dosis 20-50 mg (1-2ml)
• Bupivakaine (markaine) 0.5% dlm air: sifat isobarik,
dosis 5-20mg (1-4ml)
• Bupivakaine (markaine) 0.5% dlm dextrose 8.25%: sifat
hiperbarik, dosis 5-15mg (1-3ml)
Teknik Anestesi Spinal
Komplikasi

Komplikasi pasca tindakan

1. Nyeri tempat suntikan


2. Nyeri punggung
3. Nyeri kepala karena kebocoran likuor
4. Retensio urine
5. Meningitis
Komplikasi tindakan anastesi spinal meliputi

• Hipotensi berat
• Bradikardia
• Hipoventilasi
• Trauma pembuluh darah
• Trauma saraf
• Mual-muntah
• Gangguang pendengaran
• Blok spinal tinggi atau spinal total.
Anestesi pada Seksio Caesar6

termasuk indikasi untuk melakukan operasi, urgensi,


keinginan pasien dan dokter kandungan, dan
keterampilan dokter anestesi.
Anestesi regional

• Operasi caesarea mengharuskan bius dermatom sampai


T4. Karena terkait blokade simpatik, pasien harus
mendapat bolus intravena larutan kristaloid. Bolus
tersebut tidak akan konsisten mencegah hipotensi tetapi
hampir dapat menghilangkan hipovolemia yang ada.
Anestesi spinal

• Pasien biasanya ditempatkan pada posisi lateral


dekubitus atau posisi duduk, dan disuntikkan lidocaine
hiperbarik atau bupivakain.
• Penambahan preservative-free morphine (0,1-0,3 mg)
hingga 24 jam, sebagai analgesia pasca operasi tetapi
membutuhkan pemantauan terhadap depresi
pernapasan pasca operasi.
Anestesi epidural

• Anestesi epidural untuk operasi caesar biasanya


dilakukan dengan menggunakan kateter, yang
memungkinkan memberikan anestesi jika diperlukan dan
memberikan jalur yang sangat baik untuk memberi
opioid pasca operasi. Setelah aspirasi dan dosis
ditentukan, 15-25 mL anestesi lokal disuntikkan perlahan
per 5-mL untuk meminimalkan risiko toksisitas sistemik
anestesi lokal.
Kombinasi anestesi spinal dan epidural

• Seperti disebutkan sebelumnya, obat yang diberikan


melalui epidural harus diberikan dan dititrasi dengan
hati-hati  lubang dural terbentuk oleh jarum spinal
dapat memfasilitasi pergerakan obat epidural ke CSF
dan meningkatkan efeknya.
Anestesi umum

• Aspirasi paru
• Pemeriksaan leher, rahang bawah, gigi, dan orofaring sering
membantu memprediksi pasien yang mungkin memiliki masalah.
• Prediktor yang berguna untuk kesulitan intubasi termasuk klasifikasi
Mallampati, leher pendek, mandibula mundur , gigi seri rahang atas
yang menonjol, dan riwayat intubasi sulit sebelumnya.
• Posisi yang tepat dari kepala dan leher
Anestesi untuk section caesarea emergensi

• Pemilihan teknik anestesi ditentukan oleh pertimbangan


untuk keselamatan ibu, masalah teknis, dan keahlian
ahli anestesi.
• Anestesi regional adalah pilihan.
• Jika dipilih anestesi umum, denitrogenasi yang memadai
dapat dicapai dengan napas maksimal dengan100%
oksigen sambil dimonitor.
Analisis Kasus

• Os datang dengan keluhan keluar air-air sejak ± 12 jam


SMRS, nyeri perut yang menjalar ke pinggang, keluar
darah bercampur lendir (+). Pasien belum pernah
menggunakan KB sebelumnya.
• Pada saat kunjungan pra anestesi (anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang),
didapatkan kesadaran compos mentis, GCS E4M6V5.
Status fisik pada pasien ini adalah ASA 2. Pada tanda-
tanda vital TD 110/80 mmHg, respirasi 20 x/ menit, nadi
84 x/ menit dan suhu 36,5 °C.
Premedikasi
• Pada pasien ini diberikan obat-obat
premedikasi yaituOndansentron 4 mg (IV),
Dexametasone 5 mg (IV), dan Ranitidine
50 mg (IV). Dalam pemberian obat
premedikasi pada pasien ini terdapat
kesalahan waktu pemberian obat. Obat
premedikasi seharusnya diberikan di
ruangan rawat 1-2 jam sebelum dilakukan
induksi, namun pada pasien diberikan
sekitar 15 menit sebelum induksi spinal.
• Pasien direncanakan akan dilakukan Regional Anestesi (Anestesi
spinal).
• Induksi menggunakan Bupivacaine HCL yang merupakan anestesi
lokal golongan amida. Cara kerjanya yaitu memblok proses
konduksi syaraf perifer jaringan tubuh, bersifat reversibel.
• Anastesi spinal lebih baik digunakan pada seksio sesarea, karena
menguntungkan bagi ibu dan bayi
Monitoring Intraoperatif
• Pada pasien dengan anestesi spinal, maka perlu
dilakukan monitoring tekanan darah serta nadi setiap 15
menit sekali untuk mengetahui penurunan tekanan darah
yang bermakna.
• Hipotensi terjadi bila terjadi penurunan tekanan darah
sebesar 20-30% atau sistole kurang dari 100 mmHg.
• Namun bila dengan cairan infus masih terjadi hipotensi,
maka dapat diberikan vasopresor berupa efedrin dengan
dosis 10 mg intravena
Kebutuhan Cairan
• Kebutuhan cairan pasien ini. Diketahui :
• 1050 cc pada jam pertama
• - 825 cc pada jam kedua
• - 250 cc untuk mengganti kehilangan cairan
pada perdarahan intraoperatif
• - 100 cc untuk mengganti kehilangan cairan urin
• Jumlah seluruh cairan yaitu 2225 cc, maka
pemberian 2500 ml kristaloid selama operasi
sudah mencukupi kebutuhan cairan pasien
KESIMPULAN

• Anestesi regional menjadi teknik yang lebih disukai pada


section caesarea karena anestesi umum dikaitkan
dengan risiko yang lebih besar untuk terjadinya
morbiditas dan kematian ibu. Spinal anestesi adalah
pemberian obat anestetik lokal dengan cara
menyuntikkan ke dalam ruang subarakhnoid.
DAFTAR PUSTAKA

• Rofiq A, D Sutiyono. Perbandingan Antara Anestesi Regional Dan Umum Pada


Operasi Caesar. Journal Anestesi Indonesia (serial online) 2009. (diakses Apr 19
2013); 1(3) (16 layar).
• Nugroho AM. Anestesia Obstetrik. Dalam: Soenarto RF, S Chandra, editor. Buku Ajar
Anestesiologi. Jakarta: Departemen Anestesiologi dan Intensive Care Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia / RS Cipto Mangunkusumo Jakarta; 2012. Hal 351
– 373.
• Winkjosastro H. Ilmu Bedah Kebidanan. Edisi ke-1. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo; 2007. Hal 133-134.
• Fakultas Kedokteran Universitas Jambi. Catatan Anestesi. Jambi; 2012. Hal 21-24.
• Latief S, KA Suryadi, MR Dachlan. Edisi ke-2: Bagian Anestesiologi dan Terapi
Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2001. Hal 105 – 112.
• Chris Ankcorn dan William F Casey. Spinal anaesthesia-a practical guide. Available
from : http://www.nda.ox.ac.uk/wfsa/html/u03/u03_003.htm. Diakses tanggal 18 April
2013.
• Muhaiman M, Thaib MR, Sunatrio S, Dahlan R. Anestesiologi. Disusun Staf Pengajar,
Bagian Anestesiologi dan terapi Intensif FKUI, Jakarta, 1989. Hal 123-133.