Anda di halaman 1dari 12

A.

DEFINISI-DEFINISI DASAR

Secara sederhana persamaan diferensial dapat didefinisikan sebagai persamaan yang memuat suatu
fungsi yang belum diketahui beserta turunannya.Apabila fungsi yang belum diketahui hanya
mempunyai sebuah variable bebas, maka persamaan diferensial disebut persamaan diferensial
biasa.Sebaliknya , apabila fungsi yang belum diketahui tersebut mempunyai lebih dari sebuah
variable bebas , maka diperoleh persamaan diferensial parsial. Dalam modul ini hanya akan dibahas
persamaan diferensial biasa.
Contoh 2.1
Berikut ini disajikan beberapa contoh persamaan diferensial.

+y( =0 (2.1)

+2 + – 4y = sin x (2.2)

+ =0 (2.3)
Perhatikanlah persamaan diferensial (2.1) dan (2.2) merupakan persamaan diferensial biasa karena
fungsi yang belum diketahui (yaitu fungsi y) hanya memuat sebuah variable bebas ( variabel x pada
persamaan (2.1) dan (2.2)). Variabel y pada persamaan diferensial (2.1) dan (2.2) disebut variabel
terikat.Sedangkan persamaan diferensial (2.3) adalah persamaan diferensial parsial, karena fungsi
yang belum diketahui (yaitu fungsi u) memuat dua variabel bebas yaitu variabel x dan y. Variabel u
disebut variabel terikat.

Selanjutnya akan dibahas pengertian order suatu persamaan diferensial sebagai berikut. Order
suatu persamaan diferensial adalah turunan tertinggi yang muncul pada persamaan diferensial
tersebut.Berdasarkan definisi ini, persamaan diferensial (2.1) merupakan persamaan diferensial
order kedua, karena turunan tertinggi yang muncul pada persamaan (2.1) adalah turunan kedua.
Dengan alas an yang sama diperoleh order persamaan diferensial (2.2) dan (2.3) secara berturut-
turut adalah order ketiga dan kedua. Modul ini hanya akan membahas persamaan diferensial biasa
order pertama. Sedangkan dalam modul berikutnya akan dibahas persamaan diferensial biasa order
kedua.
Ingat kembali bahwa persamaan diferensial memuat suatu fungsi yang belum diketahui.Tujuan kita
adalah mencari fungsi yang belum diketahui yang disebut sebagai penyelesaian persamaan
diferensial.Jadi, penyelesaian persamaan diferensial merupakan fungsi yang memenuhi persamaan
diferensial tersebut. Artinya, apabila fungsi tersebut disubstitusikan ke dalam persamaan diferensial
akan menghasilkan suatu pernyataan yang bernilai benar.

Contoh 2.2

Perhatikan persamaan diferensial order pertama.

= ay , dengan a merupakan suatu konstanta (2.4)

Persamaan diferensial (2.4) menyatakan bahwa turunan suatu fungsi adalah kelipatan dari
fungsi tersebut.Dapatkah Anda menerka fungsi apakah yang memiliki sifat tersebut?Dari
penjelasan Kalkulus, kita dapat menemukan fungsi tersebut adalah fungsi eksponen. Jadi
penyelesaian persamaan diferensial (2.4) adalah

y(x) = C , dengan C merupakan konstanta (2.5)

Untuk menguji apakah benar fungsi y(x) pada (2.5) merupakan penyelesaian persamaan
diferensial (2.4), kita substitusikan fungsi tersebut ke dalam persamaan diferensial , akan diperoleh

(C ) = aC (2.6)

Ca = aC
Perhatikan bahwa ruas kiri persamaan (2.6) sama dengan ruas kanan. Artinya , pensubstitusian
fungsi eksponen (2.5) ke dalam persamaan diferensial (2.4) menghasilkan pernyataan yang bernilai
benar. Jadi , penyelesaian persamaan diferensial (2.4) adalah fungsi eksponen (2.5).

Selanjutnya perhatikan bahwa penyelesaian persamaan diferensial (2.4) , yaitu fungsi eksponen
(2.5) masih memuat konstanta C. Oleh karena itu , fungsi eksponen (2.5) disebut penyelesaian
umum dari persamaan diferensial (2.4). jika kita mensubstitusi konstanta C dengan bilangan 2,
akan diperoleh fungsi

y(x) = 2 (2.7)

Fungsi eksponen (2.7) disebut penyelesaian khusus atau penyelesaian pertikulir dari persamaan
diferensial (2.4).

Secara umum, penyelesaian umum suatu persamaan diferensial adalah fungsi yang memenuhi
persamaan diferensial tersebut dan masih memuat konstanta. Banyaknya konstanta yang terdapat
pada penyelesaian umum sama dengan order pertama akan memuat sebuah konstanta. Sedangkan
penyelesaian persamaan diferensial order kedua akan memuat dua konstanta, dan seterusnya.
Selanjutnya, penyelesaian khusus suatu persamaan diferensial adalah penyelesaian yang diperoleh
dari penyelesaian umum dengan mengganti konstanta dengan bilangan tertentu.
A. CONTOH PEMODELAN

Persamaan diferensial merupakan suatu alat yang digunakan oleh para ilmuwan untuk membuat
pernyataan-pernyataan matematika tentang masalah yang mereka hadapi. Pada kegiatan belajar ini,
akan dibahas 3 isu utama, yaitu :
1. Memformulasikan model matematika dengan menggunakan persamaan diferensial.
2. Menganalisis model matematika dengan menyelesaiakan persamaan diferensial dan
menggali informasi kualitatif tentang penyelesaian persamaan diferensial.
3. Menafsirkan hasil analisis dengan menggunakan latar belakang fisika yang kita
modelkan dalam langkah 1.

Berikut ini disajikan suatu contoh pemodelan dengan menggunakan persamaan diferensial untuk
memodelkan suatu batu yang dilemparkan ke atas secara vertical. Dalam proses pemodelan ini
dapat muncul pertanyaan, yaitu parameter-parameter apakah yang mempengaruhi
percepatan,kecepatan, dan perpindahan suatu batu yang dilemparkan ke atas secara vertikal?
Pertanyaan yang tampaknya sederhana ini ternyata mempunyai jawaban yang tidak
sederhana.Apakah berat dari batu berpengaruh?Gaya gravitasi jelas berpengaruh, tetapi bagaimana
dengan angin dan hambatan udara? Apakah bentuk batu berpengaruh ?laju batu pada saat
meninggalkan tangan kita tampaknya mempengaruhi ketinggian lemparan batu.
Suatu model matematika mengijikan kita untuk membuat suatu daftar parameter yang
pengaruhnya akan kita perhatikan dan menjelaskan secara jelas apa pengaruhnya. Selanjutnya kita
dapat menyederhanakan persoalan dengan menghilangkan pengaruh yang tidak kita mengerti atau
tidak digambarkan secara jelas atau tidak terlalu penting. Akhirnya,akan diperoleh suatu
modelyang merupakan sekumpulan relasi matematika yang meliputi besaran yang diketahui dan
besaran yang tidak diketahui, misalnya kecepatan dari batu sebagai fungsi dari waktu.
Secara intuisi, kita dapat berpendapat bahwa gravitasi seharusnya merupakan factor yang
dominan yang mempengaruhi gerak batu, sehingga kita akan mencoba untuk memperhatikannya
dan menghilangkan parameter yang lain, seperti angina, bentuk batu , dan lain-lain. Jika pendapat
kita salah, maka kesalahan tersebut akan muncul dalam dua hal, yaitu model matematika tidak
dapat diselesaikan tanpa menambahkan informasi yang lain atau hasil dari pemodelan matematika
akan bertentangan dengan fenomena fisika.
Untuk memperoleh model matematika dalam persolan ini, kita mempunyai dua alat untuk
menyelesaikannya, yaitu hukum fisika dan hasil percobaan. Hokum fisika yang digunakan adalah
hokum newton yang menyatakan bahwa gaya total 𝐹𝑖 pada suatu benda dengan massa m yang
berkecepatan a adalah hasil kali dari massa dan percepatan atau 𝐹𝑡 = m a. sedangkan hasil
percobaan menyatakan bahwa gaya gravitasi pada suatu benda sebanding dengan massa benda itu.
Perhatikan bahwa hukum Newton sudah ditulis dalam kalimat matematika, sedangkan
hasil percobaan masih belum. Untuk menuliskan kalimat matematika dari hasil percobaan,
kita memerlukan notasi dan kesepakatan tentang system koordinat untuk menentukan tanda
dari gaya dan sebagainya. Dengan menggunakan notasi dari hokum Newton, dan
mengambil arah ke atas sebagai arah positif, serta memisalkan g adalah konstanta(positif)
perbandingan, maka hasil percobaan dapt ditulis sebagai
𝐹𝑔 = -mg
dimana𝐹𝑔 adalah gaya yang diakibatkan oleh gravitasi yang bekerja pada benda dengan
massa m. tanda negative muncul karena kita telah memilih arah ke atas sebagai arah positif.

Arah positif

F = -m g , g> 0

Gambar 2.1.
Arah koordinat untuk Model Lemparan Batu
Koordinat ini berarti kecepatan postif berarah ke atas,kecepatan negatif berarah kebawah.
Dengan mengabaikan hambatan udara dan pengaruh lainnya berarti gaya grativitasi adalah salah
satu-satunya gaya yang bekerja pada batu. Oleh karena itu, gaya total pada batu hanyalah gaya
gravitasi,yaitu

𝐹𝑡 = 𝐹𝑔

Atau

𝑚𝑎 = −𝑚𝑔

Atau

𝑎 = −𝑔 (2.8)

Persamaan (2.8) adalah model untuk gerak batu yang dilemparkan secara vertical ke atas dengan
hanya memperhatikan pengaruh gaya gravitasi.

Perhatikan bahwa massam dari batu tidak muncul pada persamaan (2.8). Hal ini berarti
model matematika kita menyatakan bahwa gerak dari batu tidak bergantung pada massa batu.

Apakah fenomena atau pengalaman fisika mengarahkan bahwa gerak batu tidak bergantung
pada massa batu? Tidak dapatkah sebuah kelereng dilempar lebih tinggi daripada sebuah bola
bolling? Jadi, apakah yang berpengaruh, massa batu,ukuran batu atau laju batu saat kita
melepaskan batu?

Pertanyaan-pertanyaan di atas dapat menimbulkan keraguan pada kevalidan model yang


diperoleh. Akan tetapi, ada suatu petunjuk yang menyatakan bahwa massa tidak berpengaruh, yaitu
dari hasil percobaan Galileo yang menyatakan bahwa massa tidak
mempengaruhi laju benda jatuh. Jadi, kita dapat mengabaikan pengaruh massa terutama pada saa t
batu jatuh ke bumi.

Sekarang, kita akan merubah model untuk memperoleh lenih banyak informasi tentang
gerak batu. Ingat kembali bahwa percepatan adalah turunan (derivatif) dari kecepatan terhadap
waktu, maka persamaan (2.8) dapat ditulis kembali sebagai

𝑑𝑣
= −𝑔 (2.9)
𝑑𝑡

suatu model yang memasukkan kecepatan.

Selanjutnya, model (2.9) dapat dianalisis untuk memahami relasi kualitatif di antara
variabel-variabel yang muncul dalam model tersebut.Sering kali relasi tersebut dapat digambarkan
dalam bentuk grafik sehingga kita dapat menangkap makna dari relasi tersebut.

Perhatikan bahwa dalam model (2.9), g adalah suatu bilangan positif. Oleh karena itu,
𝑑𝑣
persamaan differensial (2.9) menyatakan bahwa gradien < 0 , yaitu gradien dari kurva
𝑑𝑡

kecepatan waktu selalu benilai negatif. Hal ini berarti kecepatan batu selalu berkurang.

𝑑𝑣
Selanjutnya , model (2.9) menyatakan bahwa gradien dari kurva kecepatan waktu berupa
𝑑𝑡

garis lurus. Hal ini berarti kurva kecepatan waktu berupa garis lurus.

Gambar 2.2

Grafik Penyelesaian Model


Jika kecepatan batu terus berkurang seiring dengan bertambahnya waktu, maka suatu saat
kecepatan tersebut akhirnya akan bernilai negatif, bahkan akan terus bernilai negatif. Ingat kembali
kesepatan kita bahwa arah ke atas adalah arah positif.Oleh karena itu, disimpulkan bahwa
kecepatan negatif berkorespondensi dengan batu yang jatuh. Jadi batu tersebut akan terus jatuh
makin lama makin cepat. Hal ini menunjukkan kelemahan dari model kita karena model kita
mengabaikan bumi yang mengakibatkan batu yang jatuh tersebut berhenti. Meskipun demikian
interpretasi kita menunjukkan kelemahan model kita,yaitu model (2.9) tidak valid untuk sepanjang
waktu.

Sekarang perhatikan kembali grafikkurva kecepatan waktu (Gambar 2.2). Kita mengetahui
bahwa garis mempunyai gradien . Sebenarnya kita dapat menggambar banyak garis dengan
gradien . Jika kita mengetahui titik potong garis baik dengan sumbu t atau dengan sumbu v,
maka kita hanya dapat menggambar sebuah garis yang merupakan kurva kecepatan waktu.

Titik potong ini mempunyai arti fisis yang penting.Titik potong dengan sumbu t adalah titik
dimana kecepatan bernilai nol yaitu pada saat kecepatan batu berubah dari positif menjadi
negatif.Jelas bahwa perubahan ini terjadi pada titik tertinggi dari lintasan batu dan titik potong
dengan sumbu t menyatakan waktu sejak batu dilepaskan sampai mencapai titik tertinggi.
Sebaliknya, titik potong dengan sumbu v menyatakan kecepatan pada saat t = 0, yaitu saat batu
dilepaskan.

Kecepatan saat t = 0 , ditulis v (0) adalah besaran yang dapat kita kotrol secara langsung
pada saat kita melepaskan batu mencapai puncak tidak dapat kita control. Berarti bahwa kita harus
menentukan v (0), kecepatan awal, sebagai bagian dari model kita supaya kita memperoleh grafik
kecepatan waktu yang tunggal.
Berdasarkan argument di atas, kita mengajukan suatu model baru sebagai berikut.

𝑑𝑣
= −𝑔 (2.10)
𝑑𝑡

𝑣 0 = 𝑣0 (2.11)

Dengan konstanta 𝑣0 menyatakan kecepatan awal.Data tambahan (2.11) yang menyatakan nilai dari
fungsi yang belum diketahui (atau nilai dari turunan fungsi yang belum diketahui) pada saat
keadaan awal disebut dengan nilai awal.

Sebagai catatan, banyaknya nilai awal yang diperlukan bergantung kepada order dari
persamaan diferensial.Jika persamaan diferensialnya berorder satu seperti (2.10), maka hanya
diperlukan sebuah nilai awal (2.11).Jika persamaan differensialnya berorde dua, maka dipe rlukan
dua buah nilai awal, dan seterusnya. Contoh masalah nilai awal untuk persamaan diferensial orde
dua adalah

𝑑2 𝑦 𝑑𝑦 𝑑𝑦
2
+ 2 + 𝑦 𝑡 = 0, 𝑦 0 = 𝑦0 , 0 = 𝑦1
𝑑𝑡 𝑑𝑡 𝑑𝑡

Selanjutnya, kita dapat menggambar grafik kecepatan waktu yang tunggal yang
berkorespondensi dengan 𝑣0 > 0.

Gambar 2.3

Grafik Penyelesaian Model (2.10) dan (2.11)


Perhatikan bahwa model (2.10) – (2.11) tetap tidak memuat tentang massa batu, tetatpi model
tersebut menyatakan bahwa kita memerlukan data tambahan yaitu kecepatan awal. Dapat terjadi
gerak dari batu berbeda. Sedangkan gerak dari kelereng dapat sama dengan gerak dari bola boling
jika kita dapat memberikan nilai awal yang sama pada kedua benda tersebut.

Contoh 2: C o n t o h p e m o d e l a n m a s a l a h d u n i a n y a t a m e n g g u n a k a n p e r s a m a a n
diferensial a d a l a h penentuan kecepatan bola yang jatuh bebas di udara, hanya dengan
memperhitungkan g r a v i t a s i d a n t a h a n a n u d a r a . P e r c e p a t a n b o l a t e r s e b u t k e a r a h
tanah adalah p e r c e p a t a n karena gravitasi dikurangi dengan per lambatan karena
gesekan udara. Mencari kecepatan sebagai fungsi waktu mensyaratkan pemecahan sebuah
persamaan diferensial.

Demikianlah suatu contoh pemodelan dengan menggunakan persamaan diferensial, di mana


kita dapat menganalisis model dan penyelesaiannya tanpa terlebih dahulu menyelesaikan
persamaan diferensial. Metode mencari penyelesaian persamaan diferensial akan dipelajari dalam
kegiatan belajar selanjutnya. Model di atas masih dapat dikembangkan misalnya dengan
memperhatikan faktor hambatan udara.