Anda di halaman 1dari 56

LAPORAN PRAKTIKUM WWC

Oleh Kelompok 10 :

• Brian Wirawan
• Jelita Ninda Qorina
• Muhammad Afif
• Shania R.A Sitorus
Tujuan, Alat dan Bahan, Prosedur, Analisis percobaan

Teori Dasar

Percobaan Laju Alir Udara vs Temperatur

OUTLINE Percobaan Laju Alir Udara vs Difusifitas

Percobaan Laju Alir Udara vs Koefisien Perpindahan Massa

Percobaan Perbandingan Bilangan Schmidt dan Reynold

Analisis Kesalahan
2
Tujuan, Alat & Bahan,
1 Prosedur Percobaan

3
Tujuan Percobaan

◉ Menentukan besarnya koefisien perpindahan massa rata-rata dari lapisan tipis


air ke dalam aliran udara, serta mengamati karakteristik perpindahan massa
air-udara pada suatu dinding kolom yang terbasahi.
◉ Mengamati dan memahami hubungan antara kelembaban udara relative (HR)
dan absolute (H) terhadap laju alir fluida di kolom dinding terbasahi (Wetted
Wall Column).
◉ Mengamati dan memahami laju alir fluida terhadap koefisien perpindahan
massa (kG) dari lapisan tipis air ke dalam aliran udara.
◉ Memahami hubungan antara bilangan Sherwood terhadap koefisien
perpindahan massa (kG) air ke udara dalam wetted wall column.

4
Alat dan Bahan

Alat Kegunaan Gambar

Kolom panjang Untuk mengamati dan


menentukkan lapisan
tipis film air dalam
percobaan dimana
dinding kolom dialiri air
melalui selang kecil.

Kompresor Mengalirkan udara


masuk ke dalam
sistem.

5
Alat dan Bahan
Alat Kegunaan Gambar

Termometer Untuk mengukur suhu udara masuk dan keluar kolom,


digital suhu yang digunakan adalah temperatur kering dan basah,
Temperatur basah

Relative mengukur dan menampilkan hasil pengukuran suhu dan


humidity kelembaban udara.
display

Manometer pengukur tekanan berbasis pada ketinggian cairan pada


tube U pipa U.

6
Alat dan Bahan
Alat Kegunaan Gambar

Pompa untuk memompa air masuk ke dalam kolom.

Gelas ukur untuk mengukur volume keluaran air dari kolom, Volume
ini digunakan untuk menghitung debit air, yang akan
berguna untuk mencari laju alir air

Bahan Kegunaan
Air Sebagai media untuk membasahi dinding
Udara Mengalirkan aliran air yang masuk ke WWC 7
Prosedur Percobaan

Mengalirkan Mengulangi
Mancatat
Mengalirkan air ke kolom percobaan
Menyalakan suhu udara
udara ke dengan untuk variasi
kompresor masuk dan
kolom mengatur jenis aliran
keluar
kecepatan lain

8
Menentukkan Jenis Aliran

Volume air
Bilangan
dapat
Mengalirkan Reynold
Bukaan dihitung
Mengalirkan air ke kolom dapat
Menyalakan valve diatur sebagai laju
udara ke dengan dihitung
kompresor besar alir
kolom mengatur (dapat
bukaannya air/volume
kecepatan mengetahui
dengan luas
jenis aliran)
permukaan

9
Analisis prosedur percobaan

 Menyalakan kompresor  untuk mengalirkan udara ke kolom


 Mengalirkan udara dan aliran air ke kolom  Sebagai uji coba perpindahan massa,
dimana Kontak yang terjadi antara air dan udara ini merupakan salah satu peristiwa
perpindahan massa, yaitu perpindahan air dari kolom ke udara. Sistem akan
berusaha untuk mencapai kesetimbangan dengan pergerakan difusi antara molekul
yang saling berkontak.
 Mencatat suhu yang masuk dan keluar  Untuk mencari pengaruh temperatur
terhadap laju alir udara.
 Memvariasikan jenis aliran  mengetahui pengaruh jenis aliran terhadap suhu,
difusivitas air serta koefisien perpindahan massa pada aliran air yang membasahi
dinding pipa
10
2 Teori Dasar

11
Difusi dan Perpindahan massa
 Difusi merupakan peristiwa mengalirnya/berpindahnya suatu zat dalam pelarut dari
bagian berkonsentrasi tinggi ke bagian yang berkonsentrasi rendah secara konstan.
Perbedaan konsentrasi yang ada pada dua larutan disebut gradien konsentrasi.
 Difusi yang paling sering terjadi adalah difusi molekuler. Difusi ini terjadi jika
terbentuk perpindahan dari sebuah lapisan (layer) molekul yang diam dari solid atau
fluida.
 Kecepatan larutan masing-masing komponen dari suatu fasa ke fasa lain
bergantung pada apa yang disebut sebagai koefisien perpindahan massa serta
gradient konsentrasi kesetimbangannya.
 Koefisien perpindahan massa  besaran empiris yang diciptakan untuk
memudahkan persoalan-persoalan perpindahan massa antar fase
12
Mekanisme Difusi

 Mekanisme difusi molekular: Proses  Mekanisme perpindahan massa


ini sering terjadi pada fluida yang konveksi adalah mekanisme
tidak mengalir. perpindahan yang melibatkan
 Contoh : gula pasir yang dimasukkan adanya konveksi paksaan untuk
ke dalam air akan melarut dan meningkatkan laju perpindahan.
berdifusi ke dalam larutan air, kasus  Contoh: zat pewarna yang diteteskan
pakaian basah yang dijemur akan ke dalam segelas air akan berdifusi
menjadi kering secara perlahan secara perlahan-lahan melalui
akibat adanya difusi dari air ke mekanisme difusi molekular, apabila
udara. secara mekanik larutan tersebut
diaduk maka akan terjadi mekanisme
perpindahan massa konveksi. 13
Hukum Fick Pertama dan Kedua
Bila ditinjau komponen A bergerak di dalam suatu larutan, maka laju pindah massa A
dalam arah z per-satuan luas (flux A0) didefinisikan sebagai berikut:

Dasar : pemahaman mengenai gradien konsentrasi antara dua titik akibat terjadinya
difusi molekular. DAB = difusivitas zat A melalui zat B
berkas aliran komponen A disebut NA dan berkas B berharga negatif dan disebut NB.
Sehingga berkas aliran total menjadi
Hukum fick Pertama: 

Untuk gas ideal (Hukum Fick kedua):

14
Perpindahan Massa Pada WWC
berlangsung pada daerah antar muka (interface) antara aliran udara dan aliran air.
Aliran air yang menyusuri dinding kolom diusahakan membentuk lapisan tipis atau film
yang kemudian akan kontak dengan aliran udara yang mengalir di tengah kolom.

Perpindahan massa sangat dipengaruhi dengan waktu kontak antara aliran air dan
udara, selain itu banyak dipengaruhi oleh faktor lain seperti keadaan aliran air yang
laminer atau turbulen.
15
Neraca Massa Pada WWC
NA = 0 (Asumsi tidak ada perpindahan massa dari udara ke air)

Perpindahan massa berdasarkan satuan konstanta perpindahan massa

Dengan ky, kG, kc adalah koefisien perpindahan massa lokal dengan satuan yang
16
sesuai.
Neraca Massa Pada WWC Neraca Masssa
Perpindahan Massa Sepanjang Kolom
(berkas molar NA)

ky,av dan kG,av adalah koefisien Kondisi Tunak


perpindahan massa rata-rata.
Dengan Beda konsentrasi logaritmik :

Asumsi KGP/G dan y konstan  17


Bilangan Sherwood, Reynold,
Schimdt Sherwood Number
◉ Sherwood number  bilangan yang menyatakan gradient
konsentrasi pada permukaan yang digunakan untuk
menghitung konveksi perpindahan massa. Sherwood number
menggambarkan besarnya kemampuan untuk terjadinya
perpindahan massa melalui mekanisme difusi.
Reynold Number
◉ Schmidt Number adalah bilangan yang merupakan
perbandingan antara viskositas kinematik dengan difusivitas
massa. Schmidt Number digunakan untuk menentukan
karakter aliran fluida jika ada momentum secara simultan dan Schmidt Number
difusi massa selama proses konveksi.
◉ Reynold Number adalah bilangan yang menjelaskan kasus
mikrofluida.
18
3 Data Pengamatan

19
Data pengamatan
Tout
Jenis Aliran Delta H Tin-Dry Q(10sec) Humidity
Dry Wet
5 24,6 29,7 28,8 1,38 0,77
10 25,1 29,7 29 1,31 0,77
Turbulen
15 25,3 29,5 29 1,34 0,77
20 24,8 29,2 28,9 1,36 0,75
5 25,6 28,9 28,2 0,22 0,76
10 25,7 28,8 28,2 0,23 0,76
Transien
15 25,4 28,7 28,2 0,24 0,76
20 22,2 28,6 28,2 0,235 0,77
5 25,5 29,1 28,7 0,2 0,77
10 26 28,4 28,4 0,19 0,77
Laminar
15 25,6 28,2 28,2 0,195 0,77
20 24,7 28,2 28,1 0,175 0,77

20
Laju Alir Udara vs
3 Temperatur

21
Profil Hubungan Laju Alir Udara Terhadap Suhu pada Aliran
Turbulen

T out
Grafik Hubungan Antara
Jenis
Aliran
Delta H
T in-Dry
(ºC)
(ºC) Q(m^3/s) Humidity Laju Alir Udara Vs
Dry Wet Temperatur Pada Turbulen
35
5 24,6 29,7 28,8 0,000975 0,77
30

25

Temperatur
10 25,1 29,7 29 0,00135 0,77
20
Turbulen Tin Dry
15
15 25,3 29,5 29 0,00165 0,77 T dry
10 T Wet
5
20 24,8 29,2 28,9 0,00183 0,75
0
0.000975 0.00135 0.00165 0.00183
Q
Profil Hubungan Laju Alir Udara Terhadap Suhu pada Aliran
Transisi

Grafik Hubungan Antara


T out
Jenis
Delta H
T in-Dry (ºC) Q(m^3/s) Humidity Laju Alir Udara Vs
Aliran (ºC)
Dry Wet Temperatur Pada Transien
35
5 25,6 28,9 28,2 0,000975 0,76
30
25

Temperatur
10 25,7 28,8 28,2 0,00135 0,76 20
Tin Dry
Transien 15
T Dry
10
15 25,4 28,7 28,2 0,00165 0,76 T Wet
5
0
20 22,2 28,6 28,2 0,00183 0,77 0.000975 0.00135 0.00165 0.00183
Q
Profil Hubungan Laju Alir Udara Terhadap Suhu pada Aliran
Laminer

Grafik Hubungan Antara


Jenis T in-Dry
T out Laju Alir Udara Vs
Delta H (ºC) Q(m^3/s) Humidity
Aliran (ºC) Temperatur Pada Laminar
Dry Wet
30

5 25,6 28,9 28,2 0,000975 0,76 29


28

Temperatur
27
10 25,7 28,8 28,2 0,00135 0,76 26 Tin Dry
Transien 25 T Dry
24 T Wet
15 25,4 28,7 28,2 0,00165 0,76
23
22
20 22,2 28,6 28,2 0,00183 0,77 0.000975 0.00135 0.00165 0.00183
Q
Analisis Hasil

◉ Dari hasil data pengamatan kepada 3 jenis aliran dapat


dikatakan bahwa TOUT-DRY > TOUT-WET > TIN-DRY
◉ Secara teoritis seharusnya TIN-DRY >TOUT-DRY>TOUT-WET , hal
tersebut dikarenakan terjadinya kontak antara udara dengan
air didalam kolom, yang menyebabkan suhu udara air
keluaran kolom memiliki suhu yang lebih rendah karena
adanya perpindahan kalor dari aliran udara kepada aliran air.
◉ Air akan mendinginkan aliran udara sehingga suhu keluaran
kolom basah lebih rendah dari suhu keluaran kolom kering.
Laju Alir Udara vs
4 Difusifitas

26
Pengolahan Data

◉ Menentukan nilai Tbulk dan Tint


Tout
Jenis Tin-Dry (ºC) Humidit
Delta H Tbulk Tint Q(m^3/s) Reynold
Aliran (ºC) y
Dry Wet

5 24,6 29,7 28,8 27,15 27,966888 0,000975 0,77

10 25,1 29,7 29 27,4 28,192433 0,00135 0,77


Turbulen 15881,96
15 25,3 29,5 29 27,4 28,192433 0,00165 0,77

20 24,8 29,2 28,9 27 27,939233 0,00183 0,75

5 25,6 28,9 28,2 27,25 27,722287 0,000975 0,76

10 25,7 28,8 28,2 27,25 27,722287 0,00135 0,76


Transien 2268,852
15 25,4 28,7 28,2 27,05 27,62101 0,00165 0,76

20 22,2 28,6 28,2 25,4 26,775604 0,00183 0,77

5 25,5 29,1 28,7 27,3 27,994166 0,000975 0,77

10 26 28,4 28,4 27,2 27,795683 0,00135 0,77


Laminar 1890,71
15 25,6 28,2 28,2 26,9 27,544887 0,00165 0,77

20 24,7 28,2 28,1 26,45 27,26668 0,00183 0,77


Pengolahan Data
Menentukan nilai DAB

Jenis Aliran
Tint (ºC) Tint (K) Pt DAB
27,966888 300,9669 1,000037 2,260,E+10
28,192433 301,1924 1,000074 2,264,E+10
Turbulen
28,192433 301,1924 1,000111 2,264,E+10
27,939233 300,9392 1,000148 2,260,E+10
27,722287 300,7223 1,000037 2,256,E+10
27,722287 300,7223 1,000074 2,256,E+10
Transien
27,62101 300,621 1,000111 2,254,E+10
26,775604 299,7756 1,000148 2,239,E+10
27,994166 300,9942 1,000037 2,261,E+10
27,795683 300,7957 1,000074 2,257,E+10
Laminar
27,544887 300,5449 1,000111 2,253,E+10
27,26668 300,2667 1,000148 2,248,E+10
Pengolahan Data
Tout
Tin-Dry (ºC)
Jenis Aliran Delta H Tbulk Tint Q(m^3/s) Humidity Tint (K) Pt DAB Reynold
(ºC)
Dry Wet

5 24,6 29,7 28,8 27,15 27,966888 0,000975 0,77 300,9669 1,000037 2,260,E+10
10 25,1 29,7 29 27,4 28,192433 0,00135 0,77 301,1924 1,000074 2,264,E+10
Turbulen 15881,96
15 25,3 29,5 29 27,4 28,192433 0,00165 0,77 301,1924 1,000111 2,264,E+10
20 24,8 29,2 28,9 27 27,939233 0,00183 0,75 300,9392 1,000148 2,260,E+10
5 25,6 28,9 28,2 27,25 27,722287 0,000975 0,76 300,7223 1,000037 2,256,E+10
10 25,7 28,8 28,2 27,25 27,722287 0,00135 0,76 300,7223 1,000074 2,256,E+10
Transien 2268,852
15 25,4 28,7 28,2 27,05 27,62101 0,00165 0,76 300,621 1,000111 2,254,E+10
20 22,2 28,6 28,2 25,4 26,775604 0,00183 0,77 299,7756 1,000148 2,239,E+10
5 25,5 29,1 28,7 27,3 27,994166 0,000975 0,77 300,9942 1,000037 2,261,E+10
10 26 28,4 28,4 27,2 27,795683 0,00135 0,77 300,7957 1,000074 2,257,E+10
Laminar 1890,71
15 25,6 28,2 28,2 26,9 27,544887 0,00165 0,77 300,5449 1,000111 2,253,E+10
20 24,7 28,2 28,1 26,45 27,26668 0,00183 0,77 300,2667 1,000148 2,248,E+10
Laju Alir Udara Vs Diffusivitas

Hubungan Antara Laju Alir Udara Vs Difusifitas


2.270.E+10
2.265.E+10
2.260.E+10
2.255.E+10
Difusifitas

2.250.E+10
Turbulen
2.245.E+10
Transien
2.240.E+10 Laminar
2.235.E+10
2.230.E+10
2.225.E+10
0.000975 0.00135 0.00165 0.00183
Q
Analisis Hasil

◉ Laju alir air dan kecepatan udara mempengaruhi hubungan laju alir
udara dan difusivitas.
◉ Pada grafik dapat dilihat bahwa, semakin besar laju alir udara,
maka nilai difusifitasnya semakin kecil.
◉ Hal ini disebabkan oleh semakin besar kecepatan udara maka
waktu kontak antara udara dengan air semakin cepat sehingga
mengakibatkan semakin sedikitnya air yang akan berdifusi ke
udara
◉ Namun pada aliran turbulen terdapat penaikan atas nilai
difusifitas. Hal ini dapat disebabkan oleh debit air yang keluar tidak
konstan ataupun suhu yang terukur tidak sesuai dengan suhu
sebenarnya.
Laju Alir Udara vs
5
Koefisien Perpindahan
Massa

32
Keterangan
• Y : Fraksi Mol Uap Air
• H : Kelembaban Absolut Fraksi yang Ingin Dicari
Pengolahan • 𝑀𝐴 =
18𝑔
; 𝑀𝐵 =
29𝑔
𝑚𝑜𝑙 𝑚𝑜𝑙

33
Psychometric Chart

34
Pengolahan

35
Tabel Suhu pada Variasi
Aliran

36
Profil Laju Alir Udara vs Profil
kG
0.02
y = 0.0033x + 0.0044
0.018
0.016
0.014
0.012 y = 0.003x + 0.0041
kG

0.01
y = 0.0031x + 0.0015
0.008
0.006
0.004
0.002
0
0.000485171 0.000671775 0.000821059 0.000910629

Laju Alir Udara

Turbulen Transien Laminar


Linear (Turbulen) Linear (Transien) Linear (Laminar)
37
Analisis Hubungan antara
Profil Koefisian Perpindahan
Massa dengan Laju Alir Udara

◉ Melalui grafik dapat dilihat bahwa semakin


besar laju alir udara maka nilai perpindahan
massa akan cenderung meningkat

38
Pengolahan Data Laju Alir
Udara terhadap Kelembaban
Absolut

39
Profil Kelembaban terhadap
Laju Alir Udara saat Laminar
0.025
Kelembaban Absolut

0.02 y = -0.0004x + 0.0199

y = -0.0003x + 0.0187 Ha0


0.015
y = -0.0003x + 0.0164 HaL
Hint
0.01
Linear (Ha0)
Linear (HaL)
0.005
Linear (Hint)
0
0.000485171 0.000671775 0.000821059 0.000910629

Laju Alir Udara (m/s) 40


Profil Kelembaban terhadap
Laju Alir Udara saat Transisi
0.025
Kelembaban Absolut

0.02 y = -4E-05x + 0.0192

Ha0
y = -0.0003x + 0.0183
0.015
HaL
y = -0.0009x + 0.0172
Hint
0.01
Linear (Ha0)
0.005
Linear (HaL)
Linear (Hint)
0
0.000485171 0.000671775 0.000821059 0.000910629

Laju Alir Udara (m/s) 41


Profil Kelembaban terhadap
Laju Alir Udara saat Turbulen
0.025

y = -0.0004x + 0.021
Kelembaban Absolut

0.02

y = -0.0002x + 0.0188 Ha0


0.015
HaL
y = -4E-05x + 0.0147 Hint
0.01
Linear (Ha0)
Linear (HaL)
0.005
Linear (Hint)

0
0.000485171 0.000671775 0.000821059 0.000910629

Laju Alir Udara (m/s) 42


Analisis Hubungan antara
Profil Kelembaban Absolut (H)
dengan Laju Alir Udara
◉ Melalui pengolahan data didapatkan nilai kelembaban absolut
untuk semua jenis aliran menunjukkan tren menurun
◉ Peningkatan laju alir udara akan mengurangi waktu kontak
udara dengan aliran lapisan tipis air, sehingga proses
perpindahan massa berkurang
◉ Berkurangnya air yang berpindah ke aliran udara akan
menurunkan kelembaban absolut udara
◉ Semakin rendah laju alir udara dan air, maka kelembaban
udara akan meningkat karena terjadi kontak lebih banyak

43
Percobaan Perbandingan
6
Bilangan Schmidt dan
Reynold

44
Menghitung Bilangan Reynold dan Schmidt
◉ Bilangan Reynold digunakan untuk mengetahui jenis
aliran pada fluida
𝜌𝑣𝑑
𝑅𝑒 =
𝜇

◉ Bilangan Schmidt adalah perbandingan antara viskositas


kinematik dan difusivitas massa, dan digunakan untuk
menentukan karakter aliran fluida jika ada momentum
secara simultan dan difusi massa selama konveksi.
𝜇
𝑆𝑐 =
𝜌𝐷𝐴𝐵
Tout
Jenis Aliran Delta H Tin-Dry Q (L/S) Q (m^3/s) v (m/s) Humidity Pt P ρ udara µ udara (kg/ms) Re Difusivitas Sc
Dry Wet
5 24,6 29,7 28,8 0,975 0,000975 0,017037561 0,77 0,553703 14,3769 0,000018425 3589,459 2,260,E+10 5,670,E-17
1,000037
10 25,1 29,7 29 1,35 0,00135 0,023590469 0,77 0,553723 14,09102 0,000018448 4865,119 2,264,E+10 5,782,E-17
1,000074
Turbulen
15 25,3 29,5 29 1,65 0,00165 0,028832796 0,77 0,553744 13,98015 0,000018458 5896,275 2,264,E+10 5,832,E-17
1,000111
20 24,8 29,2 28,9 1,83 0,00183 0,031978192 0,75 0,547251 14,26254 0,000018434 6680,285 2,260,E+10 5,720,E-17
1,000148
5 25,6 28,9 28,2 0,975 0,000975 0,017037561 0,76 0,55047 13,8153 0,000018472 3440,469 2,256,E+10 5,927,E-17
1,000037
10 25,7 28,8 28,2 1,35 0,00135 0,023590469 0,76 0,55049 13,76205 0,000018477 4744,08 2,256,E+10 5,951,E-17
1,000074
Transisi
15 25,4 28,7 28,2 1,65 0,00165 0,028832796 0,76 0,550511 13,92511 0,000018463 5871,471 2,254,E+10 5,882,E-17
1,000111
20 22,2 28,6 28,2 1,83 0,00183 0,031978192 0,77 0,553764 15,93292 0,00001831 7513,196 2,239,E+10 5,132,E-17
1,000148
5 25,5 29,1 28,7 0,975 0,000975 0,017037561 0,77 0,553703 13,86948 0,000018467 3454,896 2,261,E+10 5,890,E-17
1,000037
10 26 28,4 28,4 1,35 0,00135 0,023590469 0,77 0,553723 13,60326 0,000018491 4685,791 2,257,E+10 6,022,E-17
1,000074
Laminar
15 25,6 28,2 28,2 1,65 0,00165 0,028832796 0,77 0,553744 13,81632 0,000018472 5822,761 2,253,E+10 5,935,E-17
1,000111
20 24,7 28,2 28,1 1,83 0,00183 0,031978192 0,77 0,553764 14,32028 0,000018429 6709,149 2,248,E+10 5,725,E-17
1,000148

Dibaca dari tabel


Memeriksa nilai Re dan Sc pada Aliran Udara.
di modul bagian
akhir
46
Turbulen
5.840.E-17
5.820.E-17
5.800.E-17
5.780.E-17
5.760.E-17
5.740.E-17
Sc

5.720.E-17
5.700.E-17
5.680.E-17
5.660.E-17
0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000

Re

Re vs Sc pada Aliran Turbulen

47
Transisi
6.100.E-17
6.000.E-17
5.900.E-17
5.800.E-17
5.700.E-17
5.600.E-17
5.500.E-17
5.400.E-17
Sc

5.300.E-17
5.200.E-17
5.100.E-17
5.000.E-17
0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000

Re

Re vs Sc pada Aliran Transisi

48
Laminar
6.050.E-17

6.000.E-17

5.950.E-17

5.900.E-17

5.850.E-17
Sc

5.800.E-17

5.750.E-17

5.700.E-17
0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000
Re

Re vs Sc pada Aliran Laminar

49
Analisis Hasil

◉ Ketiga data di atas tidak menunjukkan tren


tertentu dalam hubungan antara bilangan
Reynold dan Schmidt
◉ Hubungan yang ideal adalah berbanding
terbalik, sehingga gambarnya akan
membuat garis yang menurun

50
Analisis Hasil

◉ Reynold dan Schmidt memang seharusnya


berbanding terbalik.
◉ Bilangan Reynold memberikan hubungan
antara inersia dan viskositas cairan,
sedangkan bilangan Schmidt memberikan
gambaran antara difusivitas massa dan
momentum

51
Analisis Hasil

◉ Bilangan Reynold dan Schmidt berbanding


terbalik pada nilai viskositas dalam
persamaannya sehingga harusnya ketika Re
dan Sc di log kan akan membuat garis turun

52
6 Analisis Kesalahan

53
Analisis Kesalahan

◉ Suhu udara dari kompressor tidak stabil,


sehingga tidak sesuai teori (harusnya suhu
udara yang masuk lebih tinggi, tetapi justru
udara yang masuk lebih dingin)
◉ Kondisi alat yang kurang baik.

54
Kesimpulan

◉ Dari hasil data pengamatan kepada 3 jenis aliran dapat dikatakan


bahwa TOUT-DRY > TOUT-WET > TIN-DRY ,Seharusnya TIN-DRY >TOUT-
DRY>TOUT-WET
◉ semakin besar laju alir udara, maka nilai difusifitasnya semakin
kecil, dan nilai perpindahan massa semakin meningkat,
sedangkan kelembapan udara semakin kecil.
◉ Nilai koefisien perpindahan massa (KG) aliran turbulen bernilai
lebih tinggi jika dibandingkan dengan aliran transisi dan laminar
◉ Hubungan bilangan schimdt dan reynold tidak menunjukkan tren
tertentu (Seharusnya berbanding terbalik)
55
Daftar Pustaka

Perry, Robert H. dan Don W. Green. 1999. Perry’s Chemical Engineers’ Handbook 7th ed. New
York: McGraw-Hill. Psychrometric Charts. 2014. Psychrometric Charts | Sustainability
Workshop. [ONLINE] Tersedia pada:
https://sustainabilityworkshop.autodesk.com/buildings/psychrometric-charts. [Diakses pada
27 Maret 2017]
R.B. Bird, W.E. Stewart, and E.N. Lightfoot, Transport Phenomena, Second Edition, Wiley, New
York, 2007
T. H. Chilton and A.P. Colburn, Ind. Eng. Chem. 26, 1183-1187 (1934)
T.K. Sherwood, R.L. Pigford, and C.R. Wilke, Mass Transfer, McGraw-Hill, New York (1975)
Treybal, Robert E. 1981. Mass Transfer Operation 3rd ed. Tokyo: McGraw-Hill.

56