Anda di halaman 1dari 67

BAHAN BAKAR DAN SISTEM

PEMBAKARAN PADA BOIER

Oleh:
Perusahaan Jasa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PJK3)
PT. LANTO MASA ANUGERAH
Elemen Dasar Terjadinya Pembakaran
Terjadiya api (proses pembakaran) adalah merupakan pertemuan
minimal 3 unsur, yaitu bahan bakar (fuel), panas (heat) dan Udara
(Oxygen). Hal ini disebut juga dengan tiga elemen dasar api.

HEAT
• Bahan bakar (fuel)
• Panas mula (heat)
• Oksigen (oxygen)
• Reaksi rantai

Segi-3 api bisa juga bidang-4 api


FUEL
OXYGEN

Triangle of Fire
Manajemen Pembakaran
Manajemen pembakaran diperlukan untuk mendapatkan
proses pembakaran optimum pada suatu sistem
pembakaran.

Sistem pembakaran
Sistem Pembakaran
Pengertian
1. LIGHTING TEMP ( TEMPERATURE API)
Adalah temperatur terendah ketika bahan bakar
mendapat panas dan terbakar sendiri tanpa bantuan
nyala api .

2. FLASH POINT ( TITIK NYALA)


Adalah temperatur terendah ketika bahan bakar
dipanaskan dan terbakar bila ada nyala api .

3. HEATING VALUE (NILAI PEMBAKARAN)


Adalah jumlah panas yang dihasilkan dari pembakaran
sempurna 1 kg bahan bakar
Jenis Bahan Bakar Boiler
Boiler dapat menggunakan jenis bahan bakar antara lain :
 Bahan Bakar Padat.
 Bahan Bakar Cair.
 Bahan Bakar Gas.

Batubara/Coal

Cangkang sawit
Serabut kelapa sawit

BBM
Unsur yang terdapat dalam Bahan Bakar

 Bahan bakar padat mengandung unsur-unsur


antara lain : Zat arang atau Karbon (C), zat lemas
atau Nitrogen (N), Hidrogen (H), Belerang (S), zat
asam atau Oksigen (O), Abu dan Air yang
kesemuanya itu terikat dalam satu persenyawaan
kimia.
 Bahan bakar cair pada umumnya, terdiri dari
karbon (85-87)% dan hidrogen (12-15)% ditambah
sedikit O2, N2, dan S2.
 Bahan bakar yang berupa gas yang hampir
keseluruhannya terdiri dari karbon dan hidrogen
Persyaratan Bahan Bakar
Nilai kalor bahan bakar (heating value) memenuhi
persyaratan untuk menghasilkan panas yang dibutuhkan.
Dari bahan bakar, terdapat tiga unsur yang dapat terbakar yaitu
:
1. Carbon Dari tiga unsur ini yang paling
2. Hydrogen tinggi nilai kalorinya adalah
3. Sulfur (belerang) hydrogen
Nilai kalori pembakaran yang ke
dua tertinggi adalah Carbon
Kenapa Cangkang dan Serabut ?
Adapun alasan mengapa digunakan serabut dan cangkang sebagai bahan
bakar adalah :
 Nilai kalor bahan bakar cangkang dan serabut memenuhi persyaratan
untuk menghasilkan panas yang dibutuhkan.
 Bahan bakar cangkang dan serabut cukup tersedia dan mudah
diperoleh dipabrik.
 Cangkang dan serabut merupakan limbah dari pabrik kelapa sawit
apabila tidak digunakan.
 Sisa pembakaran bahan bakar dapat digunakan sebagai pupuk untuk
tanaman kelapa sawit.
Nama Unsur Serabut Cangkang
 Harga lebih ekonomis.
Carbon (C) 40,15 61,34

Hidrogen (H2) 4,25 3,25

Oksigen (O2) 30,12 31,16


Komposisi Bahan Bakar
Nitrogen (N2) 22,29 2,45

Abu (A) 3,19 1,8


Cangkang –VS- Serabut
Panas yang dihasilkan serabut jumlahnya lebih kecil dari
yang dihasilkan oleh cangkang, oleh karena itu
perbandingan lebih besar serabut dari pada cangkang.
Disamping serabut lebih cepat habis menjadi abu apabila
dibakar, pemakaian serabut yang berlebihan akan
berdampak buruk pada proses pembakaran karena dapat
menghambat proses perambatan panas pada pipa water
wall, akibat abu hasil pembakaran beterbangan dalam ruang
dapur dan menutupi pipa water wall, disamping
mempersulit pembuangan dari pintu ekspansion door (Pintu
keluar untuk abu dan arang) akibat terjadinya penumpukan
yang berlebihan.
Batubara/Coal
 Batubara hasil tambang memiliki ukuran fisik yang sangat
beragam, dari yang hanya berukuran butiran pasir hingga
seperti bongkahan kerikil berdiameter 20cm.
 Ukuran batubara yang terlalu besar dapat mengurangi
efisiensi proses pembakaran, karena semakin kecil ukuran
partikel batubara maka akan semakin cepat pula batubara
tersebut terbakar.
 Untuk mendapatkan ukuran batubara yang cukup kecil
maka sebelum masuk ke furnace boiler, batubara akan
mengalami proses grinding pada sebuah alat bernama
pulverizer.
 Batubara keluaran pulverizer akan berukuran selembut
tepung, yang dinamakan pulverized fuel.
Pulverizer
Titik Bakar
Apapun bahan bakarnya  Untuk terbakar maka bahan
bakar harus berubah
menjadi gas

 Agar batubara cepat terbakar  dibuat SERBUK


 Agar bahan bakar cair cepat terbakar  dibuat KABUT
Yang membantu pengabutan : - Steam /Angin
 Bahan bakar cair dipanaskan ( 900 – 1100) C, sehingga
Viskositasnya rendah maka mudah terbakar.
Pembakaran
Pembakaran ialah persenyawaan kimia antara bahan
bakar dengan oksigen, dan untuk melakukan
persenyawaan tersebut diperlukan suhu. Pada
peristiwa pembakaran, proses yang terjadi adalah
oksidasi dengan reaksi.

 C + O2 = CO2 + Kalor
 2 H + O2 = 2H2O + Kalor
 S + O2 = SO2 + Kalor
Pembakaran Sempurna
Untuk mendapatkan pembakaran yang sempurna didalam ketel
maka diperlukan beberapa syarat, yaitu:

 Perbandingan pemakaian bahan bakar harus sesuai


 Udara yang dipakai harus mencukupi
 Waktu yang diperlukan untuk proses pembakaran harus
cukup.
 Panas yang cukup untuk memulai pembakaran
 Kerapatan yang cukup untuk merambatkan nyala api
Proses Pembakaran Sempurna

Karbon (C) terbakar sempurna menjadi CO2, menurut


Persamaan :
C + O2 = CO2
12 kg C + 32 kg O2 = 44 kg CO2
1 kg C + 32/12 kg O2 = 44/12 kg CO2
1 kg C + 2,67 kg O2 = 3,67 kg CO2

1 kg udara mengandung 0,231 kg O2


Proses Pembakaran Sempurna

Hidrogen(H) terbakar sempurna menjadi H2O, menurut


Persamaan :
4H + O2 = 2 H2O
4 kg H + 32 kg O = 2 x 18 kg H2O
1 kg H + 32/4 kg O = 36/4 kg H2O
1 kg H + 8 kg O = 9 kg H2O

1 kg udara mengandung 0,231 kg O2


Proses Pembakaran Sempurna
Belerang (S) terbakar sempurna menjadi SO2,
menurut persamaan:

S + O2 = SO2
32 kg S + 32 kg O2 = 64 kg SO2
1 kg S + 1 kg O2 = 2 kg SO2

1 kg udara mengandung 0,231 kg O2


Proses Pembakaran Bahan Bakar
Untuk Karbon (C)

•Terbakar lebih sulit


•Menimbulkan masalah : - Terbentuk Terak

- Pembakaran tidak sempurna

Misal :
H2 + O2  H2O + PANAS

C + O2  CO + O2  CO2 + PANAS

Jadi terbentuk CO dulu, baru


+O2  terbakar(ada panas)
Maka dalam teori pembakaran dipakai standard C ( karbon ) karena
yang sulit terbakar.

I. C + O2  CO2 + X1 Kkal  pembakaran sempurna

Panas

Pembakaran dengan udara kurang :


II. C + O2  CO + X2 Kkal  pembakaran tidak sempurna

X2 < X1

• Efesiensi pembakaran turun


• Menimbulkan adanya terak dan CO (carbon monoksida)
• Banyak panas yang lewat cerobong  terjadi OVER
HEATING di cerobong
Manajemen Pembakaran
Bahan Bakar -VS-Udara
 Proses pembakaran pada boiler melibatkan komponen-
komponen yang mengatur supply udara serta bahan bakar ke
dalam furnace boiler sehingga terjadi proses pembakaran yang
optimum.
 Jumlah dari udara serta bahan bakar yang masuk ke dalam
furnace harus tepat sesuai dengan perbandingan rasio bahan
bakar/udara (fuel/air ratio) teoritis sehingga didapatkan
proses pembakaran yang sempurna.

Sempurna atau tidaknya suatu pembakaran sangat dipengaruhi


oleh rasio udara dan bahan bakar. Sangat sulit untuk menentukan
rasio tersebut pada bahan bakar padat seperti batubara dimana
kandungan dan ukurannya tidak selalu sama. Jadi kita harus juga
menyesuaikan kondisi batubara yang kita bakar.
KEBUTUHAN UDARA PEMBAKARAN

Vu = Nm3 /Kg . bb

Volume udara sebenarnya = Vus

Vus = (1 + m ) Vu

m = kelebihan udara
m = 0,1 , untuk bahan bakar gas
m = 0,2 , untuk bahan bakar cair
m = 0,3 , untuk bahan bakar batubara yang dihaluskan
m = 0,5 , untuk bongkahan batubara
CONTOH

Hitunglah volume udara sebenarnya agar


diperoleh pembakaran sempurna, pada
pembakaran 1 kg batu bara dengan unsur-unsur =
7,5 % air, 5,8 % abu, 68,6 % Carbon, 4,5%
hydrogen, dan 0,4 % belerang,
12,2 % Oksigen, 1% Nitrogen
Jawab :

Vu = Nm3 /Kg . bb

= Nm3 /Kg . Bb

= 7 Nm3 /Kg . Bb

Vus = ( 1 + 0,5) x 7

= 10,5 Nm3 /Kg . bb


Kondisi Pembakaran
1. Pembakaran Optimum

 Pada proses ini terjadi perpindahan panas yang


maksimum
 Panas yang hilang minimum
 Sisa hasil pembakaran seperti CO2, uap air dan N2
 Suhu stack gas gas buang rendah (+ 150 C)
 Kadar oksigen (O2) pada stack gas (Pembakaran
Optimum)
Kadar oksigen (O2) pada stack gas
Untuk Pembakaran Optimum

Bahan Bakar Kadar O2 Optimum pada


Stack Gas %

Batubara 4 – 4,5

Biomassa 4-6

Stoker firing 4,5 – 6,5

BBM 1-3

Gas Bumi/LPG 1-2

Black Liquor 1-2


Kondisi Pembakaran

 Pembakaran dengan Udara Kurang


 Pada proses ini terjadi perpindahan panas berkurang
dan panas hilang karena bahan bakar berlebih.
 Ada bahan bakar yang tidak terbakar
 Sisa hasil pembakaran seperti CO, CO2, uap air, O2 dan
N2
 Bila udara terlalu banyak maka :

1. Efesiensi pembakaran turun


Karena udara yang banyak tersebut menjadi sebagai
pendingin dalam pembakaran tersebut
2. Efesiensi perpindahan panas turun.
Karena udara banyak maka aliran udara tinggi sehingga
panas tidak dapat diserap oleh pipa secara sempurna.
3. Cerobong over Heating
Karena banyak panas yang lewat cerobong .
4. Bahan bakar terbawa
Yang sering terbawa adalah C dan CO
PENILAIAN KONDISI PEMBAKARAN
1. Melihat gas asap
• Pembakaran sempurna
 Warna putih tipis dengan kesan kecoklatan
• Pembakaran udara kurang : Indeks Performance
 Warna hitam pekat Asap Burner
• Pembakaran udara terlalu banyak
1 Sangat baik
 Warna putih tebal
2 Baik
Indeks asap diukur dengan Smoke tester. 3 Cukup
4 Kurang
Smoke
Indeks 5 Sangat kurang
6 Buruk
7 Amat buruk
8 Amat buruk
9 Amat sangat buruk
Smoke tester
Kriteria Indeks Asap
Ciri-ciri Pembakaran tidak Sempurna
Ciri-ciri Sistem Pembakaran Boros Energi adalah :
o Rasio udara tidak optimum (O2 terlalu rendah/gas buang
berasap, atau O2 tinggi/gas buang tampak bening/tak
berwarna)
o Suhu stack (gas buang) tinggi di atas 150 oC.

O2 tinggi gas buang


O2 terlalu rendah/asap
bening/tak berwarana
Pembakaran Tak Sempurna

Ditandai dengan adanya :


Asap- C C C C C + gas CO CO CO CO.

Pembakaran tak sempurna timbul


akibat :
• Supply udara kurang
• Bahan bakar surplus
• Distribusi bahan bakar tidak
bagus/tdk merata.
• Distribusi udara buruk misalnya
untuk coal firing akibat spec dan
ukuran bahan bakar tidak sesuai.
Pembakaran Tak Sempurna

 Pembakaran tak sempurna timbul jika rasio udara rendah.


Gas berbahaya dari pembakaran tak sempurna

Pembakaran sempurna Pembakaran tak sempurna


PENILAIAN KONDISI PEMBAKARAN

2. Melihat ruang bakar/ api :


• Pembakaran sempurna  api biru
• Pembakaran udara kurang  - api merah, panjang
- Ruang bakar gelap/berasap
• Warna flame
• Bentuk flame
PENILAIAN KONDISI PEMBAKARAN

3. Menilai Gas Buang : % O2 dan % CO2

PARAMETER KRITIS :
 Kadar oxygen (O2) atau CO2 pada gas buang.
 Suhu gas buang)

 O2 atau CO2 diukur dengan gas


analiser.
 Jika rasio udara dan suhu gas buang
sudah terkontrol, maka pembakaran Gas analiser
dengan efektifitas tinggi dapat
diperoleh.

Suhu & O2
O2 Optimum Untuk Berbagai Bahan Bakar
Bahan Bakar Optimum O2 pada Stack (%)

Batubara 4 – 4,5
Biomassa 4-6
Stoker firing 4,5 – 6,5
BBM 1-3
Gas bumi/LPG 1-2
Black Liquor 1-2

O2 optimum
Manajemen Pembakaran

• Menjaga rasio udara dan Excess air pada tingkat optimum


atau serendah mungkin.
• Rasio udara optimum didapat dengan mengendalikan
Oksigen (O2) & CO2 pada gas buang.
Rasio Udara(Air Ratio)
Untuk menilai suatu pembakaran berlangsung efisien atau
tidak, dapat diketahui melalui :
 Angka perbandingan antara jumlah udara aktual dengan
jumlah udara teoritisnya yang diperlukan dalam
pembakaran.
 Atau dengan melihat seberapa besar kelebihan udara
aktual dari kebutuhan udara teoritisnya (dalam %).
 Untuk mengetahui :
 Jumlah udara aktual diketahui dari kandungan O2 dan
CO2 dalam gas buang melalui pengukuran
 Udara teoritis didapat melalui perhitungan
Stoikiometrik.
Jumlah Udara Aktual
Jumlah udara aktual tergantung pada beberapa faktor
berikut :
 Jenis bahan bakar dan komposisinya
 Desain ruang bakar (Furnace)
 Kapasitas pembakaran (Firing Rate) Optimum 70%-
90%.
 Desain dan pengaturan Burner
Rasio Udara-vs-CO
Excess Air
• Pembakaran stoichiometric adalah pembakaran ideal secara
teoritis.
• Dalam praktek pembakaran dengan kondisi stoichiometric
jarang atau tak mungkin ditemukan untuk pembakaran normal.
• Untuk mendapatkan pembakaran sempurna dimana bahan
bakar semuanya habis terbakar, maka udara pembakaran yang
dipasok ke ruang bakar lebih dari kebutuhan teoritis.
• Kelebihan udara tersebut disebut “Excess Air”
Excess Air

• Besarnya excess air dapat dihitung berdasarkan data


pengukuran CO2 dan O2 dalam gas buang.
• Excess air dihitung dengan formula berikut :
Excess air (E) = 378/100 - ( + )/  - 3.78

Dengan :

• E adalah excess air (%)


•  adalah konsentrasi CO2 pada gas buang (%)
•  adalah konsentrasi O2 pada gas buang (%).
Kebutuhan Udara Pembakaran
Pada praktiknya, maksimum prosentase kelebihan udara (Excess
Air) akibat dari combustion process dan flue gas system ialah 30%.
Dengan nilai prosentase tersebut, menunjukkan bahwa burner
berfungsi dengan baik.

Kelebihan udara (excess air), merupakan sebuah takaran terhadap


oksigen (O2) yang terkandung pada flue gas. Terdapat persamaan
yang telah diberikan oleh ASME Power Test Code 4.1 Steam
Generators (ASME 1974) Untuk mengetahui prosentase dari total
kelebihan udara :

Dimana,
N2 = Prosentase volume nitrogen
O2 = Prosentase Volume Oksigen
CO = Prosentase volume carbon monoxide
Rasio Udara & Excess Air
Rasio udara adalah perbandingan antara udara pembakaran
aktual dengan udara pembakaran teoritis.

Excess air adalah jumlah lebih udara pembakaran yang


dipasok ke ruang bakar dari kebutuhan udara teoritis
stoichiometric).
Axcess Air Pada Setiap Bahan Bakar

Bahan Bakar Optimum Excess Air %

Batubara 20 - 25

Biomassa 20 - 40

Stoker firing 25 - 40

BBM 5 - 15

Gas Bumi/LPG 5 - 10

Black Liquor 5 - 10
Karakteristik Pembakaran
• Adanya gas CO pada gas buang
berbahaya bagi kesehatan manusia.
• Oleh karena itu rasio udara harus
dijaga selalu berada pada tingkat
optimal.
• Pembakaran optimal dikendalikan
dengan mengatur rasio udara
sesuai bahan bakar pada sistem
burner dengan berpedoman pada
hasil analisis kadar O2.
Proses Perpindahan Panas
Adapun pemindahan panas yang terjadi pada ketel uap ada 3
proses, yaitu:
1. Pemindahan panas dengan pancaran atau radiasi dari
nyala api dan gas panas kepada dinding ketel dan pipa-
pipa air.
2. Panas ini mengalir melalui hantaran atau konduksi dari
sisi dinding yang menerima panas ke sisi dinding yang
memberi panas.
3. Selanjutnya panas ini dengan cara singgungan atau
konveksi diserahkan kepada air yang mengalir.
Proses Perpindahan Panas
• Konduksi (hantaran)  benda padat
• Konveksi (aliran)  fluida, fluida dengan benda padat
• Radiasi (pancaran)  tanpa ada zat perantara

konduksi
Gas asap

konveksi

konveksi

Diruang pembakaran (dapur) = Radiasi – konduksi – konveksi


Dialiran pipa-pipa = Konveksi – konduksi – konveksi
Permasalahan pada Pembakaran dan Penyebabnya
Permasalahan Kemungkinan Penyebab
a. Excess Air Tinggi (O2 tinggi) Pengoperasian sistem control tidak tepat
Tekanan suplay bahan bakar rendah
Heating value bahan bakar berubah
Viscositas bahan bakar berubah
b. Exces Air Rendah (O2 Pengoperasian sistem control tidak tepat
rendah)
Keterbatasan fan blower
Temperatur udara ambien bertambah
c. Tingginya CO dan emisi dari Setting pengatur udara tidak tepat
gas Combustible
Minyak burner rusak, penyumbatan pada gas
burner
Distribusi udara tidak sesuai
Distribusi udara dan bahan bakar tidak seimbang
Kisi-kisi pada penyala api (stoker)
Permasalahan pada Pembakaran dan Penyebabnya

Permasalahan Kemungkinan Penyebab


d. Masalah perpindahan panas Timbulnya deposit pada saluran air dan gas
(Temperatur gas buang buang
tinggi)
Proses pengolahan air (water treatment) yang
kurang baik
Pengoperasian shoot blower yang kurang baik
EFISIENSI PEMBAKARAN
Efisiensi pembakaran didefinisikan sebagai energi input yang terkandung dalam bahan
bakar (hasil pembakaran sempurna) dikurangi dengan rugi-rugi energi cerobong.

Efisiensi pembakaran = (100 – Rugi-rugi Cerobong) %.

Rugi-rugi cerobong dalam hal ini dinyatakan dalam % bahan bakar input.

Rugi-rugi energi
Cerobong
(% input)
Indikator Efisiensi Sistem Pembakaran
Indikator efisiensi sistem pembakaran adalah :
 Ratio udara (Air ratio combustion)
 Suhu gas buang (stack temperature).

Parameter operasi rasio udara adalah kadar O2 atau CO2 dalam %


pada gas buang.

Suhu,
O2 atau
CO2

Indikator efisiensi pembakaran


Efisiensi Pembakaran (Lanjutan...)
Efisiensi Pembakaran = Nilai Kalor bahan bakar - Rugi- rugi
Cerobong

Faktor yang mempengaruhi efisiensi pembakaran :


– Suhu stack gas gas buang
– Rasio bahan bakar (air–fuel ratio).

Suhu & O2
Rugi-Rugi Energi Cerobong
Energi gas buang yang hilang ke cerobong dikenal dengan rugi-
rugi energi ke stack (cerobong).

• Besarnya rugi-rugi energi cerobong ditentukan oleh


suhu gas buang dan rasio udara (O2 pada gas buang).
• Rugi energi cerobong sebagian besar terkandung pada
gas CO2 dan N2. Gas CO2 terbentuk dari hasil
pembakaran karbon (C) yang ada dalam bahan bakar
dengan O2.
• Gas nitrogen (N2) sebetulnya tidak berperan dalam
proses pembakaran tetapi gas ini terdapat di udara
pembakaran dengan jumlah yang relatif besar dan
kehadirannya di ruang bakar sulit dihindari.
RUGI-RUGI ENERGI PADA PIPA TANPA ISOLASI
Contoh :
Perhitungan Rugi-rugi Energi dari Pipa Panas Tanpa Isolasi

Panjang pipa tanpa isolasi 10 m


Suhu permukaan pipa : 175 C.
Diameter pipa 25 mm

Rugi-rugi energi :
Kerugian per 1m panjang pipa
= 1,2 MJ/jam
= 1,2 x 238,8459 kcal/jam.
= 286.61 kcal/jam x 8000 jam/tahun
= 2292920 kcal/tahun.
= 2292920 / 0.75 kcal/tahun
(0.75 adalah overall Eff )
= 3057227 kcal/tahun
= 3057227/8800 liter bbm/tahun
= 347 liter bbm/tahun.

Kerugian pada 10 m panjang pipa


= 3470 liter bbm/tahun.
Pengendalian Proses Pembakaran
Proses pembakaran dikendalikan dengan manajemen
pembakaran. Manajemen pembakaran dimaksudkan
untuk :
• Menjaga pembakaran selalu berada pada ratio udara rendah (low air
ratio combustion). Pembakaran optimum diperoleh pada ratio udara
rendah (low air ratio combustion).
• Parameter operasi sistem pembakaran adalah kadar O2 pada gas
buang.
• Menjaga suhu stack serendah mungkin.
Pengendalian Proses Pembakaran
O2 Optimum Untuk Berbagai Bahan Bakar
Bahan Bakar Rasio Udara ( %) Optimum O2 pada Stack (%)

Batubara 1.20 -1. 25 4 – 4,5


Biomassa 1.20 – 1.40 4-6
Stoker firing 1.25 – 1.40 4,5 – 6,5
BBM 1.05 – 1.15 1-3
Gas bumi/LPG 1.05 – 1.10 1-2
Black Liquor 1.05 – 1.10 1-2

Bahan Bakar Rasio Udara

O2 optimum
Rasio Udara VS Kadar O2 stack gas
• Rasio udara adalah perbandingan antara udara
pembakaran aktual dengan udara pembakaran
teoritis.
• Kadar O2 pada gas buang mengindikasikan rasio
udara pembakaran aktual.
• Hubungan kadar oxygen (O2) pada gas buang dengan
rasio udara ditunjukkan dengan formula berikut :

RasioUdara  21 /( 21  O 2 %)
Rugi-Rugi Energi Ke Stack (Cerobong)
Semakin rendah suhu stack gas semakin sedikit
rugi-rugi energi gas buang (Efisien).

SUHU STACK GAS


Suhu gas buang
naik 20 C , bahan
bakar boros 1 %. 1 BTU =0,25 K Cal
1 KWH = 860 K Cal
Sisa Pembakaran
Dust collector
Dust collector adalah alat pengumpul abu
atau penangkap abu pada sepanjang aliran
gas pembakaran bahan bakar sampai
kepada gas buang.

Keuntungan penggunaan dust colector


adalah :
 Gas buang akan menjadi bersih,
sehingga tidak mengganggu
pencemaran udara.
 Tidak menjadikan kerusakan alat-alat
bantu lainnya, misalnya : pipa-pipa Air
heater, cashing I.D.F yang aus karena
gesekan abu, pasir, dsb.
 Tidak mengganggu jalannya operasi.
Sisa Pembakaran
 Sisa karbon hasil pembakaran tersebut yang menuju
cerobong asap (exhaust gas), tidak langsung dibuang
begitu saja, tetapi sisa hasil karbon tersebut disemprot
(spray) dengan air agar kandungan asap gas buang tidak
terlalu pekat dan tidak menimbulkan polusi udara, dan
suhu sisa
 Hasil pembakarannya dalam keadaan normal antara 220
– 230°C dengan kadar oksigen (O2) antara 4 – 9% dan
kadar karbondioksida (CO2) rata-rata 13%.
Sisa Pembakaran

•Sulfur
•S + O2  SO2
Dengan EXCEES AIR  SO2 + O2  SO3
H2O + SO3  H2SO4
(embun) (Korosif)

•Terutama ini terjadi di cerobong  maka suhu di cerobong


t cerobong  150 0C
Pembuangan gas bekas
Gas bekas setelah ruang pembakaran kedua dihisap oleh Blower
isap (Induced Draft Fan) melalui saringan abu (Dast Colector)
kemudian dibuang ke udara bebas melalui cerobong asap
(Chimney) Pengaturan tekanan didalam dapur dilakukan pada
corong keluar Blower (Exhaust) dengan katup yang diatur secara
otomatis oleh alat hidrolis (Furnace Draft Control).

Air seal damper


Air seal damper adalah alat yang terdiri dari dua buah damper
atas dan bawah yang bekerja membuka dan menutup secara
bergantian yang berfungsi ganda, yaitu untuk mengeluarkan abu
pada Dust collector, juga menjaga agar udara luar tidak masuk
akibat tarikan I.D.F.
Sisa Pembakaran
Flue Gas Emission
 Combustion Product (NOx, Carbon monoxide, dan
hydrocarbon emissions) dimana combustion product
dapat dikontrol pada proses combustion.
 Combustion Product (NOx, Carbon monoxide, dan
hydrocarbon emissions) dimana combustion product
terkontrol pada proses post-combustion cleanup.
Rangkuman

• Setiap excess air turun 5 %, akan


meningkatkkan efisiensi pembakaran 1 %.
• Setiap O2 pada gas buang turun 1 %, efisiensi
pembakaran naik 1 %.
• Setiap suhu gas buang turun 20 C, efisiensi
pembakaran naik 1 %.
• Setiap suhu udara pembakaran naik 18 C,
bahan bakar hemat 1 %.
TERIMA
KASIH